Best Books 2013

Haloo..

Setelah sekian lama absen dari blogging dan blog ini ‘nganggur’ berbulan-bulan, kini saya kembali lagi.. Saya awali dengan membagi cerita tentang buku terbaik yang saya baca di tahun 2013.

cat in the window - karya Jean-Jacques Sempé
cat in the window – karya Jean-Jacques Sempé

Kegiatan membaca sebenarnya tetap berjalan seperti biasa, malah saya sempat ‘mencicipi’ genre yang saya jarang sentuh dan membaca beberapa buku dari pengarang yang kali itu karyanya pertama kali saya baca. Melepaskan diri dari beberapa ‘rencana baca’ dan membiarkan diri mengalir mengikut ‘mood baca’ (dalam arti membaca apa dan kapan), ternyata membawa saya pada penemuan-penemuan menarik. Ibarat melakukan sebuah perjalanan, melakukan pengembaraan atau flâner membuat kita mengobservasi dan menyerap lebih banyak hal sepanjang perjalanan itu, dibanding melakukan perjalanan yang berfokus pada destinasi. Rencana baca semula memang jadi agak porak poranda, namun kenikmatan membaca ternyata lebih saya rasakan. Karena tidak memperdulikan target baca, saya jadi lebih ‘bebas’, menemukan banyak hal kecil yang biasanya saya lewatkan, dan banyak bagian  buku saya temukan begitu ‘memorable’. Saya juga membaca lebih tanpa ekspektasi tertentu, saya ingin menemukan buku itu apa adanya, dan berkenalan dengan apa yang sebenarnya penulis ingin sampaikan melalui karyanya itu. Sejumlah buku-buku itu akhirnya menjadi buku yang saya golongkan sebagai buku terbaik 2013. Berikut ulasan singkatnya.

la gloire de mon pere1. La Gloire de Mon Père – Marcel Pagnol. The Glory of my Father. Sebuah novel autobiografis dari penulis, playwright dan cinematographer Perancis. Tentang kehidupan masa kanak-kanak penulis, saat papa, maman dan keluarga terdekat adalah dunia terintim si tokoh. Di musim panas, seperti biasa, mereka pergi berlibur ke pedesaan Provence, menginap di sebuah villa tua. Marcel kecil sangat ingin ikut pergi berburu burung bersama papa dan pamannya, namun tentu saja tidak diperbolehkan. Dengan suatu cara akhirnya ia berhasil mengikuti kedua orang dewasa itu pergi ke hutan, yang akhirnya membuatnya mengalami petualangan mendebarkan, pengenalan pada alam dan dirinya sendiri. Ditulis dengan bahasa yang sophisticated, menghadirkan alam Provence Perancis yang khas saat musim panas, kehangatan keluarga ‘jaman dulu’ yang begitu sederhana. Menyentuh sekaligus komikal. Terbit pertama kali tahun 1957. Ilustrasi keren oleh Sempé .

lAmant2. L’Amant – Marguerite Duras. The Lover. Tentang kenangan kehidupan seorang gadis remaja Perancis di Saigon, di masa sisa-sisa pendudukan Perancis di Vietnam. Si tokoh lalu memiliki seorang ‘kekasih’, seorang pria Vietnam, yang dengannya hubungan mereka berjalan dengan tidak banyak kata-kata, mengalir begitu saja, tanpa bentuk, namun sangat membekas bagi keduanya. Tema cerita lebih pada perasaan keterasingan. Ditulis dalam bahasa yang sederhana, membacanya seperti sedang mendengarkan kisah kenangan yang disampaikan penulis, tidak terlalu berstruktur, maju-mundur di masa sekarang dan masa lalu, tidak melulu berada dalam plot tertentu, tapi lebih pada eksplorasi pikiran dan perasaan si tokoh. Saya membaca kisah ini tanpa terlalu memperdulikan ada atau tidak plot, saya ikuti saja kemana pengisahan itu berjalan, menikmatinya, dan membuat saya jadi merasa demikian intim dengan pikiran dan perasaan sang tokoh. Akhir kisah sangat membekas. Beautiful and profound. L’Amant memenangkan le prix Goncourt tahun 1984.

Anna Karenina, Leo Tolstoy, Penguin Classics, 2003, translated by Richard Pevear and Larissa Volokhonsky

3. Anna Karenina – Leo Tolstoy. Membaca versi lengkapnya membuat saya mengerti mengapa buku ini begitu banyak dibicarakan dan bahkan dianggap sebagai the best novel ever written oleh sebagian kalangan. Anna Karenina ternyata berbeda dari anggapan saya sebelumnya tentang buku karya Tolstoy ini. Anna sendiri, walau dijadikan judul, tidak menjadi tokoh paling utama di kisah ini, bahkan tidak menjadi tokoh protagonis. Ia bukan heroine, malah mewakili suatu tokoh yang penuh kegagalan dan self-destruction, walaupun dalam banyak sisi hidupnya dilimpahi kemudahan dan keberuntungan. Tokoh ‘sampingan’ yang justru menjadi focal point dari buku ini, dimana banyak kritik mengatakan bahwa tokoh ini merupakan self-portrait dari Tolstoy sendiri, adalah tokoh Levin, yang berasal dari latar belakang yang begitu berbeda dari Anna dan sepanjang tahap hidupnya berjuang mencari makna hidup. Buku ini, buat saya, secara sederhana menyodorkan pertanyaan: “What does it take to be truly happy?”. Saya rekomendasikan untuk membaca versi lengkapnya, supaya kita tidak hanya berkutat pada kisah ‘romance’ Anna, tetapi juga tokoh-tokoh lain dan pendalaman situasi sekitar yang begitu kaya digambarkan. Buku terbitan Penguin Classics ini diterjemahkan dari bahasa Rusia ke bahasa Inggris dengan sangat baik oleh Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky, dua penerjemah yang memenangkan award khusus untuk penerjemahan sastra Rusia ke Bahasa Inggris.

dog stories4. Dog Stories – James Herriot. Saya sangat mudah jatuh hati pada kisah-kisah yang berhubungan dengan anjing. Dan disini, James Herriot kembali menunjukkan kepekaannya dalam mengobservasi kejadian dan perasaan dan menuangkannya dalam tulisan, sehingga kisah-kisah ini menjadi kisah yang begitu membekas. Buku ini berisi berbagai kisah pengalaman sang dokter hewan dari daerah pedesaan Yorkshire yang permai ini, berkaitan dengan penanganan anjing yang menjadi pasiennya, maupun pasien jenis lain dimana seekor anjing menyertai perjalanan pasien itu. Dalam tulisan Herriot, anjing-anjing ini jadi begitu ‘manusiawi’.

all that is gone5.  All That is Gone – Pramoedya Ananta Toer. Adalah buku kumpulan cerita pendek, yang diambil dari dua buku kumpulan cerita pendek Cerita dari Blora (terbit 1952) dan Subuh (1951). Pram disini menghadirkan cerita-cerita semi-autobiografis dengan muatan emosi yang kuat, twist yang kadang tidak terduga, dan elemen kenangan yang kental. Beberapa dari cerita itu begitu membuka mata saya akan situasi pasca kemerdekaan, terutama pada kehidupan ‘orang-orang biasa’ yang kehidupannya terpengaruh oleh masa revolusi itu. Pram disini membuktikan kepiawaiannya dalam menghadirkan cerita dengan karakter yang kuat dan plot yang penuh dalam ruang sempit bernama cerita pendek. Lebih jauh tentang All That is Gone bisa dibaca di sini.

rahasia selma6. Rahasia Selma – Linda Christanty. Buku ini adalah pengalaman pertama saya membaca karya Linda Christanty. Cerita-cerita Linda berlatar cukup sederhana dan sehari-hari, namun di akhir cerita selalu menghadirkan sesuatu yang begitu tak terduga yang kadang memporak-porandakan pemahaman awal kita tentang cerita itu, yang ternyata bisa bermakna dalam dan historis. Sama seperti Pram, saya begitu kagum pada keahlian Linda dalam menghadirkan karakter yang kuat dan cerita yang begitu membekas dalam ruang pendek bernama cerpen. Buku tipis ini membuat saya ingin membaca karya-karya Linda lainnya.

ring of fire7. Ring of Fire, an Indonesian Odyssey – Lawrence Blair dan Lorne Blair. Buku ini adalah memoar dan catatan perjalanan dari kakak beradik Blair yang mengarungi lautan dan menjelajah beberapa pulau di Indonesia dalam rangka membuat film dokumenter, di awal tahun 70-an. Sarat dengan komentar dan analisis mengenai kondisi lingkungan, biologis, maupun elemen antropologis, buku ini menjadi begitu kaya dan mengasyikkan dibaca. Belum lagi tempat-tempat yang dijelajahi Blair adalah laut dan pedalaman pulau yang jauh dan ‘terasing’, yang oleh kebanyakan orang Indonesia saat ini pun masih belum banyak terjelajahi, seperti kepulauan rempah Maluku, pedalaman Papua, perairan Komodo, laut Aru, dan beberapa tempat lainnya. Blair menulisnya dengan bahasa yang demikian mengalir, serius dan penuh analisa di beberapa aspek, namun selalu penuh humor khas orang Inggris. Buku ini saya beli tahun 2012 silam saat Lawrence Blair hadir di acara Ubud Writers & Readers Festival, dimana ia memutarkan dan mengulas salah satu film dokumenternya tentang pelayarannya menjelajah laut Aru. Indonesia is definitely dangerously beautiful!

hunger8. Hunger – Knut Hamsun. Ya, buku ini mengisahkan tentang lapar, dan bagaimana kondisi fisik berupa perasaan lapar (dan kelaparan) itu begitu mempengaruhi kondisi mental seseorang. Knut menuliskan novel ini sebagai bentuk reaksi atas ‘kekecewaannya’ pada sebagian besar novel kontemporer pada jamannya yang menurutnya terlalu stereotip dalam plot dan miskin dalam karakter. Maka hadirlah ‘Hunger’, yang memang tidak terlalu mengandalkan plot, namun lebih pada eksplorasi ‘interior landscape’ – perasaan, pikiran, harapan, kekecewaan, dunia batin, si tokoh. Si tokoh adalah seorang penulis yang sedang berjuang meraih sukses dengan mengandalkan karyanya, yang imaginasinya menjadi demikian tergerus oleh kondisi lapar berkepanjangan yang ia alami. Novel ini cukup depresif, namun juga membawa hal-hal tak terduga di beberapa bagian akhirnya, dan di penghujung cerita menyajikan suatu ironi yang divisualisasikan dengan ‘indah’. Beautifully tragic. Buku ini membuat saya ingin membaca karya Knut Hamsun lainnya, yaitu Growth of the Soil.

nawung9. Nawung – Galuh Larasati. Ini mungkin termasuk buku “underrated”, dimana tidak banyak orang tahu mengenai keberadaan buku ini, tenggelam dalam hiruk pikuk buku-buku lain, bahkan keberadaannya di toko-toko buku saya lihat sering terpinggirkan. Padahal, buku ini menurut saya menyajikan kualitas penulisan yang prima dengan bahasa yang sangat rapi namun mengalir, dan isi yang sangat baik. Melalui buku Nawung ini,  seorang sastrawati baru saja lahir. Ya, buku ini adalah buku pertama Galuh Larasati, mengisahkan tentang seorang anak perempuan bernama Nawung dan perjalanan hidupnya hingga dewasa yang penuh dengan lika-liku kebahagiaan, kesedihan, kebangkitan dan keterpurukan, serta harapan. Yang membuatnya berbeda adalah buku ini sarat dengan nilai-nilai luhur tradisional (tanah Jawa) yang demikian dalam dan universal, yang sering kita lupakan atau remehkan. Setiap paragrafnya menghadirkan potret dan renungan yang sederhana namun membekas. Salah satu ‘wejangan’ yang saya dapat dan yang paling berkesan buat saya adalah tentang memohon sesuatu yang sederhana dan secukupnya dari Tuhan, dan ketika berkah itu telah benar-benar dihadirkan di depan kita, hendaknya kita memeliharanya dengan baik.

the jungle school10.  The Jungle School – Butet Manurung. Sokola Rimba. Buku ini adalah sebuah diari, atau jurnal, dari seorang Butet Manurung, yang bekerja sebagai pendidik di pedalaman hutan Jambi. Dimulai dari masa-masa awal penugasannya sebagai education facilitator bersama organisasi WARSI, hingga didirikannya Sokola Rimba, sekolah khusus untuk anak-anak suku asli di hutan Jambi. Tulisannya sederhana, namun tajam dalam observasi dan reflektif dalam analisanya. Banyak insight yang saya dapat dari membaca diari ini, bukan melulu mengenai kehidupan suku terasing, tapi lebih pada sikap Butet yang penuh pikiran terbuka dan rendah hati dalam menghadapi orang yang ditemui. Ia tidak mengasumsikan bahwa cara modern adalah pasti lebih baik dan lalu membuat misi menerapkan cara baru itu pada mereka yang dicap sebagai ‘terbelakang’ ini, namun semua diawali dari upaya mengenali kelompok masyarakat itu lebih dalam, dan siapa bilang cara kita sudah pasti lebih baik untuk mereka? Menghargai perbedaan dan kemajemukan. Merambah pola pikir yang berbeda. Pada akhirnya sebenarnya tidaklah terlalu jelas siapa belajar dari siapa. Inspiratif dan sangat membuka wawasan. Butet Manurung hadir dalam Ubud Writers & readers Festival 2012, dan memperkenalkan buku The Jungle School ini ke kalangan nasional dan internasional yang hadir. Versi Bahasa Indonesia hadir setahun kemudian dengan judul Sokola Rimba, terbitan Penerbit Buku Kompas.

100 tahun kesunyian11. One Hundred Years of Solitude – Gabriel Garcia Marquez. Seratus Tahun Kesunyian. Bersama buku ini saya menelusuri kehidupan Jose Arcadio Buendia, yang bersama kelompok kecilnya membangun sebuah desa di tengah hutan di Columbia. Cerita  bergulir dengan banyak tokoh dalam beberapa generasi, dalam banyak kejadian, dalam bentuk sejarah yang berulang. Banyak yang mengatakan bahwa novel ini mencerminkan perjalanan sejarah Columbia sendiri, tapi jika pun kita tidak ingin mengaitkannya atau memperdulikannya dengan unsur politik, kisah ini bisa sangat mewakili perjalanan kehidupan manusia secara mikro maupun makro, dengan segala kejatuhan dan kejayaannya, yang ujung-ujungnya mengembalikan semuanya ke ‘titik nol’. Unsur magical realisme-nya menurut saya tidak terlalu kental dan pas saja (saya pribadi merasa jauh lebih sulit memahami kisah fantasi), dan perpaduan unsur realis dan surealis itu, ditambah tokoh dan kejadian yang begitu kaya, membius saya masuk ke alam fisik dan pikiran keluarga Buendia, sehingga saat menutup buku ini di akhir cerita, saya seakan membutuhkan waktu untuk ‘kembali ke realitas’.

mencari emas12. Mencari Emas – Jean-Marie Gustave Le Clézio. Buku ini menarik perhatian saya karena nama Jean-Marie Gustave Le Clézio. Salah satu karya lainnya, L’Africain, sempat saya baca walau tidak selesai, dan saya sangat menyukai gaya penulisannya yang liris dan penuh nuansa kenangan. Buku ini menceritakan tentang Alexis dan keluarganya yang tinggal di Pulau Mauritius. Saat ayahnya mengalami kebangkrutan, Alexis mempunyai mimpi untuk menemukan emas yang ia percaya dikuburkan seorang bajak laut di suatu pulau lain, dan dimulailah perjalanan itu. Seorang pembaca mengatakan bahwa buku ini layaknya sebuah surat cinta Clézio pada laut, dimana penggambaran mengenai laut dibuat demikian hidup dan indah. Saya pun saat membacanya seakan ikut mendengar desir angin laut, melihat warna biru gelap laut terpampang di depan mata, merasakan pasir yang menempel di kulit yang basah, dan meresapi kesunyian yang dihadirkan malam di atas laut. Mungkin gaya penulisannya yang liris turut membawa kita hanyut ke alam cerita. Kisah ini seluruhnya merupakan narasi dari Alexis, dengan sedikit dialog. Bagian kisah dimana Alexis mulai berteman dengan Ouma, seorang gadis suku Manaf, penduduk asli di sana, merupakan bagian indah favorit saya. JMG Le Clézio adalah pemenang nobel kesusastraan pada tahun 2008.

Demikianlah, 12 buku terbaik dari sekian buku yang saya baca sepanjang tahun 2013. Tahun 2014, saya harap saya juga akan menemukan banyak buku bagus yang saya nikmati proses membacanya.

Mei

All That Is Gone – Pramoedya Ananta Toer

All That is Gone, Pramoedya A. Toer, Penguin Books, 2005, English, Terj. Willem Samuels, 255 hlm.
All That is Gone, Pramoedya A. Toer, Penguin Books, 2005, English, Terj. Willem Samuels, 255 hlm.

Saya merasa sangat beruntung berkesempatan membaca karya Pram yang satu ini, All That is Gone. Buku yang versi aslinya sudah tidak terbit lagi di Indonesia ini berisi tulisan cerita karya Pram yang begitu tajam memotret manusia dengan kondisi emosi dan sosialnya di sekitar masa akhir penjajahan. All That is Gone (terbitan Penguin Books tahun 2005) adalah kumpulan cerita pendek karya Pramoedya Ananta Toer, yang diterjemahkan dari dua buku kumpulan cerita pendeknya, Cerita dari Blora (terbit 1952, dilarang beredar pada tahun 1976), dan Subuh, (1951).

Walau pelarangan beredarnya buku-buku Pram sudah dicabut, namun buku-buku Pram masih sulit dicari, dan bahkan untuk beberapa karya terdahulunya sudah hilang dari peredaran. Saya pun jadi harus mencarinya melalui penerbit luar negeri. Meski Pram sudah dibebaskan sejak tahun 1979, stigma yang melekat pada dirinya (dan karyanya) masih kental. Orang membicarakan Pram lebih karena kesejarahan personalnya sebagai bekas tahanan politik, dan bukan karya-karyanya. Bahkan, suatu fakta yang menyedihkan, hingga kini nama Pram tidak masuk dalam nama-nama sastrawan Indonesia yang dipelajari di pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah. Sepertinya, label “tahanan politik atau tapol” masih membawa ketakutan tertentu, dan kita masih lebih melihat ‘orang’, daripada ‘karya’.

Pengalaman saya membaca karya-karya Pram, saya justru menemukan bahwa karya-karya itu memiliki sedemikian kedalaman makna maupun kualitas literasi, yang memicu pembaca untuk berpikir lebih kritis atas situasi di sekelilingnya, yang menumbuhkan kecintaan pada akar diri sendiri – kecintaan yang bernalar dan tidak membabi buta juga, menelaah kebaikan dan keburukan yang seringkali ada bersamaan, membuat kita melihat sisi kemanusiaan yang lebih sejati, yang tidak sekedar dibungkus oleh suatu kebangsaan atau teriakan nasionalisme tertentu.

Suatu ironi bahwa karya Pram dihargai justru oleh dunia luar, diterjemahkan ke lebih dari tiga puluh bahasa asing, diterbitkan oleh penerbit-penerbit kualitas dunia (Penguin Books dan penerbit universitas-universitas utama di Amerika adalah beberapa contohnya), dan diakui dalam beberapa penghargaan sastra tingkat internasional. Pram, hingga kini, adalah satu-satunya sastrawan Indonesia yang masuk dalam nominasi Nobel untuk literatur. Karya Pram merupakan bacaan di sekolah-sekolah internasional di dalam dan luar negeri, pun di universitas-universitas negara tetangga, dan karya lengkapnya menjadi bagian dari koleksi perpustakaan di negara lain. Namun di negerinya sendiri, karya-karya Pram sulit dicari, dan begitu sedikit dibaca. Bagi Pram, mungkin ia tidak membutuhkan segala penghargaan internasional itu, karena ia menulis lebih ditujukan untuk bangsa dan rakyat Indonesia, seperti yang tersirat dalam pengakuannya dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (The Mute’s Soliloquy, Penguin Books, 1999). Yang Pram butuhkan adalah kita, bangsa Indonesia, membaca karyanya, mengkritisi apa yang ditulisnya, dan akhirnya menumbuhkan sikap yang mandiri dan penuh harga diri atas kemanusiaan.

Kembali pada All That is Gone, buku kumpulan cerita ini terdiri atas 8 cerita pendek, dimana 7 diantaranya diambil dari Cerita dari Blora, dan 1 dari Subuh. All That is Gone dipandang mengandung cerita-cerita yang bersifat semi-autobiografis (Blora adalah kota kelahiran dan masa kecil Pram). Si tokoh tidak selalu berupa individu yang sama, personifikasinya dimulai dari si tokoh yang masih kecil dan hidup dalam lingkungan keluarga terdekatnya, hingga beranjak ke tokoh yang lebih dewasa di cerita-cerita berikutnya. Latar belakang adalah kota kecil Blora dengan penggambaran alam, kondisi sosial dan kejadian-kejadian, dalam konteks akhir masa kolonial, bergerak ke masa pendudukan Jepang, dan masa sesudahnya. Nuansa emosi yang dihadirkan pun ikut berubah sejalan dengan perpindahan cerita dan perubahan si tokoh, dari dunia masa kecil yang hangat dalam dekapan ibu dan bapak, berangsur menjadi kelam sejalan dengan nalar si anak yang sudah mulai bisa memahami realitas (dan ironi) yang terjadi di sekitarnya. Semakin ke belakang, tone cerita menjadi semakin getir, gelap, penuh ironi kemanusiaan. Kita dibuat lupa bahwa kita sedang membaca sebuah kumpulan cerita, dan bukan sebuah novel panjang.

Setelah membaca semua cerita itu, saya seakan melihat suatu panorama emosional, sosial-budaya dan politis dari sudut pandang kehidupan sehari-hari di sekitar akhir jaman kolonial dan masa-masa awal kemerdekaan. Panorama itu lebih berwarna kelam, sendu oleh ironi, dan hal ini dengan sangat baik tergambar pada covernya (seekor angsa yang tampak megap-megap seperti mempertahankan hidup, menitikkan air mata). Untuk semua cerita itu, Pram memang membuktikan sebagai pencerita yang ulung, sangat realistis sekaligus menyentuh. Realistis, karena penggambarannya yang tidak berlebihan dan “hidup” serta sangat kental dengan kejadian-kejadian sejarah. Menyentuh, karena Pram memotretnya secara ‘mikroskopik’, melalui kehidupan sehari-hari tokoh-tokohnya yang merupakan orang-orang sederhana yang menghadapi kejadian-kejadian itu, membawa kita masuk ke alam pikiran dan perasaan mereka yang mengalaminya. Dari sini kita jadi belajar sejarah, dalam arti melihat sejarah dari sisi yang berbeda dari yang sering kita temukan dalam buku teks sejarah yang mengutamakan fakta kronologis, namun juga belajar dari sejarah, melalui perenungan dan refleksi kemanusiaan yang dihadirkan melalui cerita-cerita itu.

Berikut kedelapan cerita dalam buku ini:

Pada cerita All That is Gone, kenangan masa-masa awal hidup sang tokoh menjadi tema utama, saat kehidupan masih sangat sederhana dalam dunia kecil yang terdiri atas ibu, bapak dan lingkungan rumah. Sejalan dengan waktu, melalui mata kanaknya, sang tokoh mulai melihat realitas yang menguak di hadapannya. Air mata ibu, kebohongan bapak, kesedihan, pertanyaan-pertanyaan, pemahaman, dan akhirnya penerimaan.

“You can do whatever you want with the things you justly earn, even your own life and your own body. Everything.” my father once told me, everything you justly earn.”

How long does it take to speak a sentence? The sound of his voice was but for a few moments. A momentary tremble of sound waves, and then it was gone, not to be repeated. Yet, like the Lusi that constantly skirts the city of Blora, like the waters of that river, the remembered sound of that voice, coursing through memory, will continue to flow – forever, toward its estuary and the boundless sea. And not one person knows when the sea will be dry and lose its tide.

But all that is gone, gone from the grasp of the senses. – hlm. 30

Cerita Inem mengisahkan tokoh Inem kecil sebagai pembantu dan teman bermain si tokoh utama yang juga masih kecil. Pola pandang budaya yang masih demikian sempit menjadikan nasib Inem begitu tragis. Ironisnya, figur yang bisa membantunya justru memilih untuk tidak melakukan apa-apa, semua demi menjaga ‘kelayakan’ dan nama baik keluarga. What a shame!

Pada In Twilight Born, sang tokoh sudah beranjak remaja. Diceritakan dalam lingkungan rumahnya ada beberapa anak angkat yang tinggal bersama dan bersekolah. Salah satunya bersikap sangat vokal dalam menyuarakan pendapatnya, terutama mengenai idealisme politik dan sosial. Sang Bapak juga aktif di luar rumah dalam organisasi sosial. Sang tokoh sangat kagum pada mereka berdua, dan sering mengimitasikan apa yang dikatakan mereka walau tidak memahami benar apa maksudnya. Suatu ketika situasi sosial politik berubah, yang berakibat keluarga sang tokoh mengalami kesulitan ekonomi. Dalam kondisi sulit seperti ini, kakak yang diidolakan dan Bapak justru sering pergi meninggalkan rumah dengan dalih menenangkan diri, pergi ke kota lain atau bermain judi untuk menghilangkan tekanan pikiran. Tinggal sang Ibu yang berjuang dari hari ke hari menyambung hidup rumah tangga. Hingga pada suatu senja, sang Ibu, dengan ditemani seorang bidan, berjuang sendiri melahirkan anak kesekian, dengan sang tokoh yang menunggu ketakutan di balik pintu.

Circumcision menceritakan tentang harapan sederhana seorang bocah yang harus pupus oleh kesadaran bahwa untuk mencapainya ternyata diperlukan biaya atau kekayaan yang besar, dimana kondisi itu jauh dari kenyataan hidupnya. Ironisnya, harapan di kepala sang bocah itu sebenarnya pun tidak ‘tepat’, karena lebih merupakan harapan sosial yang memperkarakan status religiositas individu lain. Tema ini diangkat melalui mata bocah sang tokoh.

Pada Revenge, sang tokoh yang sudah mulai dewasa di masa-masa awal kemerdekaan berpikir bahwa menjadi tentara ada cita-citanya, seperti semua pemuda di lingkungannya pada masa itu. Namun serangkaian kejadian yang dialaminya saat ia pertama kali terjun dalam perjalanan tugasnya, saat kelompok tentara itu menangkap seseorang yang dianggap sebagai mata-mata, membuatnya sadar bahwa menjadi tentara bukanlah panggilan hidupnya.

The pilgrim’s body kept being dragged on and on, but by now he was no longer human, much less a citizen of a free and democratic nation. Absolutely not! For the crowd that night, he was a wonderful plaything, no difference from a rubber ball for a cat or promises for this country’s former colonial masters.

In large office buildings far beyond the demarcation line, this act would be called facist behavior, a Nazi terror technique, or the legacy of the Japanese. In fact, it was pure stupidity, for which everyone present was to blame: the pilgrim, his judges, his executioners, and I myself. But maybe the worst thing about what happened is the pleasure that people took in playing judge. There is nothing more disastrous in life than a stupid judge. – hlm. 111

Cerita Independence Day mengisahkan tentang mantan tentara pejuang kemerdekaan bernama Kirno yang kembali ke rumah dalam kondisi cacad fisik, yaitu buta dan tanpa kaki. Duduk statis di kursi rodanya dan selalu berada dalam kegelapan, Kirno banyak melakukan refleksi atas apa yang dialaminya dan menemukan bahwa hidup membawa sejumlah paradoks, yang harus diterima. Dan, apa sebenarnya makna ‘kemerdekaan’?

Acceptance adalah cerita yang buat saya paling menyentuh dan paling membukakan mata. Pram membawa kita mengikuti kehidupan sebuah keluarga sederhana di masa kedatangan Jepang dan perang revolusi di awal kemerdekaan. Nasib keluarga ini seakan ikut terseret naik turunnya berbagai ideologi yang bergantian berkuasa di sepanjang masa itu, apakah itu nasionalis atau sosialis. Keberuntungan dan kemalangan bergantian menghampiri keluarga itu. Pertolongan dan malapetaka bisa datang dari pihak yang sama, pihak yang kita anggap baik maupun buruk. Semua begitu relatif. Lagi-lagi, semua hanyalah masalah kekuasaan dan menguasai orang lain. (Saya jadi teringat akan fabel Animal Farm dari George Orwell, yang dalam cerita ini menemukan bentuk konkretnya). Dan, nasib keluarga ini begitu tragis hingga Sri, dari sudut mana narator bercerita, menumbuhkan sikap ‘acceptance‘ lebih supaya bisa bertahan hidup dari keabsurdan yang dialaminya.

On this occasion, as had happened so many times before, Sri told herself to accept what had happened, that with acceptance everything would again be all right. – hlm. 210

The Rewards of Marriage adalah cerita tentang harapan dan kenyataan. Apa yang tadinya kita impikan ternyata begitu tercapai mengimplikasikan hal-hal yang kita ingin hindari.

Membaca cerita-cerita Pram kita dipaparkan akan begitu banyak paradoks dan ironi, bukan dari hal-hal yang besar, tapi justru dari serpihan kehidupan sehari-hari. Pada cerita-cerita itu, sangat terasa bahwa Pram tidak menggurui, apalagi menentukan pembaca harus bagaimana. Ia hanya menyajikan, memaparkan. Tinggal kita yang melihat, meresapi, dan berefleksi atasnya. Pikiran dan perasaan tokoh-tokoh itu adalah bagian dari pikiran dan perasaan kita juga, sebagai manusia. Buku ini pada akhirnya adalah tentang manusia. Konteks jaman kolonial dan kemerdekaan hanyalah sebuah latar belakang. Manusia, dari status apapun, dari jaman kapanpun dan di belahan bumi manapun, merasa bahagia oleh sebab yang sama, dan merasa sedih atau terluka oleh hal yang sama. Itulah inti sederhana dari humanity.

A literary gem.

*Membaca buku ini adalah bagian dari Membaca Sastra Indonesia 2013 – Klasik, dan Baca Bareng BBI bulan Februari dengan tema Buku Pram (memperingati ulang tahun beliau di bulan Februari ini).

Membaca Sastra Indonesia 2013

BBI_asli logo

A Child’s Garden of Verses – Robert Louis Stevenson

a child's garden of versesA Child’s Garden of Verses adalah buku puisi yang awalnya ditulis penulis Skotlandia, Robert Louis Stevenson, untuk anak-anaknya. Buku kumpulan sajak untuk anak ini pertama kali terbit pada tahun 1885, dan sejak itu menjadi buku anak klasik yang demikian dicintai karena siapapun yang membacanya akan merasa masuk ke dunia kanak yang begitu penuh imajinasi dan rasa takjub akan hal-hal sederhana. Apalagi, buku ini juga tampil dengan serangkaian goresan ilustrasi yang begitu indah.

Sajak-sajak yang ada dalam buku ini sangat sederhana karena ditujukan untuk anak-anak mulai usia 3 tahun, dimana umumnya sajak-sajak ini akan dibacakan oleh orang dewasa yang mengasuh si anak. Layaknya garden of verses, sebuah ‘taman kata-kata’, sajak-sajak itu hadir dalam bahasa yang indah dan selalu mempertahankan rima. Tema yang disajikan beragam, tentang alam, kebun, persahabatan, buku cerita, ajakan untuk berperilaku baik, dan lainnya, yang kesemuanya membersitkan rasa cinta dan pesan bahwa hidup ini begitu positif dan indah.

Berikut beberapa dari sajak-sajak favorit saya:

happy thought

Bed in Summer

In winter I get up at night
And dress by yellow candlelight.
In summer, quite the other way,
I have to go bed by day
 
I have to go bed and see
The birds still hopping on the tree,
Or hear the grown-up people’s feet
Still going past me in the street.
 
And does it not seem hard to you,
When all the sky is clear and blue,
And I should like so much to play,
To have to go to bed by day?

Picture Books in Winter

Summer fading, winter comes –
Frosty morning, tingling thumbs,
Window robins, winter rooks,
And the picture story-books.
 
Water now is turned to stone
Nurse and I can walk upon;
Still we find the flowing brooks
In the picture story-books.
 
All the pretty things put by,
Wait upon the children’s eye,
Sheep and shepherds, trees and crooks,
In the picture story-books.
 
We may see how all things are,
Seas and cities, near and far,
And the flying fairies’ looks,
In the picture story-books.
 
How am I to sing your praise,
Happy chimney-corner days,
Sitting safe in nursery nooks,
Reading picture story-books.

Whole Duty of Children

A child should always say what’s true
And speak when he is spoken to,
And behave mannerly at table – 
At least as far as he is able.
 
 

Happy Thought

The world is so full of a number of things,
I’m sure we should all be as happy as kings.
 

picture books in winter1Robert Louis Stevenson adalah juga penulis buku The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde, Treasure Island, Kidnapped, dan beberapa buku travel.

*membaca buku ini adalah bagian dari Fun Year Event With Children Literature, untuk Fun Month Jan/ Feb, kategori Classics.

Children Lit FYE-button

Wishful Wednesday [16] dan Rekap

wishful-wednesday1Pertama-tama, happy birthday ya buat Wishful Wednesday, blog meme seru dari blog Astrid. Kedua, terima kasih juga tentunya untuk kesempatan giveaway yang diadakan dalam rangka ulang tahun ini. Astrid, kamu memang baik banget!🙂

Selama setahun ini, ternyata saya ‘hanya’ sempat mengikuti 15 Wishful Wednesday, dan inilah rekapnya:

  1. Gadis Kretek — purchased; sudah dibaca sebagian, lalu berhenti karena kurang suka, mungkin akan membaca ulang di lain waktu
  2. The Belly of Paris — purchased
  3. Indonesia Timoer Tempo Doeloe — purchased; antologi yang sudah dibaca sebagian
  4. One Hundred Years of Solitude — purchased (beli bekas dari Melmarian)
  5. The Doll People — wishlist
  6. Extremely Loud and Incredibly Close — purchased, sudah dibaca separuh
  7. Bali Tempo Doeloe — purchased; sudah dibaca sebagian.
  8. Travels with a Donkey in the Cévennes and the Amateur Emigrant — purchased (dalam judul Travels of Robert Louis Stevenson yang memuat 2 cerita di atas, plus beberapa lagi)
  9. Shadow of a Bull — wishlist
  10. Three Men in a Boat, Three Men on a Bummel — purchased (menemukan 2 judul itu dalam 1 buku)
  11. A Tramp Abroad — purchased
  12. Arus Balik — wishlist
  13. Cloud Atlas — purchased
  14. Le Château de Ma Mère, Le Temps des Secrets, Le Temps des Amours — wishlist
  15. War and Peace, La’s Orchestra Saves the World, Reading Picture — wishlist

Dan, seumpama saya menang giveaway edisi anniversary ini, maka buku yang saya pilih, sesuai dengan kriterianya, adalah:

shadow of a bullShadow of a Bull ($5.69, The Book Depository)

Thanks again, Astrid, untuk blog meme yang menyenangkan ini! Now, let’s eat the birthday cake!🙂

cake from www.cakecentral.com
cake from http://www.cakecentral.com

Wishful Wednesday [15]

wishful-wednesday1Setelah 3 minggu tidak ber-Wishful Wednesday, hari Rabu ini saya ingin ber-wishful ria sekaligus 3 buku! (boleh kan, Astrid?🙂 )

war and peaceWar and Peace – Leo Nikolayevich Tolstoy

Setelah membaca Anna Karenina (unabridged) dan sangat menikmatinya, saya ingin membaca karya Tolstoy yang lain, yaitu War and Peace. Ada banyak edisi utk karya ini, tapi yang saya idamkan adalah buku di atas, yang diterjemahkan oleh pasangan penerjemah terkenal pemenang translation award khusus untuk penerjemahan Rusia-Inggris, yaitu Larissa Volokhonsky dan Richard Pevear. War and Peace adalah karya masif dengan 1000 lebih halaman, dan bahwa penerjemahan yang baik dari bahasa Rusia ke bahasa Inggris akan sangat mempengaruhi keasikan membacanya (walau penerjemah lainnya mungkin bagus juga). Buku Anna Karenina yang saya baca sebelumnya juga hasil karya mereka dan terbukti memang hadir dalam terjemahan yang sangat mengalir sekaligus tetap mempertahankan keindahan bahasa. Buku War and Peace ini mengisahkan tentang invasi Napoleon di Rusia pada tahun 1812, yang diceritakan melalui kehidupan 3 karakter utamanya, seorang rakyat sipil biasa, seorang serdadu, dan seorang perempuan bangsawan. Tolstoy mengajak pembaca mengikuti kehidupan tiga karakter utama tersebut dalam menghadapi masalah-masalah mereka seiring dengan masuknya tentara Napoleon ke kota mereka, dan bersama sejarah, karakter-karakter ini berkembang dan berubah menjadi tokoh-tokoh yang sedemikian sulit dilupakan. Dikatakan juga bahwa Tolstoy banyak memasukkan unsur sejarah dan pandangan pribadinya dalam bukunya ini, sehingga ia sendiri pun tidak sepenuhnya menanggap karyanya ini sebuah novel.

la's orchestra saves the worldLa’s Orchestra Saves the World – Alexander McCall Smith

La’s Orchestra Saves the World adalah stand-alone novel dari penulis No. 1 Ladies’ Detective Agency, Alexander McCall Smith. Kisah berlatar belakang Inggris saat Jerman sedang marak mengebom kota London, dan tentang tokoh utamanya yang mencoba bertahan hidup dalam situasi sulit tersebut. Apa yang ia lakukan ternyata justru sekaligus memberi arti bagi kehidupan orang-orang di sekitarnya. When Lavender, La to her friends, moves to the Suffolk countryside, it’s not just to escape the London Blitz but also to flee the wreckage of a disastrous marriage. But as she starts to become a part of the community, she detects a sense of isolation. Her deep love of music and her desire to bring people together inspire her to start an orchestra. Little did she know that through this orchestra she would not only give hope and courage to the people of the community, but also that she would meet a man, Feliks, a shy upright Pole, who would change her life forever. Kisah yang unik, dan heart-warming sepertinya.🙂

reading picturesReading Picture – Alberto Manguel

Buku ini sebuah buku non-fiksi karya penulis terkenal yang banyak mengulas tentang fenomen membaca (Reading). Kali ini ia membahas tentang Reading Pictures – what we think about when we look at art. Menarik banget, kan? Saat kita melihat suatu lukisan atau karya seni visual lainnya, dalam benak kita sebenarnya terjalin kalimat-kalimat atau cerita sebagai proses pemaknaan dari melihat lukisan atau karya seni visual tersebut. Tentu dalam bahasa yang akrab dengan benak kita, bukan bahasa yang biasa digunakan oleh para kritikus seni. Are there ways in which we can “read” the stories within paintings, monuments, buildings and sculptures? We say “every picture tells a story” – but does it? Taking a handful of extraordinary images – photographed, painted, built, sculpted – Alberto Manguel explores how each one attempts to tell a story that we, the viewer, must decipher or invent. Saya pribadi menganggap bahwa painting is a silent poetry, jadi dengan membaca buku ini sepertinya saya akan ‘berdiskusi’ lebih jauh mengenai hal itu bersama Alberto Manguel.🙂

Semoga wishlist saya yang berjibun ini bisa terpenuhi…🙂

Books on France 2013 Reading Challenge

books-on-franceThis year I’d like to be participating in Books on France 2013 Reading Challenge, hosted by words and peace. I love french literature, or books with setting in France, and this year I’d like to dwell into considerable amount of time reading more books of this kind of literature.

There are levels to choose in terms of how many books you want to read for this challenge, and I would take for Level 2, “beaucoup”, which means reading 6 books on France. Here is the list (a bit more than 6 books, as I have read 2 from my January reading):

  1. One of Emile Zola‘s books (I’ll decide later which to read)
  2. Les Misérables by Victor Hugo (I failed to finish reading the e-book last year, will restart and continue this year with the conventional paper book)
  3. The Last Day of A Condemned Man, also by Victor Hugo
  4. Sentimental Education by Gustave Flaubert
  5. La Gloire de Mon Père by Marcel Pagnol, a souvenir d’enfance, a genre that I love much. (Read)
  6. L’Amant by Marguerite Duras (Read)
  7. Printemps et Autres Saisons by J. M. G. Le Clézio
  8. Perhaps, Memoirs of A Dutiful Daughter by Simone de Beauvoir (I’ve long wanted to read her memoirs, but I also know that it needs a certain mood to read this kind of book, so I’ll see). Or, Travels with a Donkey in the Cévennes, by Robert Louis Stevenson, a travel memoir.

 

Wishful Wednesday [14]

wishful-wednesday1Wishful Wednesday adalah book meme dari blog Astrid. Ada 3 buku yang sedang jadi buku impian saya kali ini. Sedikit cerita dulu ya. Saya baru saja menyelesaikan membaca La Gloire de Mon Père karya Marcel Pagnol, sebuah souvenirs d’enfance, atau tulisan kenangan masa kecil dari si penulis (review menyusul). Ditulis dalam bentuk cerita layaknya novel, buku ini begitu membekas, membawa saya ke dunia kanak sang penulis dan keluarganya yang hangat, serta kehidupan mereka di kota kecil dan perbukitan di daerah Provence, Perancis Selatan. Nostalgik, lucu, haru, sekaligus seru dengan petualangan. Buku ini sebenarnya sudah saya beli beberapa tahun yang lalu, sebagai kenang-kenangan saat akan kembali ke tanah air, dan ternyata begitu sukses membawa saya kembali mengenang tanah Monsieur Pagnol itu!

Nah, jadi ketagihan. Marcel Pagnol membuat sebuah serial untuk tulisan kenangan masa kecilnya itu. Keseluruhannya ada 4 buku, dan kini saya mengidamkan 3 buku lanjutannya:

le chateau de ma mereLe Château de Ma Mère [The Castle of My Mother] (1958): Jika dalam buku pertama penulis lebih menceritakan masa-masa awal kehidupannya bersama keluarga sebagai orang-orang terdekat, di buku kedua ini Marcel mengenal persahabatan. Saat berlibur di pedesaan, Marcel kecil berkenalan dengan seorang anak petani, Lili des Bellons, yang kemudian menjadi sahabat karibnya, dan merupakan tokoh yang cukup sentral dari buku ini. Setelah kehangatan keluarga, kini Marcel menemukan indahnya pertemanan masa kanak.

le temps des secretsLe Temps des Secrets [The time of Secrets] (1960): Marcel kembali menjalani liburan di pedesaan bersama keluarganya, namun kali ini ada yang berbeda. Lili, teman Marcel, harus bekerja di ladang membantu ayahnya, dan Marcel lalu bertemu dengan Isabelle, seorang anak perempuan dari keluarga penulis yang eksentrik. Di sini Marcel muda melakukan sesuatu yang ‘mengkhianati’ persahabatannya dengan Lili, demi sebuah ilusi romantis yang baru ia temukan. Sedikit mengandung unsur ‘gelap’, namun tetap ‘komikal’.

le temps des amoursLe Temps des Amours [The Time of Loves] (1977): Marcel yang sudah agak besar mengalami kejadian-kejadian dengan orang-orang sekitarnya, termasuk kejadian lain di lingkungannya yang lebih luas, seperti wabah pes yang melanda Marseille, kotanya. Tokoh-tokoh dalam pertemanan maupun keluarga Marcel masih muncul. Di sini Marcel tumbuh lebih ‘dewasa’, dan keluarganya, keluarga tersayangnya, kini bukan lagi pusat dari eksistensinya.

Oh rasanya ingin melahap semua karya souvenirs d’enfance Pagnol ini. Dari buku pertama, saya melihat Pagnol menulisnya dalam bahasa yang sophisticated. Ilustrasi semua cover-nya pun hasil goresan tangan Sempé, ilustrator favorit saya. Maka, buku-buku ini wajib saya koleksi!🙂

Apa Wishful Wednesday-mu?😉