The Secret Life of France

The Secret Life of France

Lucy Wadham

Faber and Faber, London, 2009

Memoir, Bahasa Inggris, 266 hlm.

Sebuah non-fiction, perpaduan antara esai dan memoar, dari seorang wanita berkebangsaan Inggris yang tinggal di Perancis selama lebih dari 20 tahun, Lucy Wadham. Buku ini memuat pengalaman pribadinya, sebagai seroang ibu dan istri dari seorang perancis, dan belakangan juga sebagai jurnalist bagi BBC, berkenalan dengan dan hidup di negeri keduanya, yaitu Perancis. Dibuat dalam bentuk esai atas beberapa tema, khususnya french attitudes, yang ia anggap menonjol dan membandingkan dengan budaya anglo-saxon darimana ia berasal, antara lain sikap terhadap sex, marriage, adultery, money, work, happiness, war and race.  Sambil mengulas semua itu, pertanyaan identitias diri tidak jarang muncul dan menjadi bahasan yang menarik.

Selama masa 20 tahun lebih tinggal di Perancis, Lucy Wadham selalu tinggal di Paris, kecuali pada beberapa saat terakhir, ia tinggal di suatu propinsi di luar Paris. Kehidupan di propinsi atau pedesaan sangat berbeda dengan kehidupan kota Paris, begitu juga dengan orang-orangnya. Dan saya setuju dengan hal ini. Karenanya, segala pendapat dan perasaan subjektif penulis yang tertuang di buku ini harus lebih dilihat dalam konteks pengalamannya tinggal dan berhubungan dengan orang-orang perancis di Paris.

Saya membaca buku setelah tinggal di Perancis selama 2 tahun. Beberapa pengalaman penulis dapat saya kenali dengan jelas karena saya pun pernah mengalaminya atau pernah melihat hal tersebut. Namun ada juga beberapa pengalaman yang saya tidak bisa menghayatinya secara dalam karena saya tidak mengalami apa yang ia alami (misalnya saya tidak menikah dengan seorang pria perancis) dan hidup kami yang sementara di sini tentu berbeda dalam hal kedalaman interaksi dengan hal-hal lokal. Banyak hal telah disediakan begitu saja kepada kami seperti kepengurusan kartu penduduk (yang bila mengurus sendiri di kantor administrasi sipil tentu jauh lebih rumit, dan sering menguras tenaga maupun perasaan), begitu juga mengenai pencarian tempat tinggal, urusan asuransi kesehatan, sekolah, dan sebagainya. Banyak pengalaman penulis yang cukup membuat haru biru dalam hal-hal tersebut di atas, dan tidak semuanya saya alami. Di sisi lain, saya juga “kehilangan” kedalaman kontak dengan orang-orang lokal karena tidak menjadi bagian dari suatu keluarga perancis dengan segala kebiasaan, pola pikir, selera, ataupun sikap mereka yang khas terhadap dunia luar.

Tapi satu hal yang saya rasakan sama adalah hubungan “love and hate” yang hampir selalu ada setiap kali berpikir tentang Perancis, orang perancis maupun bahasa perancis… Ya, dirindukan, sekaligus dikeluhkan. Didamba sekaligus dicaci. Walaupun penulis berasal dari suatu negara barat yang maju seperti Inggris dengan budaya anglo-saxon yang sudah begitu mengglobal, dan secara geografis begitu dekat dengan Perancis, dan saya yang berasal dari suatu negara dengan budaya timur yang banyak berbeda dengan budaya barat pada umumnya, ternyata banyak perasaan dan pendapat yang sama yang saya temukan. (Mungkin Perancis memang sedemikian “antik” dan unik…?). Namun perlu juga diingat bahwa banyak hal yang ditulis penulis di sini adalah dalam kerangka pengalamannya sebagai seorang Inggris yang tinggal di Perancis, dan seperti dalam membaca buku-buku referensi, pada akhirnya kita bisa mengambil sikap apakah kita setuju sepenuhnya atau tidak dengan beberapa pendapat sang penulis.

Buku ini jauh dari cliche. Buku ini bahkan mengusik prakonsepsi (yang suram maupun yang romantis) yang umumnya kita miliki tentang negeri Perancis, menampilkan banyak paradoks (yang mengasikkan dibaca karena selalu membuat kita tersenyum sekaligus berpikir), dan berusaha mengulas what’s on french’ mind dan kenapa suatu hal bisa dianggap begitu penting oleh orang perancis dan tidak oleh dunia (barat) pada umumnya.

Mengapa perempuan perancis terlihat begitu berbeda dari kebanyakan bangsa Eropa lain? Kenapa berurusan dengan pelayan cafe, restaurant atau penjaga toko, pegawai kantor pos maupun pegawai kantor administrasi sipil bisa sedemikian “menyebalkan” dan sering menguras perasaan? Kenapa orang perancis sangat berfokus pada ide-ide dalam setiap percakapan, mengapa mereka hampir selalu menjawab pertanyaan dengan “je pense que… ” (I think….) dan sulit sekali untuk tidak melibatkan pendapatnya akan segala sesuatu? Dan karenanya dapat dimengerti mengapa banyak acara debat di televisi, juga artinya kita harus selalu siap dengan “je pense que….” dalam setiap percakapan, baik di meja makan, di kelas, di jalan… (phiuwh… dan ternyata hal ini juga dirasakan oleh penulis yang berasal dari London!). Mengapa sensualitas begitu penting bagi orang perancis? Apa artinya bagi mereka tinggal di Paris (dan menjadi parisien) dan bedanya dengan mereka yang tinggal (sedikit) di luar Paris? Adalah beberapa pertanyaan yang tersirat dibahas di buku ini, selain beberapa esai dan ulasan mengenai politik luar negeri, arti egalitaire dalam hidup sehari-hari, juga sedikit menengok masalah rasisme dan integrasi di negeri ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa Perancis menjadi Perancis yang sekarang adalah juga karena sikap orang-orangnya, yang cenderung memiliki selera yang sangat tajam akan segala sesuatu, entah mereka sangat suka atau sangat tidak suka akan sesuatu hal, dalam seni, gastronomi, cara membawakan suatu pertunjukan, penataan museum, selera humor, fashion, aturan sopan santun, l’art de vivre….

Lucy Wadham dilahirkan di London dan sempat mengenyam pendidikan di Oxford. Ia terus menulis dan berdiskusi mengenai tema-tema The Secret Life of France dalam blognya: http://www.secretlifeoffrance.com. Ia juga seorang penulis novel dengan tiga novel yang sudah diterbitkan, yaitu Lost, Castro’s Dream, dan Greater Love.

Paris, 24 Maret, 2010

Mei

2 thoughts on “The Secret Life of France

    1. mademelani

      ya mbak Monda, bacaan ttg interaksi dgn budaya berbeda selalu menarik (asal ditulis dgn tetep menghormati budaya lain itu ya). kebetulan nih ketemu yg tempatnya sama, walo pengalaman si penulis jauh lbh lama dan lbh dlm, jd dpt other perspectives.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s