Mirah dari Banda

Saya menemukan buku kecil ini, Mirah dari Banda, seperti menemukan suatu harta karun yang sekian lama terbengkalai, forgotten, waiting to be found. Buku kecil ini memang tampak kurang menarik diantara sejumlah buku keluaran baru yang terpampang di rak toko buku. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah setting cerita yang bertempat di kepulauan Banda, Maluku. Seberapa sering kita temukan cerita dengan setting Maluku? Belum lagi kisah tentang pohon cengkeh, pala dan rempah-rempah lainnya yang buat saya begitu spesial, menarik. Dan ternyata, buku sederhana ini memang memberikan pengalaman membaca yang sangat menggugah, menggugah rasa kebangsaan, bahkan jati diri sebagai manusia yang lebih universal.

Pekerja di kebun pala, buah pala, biji pala, dan fuli (kulit biji pala). Pohon pala bagi Banda, suatu anugrah ataukah bencana?

Kisah bergerak dari masa kini dengan banyak flash back  ke masa lalu, terutama ke jaman kolonial saat tuan-tuan tanah perkebunan pala dan cengkeh masih berkuasa di Banda. Dimulai dengan Wendy Higgins, seorang expatriat yang sedang tinggal di Indonesia, pergi berlibur ke kepulauan Banda ke rumah teman indonesianya yang berasal dari sana. Sejak awal, novel ini sudah memikat saya dengan penggambaran keindahan alam yang begitu natural, laut yang biru hijau, kadang biru kelam, pulau gunung berapi yang menjadi pemandangan sehari-hari dari depan rumah, suasana pesta santai di teras rumah yang menghadap laut, serta riwayat pohon pala yang demikian indah dideskripsikan. Di tempat itu, entah kenapa Wendy sangat tertarik pada sosok Mirah, seorang koki di dapur yang juga bekas buruh kebun pala pada jaman kolonial, yang kemudian menjadi nyai tuan besar saat itu.  Dalam riwayatnya, Mirah lalu melahirkan anak perempuan, Lili. Pada jaman Jepang, Lili dirampas tentara Jepang, menghilang selamanya dari kehidupan Mirah. Lili sendiri lalu meninggal dunia saat melahirkan anaknya di suatu kapal penyelamat Australia, dan sang bayi lalu diadopsi oleh sepasang suami istri Australia, dan diberi nama Wendy Higgins. Ya, Wendy yang sedang datang ke rumah itu adalah anak dari anaknya, Lili, yang tidak pernah ditemuinya lagi sejak tentara Jepang mengambilnya. Tapi tentu saja baik Mirah dan Wendy tidak menyadari hal itu, hanya saja keduanya memiliki ketertarikan khusus satu sama lain yang tidak bisa mereka jelaskan. Karena, keduanya memang saling mencari; Mirah, sampai kapan pun, selalu berharap akan bertemu kembali dengan Lili anaknya, dan Wendy selalu dalam pencarian mengenai orang tua biologisnya yang ia ketahui berdarah Indonesia. Apakah akhirnya mereka ‘bertemu’, menyadari sebagai keluarga sedarah? Tentu penulis mengakhiri kisah ini dengan sesuatu yang jauh dari klise, namun justru terasa sangat riil, menyentuh, dan masih terasa indah saat kita menutup halaman terakhir.

Saya sangat menikmati perjalanan yang disajikan penulis kembali ke masa-masa kolonial dan perjuangan indonesia, juga mengenai sejarah perbudakan maupun sejarah penanaman rempah. Memang banyak kisah-kisah yang menyayat hati, mengusik rasa kemanusiaan kita, namun semuanya disajikan dengan realisme yang begitu hidup sehingga membuat kita terus membacanya. Juga dalam hal penggambaran karakternya, kita dibawa masuk menyelami jiwa mereka, misalnya karakter Mirah, apa yang ia rasakan dan pikirkan saat ia kecil, menjelang dewasa, ataupun tua. Hanna Rambe, sang penulis, memang tampak sangat menyelami dunia bathin tokoh-tokoh yang terlibat, juga detil sejarah kolonial dan pasca kolonial, perbudakan, dan tidak kalah pentingnya siklus hidup pohon rempah dan alam Maluku. Konon ia menghabiskan waktu cukup lama untuk tinggal di Banda demi mengadakan riset mengenai tempat dan budayanya. Banyak percakapan juga terjadi dalam dialek bahasa lokal, yang ternyata sangat mudah dimengerti, tinggal lafalkan saja dalam benak kita dalam logat maluku yang kental, dan semua jadi terasa hidup.

Siapakah Hanna Rambe? Saya sendiri baru menemukan satu novelnya ini. Ia dikenal sebagai seorang penulis yang melakukan riset mengenai subjek atau karakter dalam tulisannya secara detil dan mendalam sebelum mulai menulis. Hasilnya memang sangat mudah terasa dalam buku Mirah dari Banda ini. Seorang penulis dan jurnalis, tulisannya juga tersebar di beberapa media nasional. Saat ini Hanna Rambe telah pensiun dari dunia jurnalistik, dan menghabiskan waktunya dengan menulis dan mengajar bahasa Inggris. Novelnya yang lain adalah Pertarungan, sebuah novel ekologi terbitan IndonesiaTera (2002).

Penerbit Obor masih harus bekerja keras memperbaiki banyaknya salah ketik dalam buku ini. Sangat disayangkan buku yang isinya demikian bermutu ini hadir dalam kualitas fisik yang kurang baik. Jika saja semua kesalahan ketik itu diperbaiki, juga hadir dalam kualitas kertas yang lebih baik, tentu buku ini akan lebih memikat, benar-benar suatu collectable item dalam khazanah sastra sejarah/ perjuangan Indonesia. Di sisi lain, pemilihan cover menurut saya sangat tepat, diambil dari lukisan karya pelukis Indonesia dengan tema yang sangat pas, sangat erat dengan isi buku, dan terkesan ‘kuno’-nya.  Kembali ke buku ini, saya menemukan bahwa buku ini bukan sekedar novel sejarah, tapi suatu karya penulisan sejarah yang mengungkap sebentuk sejarah kemanusiaan yang penah ada di muka bumi ini. Buku ini juga dijual luas dalam edisi Inggrisnya di amazon berbagai negara dan menjadi koleksi perpustakaan di universitas-universitas dunia, juga sering saya lihat di Periplus. Sangat layak untuk dibaca, dan apakah juga dibaca luas di Indonesia? Suatu review mengenai buku ini, yang ditulis dengan sangat baik, bisa ditemukan di sini.

Mirah dari Banda/ Hanna Rambe/ Yayasan Obor Indonesia/ 2010 (2003)/ Bahasa Indonesia/ 392 hlm.

17 thoughts on “Mirah dari Banda

    1. mademelani

      halo! ya sayang ya… tp sbnrnya saya wonder jg, bagaimana karya spt Mirah dari Banda ini tampil dlm terjelamahn bhs Inggris atau bahasa lain, krn di versi aslinya ada byk logat/ kata-kata dari bahasa lokal/ maluku yg mnrt saya sangat menghidupkan situasi yg sedang diceritakan…

    1. mademelani

      terima kasih mbak Rati sudah berkunjung🙂
      ya, sy sendiri beberapa kali sudah menemukan buku-buku “treasure” dr penerbit obor… eg l’ingenu dari voltaire, kejahatan dan hukuman dari dostoyevsky, dll… dan sy berharap mrk tidak berhenti menerbitkan buku2 kelas dunia tsb, tentu dgn editing yg lbh baik ya..

  1. jadi penasaran pengen baca bukunya… soalnya saya sekarang lagi berdomisili di Maluku Utara… pengen tahu gimana sebenarnya cerita tentang pala di Maluku pada jaman kolonial dulu…

    1. mademelani

      halo Putri! wah… aku pengen banget loh ke maluku…😉
      di buku ini cerita ttg pala (dan sejarah perkebunannya, beserta perbudakan yg menyertainya) diulas cukup detil dan memikat…

  2. vera andan

    settingnya dari kampung halaman kami yang kami benar2 tahu sejarah dan latar belakang perkebunan pala yang diceritakan turun temurun…isi bukunya juga exited. Many thanks.🙂

  3. Linda Sinuhaji

    Terakhir ktemu ka Hanna thn 2010… waktu itu memang sengaja berkunjung kerumah beliau di daerah Petojo tidak jauh dari Roxi Mass… ka Hanna senang berbagi pengalaman dan suka memberi nasihat kepada siapapun….. jadi kengen n pengen lekas ketemu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s