La Grande Borne – Sepenggal Perjalanan Hidup Dini

la-grande-borne_nh-dini.jpg

La Grande Borne

Novel

Pengarang: Nh. Dini

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2007

Bahasa: Indonesia

Halaman: 285

La Grande Borne menceritakan suatu episode kehidupan Nh. Dini ketika ia dan keluarganya pulang ke Perancis setelah sang suami menyelesaikan tugasnya menutup Konsulat di Danang, Vietnam Utara, pada akhir musim panas tahun 1970. Saat itu ia telah mempunyai 2 anak, Lintang yang besar dan adiknya, Padang, yang berusia balita. Seperti semua novel Nh. Dini, cerita yang disampaikan sangat terinspirasi oleh kehidupan pribadi sang pengarang sendiri, kalau tidak bisa dibilang menceritakan petikan episode kehidupannya sendiri. Pada La Grande Borne ini pun Nh. Dini masih menceritakan kehidupan keluarganya yang sedikit banyak berhubungan dengan kisah-kisah dalam episode hidupnya yang lain yang ada di buku-bukunya sebelumnya. Novel sebelumnya persisnya adalah ”Dari Fontenay ke Magallianes”, namun pembaca tidak akan terganggu dalam memahami La Grande Borne kalaupun belum membaca ”Dari Fontenay ke Magallianes”. Walau demikian, saya ragu apakah pembaca yang tidak pernah membaca karya Dini sama sekali akan bisa memahami keseluruhan konteks dalam novel ini, karena banyak sekali tokoh-tokoh yang tidak diutarakan kembali karakternya atau tempat-tempat yang tidak dielaborasi lebih jauh dalam buku ini namun ada dalam karya-karyanya yang lain. Namun saya juga yakin bahwa dengan cara penuturan yang seakan sang pengarang menceritakan sendiri kisah hidupnya di hadapan pembaca, pembaca akan tetap dapat menikmati novel ini.

Diceritakan bagaimana Dini dan keluarganya kembali ke Perancis, setelah sebelumnya mampir sejenak ke Jawa menengok keluarga. Dalam penempatan tugasnya kembali di Departemen Luar Negeri Perancis di Paris, Dini dan keluarga kembali mencari tempat tinggal, dan ditemukanlah suatu lokasi sedikit di luar Paris yang bernama La Grande Borne. La Grande Borne merupakan area perumahan dan apartemen yang masih relatif baru, dengan pohon-pohon yang baru ditanam dan belum begitu besar. Namun tempat itu merupakan lokasi yang nyaman untuk ditinggali, terutama bagi kehidupan anak-anak karena tenang, aman dan terdapat sekolah yang asri yang dikelola oleh suatu biara dimana Lintang dan Padang kemudian memperoleh pendidikan dasarnya. Dini dan keluarga tinggal di salah satu gedung apartemen di sana.

Pada episode kehidupannya ini, hubungan Dini dengan suaminya telah menjauh, dan makin memburuk dengan makin renggangnya komunikasi di antara mereka berdua. Hobi sang suami akan fotografi, terutama dengan objek bangunan purbakala, membuat sang suami sibuk dalam dunianya sendiri, bahkan kadang mengorbankan waktu, ruang, ataupun keputusan-keputusan yang berkaitan dengan keluarga. Sikapnya yang cenderung kasar dan otoriter, juga sangat perhitungan dalam keuangan, membuat suasana kadang menjadi tegang. Sementara itu, Dini juga selalu disibukkan dengan tugas-tugas rumah tangga yang tiada habisnya. Demi anak-anak, Dini berusaha meredam kemarahan dan kesedihannya atas “lelaki pilihanku sendiri itu”, demikian sebutan Dini akan suaminya. Mereka pun sebenarnya sudah bersepakat untuk sekedar cohabitation, yaitu mengelola hidup bersama tanpa hubungan fisik. Walau demikian, masa hidup di La Grande Borne tidak hanya diisi dengan ketegangan atau kesedihan. Ada banyak hal baik yang terjadi dalam hidup Dini, seperti adanya teman-teman baru yang tulus membantu dan baik hati, masuknya Miu, seekor kucing, dalam kehidupan mereka, Lintang dan Padang yang tumbuh dengan baik dan menjadi pribadi yang penuh pengertian, liburan musim panas di La Barka yang penuh cinta dengan sahabat-sahabat lamanya, dan tentu saja hubungan Dini dengan sang kapten, yang biasa dipanggil Dini sebagai “Kaptenku”.  Sang kapten adalah seorang kapten kapal yang berlayar antar benua, dan ia dan Dini selalu bertemu setiap saat sang kapten mendarat di Perancis. Tokoh Sang Kapten ini merupakan kelanjutan dari buku-buku Dini sebelumnya, yaitu “Dari Parangakik ke Kampuchea”, dimana Dini pertama kali bertemu dengan si Kapten pada perjalanan di atas kapal, dan juga “Dari Fonetenay ke Magallianes” yang juga banyak menceritakan kelanjutan hubungan mereka. Dengan sang kapten, Dini merasa dihargai dan setitik harapan masih tersisa di hati Dini, yaitu terwujudnya rencana mereka berdua dan anak-anak untuk meninggalkan kehidupan Dini yang bagai terpanggang api dengan “lelaki pilihanku sendiri itu” dan memulai lembaran baru dalam sejuknya kasih sayang dengan sang kapten.

Namun rencana yang telah matang dan tinggal dilaksanakan itu seperti melayang hilang ditiup angin. Pada kelanjutannya, tiada kabar dari sang kapten. Sia-sia Dini menanti datangnya surat ataupun telepon dari sang kapten. Sementara itu, penyakit fatal yang hampir merenggut nyawa menyerang Dini, dan dengan sikap dingin dan sangat perhitungan dalam hal keuangan sang suami, Dini berjuang melawan penyakitnya, dibantu dorongan semangat sahabat-sahabat barunya. Hari demi hari dijalani Dini tanpa semangat, bagaikan robot yang secara otomatis menjalankan tugas-tugasnya.

Dalam buku ini juga diceritakan saat-saat Dini merancang dan menulis novel-novelnya yang lain yang ia rencanakan akan dikirim ke Indonesia untuk diterbitkan. Setting novel ini yang berada pada awal tahun 70-an, memang bisa jadi merupakan saat-saat Dini menulis beberapa novel terkenalnya, seperti ”La Barka”, ”Pada Sebuah Kapal”, dan beberapa judul dalam Seri Cerita Kenangan. Walau mengungkap pandangan negatif terhadap suaminya, Dini tidak menyalahkan siapapun atas jalan hidup yang harus dilaluinya itu. Kesemuanya adalah suatu pilihan yang ia buat sendiri, seperti ungkapannya untuk sang suami, yaitu ”lelaki pilihanku sendiri itu”. Beberapa kali Dini juga selalu mengingat ajaran sederhana dari sang ibu nun jauh di kampungnya di Jawa, untuk selalu eling dan sabar dan tidak ikut berbuat kasar atas apapun perlakuan tidak menyenangkan yang diterima. Dalam perjalanan hidupnya selama di La Grande Borne, Dini juga berulang kali merasa sangat bersyukur atas kebaikan anak-anaknya yang telah berperan sebagai sumber yang menyembulkan percikan-percikan semangat guna meneruskan hidupnya. Saat ini La Grande Borne merupakan novel teranyar dari Nh. Dini. Akhir cerita dari novel ini bukanlah merupakan penutup yang final atas kisah hidupnya. Dan saya masih menyimpan banyak pertanyaan, apakah yang terjadi dalam hidup Dini selanjutnya, akankah ia akhirnya bertemu kembali dengan Sang Kapten, dan atas apapun yang akhirnya terjadi dalam hidupnya, bagaimanakah Dini menghadapi dan menyikapi segalanya? Saya sangat menantikan kehadiran buku Dini selanjutnya, dan sangat mengharapkan buku-buku selanjutnya memang akan ada. Membaca La Grande Borne serasa ikut berada dalam dunia fisik dan kultur Perancis, khususnya pada masa awal tahun 70-an. Beberapa sikap dan pandangan Eropa saat itu saya rasa masih bertahan hingga kini. Dengan kalimat-kalimat yang rapi dan alur yang luwes dan tenang, saya menikmati sepenggal hidup Dini yang dijalaninya di beberapa tempat di Perancis. Cirendeu, Jumat, 23 Feb 2007, 08.03 pm.

2 thoughts on “La Grande Borne – Sepenggal Perjalanan Hidup Dini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s