Seandainya Mereka Bisa Bicara

Saya sudah lama tahu mengenai James Herriot, seorang dokter hewan yang bertugas di pedalaman pedesaan Yorkshire, Inggris, yang juga menulis sekian seri tulisan mengenai pengalamannya, namun baru berkesempatan membaca satu bukunya baru-baru ini. Buku ini merupakan salah satu treasure yang saya dapatkan saat berkunjung ke garage sale di rumah orang tua teman di bilangan Tebet, Jakarta, bulan Januari lalu. Terbitan 1978 dari penerbit Gramedia, dengan bentuk fisik buku dan irama terjemahan yang langsung mengingatkan saya pada buku-buku cerita anak terjemahan yang banyak saya baca sekitar tahun-tahun itu, buku ini makin terasa tuanya, pun jadi begitu berharga.

Beruntung juga saya membaca buku ini sebagai buku pertama dari James Herriot yang saya baca, karena di sini ternyata diceritakan awal mula James berkarir di pedesaan Yorkshire. Setting adalah tahun 1930-an. Sebagai dokter hewan (beberapa kesempatan lain disebutkan sebagai dokter spesialis bedah hewan) yang baru lulus, ia menerima pekerjaan magang di desa di Yorkshire. Awalnya ia menyangsikan apa yang akan ia dapat perbuat di desa terpencil itu, apakah ia akan merasa bosan mengingat sepinya daerah itu, namun disisi lain ia juga merasa beruntung karena jaman itu banyak koleganya sesama dokter hewan yang harus menerima pekerjaan apa saja atau bersedia tidak dibayar karena kurangnya lapangan pekerjaan. Setidaknya ia bekerja sesuai pendidikan profesinya dan memperoleh gaji. Ia diterima bekerja magang oleh seorang dokter hewan senior satu-satunya di wilayah itu, Siegried Farnon, seorang tua yang cukup nyentrik namun sangat baik hati, di rumahnya yang bernama Skeldale. Segera James terlibat dalam panggilan-panggilan darurat mengunjungi rumah petani jauh di pelosok baik untuk menolong lembu yang melahirkan atau sakit perut, kuda yang keracunan, anjing yang kesakitan, atau babi yang sekarat.

Rumah Skeldale, bangunan sebelah kanan, tempat tinggal James yang kini menjadi Museum James Herriot

Tidak jarang James harus bergumul di lantai kandang yang lembab dan becek dengan kotoran hewan atau cairan yang keluar dari perut hewan yang sedang ia tangani, bajunya yang jadi basah dan belepotan, atau tangannya yang kerap kali harus masuk ke tubuh si hewan. Setengah geli saya saat membaca bagaimana James membandingkan antara apa yang disajikan di kuliah dengan praktek nyata di lapangan, dimana saat kuliah selalu disajikan image dokter hewan dengan jas putihnya yang tampaknya selalu bersih dan mulus, dengan sang dokter yang tersenyum seakan-akan apa yang akan dihadapi di depannya adalah sesuatu yang paling indah di dunia, dan si lembu yang selalu duduk manis menunggu untuk ditolong melahirkan. Kenyataannya hampir selalu situasi bersifat darurat, kotor, minim fasilitas, bahkan kadang emosional. James juga harus menghadapi sikap petani yang pada awalnya menyangsikan kemampuan profesionalnya, dan selalu membandingkannya dengan Siegried. Namun James tetap menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati, dan pada akhirnya, di mata James, para petani itu adalah orang-orang terbaik dan paling tulus yang ia pernah temui, karena di sisi lain mereka juga sangat penolong dan bersahabat. Yah, segalanya memang butuh waktu, bukan? James pun banyak belajar dari para petani itu, seperti:

Aku mulai mengenal dan menyukai kehidupan petani. Mereka adalah orang-orang yang tabah dan mempunyai filsafat yang baru bagiku. Jika ada bencana, yang bisa membuat orang kota putus asa dan membenturkan kepalanya pada tembok, mereka hanya mengangkat bahu sambil berkata, “Ya, itu biasa. Memang harus terjadi begitu.” (hlm. 80)

Di saat-saat James merasa kelelahan menanggulangi kondisi hewan yang berat, hal yang mengembalikan semangat dan tenaganya ternyata hal-hal yang begitu sederhana, seperti suguhan minum teh di rumah petani sehabis menjalankan tugas, atau berhenti sebentar saat perjalanan pulang untuk duduk sendiri di padang pedesaan Yorkshire, memandangi rumput yang mengalun oleh hembusan angin, dengan awan-awan yang beriring di atasnya. Duduk hanya merasakan angin dan memandangi padang, di sini James banyak merenung dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalanya. Secara keseluruhan, semua pengalaman itu menjadi pengalaman yang begitu berkesan, yang tidak hanya mengajarkan James menjadi dokter hewan yang andal, namun juga banyak pelajaran tentang mencintai makhluk hidup, manusia ataupun makhluk ciptaan Tuhan lainnya, dan mencintai hidup itu sendiri.

James Herriot menuliskan karya semi-autobiografinya ini dengan bahasa yang lugas, terus terang, dan penuh humor. Beberapa kali saya tersenyum sendiri membayangkan situasi yang diceritakan mirip seperti adegan film kartun. Di kesempatan lain juga banyak tersirat renungan, yang tergolong sangat baik untuk pembentukan karakter. Pesan terkuatnya menurut saya adalah betapa pentingnya kita mencintai apa yang kita lakukan, dan itu tidak bisa dipaksakan. Dalam buku ini juga ada tokoh bernama Tristan, adik dari Siegried, yang juga seorang dokter hewan, namun jelaslah bahwa kecintaannya bukan pada hewan. Apapun yang ia lakukan, atau disuruh lakukan, karena tidak didasari oleh kecintaan, menjadi salah, manipulatif, dan menimbulkan kerugian baik bagi pasien yang dihadapi maupun dirinya sendiri. Semua pihak menjadi merana. Maka carilah apa yang kau suka, tekuni dengan sepenuh hati dan bertanggung jawab, maka kebahagiaan akan datang dengan sendirinya, kebahagiaan yang datang bukan dari uang, namun dari rasa hangat yang menyeruak di hati…

Rasanya saya ingin membaca buku-bukunya yang lain, yang semuanya ditulis dengan judul yang terdengar manis, seperti All Creatures Great and Small, All Things Bright and Beautiful, All Things Wise and Wonderful, The Lord God Made Them All, Dog Stories, dan beberapa lainnya. James Herriot memang fenomenal. Bernama asli James Alfred Wight, tempat aslinya di Yorkshire juga sudah menjadi tujuan wisata bagi mereka penggemar karyanya. Sebut saja The World of James Herriot (museum James Herriot), mengambil tempat di rumah Skeldale di desa Thirsk, Yorkshire Utara, yang bisa dilanjutkan dengan walking tour napak tilas jejak kehidupan James di desa itu. Dari seri buku-bukunya juga sudah lahir beberapa program televisi. If Only They Could Talk (Seandainya Mereka Bisa Bicara) juga dikatakan mengilhami Andrea Hirata untuk menjadikan Edensor, suatu nama desa di selatan Yorkshire, sebagai salah satu judul bukunya (walau di buku ini nama Edensor tidak disebut (?)). Di sini, karyanya yang lain yang juga sudah diterjemahkan adalah Dog Stories (Kisah-kisah Anjing) dari penerbit Gramedia.

Suatu treasure yang kocak dan manis yang saya temukan di awal tahun.

Seandainya Mereka Bisa Bicara/ James Herriot/ Memoar/ 1978 (1970)/ Gramedia/ Bahasa Indonesia/ 312 hlm.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s