Wolff . Kinsella . Yunita

Behaving Badly (Jangan Bandel, Ya!)/ Isabel Wolff/ Gramedia Pustaka Utama/ 2007 (2003)/ Chicklit/ Bahasa Indonesia/ 434 hlm.

Sebuah buku chicklit yang ‘agak kalem’, menurutku. Sang tokoh utama bukanlah seorang ‘drama queen‘ dan tidak memiliki sifat-sifat klise yang banyak ditemukan di tokoh chicklit, seperti gemar belanja, kacau di karir, atau yang menggebu-gebu mencari pasangan hidup. Miranda Sweet, seorang konsultan perilaku binatang, adalah pribadi yang tenang, rasional, empatik dan cenderung introvert. Buku ini berkisah tentang memulai dan membina hubungan saat perasaan bersalah dari suatu kejadian di masa lalu menghantui hingga kini. Ceritanya berjalan tenang saja, tidak ada sesuatu yang benar-benar klimaks, namun tidak juga sampai membosankan, cenderung sweet karena setiap tokoh sepertinya baik hati, kalaupun ada perilaku buruk, tidak sangat parah.

Hal yang buatku mengasikkan dibaca justru uraian tentang perilaku binatang yang menjadi klien-klien Miranda, juga pertanyaan-pertanyaan sang majikan yang terdengar naif tapi lucu ‘berperikebinatangan’, seperti “Saya pikir kucing saya obsesif-kompulsif karena terus-terusan menjilat badannya,”, atau, “Bagaimana agar tarantula peliharaan saya lebih ramah?“, atau, “Beo jenis African Grey saya terus menerus mengucapkan ‘Keparat, Brengsek!’ Apakah menurut Anda dia sungguh-sungguh?” (hlm, 82), dan sejenisnya. Menarik membaca semua pertanyaan dan analisa Miranda karena semua itu seakan membawaku kembali pada salah satu cita-citaku sewaktu kecil, yaitu ingin menjadi ahli perilaku binatang, khususnya anjing…🙂 Namun bagi yang kurang menyukai binatang sebagai teman/ peliharaan, bisa jadi uraian-uraian tersebut akan terasa membosankan. Hal lain yang buatku juga menarik adalah penggambaran bagian kota London yang tenang, dimana Miranda dengan anjing dashund-nya yang selalu berwajah khawatir, sering berjalan-jalan. Cerita ini mengajak pembaca untuk jujur pada diri sendiri (dan dengan sendirinya terhadap orang lain), berani mengungkapkan yang sebenarnya, dan bahwa pada akhirnya kebaikan lebih terpuji daripada mendendam.

Remember Me?/ Sophie Kinsella/ Dell Book/ 2009/ Chicklit/ English/ 430 pages.

Apa rasanya ketika kita bangun tidur pagi-pagi dan menemukan bahwa semua mimpi kita telah jadi kenyataan? Itulah yang dialami Lexi Smart saat bangun dari tidur di suatu rumah sakit di London, dan menemukan bahwa dirinya bukanlah seperti yang ia ingat sebelum tidur, gigi yang sempurna, tubuh terawat layaknya model, tas mewah di samping tempat tidur, dan yang paling menghebohkan adanya kenyataan bahwa dirinya telah menikah, dengan seorang pria super ganteng dan multimilioner sukses. Setelah mengalami kecelakaan mobil, Lexi kehilangan memori tiga tahun ke belakang. Dirinya dan kehidupannya ia temukan telah berubah drastis, tidak seperti yang dia ingat, bukan lagi seorang working girl yang gemar berpakaian vintage, tapi seorang eksekutif di perusahaan besar, tinggal di loft, mempunyai personal assistant termasuk yang mengurusi pembelian baju-bajunya agar lebih representatif, dan sekelompok teman-teman jet-set. Lexi seperti tiba-tiba masuk dalam dunia mimpi, namun itulah hidupnya yang sekarang. Tapi ada yang hilang dari hidup yang tampak sempurna ini, yaitu sahabat-sahabatnya, yang sepertinya juga telah menganggapnya sebagai orang asing. Walau kenyataan hidupnya sekarang tampak menggiurkan, Lexi justru makin merasa jauh dari dirinya sendiri. Dalam usaha mengembalikan memorinya yang hilang itu, Lexi menemukan banyak hal yang baru ia sadari: intrik, rahasia, dan perbuatannya yang ia lakukan tanpa penuh pertimbangan di masa lalu, termasuk terhadap orang-orang terdekatnya. Akankah ia menemukan kembali keping memori yang hilang itu? Dan, jika ya, beranikah ia menghadapinya dengan jiwa besar?

Buku ini adalah buku Kinsella ketiga yang aku baca, setelah The Undomestic Goddess dan Can You Keep A Secret? Aku sendiri belum pernah baca seri Shopaholic-nya karena dari film-nya dan sejumlah review buku yang aku baca, aku seperti sudah membaca ceritanya, dengan tokohnya yang terlalu konyol, walau tetap ada sisi humornya. Dari sedikit buku chiklit yang aku baca, menurutku Kinsella memang juaranya, setidaknya dari novel-novel lepasannya yang aku baca itu, selalu segar, seru, dengan plot yang penuh twist & turn, akhir yang memorable, dan karakter tokoh yang cukup bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Dibandingkan dengan dua buku Kinsella yang aku baca, Remember Me? ini memang agak kurang ‘greget’, agak lamban di awal dan tengah, tapi tetap seru di akhirnya. Buku ini mengajarkan, setidaknya buatku, bahwa tidak ada kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan bisa menjadi diri sendiri.

Test Pack/ Ninit Yunita/ Gagas Media/ 2010 (2005)/ Novel Pop/ Bahasa Indonesia/196 hlm.

Di buku kecil ini Ninit Yunita ingin menyampaikan pentingnya menghidupkan kembali alasan kita berkomitmen, kenapa kita memilih dia sebagai pasangan hidup kita. Mungkin kita mencintai seseorang karena suatu keadaan tertentu yang melekat pada orang itu, apakah karena dia baik, pintar, bisa juga karena dia kaya. Padahal bisa juga keadaan-keadaan itu berubah, dan apa jadinya dengan komitmen kita saat dia mendadak tidak sebaik dulu, tidak sepintar dulu, atau jatuh miskin?

Will you still love them, then? That’s why you need commitment. Don’t love someone because of what/ how/ who they are. From now on, start loving someone, because you want to.

Cerita dibungkus dengan kehidupan sepasang suami istri yang telah 7 tahun menikah namun belum dikaruniai anak, dan dalam perjalanannya mereka harus menghadapi dan menjawab kembali apa itu komitmen dan kenapa mereka berkomitmen hidup bersama. Kisah diceritakan dengan gaya bahasa yang sangat santai, bercampur antara bahasa indonesia dan inggris, juga diselingi tulisan-tulisan reflektif baik dari si istri maupun suami. Walau aku temukan beberapa pikiran sang istri tampak klise, buku ini memberi penyegaran (yang penting!) dalam kehidupan bersama pasangan. Saat keadaan pasangan kita tampak buruk di mata kita, remember the day when you fell in love…

Mei, Balikpapan, 18 Maret 2011

3 thoughts on “Wolff . Kinsella . Yunita

  1. Owh, ternyata mba Mei waktu kecil ingin jd ahli pengamat perilaku binatang ya… Kyk psikolog binatang gitu ya mba, hihi… Pantesan waktu aku gambar kecoak, tikus, dan kudanil, mba Mei bisa merasakan dg baik perasaan mereka, hahaha.. *dipentung buku sophie kinsella*
    Ah, jd pingin baca buku Wolff ini deh!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s