Tales from the Road: Mencicipi Keunikan Budaya dari Yogyakarta hingga Nepal

Tales from the Road: Mencicipi Keunikan Budaya dari Yogyakarta hingga Nepal

Matatita

B-first, 2009

Travel Writing, Bahasa Indonesia, 232 hlm.

Figur Matatita sangat menarik perhatian saya ketika berita mengenai bukunya, Tales from the Road, mulai merebak di dunia maya sebagai bagian dari proses peluncurannya. Penulis sendiri memiliki blog yang menarik untuk dibaca, dengan banyak foto unik dari tempat-tempat eksotis, di Indonesia maupun di negri-negri lain. Tulisan pendek biasanya menyertai foto-foto tersebut sebagai keterangan atau cerita singkatnya. Hal yang menurut saya sangat spesial dari Penulis adalah konsep jalan-jalannya yang bersifat “native traveller”, artinya, ketika berjalan-jalan, ia cenderung ingin “nyemplung” masuk ke budaya asli tempat yang ia kunjungi. Motonya untuk travelling adalah “travelling is experiencing different cultures”. Saya sendiri berpendapat “travelling is about opening the mind”, karenanya saya sangat sepaham dengan motonya tersebut.

Buku ini diangkat dari tulisan-tulisan beliau di blognya. Penulis adalah seorang “traveller” yang kerap melakukan perjalanan ke pedalaman Indonesia, dan ini menurut saya sangat patut dihargai mengingat tidak banyak orang Indonesia yang sudah melakukannya, apalagi membagi pengalamannya dalam bentuk tulisan. Membaca judul dan sub judul buku ini, saya jadi berharap menemukan suatu ulasan tentang budaya dan pengalaman penulis bersentuhan dengan budaya-budaya tersebut. Namun setelah membaca buku ini, saya agak kecewa karena ternyata isinya lebih berupa saran-saran atau rekomendasi tentang melakukan suatu perjalanan, yang murah, aman, bagaimana harus bertindak dalam suatu situasi tertentu, pengalaman-pengalaman lucu maupun tidak mengenakkan dalam perjalanan, dan sejenisnya. Memang ada cerita mengenai pengalamannya tinggal dengan suku-suku pedalaman, atau mengikuti prosesi budaya tertentu, atau pergi ke tempat-tempat yang sebenarnya sangat kaya budaya untuk diulas, tapi akhirnya tulisan itu seperti tiba-tiba beralih ke pengalaman praktis, seperti repotnya mengembalikan mobil sewaan, mengejar jadwal pesawat, mencari taksi yang aman, kehilangan kontak dengan teman perjalanan, dan lainnya. Porsi untuk tulisan yang bersifat praktis ini cukup besar dibanding ulasan mengenai budaya itu sendiri. Tadinya saya pikir, alur tulisan akan kembali mengulas tentang budaya, mungkin tulisan yang bersifat praktis itu hanya berupa selingan, namun di hampir semua tulisannya hal itu tidak terjadi. Pada akhirnya buku ini lebih menyerupai “how-to book”, daripada tentang catatan perjalanan, apalagi suatu memoir perjalanan.

Dalam salah satu tulisannya di blognya, saya ingat pernah membaca sedikit tentang proses penulisan buku ini. Penulis memang hanya memiliki waktu yang, menurut saya, terlalu singkat untuk penyusunan suatu buku. Memang sebagian besar isi sudah ada dalam blog, namun proses penyusunan ide, keajegan konsep (apa yang mau ditonjolkan dalam buku ini?), benang merah antara judul, isi, sampul depan maupun belakang, dan segala proses “finishing touch” biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menghasilkan sesuatu yang matang. Dengan sub judul “Mencicipi Keunikan Budaya dari Yogyakarta hingga Nepal”, pembaca tergiring untuk berharap mengenal berbagai budaya lebih dalam, apalagi Yogyakarta dan Nepal bukan tempat-tempat yang minim keunikan budaya. Memang ada juga sub judul yang lebih kecil lagi mengenai tip-tip melakukan perjalanan yang juga terdapat dalam buku ini, tapi ini dikesankan hanya sebagai tambahan atas ulasan tentang perjalanan budaya tersebut. Yang saya temukan setelah membaca buku ini justru kebalikannya, buku ini lebih berupa ulasan tip-tip perjalanan, dan ulasan budaya hanya tambahan yang sangat sedikit. Pada sampul belakang, juga terdapat tulisan bahwa buku ini “membawa kita berpetualang dan menghargai keragaman budaya”, sehingga lebih meyakinkan pembaca akan adanya ulasan budaya yang cukup luas. Mungkin saya saja yang salah berharap. Di sisi lain, sebagai “how-to book” buku ini sangat berguna, karena memberikan banyak wawasan, dan masukan-masukannya sangat berharga karena datang dari pengalaman pribadi penulis sendiri sebagai “traveller”. Namun sudut budaya yang diulas memang tidak mendalam, bahkan terkesan sepintas saja (mungkin ini arti kata “mencicip”?). Hal ini sebenarnya sangat disayangkan, karena saya yakin penulis mempunyai banyak pengalaman budaya yang patut dibagi dari perjalanan-perjalanannya (bahkan beliau sering menamai tulisannya sebagai tulisan etnografi – tentang budaya), yang saya pikir tidak tercermin atau tidak tertuang di buku ini. Mungkin proses penyusunan buku ini yang terkesan terburu-buru memegang peranan di sini. Sedikit elaborasi lebih dalam atau tambahan dari berbagai referensi bisa jadi sangat mengubah kedalaman buku ini, sehingga tidak terkesan sebagai sekedar buku “guide”.

Saya berharap Matatita terus melakukan perjalanan dan mengeluarkan buku berikut, dengan benar-benar membagi pengalaman-pengalaman dari perjalanan budayanya yang saya yakin sangat patut dibaca oleh khalayak yang rindu akan indahnya keragaman budaya.

Paris, Januari 2010

Mei

6 thoughts on “Tales from the Road: Mencicipi Keunikan Budaya dari Yogyakarta hingga Nepal

  1. astridfelicialim

    hai mei, finally aku mampir sini jugaaa =) hehe, aku link ya blog-mu…
    anyway aku belum baca nih buku ini, gara” kemaren baca naked traveler, jadi pengen baca buku” travel lagi nih..hehe

  2. mademelani

    hi astrid… makasih ya udah mampir!🙂 ya silahkan…
    asik ya baca buku travel… tp yg ini, spt yg aku tulis, lbh byk cerita pengalaman praktis drpd cerita ttg keunikan tempat2 yg dia kunjungi.. entah mmg direncanakan utk spt itu ato gak, tp jd terasa lebih spt buku guide drpd memoir… (from my humble opinion…)

  3. mbak mei…saya terlambat menemukan review yang kritis dan jeli ini…terima kasih banyak atas masukannya ya mbak..kritikan anda sungguh sangat bermanfaat untuk mengasah ketrampilan menulis saya…kalaupun saya ingin sedikit membela diri (hehe..) buku ini memang ditujukan untuk segmen anak muda dan traveler (pemula)…jadilah ‘terpaksa’ disisipi how-to..sehingga mengalahkan porsi kajian etnografi…

    dalam menulis buku ini saya memang sengaja memposisikan diri sebagai penjelajah yg ambigu…yaitu antara sebagai turis dan sebagai etnografer..posisi ini saya pilih untuk mengajak anak-anak muda di indonesia yg mulai gemar traveling/backpacking agar peduli dengan hal-hal yang terkait dengan culture & heritage..penginnya sih dengan cara yang lebih fun siapa tau para pembaca jadi terinsipirasi untuk menjelajah ke tempat-tempat eksotis..

    kritik yang anda sampaikan membuat saya tersadar bahwa ada segmen lain yang membutuhkan bacaan yang lebih mendalam mengenai keragaman budaya yang saya temukan dalam setiap perjalanan…semoga kali lain saya bisa menuliskannya…sekali lagi terima kasih atas kritiknya ya mbak…

    salam dari jogja

    1. mademelani

      Halo Matatita…

      Wah terima kasih sekali sdh mampir ke bog saya.
      Ya buat saya pribadi waktu saya membaca buku ini, saya merasa sayang sekali karena porsi etnografinya sedikit sekali. Saya yakin pastinya waktu melakukan perjalanan itu, Mbak ketemu byk hal yg bersifat etnologi yg bisa dituangkan, tapi akhirnya (mungkin) diputuskan utk tidak dikupas cukup jauh, dan setiap cerita lalu diakhiri dengan hal-hal praktis. Memang jadi terasa sangat ambigu. Terutama karena di judul dengan jelas disebutkan bahwa buku ini memuat ulasan etnografi (keunikan budaya…), saya jadi salah meng-ekspektasi isi bukunya.

      Di luar buku ini, secara umum, saya pikir tulisan yg sedikit ‘lebih dalam’ dalam segi kultur dari suatu kegiatan yg bernama travelling sekarang sudah sangat diminati, Mbak. Ada penambahan wawasan, sekaligus mengenal (baca: mencintai) budaya, khususnya Indonesia. Banyak dari kita tidak tahu ttg seluk beluk budaya itu, dan kita sebenarnya ingin tahu juga. Apalagi tulisan yg dibuat oleh seorang penjelajah yg orang Indonesia sendiri masih sangat jarang. Tentu tidak perlu seperti buku teks antropologi, tapi travel writing atau memoar yg memuat ulasan budaya yg unik secara lebih dalam. Jadi, masih besar sekali tuh kemungkinan pasarnya..🙂

      Sukses ya Mbak buat seri Eurotripnya!🙂 Bravo!

  4. mulyana

    Salam kenal….hai mbak,buku’y keren bgt…klo blh tawu bahas donk masalah jogja lebih mendatail.bravo untuk buku2 berikutnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s