Wishful Wednesday [12]

Wishful Wednesday saya kali ini adalah sebuah buku langka, yang saya harapkan sekali bisa diterbitkan kembali oleh penerbitnya. Buku ini sudah hilang dari peredaran, bahkan di toko-toko buku bekas, baik online maupun bukan, sudah terjual. Kalaupun saya coba memesan di toko-toko buku bekas itu, saya masuk dalam daftar waiting list, karena peminatnya (baca: pemburunya) memang banyak…

Arus Balik, karangan Pramoedya A. Toer: Sebuah epos pasca kejayaan Nusantara di awal abad 16.

Kenapa buku ini? Saya belum lama ini baru menyelesaikan membaca Arok Dedes, sebuah novel sejarah karangan Pramedya A. Toer juga, yang dari sana saya mengetahui bahwa ternyata ada Tetralogi lain selain Tetralogi Buru yang terdiri dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca itu. Di pengasingan pulau Buru, Pram ternyata juga menulis tetralogi lainnya. Jika Tetralogi Buru mengisahkan tentang perjalanan manusia modern Indonesa menjelang era kebangsaan, tetralogi lainnya ini berfokus pada sejarah manusia Indonesia di masa yang jauh ke belakang, ke jaman kerajaan-kerajaan di pulau Jawa, hingga pasca runtuhnya Majapahit. Tetralogi ini terdiri dari dari Arok Dedes, Mata Pusaran, Arus Balik, dan Mangir. (Speechless saya atas kejeniusan dan ketekunan Pram dalam menghasilkan karya-karya ini, dalam kondisi pengasingan…) Nah, Arok Dedes saya sudah baca. Mata Pusaran kabarnya naskahnya hilang dan baru ditemukan sebagian. Sekarang saya sedang ingin melanjutkan membaca Arus Balik. Mangir sudah saya dapatkan.

[Diambil dari Hastamitra.org] Arus Balik mung­kin merupakan novel pertama dalam khazanah sastra Indonesia mo­dern yang mengisahkan Nusantara dalam segala kemegahannya sebagai kesatuan maritim. Arus Balik adalah suatu epos pasca kejayaan Majapahit pada saat arus zaman membalik, pada saat segalanya berubah – kekuasaan di laut menjadi kekuatan darat yang mengkerut di pedalaman, ke­mulia­an menukik ke dalam keme­rosotan, kejayaan berubah ke kekalahan, kecemerlangan cendikia menjadi kedungu­­an dalam penalaran, kesatuan dan persatuan berubah menjadi perpecahan yang memandulkan segala kegiatan. Pramoedya bukan menangisi kebesaran masa lalu, tidak merindukan kejayaan purbakala, tetapi dia bernostalgi dengan masa depan yang cerah. Baginya sejarah merupakan cermin paling jernih, refe­rensi terpercaya untuk suatu perubahan guna membangun masa depan yang lebih baik. Itulah isi paling substansial Pramoedya bila ia meng­orek-orek sejarah.

Jadi… kalau teman-teman mempunyai kabar mengenai keberadaan buku ini, dimana saya bisa mendapatkannya, atau mungkin malah mempunyai buku ini, entah terbengkalai tak terbaca di sudut rumah, dan ingin menjualnya, kasih tahu saya ya… (seriously)😉

Yuk, ikut Wishful Wednesday juga dari blog Astrid🙂

3 thoughts on “Wishful Wednesday [12]

  1. astridfelicialim

    wahh buku langka =D mungkin di toko2 secondhand book kayak di TIM atau TMII ada kali ya mei? kalo pas ada pameran buku lagi aku lirik2 deh =D

    1. mademelani

      thank you Astrid!🙂 sptnya agak kecil kemungkinan buku jenis ini msh teronggok di toko buku, tapi mudah2an keberuntungan justru menyertai dirimu..🙂

  2. Pingback: Wishful Wednesday [16] dan Rekap | ma petite bibliothèque

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s