Dua Ibu

Dua Ibu

Arswendo Atmowiloto

Gramedia Pustaka Utama, 2009 (1980)

Novel, bahasa indonesia, 300 hlm.

Dalam kehidupan ada dua macam ibu. Pertama, ialah sebutan untuk perempuan yang melahirkan anaknya. Kedua, ialah sebutan untuk perempuan yang merelakan kebahagiaannya sendiri buat kebahagiaan anak orang lain, dengan rasa bahagia pula“. Siapa pula yang akhirnya kita panggil “Ibu”, dengan mesra dan dengan segenap kerinduan hati: seorang perempuan kaya raya yang melahirkan kita namun kemudian meninggalkan kita, atau seorang perempuan miskin sederhana yang menemani dan membesarkan kita dengan penuh ikhlas? Kira-kira itulah pertanyaan yang ingin dilontarkan oleh Arswendo dalam bukunya yang dicetak ulang ini.

Menyajikan cerita kasih dan sayang, antara Ibu dan anak-anaknya. Walau hidup dalam serba keterbatasan, tidak peduli ia apakah anak-anak tersebut anak kandungnya ataukah anak orang lain, semua diasuhnya tanpa pernah mengeluh. Tokoh Ibu yang begitu sederhana terasa begitu kuat, dalam karakter, dalam sikap hidup, dalam kesabaran, dalam pengharapan yang tak pernah pupus akan kebahagiaan anak-anaknya. Membekas dalam di relung hati anak-anaknya, nama yang selalu dibisikkan saat mereka dihampiri bahaya, atau yang dirindukan saat jauh dari rumah. Ya, ini memang sebuah kisah tentang kasih dan sayang, yang mengungkit kenangan, tak jarang membawa rasa haru, namun juga menggeser paradigma.

Diceritakan dengan gaya khas ala Arswendo, yang terasa begitu natural dengan adegan-adegan dan percakapan yang begitu sehari-hari. Ada haru, ada lucu dan tak jarang lugu. Membaca buku ini layaknya sedang menonton pertunjukan teater, semua tergambar jelas di depan, tindak-tanduk tokoh-tokohnya, percakapan mereka, latar belakang lingkungan rumah, jalan, stasiun. Cerita berlatar pada pada situasi di kota Solo, Surabaya dan Jakarta pada sekitar awal tahun 60-an. Semua tergambar hidup: becak, kereta api dengan penumpangnya yang selalu berdesakan, juga Jakarta di masa ketika tempat-tempat seperti Harmoni, Jatinegara, Pasar Senen, Pasar Baru maupun Sarinah masih membawa kebanggaan tersendiri. Menurutku ini lah salah satu kekuatan Arswendo, menghadirkan cerita yang sederhana, sehari-hari, namun sangat hidup, seperti buku-bukunya yang lain yang aku kenal dulu. Aku masih ingat saat membaca bukunya “Mengarang Itu Gampang”, aku sudah merasakan bahwa menulis itu benar-benar gampang, bahkan saat aku sedang membaca bukunya!

Buku ini ditulis Arswendo di Iowa dan Depok pada tahun 1980, dan memperoleh Hadiah Pertama Yayasan Buku Utama tahun 1981 untuk Karya Fiksi Terbaik. Buku yang begitu cepat selesai dibaca, namun begitu membekas di hati.

Paris, 2 juni 2010

Mei

3 thoughts on “Dua Ibu

  1. mademelani

    hai mbak.. iya nih, lagi mood, kmrn2 lagi mood baca dan baca aja…🙂
    ya karyanya gak bikin kening berkerut, cuma utk ‘dirasakan’ aja. sederhana tapi apik, suka istilah mba Monda…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s