Greyfriars Bobby

Greyfriars Bobby/ Eleanor Atkinson/ Gramedia Pustaka Utama/ 2010 (1940)/ Literatur/ Bahasa Indonesia/ 277 hlm.

Greyfriars Bobby adalah suatu karya yang dianggap ‘klasik’, karangan seorang penulis Amerika, Eleanor Atkinson (1863-1942). Terbit pertama kali pada tahun 1940, cerita ini ditulis Atkinson berdasarkan kisah nyata terkenal yang terjadi di Edinburgh, Skotlandia, pada sekitar akhir abad ke-19.

Bobby adalah anjing kecil periang berbulu kusut yang dimiliki seorang pekerja kasar, kadang gelandangan, bernama Auld Jock. Ia mengikuti kemana saja tuannya pergi, menunggunya bekerja di ladang, ke kedai makan, juga saat harus bermalam di jalanan. Suatu saat Auld Jock jatuh sakit dan meninggal di pagi hari. Karena Auld Jock sempat mengumpulkan uang yang cukup, maka saat meninggal ia layak diperlakukan seperti orang terhormat dan dimakamkan di pekuburan untuk orang-orang terhormat, pekuburan Greyfriars.

Bobby yang sangat sedih dari hari ke hari selalu menunggui makam tuannya, tidur di atasnya, walau ada aturan anjing tidak boleh masuk ke pekarangan gereja yang sekaligus menjadi area pekuburan tersebut. Di sinilah dimulai petualangan-petuangan Bobby berusaha tetap mendatangi tuannya walau hanya untuk duduk di atas makamnya. Juga keterlibatan orang-orang di sekitar Greyfriars, termasuk Mr. Brown sang penjaga pekuburan yang awalnya tidak suka dengan kehadiran Bobby, yang tersentuh oleh kesetiaan Bobby dan akhirnya bekerja sama menyelundupkan Bobby agar ia bisa selalu bermalam di atas makam tuannya itu. Perhatian akan adanya seekor anjing terrier kecil yang demikian setia, dan perjuangan orang-orang yang membela Bobby, akhirnya meluas ke komunitas yang lebih besar. Bahkan dewan kota pun akhirnya terlibat untuk membela hak Bobby, dan orang-orang pun mulai menyebut anjing ini Greyfriars Bobby.

Kesetiaan Bobby menunggui makam tuannya berlangsung hingga 14 tahun. Ia akhirnya meninggal karena tua, dan sebuah patung lalu didirikan di samping pekuburan itu untuk mengenang kesetiaan seekor anjing kepada tuannya.

http://www.scotland-welcomes-you.com

Walau tetap ada unsur fiksi, buku ini banyak mengungkap nama-nama, tempat-tempat dan serangkaian peristiwa yang memang terjadi sehubungan dengan kisah nyata si anjing skye terrier kecil ini. Nama asli Auld Jock disebutkan di buku ini adalah John Gray, yang mana memang merupakan tuan yang sebenarnya dari Bobby si anjing dari Edinburgh ini. Hanya saja John Gray asli disebutkan bekerja sebagai polisi dan penjaga malam di kota Edinburgh. Patung Bobby sendiri memang benar ada, juga pekuburan Greyfriars, dengan patung Bobby dan kisah dibaliknya, telah menjadi objek wisata. Bar “Greyfriars Bobby” pun ada di sisi jalan dimana patung berada. Bobby sendiri dikuburkan tidak jauh dari makam John Gray.

Biasanya, aku cukup mudah terharu atau ‘jatuh hati’ jika membaca buku tentang anjing. Sayangnya, buku ini, walau banyak mengangkat kedekatan anjing dan tuannya, menurutku tidak terlalu berhasil membangkitkan rasa haru atau relasi emosinal dengan tokoh-tokohnya, termasuk dengan Bobby. Bahasa dan kalimat-kalimat di buku ini, mungkin karena faktor terjemahan, atau memang bahasa aslinya yang demikian, aku rasakan cukup kaku, dan seringkali mengacu pada nama-nama tempat yang bagi kita pembaca yang tidak mengenal seluk beluk kota Edinburgh jadi sulit untuk serta merta memahami maksud suatu kalimat atau paragraf. Kekakuan kalimat ini aku rasakan cukup mengganggu hingga agak sulit rasanya buatku untuk benar-benar ‘berada pada setting cerita’. Ceritanya sendiri sebenarnya cukup bagus.

Kisah tentang kesetiaan seekor anjing kepada tuannya yang demikian fenomenal dan mengharukan tidak hanya terjadi di Skotlandia. Kisah serupa juga ada di Jepang, tepatnya di stasiun Shibuya, Tokyo, pada tahun 1920-30an. Hachi, seekor anjing milik seorang profesor yang bekerja di Universitas Tokyo, setiap pagi mengantar tuannya berangkat kerja berjalan ke stasiun Shibuya, dan sore hari biasanya ia menunggui tuannya di stasiun tersebut dan lalu mereka berjalan pulang bersama. Suatu hari, setelah pertemuan di kampus, profesor tersebut terkena serangan jantung dan meninggal dunia. Hachi sang anjing seperti biasa datang ke stasiun untuk menjemput tuannya. Karena tidak mengerti bahwa sang tuan telah meninggal dunia, Hachi selama berhari-hari tetap menunggu kedatangan tuannya di stasiun. Demikianlah, walaupun tuannya tak kunjung muncul dari pintu stasiun, Hachi tetap datang ke stasiun Shibuya pada jam-jam kepulangan tuannya, berharap bertemu kembali dengan tuannya itu, selama kurang lebih 10 tahun.

http://www.ihup.edu

Kisah Hachi menunggu majikan di stasiun mengundang perhatian Hirokichi Saitō dari Asosiasi Pelestarian Anjing Jepang. Prihatin atas perlakuan kasar yang sering dialami Hachi di stasiun, Saitō menulis kisah tentang anjing bernama Hachi ini dan mengirimkannya ke media. Perhatian pada anjing yang setia ini pun lalu bermunculan; pengguna stasiun, pedagang, pejalan kaki, mulai terbiasa melihatnya dan menyayanginya. Akhiran “ko”, yang berarti “sayang” pun ditambahkan di belakang nama Hachi, menjadi Hachiko. Suatu pagi Hachiko ditemukan sudah tidak bernyawa di sisi lain stasiun Shibuya. Ia meninggal dunia pada usia 13 tahun. Seorang pematung kemudian mendirikan patung Hachiko di stasiun Shibuya pada tahun 1935, dan kemudian patung yang sama juga didirikan di kota Odate, tempat kelahiran Hachiko. Kisah anjing setia Hachiko ini bahkan dijadikan bahan bacaan wajib di sekolah rakyat Jepang untuk murid kelas 2 sebagai bacaan pelajaran moral, dengan tema “Balas Budi Jangan Dilupakan”.

http://www.straitstimes.com

Patung Hachiko di stasiun Shibuya telah menjadi bagian dari lanskap stasiun itu dan sering menjadi meeting point bagi orang-orang  di sana. Ia pun tak luput pula menjadi salah satu objek wisata unik di Tokyo. Kisah Hachiko pun sempat difilmkan, salah satunya adalah Hachiko: A Dog’s Story, yang merupakan remake dari film Jepang yang sudah ada sebelumnya, dengan Richard Gere sebagai pemeran utama.

Kisah-kisah patung anjing juga ada di beberapa tempat lainnya di belahan dunia, beberapa di antaranya dapat dibaca dengan menarik di blog ini.

Greyfriars Bobby versi Penguin Books

Kembali pada buku Greyfriars Bobby ini, sang penulis Eleanor Atkinson, sebenarnya tidak pernah berada di Edinburgh sebagai setting sebenarnya dari kisah Bobby ini. Ia membangun ceritanya dari kisah Greyfriars Bobby yang dikenalnya dan dari sana membangun imajinasinya. Walaupun demikian, penceritaan lokasi geografis tempat-tempat yang ada di buku ini tergolong detil, walau kadang juga membingungkan. Mungkin ini juga yang menjadi alasan pembaca merasakan sedikit ‘kekakuan’ kalimat dan kebingungan atas nama-nama tempat di Edinburgh yang berseliweran di buku ini. Sebagai orang Amerika dan tidak berada di setting cerita, Atkinson toh mampu menghadirkan aksen scottish yang kentara disana-sini dalam buku ini. Diduga ia mengenal cerita ini dan mempelajari aksen scottish tersebut dari seorang imigram Skotlandia yang ada di dekat tempat tinggalnya. Selain Greyfriars Bobby, Atkinson, yang selain penulis juga seorang jurnalis dan guru, juga menerbitkan beberapa buku novel dan non fiksi pendidikan. Buku Greyfriars Bobby juga mengilhami beberapa film, seperti Challenge to Lassie (MGM, 1949), dan Greyfriars Bobby: The True Story of A Dog (Disney, 1961).

Balikpapan, 18 Juli 2011

Mei

5 thoughts on “Greyfriars Bobby

  1. Yay! Mba Mei nulis lagiiii..🙂
    Baca review buku ini jd inget anjingku.. :((
    Aku sempet baca novel anak2 yg bertema anjing, judulnya “a Dog’s Life” (terjemahan) oleh Ann M. Martin. Bagus dan sedih jg ceritanya, hiks.. Knp ya kisah2 yg bertemakan anjing itu kebanyakan mengharukan..

    Jd inget, wkt itu liat berita di seputar indonesia, lupa kejadiannya di daerah mana. Tuan sang anjing ini meninggal krn serangan jantung di rumahnya, dan dia ga punya keluarga, cuma ditemani sang anjing (sejenis herder). Jenazahnya baru diketahui oleh tetangganya 3 hari kemudian. Sang anjing terus nungguin di samping jenazah tuannya itu. Krn anjingnya galak, ga boleh tuannya diambil, akhirnya polisi nembak mati sang anjing, huhuuu… Katanya sih takut ada rabiesnya, tp knp hrs ditembak matiiii.. :'((

    1. mademelani

      hai hai…🙂
      ya cerita anjing selalu mengharukan, mungkin krn cinta mereka pada tuannya tak bersyarat… aku jg udah baca a dog’s life dari ann martin itu, udah lama, dan sukses bikin aku hiks…. di posting ini cerita hachiko mnrtku lbh mengharukan drpd bobby, kebayang dia tiap sore nunggu di depan pintu station berharap setiap sosok yg nongol adalah tuannya… tapi lagi-lagi bukan dan bukan lagi… huuaaaah…. :((

      ya kasian bgt ya si anjing herder itu… kali ditembak mati sbg prosedur resmi utk anjing yg diduga rabies (walo blm tentu), tapi tetep aja huuah…. :(( *nangis bareng dian*

    1. mademelani

      ya tau ttg Laika, dan tau jg kl sedih jd gak mau baca… ngebayangin dia melayang utk waktu tak terbatas di ruang kosong jagat raya yg tak terhingga aja udah bikin huhuuu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s