When in Rome (Saat di Roma)

when-in-rome_gemma-townley.jpg

Kayaknya buku lama nih… Memang. Dan memang sudah dibaca sejak tahun lalu, dan saya bahkan telah membuat reviewnya di bulan Juli 2007… Tapi entah kenapa, saya lupa meng-upload review tersebut. Ketika saya sekarang baru selesai membaca satu chicklit yang saya bawa dari Indonesia, tiba-tiba teringat akan buku ini dan tulisan yang sudah saya buat. Jadinya, kini baru tayang deh…

When in Rome (Saat di Roma)

Novel

Pengarang: Gemma Townley

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2005

Bahasa: Indonesia

Penerjemah: Monica D. C.

Halaman: 404

Buku ini tiba-tiba ingin saya beli ketika setelah beberapa lama “kehilangan” mood untuk membaca buku-buku saya yang lain yang masih berderet di rak buku. Rasanya sedang ingin menbaca yang ringan dan lucu saja, yang tidak perlu terlalu berpikir untuk mencernanya. Mungkin juga saat itu saya baru saja selesai dari ”masa bekerja”, keluar dari pekerjaan dan projek, yang selama ini memang banyak sekali menguras waktu, namun terutama pikiran saya. Jadi, dengan riang hati saya ambil buku ini dari rak buku Kinokuniya sekitar seminggu lalu, saat saya sedang bebas luntang-luntung di suatu mal seusai kursus bahasa perancis.

Selama ini sudah banyak terbit novel-novel chicklit, namun terus terang tidak terlalu saya perhatikan, karena sepertinya ceritanya “cewek banget”, pasti tidak jauh-jauh dari masalah mendapatkan cowok dan dambaan untuk segera menikah dan topik sejenis lainnya. Namun saya juga tahu, dalam era neofeminisme seperti sekarang ini, tampaknya kebanyakan si tokoh cewek akan ”tidak akan bego-bego amat”, mungkin akan ada unsur ”menemukan diri sendiri” dan ”menentukan nasib sendiri” dengan segala ke”cewek”annya. Menunjukkan keunggulan dengan ke”cewek”annya, kira-kira begitulah. Namun diluar semua pertimbangan di atas, dari sekian banyak buku chicklit yang berjajar di rak toko buku, saya memilih When in Rome, lebih karena covernya yang lucu, putih dengan tulisan judul warna merah yang kontras, dan gambar scooter dengan sepasang manusia yang duduk di atasnya dalam posisi yang ”gak mungkin banget deh”. Yah, memang ada ungkapan ”Don’t judge the book by its cover”, namun kali ini saya memang melakukannya, dan kebetulan tidak mengecewakan.

Buku ini mengisahkan tokoh utama Georgie, seorang wanita muda yang biasa saja, berumur dua puluhan, bekerja sebagai asisten riset di suatu perusahaan penerbitan, dan bukan termasuk karyawan teladan karena sering datang terlambat, melamun di depan komputer, dan sebenarnya tidak suka-suka amat melakukan riset. Georgie memiliki cowok, David, seorang akuntan forensik, yaitu suatu kegiatan yang meneliti keadaan keuangan individu atau badan yang dicurigai melakukan transaksi keuangan ilegal. Berbeda dengan Georgie yang cenderung sukar ditebak dan tak terduga, David adalah individu yang penuh perencanaan dan pengendalian diri.

Cerita ini terjadi karena tanpa sengaja Georgie bertemu kembali dengan mantan pacarnya, Mike, yang notabene memang berbeda jauh dari sosok David. Mike dikenal ganteng, supel dan sudah pasti pandai merayu. Mike meninggalkan Georgie 2 tahun lalu secara semena-mena, yang sebenarnya membuat Georgie sangat marah, bahkan sampai sekarang. Masalahnya, Georgie bertemu Mike kembali dalam kondisi Georgie sedang lusuh, kehujanan, sedangkan Mike justru sedang berada di belakang kemudi sebuah mobil mewah. Padahal, yang selalu dibayangkan Georgie adalah dirinya bertemu kembali dengan Mike di saat ia tampil luar biasa cantik, sehingga Mike menyesal telah meninggalkannya. Bukannya Goergie ingin kembali lagi pada Mike yang telah memperlakukannya dengan buruk, ya, ia sudah punya David di sampingnya. Hanya saja, kadang Georgie masih penasaran dengan Mike.

Dengan pendekatan yang dilakukan Mike serta keahliannya mengambil hati Georgie, akhirnya Georgie luluh, terpesona kembali oleh ketampanan Mike dan hidupnya yang “keren” dan penuh warna. Sampai pada suatu titik ketika tiba-tiba Mike mengajak Georgie pergi ke Roma di akhir pekan. Georgie tahu bahwa ia tidak boleh pergi dengan pria lain, apalagi dengan mantan pacar, namun ia juga tidak bisa berhenti memikirkannya. Masalahnya, berlibur ke Roma ala Audrey Hepburn dalam film favoritnya, Roman Holiday, telah menjadi impian lama Georgie. Sementara itu, David selalu sibuk dan tidak pernah menunjukkan gelagat akan mengajaknya kesana.

Akhirnya Georgie pun jadi pergi ke Roma. Cerita berpilin penuh kejutan sedemikian rupa. Tanpa disangka-sangka, Roman Holiday yang diimpikan berubah jauh dari dugaannya semula. Belum lagi perasaan yang berkecamuk karena merahasiakan kepergiannya itu dari David. Bagaimanakah akhir dari impian Roman Holiday Georgie, apa yang ia temui di sana dan bagaimana ia bersikap sesudahnya, merupakan keasyikan tersendiri dalam membaca halaman demi halaman buku ini.

Gemma Townley cukup lihai memainkan plot yang dengan tiba-tiba membelok tak terduga. Walaupun masalah yang disajikan bukanlah masalah hidup yang sangat berat atau serius, penulis mampu secara peka dan detil menangkap dan menyajikan perubahan perasaan, pikiran dan pertimbangan tokoh-tokohnya, terutama Georgie. Saya pikir, disinilah kekuatan buku ini.  Juga, situasi-situasi yang digambarkan serasa hidup, tidak terlalu mendalam namun segar layaknya sedang menonton film komedi romantis Hollywood, yang menghibur dan mampu membuat penontonnya senyum-senyum sendiri. Selain masalah hubungan Georgie dengan David dan Mike, terselip kisah skandal merger dalam perusahaan Georgie dan tindakan transaksi ilegal yang turut membingkai kisah ini.

Dalam kisah yang ringan, terselip pesan bagi “kaum cewek” untuk tidak terlalu gampang menilai sesuatu atau seseorang dari kulit luarnya saja, dan untuk menemukan apa yang dirasa paling nyaman bagi dirinya, walaupun itu tampaknya bukanlah sesuatu yang “keren” bagi kebanyakan orang. Georgie sebagai tokoh utama, memang bukanlah suatu tokoh yang super protagonis. Ia tidak sempurna; sebagai wanita muda di awal kehidupan dewasanya, ia kadang bimbang dengan banyaknya stimuli di sekitarnya, dengan banyaknya pilihan, dan konsekuensinya tentu. Ia membuat kesalahan, lalu memperbaikinya, membuat kesalahan lagi, memperbaikinya lagi, dan belajar dari semua itu. Sangat manusiawi sebenarnya.

Membaca buku ini saya terbayang Meg Ryan sedang memainkan peran Georgie. Lugu, sedikit naif dan kadang melakukan tindakan tak terduga, namun juga sweet dan jujur.  Bacaan yang segar.

Cirendeu, Jumat, 20 Juli 2007, 8.10pm.

4 thoughts on “When in Rome (Saat di Roma)

  1. googling nyari gambar cover buku ini, ketemu tulisan ini……..gara2 nya chicklit ini di-film-kan jadi pengen review ulang jalan ceritanya😀, soalnya saya juga sudah lama baca buku ini……….memang sangat menghibur, apalagi setelah melakukan pekerjaan berat…………..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s