Argenteuil

Argenteuil: Hidup Memisahkan Diri

Nh. Dini

Gramedia Pustaka Utama, 2009 (2008)

Memoir, Bahasa Indonesia, 198 hlm.

Angenteuil adalah kelanjutan dari cerita-cerita kenangan Dini sebelumnya, terutama merupakan lanjutan dari La Grande Borne (2007). Mengisahkan hidup Dini, sang penulis, ketika melanjutkan hidup di Perancis bersama suami dan kedua anaknya. Seperti yang dikisahkan pada buku-buku sebelumnya, kehidupan perkawinan Dini dan suaminya telah semakin bermasalah, dalam arti bagi Dini tidak dirasakan lagi adanya kedekatan bathin antara suami dan istri, hanya dua sosok manusia yang harus hidup bersama dalam satu atap dan bertugas mengurus keluarga. Keinginan Dini untuk berpisah dari suaminya semakin mantap, hanya saja masih menunggu saat yang tepat, terutama dalam menimbang-nimbang bagaimana penerimaan anak-anaknya jika orang tua mereka berpisah.

Saat sang suami mendapat tugas untuk pindah ke Detroit, Dini menemukan inilah saat yang tepat untuk “hidup memisahkan diri” dan memulai segalanya dari awal, belajar menopang hidupnya sendiri. Dini berencana untuk tidak ikut suaminya pindah. Secara perlahan Dini mengutarakan maksudnya pada anak-anaknya. Diluar dugaannya, anak-anaknya dapat menerima ide tersebut dengan tenang, dan justru merestui kehendak Dini. Bahkan Padang, anak kedua Dini yang saat itu baru mendekati usia remaja, mengatakan, “Dia mungkin Papa yang baik, tapi sebagai laki-laki, sebagai suami, hmmmm, menyebalkan ya…” (hlm. 22). Lintang, anak pertama Dini yang sudah belasan tahun, juga mengungkapkan persetujuannya, “Seperti anak-anak lain, aku senang mempunyai seorang ayah. Meskipun dia suka berteriak, pemarah, pelit, tapi dia ayahku. Apa boleh buat! Jadi aku cinta Maman, cinta Papa, tapi sendiri-sendiri, jangan bersama-sama, karena aku sedih melihat ayahku berbuat semena-mena kepada ibuku!” (hlm. 22).

Demikianlah akhirnya diputuskan Padang akan ikut ayahnya ke Detroit sambil meneruskan sekolah di sana, sementara Lintang akan tetap tinggal bersama Dini di Perancis (saat itu tinggal di dekat kota Paris) dan meneruskan sekolah sampai mendapatkan ijazah Baccalaureate (Bac) yang dianggap sangat penting, untuk kemudian bisa melanjutkan kuliah di mana ia suka. Seorang teman dekat Dini lalu meminta tolong Dini untuk bersedia menemani ayahnya yang sudah lanjut usia dan hidup sendiri di rumah keluarga mereka yang besar dan tua, di kota Argenteuil, sekitar 10 km dari kota Paris, sebagai dame de compagnie, wanita pendamping untuk menemaninya mengobrol sehari-hari, menemani berjalan kaki, mengurusi kebutuhan makan, dan merawatnya. Di sinilah Dini menemukan dunianya, karena ia menemukan lebih banyak waktu leluasa untuk menulis, menyalurkan hobi berkebun, sambil sedikit demi sedikit menabung untuk hari tuanya dari gaji yang ia terima setiap bulan.

Saat tinggal di Argenteuil inilah Dini menerima kabar tentang Bagus, kekasihnya (Pada Sebuah Kapal, 1985), dan menerima undangan dari kakak sang kapten untuk datang ke rumah pertanian mereka di Bretagne, tempat kekasih Dini itu dilahirkan. Di saat yang lain, Dini sempat pula bergabung dengan sukarelawan Les Amis de la Nature (The Friends of the Nature), menyelamatkan burung-burung pantai yang terjebak di air laut yang tertumpah minyak. Sementara proses perceraian tetap berlangsung dan memang membutuhkan waktu yang sangat lama (4-6 tahun), Dini tetap sesekali datang ke Detroit menemani Lintang liburan sambil menengok Padang.

Cerita-cerita Dini memang sederhana dan tentang hal sehari-hari. Namun menurut saya semuanya diceritakan dengan sangat baik dan seringkali mengandung nilai-nilai filosofi hidup yang bisa kita cerna maknanya, antara kepasarahan dan daya juang di segala kondisi, antara memenangkan emosi atau rasio. “Setelah melewati semua yang pernah kulalui, menikmati karuniaNya yang berupa kebahagiaan ataupun penderitaan, aku tetap melangkah tegak. Di kanan-kiri, aku tidak lagi menggandeng kedua anakku, karena mereka sudah mampu berjalan mengikutiku. Namun keduanya masih diperkenankan olehNya untuk menyertaiku.” hlm 198. Tulisan Dini juga kerap kental dengan unsur budaya, yang tidak lain adalah suatu pengenalan dan pembelajaran bagi pembaca akan suatu budaya yang lain (yang patut dihormati juga).

Dini menyebut buku-bukunya adalah suatu seri Cerita Kenangan, atau dalam bahasa perancisnya, souvenirs, karena memuat penggalan-penggalan peristiwa dalam kehidupan (bukan seperti autobiografi yang lengkap dan terstruktur). Belakangan memang baru saya sadari bahwa semua buku Dini adalah sebuah cerita kenangan, walau dikemas dalam bentuk seperti novel (tapi bukan novel/ fiktif), sehingga bisa dikatakan bahwa spesialisasi Dini adalah di bidang cerita kenangan.

Rasanya semua buku Dini sudah saya baca (kecuali beberapa buku kumpulan cerpen yang terbit di saat-saat awal dan tidak pernah diterbitkan lagi), pertama kali sejak masih duduk di bangku SMP, dan sudah jatuh cinta dengan bahasanya, kalimatnya yang sederhana namun sangat rapi, dan gaya bertuturnya yang memakai “aku” sebagai pencerita sehingga terasa begitu alami. Waktu berkunjung ke Indonesia belum lama ini, saya lihat banyak cetakan baru buku-buku Dini, dengan cover buku yang lebih fresh dan berbeda. Ingin rasanya membaca kembali kisah-kisah hidupnya yang lalu. Semoga buku-buku Dini bisa hidup kembali dan dibaca oleh lebih banyak orang, dan lebih memberi berkah bagi sang penulis.

Saat ini Dini tinggal di Wisma Lansia Wangen Werdhasih di Lerep, sebuah desa yang tenang di lereng gunung Ungaran, sekitar 30 km di selatan kota Semarang. (Semoga Ibu Dini selalu dalam keadaan tenteram lahir bathin dan diberkahi kesehatan).

Paris, 24 Maret, 2010

Mei

5 thoughts on “Argenteuil

  1. astridfelicialim

    iya ya, emang kisah hidup Dini itu ibarat novel..padahal nggak ada unsur fiksi sama sekali.. anyway, love your review as always mei…dan jadi kangen juga baca bukunya Bu Dini…Terakhir yang aku baca itu Jepang Negerinya Hiroko.

    1. ya dini emg pencerita yg ulung, smua jd berasa novel…
      thx astrid… aku malah suka bgt cara kamu review buku, mirip review2 di 501 must read book, say about the book in a nutshell, yet it ends up so inviting…🙂

  2. mademelani

    halo mba monda… ya nih belum nulis lagi, lg sering jalan soalnya… baca jalan terus sih, skrg udah ada bbrp buku yg selesai dibaca tp blm ditulis, hrsnya selesai baca lgsg tulis ya, biar masih melekat kesannya.
    makasih ya udah mampir walo blm ada yg baru..🙂

  3. Pingback: Sastra Indonesia Reading Challenge: Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang – Nh. Dini | ma petite bibliothèque

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s