Tirai Menurun

Tirai Menurun/ Nh. Dini/ Gramedia Pustaka Utama/ 2010 (1993)/ Literatur/ bahasa Indonesia/ 464 hlm.

Sudah lama rasanya saya tidak membaca karya Nh. Dini dimana ia berkisah tentang suatu cerita yang bukan kehidupannya sendiri. Di buku ini Dini bercerita, dari sudut pandang narator, tentang sekelompok pekerja seni, lika-liku dan jatuh bangun kehidupan mereka dalam suatu kelompok wayang wong (wayang orang), yang di masa lalu begitu akrab dan tenar sebagai bentuk hiburan kesenian di daerah Jawa Tengah. Cerita ber-setting di tahun-tahun saat Republik Indonesia Serikat baru saja berganti kembali menjadi Negara Kesatuan, saat revolusi baru mereda dan kehidupan pedesaan kembali mengambil bentuknya.

Adalah empat insan utama dalam cerita ini, Kedasih, Kintel, Sumirat dan Wardoyo, yang diceritakan riwayatnya sejak mereka kecil bersama keluarga tempat mereka tumbuh beserta tokoh-tokoh lain, sampai perjalanan hidup mereka mencapai dewasa. Masing-masing berasal dari desa-desa kecil di sekitar Semarang. Lingkungan pedesaan dengan segala kebiasaannya diceritakan dengan lugas, termasuk jerih payah dan harapan-harapan para tokohnya yang, dalam ukuran sekarang, tampak begitu sederhana. Nasib lalu mempertemukan mereka dalam suatu paguyuban wayang wong, Kridopangarso, dimana mereka lalu bersama-sama tumbuh sebagai anak-anak wayang, lalu berkarya sekaligus mencari hidup dalam dunia itu.

Di atas panggung, mereka melakonkan berbagai cerita, cerita kepahlawanan maupun cerita romantis antara pangeran dan putri, melalui peran raja agung berkharisma, putri rupawan, maupun raksasa antagonis, dalam cerita yang berakhir bahagia ataupun sedih. Panggung dan segala lakonnya adalah suatu cerita. Sang dalang bolehlah mengatur segala lakon dan peristiwa di atas panggung pertunjukan, namun tidak demikian halnya dengan ‘panggung kehidupan’ nyata. Selepas dari panggung, mereka masuk ke dalam kehidupan mereka sendiri yang sejatinya merupakan panggung mereka yang sebenarnya. Semua hal bisa terjadi, harapan yang dipelihara sekian lama bisa pupus, pasangan menawan di atas panggung bisa saling menyakiti. Namun kehidupan harus terus berjalan, setiap individu berusaha bertahan, dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai luhur yang kerap disampaikan melalui lakon mereka di atas panggung, atau dengan melabrak itu semua.

Perubahan jaman dan pesatnya perkembangan urban pada jaman itu akhirnya mau tidak mau mempengaruhi hidup paguyuban wayang wong ini. Mampukah Kridopangarso, dengan segala talenta dan nilai-nilai yang diusungnya, bertahan ditengah arus perubahan itu, ditambah anggota-anggotanya yang berganti sejalan dengan perjalanan nasib mereka?

Nh. Dini kembali membuktikan dirinya sebagai pencerita ulung, salah satu yang terbaik yang dimiliki negeri ini, menurut saya. Bagaikan didongengi, kita mengikuti perkembangan kehidupan para tokohnya. Karakternya kuat digambarkan dan begitu nyata, setting-nya tampak hidup, dan ceritanya sangat realistik. Kentara bahwa penulis sangat memahami seluk-beluk dunia pertunjukan wayang wong dan kehidupan anak-anak wayang didalamnya. Bahasa yang dipakai pun sederhana, dengan style yang agak berbeda dari buku-buku memoarnya, lebih mirip dengan gaya bercerita di buku-buku sastra lama. Kadang bercampur dengan istilah atau ungkapan yang sangat jawa, tapi tidak mengganggu karena selalu ada keterangan terjemahannya, malah segala ungkapan itu makin memperkaya dan menghidupkan situasi ‘jawa’nya. Diselingi pandangan filosofi tradisional yang sering mengingatkan kita akan pentingnya menerima perbedaan serta sikap mengasihi sesama, membaca buku ini semakin menyadarkan kita bahwa nilai-nilai tersebut sebenarnya ada di antara kita, di akar budaya kita sendiri, namun kini telah banyak dilupakan.

Buku ini, walau kental dengan dunia panggung dan pekerja seninya, toh pada hakekatnya tidak hanya bercerita tentang panggung itu. Ada ‘panggung’ yang lebih nyata, yaitu kehidupan itu sendiri, dan melalui mata orang ketiga, kita diajak Dini menelusuri perjalanan ‘nasib’ para pelakunya. Ada bahagia, ada sedih, ada harapan dan kecewa, sampai tiba waktunya ‘tirai panggung harus diturunkan’, penanda berakhirnya satu ‘panggung kehidupan’.

Terbit pertama kali pada tahun 1993, buku ini dipersembahkan Nh. Dini bagi kawan-kawan pelaku seni sejamannya, salah satunya Bagong Kusudiardjo.

Mei

Denpasar, Agustus 2011

4 thoughts on “Tirai Menurun

    1. mademelani

      ya buku ini tampak biasa tapi ternyata cara penceritaannya spesial ya..
      ubud seru! pengen cerita.. tp lg ngejar nyelesaikan kerjaan yg tertunda krn ubud itu hehe🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s