Character Thursday [4]

Setelah lama absen, baru minggu ini sempat ikut book meme lagi🙂. Character Thursday adalah book meme yang diadakan oleh FandaClassiclit untuk membicarakan tokoh atau karakter dari buku yang sedang kita baca.

Untuk Character Thursday kali ini, saya ingin membicarakan tokoh utama dari buku Sebatang Kara (Nobody’s Boy, atau versi aslinya, Sans Famille atau ‘tanpa keluarga’) karangan penulis klasik Perancis, Hector Malot. Sedikit cerita, awalnya saya tidak merencanakan membaca buku ini di bulan ini, karena sedang ingin konsentrasi pada baca buku-buku yang termasuk Victorian Celebration yang semuanya menarik itu, dan juga tentu BBI Gothic Reading. Nah, untuk BBI Gothic Reading, saya sedang baca Dracula dari Bram Stoker, dan sukses dibuat ketakutan (really, literally). Penyampaian suasana dan atmosfernya itu lho… hebat! Kalimatnya pun enak banget, tapi karena takut, saya menghindari membacanya di waktu malam….🙂. Maka untuk penyeimbang, saya ambil buku ringan yang sweet seperti buku Hector Malot ini. Dan ternyata, buku ini terbit pada tahun 1878, masih dalam era Victorian, jadi akan masuk pula ke Victorian Celebration🙂. Jadi saat ini saya memang sedang baca 2 buku secara paralel, Dracula dan Sebatang Kara ini. (Character Thursday untuk Dracula akan segera menyusul!).

Remi (atau Rémi dalam versi aslinya) adalah si tokoh utama dalam buku Sebatang Kara ini. Ia seorang anak pungut. Ia berumur sepuluh tahun dan hidup bersama sepasang suami istri Barberin. Ibu Barberin sangat baik kepada Remi, namun sang ayah angkat lebih memilih menjualnya kepada pemusik jalanan dengan imbalan sejumlah uang. Maka berkelanalah Remi bersama Signor Vitalis, si pemusik jalanan itu, bersama 3 anjing dan seekor kera yang semuanya cerdas dan saling pengertian satu sama lain. Bersama, kelompok itu menyusuri jalan dari desa ke desa atau kota dan mengadakan pertunjukan di jalan atau taman untuk mendapatkan uang. Sering mereka harus berjalan bermil-mil sebelum menemukan tempat yang layak untuk tidur, tidak jarang pula uang mereka sangat sedikit sehingga hanya bisa membeli roti yang sangat kecil yang lalu dibagi rata diantara mereka berlima. Demikianlah kehidupan mereka dari hari ke hari.

Mengetahui sejak awal bahwa dirinya adalah seorang anak pungut, dan anak pungut di jaman itu, terutama di desa, seringkali menjadi objek ejekan, Remi tumbuh menjadi anak yang sangat ‘tahu diri’ dan berperasaan halus. Ia memiliki pemahaman bahwa dirinya tidaklah sebaik atau seberuntung anak-anak lain. Ia juga selalu berusaha melakukan sesuatu untuk membantu mengurangi beban orang tua angkatnya, atau berusaha untuk tidak menyusahkan Signor Vitalis. Pokoknya, berusaha menjadi berguna. Sangat jauh dari sifat anak manja, padahal usianya masih sangat belia. Sering ada peristiwa yang membuatnya sedih sampai menangis (menangis diam-diam tentunya, mengingat sifatnya itu), namun ia berusaha menerima semua kondisi yang ada di depannya. Dengan kondisinya itu, ia tidak marah, bahkan mampu merasakan dan menghargai kasih sayang yang diterima dari orang-orang tertentu, dari ibu Barberin yang baik hati, juga dari Signor Vitalis. Walau Signor Vitalis sangat jarang menunjukkan rasa sayangnya pada Remi, tapi Remi bisa merasakannya, dan sering pula, saat sedang berjalan kaki bersama, Remi ingin sekali memeluk Signor Vitalis, sosok yang telah banyak menolongnya dan mengajarkan banyak hal pada dirinya. Tapi lagi-lagi, karena sifatnya itu dan juga pembawaan Signor Vitalis, Remi tidak berani memeluk sang Signor, dan lalu mengungkapkan rasa sayang dan hormatnya dengan bersikap patuh dan pantang menyerah setiap hari, suatu nilai yang sangat diajarkan oleh Signor.

Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Remi hanya mendambakan satu hal. Memiliki keluarga. Selama ini ia selalu merasa sebatang kara. Walau ada Signor Vitalis dan anjing-anjing, juga si kera, mereka bisa meninggalkannya sewaktu-waktu, karena toh ia hanya seorang anak yang bekerja pada seorang majikan. Ungkapan hati Remi ini sangat baik tertuang dalam kalimat-kalimat berikut:

Kalau menatap Arthur yang duduk di kursinya, pucat dan lesu, sering aku merasa iri padanya. Aku, yang begitu sehat dan kuat, merasa iri kepada anak kecil yang sakit-sakitan itu. Bukan kemewahan hidupnya yang membuatku iri, bukan juga perahunya. Melainkan ibunya. Oh, betapa inginnya aku mempunyai ibu! Mrs. Milligan mengecup anaknya dan Arthur bisa merangkulkan lengan ke lehernya setiap saat — sedangkan aku hampir-hampir tidak berani menyentuh ketika Mrs. Milligan mengulurkan tangannya padaku. Aku sedih memikirkan bahwa aku tidak akan pernah punya ibu yang akan menciumku dan bisa kucium juga. (hlm. 127)

Duh, rasanya ingin memeluk si Remi ini, dan menemaninya sepanjang hari…

Kisah ini sudah difilmkan dalam bentuk serial film kartun. Bahkan serial ini sempat pula ditayangkan selama beberapa lama di salah satu stasiun TV kita beberapa tahun yang lalu. Di sini karakternya terkesan ‘agak lucu’, padahal dalam bayangan saya, tokoh anaknya bertampang agak serius dan ‘reserved’.

Apa karaktermu minggu ini?

2 thoughts on “Character Thursday [4]

  1. @alvina13

    Ternyata Ini kisah tentang Remi ya? *jadi inget dulu seneng banget nonton kartun 3D ini. pake kacamata segala lagi biar keren😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s