Eat Pray Love

Eat Pray Love

Elizabeth Gilbert

Penguin Books, 2010

Memoir, English, 352 pages.

Baca buku ini sudah sekitar 2 bulan yang lalu. Buku yang banyak dibicarakan orang ini, ternyata (entahlah) ‘fell rather flat on me’ saja; ceritanya memang bagus, apalagi jika melihat bahwa ini adalah suatu kisah nyata, tapi ternyata bukan suatu pengalaman membaca yang ‘memorable’ buatku.

Italia – eat: Pada bagian pertama ini, setelah mengalami proses perceraian yang panjang dan berat, serta putus hubungan dengan pacarnya, Liz bermaksud menghabiskan beberapa waktu di Italia, negeri yang terkenal dengan kenikmatan hidup berupa good (and delicious) food, dan ya, benar-benar kenikmatan hidup yang bernama “la dolce far niente” – the sweetness of doing nothing – yang dalam kultur amerika terasa sangat asing. Namun, mengingat tema utama bagian ini adalah eat/food, aku kok tidak merasa bacaan ini ‘so yummy’, malah agak sedikit melelahkan dengan segala keluhannya tentang hubungannya yang telah lewat. Puncaknya adalah saat ia (masih) berharap pacar terakhinya mau berubah sehingga hubungan itu bisa berlanjut kembali (dan kenapa bukan Liz yang berubah demi hubungan tersebut?). Aku sempat beberapa kali harus mengingatkan diriku bahwa buku ini bukan chick-lit, tapi memoar dari seseorang yang berumur di pertengahan 30-an. Sedikit tulisan di bagian ini yang (akhirnya) menurutku memberikan rasa yummy adalah saat Liz sekali waktu berbelanja di pasar tradisional, dan di bagian akhir saat ia berkunjung ke Sisilia dan menikmati makanan a la Sicilian tersebut, sambil mengagumi betapa para italiano di daerah itu menikmati hidup mereka begitu saja. Benar-benar dolce vita!

India – pray: Diantara ketiga bagian dari buku ini, aku paling suka bagian ini, saat Liz benar-benar ‘menemukan dirinya’. Aku pikir tidak mudah menuliskan apa yang terjadi, apa yang dialami, dan beberapa pencerahan yang ia dapat di sana, namun Gilbert (sangat) berhasil menuliskan sesuatu yang bermakna dalam tersebut dengan demikian gamblang, dengan bahasa sederhana sehingga sesuatu yang dalam tersebut demikian mudah dimengerti. Beberapa bagian aku temukan sangat inspiring, menyentuh dan reflektif. Aku benar-benar menikmati bagian ini. Di sini Liz masih sesekali ingat dengan hubungannya yang telah lewat, namun ia berhasil melakukan ‘acceptance’ dan ‘letting go’ atas semua itu.

Bali – love: Di sini Liz ingin menyeimbangkan yang namanya spiritualisme dan kenikmatan hidup, fokusnya adalah pada balance, mencari keseimbangan. Tulisannya mengenai Bali, fakta dari sudut sejarah dan budaya, menarik dan lugas. Namun di sini kembali aku tidak bisa benar-benar menyelami apa yang Liz alami atau hayati. Misalnya, aku tidak melihat sosok Ketut Liyer sebagai suatu figur yang demikian ‘agung’ sehingga Liz menghabiskan tiap hari waktu bersamanya. Memang ia seorang penyembuh dengan filosofinya yang mengajak kita melihat hidup dengan sederhana, namun yang agak ‘mengganggu’ adalah keluhannya mengenai ‘bank accountnya yang hampir kosong’. Juga saat Liz tiba-tiba berteman dengan seorang wanita bernama Wayan, yang sejak awal aku merasa pertemanan itu ‘kurang genuine’ dari sudut Wayan. Juga Wayan terkesan agak membesar-besarkan perannya sebagai pengobat tradisional, terutama saat ia menceritakan usahanya membantu pasangan yang sulit memperoleh anak. Aku bahkan sempat merasa ‘ini fiksi atau cerita nyata ya?’. Yang agak janggal juga saat Liz menganalisa fenomena ‘jam karet’ yang sering terjadi di sini, yang menghubungkannya dengan dinamika penghayatan emosional spiritual orang Bali atas waktu, bahwa yang namanya 24 jam di belahan dunia Barat belum tentu sama dengan yang terjadi di Bali. Padahal, istilah ‘jam karet’ adalah sekedar kritik terhadap kedisiplinan kita sendiri terhadap waktu. Mungkin juga dari sudut pandang Liz sebagai orang ‘barat’, segala sesuatu yang mengandung sifat mistis terasa menarik, eksotis, dan sayangnya di sini aku mendapat kesan ia menelannya bulat-bulat saja. Selebihnya cerita bergulir menuju ‘happily ever after’, dimana Liz akhirnya menemukan ‘love’ yang menjadi tema di bagian ketiga ini.

Jadi, secara umum memang aku menemukan bagian-bagian yang menarik (bahkan inspiring) dari buku ini, tapi aku tidak bisa sepenuhnya menghayati apa yang Liz rasakan, sehingga buku ini terasa ‘agak datar’ saja. Namun yang aku kagumi benar lebih pada cara penulis menjelaskan atau menggambarkan sesuatu. Banyak dari isi buku ini yang membicarakan hal yang sebenarnya sulit untuk dideskripsikan, namun Gilbert mampu dan berhasil menjelaskan hal yang sulit dijelaskan itu dengan gamblang dan mengena. Misalnya mengenai penemuan dirinya saat berada di India, apa itu bahagia, juga saat ia ber-refleksi mengenai ‘cinta’ saat berlibur di Gili Lombok.

Kini filmnya sudah diputar di mana-mana. Sampai saat ini aku belum terlalu niat untuk menontonnya, mungkin karena sudah membaca bukunya (film cenderung dibuat lebih dangkal daripada buku). Juga, karena peran Felipe di film tiba-tiba berubah menjadi pria muda dan tampak agak ‘gondrong’, sementara di buku digambarkan sosok Felipe sudah agak tua dengan bentuk kepala picassoesque (seperti Picasso).

Mei

Balikpapan, 5 November 2010

2 thoughts on “Eat Pray Love

  1. Welcome home mel, jadi udah mukim di bpp ya, remajaku sbgn di sana lho. Sama, aku jg nggak menemukan keasyikan di buku ini, lebay aja menurutku, nggak jelas juga apa yg membuat dia gelisah gitu, bacanya banyakan lompat he..he..

  2. mademelani

    TQ mbak Monda! ya so far sih seneng di sini, hidup jauh lbh tenang (dan nyaman), dan makanan enak2🙂
    yup, ternyata mmg gak semua fans eat pray love ya… emg lebay, terutama di bagian2 awal, hmpir aku drop jg…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s