Kolam – Sapardi Djoko Damono

Sastra Indonesia Reading Challenge 2012 pictMembaca Kolam karya Sapardi Djoko Damono ini memang serasa masuk ke dunia yang sejuk, teduh, sederhana dan indah sekaligus. Sapardi Djoko Damono memang pencipta keindahan dari hal-hal dan kata-kata yang begitu sederhana. Tak perlu sibuk mengulik estetika kata demi menghasilkan kalimat yang rumit, sajak-sajak ini dengan sederhana menghadirkan keteduhan dan ketenangan. Dari misalnya, cerita tentang sebuah kolam dan ikan-ikan yang berterima kasih di dalamnya, atau dari sebatang pohon belimbing yang tumbuh di pekarangan, atau dari burung-burung yang tidak pernah meninggalkan jejak di langit, atau personifikasi dari sebentuk kabut yang merayapi bukit, kita bertemu dengan sejumlah refleksi tentang hubungan kita dengan sesama makhluk lain penghuni alam ini, pun dengan Sang Pencipta.

Sajak-sajak dalam Kolam ini menggiring kita untuk bermesraan kembali dengan alam. Alam, yang sebenarnya hadir begitu dekat dalam keseharian kita, pada saat yang sama sering terasa begitu jauh karena semata kesibukan yang ada di benak kita. Sambil bercengkrama dengan alam yang bertingkah polah dalam sajak-sajaknya, Sapardi kerap menyiratkan kerinduan, cinta, kebersyukuran pada yang Hakiki, juga tidak jarang candaan yang menggelitik. Paling tidak itu yang saya rasakan.

Membaca Kolam membuat saya serasa menggenggam sebentuk oase. Berhenti sejenak. Untuk berada pada saat dan momen ini.

Kolam - sapardi djoko damono

Beberapa penggalan dari “Kolam di Pekarangan”:

Daun yang membusuk di dasar kolam itu masih juga tengadah ke ranting pohon jeruk yang dulu melahirkannya. Ia ingin sekali bisa merindukannya. Tak akan dilupakannya hari itu menjelang subuh hujan terbawa angin memutarya perlahan, melepasnya dari ranting yang dibebani begitu banyak daun yang terus –menerus berusaha untuk tidak bergoyang. Ia tak sempat lagi menyaksikan matahari yang senantiasa hilang-tampak di sela-sela rimbunan yang kalau siang diharapkan lumut yang membungkus batu-batu dan menempel di dinding kolam itu. Ada sesuatu yang dirasakannya hilang di hari pertama ia terbaring di kolam itu, ada lembahangin yang tidak akan bsia dirasakannya lagi di dalam kepungan air yang berjanji akan membusukkannya segera setelah zat yang dikandungnya meresap ke pori-porinya. Ada gigil matahari yang tidak akan bisa dihayatinya lagi yang berkas-berkas sinarnya suka menyentuh-nyentuhkan hangatnya pada ranting yang hanya berbisik jika angin lewat tanpa mengatakan apa-apa. Zat itu bukan angin. Zat itu bukan cahaya matahari. Zat itu yang menyebabkannya menyerah saja pada air yang tak pernah bisa berhenti bergerak karena ikan-ikan yang di kolam itu diperingatkan entah oleh Siapa dulu ketika waktu masih sangat purba untuk tidak pernah tidur.

….

Ikan tidak pernah merasa terganggu setiap kali ada daun jatuh ke kolam, ia memahami bahwa air kolam tidak berhak mengeluh tentang apa saja yang jatuh di dalamnya. Air kolam, dunianya itu. Ia merasa bahagia ada sebatang pohon jeruk yang tumbuh di pinggir kolam itu yang rimbunannya selalu ditafsirkannya sebagai anugerah karena melindunginya dari matahari yang wataknya sulit ditebak.

Dari “Pohon belimbing”:

Sore ini kita berpapasan dengan pohon belimbing wuluh yang kita tanam di halaman rumah kita beberapa tahun yang lalu, ia sedang berjalan-jalan sendirian di trotoar. Jangan kausapa, nanti ia bangun dari tidurnya.

Kau pernah bilang ia tidak begitu nyaman sebenarnya di pekarangan kita yang tak terurus dengan baik, juga karena konon ia tidak disukai rumput di sekitarnya yang bosan menerima buahnya berjatuhan dan membusuk karena kau jarang memetiknya. Kau, kan, yang tak suka sayur asem?

Aku paham, cinta kita telah kausayur selama ini tanpa belumbing wuluh; Demi kamu, tau! Yang tak bisa kupahami adalah kenapa kau melarangku menyapa pohon itu ketika ia berpapasan dengan kita di jalan. Yang tak akan mungkin bisa kupahami adalah kenapa kau tega membiarkan pohon belimbing wuluh itu berjalan dalam tidur?

Kau, kan, yang pernah bilang bahwa pohon itu akan jadi tua juga akhirnya?

Dari “Pintu”:

Pagi karuniai begitu banyak pintu dan kita disilakan masuk melewatinya kapan saja. 

Malam diberkahi begitu banyak gerbang dan kita digoda untuk membukanya dan keluar agar bisa ke Sana. 

Tidak diperlukan ketukan.

Tidak diperlukan kunci.

:

Sungguh, tidak diperlukan selamat datang atau selamat tinggal.

Dari “Seperti Kabut”:

aku akan menyayanginmu seperti kabut yang raib di cahaya matahari

:

aku akan menjelma awan hati-hati mendaki bukit agar bisa menghujanimu

:

pada suatu hari baik nanti

Kolam diterbitkan dengan bantuan sepenuhnya dari Jeihan Institute. Sang pelukis, Jeihan, juga menyumbangkan beberapa goresan ilustrasi dalam buku puisi ini.

Terima kasih untuk temanku Nina dan Mas Agust, yang telah berbaik hati meminjamkan buku ini🙂

3 thoughts on “Kolam – Sapardi Djoko Damono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s