J’ai fui l’Allemagne nazie

jai-fui-lallemagne-nazie.jpg

J’ai fui l’Allemagne nazie: journal d’Ilse, 1938-1939

Yael Hassan

Novel sejarah, 102 hlm,

Gallimard Jeunesse, 2007

Bahasa Perancis

Buku kecil yang bersampul hard cover mirip sebuah jurnal atau buku harian ini penampilannya mengingatkan saya pada kisah sejenis, yaitu “Buku Harian Anne Frank”. Buku ini pun mengisahkan hari ke hari dalam kehidupan Ilse, seorang gadis kecil yang berangkat remaja, pada tahun 1938-1939, suatu masa menjelang perang dunia kedua. Bedanya kisah Ilse ini tidak berakhir sesedih kisah Anne Frank. Ilse tinggal bersama keluarganya di Berlin, dan sebagai Yahudi yang hidup di Jerman dalam periode kekuasaan Hitler, dirinya dan keluarganya mengalami perlakuan diskrimatif yang pada akhirnya mengancam keselamatan hidup mereka sehingga mereka akhirnya harus pergi meninggalkan Jerman, mencari negara lain yang bersedia menerima mereka.

Kisah disajikan dalam bentuk buku harian atau jurnal, tanpa bab, namun per tanggal, yang dimulai dari tanggal 15 November 1938 sampai terakhir 28 Agustus 1939, ditambah sebuah epilog yang bertanggalkan 15 November 1948. Ilse mulai menulis jurnal ini atas saran ayahnya, yang menurutnya dengan menulis dapat meringankan beban pikiran dan membawa sedikit kenyamanan di tengah situasi yang menegangkan dari hari ke hari. Menurut ayahnya pula, banyak penulis besar dunia mulai menulis dengan menulis buku harian, dan bahwa siapa tahu kelak Ilse juga akan menjadi penulis. Pada kenyataannya, menuangkan perasaan dan pikiran dalam tulisan memang membantu Ilse dalam menjalani hari demi hari yang membingungkan dan kian mencekam di Berlin saat itu.

Sebagai gadis kecil di akhir masa kanak-kanaknya, kadang pikiran, perasaan dan tulisan yang disampaikan memang khas anak-anak, betapa Ilse tidak mengerti mengapa dirinya harus dianggap sedemikian berbeda dari anak-anak lain yang bukan Yahudi. Namun di sisi lain, tuntutan situasi juga membuatnya menjadi lebih dewasa, lebih berpikir ke depan, atau lebih mengendalikan diri untuk lebih meringankan beban orang tuanya.  Hal yang paling menyedihkan, bagi saya, adalah ketika Ilse dan seorang kawannya yang juga Yahudi, diminta dan harus meninggalkan bangku sekolahnya begitu saja, tanpa ada alasan yang dijelaskan. Baik guru, kepala sekolah, maupun teman-temannya tak mampu untuk melawan perintah pemerintah saat itu yang melarang anak Yahudi untuk bersekolah di tempat umum. Pertanyaan besar tentu bersemayan di benak Ilse, mengapa dirinya tidak boleh pergi ke sekolah lagi, tempat yang begitu dicintainya? Kapan ia bisa bertemu dengan teman-temannya lagi? Dan mengapa mereka juga tidak datang mencarinya?

Perasaan-perasaan dan pertanyaan-pertanyaan yang timbul ia tanyakan kepada buku hariannya. Kadang ia menemukan sendiri jawabannya atau berpendapat atas situasi yang terjadi. Dan banyak dari pendapatnya tersebut menyiratkan nurani kemanusiaan. Juga, bagian dari ‘curhat’ yang disampaikan Ilse kepada buku hariannya adalah, seperti layaknya seorang gadis yang berangkat remaja, ketertarikannya dengan seorang pemuda remaja yang tinggal dekat rumahnya, Hans. Ilse sering mengintip dari jendela kamarnya, kapan Hans datang atau pergi setiap harinya. Sampai pada suatu saat mereka bisa mengobrol, walau melalui jendela kamar Ilse atau di depan pintu rumah.

Keadaan semakin mengkhawatikan, terutama bagi keselamatan hidup kaum Yahudi. Karenanya ayah Ilse lalu berusaha mencari visa untuk bisa pergi membawa seluruh keluarganya ke Amerika. Namun perjuangan mendapatkan visa tersebut bukanlah hal yang sederhana. Harapan dan kekecewaan datang silih berganti. Akhirnya ayah Ilse berhasil mendapatkan visa ke luar negeri, bukan ke Amerika, namun ke Cuba, ke Havana. Tiket kapal pun dibeli, juga dengan perjuangan. Akhirnya tiba hari dimana mereka dapat naik ke kapal dan berangkat menyusuri samudra Atlantik menuju Havana.

Dalam kapal, yang bernama S. S Saint-Louis ini, Ilse terus menulis. Termasuk kesedihannya harus meninggalkan Jerman, negara yang selama ini dianggapnya sebagai negerinya. Namun halaman masa yang lalu telah ditutup, harapan dan tujuan ke depan jauh lebih penting. Dengan sejumlah keluarga Yahudi lain, mereka berbagi harapan akan masa depan yang lebih baik di negeri seberang. Perjalanan melewati beberapa negara dan pengalaman berada di atas lautan biru memberikan kebahagiaan tersendiri bagi Ilse. Bahkan, gadis kecil ini mampu ber’filosofi’ dengan berpikir bahwa ada baiknya juga Hiltler sedemikian kejamnya terhadap Yahudi, karena dengannya ia berkesempatan menikmati indahnya berada di atas laut biru dengan burung yang beterbangan. Betapa dewasanya. Dalam kapal ini Ilse berkenalan dan akhirnya berkawan baik dengan beberapa anak sebayanya, yaitu Lore dan Ruth, serta Erich, seorang pemuda sebayanya pula yang pendiam namun sering bertukar pikiran dengan Ilse. Bersama mereka, dengan luka dan ketakutan yang sama yang mereka miliki, Ilse berbagi harapan dan cita-cita untuk hidupnya di masa datang.

Akhirnya kapal sampai juga di pelabuhan Havana. Namun masalah ternyata belumlah selesai. Harapan yang begitu besar untuk segera merasakan hidup yang damai tanpa kejaran atau kecurigaan ternyata harus tertunda oleh beberapa masalah baru. Kekecewaan, diselingi dengan harapan, datang silih berganti, menimbulkan kelelahan mental yang tiada tara. Semua perubahan situasi, dari harapan lalu kekecewaan yang silih berganti itu, selalu Ilse tulis dalam buku hariannya, sekaligus sebagai media kemarahan, kesedihan atau keputusasaan. Sampai pada suatu saat dimana Ilse sudah tidak mampu menulis lagi karena lelahnya jiwa menunggu kepastian nasib, dan berjanji pada buku hariannya baru akan menulis lagi jika kepastian tersebut telah tiba.

Akankah mereka semua selamat sampai di suatu negeri dimana mereka akhirnya merasa ‘diterima’? Bagaimana akhir dari nasib kawan-kawan Ilse: Lore, Ruth dan Erich? ‘Buku anak-anak’ ini menyajikan perjalanan dan akhir kisah yang membawa muatan kemanusiaan yang cukup dalam. Beberapa akhir dari kisah ini cukup tidak terduga, yang memberikan nilai tersendiri bagi novel anak-anak bermuatan sejarah ini. Pada bagian belakang buku ini, terdapat pula informasi tambahan yang berkaitan dengan konteks sejarah, yang dapat sangat memperluas wawasan anak-anak yang membacanya, seperti gambaran hidup di Jerman pada jaman Nazi, beberapa tanggal penting, beberapa buku dan film yang dapat dibaca atau ditonton terkait dengan Yahudi dan Nazi.

Yael Hassan, seorang penulis perempuan, dilahirkan di Paris pada tahun 1952, tapi baru sejak tahun 1984 ia hidup disana. Sebelumnya ia menghabiskan sebagian hidupnya di Belgia dan Israel. Ia banyak menulis tentang tema-tema yang dirasa dekat olehnya, yaitu tentang asalnya, identitasnya, hidupnya, dan pengalaman-pengalaman pribadinya. Secara kebetulan ia menemukan artikel tentang kesedihan yang terjadi di atas kapal Saint-Louis, dan segera ia tertarik lalu melakukan riset lebih lanjut untuk mendapatkan informasi tambahan terkait dengan subjek tersebut. Dari sini ia merangkum dan menulis novel yang sarat dengan muatan sejarah dan nilai biografis ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s