Hector and the Search for Happiness, dan oleh-oleh dari UWRF 2011

Hector and the Search for Happiness adalah sebuah cerita karangan seorang psikiater asal Perancis, François Lelord, mengenai Hector, seorang psikiater muda yang tinggal di Paris. Jadi psikiater yang menulis cerita tentang psikiater. Dalam pekerjaannya, Hector banyak menemui orang-orang yang tidak bahagia, padahal situasi hidup mereka tampak begitu sempurna. Ia sendiri pun, walau menyukai pekerjaannya, tidak merasa puas atau bahagia dengan hidupnya. Lalu  ia memutuskan untuk pergi ‘keliling dunia’, mengunjungi beberapa negara, dan melakukan pengamatan atas orang-orang di sana untuk mencari tahu apa yang membuat mereka bahagia atau tidak bahagia.

Maka mulailah ia pergi ke beberapa negara di beberapa benua yang berbeda. Sepanjang tempat-tempat itu Hector banyak menemui situasi yang begitu berbeda dari situasi yang ada di negaranya. Ia juga menemukan beberapa paradoks, seperti ia melihat orang-orang yang hidupnya begitu miskin dan sangat sulit namun mereka sering tersenyum dan bahkan masih mampu bersikap ramah pada orang lain.  Semua hal itu memberinya insight mengenai apa yang membuat orang bahagia atau tidak bahagia, dan Hector mencatat beberapa kesimpulan dalam buku catatan kecilnya.

Buku ini menurut saya so-so saja, isinya cukup bagus tapi kalimat-kalimatnya yang agak kaku membuat pengalaman membaca buku ini bukan sesuatu yang memorable. Tapi kenangan saya sehubungan dengan buku inilah yang membekas. Saya kenal buku ini lebih dalam dari suatu sesi di Ubud Writers and Readers Festival 2011 lalu. Sesi itu berjudul “Happiness in Human Nature”, dibahas oleh beberapa penulis, yaitu François Lelord sendiri sebagai penulis buku Hector ini, Ketut Yuliarsa, seorang penulis, budayawan Bali dan pemiliki toko buku di Ubud, Rodaan al Galidi, seorang poet dari Irak yang menetap dan berkarya di Belanda, dan Eiji Han Shimizu, seorang produser media dari Jepang dan kreator japanese manga. Suatu panel yang sangat multikultur, dan semua pembicara mempunyai karya yang berhubungan dengan happiness. Fokus sesi itu sebenarnya adalah, “Is happiness something that can be learned, or is it inherent in human nature?”, walau akhirnya lebih banyak membahas mengenai “what is happiness?”. Berikut saya sarikan pendapat-pendapat mereka berdasarkan sedikit catatan yang saya buat di sela-sela keasikan mendengarkan sesi mereka. (foto saya ambil dari festival program book)

Menurut Ketut Yuliarsa, “For balinese people, there are collective happiness and individual happiness. One can have the individual happiness once he has achieved the collective happiness.” Konsep ini sebenarnya pengungkapan dengan cara yang berbeda dari “the joy of giving”, bahwa kita merasa bahagia karena memberikan sesuatu (untuk kebaikan sesama), bahwa kita menjadi ‘kaya’ justru dengan memberi. Hal ini juga wujud dari konsep Tri Hita Karana yang ada di Bali, bahwa bahagia itu adalah harmoni dan seimbang dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan alam sekitar. Lebih jauh Ketut juga mengungkapkan bahwa kita sering takut untuk merasa sedih, karenanya happiness lalu menjadi topik yang selalu hangat dibicarakan, menjadi semacam ‘big business’ dimana-mana. Padahal, “we should be sad sometimes, otherwise, how can we know happiness?”. Selanjutnya ia tegaskan pula, “If we are happy all the time, would we still be happy then? There should be some unhappiness to make us happy. Happiness cannot be separated from unhappiness, and we have to be able to ‘enjoy’ both.” Suatu pandangan yang sangat Zen, sangat dekat dengan filsafat timur. Saya jadi ingat nasihat yang diberikan oleh teman saya, dulu sekali saat saya ingin lepas dari pekerjaan saya saat itu yang saya rasakan begitu ‘menyebalkan’. Ia bilang, “Bahagia itu melakukan apa yang disukai dan yang tidak disukai, Mel…”. Kalau dipikir lagi, memang tidak ada sesuatu yang benar-benar bebas dari hal yang tidak kita suka, kuncinya kita harus bisa menikmati keduanya, suka dan tidak suka. Dan saat kita bisa melakukan itu, rasanya kita lebih bahagia.

François Lelord mencoba merumuskan happiness dengan cara yang ‘lebih sistematis’. Menurutnya ada dua jenis happiness, yang bersifat hedonistik, dan yang bersifat altruistik. Keduanya merupakan bentuk dari happiness. Yang hedonistik berarti kita merasa bahagia karena kesenangan yang kita dapatkan dalam hidup, seperti kenyamanan hidup, kekayaan, posisi atau kekuasaan. Yang altruistik artinya kita merasa bahagia karena melakukan sesuatu dan merasa berguna bagi orang lain. Ketika ada pertanyaan, “Can you be selfish and happy?” Menurut François, hal itu mungkin saja, tapi hanya untuk kebahagiaan yang bersifat hedonistik, yang lebih bersifat sementara dan tidak permanen, karena bergantung pada hal-hal diluar diri. Sementara yang altruistik, justru semakin kita memberikan sesuatu atau berguna bagi orang lain, semakin bahagia kita, terlepas dari apakah kita memiliki hal-hal yang bersifat hedonistik tadi, sesuatu yang lebih bersifat internal. Konsepnya sistematis, khas a la pemikiran barat.

Sementara pembicara lain banyak berusaha ‘merumuskan’ happiness, Rodaan al Galidi memilih untuk berpuisi sebagai jalan untuk mengungkapkannya. Hanya puisi yang mampu melampaui keterbatasan dari suatu definisi. Ia lalu membacakan salah satu puisinya, yang menurut saya sangat bagus, yang ia terjemahkan kedalam bahasa Inggris. Puisinya sederhana, tentang orang-orang yang ia lihat di suatu pantai di Netherland di suatu Sabtu yang cerah, suatu keluarga dan anjing mereka. Saat ia mengamati keluarga itu, ia tidak merasa bahagia, karena setiap dari mereka mengeluhkan atau mengkhawatirkan sesuatu, entah menyesali masa lalu, menakutkan masa depan, atau berharap ada di tempat lain. Namun saat ia mengamati si anjing, ia merasa bahagia. Kenapa? Karena anjing itu sekedar melompat riang, mengejar ombak, asik bermain pasir, menyalak, berlarian ke sana kemari. Rodaan yakin si anjing lah yang paling merasa bahagia diantara semuanya. Puisinya hilarious sekaligus ironik, dan juga sangat insightful tanpa perlu menjelaskan maknanya dengan panjang lebar. Dalam banyak sesi lain Rodaan juga sering menjelaskan dengan berpuisi, dia benar-benar seorang poet ya! Ia lalu menutup sesi dengan frasa yang sangat saya suka, “Big things make you powerful, but little things make you happy!” 

Eiji Han Shimizu mengaku pernah mencoba membuat sebuah film tentang happiness, namun akhirnya film itu menurutnya berujung menceritakan tentang compassion. Menurut Eiji, ada sesuatu yang lebih dalam dan besar daripada happiness, yaitu contentment, suatu perasaan dimana kita merasa bahagia atas apapun yang kita miliki atau yang terjadi dalam hidup kita, no matter what. Satu lagi pandangan yang sangat zen.

Happiness memang subjek yang susah-susah gampang untuk dijelaskan. Di satu sisi happiness adalah suatu hal yang tampaknya sangat sehari-hari, tapi di sisi lain jika kita coba menjawab pertanyaan, “what is happiness?”, maka mungkin sebagian besar dari kita akan sulit untuk menemukan kata-kata atau kalimat untuk menjelaskannya. Kalaupun kita berhasil merumuskannya dalam suatu kalimat, detik berikutnya kita akan ingin merevisinya lagi, dan lagi. Layaknya warna, sulit dijelaskan dengan suatu rumusan tertentu, seperti “what is red?, what is blue?”.

Kembali tentang buku ini, ceritanya sederhana, dan ditulis dengan kalimat-kalimat yang juga sederhana sehingga memberi kesan buku ini lebih seperti buku anak-anak walau dikemas dalam bentuk novel. Sebagai psikiater, tokoh Hector menurut saya juga agak terlalu naif dalam beberapa hal, terutama dalam memaknai perbedaan antara apa yang ia temui dalam perjalanannya dengan yang ia biasa temukan di negaranya. Misalnya saat ia baru sadar mengenai suatu bentuk globalisasi yang ia temukan di China, yang mana harusnya sudah ia pahami sebagai seorang terdidik yang berasal dari suatu negara maju di Eropa, dan buku ini pertama kali terbit tahun 2002 dimana isu globalisasi sudah demikian meluas. Juga tentang pekerjaan Ying Li, gadis yang ditemuinya di bar. Mungkin juga, sikap naif yang ditampilkan Hector memang disengaja penulis dalam rangka menyajikan cerita dengan sederhana, yang ingin ia jelaskan dengan pemahaman yang bertahap. Hal ini juga terasa pada catatan kecil yang dibuat Hector sebagai kesimpulan sementara mengenai happiness, seperti sebuah usaha untuk menyederhanakan dan mengkonkretkan suatu konsep yang abstrak tersebut. Di sisi lain, tokoh Hector juga sangat lembut hati, open-minded, dan layaknya seorang researcher, ia menyerap apapun yang ia temui tanpa asumsi. Sangat sering saya membayangkan sosok François sendiri sebagai Hector, karena saat berdiskusi ia juga selalu tampil dengan soft-spoken dan bersikap sangat terbuka.

Jadi, apakah happiness menurutmu? Saya setuju dengan semua pembahasan yang diajukan oleh keempat penulis di atas, semuanya sebenarnya sepaham hanya dalam pengungkapan yang berbeda. Secara pribadi konsep timur lebih masuk ke pemaknaan saya daripada konsep barat yang cenderung mengangkat semuanya ke kesadaran dan beranalisa dengannya, khususnya untuk subjek seperti happiness ini. Jika harus merumuskan dengan pendek, buat saya happiness adalah berada disini-dan-sekarang, being here-and-now. Benar-benar berada dan menikmati momen saat ini, tanpa terlalu mengkhawatirkan sesuatu di depan, atau menyesalkan sesuatu di masa lalu. Agak abstrak ya. Tapi beberapa kesimpulan dari catatan kecil Hector sang psikiater yang melanglang buana ini juga sangat saya suka, dan membantu menyodorkan happiness dalam bentuknya yang konkret:

Lesson no. 1: Making comparisons can spoil your happiness.

Lesson no. 3: Many people see happiness only in their future. 

Lesson no. 4: Many people think that happiness comes from having more power or more money. (Rodaan: “Big things make you powerful, little things make you happy)

Lesson no. 6: Happiness is a long walk in beautiful unfamiliar mountains.

Lesson no. 10: Happiness is doing a job you love.

Lesson no. 11: Happiness is having a home and a garden of your own.

Lesson no. 13: Happiness is feeling useful to others. 

Lesson no. 14: Happiness is to be loved for exactly who you are.

François Lelord adalah psikiater di Perancis, negeri asalnya, dan juga di USA, tempat beliau mengambil gelar post-doctoralnya. Selain menulis buku ini, ia juga penulis sejumlah buku self-help dan membuat program manajemen stres bagi perusahaan. Ia mengaku karakter Hector muncul di suatu perjalanan bisnisnya ke Hongkong, saat ia sendiri mempertanyakan kehidupan personal dan profesionalnya. Belum jelas saat itu buku seperti apa yang akan ditulisnya dengan karakter Hector tersebut. Ketika buku ini akhirnya terwujud dan sukses, François makin sering menulis dan bepergian dalam rangka pekerjaannya, dan suatu ketika ia sampai di Vietnam saat wabah SARS melanda di sana. Akhirnya ia menerjunkan diri pada suatu lembaga non profit Perancis yang memberikan pelayanan kesehatan bagi warga miskin, dan di sinilah ia bertemu dengan calon istrinya, Phuong. Saat ini mereka tinggal di Thailand. Sudah ada 3 sekuel buku Hector ini, tapi buat saya, cukuplah untuk saat ini mengikuti perjalanan Hector mengenai happiness ini. Mungkin nanti jika mood saya memanggil, saya akan teruskan.

“For Melani, with Hector’s best wishes for happiness”. François.” Terima kasih banyak, François!🙂

(dengan Rodaan al Galidi dan Danny Yatim)

foto: http://www.wisata.kompasiana.com

Suasana di halaman Museum Neka, selepas sesi. Rodaan selalu jadi pusat perhatian karena sikapnya yang ramah dan membumi🙂

foto: http://www.wisata.kompasiana.com

Edel Rodriguez, Arif Budiman, dan Eiji Han Shimizu di salah satu venue UWRF 2011

foto:www.adgi.or.id

Eiji Han Shimizu dan beberapa karyanya, grafik-biografi tokoh-tokoh terkenal di dunia, termasuk tokoh spiritual.

Ganesha Bookstore, di Jalan Raya Ubud, Ubud, Bali, sebuah toko buku yang dimiliki oleh budayawan Ketut Yuliarsa. Juga ada cabangnya di Krobokan, Seminyak.

Buku kumpulan puisi Ketut Yuliarsa, hadir dalam edisi bi-lingual, dengan salah satu puisinya:

a dry leaf falls
a breath of wind
holding its sway
ever so slightly

wait and listen
but do not stumble
into the depths
of serenity

Semoga semua makhluk berbahagia…

5 thoughts on “Hector and the Search for Happiness, dan oleh-oleh dari UWRF 2011

    1. ayo datang tahun ini ke uwrf 2012 mbak! sepertinya jenis event yg bakal mbak riana suka deh🙂
      mudah2an aku bisa dateng lagi thn ini, 3-7 oktober 2012.

  1. ulasannya menarik sekali, sukaaa banget…🙂
    kadang kalo pas sedih aku suka coret2 di kertas bekas, tiba2 dapet ide, trus bikin gambarnya di kertas gambar, langsung happy lg deh hahaha..

    itu mba Mei yaaaa, rambutnya cakep!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s