Le Fils de l’Homme Invisible

Le Fils de l’Homme Invisible

François Berléand

Stock, 2006

Memoir, bahasa perancis, 215 hlm.

Suatu perkataan dari orang dewasa ternyata bisa begitu melekat dan mempengaruhi pikiran seorang anak. Atau dengan kata lain, si anak mengartikan secara berbeda lalu mempercayainya begitu saja. Demikianlah yang terjadi pada François Berléand. Suatu malam di musim dingin, saat sedang santai di rumah, ayah François, yang memang sedang mabuk oleh vodka, tiba-tiba mengatakan, “De toute façon, toi, tu es le fils de l’homme invisible.” (“Anyway, you, you are the son of the invisible man“). François, 11 tahun, yang saat itu entah sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, mendengar kalimat tersebut tanpa tahu dalam konteks apa perkataan sang ayah saat itu, menyerap begitu saja, dan mempercayainya! Sejak saat itu François selalu membayangkan dirinya adalah memang anak dari The Invisible Man, tokoh komik yang sedang sangat populer pada jaman itu (awal tahun 60-an).  Pikiran itu begitu melekat sampai ia benar-benar percaya bahwa ia adalah anak dari The Invisible Man (Le Fils de l’Homme Invisible).

Maka dimulailah serangkaian tingkah laku aneh (dan lucu!) dari François, semata-mata karena ia percaya bahwa ia invisible – orang lain tidak bisa melihat dirinya namun ia bisa melihat mereka. Dari sudut pandang François logis saja semua yang ia lakukan itu karena berprinsip ia tak terlihat, namun tentu saja semua ini menimbulkan serangkaian masalah, di rumah, di sekolah, di jalan, dan di tempat-tempat lain dimana François berpikir bahwa ia ‘mempraktekkan’ ke-takterlihat-annya itu. Belum lagi saat ia ditanya oleh guru, kepala sekolah atau ibunya mengenai kenapa ia melakukan apa yang ia lakukan itu, masing-masing pihak berpegang pada logikanya masing-masing, dan toh perdebatan itu bisa berjalan dengan logis! Pada akhirnya François tetap mempercayai bahwa ia adalah anak dari The Invisible Man yang terkenal itu, dan lingkungan sekitar makin menganggap François bermasalah.

Banyak kejadian lucu diceritakan pada bagian awal ini, yang sering membuat tersenyum atau bahkan tertawa saat membacanya. Begitu François menginjak remaja, tuntutan lingkungan, termasuk orang tua, terhadap dirinya juga lebih serius, sehingga sedikit tanda-tanda perilaku aneh akan membawanya pada sejumlah ahli terapis atau psikolog. Cara terapis itu memperlakukan François juga sering membuat gemas, karena tergolong sangat rigid, yang mungkin memang dipandang sesuai pada jamannya saat itu. Pada bagian ini mulai terasa hidup François suram, dan bahkan ada bagian-bagian tertentu yang menurut saya begitu tragis. François yang riang pada masa kecil, pada usia remaja ini berubah menjadi tertutup dan cenderung suram memandang dunia. Sampai kapan semua ini berlangsung, dan akankah ia melewati masa remajanya dengan baik?

François Berléand pada Festival Cannes 2004 (foto Wikipedia)

Kisah yang sekiranya lucu pada bagian awal, menjadi terasa begitu lembut dan menyentuh di bagian akhir, tentang perjalanan seorang anak melewati masa kecil dan remaja untuk menuju dewasa dan menjadi dirinya sendiri. Ditulis dengan bahasa yang begitu mengalir, penuh humor sekaligus emosional. Sekali mulai membaca, sulit untuk dihentikan sehingga buku 200-an halaman ini selesai ‘terlalu’ cepat.

François Berléand adalah seorang aktor perancis dengan riwayat karir yang panjang dalam dunia perfilman (cinema maupun film pendek), televisi dan teater. Lahir pada tahun 1952 dari seorang ayah rusia dan ibu perancis. Le Fils de l’Homme Invisible (The Son of the Invisible Man) adalah satu-satunya buku yang pernah ia tulis. Ia menulis buku ini setelah menceritakan kisah masa kecilnya ini kepada rekannya Nadine Trintignant, yang lalu meyakinkannya bahwa kisah ini harus ditulis. Le Fils de l’Homme Invisible memperoleh penghargaan Prix des Lecteurs pada tahun 2008, suatu penghargaan dalam bidang literatur di Perancis yang mendasarkan penilaian pada masukan pembaca.

Paris, 31 mai 2010

Mei

2 thoughts on “Le Fils de l’Homme Invisible

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s