Satu Cerita di Le Petit Nicolas a des Ennuis

Suatu saat di bulan lalu saya membaca kembali salah satu buku dalam seri Le Petit Nicolas karangan  René Goscinny dan diilustrasi oleh  Jean-Jacques Sempé ini. Le Petit Nicolas a des Ennuis, atau Kesulitan-kesulitan Nicolas Kecil, terbit pertama kali tahun 1964, adalah kumpulan cerita dari keseharian si Nicolas ini. Kali ini saya tidak ingin membuat suatu review mengenai buku ini, tapi saya ingin mem-posting salah satu ceritanya saja, yang saya terjemahkan (secara bebas). Silahkan menikmati.

(catatan: Charlemagne = salah satu raja Perancis abad pertengahan yang sangat terkenal; maman = mama; perilaku memeluk orang lain atau keluarga adalah sangat wajar ditemui dalam budaya sehari-hari perancis; mata uang franc = mata uang Perancis jaman dulu sebelum berlaku euro, 1 franc = 100 sen; la boulangerie = toko roti artisanal yang biasa juga menjual cake dan coklat)

Nilai Sebuah Uang

Aku meraih tempat keempat dalam pelajaran menulis kisah; saat itu kami sedang membahas tentang Charlemagne dan aku kan hafal semua tentang itu, terutama tentang serangan Roland dengan pedangnya yang seru itu.

Papa dan maman sedang senang karena aku mendapatkan peringkat keempat tersebut, papa lalu mengeluarkan dompetnya dan ia memberiku… tebak apa? Selembar uang sepuluh franc!

“Ini, ambillah, anak pintar.” kata papaku, “besok, kamu boleh membeli apa saja yang kau mau.”

“Tapi… tapi, sayang,” ujar maman, “tidakkah kamu pikir uang segitu terlalu banyak untuk si kecil Nicolas?”

“Sama sekali tidak,” jawab papa, “ini saatnya dia belajar nilai sebuah uang. Saya yakin ia akan menghabiskan uang sepuluh franc ini dengan bijaksana. Bukankah begitu, anak baik?”

Aku tentu saja mengatakan ya, lalu aku bangkit memeluk papa dan maman; mereka memang keren ya! Aku taruh uang itu di dalam saku bajuku, yang lalu membuatku terpaksa menyelesaikan makan malam hanya dengan satu tangan, karena tanganku yang satu lagi sibuk memegang-megang saku itu, memastikan bahwa uang itu tetap ada di sana.

Ya, benar, memang aku tidak pernah memegang uang yang banyak. Oh ya, tentu saja beberapa kali maman pernah memberiku uang cukup banyak untuk membantunya berbelanja di toko kelontong M. Compani, di ujung jalan, tapi uang itu kan bukan milikku dan maman dengan jelas memberitahu berapa jumlah uang yang harus diberikan kepada M. Compani. Jadi, itu berbeda.

Saat aku tidur, aku taruh uang itu di bawah telingaku, tapi aku jadi sulit tidur. Lalu aku bermimpi hal-hal lucu, tampak wajah tokoh yang ada di lembaran uang sepuluh franc itu melihat ke arahku, menyamping dengan ekor matanya, lalu ia meringis-ringis dengan berbagai rupa, juga rumah besar yang ada di belakang bapak itu, berubah menjadi toko kelontong M. Compani…

Ketika aku tiba di sekolah pagi keesokan harinya, sesaat sebelum memasuki kelas, aku memamerkan lembaran uang itu pada teman-temanku. “Wah…,” kata Clotaire, “jadi apa yang mau kamu lakukan dengan uang itu?” “Aku tidak tahu,” jawabku. “Papa memberiku uang katanya supaya aku tahu nilai sebuah uang, dan aku harus membelanjakan dengan bijaksana. Dan yang aku ingin lakukan adalah… membeli sebuah pesawat! Maksudku pesawat betulan.”

“Tidak bisa itu,” sambung Joachim, “pesawat betulan, itu kan harganya paling tidak seribu franc.” “Seribu franc?” kata Geoffroy, “kamu becanda! Kata papaku, itu bisa seharga paling tidak tiga puluh ribu franc, dan itu pun baru pesawat kecil loh.” Kita semua lalu hanya tertawa, karena Geoffroy itu, apapun yang ia katakan, lebih banyak bohongnya.

“Kenapa kamu tidak beli saja sebuah atlas?” tanya Agnan, yang selalu menduduki rangking satu di kelas dan juga anak kesayangan Bu Guru. “Ada peta-peta yang bagus dan foto-foto yang menerangkan banyak hal, sangat berguna.” sambungnya.

“Sekalian saja kamu bilang supaya aku menggunakan uangku ini untuk beli buku?” tukasku. “kalau buku, tanteku sudah selalu membelikanku buku, saat aku ulang tahun atau waktu aku sakit. Yang dia berikan waktu aku sakit gondong saja belum habis aku baca.”

Agnan hanya memandangku, lalu ia beranjak pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi dan mulai membereskan buku-buku gramatikalnya. Dia memang sinting ya, Agnan itu!

“Kamu bisa membeli bola kaki, jadi kita semua bisa main bersama,” usul Rufus. “Kamu becanda,” kataku lagi. “Uang ini kan milikku, jadi tidak akan kubelikan sesuatu untuk dipakai yang lain. Pertama, kamu harus meraih posisi keempat dulu, seperti saya, baru kamu bisa main bola kaki itu,” sambungku.

“Kamu pelit,” tuduh Rufus, “asal kamu tahu ya, kalau kamu dapat posisi nomor empat, itu kan karena kamu anak kesayangan Bu Guru, seperti Agnan itu.” Sayang aku tidak sempat membalas tudingan Rufus karena tiba-tiba bel berbunyi dan kami semua harus berbaris menuju kelas. Selalu saja seperti ini, saat kami baru mau bersenang-senang dan situasi mulai seru, tiba-tiba “teng-teng”… bel berbunyi dan kami harus masuk ke kelas. Saat kami berada dalam barisan, Alceste datang sambil berlari.

“Kau terlambat,” tegas le Bouillon, sang pengawas kelas.

“Ini bukan salahku…” jawab Alceste, “soalnya, ada tambahan croissant di sarapan tadi.”

Le Bouillon hanya menghela nafas berat dan menyuruh Alceste segera masuk ke barisan dan memintanya menghapus mentega yang masih menempel di dagunya.

Di dalam kelas, aku bilang pada Alceste, yang duduk di sebelahku, “Kamu lihat apa yang aku punya?”, lalu aku menunjukkan lembaran uang itu.

Tiba-tiba Bu Guru berteriak,”Nicolas! Kertas apa itu? Bawa ke sini segera, Ibu tahan di sini.”

Aku mulai mau menangis dan aku bawa kertas uang itu ke Ibu Guru yang matanya tampak terbuka lebar-lebar. Ia bertanya, “Apa yang akan kamu lakukan dengan ini?” Aku menjawab, “Aku belum tahu. Papa yang memberikan uang itu untuk serangan Charlemagne.”

Aku lihat ekspresi bu guru yang berusaha untuk tetap serius dan menahan diri untuk tidak tertawa; sudah beberapa kali aku lihat bu guru seperti ini, dan menurutku ia tampak cantik kalau sedang seperti itu. Ia lalu mengembalikan uang itu, dan menyuruhku memasukkannya ke dalam saku, mengatakan bahwa aku tidak boleh bermain-main lagi dengan uang itu, dan bahwa aku jangan menghabiskannya untuk hal-hal bodoh. Kemudian bu guru menanyai Clotaire, tapi aku tidak percaya kalau papanya Clotaire akan memberinya uang untuk nilai-nilainya selama ini.

Waktu istirahat, saat semua sedang bermain, Alceste menarik lenganku dan bertanya apa yang akan aku lakukan dengan uangku itu. Aku jawab bahwa aku tidak tahu; lalu ia bilang bahwa dengan sepuluh franc aku bisa beli berbatang-batang coklat. “Kamu bisa beli lima puluh! Lima puluh batang, kamu tahu?” kata Alceste, “artinya dua puluh lima batang seorang!”

“Dan kenapa aku musti memberimu dua puluh lima batang?” tanyaku, “uang itu kan milikku!”

“Biarkan dia,” sambar Rufus, berkata kepada Alceste, “dia memang pelit!”

Dan mereka pun pergi bermain, tapi aku, aku marah! Tapi benar bukan, apa hak mereka kesal padaku dengan uangku itu?

Tapi, ide Alceste sebenarnya bagus juga, tentang batang-batang coklat itu. Pertama, aku memang suka sekali coklat. Kedua, aku belum pernah punya lima puluh batang coklat sekaligus, bahkan saat di rumah nenek, yang selalu memberiku apapun yang aku minta. Karenanya, seusai sekolah, aku berlari ke sebuah boulangerie, dan saat si ibu boulangerie bertanya apa yang aku mau, aku berikan lembaran uang sepuluh franc itu dan berkata, “Semua untuk batang-batang coklat, Anda bisa memberiku lima puluh batang, seperti yang dibilang Alceste.”

Ibu boulangerie memandang uang itu, lalu melihat ke arahku, dan berkata,”Dimana kamu temukan itu, anak kecil?”

“Aku tidak menemukannya, aku dikasih,” ujarku.

“Jadi ada yang memberimu uang segitu untuk membeli lima puluh batang coklat?” tanya ibu boulangerie itu lagi.

“Ehm… ya,” jawabku.

“Saya tidak suka pada anak kecil yang berbohong,” lanjut ibu itu, “kamu lebih baik mengembalikan uang itu di tempat kamu menemukannya.”

Karena ia terus memelototiku, aku keluar menyelamatkan diri dan menangis terus sampai tiba di rumah.

Di rumah aku ceritakan semua pada maman, lalu ia memelukku dan ia bilang ia akan atur dengan papa. Maman lalu mengambil uang itu dan menemui papa yang sedang duduk di ruang duduk, dan kembali dengan sekeping uang dua puluh sen.”Kamu bisa beli sebatang coklat dengan dua puluh sen ini,” kata maman.

Dan, aku merasa senang, karena akhirnya bisa membeli coklat batangan itu, bahkan aku bagi coklat itu dengan Alceste, karena Alceste itu temanku, dan dengan teman kita selalu berbagi.

Le Petit Nicolas a des Ennuis/ Goscinny & Sempé/ Gallimard Jeunesse/ 2007 (1964)/ Children fiction/ french/ 153 hlm.

Cover lain:

4 thoughts on “Satu Cerita di Le Petit Nicolas a des Ennuis

  1. @alvina13

    wow. cerita aslinya dalam bahasa Prancis, ya?
    Terima kasih cerita pendeknyaa, Mbaak..
    ceritanya sederhana tapi semanis coklatnya Nicolas🙂

    1. mademelani

      halo mbak… terima kasih juga sdh mampir ya🙂
      ya buku aslinya dalam bhs perancis. ceritanya mmg sederhana aja, khas cerita anak jaman dulu. selain ceritanya, aku jg suka bgt dgn ilustrasinya!

  2. ah, senangnya mba Mei nerjemaihin satu ceritanya nicolas! aku sampe ketawa bacanya, ngebayangin nicolas ama temen2nya itu hihi.
    terjemahannya bagus mba, mau lagi ceritanyaaa!!! *dikeplak* :))

    1. mademelani

      makasih Dian!🙂
      nicolas anak yg agak cengeng ya, kl ditekan dikit pasti udah pengen nangis haha
      tapi polosnya anak-anak, kadang bikin aku terharu.
      ilustrasinya ‘sangat bercerita’ ya… salah satu kekuatan ilustrasi Sempe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s