Saga No Gabai Bachan

Saga No Gabai Bachan/ Yoshichi Shimada/ Kansha Book/ 2011/ Literatur/ Bahasa Indonesia/ 261 hlm.

Suatu hari saat makan malam.

“Nek, dua-tiga hari ini, kita makan kok hanya nasi ya, tanpa lauk?”

Setelah aku berkata begitu, sambil tertawa terbahak-bahak, nenekku menjawab, “Besok nasi pun takkan ada kok.”

Aku dan Nenek hanya bertatapan mata, kemudian kembali terbahak bersama.

Saya sering mengintip halaman pertama suatu buku untuk ‘get the feeling’ tentang buku itu. Membaca cuplikan kalimat pertama dari prolog di buku Saga no Gabai Bachan di atas ini, saya tahu akan mendapatkan bacaan yang berkesan. Saya jadi tersenyum sendiri membayangkan situasi di meja makan tersebut, walau ada juga rasa miris yang menyelinap. Buku ini sarat dengan keharuan yang disampaikan dengan cerita yang lucu dan bahasa yang sangat sederhana, dari sudut pandang Akihiro, seorang bocah berusia 9 tahun.

Akihiro kehilangan ayahnya saat bom Hiroshima, dan demi keamanan, terpaksa tinggal terpisah dari  ibunya, yang harus tetap bekerja di kota itu, untuk tinggal bersama neneknya di desa kecil Saga. Kehidupannya bersama sang nenek tergolong prihatin dan sangat sederhana, namun dengan situasi itu toh mereka selalu punya hal untuk dijalani dengan penuh tawa. Akihiro tetap bisa bersekolah dengan riang dan percaya diri, bahkan berprestasi, dan dengan akal cemerlang sang nenek, mereka mengatasi kondisi kekurangan yang mereka hadapi sehari-hari. Dengan filosofinya yang sederhana, sang nenek mengajarkan bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang ditentukan oleh uang, tapi ditentukan oleh diri kita sendiri, oleh hati kita.

Sepanjang membaca buku ini, saya jadi tersenyum atas kepolosan Akihiro dan kelucuan ide sang nenek, sekaligus terharu justru karena kesederhanaan itu. Betapa sederhana sebenarnya ‘syarat’ untuk menjadi bahagia, itupun jika kebahagiaan membutuhkan syarat. Beberapa adegan bahkan berhasil membuat saya berkaca-kaca, yang membuat saya ingin memeluk Akihiro. Tapi dengan cepat pula adegan lucu hadir, yang membuat saya ingin tersenyum kembali. Bagaimana kelanjutan nasib Akihiro di Saga, dan apakah ia akan berkumpul kembali dengan ibunya dan meninggalkan Saga serta neneknya?

Kisah yang sederhana, manis, dan begitu berkesan, berasal dari pengalaman pribadi sang penulis, yang begitu bangga akan neneknya yang berasal dari desa kecil Saga.

Tertawalah saat orang terjatuh. Tertawalah saat diri sendiri terjatuh. Bagaimanapun semua orang memang lucu. (salah satu tips hidup menyenangkan dari sang nenek)

Mei

10 thoughts on “Saga No Gabai Bachan

  1. wiii salah satu wishlist ku nih mba😀
    kabarnya, si nenek ini orang yang terkesan pelit, misalnya dia ngambil makanan dari jaring yang dipasang di sungai gitu ya? meskipun kalo menurutku itu bukan pelit, tapi kreatif😀

    1. mademelani

      iya ana, si nenek tdk bermaksud pelit kok, dia jg ngajarin akihiro bedanya pelit dan hemat🙂. di saat yg lain, si nenek tidak ragu kal utk urusan bantu tetangga yg kekurangan (pdhl mrk udah cukup kekurangan ya).. si nenek ini emg kreatif bgt🙂

  2. Aku udah beli dan baca, mba Meiiii.. Memang nenek yg aneh ya, hahaha..
    Bisa ngerasain deh senangnya Akihiro pas dia punya krayon 24 warna, emg pantes dipamerin ya :)) Kyknya waktu kecil kita udah bahagia bgt ya dg sekotak krayon🙂

    1. mademelani

      adegan dia memamerkan bbrp hal itu bikin terharu banget ya… emg kudu sering belajar dr anak kecil, sederhana bgt utk jadi bahagia, gak kyk kita org dewasa byk syarat hehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s