Balada Ching-Ching

Balada Ching-Ching (dan Balada Lainnya)

Maggie Tiojakin

Gramedia Pustaka Utama, 2010

Short Fiction Anthology, Bahasa Indonesia, 175 pages.

Maggie Tiojakin banyak dikenal orang melalui artikel fiturnya di berbagai media; untuk pembaca di Indonesia mungkin lebih mengenal tulisannya di The Jakarta Post Weekender, walau ia juga menulis di beberapa media berbahasa inggris yang berasal dari luar negeri. Ia juga penulis (dan pecinta) cerita pendek (fiksi pendek), yang mana karya-karyanya juga sudah banyak dimuat antara lain di Writers’ Journal, Voices, Femina, La Petite Zinc, The Jakarta Post, Kompas, TNY, dan Eastown Fiction. Kumpulan cerita pendeknya pernah diterbitkan dalam bentuk buku berjudul Homecoming (And Other Stories), dan Balada Ching-Ching (Dan Balada Lainnya).

Kecintaannya kepada cerita pendek sedemikian besar hingga ia tampaknya memang memfokuskan diri pada genre ini dalam bersastra. Ia mengelola blog bernama Fiksi Lotus, yang memuat hanya cerita-cerita pendek bermutu dunia yang ia terjemahkan dari jurnal sastra atau sumber lainnya, untuk sebuah misi mengenalkan fiksi pendek dunia kepada khalayak yang lebih luas. Sedikit mengenal Maggie Tiojakin melalui biodata dan keseriusannya terjun total di dunia fiksi pendek cukup membuatku penasaran ingin membaca bukunya yang ada sekarang, Balada Ching-Ching.

Membaca cerita-cerita Maggie, kita akan segera menangkap bahwa hal sesederhana apapun bisa membuahkan cerita. Suatu episode pendek di suatu salon pijat refleksi, atau suatu malam saat Jakarta mati listrik, bisa bergulir menjadi suatu cerita yang akhirnya menghadirkan dunia batin/ pikiran karakternya. Ceritanya kebanyakan pendek saja, kecuali cerita “Dua Sisi” yang jauh lebih panjang dari semua cerita pendek lainnya yang ada dalam buku ini, tapi yang (sayangnya) malah membuat cerita itu agak terasa datar.

Ada 13 cerita pendek dalam buku ini. Membaca 4 cerita pertama yang disuguhkan (“Anatomi Mukjizat”, “Liana, Liana”, “Apa Yang Kamu Lihat Di Kartuku, Sayang?”, dan “Kawin Lari”), aku belum bisa benar-benar masuk ke situasi ceritanya. Baru pada cerita ke-5, “Balada Ching-Ching”, aku merasa penulisannya jauh lebih mengalir dan aku bisa masuk ke situasi yang dihadirkan, bahkan rasanya aku ikut menyeringai bersama Ching-Ching di akhir cerita. Juga penggambaran tokoh ‘ayah’ dalam cerita itu demikian natural. Cerita-cerita pendek sisanya aku temukan juga cukup mengalir (kecuali “Dua Sisi” tadi), bahkan ada beberapa yang mengandung unsur tidak terduga. Kebanyakan memang berawal dari suatu situasi yang sangat biasa dalam suatu hari, lalu masuk ke alam pikiran tokohnya; ada rasa sedih, sesal, harapan, semua yang sangat manusiawi, dengan tokoh-tokohnya yang jauh dari sempurna. Cerita yang aku paling suka adalah “Balada Ching-Ching” dan “Sekali Seumur Hidup”.

Pernah mencoba mencari bukunya yang pertama, Homecoming, tapi tak kutemukan, tampaknya sudah tidak beredar, atau mungkin memang tidak beredar di Indonesia? Maggie Tiojakin telah menghadirkan, paling tidak melalui bukunya ini, suatu kumpulan fiksi pendek yang layak diapresiasi dan memperkaya dunia sastra Indonesia.

Mei

Balikpapan, 4 November 2010

4 thoughts on “Balada Ching-Ching

  1. Belum baca buku ini (duh, hampir semua kyknya buku2 yg mba mei baca blm pernah aku baca deh!). Tp sering liat buku ini dipajang di toko2 buku😀
    Oya, aku sempat baca buku kumpulan cerpen oleh beberapa penulis, salah satu penulisnya Maggie Tiojakin ini, judulnya “Un Soir du Paris”🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s