Time Was Soft There

Time Was Soft There: A Paris Sojourn at  Shakespeare & Co

Jeremy Mercer

Picador, 2005

Memoar, Bahasa Inggris, 258 hlm.

Buku dari serorang pengarang asal Canada ini saya temukan di antara tumpukan buku di toko buku The Abbey, milik seorang Canada yang tinggal di Paris. Saat sedang memegang-megang buku tersebut, sang pemilik toko merekomendasikan langsung buku itu kepada saya, mengatakan bahwa sang penulis sangat mahir dalam merekam kejadian dengan sedemikian detil hingga terasa begitu hidup. Saya sendiri memang sudah tertarik akan membeli buku ini karena ternyata ada toh buku memoar dari seorang bekas penghuni Shakespeare & Co….., selain saya memang sudah jatuh cinta dengan cover-nya, deretan buku pada rak buku yang mengingatkan saya langsung pada bagian perpustakaan Shakespeare & Co itu, karpet merah yang sudah gembel itu, dan si kucing gemuk yang melangkah senyap di antara buku-buku…

Jeremy Mercer adalah seorang crime reporter di sebuah kota menengah di Canada. Sebelumnya ia sempat pula menerbitkan buku cerita kriminal. Berlangsung di akhir tahun 1999, suatu kejadian yang berhubungan dengan salah satu kasus yang pernah dilaporkannya, membuatnya sangat takut, dan dalam keadaan merasa sangat terancam, tanpa pikir panjang lagi ia melarikan diri ke Paris, tanpa tahu pasti apa yang akan dilakukannya di kota itu. Saat sedang luntang-luntung di Paris dengan pikiran penuh kekhawatiran kehabisan uang, tanpa direncanakan kakinya ternyata telah melangkah ke pintu sebuah toko buku di samping Notre-Dame, Shakespeare & Company. Kebetulan demi kebetulan, dan pertemuannya dengan beberapa orang, membuat cerita hidupnya bergulir hingga akhirnya ia menginap di sana.

Buku ini adalah memoar hari-harinya ketika menumpang menginap di toko buku legendaris itu, pertemuannya dengan beberapa penghuni lain sesama penulis dengan berbagai masalah yang sedang mereka hadapi saat itu, perkenalannya dengan kehidupan “bohemian” a la George Whitman, maupun usahanya untuk bangkit dan menopang kehidupannya sendiri. Membaca memoar ini saya sangat terbayang akan seluk beluk toko buku tersebut, juga membayangkan ruangan-ruangan lain yang tentu saja tidak dibuka untuk umum, seperti apartemen di lantai atas. Detil penggambaran itu membuat saya semakin “dekat” dengan tempat tersebut. Namun diatas semua itu adalah kenyataan bahwa memang tempat itu berfungsi sebagai “sanctuari” bagi jiwa-jiwa yang sedang dalam pencarian diri, penulis-penulis yang sedang mematangkan dirinya.

Give what you can, take what you need” adalah yang berulang kali George tekankan pada para penghuni tempatnya, yang kadang membuat mereka, yang terbiasa dengan pola pikir untung-rugi, terheran-heran. Masalahnya George dan toko bukunya bukanlah sesuatu yang berlimpah fasilitas dan penuh keuntungan. Namun George memang punya sudut pandang lain. Misalnya saat semua orang khawatir akan mudahnya terjadi pencurian dalam toko buku yang sedemikian tidak terorganisirnya itu, George ternyata sudah mengetahui setiap pencurian tersebut, dan hal yang paling disesalinya adalah sang pencuri bukan mencuri buku untuk dibaca, tapi untuk sekedar mencari uang dengan menjual lagi buku tersebut. Sekedar uang! Itulah yang membuatnya sedih, bukan untung rugi seperti yang dikhawatirkan semua orang lain. “People all tell me they work too much, that they need to make more money… What’s the point? Why not live on as little as possible and then spend your time with your family or reading Tolstoy or running a bookstore? It doesn’t make any sense” George Whitman, hlm 110.

Buku ini juga memperkenalkan pribadi George dari sudut pandang orang dalam. Bagian ini yang menurut saya justru paling menarik. Perpaduan sifat-sifat ekstrem yang membuatnya demikian unik, keras pada prinsip namun juga begitu lembut hati, moody, kadang begitu cepat marah oleh sebab tertentu, kadang begitu malu-malu layaknya seorang remaja, memiliki selera yang tajam akan hal-hal tertentu, yang pasti bukan melulu pribadi yang mudah untuk hidup bersama. Dan tentu saja kecintaannya yang sedemikian besar pada buku dan sastra. Setiap penghuni diwajibkan membaca satu buku dalam sehari, dan pilihan buku juga menjadi perhatiannya. Buku-buku cerita detektif dianggap “sastra picisan” dan ia begitu kecewa ketika salah satu penghuni memfokuskan diri pada menulis cerita detektif. Begitulah George.

Kehidupan pribadi George juga sedikit diulas di sini. Walau begitu, bisa dikatakan tidak ada yang tahu persis dunia pribadi George, termasuk para penghuni.  Hal-hal lain juga diceritakan sebagai bagian dari memoar ini, seperti perbincangan penulis mengenai harapan-harapan dan kekhawatiran George atas kelangsungan toko bukunya. Dari sini saya juga baru ngeh kalau keberadaan toko buku ini pernah demikian dikhawatirkan, salah satunya karena adanya seorang pemodal yang ingin menjadikannya sebuah hotel berbintang, yang tentu akan sangat laris mengingat letaknya yang demikian strategis menghadap Notre-Dame de Paris. Untung gedung tua yang terletak strategis itu sampai kini tetap menjadi sebuah toko buku dan sanctuari bagi penulis (dan pecinta buku!). Juga beberapa masalah security bangunan yang memang sudah tua sehingga rawan kebakaran, apalagi terbangun dengan banyak bahan dasar kayu, penuh buku pula. Ketika saya sempat menghadiri sebuah reading di suatu malam di Shakespeare & Co, saya jadi sempat khawatir juga, karena memang benar, demikian sempit dan penuh material yang mudah terbakar, bagaimana kami akan melarikan diri di lorong tangga yang begitu sempit jika ada kebakaran? Di sisi lain, penulis juga banyak mengisahkan liku-liku kehidupannya sendiri dengan para penghuni lain, yang datang dan pergi, sampai akhirnya ia sendiri mengakhiri pemondokannya di tempat legendaris tersebut, setelah tinggal selama lima bulan. Ketika bernaung di tempat ini, penulis sempat membantu menerbitkan sebuah buletin bernama The Kilometer Zero (mengambil julukan Notre-Dame de Paris sebagai kilometer zero bagi kota Paris), yang berorientasi pada pernerbitan tulisan-tulisan bertema free creative thinking.

Shakespeare & Co sekarang dikelola oleh putri George Whitman sendiri, Sylvia Whitman. Proses sampai sang putri kandung akhirnya mengurusi toko buku ini juga diceritakan di memoar ini, dan menjadi bagian yang menurut saya cukup menyentuh. Shakespeare & Co, dibandingkan dengan jaman saat penulis menginap di sana, kini telah menjadi toko buku yang jauh lebih terorganisir, dengan adanya telpon (di akhir tahun 90-an belum ada telpon), dan bahkan sudah menerima kartu kredit sebagai salah satu alat pembayaran. Pencarian keberadaan buku juga sudah bisa dilacak melalui komputer, tidak hanya mengandalkan ingatan si penata buku. Suatu Shakespeare & Co yang “berbeda” menurut sudut pengalaman penulis, namun juga suatu perubahan yang dipandang lebih baik.

Berlatar belakang kehidupan Paris di akhir tahun 90-an, yang beberapa hal begitu berbeda dengan Paris yang sekarang, apalagi dipotret dari sudut kaum bohemian yang banyak menghabiskan waktu di jalan, buku ini memberi kenikmatan tersendiri dalam membacanya.

dalam edisi yang terbit di Inggris

Jeremy Mercer kini meneruskan hidup di Perancis, tinggal di Perancis Selatan, secara rutin masih mengunjungi Shakespeare & Co dan menengok George, dan melanjutkan menulis buku (www.jeremymercer.net). Novel terbarunya berjudul When the Guillotine Fell (2008). Memoar The Time was Soft There sendiri telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, dan dalam edisi lain dari Inggris terbit dengan judul Books, Baguettes and Bedbugs.

“Living with George at Shakespeare & Company has changed me, made me wonder about the life I left and the life I want to live. For now, I sit, I type, I try to be a better man. Life is a work in progress” Jeremy Mercer, hlm 258.

Paris, 22 Maret 2010

Mei

4 thoughts on “Time Was Soft There

    1. mademelani

      mgkn krn toko bukunya kecil aja mbak, serupa gudang buku bgt, dia si pemilik ya dia jg yg nungguin toko sendirian… sering jg dia nawarin kopi/ teh lalu dia buatin buat kita.
      hmm tp mgkn jg dia rekomen buku itu krn sama2 dr canada ya hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s