Grotesque – Gaib

Grotesque (Gaib)/ Natsuo Kirino/ Literature (Contemporary)/ Gramedia Pustaka Utama/ 2010 (2003)/ Bahasa Indonesia/ 628 hlm.

Grotesque adalah novel kedua dari Kirino yang beredar di Indonesia. Berbeda dengan novel pertamanya, “Out”, yang menurut banyak orang bersifat action thriller (aku sendiri belum baca)Grotesque lebih mengaduk-aduk dunia ‘interior’ dan pikiran para tokohnya. Dapat dibilang bahkan keseluruhan buku ini adalah tentang pembahasan karakter tokoh-tokohnya, jalan pikiran mereka, kenapa mereka bisa memiliki pikiran dan perasaan seabsurd itu, walau tentu ada juga sedikit kejadian demi kejadian yang menggambarkan plot cerita. Bagi mereka yang berharap buku Kirino kali ini juga bersifat thriller yang penuh aksi seperti bukunya yang pertama, sepertinya akan kecewa. Aku pribadi justru ingin membaca buku ini karena, menurut beberapa review, kekuatannya ada pada penelaahan karakter-karakternya yang dilakukan Kirino dengan sangat jitu, dan bukan sekedar karena action-nya (“what’s next?”).

Adalah Yuriko dan Kazue, dua pelacur Tokyo yang tewas dibunuh dalam waktu yang tidak berjauhan, dan dengan cara yang mirip. Tentu kematian mereka menyisakan pertanyaan-pertanyaan, bukan hanya siapa pembunuhnya dan kenapa mereka dibunuh, tapi juga pertanyaan tentang siapa mereka sebenarnya dan kenapa mereka akhirnya menjadi pelacur. Yuriko dan Kazue adalah dua pribadi yang sepertinya sangat janggal untuk akhirnya masuk ke dunia pelacuran, mengingat mereka adalah lulusan sekolah elite di Tokyo; yang satu berwajah super cantik, yang lainnya memiliki karir yang diimpikan semua orang di perusahaan bergengi. Cerita dituturkan oleh kakak Yuriko, yang sampai akhir tidak disebutkan namanya. Kisah hidup mereka yang berpilin sedemikian rupa, perasaan-perasaan yang tak terpuaskan yang berkembang karena tekanan hierarki sosial yang begitu besar, semua itu akhirnya menentukan nasib mereka kelak. Kita diajak untuk masuk ke dunia pikiran sang kakak sebagai pencerita, begitu juga Yuriko dan Kazue. Emosi-emosi yang begitu kuat tersirat di antara kalimat-kalimat, yang berputar di sekitar kebencian, rasa ingin mengalahkan yang lain, namun juga perasaan sederhana berupa dambaan yang begitu dalam untuk dihargai atau diterima sebagaimana adanya.

Dari awal hingga sekitar pertengahan buku, aku sangat menikmati perjalanan karakter-karakternya, yang selalu ditulis dari sudut pandang “aku”, baik “aku” sebagai si kakak, maupun pada bab-bab dimana Yuriko atau Kazue yang bercerita. Pikiran dan perasaan yang sedang dituturkan demikian hidup. Sang tokoh seperti sedang berdialog dengan dirinya sendiri, sehingga segala pikiran dan perasaan ‘jahat’ dan absurd bisa dia lontarkan begitu saja sebebasnya. Namun di pertengahan kedua buku ini, saat mulai masuk tokoh baru, Zhang, seorang imigran China yang diduga sebagai pembunuh kedua pelacur itu, penceritaan aku rasakan jadi agak monoton. Aku jadi agak merasa anti-klimaks, padahal cerita masih jauh dari selesai, dan pertanyaan mengenai bagaimana akhir dari semua kepelikan kisah belum terungkap. Tiba-tiba buku ini jadi kehilangan gregetnya. Kirino sepertinya kehilangan gairah berceritanya, dan menyelesaikan kisah ini hanya karena memang harus diselesaikan, walau tetap ia buat dengan panjang. Setidaknya itu yang aku rasanya. Tapi aku tetap bertahan sampai akhir, dan anti-klimaks ini ternyata tidak berubah. Akhir dari kisah ini bahkan tidak memberikan kesan apapun padaku (*sigh*).

Setidaknya buku ini, dengan caranya, kembali menekankan bahwa segala masalah manusia, apakah mereka itu anak-anak, remaja, atau orang dewasa, akhirnya bermula dari rasa ingin dihargai, didengar, diterima, dan apakah orang tua, keluarga, sekolah, sistem masyarakat, atau kita sendiri kepada orang lain, memberi ruang untuk itu?

Balikpapan, 19 Juli 2011

Mei


7 thoughts on “Grotesque – Gaib

  1. mademelani

    ya lbh psikologis, psikologis yg horor… the act of killing-nya sndr tdk terlalu diulas, lbh isi pikiran dan perasaan para karakter.
    thx udh mampir ya🙂

  2. sdh baca OUT, memang cukup menegangkan. Bagi penyuka Thriller, pasti terpuaskan. GROTESQUE aku belum baca, karena referensi ini (tidak thriller) aku jadi agak malas, krn aku sendiri penyuka Thriller… Tapi buku2 Jepang memang memberikan nuansa yg berbeda dibanding novel2 barat.

    1. mademelani

      hi… ya buku ini mmg lbh psikologis tampaknya drpd OUT. aku blm baca OUT, tp dari bbrp review kyknya OUT lbh thriller dalam arti byk action nya. di buku ini lbh dibahas pikiran yg melatarbelakangi tindakan pembunuhan itu.

      yup aku jg penyuka sastra jepang, seringkali ceritanya terasa begitu original dan karakternya tidak biasa. makasih sdh main2 ke sini🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s