Dua Kisah Romance a la Murakami

Kali ini saya ingin membahas tentang dua buku Haruki Murakami yang saya baca beberapa bulan yang lalu, keduanya berlatar tema romance yang cukup kental.

Buku pertama adalah Sputnik Sweetheart, terbit pertama kali dalam edisi bahasa Jepang (Sputoniku no koibito) pada tahun 1999. Sumire adalah gadis usia awal dua puluhan yang ‘tidak populer’, selalu berpakaian agak serampangan dengan sweater dan jaket yang serba kedodoran, yang dia yakini sangat mirip dengan tokoh di novel Keruoac, penulis favoritnya. Sumire sendiri adalah seorang aspiring writer, yang masih berjuang menemukan bentuknya. Sementara itu ada Miu, seorang wanita setengah baya yang sukses dan glamor, selalu ‘chic’ dalam berpakaian, dan juga populer. Dua individu yang rasanya sulit untuk akhirnya bisa berteman, yang satu tenar, yang lainnya serba kikuk, sampai pada suatu kesempatan ketika mereka bertemu dalam suatu pesta dan terjadi dialog yang sebenarnya berawal dari kesalahpahaman (antara ‘sputnik’, satelit Rusia, dan ‘beatnik, aliran sastra dalam novel Keruoac). Sumire mendapati dirinya mendambakan Miu, dan didorong kegundahan menemukan dirinya ternyata seorang lesbian, Sumire menceritakan segala kegalauannya kepada teman setianya, K (seorang pria, guru sekolah, yang sampai akhir cerita tidak disebutkan namanya), tentang apa itu hasrat seksual, haruskah ia menceritakan perasaannya kepada Miu, dan segala hal lainnya sampai ke masalah arti hidup. K selalu mendengarkan dengan perhatian yang tulus, karena ia pun sebenarnya mencintai Sumire, namun tidak pernah ia ungkapkan. Frustrasi karena perasaannya sendiri, K lalu menjalin affair dengan wanita lain, seorang ibu dari salah satu muridnya. Sampai pada suatu momen, saat Miu yang kebingungan menelpon K karena sesuatu yang sangat aneh sedang terjadi pada Sumire.

Novel ini saya katakan berlatar romance, namun yang sangat jelas diungkapkan menurut saya adalah tema kesepian. Berlembar-lembar halaman buku ini seperti merintihkan kesepian, bagaimana berada di suatu tempat yang kosong, menggapai tapi selalu tak tercapai. Tokoh-tokoh dalam cerita ini pun tampak saling berhubungan, sekaligus saling terasing satu sama lain. Lihat saja Sumire dan Miu, juga K dengan Sumire, dan si wanita dengan siapa K menjalin affair. Judul Sputnik Sweetheart pun menurut saya menunjukkan kejeniusan sang penulis dalam menggambarkan tema buku ini dalam dua patah kata, yang sangat pas dengan isi buku sekaligus mengusik keingintahuan. Kenapa Sputnik? Sputnik I adalah nama satelit buatan Rusia (kala itu Uni Soviet), suatu satelit pertama yang pernah dibuat oleh manusia, pada tahun 1957. Sputnik I berhasil mengorbit bumi dalam rentang waktu tertentu dan kembali ke bumi. Sebulan kemudian di tahun yang sama, Sputnik II diluncurkan dengan Laika, seekor anjing, di dalamnya, yang sekaligus menjadikan satelit ini satelit bermuatan makhluk hidup pertama yang pernah diluncurkan. Sayangnya, satelit Sputnik II, beserta Laika di dalamnya, tidak pernah kembali ke bumi, ia melayang, menghilang di keluasan dan ‘kekosongan’ jagat raya yang gelap tak bertepi… Membaca fakta sejarah ini saja sudah menyiratkan rasa sepi dan kosong, dan sepertinya memang itulah yang ingin disampaikan buku Sputnik Sweetheart ini.

Buku kedua adalah South of the Border, West of the Sun (Kokkyo no minami, taiyo no nishi, 1992). Kali ini tema romance-nya lebih kental, walau tetap ada unsur ‘keterasingan’ dalam bentuk yang berbeda. Hajime adalah anak tunggal dari suatu keluarga menengah di kota kecil di Jepang. Saat itu, masa post-war Jepang, menjadi anak tunggal termasuk langka, jika tidak dipandang aneh. Orang-orang dewasa dan mungkin juga teman-temannya akan memasang muka aneh , kadang prihatin, jika Hajime mengatakan bahwa ia tidak punya kakak ataupun adik. Semua temannya pasti punya kakak atau adik. Sepertinya ada anggapan yang ‘kurang’ dalam diri seorang anak tunggal. Hajime sering menyendiri dalam kesehariannya dan tidak merasa masalah dengan hal itu. Teman satu-satunya saat masa sekolah itu adalah Shimamoto, seorang anak perempuan yang juga merupakan anak tunggal di keluarganya. Shimamoto bukanlah tergolong cantik, bahkan ia memiliki suatu kecacatan fisik yang begitu kelihatan, namun tanpa harus banyak menjelaskan, Hajime merasa mereka mengerti satu sama lain. Kenangan terindah masa itu adalah saat berjalan pulang bersama, dan menghabiskan waktu yang tenang di rumah Shimamoto, mendengarkan koleksi musik ayahnya, musik klasik atau jazz jaman itu. Pretend dari Nat King Cole atau South of the Border dari Frank Sinatra, sangat membekas di benak Hajime. Bertahun-tahun kemudian, setiap mendengar alunan musik itu, Hajime terbawa langsung ke ruang duduk di rumah Shimamoto di siang yang tenang dan segala kenangan tentang gadis itu.

Kehidupan berjalan, mereka pindah kota dan berpisah, dan memasuki masa remaja yang riuh dengan dunianya masing-masing, namun tidak pernah Hajime menemukan sosok teman yang intim seperti Shimamoto. Kini Hajime telah dewasa, sukses sebagai pemilik bar jazz yang happening di Tokyo, menikah dengan seorang wanita cantik putri keluarga kaya, dan memiliki dua anak perempuan yang manis. Kehidupan yang lurus-lurus saja. Lalu tiba-tiba Shimamoto muncul kembali dalam kehidupan Hajime. Ia tampak jauh berubah, menawan sekaligus penuh misteri. Bagaimana kehidupan Shimamoto sejak mereka berpisah di masa sekolah dulu? Hajime terserap kembali ke masa lalu, segala perasaannya hidup kembali, dan begitu kuat. Akankah ia mempertaruhkan kehidupannya yang tenang sekarang untuk menggapai yang dulu hilang? Apakah ia akan terus berpura-pura bahagia sementara hatinya terasa hampa? “Pretend you’re happy when you’re blue, it isn’t very hard to do” (Pretend, dari Nat King Cole). Apakah mungkin ia menggapai yang dulu hilang? Apakah masih ada? Saat matahari terbenam di barat, adakah sesuatu di baliknya? “…what is there, west of the sun?” (hlm. 156).

Tema romance yang cukup biasa, pergolakan yang dialami Hajime pun bukan sesuatu yang tidak umum. Memang Murakami menyajikannya dengan cara yang agak berbeda, terutama di bagian awal cerita, tapi selanjutnya, saya hanya menemukan sekedar cerita romance, dengan karakter yang khas Murakami.

Tapi, saya suka dengan seri cover buku Murakami dari Vintage ini!

koleksi Murakami-ku yang keluaran Vintage

Sputnik Sweetheart/ Haruki Murakami/ Vintage/ 2002 (1999)/ English/ 229 hlm.

South of the Border, West of the Sun/ Haruki Murakami/ Vintage/ 2003 (1992)/ English/ 187 hlm.

11 thoughts on “Dua Kisah Romance a la Murakami

    1. hello okeyzz! ya bisa dibilang gitu, salah satu benang merah yg ada di buku2 murakami. mmg novel2nya byk menggambarkan ‘kegalauan’ masyarakat modern jepang (setting byk di thn 80an, modernisasi sedang pesat2nya), yg mekanistis, shg sering menjadi asing satu sama lain, bhkan dengan perasaannya sendiri.

  1. ihh aku suka banget sama cover-covernya!! aku belom pernah baca Haruki sih, ini juga lagi currently reading 1Q84, tapi emang “kesepian” dan “keterasingan” Murakami bener-bener kerasa, bahkan sejak halaman-halaman pertama. Aku ngga tau ya, tapi tiap baca kalimatnya Murakami itu, pasti kebayang lagi nonton film bisu hitam putih minim dialog dengan ide-ide anehnya dia… Yang sputnik kayaknya bagus yahh… udah ada belom ya di Indo -_-

    1. anaa… iya aku jg suka bgt ama cover2nya! semua aku beli di jakarta kok, di kinokuniya, disana ada lmyn lengkap koleksi keluaran vintage.
      penggambaranmu ttg film bisu hitam putih pas bgt tuh🙂
      setelah baca bbrp buku murakami, rasanya karakternya hmpir selalu sama, cowok non maskulin, empatik, prefer to be alone, suka musik (jazz ato klasik), minum bir, duduk di teras, baca… dan ceweknya biasanya yg super sophisticated. hampir selalu ada kucing, ato si tokoh suka kucing, dan sering ada a missing person.. walo begitu, tema di tiap buku bisa beda2 bgt🙂

  2. keren liat cover yang item putih ini🙂
    aku baru baca Kafka on Shore, awalnya, aku gak ‘ngerti’ kenapa banyak yang suka sama karya2 Murakami. Aneh banget ceritanya. Tapi, justru setelah baca kum-cer Birthday Stories, meskipun Murakami cuma ‘nyumbang’ satu cerpen, aku malah pengen baca bukunya yang lain.

    1. ya buku2 murakami emg agak bizarre. yg udah aku baca mmg yg kadar bizarre-nya belum tingkat tinggi hehe. kafka on the shore tampaknya mmg yg tinggi bizarre-nya tuh fer, makanya aku blm baca dulu😉
      aku blm baca birthday stories.. baca murakami mgkn gak perlu terlalu dipikir atau dibahas logisnya. keindahannya mnrtku justru ada pada cara dia menyampaiakan yg real sekaligus sureal, originalitas ide/imajinasinya, dan di kalimat2nya yg beautifully written🙂

  3. blm baca buku2 Murakami😦 cari buku terjemahannya yg “Dengarlah Nyanyian Angin” terbitan kpg udah sulit ditemuin… aku cuma baru baca satu cerpennya doang yg “on seeing the 100% perfect girl one beautiful april morning”😀

    reviewnya bagus, sukaaaaa…🙂

  4. Reviewnya bagus nih, bikin saya jadi kepingin baca bukunya Murakami. Selama ini memang sudah sering dengar nama penulis ini disebut dan juga sering lihat bukunya di taman bacaan, tapi belum pernah mulai baca. Tahun ini saya mulai baca ah😀

    1. mademelani

      hi Agoes, ya aku suka tulisan murakami, walau a bit bizarre di bbrp bagian🙂
      terima kasih sudah mampir. enjoy the book ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s