Down and Out in Paris and London

Down and Out in Paris and London/ George Orwell/ Harcourt/ (1933)/ Literature/ English/ 213 p.

Down and Out, jika dicari di kamus, mengandung arti antara lain: having little or no money, beggarly, penniless, impoverished, needy. Down and Out in Paris and London menceritakan tentang pengalaman Orwell saat ia hidup di dua kota itu dalam keadaan hampir ‘tanpa uang sepeser pun’. Buku ini merupakan karya panjang (novel) pertama Orwell, terbit pertama kali pada tahun 1933. Walaupun ia mengatakan sebagai karya fiksi, namun buku ini diklaim memiliki muatan autobiografis yang sangat kental.

Buku ini terbagi menjadi dua bagian, satu tentang pengalamannya saat tinggal di Paris, dan satu saat di London. Saat di Paris, Orwell tinggal di sebuah hotel kumuh dan bekerja sebagai ‘pekerja kasar’ di dapur restaurant. Perjalanan nasib yang tidak mulus sebagai penulis lepas di akhir tahun 20-an, Orwell akhirnya harus menyambung hidup dengan bekerja serabutan. Berteman dengan seorang Rusia yang juga tinggal di suatu kamar yang tidak kalah kumuh, mereka berdua berkeliling mencari pekerjaan, saling memberi informasi, berbagi sisa peser uang yang ada, bersuka cita bersama saat ada berita bagus, atau kecewa bersama saat mengetahui bahwa harapan mereka ternyata terlampau tinggi. Kadang mereka sama sekali tidak makan selama beberapa hari, atau hanya mampu membeli sepotong roti setengah basi dan secangkir teh untuk pengganjal lapar seharian, yang mana sangat sulit kubayangkan untuk bertahan dalam kondisi itu di kota Paris atau di mana pun, apalagi saat udara masih dingin dan kenyataan bahwa mereka harus berjalan kaki berkilo meter untuk mencapai suatu tempat, sengaja tidak naik metro demi menghemat uang. Di bagian ini kita juga disajikan realitas kondisi dapur yang demikian jorok, berbeda dengan kesan chic yang dilihat pelanggan di mana makanan disajikan, dan Orwell meyakini demikianlah kondisi umumnya dapur-dapur restaurant di kota Paris, termasuk restaurant yang tergolong mewah sekalipun. Penggambaran Orwell mengenai hirarki kerja dan dinamika ‘kelas sosial’ di suatu dunia kecil tempatnya bekerja juga sangat jelas dan nyata, membuktikan pengamatannya yang detil atas segala sesuatu, yang kasat mata maupun tidak.

Undoubtedly the most workmanlike class, and the least servile, are the cooks. They do not earn quite so much as waiters, but their prestige is higher and their employment steadier. The cook does not look upon himself as servant, but a skilled workman; he is generally called “un ouvrier”, which a waiter never is. He knows his power – knows that he alone makes or mars a restaurant, and that if he is five minutes late, everything is out of gear. He despises the whole non-cooking staff, and makes it a point of honour to insult everyone below the head waiter. And he takes a genuine artistic pride in his work, which demands very great skill. It is not the cooking that is so difficult, but the doing everything to time. …… He was an insufferable bully, but he was also an artist. It is for their punctuality, and not for any superiority in technique, that men cooks are preferred to women. (p. 76)

The plongeurs, again, have a different outlook. Theirs is a job that offers no prospects, is intensely exhausting, and at the same time has not a trace of skill or interest;…. All that is required of them is to be constantly on the run, and to put up with long hours and a stuffy atmosphere. They have no way of escaping from this life, for they cannot save a penny from their wages, … And yet the plongeurs, low as they are, also have a kind of pride. It is the pride of drudge – the man who is equal to no matter what quantity of work. At that level, the mere power to go on working like an ox is about the only virtue attainable. (p. 78)

Di bagian London, cerita Orwell lebih menyerupai travelogue dari ‘penggelandangan’-nya menyusuri trotoar kota itu dengan beberapa gelandang lainnya. Pengalaman berada pada titik terendah dari suatu kondisi bernama ‘miskin’, membuatnya melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, sekaligus secara tak terduga bertemu dengan beberapa karakter istimewa. Salah satunya adalah Bozo, penggelandang yang juga seorang artis- pelukis trotoar, yang mengajarinya melihat banyak hal secara berbeda,

“The stars are a free show; it don’t cost anything to use your eyes.” (p. 164)

Pada kesempatan lain, Orwell menggambarkan Bozo sebagai berikut,

Clearly the phrases was not the doctor’s but Bozo’s own. He had a gift for phrases. He had managed to keep his brain intact and alert, and so nothing could make him succumb to poverty. He might be ragged and cold, or even starving, but so long as he could read, think and watch for meteors, he was, as he said, free in his own mind. (p. 167)

He had not eaten since morning, had walked several miles with a twisted leg, his clothes were drenched, and he had a halfpenny between himself and starvation. With all this, he could laugh over the loss of his razor. One could not help admiring him. (p. 186)

Setiap bagian, baik Paris maupun London, diakhiri dengan ‘refleksi’ atau pemikiran dan pendapat pribadi Orwell mengenai apa yang dilihat dan dialaminya. Beberapa pendapatnya memang terasa mendasar dan mencerminkan pengamatan Orwell yang tajam atas aspek hubungan antar manusia yang terjadi. Di sepanjang tulisannya pun Orwell sering menggambarkan segala sesuatu yang diamati, apakah itu kondisi fisik, perasaannya, ataupun mekanisme sosial yang ada, dan semua itu digambarkan dengan begitu realistik, namun sama sekali tidak sentimentil. Pembaca seperti melihat suatu ‘foto’ tentang situasi tersebut, dan ‘foto’ itu ajaibnya juga secara berlapis-lapis menggambarkan kondisi yang lebih detil lagi di dalamnya. Satu hal yang bisa ditarik dari sini, penindasan itu, menurut Orwell, ada dalam berbagai bentuk dan rupa, dan sering kali untuk alasan yang sebenarnya sama sekali tidak penting.

Rue du Pot de Fer di Quartier Latin (photo credit: http://www.orwell.ru)

Tahun lalu aku sempat menyusuri rute Paris Literary Walk dari buku Lonely Planet – Paris, dimana melalui buku LP itu kita dituntun untuk mengunjungi tempat-tempat ‘sakral’ beberapa sastrawan dunia yang pernah hidup dan berkarya di Paris, seperti Ernest Hemingway, Oscar Wilde, George Orwell, dan beberapa lainnya. Dalam rute berjalan kaki belasan kilometer itu, kita diajak mendatangi bekas tempat tinggal, hotel, café, atau tempat-tempat lain yang sering mereka kunjungi, yang kebetulan semuanya ada di wilayah Left bank – Quartier Latin. Hotel George Orwell masih ada pada tempatnya, di Rue du Pot de Fer, yang di buku ini Orwell sebut sebagai Rue du Coq d’Or, di jalan kecil di pedalaman Quartier Latin, tidak begitu jauh dari area intelek Sorbonne dan Pantheon. Hotelnya sendiri kalau tidak salah sudah berubah fungsi menjadi dormitori, sesuai plat yang ada disana. Sederetan café dan bistro (restaurant kecil) masih ada di sepanjang jalannya, dengan suasana cenderung santai, vintage, jauh dari kesan mewah – nuansa kota lama Paris. Saat menyusuri jalan itu, aku belum membaca buku ini, namun sudah pernah mendengar bahwa Orwell pernah menjadi pencuci piring di sebuah restaurant di Paris. Kalau aku saat itu sudah membaca buku ini, tentu kesan yang didapat akan jauh lebih kuat.

Yang pasti, setelah membaca buku ini, aku lebih mensyukuri dan melihat makanan (berlimpah) yang hadir begitu saja di depanku secara berbeda, lebih berpikir sebelum menghabiskan uang untuk alasan yang tidak jelas, dan lebih menghargai perjuangan mereka yang harus hidup di jalan-jalan.

Down and Out in Paris and London, dan juga karya-karya Orwell lainnya juga dapat dibaca free online di www.george-orwell.org.

Mei, Balikpapan, 24 Maret 2011.

 

4 thoughts on “Down and Out in Paris and London

  1. Reviewnya bagus, sukaaa..

    Aku rasa aku suka sama karakter Bozo deh, seniman gelandangan yg bahagia dg hidupnya.. Seniman emang punya pemikiran yg unik ya mba..
    Kalo bisa sih pinginnya jd seniman kaya yg bahagia ya..😀

    Met hari minggu, mba Meiiii..🙂

  2. review yg bagus… (sy ingin belajar menulis review seperti ini🙂 )

    ” Kalau aku saat itu sudah membaca buku ini, tentu kesan yang didapat akan jauh lebih kuat. ”
    eh, apakah beda citra yg kita temukan pada objek , sebelum dan sesudah membaca buku/tulisan mengenai objek tersebut ?

    hmm, kesan kuat yg saya peroleh dari review ini adalah; penderitaan selalu mengajarkan lebih banyak hal ketimbang kemewahan.
    yah, sy sendiri merasakan hal yg sama.

    terima kasih atas artikelnya.
    salam..

    1. mademelani

      halo…
      ttg kesan pada objek, sblm atau sesudah membaca buku, mnrtku itu bisa mempengaruhi. bayanganku kalau aku sdh membaca buku ini saat berjalan di ‘jalannya Orwell’, mungkin yg aku lihat tidak semata sederetan meja kursi di teras restaurant, tp terbayang suasana dapur sibuk dan ribut di balik meja-meja restaurant yg tertata rapi… begitulah salah satunya🙂

      terima kasih kunjungannya!🙂 saya berkunjung balik, dan belajar banyak dari tulisan2 di blog Anda..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s