Manjali dan Cakrabirawa

Manjali dan Cakrabirawa

Ayu Utami

KPG, 2010

Novel, Bahasa Indonesia, 251 hlm.

Manjali dan Cakrabirawa adalah kelanjutan dari novel Ayu Utami sebelumnya, Bilangan Fu, yang sudah kubaca beberapa tahun yang lalu. Manjali dan Cakrabirawa ini masih berkisar tiga tokoh utamanya, yang sudah ada sebelumnya di buku Bilangan Fu, yaitu Marja – si gadis ibukota di usianya yang hampir dua puluh tahun, Yuda – pemanjat tebing dan kekasih Marja, dan Parang Jati, si pemanjat tebing yang dikenal dengan prinsipnya ‘memanjat tanpa harus melukai tebing’, sabahat Yuda dan juga Marja.

Awalnya Yuda menitipkan Marja, kekasihnya, berlibur bersama Parang Jati. Mereka lalu menjelajah alam pedesaan Jawa serta candi-candi, yang terpencil dan tidak banyak dikenal orang. Parang Jati juga mengajak Marja ikut dalam ekspedisi penggalian sebuah candi yang baru ditemukan. Perlahan tapi pasti Marja jatuh cinta pada sahabatnya sendiri, yang banyak membuka mata dan pikirannya, sehingga ia tidak hanya menjadi gadis kota ‘yang tak senang berpikir, sekalipun mempunyai perangkat untuk itu’. Parang Jati mengisahkan banyak dongeng maupun rahasia dibalik hutan-hutan, candi-candi, kisah cinta maupun sedih yang pernah ada dalam sejarah negeri ini. Sementara Yuda di tempat lain, juga mengalami pengalaman yang tidak biasa. Pada akhirnya mereka bertiga terlibat dalam serangkaian kejadian yang ujungnya saling bertaut satu sama lain. Serangkaian kejadian, atau “kebetulan, yang terjadi terlalu banyak, apakah kamu percaya bahwa itu tidak bermakna?

Kisah dibungkus dengan gaya bertutur Ayu Utami yang masih sangat sejalan dengan yang ada di Bilangan Fu. Setidaknya yang aku rasakan sebagai yang tegas, langsung, penuh muatan filosofi, sesekali mencuatkan pertanyaan yang mengacak logika, namun di sisi lain juga lembut, puitis dan sastrawi. Bahkan rima pun sempat disajikan berulang kali, yang membuat bacaan ini menjadi sesuatu yang juga terasa indah, antara lain yang kuingat: “tubuh ramping bertopi caping”, “antara membabarkan sejarah dan membabadkan sejarah”. Selain karakter-karakternya yang terasa kuat dan riil, Ayu juga sangat jeli menangkap dan menggambarkan perubahan emosi, atau bahkan nuansa, yang terjadi. Suatu tatapan mata pun bisa dilukiskan sedemikian jelas, antara tatapan mata ‘malaikat yang jatuh ke bumi’ dan tatapan mata ‘hewan liar’; antara tatapan mata yang ‘ingin dijelajahi’ dan yang ‘ingin menjelajahi’. Juga antara perasaan ‘diobjekkan’ dan ‘dibiarkan menjadi subjek’, yang semuanya mampu mengiring kita pembacanya masuk ke situasi yang sedang berlangsung. Kesemuanya hanya untuk mengisahkan cerita yang manis, sekaligus penuh misteri, rahasia, maupun teka-teki yang berhubungan dengan sejarah dan budaya Nusantara.

Dalam sampul belakang buku dijelaskan bahwa jika Bilangan Fu lebih filosofis, maka Manjali dan Cakrabirawa lebih merupakan roman petualangan ringan memecahkan teka-teki. Dalam Bilangan Fu, selalu ada makna yang bisa ditarik secara berlapis-lapis, ya filosofinya, ya sejarah, kemanusiaan, budaya, ‘romance’, atau sekedar petualangan. Di buku ini juga terasa makna yang berlapis itu, tapi dalam derajad yang jauh lebih ringan, lebih santai. Buku selanjutnya akan terdiri dari roman misteri dan roman spiritualisme kritis.

Membaca karya-karya Ayu Utami selama ini (Saman, Larung, Parasit Lajang, Bilangan Fu) selalu terasa bahwa buku itu terlalu cepat selesai. Buku ini pun selesai terlalu cepat. Semoga cepat terbit buku-buku selanjutnya! (*menunggu dengan tidak sabar*🙂 )

Mei

Balikpapan, 3 November 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s