June 14, 2007

Voltaire – Dongeng Filsafat Prancis

voltaire1.jpg

Voltaire – Dongeng Filsafat Prancis 

Esai

Pengarang: Ida Sundari Husen

Penerbit: Indonesiatera

Tahun terbit: 2003

Bahasa: Indonesia

Halaman: 170 

Senang sekali rasanya menemukan buku ini di suatu sudut rak buku pada sebuah toko buku yang baru saya kunjungi. Sebagai pengagum Voltaire, dan Ida Sundari Husen, seorang ahli kesusastraan Perancis dari Universitas Indonesia, saya menemukan sekaligus dua hal favorit dalam buku ini. Si penulis, dan buku-buku dari penulis yang ditulisnya. Tulisan Husen telah sering memuaskan kehausan saya akan kesusastraan Perancis, dan Voltaire, tentu saja telah memukau saya dengan tulisan-tulisannya yang tajam sekaligus universal. 

Buku Voltaire – Dongeng Filsafat Perancis merupakan bagian dari disertasi Husen yang mengulas dan membandingkan tiga tulisan Voltaire yang paling terkenal, yaitu Candide, Zadig dan Si Lugu. (Tulisan Si Lugu telah pula diulas dalam blog ini). Secara spesifik, disertasi beliau membahas ironi dalam ketiga dongeng Voltaire tersebut. Sebenarnya Voltaire banyak pula menulis karya-karya lain, seperti puisi, drama, esai, sejarah, namun ia justru terkenal oleh dongeng-dongengnya yang semula dianggap sebagai karya sampingan penghibur hati, atau alat tersamar manakala ia tidak dapat mengkritik keadaan secara terbuka. Dongeng-dongeng Voltaire banyak dikenal orang karena sifatnya yang mengena atas kritikan sosial saat itu dan isinya yang tetap aktual sampai sekarang karena menyangkut masalah manusia yang universal. 

Seperti umumnya tulisan Husen yang sistematis dalam hal konteks, buku ini dibuka dengan pendahuluan mengenai keadaan Perancis abad ke-18, yaitu periode saat Voltaire hidup dan berkarya. Meninjau keadaan politik dan perubahan-perubahan di Eropa pada saat itu, serta perkembangan pemikiran di Perancis, kita seakan diajak mengunjungi milieu dan konteks sejarah saat Voltaire hidup. Dilanjutkan dengan ulasan mengenai riwayat hidup Voltaire, yang mengajak kita mengenal Voltaire secara lebih biografis.  

Kemudian untuk memudahkan pembaca yang mungkin belum mengenal Voltaire, secara singkat diulas empat dongeng filsafat Voltaire, mulai dari proses penyusunan, latar belakang dan inti pesan yang hendak disampaikan. Selain Zadig, Candide dan Si Lugu, ada satu dongeng lagi, yaitu Micromegas, yang turut diulas disini. Dongeng-dongeng filosofis Voltaire memang ditulis pada usianya yang telah matang, ketika Voltaire telah merasakan asam garam kehidupan. Reaksi terhadap apa yang terjadi di masyarakat, kegiatan politik atau sastra, bergema dalam dongneng-dongengnya, dan ditulis dalam gaya yang kocak, ringan, namun penuh dengan ironi. Menghibur sekaligus mengkritik. Dengan dongeng-dongengnya itu secara tersirat ia mengajak pembaca untuk bersikap toleran, adil dan giat bekerja.  

Intisari pemikiran Voltaire, yang dipetik dari karya dongeng-dongeng filsafatnya, dibahas Husen dalam tema-tema sebagai berikut:

§         Hubungan antar manusia

§         Rohaniwan dan lembaga agama

§         Kaum bangsawan dan tokoh politik

§         Tokoh perempuan

§         Teks-teks satire tentang individu dan masyarakat

§         Kekhasan gejala budaya zaman Voltaire

§         Filsafat hidup dan diskusi metafisika  

Menelusuri setiap tema di atas serasa merasakan kembali suara Voltaire yang selalu menggaungkan nilai kemanusiaan yang universal dan yang inti. Terhadap bangsawan yang menghinanya karena ‘tak bernama’, Voltaire melontarkan jawabannya yang terkenal, “Aku tidak seperti mereka yang mencemarkan nama yang mereka warisi. Aku akan mengabadikan nama yang kubuat sendiri!” (hal 13). Dalam hal rohaniwan dan lembaga agama, Voltaire mengungkapkan dalam Zadig, “… matahari, bulan dan bintang adalah benda seperti yang lain-lainnya, yang tidak perlu harus lebih dihormati daripada pohon dan cadas….” (hal 68), ketika melerai diskusi yang hampir menjadi pertikaian antara orang Perancis, Mesir, Khaldea, India dan Cina. Maksudnya adalah pemujaan agama yang berbeda memang tampak berbeda, namun intinya semua memuja Sang Pencipta dibalik hal-hal itu semua, dan karenanya, “… tidak ada alasan untuk bertengkar….” (hal 69; dan Bab 12 dalam Zadig). Persepsi Voltaire tentang agama sangat mendasar: hendaknya agama itu hanya mengajarkan kesederhanaan, perikemanusiaan dan amal (hal 69). Menurutnya, seringkali pertentangan antar umat beragama terjadi karena hal sepele, misalnya, seperti yang diungkapkan dalam Bab7 dalam Zadig, orang bertengkar gara-gara tidak sepakat dengan kaki sebelah mana mereka harus masuk kuil, ke arah mana mereka harus menghadap ketika sembahyang, dan menurutnya kefanatikan seringkali merupakan sumber malapetaka di dunia ini (hal 70). 

Dalam hal perang, Voltaire menyiratkan dalam Si Lugu, pendapat ironisnya mengenai prajurit yang berada di medan pertempuran dan menjadi mangsa pertama senjata maut, yang sesungguhnya tidak mempunyai urusan apa-apa dengan masalah yang dipertengkarkan. Semakin ironis dengan kenyataan bahwa peperangan yang banyak memakan korban itu seringkali dikendalikan oleh para pemimpin sambil duduk di belakang meja tulis. Jika kita perhatikan, keadaan dunia di abad 21 ini tidaklah jauh berbeda dengan yang dialami Candide dan tokoh-tokohnya di medan perang, misalnya. Sehingga, Andre Gide, seorang pengarang Perancis abad ke-20 yang tidak menyukai Voltaire, menulis dalam Journal-nya: “… untuk memperlihatkan bahwa manusia itu bukan main menderitanya di muka bumi ini, sama sekali tidak diperlukan nalar yang tinggi. Agama pun mengajarkannya kepada kita. Voltaire pun mengetahuinya… Seandainya ia kembali berada di antara kita sekarang, betapa ia akan kecewanya, karena dalam banyak hal ia tidak berhasil….” (hal 155). Voltaire memang menyadari hal-hal buruk yang ada di dunia, namun ia juga percaya pada usaha manusia untuk memperbaikinya, dan mengusulkan suatu jalan keluar yang praktis dan membumi, seperti ungkapannya dalam Candide yang terkenal tentang kerja, “Pekerjaan menjauhkan kita dari tiga hal: rasa bosan, dosa dan kemiskinan. 

Ada banyak lagi ulasan dongeng filsafat Voltaire yang dihadirkan oleh Husen dalam buku ini, yang tentu saja tidak mungkin untuk diulas di sini semuanya. Pada bagian penutup, Husen kembali menggemakan ajakan terkenal Voltaire, yaitu, “Kita harus menggarap kebun kita”, yang merupakan suatu usaha manusia dalam rangka membatasi keburukan di dunia ini semaksimal mungkin. Menurut Husen, gagasan Voltaire dapat dipandang sebagai pesimisme yang dinamis, yang sama sekali tidak mengecilkan hati, melainkan memberikan kepercayaan atas kemampuan manusia untuk maju dan memperbaiki nasibnya, seperti yang diungkapkan dalam salah satu sajak Voltaire:

Suatu hari nanti segalanya menjadi baik,

itulah harapan.

Segalanya baik sekarang,

itu hanyalah khayalan.

(hal 157). 

Cirendeu, 13 June 2007, 17.57.

June 14, 2007

The Lover

the-lover_marguerite-duras.jpg

The Lover 

Novel

Pengarang: Marguerite Duras

Penerbit: Jalasutra

Tahun terbit: 2004

Bahasa: Indonesia

Penerjemah: Septina Ferniati

Halaman: 152 

Diterbitkan pertama kali pada tahun 1984 dengan judul asli L’Amant, atau The Lover, novel ini adalah novel terbaik dari pengarang Perancis Marguerite Duras. Buku lainnya yang juga cukup terkenal dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (oleh Yayasan Obor Indonesia) adalah Monderato Cantabile, yang terbit pada tahun 1958. 

The Lover merupakan kisah cinta yang ganjil antara seorang gadis Perancis remaja dengan seorang pria Cina dewasa di Saigon, Indo-Cina (kini Vietnam). Percintaan dimulai ketika sang gadis sedang naik kapal ferry menyeberangi sungai dan bertemu dengan sang pria yang saat itu sedang berada dalam mobil limosinnya. Nama sang pria sampai akhir kisah tidak disebutkan, sementara penutur berganti-ganti antara sang gadis sebagai orang pertama, kadang tanpa ‘pemberitahuan’ berganti menjadi orang ketiga, apakah itu sang pria atau orang lain. Konteks waktunya pun berpindah-pindah, kadang berada di masa lalu ketika sang gadis masih anak-anak, kadang tiba-tiba maju ke masa depan ketika ia sudah tua dan berada di Perancis. Sama sekali tidak linear. Hal ini membuat membaca novel ini terasa dinamis dan kadang penuh kejutan. Namun tidak juga membingungkan. Pada saat akhir membaca novel ini, pembaca tetap bisa menyusun mozaik-mozaik kehidupan sang tokoh yang diceritakan secara berserak itu. Novel ini juga minim dialog, kisah dituturkan melalui penggambaran sudut pandang penutur, yang membuat pembaca seakan sedang membedah pikiran sang tokoh. Kisah percintaan ini merupakan kisah cinta pertama bagi sang gadis. Walau demikian, kisah ini bukanlah kisah cinta pertama tipikal remaja. Ada kedalaman makna, tidak bersifat ideal seperti umumnya cinta remaja. Sesuatu yang membekas sampai tua, dan unik dengan keganjilannya.  

Novel ini dapat dikatakan bersifat autobiografis mengingat Duras sendiri dilahirkan dan dibesarkan di Gia-Dinh, Indo-Cina. Seperti diketahui kawasan Indo-Cina dahulu merupakan jajahan Perancis, dan Duras merupakan warga Perancis yang tinggal di sana. Ayahnya adalah seorang guru matematika, yang meninggal dunia ketika Duras masih berusia 4 tahun. Sang ibu digambarkan Duras sebagai sosok yang lemah dan penuh dengan keputusasaan. Menghidupi 3 orang anak, ketakberdayaan sang ibu dalam hal ekonomi menjadikan kehidupan masa kecil Duras cukup carut marut.  Ketika usianya belum genap 15 tahun, Duras bertemu dengan seorang Cina yang bermukin di Vietnam dan menjalin asmara dengannya. Hubungan mereka terjalin ’karena adanya ikatan-ikatan’ dan ’kejadian-kejadian’, dan bukan karena ’cinta’. Hubungan misterius yang tak direstui oleh kedua pihak keluarga itu pun harus kandas ketika Duras pada akhirnya memilih untuk kembali ke Perancis pada usia 17 tahun untuk melanjutkan sekolahnya. Hidup Duras sejak kecil selalu dipenuhi dengan harapan akan kebebasan dari kesendirian serta kehangatan keluarga yang tak pernah ia rasakan. Novel The Lover ini pun banyak menggambarkan perasaan keterasingan dan hubungan keluarga yang dingin, terutama antara sang gadis dengan ibunya dan dengan kakak laki-lakinya.

Membaca The Lover seakan membaca masa muda sang penulis. Walau demikian, Duras menolak anggapan bahwa karyanya ini merupakan autobiografinya. Baginya, hasrat yang dirasakan oleh sang gadis, tokoh utama novel ini, telah bercampur dengan hal-hal yang bersifat fiksi. Mungkin hidup Duras pun dirasakan antara nyata dan tidak nyata. Seperti ungkapan Duras, “Kisah hidupku tidak nyata. Tidak nyata. Tak pernah ada pusatnya. Tak ada jejak, tak ada jalan. Ada ruang-ruang besar dimana kau pernah pura-pura melihat seseorang di sana, tetapi itu tidak benar, tak ada siapapun.” (hal 12). 

Pola penggambaran kisah seperti mozaik yang terserak mungkin dapat dijelaskan dengan historis penulisan novel ini. Pada awalnya Duras menyiapkan sebuah buku fotografi yang berisikan jepretan-jepretan foto masa kecilnya dengan tambahan tulisan sebagai komentar. Namun, setelah buku tersebut selesai disusun, penerbit di Perancis menolaknya karena menganggapnya terlalu aneh. Sampai akhirnya Jerome Lindon, seorang editor dari penerbit de Minuit, mengusulkan kepada Duras untuk membuat buku tersebut dalam bentuk uraian kisah dan tanpa foto. Terbukti di tangan penulisnya, kata-kata mampu bercerita lebih dari ratusan foto. Dalam sebuah wawancara khusus dengan Duras tentang bukunya The Lover, Duras mengatakan, ”Sebaiknya Anda tidak bertanya terlalu banyak akan buku ini, biarkan ia bicara. Apabila apa yang dikatakannya tidak Anda pahami secara langsung dengan jelas, bersabarlah. Perlahan-lahan kata-kata yang Anda baca akan terasa semakin jelas, terlalu jelas, bahkan.” (hal 14). Duras mengisahkan kisahnya sedemikian rupa hingga pada akhir kisah masih mampu mengusik kepekaan pembaca akan kerinduan akan hubungan hangat di masa lalu.  

The Lover berhasil meraih penghargaan bergengsi Prix Goncourt di Perancis, dan penerbitnya de Minuit, merupakan penerbit yang terkenal sangat menjunjung tinggi idealisme kesusastraan Perancis. 

Cirendeu, 13 June 2007, 15.33.

May 25, 2007

501 Must Read Book!

501-must-read-books.jpg 

501 Must-Read Books

Kumpulan Resensi Buku

Pengarang: Cathy Lowne, Dr. Vybarr Cregan-Reid, Dr. Raphael Hallett, Denise Imwold, Gabrielle Mander, Carola Campbell, Dr. Therie Hendrey-Seabrook.

Penerbit: Bounty Books, London

Tahun terbit: 2006

Bahasa: Inggris

Halaman: 544 

Baru dapat buku ini sebagai hadiah ulang tahun dari Mas Gatot… Whoa… bukunya bagus banget! Berisi banyak sekali buku yang menurut para penulisnya dianggap buku yang wajib baca. Ke-501 buku-buku itu dikelompokkan dalam kategori Children Fiction, Classic Ficiton, Memoirs, History, Modern Fictions, Thrillers, Science Fiction, dan Travel Writing.  

Setiap halaman membahas satu buku, dan disertai dengan gambar covernya yang berwarna, yang kebanyakan sepertinya mengambil versi klasiknya, dan disertai resensinya yang singkat dan padat. Dari membaca resensinya kita bisa mengenal saripati cerita/ isi buku, kadang dengan latar belakang cerita tersebut. Dalam setiap resensi juga ditonjolkan pesan yang ingin disampaikan penulis, sekaligus sisi unik buku tersebut sehingga pantas disebut istimewa. Sekilas ulasan mengenai hidup pengarangnya juga ditampilkan, sehingga kita tidak hanya kenal dengan isi buku, tapi juga siapa dibalik buku tersebut.  

Dalam kategori Children Fiction, dihadirkan buku-buku klasik anak-anak, mulai dari Little Women, Fairy Tales dari pencerita anak dunia, Hans Christian Andersen, The Secret Garden-nya Frances Hodgson Burnett, Just So Stories-nya Rudyard Kipling, The Little Prince, Pinocchio, Heidi, dan buku-buku klasik anak lainnya, sampai pada buku dari era modern, seperti The Curious Incident of the Dog in the Night-Time, The Northern Light dan Harry Potter. Banyak buku dalam kategori cerita anak ini yang saya kenal dan sebagian sudah saya baca. Bahkan beberapa pengarang favorit saya ikut meramaikan kelompok Children Fiction ini, seperti Roald Dahl, Erich Kastner dan Astrid Lindgren. Buku-buku tersebut pantas disebut klasik karena dapat dibaca sampai kapanpun tanpa terbatas pada rentang waktu serta temanya yang mampu melekat lama dalam benak pembaca. Pembaca dewasa pun dapat menikmati cerita-cerita tersebut sambil sekejap kembali ke dunia anak-anak. Umumnya buku-buku Children fiction ini menggambarkan bagaimana dunia dalam pandangan anak-anak, dan bagaimana anak-anak itu berusaha mencari tempat dalam dunia yang diciptakan orang dewasa ini. Kesemuanya itu mengusung tema “allowing children to be children” dan banyak dari kisah-kisah itu juga mampu mengusik keharuan pembaca. 

Dalam kelompok Classic Fiction ditampilkan buku-buku dari pengarng-pengarang klasik dunia, seperti Jane Austen, Honore de Balzac, Bronte bersaudara, Anton Chekov, Fyodor Dostoyevsky, Charles Dickens, Goethe, Voltaire, Virginia Woolf, Victor Hugo, dan banyak lagi. Menelusuri kelompok buku Classic Fiction serasa melakukan perjalanan literer dan menyelami sastra klasik dunia dari berbagai belahan bumi. Buku-buku ini juga merefleksikan sisi humanitas manusia, dalam berbagai temanya.    

Dari kelompok History, dihadirkan buku-buku penting dalam sejarah dunia, mulai dari sejarah tentang suatu kota atau wilayah, perang, kerajaan kuno, tragedy kemanusiaan, atau situasi masyarakat pada suatu jaman. Misalnya, London – The Biography, Berlin – The Downfall, The Pleasure of Imagination – English Culture in Eighteen Century, Hiltler & Stalin – Parallel Lives, Daily Life in Ancient Rome, The Crusades through Arab Eyes, The Women’s History of the World, dan banyak lagi. Sejarah adalah mengenai memahami diri kita, hidup kita. Ia merupakan cermin perjalanan kemanusiaan manusia, sampai titik sekarang.   

Kelompok Memoirs banyak menampilkan buku-buku biografi atau kisah secuplik kehidupan penulis yang dianggap penting atau mengesankan. Dari buku-buku Memoirs ini sebenarnya kita dapat mengenal si penulis itu sendiri, melalui hidupnya yang ditulisnya. Beberapa yang terkenal adalah Down and Out in Paris dan London, dari George Orwell, yang menggambarkan sepenggal periode hidupnya masa usia 20-an ketika ia hidup dalam kemiskinan dan berpidah-pindah di belantara kota Paris dan London, atau Words, dari Jean-Paul Sartre, yang bersifat autobiografis mengenai masa kecilnya yang banyak bersentuhan dengan buku dan kata-kata, sampai ia menentukan ingin menjadi penulis.  

Dalam kelompok Modern Fiction, kita akan menemui sejumlah fiksi dari para penulis di era modern dan kontemporer. Mereka yang terkenal adalah Chinua Achebe, penulis terkenal dari Afrika Selatan, Margaret Atwood, Paul Aster, A.S Byatt, Italo Calvino, Albert Camus, Peter Carey, J. M Coetzee, Marguerite Duras, Umberto Eco, William Faulkner, Gabriel Garcia Marquez, Nadine Gordimer, Kazuo Ishiguro, Ernest Hemingway, James Joyce, John Irving, Franz Kafka, dan banyak lagi lainnya. Beberapa dari mereka adalah penerima Nobel pada bidang sastra. Modern Fiction memang mengambil porsi terbesar dalam kumpulan buku ini. Kelompok buku ini sangat mungkin akan menjadi karya yang dianggap klasik pada masa mendatang. 

Pada kelompok Science Fiction dan Thrillers, pembaca banyak diperkenalkan dengan buku-buku yang dapat dibilang klasik dalam kedua bidang tersebut. Contohnya adalah Dune, karya Frank Herbert, yang bersifat science fiction dan menggambarkan kehidupan di planet pasir Arrakis, atau Nineteen Eighty-Four dari George Orwell, yang menggambarkan dunia yang dibagi menjadi 3 regim, yaitu Oceania, Eurasia dan Eastasia. Buku-buku Thrillers banyak mengusung tema misteri dan kriminal, seperti buku klasik Trial and Error dari Anthony Berkeley, yang menceritakan kasus nyata di bidang hukum dimana dua pria secara terpisah ditemukan bersalah atas pembunuhan orang yang sama.  

Pada kelompok Travel Writing, disajikan buku-buku yang mengulas catatan perjalanan, termasuk perjalanan ke negeri-negeri yang jauh dan sangat asing. Buku-buku dalam tema ini juga sering menjadi referensi bagi pembaca dalam mengenal daerah yang dikunjungi, budaya dan masyarakatnya, dan seringkali memang bersifat sosiologis dan antropologis. Contohnya adalah My Journey to Lhasa dari Alexandra David-Neel, atau On the Narrow Road to the Deep North, karya Lesley Downer yang menguraikan catatan perjalanan Matsuo Basho, seorang guru dan penulis puisi haiku Jepang. Juga ada The Last Place on Earth, karya Roland Huntford, yang menceritakan ekspedisi Robert Scott dari Inggris dan Roald Amundsen dari Norwegia ke Antartika (kutub Selatan) pada tahun 1911. Ada juga buku bertema Travel Writing dari penulis terkenal, seperti Travels with Charley: In Search of America, karya John Steinbeck, yang menceritakan observasinya mengenai Amerika dari perjalanannya mengelilingi sebagian wilayah Amerika dengan anjing poodlenya, Charley;  atau Travels with a Donkey in the Cevennes, karya Robert Louis Stevenson, yang mengulas perjalanan hikingnya di pegunungan Cevennes di wilayah tengah Perancis. 

Buku yang saya pandang sangat baik namun tidak ada dalam buku ini adalah Good Night Mister Tom, karya penulis Inggris Michelle Magorian, yang menggambarkan seorang anak kecil yang terlantar dan akhirnya diasuh oleh Mister Tom, dalam masa perang dunia pertama di Inggris. Buku ini secara peka menggambarkan kehidupan orang-orang biasa di Inggris ketika menghadapi perang dunia pertama, dan layak dibaca baik oleh anak-anak maupun orang dewasa. Buku lainnya adalah Tetralogi Buru-nya Pramoedya Ananta Toer, yang saya anggap layak menjadi karya klasik dunia, karena  berhasil menyajikan isinya yang kental dengan nasionalisme dan character building, maupun dari sudut konflik bathin tokoh-tokohnya. Sepertinya memang ada banyak sekali buku bagus lainnya yang bisa dimasukkan dalam kelompok buku ini. Kembali lagi, pustaka dunia demikian luasnya hingga tidak mungkin mengepaknya dalam suatu kumpulan resensi buku. 

Kumpulan buku-buku ini merupakan harta pustaka yang berharga, yang membuka banyak sekali jendela dunia dan memungkinkan kita menjelajah jauh ke berbagai negara dalam berbagai masa, melalui buku… 

Cirendeu, 25 May 2007, 4.16 pm 

May 23, 2007

Karlsson si Manusia Atap – Lindgren Sejati!

karlsson_astrid-lindgren.jpg

Karlsson si Manusia Atap

Novel

Pengarang: Astrid Lindgren

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2007

Bahasa: Indonesia

Penerjemah: Purnawati Olsson

Halaman: 163 

Diceritakan bahwa di satu jalan biasa di Stockholm, di apartemen gedung perumahan biasa, tinggal keluarga biasa bernama Svantesson, yang terdiri dari ayah biasa, ibu yang juga biasa, dan tiga anak yang biasa-biasa saja, yaitu Bosse, Bettan dan Lillebror. Namun ada satu hal luar biasa yang ada di gedung perumahan itu, yaitu Karlsson si Manusia Atap. Dia, si Karlsson itu, benar-benar tinggal di atap. Karlsson bertubuh pendek, gendut, bulat dan lagaknya seperti bos yang sangat percaya diri, dalam hal apapun. Keistimewaannya adalah dia bisa terbang. Hanya dengan memutar tombol yang ada di dekat pusarnya maka mesin aneh kecil serupa baling-baling yang ada di punggungnya akan berputar, lalu ia akan terangkat dan terbang melayang. Keberadaan Karlsson di atap gedung tidak diketahui siapapun. Ia tinggal di suatu rumah kecil di salah satu atap yang posisinya terhalang oleh cerobong asap. Namun ia suka terbang melongok ke jendela-jendela apartemen di sekitarnya.

Hidup Lillebror yang biasa saja berubah menjadi luar biasa sejak ia mengenal Karlsson. Pertemuan diawali ketika Karlsson terbang mendekati jendela kamar Lillebror saat anak itu sedang merasa bosan dan kesal atas semua hal menjengkelkan yang ia alami hari itu. Sejak itu Karlsson sering mengunjungi Lillebror. Namun karena sifatnya yang sangat pecaya diri, kadang dalam bermain Karlsson melakukan sesuatu yang mengakibatkan hal yang tak terduga. Seperti ketika ia meledakkan mainan kereta api Lillebror, yang tentu membuat Lillebror kesulitan menjelaskan hal tersebut kepada kedua orang tuanya. Masalahnya mereka tidak percaya ada sesuatu yang bernama Manusia Atap si Karlsson itu. Dan setiap kali Lillebror ingin memperkenalkan Karlsson pada keluarganya, Karlsson yang berjanji akan menunggu di kamar Lillebror tiba-tiba menghilang. Dan seterusnya kejadian serupa berulang beberapa kali hingga Lillebror pun enggan untuk menyebut Karlsson sebagai alasan karena selalu dianggap sedang berkhayal.  Namun Karlsson juga banyak memperkenalkan petualangan-petualangan pada Lillebror, seperti ketika ia ikut dibawa terbang ke rumah Karlsson di salah satu atap, dan ikut melongok ke beberapa jendela di sekitar situ, dan menolong seorang bayi penghuni salah satu apartemen yang sedang ditinggal sendirian, dan membantu mengecoh sekelompok penjahat, atau ketika mereka berdua usil mengganggu kakak perempuan Lillebror yang sedang berkencan. Kadang tingkah Karlsson yang begitu menggampangkan segala sesuatu dan sangat percaya diri hingga menyulitkan Lillebror membuat saya gemas, apalagi tingkahnya yang sering dengan polosnya mencari untung dengan mengambil permen teman-temannya. Walau begitu, sikapnya yang selalu optimis pada segala sesuatu juga selalu membuat situasi menjadi lebih riang dan Lillebror dan teman-temannya betah menghabiskan waktu bersamanya. 

Seperti umumnya yang ada dalam cerita-cerita Lindgren, hubungan keluarga diungkapkan secara sangat wajar namun hangat. Kita akan selalu ingat akan hal-hal sederhana di masa kecil, seperti ketika duduk di pangkuan ibu, menanti-nantikan kado di hari ulang tahun, atau menghabiskan waktu seru bersama teman sebaya. Membaca Astrid Lindgren selalu menimbulkan rasa manis dan hangat, seperti susu coklat hangat di gelas mug.  Lindgren telah menjadi penulis favorit saya sejak saya masih duduk di bangku sekolah. Perkenalan saya dengan Lindgren saat itu adalah melalui bukunya yang sampai saat ini masih digemari, yaitu Pippi si Kaus Kaki Panjang. 

Cirendeu, Sabtu 24 Feb 2007, 10.29 am.

May 23, 2007

La Grande Borne – Sepenggal Perjalanan Hidup Dini

la-grande-borne_nh-dini.jpg

La Grande Borne

Novel

Pengarang: Nh. Dini

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2007

Bahasa: Indonesia

Halaman: 285 

La Grande Borne menceritakan suatu episode kehidupan Nh. Dini ketika ia dan keluarganya pulang ke Perancis setelah sang suami menyelesaikan tugasnya menutup Konsulat di Danang, Vietnam Utara, pada akhir musim panas tahun 1970. Saat itu ia telah mempunyai 2 anak, Lintang yang besar dan adiknya, Padang, yang berusia balita.   Seperti semua novel Nh. Dini, cerita yang disampaikan sangat terinspirasi oleh kehidupan pribadi sang pengarang sendiri, kalau tidak bisa dibilang menceritakan petikan episode kehidupannya sendiri. Pada La Grande Borne ini pun Nh. Dini masih menceritakan kehidupan keluarganya yang sedikit banyak berhubungan dengan kisah-kisah dalam episode hidupnya yang lain yang ada di buku-bukunya sebelumnya. Novel sebelumnya persisnya adalah ”Dari Fontenay ke Magallianes”, namun pembaca tidak akan terganggu dalam memahami La Grande Borne kalaupun belum membaca ”Dari Fontenay ke Magallianes”. Walau demikian, saya ragu apakah pembaca yang tidak pernah membaca karya Dini sama sekali akan bisa memahami keseluruhan konteks dalam novel ini, karena banyak sekali tokoh-tokoh yang tidak diutarakan kembali karakternya atau tempat-tempat yang tidak dielaborasi lebih jauh dalam buku ini namun ada dalam karya-karyanya yang lain. Namun saya juga yakin bahwa dengan cara penuturan yang seakan sang pengarang menceritakan sendiri kisah hidupnya di hadapan pembaca, pembaca akan tetap dapat menikmati novel ini. 

Diceritakan bagaimana Dini dan keluarganya kembali ke Perancis, setelah sebelumnya mampir sejenak ke Jawa menengok keluarga. Dalam penempatan tugasnya kembali di Departemen Luar Negeri Perancis di Paris, Dini dan keluarga kembali mencari tempat tinggal, dan ditemukanlah suatu lokasi sedikit di luar Paris yang bernama La Grande Borne. La Grande Borne merupakan area perumahan dan apartemen yang masih relatif baru, dengan pohon-pohon yang baru ditanam dan belum begitu besar. Namun tempat itu merupakan lokasi yang nyaman untuk ditinggali, terutama bagi kehidupan anak-anak karena tenang, aman dan terdapat sekolah yang asri yang dikelola oleh suatu biara dimana Lintang dan Padang kemudian memperoleh pendidikan dasarnya. Dini dan keluarga tinggal di salah satu gedung apartemen di sana. 

Pada episode kehidupannya ini, hubungan Dini dengan suaminya telah menjauh, dan makin memburuk dengan makin renggangnya komunikasi di antara mereka berdua. Hobi sang suami akan fotografi, terutama dengan objek bangunan purbakala, membuat sang suami sibuk dalam dunianya sendiri, bahkan kadang mengorbankan waktu, ruang, ataupun keputusan-keputusan yang berkaitan dengan keluarga. Sikapnya yang cenderung kasar dan otoriter, juga sangat perhitungan dalam keuangan, membuat suasana kadang menjadi tegang. Sementara itu, Dini juga selalu disibukkan dengan tugas-tugas rumah tangga yang tiada habisnya. Demi anak-anak, Dini berusaha meredam kemarahan dan kesedihannya atas “lelaki pilihanku sendiri itu”, demikian sebutan Dini akan suaminya. Mereka pun sebenarnya sudah bersepakat untuk sekedar cohabitation, yaitu mengelola hidup bersama tanpa hubungan fisik.   Walau demikian, masa hidup di La Grande Borne tidak hanya diisi dengan ketegangan atau kesedihan. Ada banyak hal baik yang terjadi dalam hidup Dini, seperti adanya teman-teman baru yang tulus membantu dan baik hati, masuknya Miu, seekor kucing, dalam kehidupan mereka, Lintang dan Padang yang tumbuh dengan baik dan menjadi pribadi yang penuh pengertian, liburan musim panas di La Barka yang penuh cinta dengan sahabat-sahabat lamanya, dan tentu saja hubungan Dini dengan sang kapten, yang biasa dipanggil Dini sebagai “Kaptenku”.  Sang kapten adalah seorang kapten kapal yang berlayar antar benua, dan ia dan Dini selalu bertemu setiap saat sang kapten mendarat di Perancis. Tokoh Sang Kapten ini merupakan kelanjutan dari buku-buku Dini sebelumnya, yaitu “Dari Parangakik ke Kampuchea”, dimana Dini pertama kali bertemu dengan si Kapten pada perjalanan di atas kapal, dan juga “Dari Fonetenay ke Magallianes” yang juga banyak menceritakan kelanjutan hubungan mereka. Dengan sang kapten, Dini merasa dihargai dan setitik harapan masih tersisa di hati Dini, yaitu terwujudnya rencana mereka berdua dan anak-anak untuk meninggalkan kehidupan Dini yang bagai terpanggang api dengan “lelaki pilihanku sendiri itu” dan memulai lembaran baru dalam sejuknya kasih sayang dengan sang kapten.  

Namun rencana yang telah matang dan tinggal dilaksanakan itu seperti melayang hilang ditiup angin. Pada kelanjutannya, tiada kabar dari sang kapten. Sia-sia Dini menanti datangnya surat ataupun telepon dari sang kapten. Sementara itu, penyakit fatal yang hampir merenggut nyawa menyerang Dini, dan dengan sikap dingin dan sangat perhitungan dalam hal keuangan sang suami, Dini berjuang melawan penyakitnya, dibantu dorongan semangat sahabat-sahabat barunya. Hari demi hari dijalani Dini tanpa semangat, bagaikan robot yang secara otomatis menjalankan tugas-tugasnya.  

Dalam buku ini juga diceritakan saat-saat Dini merancang dan menulis novel-novelnya yang lain yang ia rencanakan akan dikirim ke Indonesia untuk diterbitkan. Setting novel ini yang berada pada awal tahun 70-an, memang bisa jadi merupakan saat-saat Dini menulis beberapa novel terkenalnya, seperti ”La Barka”, ”Pada Sebuah Kapal”, dan beberapa judul dalam Seri Cerita Kenangan.  Walau mengungkap pandangan negatif terhadap suaminya, Dini tidak menyalahkan siapapun atas jalan hidup yang harus dilaluinya itu. Kesemuanya adalah suatu pilihan yang ia buat sendiri, seperti ungkapannya untuk sang suami, yaitu ”lelaki pilihanku sendiri itu”. Beberapa kali Dini juga selalu mengingat ajaran sederhana dari sang ibu nun jauh di kampungnya di Jawa, untuk selalu eling dan sabar dan tidak ikut berbuat kasar atas apapun perlakuan tidak menyenangkan yang diterima. Dalam perjalanan hidupnya selama di La Grande Borne, Dini juga berulang kali merasa sangat bersyukur atas kebaikan anak-anaknya yang telah berperan sebagai sumber yang menyembulkan percikan-percikan semangat guna meneruskan hidupnya.  Saat ini La Grande Borne merupakan novel teranyar dari Nh. Dini. Akhir cerita dari novel ini bukanlah merupakan penutup yang final atas kisah hidupnya. Dan saya masih menyimpan banyak pertanyaan, apakah yang terjadi dalam hidup Dini selanjutnya, akankah ia akhirnya bertemu kembali dengan Sang Kapten, dan atas apapun yang akhirnya terjadi dalam hidupnya, bagaimanakah Dini menghadapi dan menyikapi segalanya? Saya sangat menantikan kehadiran buku Dini selanjutnya, dan sangat mengharapkan buku-buku selanjutnya memang akan ada.  Membaca La Grande Borne serasa ikut berada dalam dunia fisik dan kultur Perancis, khususnya pada masa awal tahun 70-an. Beberapa sikap dan pandangan Eropa saat itu saya rasa masih bertahan hingga kini. Dengan kalimat-kalimat yang rapi dan alur yang luwes dan tenang, saya menikmati sepenggal hidup Dini yang dijalaninya di beberapa tempat di Perancis.    Cirendeu, Jumat, 23 Feb 2007, 08.03 pm.

May 23, 2007

Si Lugu (L’Ingenu) – Kekuatan sebuah Buku Kecil

voltaire2.jpg

Si Lugu (L’Ingenu)

Novel

Pengarang: Voltaire

Penerbit: Yayasan Obor Indonesia

Tahun terbit: 2003

Bahasa: Indonesia

Penerjemah: Ida Sundari Husen

Halaman: 117  Si Lugu merupakan salah satu dari karya terbaik Voltaire, selain Candice, atau Optimism yang terbit pada tahun 1759, dan Zadig, atau Suratan Takdir yang terbit pada tahun 1747. Kisah Si Lugu sendiri terbit pada tahun 1767. 

Si Lugu adalah nama tokoh utama dalam novel ini, atau lebih tepatnya dikatakan sebuah dongeng atau kisah, yang mana sesuai dengan namanya, merupakan pribadi yang sederhana dengan cara berpikir yang sangat bersahaja, tanpa kompleksitas prasangka, serta memiliki pengertian yang tetap lurus dan murni. Komentar-komentar Si Lugu yang sederhana, polos, dan terus terang memiliki daya kritik yang tajam dan mengena. Persinggungan karakter Si Lugu ini dengan masyarakat sekitarnya yang cenderung fanatik dan picik seakan menggambarkan kritik-kritik Voltaire atas masyarakat saat itu.  

Diceritakan Si Lugu adalah seorang Huron, yaitu penduduk asli Kanada yang datang ke Perancis bersama dengan orang-orang Inggris. Karena perilakunya yang sopan dan menarik, Si Lugu diundang oleh kepala gereja Notre-Dame de La Montagne dan adiknya untuk menginap di tempat mereka. Dari sinilah perjalanan Si Lugu dimulai, bagaimana ia dipandang harus masuk agama Katolik, bagaimana ia dengan penuh semangat mempelajari injil dan menerapkan apa yang tertulis dalam injil dengan sebenar-benarnya namun justru menimbulkan kebingungan para pastur dan orang-orang sekitar, bagaimana ia lalu jatuh cinta pada nona de Saint-Yves dan menjadi bingung dengan keterlibatan seluruh dunia dalam menentukan perasaannya pada kekasihnya tersebut, bagaimana ia melakukan perjalanan untuk menghadap raja dan menemui banyak halangan justru karena kebobrokan orang-orang terhormat di sekitar kerajaan, bagaimana ia lalu dipenjara dan bertemu dengan Gordon, seorang pengikut Jansenisme, yang banyak memberikan pelajaran berarti bagi Si Lugu, dan bagaimana ia memperjuangkan perasaannya dan tetap bersikap jujur pada dirinya sendiri. Membaca Si Lugu sedikit banyak membuat kita menertawakan diri kita sendiri.  Yang paling menonjol dari Voltaire sebagai seorang pemikir, ahli filsafat dan penulis sastra dan sejarah adalah kebenciannya akan kefanatikan, diskusi filsafat dan keagamaan yang dinilainya bertele-tele sehingga tidak masuk akal dan malah mengabaikan masalah-masalah manusia yang utama. Ia juga dikenal sangat mencintai dan memperjuangkan keadilan, baik melalui karya-karyanya maupun dalam kehidupan sebenarnya. Pandangan hidupnya yang praktis dan realistis dibuktikannya antara lain dengan jalan membina dan mengembangkan sebuah desa kecil bernama Ferney, dari desa yang sepi menjadi desa industri yang aktif.  Saya setuju dengan pendapat Ibu Ida Sundari Husen yang dituangkannya dalam Pengantar, bahwa struktur dongeng-dongeng Voltaire sesungguhnya amat sederhana, dan pembaca dapat dengan mudah menangkap alur ceritanya yang linear. Namun, makna sesungguhnya yang ingin diungkapkan oleh dongeng-dongeng tersebut, tidak selalu mudah untuk ditangkap karena penuh dengan konotasi yang sering sangat ironis. Untuk memahaminya diperlukan keluasan berpikir dan kemauan untuk melihat kedalam diri. Tanpa pemahaman ini, karya-karya Voltaire akan dipandang tidak lebih dari sekedar dongeng populer biasa, yang kadang malah bisa memberi kesan konyol. Si Lugu diterjemahkan dengan sangat baik oleh Ida Sundari Husen. Karya ini merupakan perkenalan pertama saya dengan Voltaire, dan yang telah membuat saya ingin mengenalnya lebih jauh melalui karyanya yang lain. Voltaire sendiri bernama asli Francois-Marie Arouet (1694 – 1778) dan gagasan-gagasannya hingga abad 21 ini masih sering dikutip, terutama karena sifatnya yang universal. 

Cirendeu, Jumat, 23 Feb 2007, 05.03 pm.

May 23, 2007

Mademoiselle Fifi – Kumpulan Kisah Pendek

mademoiselle-fifi_maupassant.jpg

Mademoiselle Fifi

Kumpulan Cerita Pendek

Pengarang: Guy de Maupassant

Penerbit: Yayasan Obor Indonesia

Tahun terbit: 2004

Bahasa: Indonesia

Penyunting: Ida Sundari Husen

Halaman: 361 

Mademoiselle Fifi merupakan salah satu kumpulan cerita pendek dari pengarang Perancis, Guy de Maupassant, yang lahir pada 5 Agustus 1850. Mademoiselle Fifi adalah salah satu judul cerita pendek dari 25 cerita pendek yang terangkum dalam buku ini, yang seluruhnya diterjemahkan oleh para mahasiswa peserta Program Spesialisasi Penerjemahan Bahasa Perancis (S2) di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.  

Dalam buku ini, Guy de Maupassant menceritakan hal-hal sederhana dan sehari-hari. Tema cerita dapat berupa pasangan pengantin baru yang ingin bersenang-senang di Paris, pemakaman seorang wanita yang dianggap bersalah oleh gereja, kekecewaan seorang laki-laki terhadap ketidaksetiaan perempuan, dan hal sehari-hari sejenisnya. Membaca kumpulan cerita pendek ini terasa ringan, tanpa perlu berpikir mendalam, dan kadang akhir cerita dibiarkan menggantung tanpa konklusi seakan Maupassant hanya ingin menuturkan kejadian demi kejadian begitu saja.  

Maupassant, dalam perjalanan karir kepenulisannya, memang sangat dipengaruhi oleh Gustave Flaubert, pengarang Perancis abad ke-19 dengan buku terkenalnya ”Madame Bovary”. Sejalan dengan Flaubert, Maupassant didudukkan sebagai pengarang naturalis dan impresionis. Kejadian diuraikan secara apa adanya. Sebagai pribadi, Maupassant berpembawaan pesimis, dan hal ini kadang tercermin dalam karya-karyanya. Baginya dunia penuh dengan kekuatan membabi buta serta sulit dipahami. Manusia tidak lebih tinggi tingkatannya daripada makhluk-makhluk lain dan mereka adalah makhluk yang sulit dimengerti serta cenderung hidup dalam kesepian. Kebodohan manusia dirasakan sangat mengecewakan dan menakutkan. Perasaan-perasaan itu menghantui Maupassant selama hidupnya dan berangsur-angsur berubah menjadi gangguan jiwa. Di kalangan keluarganya, gangguan jiwa sudah muncul beberapa kali: ibunya meninggal karena bunuh diri dan adiknya menjadi gila hingga akhirnya meninggal. Penyakit jiwa Maupassant diperparah dengan penyakit sifilis dan migren hebat yang dialaminya. Sampai meninggalnya di tahun 1893, kesehatan jiwa Maupassant tidak sempat pulih. 

Mademoiselle Fifi adalah buku pertama Maupassant yang saya baca, sekaligus merupakan perkenalan saya dengan karya beliau. Cerita-cerita pendek yang saya baca ini menurut saya biasa saja, sekedar hal sederhana dalam hidup manusia yang diceritakan kembali. Justru kehidupan pengarangnya lah yang lebih menarik perhatian saya. Di tengah kegalauan jiwanya, Maupassant termasuk pengarang yang sangat produktif yang menghasilkan banyak sekali karya dalam rentang waktu kepengarangannya.  

Cirendeu, 23 Feb 2007, 04.01 pm.

May 23, 2007

Les Miserables – Seberapa Besar Arti Memaafkan

hugo_les-miserables.jpg

Les Miserables

Novel

Pengarang: Victor Hugo

Penerbit: Bentang

Tahun terbit: 2006

Bahasa: Indonesia

Penerjemah: Anton Kurnia

Halaman: 692 

Adalah seorang narapidana, Jean Valjean, yang baru melarikan diri dari 19 tahun masa penahanannya. Saat itu, menjadi seorang  narapidana berarti membawa cap buruk pada diri sepanjang masa. Setiap narapidana akan membawa KTP kuning sepanjang hidupnya yang menandakan dirinya adalah  penjahat, dan karenanya akan sulit sekali mendapatkan tempat yang layak di masyarakat. Jean Valjean sendiri masuk ke penjara karena mencuri sepotong roti dari suatu toko roti karena kelaparan. Menumpang pada keluarga kakaknya yang juga miskin dengan 7 anak yang harus dihidupinya tanpa suami, Jean Valjean yang tanpa pendidikan bekerja seadanya dan semampunya untuk membantu menyambung hidup.

Suatu hari ia tertangkap karena mencuri roti tersebut dan dihukum penjara beberapa tahun. Namun hukumannya bertambah beberapa tahun lagi karena ia berusaha melarikan diri. Dan bertambah lagi beberapa tahun karena berusaha kembali melarikan diri. Dan seterusnya sampai total hukumannya menjadi 19 tahun. Bukan hanya penjara, saat itu narapidaha juga harus bekerja paksa di sebuah kapal, dengan kaki terantai besi dan tanpa upah, bekerja kasar untuk ”membayar” perbuatannya. Berhasil keluar dari 19 tahun masa penahanannya, Jean Valjean membawa setumpuk dendam dan kemarahan kepada masyarakat. 

Dengan latar belakang tokoh utama tersebut, Hugo mengalirkan ceritanya.  Diawali dengan berjalannya Jean Valjean sejak melarikan diri dari penjara, dengan baju kotor dan lusuh dan segumpal gembolan kumuh yang disandangnya, mencari-cari penginapan dan makanan. Walaupun ia memiliki uang untuk membayar, tidak ada satu pun penginapan yang mau menerimanya, sampai seseorang menyarankan untuk mengetuk pintu rumah seorang uskup di sana.  Uskup Myriel merupakan seorang lelaki tua yang tulus dan dihormati di kota itu. Berbeda dengan semua orang lain, sang Uskup menerima Jean Valjean dengan tangan terbuka, bahkan memperlakukannya seperti orang terhormat lain, tanpa peduli dengan KTP si pengunjung. Hal ini membuat Jean Valjean terperangah. Selanjutnya ia bahkan tetap dibela oleh sang Uskup atas perbuatan pencurian yang ia lakukan di rumah Uskup tersebut. Hal tersebut membuat pikiran Jean Valjean terguncang dan lalu mempertanyakan arti berbuat baik dan memaafkan.  

Les Miserables sendiri terdiri atas beberapa cerita yang sepertinya terpotong-potong, namun sebenarnya memiliki hubungan dalam tokoh-tokohnya, dan terutama benang merah dalam nilai moral yang ingin disampaikan. Cerita kemudian bergulir pada suatu tokoh bernama Fantine yang berjuang memberikan hidupnya demi kebaikan hidup anak perempuannya, Cossette. Stigma buruk yang melekat erat pada diri seorang perempuan yang memiliki anak tapi tidak bersuami, sangat menyulitkan hidup Fantine. Beruntunglah ia ditolong oleh walikota tempat ia tinggal, Monsieur Madeleine, yang agak tidak jelas asal-usulnya namun selalu menolong warganya tanpa peduli dari kelas mana mereka berasal. 

Sementara itu, seorang polisi, Javert, dengan penciumannya yang tajam, telah lama mencurigai sang walikota sebagai seorang penjahat yang melarikan diri dan menyamar. Didasari dengan nilai moralnya yang kaku, Javert bertekad mencari bukti-bukti yang memperkuat dugaannya dan melakukan apapun untuk menangkap sang walikota. 

Perjalanan buku ini selalu disisipi pertanyaan ”manakah yang akan saya pilih, berbuat baik dan jujur namun jalannya terlihat sangat sulit, atau menyelamatkan diri dengan mengambil jalan buruk yang sering tampak jauh lebih mudah?”.  Monsieur Madeleine pun harus berkutat keras dengan pertanyaan tersebut tatkala ia mengetahui ada seorang tua miskin bernama Champmathieu, yang dituduh pengadilan sebagai si Jean Valjean yang melarikan diri. Penyelesaian konflik-konflik yang dihadapi Madeleine dibuat sedemikian rupa sehingga pembaca berulang kali bertemu dengan pertanyaan utama di atas. 

Cerita berlanjut dengan penyelamatan Cossette yang mengharukan dari keluarga Thenardier yang memeliharanya selayak budak, dan penceritaan tokoh-tokoh lain seperti Marius dan kakeknya, serta kelompok generasi pemuda pendukung revolusi.

Hugo menjalin cerita sedemikina rupa, bagaimana satu tokoh berhubungan dengan tokoh lainnya, suatu masa dengan masa lainnya, atau suatu perbuatan dengan perbuatan lainnya.  Dalam penuturannya, Hugo banyak menyiratkan bahwa berbuat baik adalah masalah memurnikan jiwa dan bahwa Tuhan bekerja terus menerus menolong diri kita melalui media apa pun, apakah melalui orang-orang yang pernah kita tolong, seperti dalam penceritaan mengenai Monsieur Fauchelevent:”Sekarang giliranku”. Lalu ia menambahkan kedalam hati nuraninya, ”Monsieur Madeleine tidak menimbang sedemikian lama ketika menjepitkan dirinya sendiri di bawah kereta untuk menarik tubuhku keluar”. Ia memutuskan bahwa ia akan menyelamatkan Monsieur Madeleine. – hal 230-231, 

Ataupun melalui orang-orang yang kita pandang jahat. Bahkan, pertolongan Tuhan dapat datang melalui orang yang paling jahat sekalipun:Tuhan muncul dalam penyamaran mengerikan dan malaikat penolong keluar dari tanah dalam bentuk seorang Thenardier. – hal 599 

Seperti yang ditulis Hugo sendiri:Buku ini dari awal hingga akhir, dalam keseluruhan dan detilnya, apakah itu selingan, sanggahan atau kegagalan, merupakan pergerakan dari sifat jahat ke baik, dari ketidakadilan menjadi keadilan, dari salah ke benar, dari malam ke siang, dari hawa nafsu menuju hati nurani, dari kebusukan menuju kehidupan, dari kekejaman ke kewajiban, dari neraka ke surga, dari ketiadaan menuju Tuhan. Titik awalnya: materi, tujuannya: jiwa. Hydra pada awalnya, malaikat pada akhirnya. – Hal 576. Jean Valjean mengajarkan kita tentang memaafkan, bahkan kepada yang paling jahat sekalipun, dan bahkan jika kita memiliki kesempatan untuk ”menghabisi” lawan kita. Seorang narapidana yang mengajarkan kita untuk ”kembali menjadi manusia”.  

Hidup Jean Valjean mungkin tampak tidak sempurna, namun menurut saya ia telah menjalani hidupnya dengan sangat penuh, sepenuh-penuhnya mengemban tugas yang diberikan Tuhan atas dirinya, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Seperti yang dikatakan oleh Jean Valjean:Mati bukanlah soal; yang mengerikan adalah tidak hidup”. – hal 685.  Buku ini mempesona saya dengan intensitasnya, yang membuat saya terus membalik halaman demi halaman hingga menjelang akhir. Mungkin buku ini hanyalah mengujarkan suatu cerita, namun seringkali dalam perjalannannya hati nurani kita terusik, pertanyaan sederhana menguak sulit terjawab, dan tokoh-tokohnya terus hidup bahkan sampai lama setelah saya selesai membacanya. Ketika usai membacanya, saya merindukan mengalami kembali seluruh perjalanan Jean Valjean, ketika ia mulai berjalan dengan pakaiannya yang kumuh mencari penginapan, dan seterusnya, dan seterusnya… 

Mengingat intensitas cerita yang dihadirkan, dengan segala substansi dan kapasitas karakter dan emosi yang disajikan, saya menduga karya ini termasuk yang sulit diterjemahkan. Walau demikian, menurut saya, Anton Kurnia, sang penerjemah, telah berhasil menerjemahkan karya maestro ini dengan cukup baik dan mampu menyampaikan pesan dan suasana emosi yang ingin disampaikan.  

Les Miserables pertama kali diterbitkan pada tahun 1862 dan merupakan salah satu dari novel terbaik dan paling terkenal dari Hugo. Novel lainnya yang juga sangat terkenal adalah Notre Dame de Paris atau Hunchback of Notre Dame yang terbit pada tahun 1831. Les Miserables pertama kali diterbitkan dalam 10 jilid di Belgia dan Perancis secara bersamaan dan meraih sukses luar biasa. Mulai tahun 1892, novel ini diterbitkan dalam 9 bahasa  yang berbeda secara simultan. Di Amerika Serikat, Les Miserables memukau khalayak walaupun saat itu tengah berkecamuk perang saudara.   

Victor Hugo (lahir 22 Februari 1802 dan meninggal pada 22 Mei 1885) adalah penggerak aliran Romantik di Perancis dan dipandang sebagai yang paling berpengaruh dalam aliran ini. Selain menulis novel, Hugo juga menulis puisi, drama, dan esai. Ia juga melukis dan aktif dalam politik terutama yang bersinggungan dengan masalah hak asasi manusia. Hugo termasuk sastrawan besar dalam sejarah kesusastraan Perancis dan hingga kini namanya masih sering diangkat dan karyanya sering dikutip. Hugo dibesarkan secara Katolik, namun belakangan ia mengklaim dirinya sebagai Freethinker, dan mengkritik gereja Katolik dalam hal ketidakpeduliannya akan lapisan masyarakat kelas bawah saat itu. Walaupun demikian, ia tetap seorang religius yang sangat percaya akan kekuatan doa, dan ini memang sangat tercermin dalam karyanya. 

Cirendeu, 23 Feb 2007, 12.48 pm.