Untuk Indonesia yang Kuat

Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah untuk tidak Miskin/ Ligwina Hananto/ Literati/ 2010/ Non Fiction – Finance/ Bahasa Indonesia/ 240 hlm.

Buku ini telah saya baca beberapa bulan yang lalu. Pertama kali tahu buku ini dari buku Rene Suhardono, “Your Job is not Your Career”, dimana Ligwina Hananto menjadi salah satu tokoh Rock Star di sana. Satu hal paling saya kagumi dari Ligwina adalah ia memiliki misi yang jelas sebagai individu, apa yang mau ia capai dalam hidupnya, suatu mimpi yang cukup tinggi tapi tetap realistik dan bukan tidak mungkin untuk dicapai. Misinya yaitu menciptakan masyarakat kelas menengah Indonesia yang kuat. Buku ini pun banyak menyampaikan inspirasi dan ajakan untuk bersama-sama bergabung dalam misi tersebut.

Siapakah manusia kelas menengah itu? Mereka kira-kira adalah yang telah memiliki penghasilan, tidak perlu fantastis tapi cukup untuk hidup, masih bisa menikmati liburan sesekali, masih mampu rutin membeli hal-hal yang menjadi hobinya atau menikmati hiburan sekali seminggu, tidak selalu hidup mewah tapi masih bisa menggaji pembantu, atau punya tabungan. Ligwina mambuka mata kita bahwa mereka ini adalah golongan yang kuat karena sudah mampu mandiri (secara finansial), bahkan mampu membantu golongan ekonomi di bawahnya.  Dan bagusnya mereka adalah golongan yang aktif berproduksi dan merupakan porsi yang besar dalam keseluruhan penduduk. Namun, sering kali, karena ketidakpahaman atau ketidakpedulian akan pengelolaan keuangan, golongan ini kembali jatuh ke level ‘miskin’ dibawahnya, tidak memiliki tabungan atau malah berhutang.

Ligwina di sini tidak bicara tentang teori ekonomi, tapi lebih pada peran kita, manusia kelas menengah Indonesia, baik sebagai individu atau keluarga, dalam mengelola keuangan pribadi. Tabungan, investasi, dana pendidikan, dana pensiun, dana darurat, dana liburan, semua dibahas dengan cukup simple, komunikatif dan mengena pada faktanya. Intinya membantu kita menjadi kuat dan lebih kuat secara finansial, yang pada gilirannya dalam skala yang luas akan memperkuat perekonomian negara.

Saya pribadi merasa ‘tertampar’ dan belajar banyak dari buku kecil ini. Ligwina banyak merentangkan fakta-fakta sampai tahun-tahun kedepan yang membuat kita melihat situasi masa depan sebagai realitas, dan karenanya perlu diperhitungkan sebagai kenyataan mulai saat ini. Saya belajar terutama untuk hal-hal berikut:

  • Persiapan dana pensiun bukan sekedar tersedianya dana pada saat kita pensiun, tapi harus dihitung pula biaya hidup yang diperlukan untuk hidup dengan kualitas/ lifestyle yang kira-kira sama dengan sekarang, untuk kurun waktu sekitar 30 tahun! (pensiun usia 55 dan perkiraan kita hidup sampai usia 85, maka ada 30 tahun masa pensiun yang harus dipikirkan biaya hidupnya). Dengan inflasi, meningkatnya kebutuhan khusus di masa pensiun dan situasi kita yang tidak bekerja, dan kualitas hidup yang kita inginkan, berapa dana yang harus kita siapkan? Dan bagaimana mencapai dana tersebut? (*pingsan dulu ah*)
  • Pengelolaan hasil dari aset aktif, jika memang sudah berproduksi, kemana hasil/ profit dari aset itu? Jangan-jangan habis lagi sia-sia untuk hal-hal yang lebih bersifat konsumtif! (*makanya perlu pencatatan pengeluaran, non!*)
  • Berani berinvestasi (*dan sedikit lebih berani mengambil resiko, ok?*).
  • Last but not least, kembali saya diingatkan untuk ubah cara pikir dari yang selalu bertanya, “berapa penghasilanku sekarang?”, menjadi ,”berapa pengeluaranku bulan ini?”. Ligwina banyak memberikan ilustrasi bahwa kekuatan finansial pribadi ternyata tidak terlalu ditentukan oleh besarnya penghasilan, tapi seringkali dari besarnya pengeluaran. Yang berpenghasilan 5 juta per bulan bisa jadi lebih baik kondisi finansial pribadinya daripada yang berpenghasilan 30 juta per bulan, jika ia menyisihkan penghasilan untuk investasi terlebih dahulu baru untuk pengeluaran, dan mempunyai perencanaan keuangan yang baik. Yang berpenghasilan 30 juta per bulan, dengan perilaku konsumtif yang buruk dan tanpa melakukan perencanaan, bisa jadi tabungan dengan jumlah standar saja belum punya, atau masih tergantung pada orang tua untuk beberapa kebutuhan hidupnya. Di samping itu, dengan penghasilan tinggi, maka gaya hidup akan berubah tinggi juga, dan kecepatan peningkatan gaya hidup ini sering bahkan melebihi kecepatan meningkatnya penghasilan. Jika kita terseret dalam kondisi ini terus menerus, apakah kita malah terjebak pada ‘proses pemiskinan’ diri sendiri?

Walau ‘menampar’, buku ini juga memberi semangat untuk fokus dan konstruktif mengelola keuangan pribadi, dan bahwa mencapai keamanan finansial bahkan financial freedom, walau tampak jauh, bukanlah hal yang tidak mungkin. Dan, ternyata dengan pengelolaan yang baik, serta being smart dalam pemilihan kegiatan, tidak menutup kesempatan kita kok untuk tetap berlibur, beli buku, dan menjalankan hobi kita, apapun itu!🙂

Ligwina Hananto adalah pendiri dan CEO dari QMFinancial dan percaya bahwa finance should be practical.

Mei

3 thoughts on “Untuk Indonesia yang Kuat

  1. Hahaha.. ada adegan pingsannya..
    Aku suka dengerin financial clinic-nya Ligwina di radio hardrock fm, mba, walo sampe skrg msh blm punya bukunya, hehe.. (mau beli ah), kalo pas udah ngebahas hitung2annya kdg aku suka ga mudeng, hihi.. Utk pekerja lepas kan jg ada hitung2annya ya dan tampaknya cukup berat *ikut pingsan sampe lebaran*

    1. mademelani

      di buku ini hitung2annya ttg yg prinsip/ dasar aja kok, yg detil sebaiknya lgsg ke QMFinancial🙂. mgkn yg dibahas di radio lbh detil ya.
      sama, Dian, aku jg pekerja lepas (independent consultant), tp di sisi lain kontrol penghasilan jg lbh di tangan kita kan?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s