The Wind-up Bird Chronicle

The Wind-up Bird Chronicle/ Haruki Murakami/ Vintage 2003 (1994)/ Literature/ English/ 607 p.

Toru Okada sedang memasak spageti di rumahnya di suatu siang yang tenang saat telpon berbunyi. Seorang perempuan tak dikenal berbicara diujung sana, mengaku mengenal Toru, namun sebelum pembicaraan tuntas telpon harus dihentikan. Telpon berbunyi kembali, kali ini istri Toru yang menelpon dari kantor, menanyakan tentang kabar pencarian kucing mereka yang hilang. Istri Toru sendiri suatu hari tiba-tiba juga menghilang, tidak pulang ke rumah setelah berangkat kerja.

Berawal dari pencarian kucing mereka yang hilang, dan lalu istrinya sendiri, Toru bertemu dengan berbagai karakter yang tampaknya biasa namun memiliki cerita hidup yang sama sekali tidak biasa. Satu per satu menceritakan kisahnya kepada Toru, mulai dari seorang gadis remaja May Kasahara dengan segala persoalan dan pertanyaannya, kakak beradik Malta dan Creta Kano yang memiliki kemampuan psikis indra keenam, Mr. Honda kerabat keluarga istrinya dengan perilakunya yang khas, Nutmeg dan Cinnamon Akasaka dengan kehidupan mereka yang serba ekslusif, sampai Liutenant Mamiya yang masih selalu membawa memori kekejaman perang yang sempat ia saksikan. Dan beberapa karakter lain. Begitu membaca kalimat pertama dalam buku ini, saya seperti terbius untuk terus membacanya, halaman demi halaman. Dengan pola yang lambat namun membawa kita terus masuk ke kehidupan Toru, Murakami mengubah hidup Toru Okada yang tadinya tenang dan sangat biasa menjadi penuh corak, yang semuanya berawal dari suatu siang yang tenang saat ia sedang memasak spageti.

May Kasahara menyebut Toru Okada sebagai Mr. Wind-up Bird, karena Toru pernah bercerita tentang seekor burung yang tidak tampak tapi diduga ada di salah satu pohon di halaman rumahnya, yang senantiasa bernyanyi layaknya menyambut musim semi. Serangkaian peristiwa dialami Toru dalam rangka mencari keberadaan istrinya, seakan ia masuk ke dalam pusaran (chronicle) peristiwa. Dan dari sinilah judul buku ini berasal. Apa yang terjadi dengan istri Toru dan mengapa ia tiba-tiba menghilang? Akankah Toru bertemu kembali dengan istrinya?

Dalam buku ini Murakami banyak mengangkat tema-tema kemanusiaan akibat perang, dimana manusia sepertinya bisa diurai sedemikian rupa menjadi unsur-unsurnya dan menjadi begitu tidak berarti. Adegan-adegan dari perang Jepang di daerah Manchuria maupun perang dunia kedua kerap kali muncul dan diceritakan dengan begitu detil melalui karakter tertentu. ‘Penguraian’ manusia menjadi unsur yang tidak berarti ini juga ditemukan dari kisah hidup karakter lain dalam bentuk yang berbeda. Ada sesuatu yang ‘tercabik’, dan ada usaha untuk menemukan kembali sesuatu yang hilang itu. Seperti juga Toru Okada, yang kehilangan istrinya dan melakukan segala upaya, seabsurd apapun itu, untuk memahami alasan kepergiannya, menemukannya dan membawanya kembali ke rumahnya yang tenang. Kisah bersetting di tahun 1984 dan 1985, dan seperti buku-buku Murakami yang lain, perasaan terasing dan identitas diri dalam kehidupan Jepang yang beranjak mekanistis dan modern, masih terasa. Perasaan-perasaan dasar manusia juga kadang diangkat, seperti perasaan benci yang tanpa disadari bisa begitu merasuk ke jiwa manusia:

Hatred is like a long dark shadow. In most cases, not even the person it falls upon knows where it comes from. It is like two-edge sword. When you cut the other person, you cut yourself. The more violently you hack at the other person, the more violently you hack at yourself. It can often be fatal. But it is not easy to dispose of. Please be careful, Mr. Okada. It is very dangereous. Once it has taken root in your heart, hatred is the most difficult thing in the world to eradicate. (p 312)

Walau beberapa kisah tampak tidak terlalu bersambung, pada akhirnya pembaca akan menemukan bahwa semua kisah yang diceritakan dengan detil itu terjalin sedemikian rupa, bagai sebuah puzzle tiga dimensi.  Ujung kisah pun masih memberikan hal yang mengejutkan dan berkesan bagi pembaca. Kadang kisah berpindah dari real ke surreal, lalu kembali lagi ke real, tanpa kita benar-benar menyadarinya. Dengan kemahiran Murakami, perpindahan real ke surreal dan sebaliknya itu tidak terasa mengganggu, Murakami membuat hal yang surreal menjadi begitu ‘natural’, dan kita semakin masuk ke dunia Toru Okada dan karakter-karakter lainnya. Kebenaran atau penghayatan atas apa yang dialami tidak selalu harus berdasar fakta, dan fakta pun tidak melulu berarti kebenaran.

Everything is intertwined, with the complexity of a three-dimensional puzzle – a puzzle in which truth was not necessary fact and fact not necessary truth. (p 527)

Diterjemahkan dari bahasa jepang ke bahasa inggris dengan sangat baik oleh Jay Rubin, buku ini merupakan buku Murakami ketiga yang telah saya baca setelah Norwegian Wood dan Dengarlah Nyanyian Angin, dan makin membuat saya ingin membaca buku-bukunya yang lain. The Wind-up Bird Chronicle sampai saat ini menjadi buku Murakami terfavorit yang pernah saya baca.

Mesmerizing, surreal, and beautifully written.

Mei

Denpasar, August 2011

10 thoughts on “The Wind-up Bird Chronicle

    1. mademelani

      ya so far ternyata aku suka. baru baca 3 buku sih. yg wind-up bird chronicle ini walo tetep ada unsur surrealnya mnrtku gak seabsurd norwegian wood.

    1. mademelani

      bagian akhirnya seru ya?🙂

      kyknya aku pernah baca somewhere kl mba Riana udah baca semua buku Murakami ya…? wow… plg suka buku yg mana? so far wind-up bird chronicle yg plg aku suka. next lg mau baca what i talk about when i talk about running.

      1. wah…paling suka yg mana ya? pertanyaan yg sulit karena banyakkkk banget yg aku suka, hehe…tiap buku punya keunikan masing2, so far yg aku suka “Dance Dance Dance”, “Sputnik Sweetheart” & “South of the Border, West of the Sun” tp buku2 Murakami yg lain juga asyik2 kok…temanya beda2, ending unpredictable..

    1. mademelani

      saya malah blm baca kafka on the shore… mau baca bbrp bukunya yg lain yg lbh tipis dulu🙂

      mba Ary, terima kasih ya sdh berkunjung… saya suka baca tulisannya di Othervisions! sdh langsung sy link malah sejak bbrp lama🙂

  1. mademelani

    @mba Riana… yup stlh baca bbrp bukunya, temanya mmg lain2 ya… walo karakter tokoh utamanya relatif serupa, pasti laki2 cenderung introvert, suka di rumah, jauh dr tipe maskulin, suka baca di teras sambil minum bir, dan selalu ada unsur musik, jazz, klasik ato opera! dan ya, ending selalu unpredictable, makanya jgn sampe baca spoiler, sangat mengurangi kenikmatan!

    btw bbrp minggu yg lalu baru selesai baca Sputnik Sweatheart, suka juga walo mnrtku ceritanya kurang panjang…!🙂 South of the Border, West of the Sun sdh nunggu manis di rak… juga Kafka on the Shore🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s