Norman Edwin – Catatan Sahabat Sang Alam

Norman Edwin – Catatan Sahabat Sang Alam/ Rudy Badil (editor)/ KPG/2010/ Travel Writing/ Bahasa Indonesia/ 423 hlm.

Di sekitar tahun 1976 – 1992, nama Norman Edwin identik dengan pendakian gunung, pengembaraan di alam liar yang bersifat ilmiah, dan penulis kisah perjalanan di majalah-majalah alam kala itu. Saya sendiri ‘lahir terlambat’ untuk bisa benar-benar mengenal sosok dan tulisannya saat beliau aktif menulis; pada tahun-tahun itu saya masih terlalu kecil untuk merambah bacaan sampai ke majalah petualangan alam yang berisi artikel perjalanan alam yang riil dan ilmiah, walau sempat mengingat hangatnya berita kepergian beliau di awal tahun 90-an. Dipelopori oleh ‘teman-teman seperjalanan’ Norman untuk mengumpulkan kembali tulisan-tulisan beliau, buku ini memuat sekitar 70 tulisan Norman Edwin yang tersebar di majalah “Mutiara”, “Suara Alam” maupun harian Kompas. Sang istri, Karina Arifin, PhD yang juga teman Norman menjelajah alam sejak jaman kuliah, ternyata masih menyimpan sebagian besar majalah, tulisan dan foto beliau dalam kegiatannya. Ditambah koleksi dokumentasi dari teman perjalanan lainnya, maka hadirlah buku ini. Sosok yang tadinya agak asing jadi terasa dekat melalui tulisan-tulisannya, dan memang, setelah membaca buku ini, saya jadi bisa memahami mengapa beliau demikian berkharisma di kalangan pendaki gunung atau kegiatan alam lainnya, bahkan tersirat memiliki kelompok ‘fans’ tersendiri yang mengagumi dan mengikuti sikap dan idealisme beliau terhadap alam.

Norman Edwin lahir di Sungai Gerong, Sumatera Selatan, pada tanggal 16 Januari 1955, kuliah di jurusan Sejarah Universitas Padjdjaran, Bandung, dan jurusan Arkeologi Universitas Indonesia. Beliau aktif di kegiatan Mapala UI sehingga namanya sepertinya tidak bisa lepas dari organisasi tersebut. Norman memiliki kebiasaan selalu mendokumentasikan dan mencatat perjalanan kegiatannya, yang merupakan ciri penulis tangguh, yang segera dapat dilihat dari tulisannya yang sangat detil, logis, akurat, tapi juga cukup populer dan bebas. Kegiatan kepenulisannya berkaitan dengan pekerjaannya sebagai wartawan, ekspedisi/ peneliti ilmiah, maupun misi search and rescue (SAR). Saya membayangkan ia tetap membuat catatan-catatan kecil tak peduli dimanapun ia sedang berada, di gunung, saat di dalam gua, atau di atas kapal yang senantiasa bergoyang dengan angin laut.

Buku ini terbagi dalam beberapa bagian berdasarkan tema dan setiap bagian ada beberapa tulisan yang masing-masing tidak terlalu panjang, memuat tulisan-tulisan perjalanannya yang berkaitan dengan pendakian gunung-gunung yang termasuk dalam The Seven Summits (Tujuh Puncak Dunia) – Puncak Jayakesuma di Papua, Kilimanjaro di Afrika, McKinley di Amerika Utara, Denali di Alaska, dan Elbrus di Eropa, melintasi arung jeram dan menjelajahi sungai-sungai yang menembus hutan dan peradaban Dayak di Kalimantan, penelusuran gua-gua besar dan dalam di Jawa, seperti Luweng Ombo dan penemuan spesies ikan kanibal tak bermata di dasar gua, panjat tebing di Yosemite yang dikenal sebagai “mekah”nya pemanjatan tebing curam, sampai mengarungi samudra melewati beberapa lautan dan negara di atas kapal tradisional Pinisi, dari Australia ke Maluku, dan dari Bali ke Madagaskar. Juga artikel-artikelnya mengenai sikap ‘pecinta alam’ yang sering salah kaprah, relasi alam dengan keberadaban dan perilaku manusia, seperti bukti mahakarya megalitik di lembah Lore di Sulawesi, gunung suci Penanggungan yang demikian tidak dihargai, maupun reaksi masyarakat kita atas ‘perilaku alam’ seperti gempa atau gunung meletus. Tulisan Norman penuh dengan informasi yang membuka cakrawala, sekaligus seru dengan petualangan. Namun petualangan di sini bukan sesuatu yang sekedar ‘fun’, tapi juga penuh perhitungan ilmiah, dan memang demikianlah seharusnya berpetualang dengan alam. Norman seakan ingin mengatakan untuk jangan menyalahkan alam untuk segala ‘kecelakaan’ yang terjadi karena alam hanya menjalankan ‘tugasnya pada waktunya’, seperti kapan ia harus menghembuskan badai atau udara dingin, kapan suatu gunung harus meletus, dan sebagainya, namun manusialah yang memasuki wilayah-wilayah itu yang harus membekali diri, dengan peralatan yang memadai dan sesuai, juga dengan pengetahuan. Terlalu sering kecelakaan ‘sepele’ namun berakibat fatal terjadi lebih karena sikap ‘ignorant’ manusia. Mengasikkan buat saya untuk menjelajah tempat-tempat sepi dan terpencil di pelosok negeri Indonesia maupun dunia yang terekam di buku ini. Tampaknya semakin sepi dan terpencil suatu tempat, semakin menarik bagi Norman Edwin. Ia memang bukan individu yang sekedar mengikuti arus ‘mainstream’; semakin jauh dan sunyi suatu tempat, semakin jelas terdengar suara alam; semakin susah suatu tempat dijelajahi, semakin berkisah ia.

Tulisan Norman juga detil dengan data-data kesejarahan yang luas yang berasal dari sumber-sumber dunia, dan mengingat tulisan-tulisannya banyak dibuat di tahun-tahun akhir 70-an sampai awal 90-an dimana sebagian besar masa itu internet belum ada, saya makin mengagumi kedalaman informasi yang disampaikan. Tentu membutuhkan usaha yang tidak sedikit untuk mendapatkan dan merangkum sejumlah informasi unik dan relevan tersebut hingga menjadi tulisan yang begitu membuka cakrawala. Selain itu, bagi pembaca masa itu, membaca tulisan tentang suatu tempat terpencil di Alaska misalnya, tentu sangat membuka wawasan, mengingat jaman itu dunia belum sedemikian ‘borderless’ seperti sekarang, Alaska masih seperti tempat yang sangat jauh dan asing di dunia lain. Buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto pengembaraan alam beliau, yang walau tidak berwarna, tetap terasa ‘spesial’.

Norman Edwin ditemukan tewas, bersama rekannya Didiek Samsu, di bawah timbunan salju saat sedang memanjat gunung Aconcagua (6700 m), tanah tertinggi Amerika Latin di Argentina, pada tahun 1992. Menurut kabar, tangannya masih menggenggam kapak es dan ia berada di posisi 200 meter dari puncak. Akhirnya, ia pun tunduk dan rela dalam dekapan sang alam. Evakuasi jenazah keduanya dibantu oleh tim Tentara Nasional Argentina, dan saat tiba di tanah air diterima oleh Prof Dr Fuad Hassan selaku Mendikbud saat itu dan ribuan pelayat lainnya. “The eagle flies alone”, garuda terbang sendiri, tidak seperti bebek yang selalu mengekor, Norman dan Didiek telah berani menempuh jalannya sendiri. Idealisme Norman akan selalu hidup, salah satunya melalui buku ini.

Ditengah arus maraknya tulisan perjalanan yang mengandalkan ‘fun’ dan bersifat ‘jalan-jalan’, buku ini dapat menjadi alternatif bagi mereka yang mencari tulisan travel writing yang ‘tidak biasa’, kental dengan unsur alam, dan ilmiah, yang membawa kita “mengunjungi tempat-tempat sunyi di ujung terluar wilayah jangkauan manusia”. Rudy Badil melakukan editing buku ini dengan sangat baik, dan tulisan beliau di beberapa bab akhir dalam Lampiran turut memberi isi dan makna pada pengalaman membaca buku ini. Selain Norman Edwin – Catatan Sahabat Sang Alam ini, Rudy Badil juga mengedit beberapa buku lainnya seperti Soe Hok-Gie Sekali lagi: Buku, Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya, serta Warkop: Main-main jadi Bukan Main.

Balikpapan, 26 Juli 2011

Mei

2 thoughts on “Norman Edwin – Catatan Sahabat Sang Alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s