Les Miserables – Seberapa Besar Arti Memaafkan

hugo_les-miserables.jpg

Les Miserables

Novel

Pengarang: Victor Hugo

Penerbit: Bentang

Tahun terbit: 2006

Bahasa: Indonesia

Penerjemah: Anton Kurnia

Halaman: 692

 

 

Adalah seorang narapidana, Jean Valjean, yang baru melarikan diri dari 19 tahun masa penahanannya. Saat itu, menjadi seorang  narapidana berarti membawa cap buruk pada diri sepanjang masa. Setiap narapidana akan membawa KTP kuning sepanjang hidupnya yang menandakan dirinya adalah  penjahat, dan karenanya akan sulit sekali mendapatkan tempat yang layak di masyarakat.Jean Valjean sendiri masuk ke penjara karena mencuri sepotong roti dari suatu toko roti karena kelaparan. Menumpang pada keluarga kakaknya yang juga miskin dengan 7 anak yang harus dihidupinya tanpa suami, Jean Valjean yang tanpa pendidikan bekerja seadanya dan semampunya untuk membantu menyambung hidup.

 

Suatu hari ia tertangkap karena mencuri roti tersebut dan dihukum penjara beberapa tahun. Namun hukumannya bertambah beberapa tahun lagi karena ia berusaha melarikan diri. Dan bertambah lagi beberapa tahun karena berusaha kembali melarikan diri. Dan seterusnya sampai total hukumannya menjadi 19 tahun. Bukan hanya penjara, saat itu narapidaha juga harus bekerja paksa di sebuah kapal, dengan kaki terantai besi dan tanpa upah, bekerja kasar untuk ”membayar” perbuatannya. Berhasil keluar dari 19 tahun masa penahanannya, Jean Valjean membawa setumpuk dendam dan kemarahan kepada masyarakat.

 

Dengan latar belakang tokoh utama tersebut, Hugo mengalirkan ceritanya.  Diawali dengan berjalannya Jean Valjean sejak melarikan diri dari penjara, dengan baju kotor dan lusuh dan segumpal gembolan kumuh yang disandangnya, mencari-cari penginapan dan makanan. Walaupun ia memiliki uang untuk membayar, tidak ada satu pun penginapan yang mau menerimanya, sampai seseorang menyarankan untuk mengetuk pintu rumah seorang uskup di sana. Uskup Myriel merupakan seorang lelaki tua yang tulus dan dihormati di kota itu. Berbeda dengan semua orang lain, sang Uskup menerima Jean Valjean dengan tangan terbuka, bahkan memperlakukannya seperti orang terhormat lain, tanpa peduli dengan KTP si pengunjung. Hal ini membuat Jean Valjean terperangah. Selanjutnya ia bahkan tetap dibela oleh sang Uskup atas perbuatan pencurian yang ia lakukan di rumah Uskup tersebut. Hal tersebut membuat pikiran Jean Valjean terguncang dan lalu mempertanyakan arti berbuat baik dan memaafkan.

 

Les Miserables sendiri terdiri atas beberapa cerita yang sepertinya terpotong-potong, namun sebenarnya memiliki hubungan dalam tokoh-tokohnya, dan terutama benang merah dalam nilai moral yang ingin disampaikan. Cerita kemudian bergulir pada suatu tokoh bernama Fantine yang berjuang memberikan hidupnya demi kebaikan hidup anak perempuannya, Cossette. Stigma buruk yang melekat erat pada diri seorang perempuan yang memiliki anak tapi tidak bersuami, sangat menyulitkan hidup Fantine. Beruntunglah ia ditolong oleh walikota tempat ia tinggal, Monsieur Madeleine, yang agak tidak jelas asal-usulnya namun selalu menolong warganya tanpa peduli dari kelas mana mereka berasal.

 

Sementara itu, seorang polisi, Javert, dengan penciumannya yang tajam, telah lama mencurigai sang walikota sebagai seorang penjahat yang melarikan diri dan menyamar. Didasari dengan nilai moralnya yang kaku, Javert bertekad mencari bukti-bukti yang memperkuat dugaannya dan melakukan apapun untuk menangkap sang walikota.

 

Perjalanan buku ini selalu disisipi pertanyaan ”manakah yang akan saya pilih, berbuat baik dan jujur namun jalannya terlihat sangat sulit, atau menyelamatkan diri dengan mengambil jalan buruk yang sering tampak jauh lebih mudah?”.  Monsieur Madeleine pun harus berkutat keras dengan pertanyaan tersebut tatkala ia mengetahui ada seorang tua miskin bernama Champmathieu, yang dituduh pengadilan sebagai si Jean Valjean yang melarikan diri. Penyelesaian konflik-konflik yang dihadapi Madeleine dibuat sedemikian rupa sehingga pembaca berulang kali bertemu dengan pertanyaan utama di atas.

 

Cerita berlanjut dengan penyelamatan Cossette yang mengharukan dari keluarga Thenardier yang memeliharanya selayak budak, dan penceritaan tokoh-tokoh lain seperti Marius dan kakeknya, serta kelompok generasi pemuda pendukung revolusi.

Hugo menjalin cerita sedemikina rupa, bagaimana satu tokoh berhubungan dengan tokoh lainnya, suatu masa dengan masa lainnya, atau suatu perbuatan dengan perbuatan lainnya. Dalam penuturannya, Hugo banyak menyiratkan bahwa berbuat baik adalah masalah memurnikan jiwa dan bahwa Tuhan bekerja terus menerus menolong diri kita melalui media apa pun, apakah melalui orang-orang yang pernah kita tolong, seperti dalam penceritaan mengenai Monsieur Fauchelevent:”Sekarang giliranku”. Lalu ia menambahkan kedalam hati nuraninya, ”Monsieur Madeleine tidak menimbang sedemikian lama ketika menjepitkan dirinya sendiri di bawah kereta untuk menarik tubuhku keluar”. Ia memutuskan bahwa ia akan menyelamatkan Monsieur Madeleine. – hal 230-231,

Ataupun melalui orang-orang yang kita pandang jahat. Bahkan, pertolongan Tuhan dapat datang melalui orang yang paling jahat sekalipun:Tuhan muncul dalam penyamaran mengerikan dan malaikat penolong keluar dari tanah dalam bentuk seorang Thenardier. – hal 599.

 

Seperti yang ditulis Hugo sendiri:Buku ini dari awal hingga akhir, dalam keseluruhan dan detilnya, apakah itu selingan, sanggahan atau kegagalan, merupakan pergerakan dari sifat jahat ke baik, dari ketidakadilan menjadi keadilan, dari salah ke benar, dari malam ke siang, dari hawa nafsu menuju hati nurani, dari kebusukan menuju kehidupan, dari kekejaman ke kewajiban, dari neraka ke surga, dari ketiadaan menuju Tuhan. Titik awalnya: materi, tujuannya: jiwa. Hydra pada awalnya, malaikat pada akhirnya. – Hal 576.Jean Valjean mengajarkan kita tentang memaafkan, bahkan kepada yang paling jahat sekalipun, dan bahkan jika kita memiliki kesempatan untuk ”menghabisi” lawan kita. Seorang narapidana yang mengajarkan kita untuk ”kembali menjadi manusia”.

 

Hidup Jean Valjean mungkin tampak tidak sempurna, namun menurut saya ia telah menjalani hidupnya dengan sangat penuh, sepenuh-penuhnya mengemban tugas yang diberikan Tuhan atas dirinya, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Seperti yang dikatakan oleh Jean Valjean:Mati bukanlah soal; yang mengerikan adalah tidak hidup”. – hal 685.Buku ini mempesona saya dengan intensitasnya, yang membuat saya terus membalik halaman demi halaman hingga menjelang akhir. Mungkin buku ini hanyalah mengujarkan suatu cerita, namun seringkali dalam perjalannannya hati nurani kita terusik, pertanyaan sederhana menguak sulit terjawab, dan tokoh-tokohnya terus hidup bahkan sampai lama setelah saya selesai membacanya. Ketika usai membacanya, saya merindukan mengalami kembali seluruh perjalanan Jean Valjean, ketika ia mulai berjalan dengan pakaiannya yang kumuh mencari penginapan, dan seterusnya, dan seterusnya…

 

Mengingat intensitas cerita yang dihadirkan, dengan segala substansi dan kapasitas karakter dan emosi yang disajikan, saya menduga karya ini termasuk yang sulit diterjemahkan. Walau demikian, menurut saya, Anton Kurnia, sang penerjemah, telah berhasil menerjemahkan karya maestro ini dengan cukup baik dan mampu menyampaikan pesan dan suasana emosi yang ingin disampaikan.

 

Les Miserables pertama kali diterbitkan pada tahun 1862 dan merupakan salah satu dari novel terbaik dan paling terkenal dari Hugo. Novel lainnya yang juga sangat terkenal adalah Notre Dame de Paris atau Hunchback of Notre Dame yang terbit pada tahun 1831. Les Miserables pertama kali diterbitkan dalam 10 jilid di Belgia dan Perancis secara bersamaan dan meraih sukses luar biasa. Mulai tahun 1892, novel ini diterbitkan dalam 9 bahasa  yang berbeda secara simultan. Di Amerika Serikat, Les Miserables memukau khalayak walaupun saat itu tengah berkecamuk perang saudara.

 

Victor Hugo (lahir 22 Februari 1802 dan meninggal pada 22 Mei 1885) adalah penggerak aliran Romantik di Perancis dan dipandang sebagai yang paling berpengaruh dalam aliran ini. Selain menulis novel, Hugo juga menulis puisi, drama, dan esai. Ia juga melukis dan aktif dalam politik terutama yang bersinggungan dengan masalah hak asasi manusia. Hugo termasuk sastrawan besar dalam sejarah kesusastraan Perancis dan hingga kini namanya masih sering diangkat dan karyanya sering dikutip. Hugo dibesarkan secara Katolik, namun belakangan ia mengklaim dirinya sebagai Freethinker, dan mengkritik gereja Katolik dalam hal ketidakpeduliannya akan lapisan masyarakat kelas bawah saat itu. Walaupun demikian, ia tetap seorang religius yang sangat percaya akan kekuatan doa, dan ini memang sangat tercermin dalam karyanya.

 

Cirendeu, 23 Feb 2007, 12.48 pm.

9 thoughts on “Les Miserables – Seberapa Besar Arti Memaafkan

  1. Saya sependapat dengan tulisan di atas. Saya merasa benar2 tercekam saat membaca les miserables. Memang terkadang pemaparan dan penjelasan yang detil soal pergolakan batin dan filosofi pemikiran tokoh2nya cukup membosankan, namun itu menjadi kelebihan Hugo. Menjadi nilai plus buku ini yang dengan sedemikian gamblang menceritakan jalannya pertentangan hati manusia. Bagaimana hati dan otak harus memilih yang antara yang baik dan jahat. Saya salut sepenuhnya pada sang penerjemah yang dapat menerjemahkan dengan sedemikian indahnya, kalo terjemahannya saja indah, bagaimana naskah aslinya. Saya jadi berpikir seandainya saya bisa berbahasa perancis akan saya baca versi aslinya. Intensitas les miserables sangat luar biasa, menuntut kita membacanya tanpa berhenti.Banyak sekali nilai yang bisa diambil bahwa memang benar, mati sendiri tidaklah masalah, yang perlu ditakutkan adalah tidak hidup.:D

  2. mademelani

    halo… ya setuju, mmg gema intensitas Hugo di karyanya yg ini terasa sekali. saya juga ingin membacanya dlm bhs aslinya, tapi setelah saya temukan di sini (saat ini saya sedang tinggal di perancis), ternyata bhsnya susah bgt, maklum buku sastra klasik. saya bukan org sastra perancis, tapi penggemar sastra perancis dan bhs perancis saya cukup saja (yg blm mampu mencerna buku sekaliber buku Hugo itu…)

    ya penerjemahnya, Anton Kurnia, mmg ok. ada juga buku sastra dunia yg baru ia terjemahkan, Lolita, sudah baca? saya sendiri belum. mnrt berita bagus juga terjemahannya.

    salam kenal ya.

  3. gieta

    salut mlle mei,,

    salam kenal y,,

    hmm dah nonton film nya juga?? aq malah blom bc novelnya,,bis tebel bgt.(versi aslinya).hehehe..
    paling klo lagi kuliah litterature francais dibahas terus..malah mpe pusing,,hahaha

    mba,,dah baca terjemahan novel prancis apa aj??coz aq lagi nyari niy,,bwt bahan skripsi..udah nyari d ccf,,dikit..kbanyakan versi aslinya..

    merci bcp,,

  4. mademelani

    salut gieta,

    udah nonton filmnya juga, yg versi gerard depardieu itu, tapi jelek bgt, jauh deh ama bukunya. mgkn bukan versi yg bagus juga. kyk film ini ada bbrp, mgkn yg lain lbh bagus.

    terjemahan lain yg dibaca ada bbrp, voltaire, margeruite duras, maupassant, ada youcenar tp gak selesai. emg susah nyarinya, tp suka nyelip aja di rak toko buku.

  5. salam…

    mbak mademelani,
    saya ingin minta ijin nih. saya berniat menulis resensi novel ini utk blog saya (berdasarkan pengalaman baca saya sendiri tentunya).
    tapi saya rasa, saya jg perlu informasi statis tentang buku ini (seperti riwayat pengarang dsb). untuk itu, saya minta izin untuk mengutip bberapa ulasan mbak yea.

    trims so much
    nayaka al gibran

  6. Pingback: [Classics Club August Meme] My Favorite Classics | ma petite bibliothèque

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s