Name-in-A-Book Challenge 2012 dan Mini-Reviews

Posting ini merupakan wrap-up untuk Name-In-A-Book Challenge dari blog Fanda. Syarat reading challenge ini adalah membaca karya fiksi yg memiliki unsur nama atau personifikasi pada judulnya. Minimal membaca 6 buku selama tahun 2012. Ternyata saya membaca 19 buku! Untuk challenge ini, saya sekaligus ingin mengikis tumpukan TBR di rak buku saya, walau ada juga beberapa buku yang baru dibeli tahun 2012 ini, dan kebetulan memang buku-buku itu mengandung unsur nama pada judulnya. Jadi, tanpa direncanakan ternyata saya membaca cukup banyak buku untuk challenge ini.

Berikut ke-19 buku tersebut beserta mini-review-nya.

henry sugar1. The Wonderful Story of Henry Sugar and Six More – Roald Dahl. Ini adalah buku kumpulan cerita dari pencerita kawakan, Roald Dahl, yang ia tujukan bagi pembaca remaja. Semua cerita mengandung unsur kocak sekaligus wittiness ala Dahl. Cerita yang paling berkesan buat saya adalah The Wonderful Story of Henry Sugar, yang membuat kita berpikir tentang arti kekayaan materi dan makna bahagia. Tema yang sebenarnya cukup dalam untuk cerita remaja, namun Dahl berhasil mengemasnya menjadi kisah yang demikian menarik dan membekas. (Puffin books, English)

Hector_cover_FINAL2. Hector and the Search for Happiness – Francois Lelord. Beli buku ini di Ubud Writers and Readers Festival 2011 lalu. Bercerita tentang psikiater Hector yang melakukan perjalanan ke berbagai negara demi mencari definisi ‘bahagia’. Ada sejumlah definisi yang ia temukan, salah satunya adalah: “making comparisons can spoil your happiness“. Bener banget! Terlepas dari definisi-definisi bahagia yang sangat membukakan mata, secara keseluruhan saya kurang menikmati membaca buku ini, mungkin karena kekakuan kalimat atau gaya penyampaian yang agak repetitif. (Penguin books, English)

les-papillons-de-victor3. Les Papillons de Victor/ Virginie Kasse &  Melissa Sunjaya. Buku kecil yang saya beli lebih karena goresan ilustrasinya daripada ceritanya. Ilustrasi-ilustrasinya dengan seketika menumbuhkan rasa riang dan optimisme. Pencinta ilustrasi sepertinya akan menikmati buku ini. Kekurangannya hanya satu, buku ini terlalu tipis, berakhir terlalu cepat saat kita masih ingin menikmati goresan-goresan ilustrasinya lagi dan lagi. (Tulisan, French)

fatima4. Fatima’s Good Fortune/ Joanne & Gerry Dryansky. Buku ini menurut saya patut dibaca secara luas karena ceritanya yang humanis dan pesan moral sederhana yang diusungnya. Be good, do good, the rest is in God’s hand. Dikarang oleh sepasang suami istri yang tinggal di Paris yang hobi menulis bersama sambil duduk di cafe, buku ini menyajikan cerita yang hangat dengan penceritaan yang hidup dan penokohan yang demikian riil. Kita seakan ikut berada di sudut-sudut kota Paris, bukan yang turistik, namun yang biasa dilalui kaum parisiens, berjalan di trotoarnya, atau mencium sekelebatan aroma kopi dari cafe-cafe pinggir jalan. Bukan sesuatu yang klise juga, karena penulis memotret dinamika sosial yang berlangsung di bawah atap-atap apartemen Paris, sesuatu yang menjadikan buku ini berbeda. (M-Pop/ Matahati, Indonesia)

gambar adalah versi asli hard cover

5. The Invention of Hugo Cabret/ Brian Selznick. Buku collectible item karena unsur cerita yang unik dan ilustrasi yang brilian. Melihat ilustrasi karya Selznik ini, dan membuka lembaran-lembaran halamannya, saya seakan melihat gambar hidup terpampang di depan mata. Ceritanya juga mengandung unsur sejarah yang kental. Historical fiction yang dikemas dengan sedikit fantasi, dan ditujukan bagi pembaca young adult. Brilian, kan? (Mizan, Indonesia)

le petit nicolas a des ennuis6. Le Petit Nicolas a des Ennuis/ Goscinny & Sempe. Membaca ulang buku ini, masih saja saya tersenyum-senyum membayangkan si petit Nicolas yang polos dan gerombolan teman-temannya yang selalu jumpalitan bikin kekacauan. Bukan melulu maksud mereka membuat kekacauan, tapi dunia yang diciptakan orang dewasa ini memang kadang sulit dimengerti. (Folio, French)

therese raquin7. Thérèse Raquin/ Emile Zola. Buku Zola pertama yang saya baca, dan merupakan salah satu buku terbaik yang saya baca di tahun 2012. Walau tidak ada karakter yang akan kita suka di buku ini, ceritanya pun jauh dari hangat, Zola memotret watak tokoh-tokohnya dengan tajam dan begitu konsisten, sehingga terasa nyata, logis, dan wajar saja jika kejadian dramatis yang diceritakan itu bisa terjadi. Seperti diakui oleh Zola, buku ini memang tentang watak para karakternya. Zola sedang ingin bereksperimen dengan hipotesisnya mengenai beberapa watak manusia dan bagaimana watak yang berbeda-beda itu bereaksi terhadap suatu situasi. (Gramedia, Indonesia) 

jane eyre8. Jane Eyre/ Charlotte Bronte. Juga merupakan salah satu buku terbaik yang saya baca di tahun 2012. Karakter Jane yang kuat sejak awal buku, dan sikapnya yang berani, membuat saya tidak sependapat dengan beberapa pembaca lain yang menilai buku ini begitu membosankan. Bagian yang menurut saya agak membosankan saya temukan hanya ada di bagian penceritaan Mr. Rochester dan pergaulannya dengan kalangan bangsawan, kehidupan yang dangkal dan penuh klise. Charlotte Bronte menciptakan karakter Jane Eyre yang menurut saya banyak menyiratkan pandangan feminisme, yang pada saat buku ini ditulis tentu masih merupakan hal yang baru dan berani untuk diungkapkan. Adaptasi film, yang saya sempat tonton dalam dua versi yang berbeda, dalam pendapat saya masih tidak mampu menghadirkan karakter Jane Eyre dan ceritanya, setidaknya seperti yang saya bayangkan saat membaca buku ini. (Penguin, English)

Clara's Medal9. Clara’s Medal/ Feby Indirani. Saat melihat covernya, saya berpikir ini buku teen-lit biasa. Dari review di suatu blog saya baru tahu bahwa ini tentang kisah sekelompok remaja yang sedang berada dalam karantina persiapan Olimpiade Fisika. Tema yang menarik, maka saya coba baca. Tentu sebagai bacaan remaja, tetap ada unsur remajanya dengan segala masalah dan tantangan yang mereka hadapi. Saya menemukan karya Feby Indirani ini sebagai yang layak dibaca, ya dari sudut isi maupun bahasanya. Mungkin karena saat membacanya, saya sudah meng-klik otak saya untuk suatu bacaan remaja, saya menikmati membaca buku ini, walau termasuk sangat jarang membaca buku yang ditujukan untuk remaja. Saya berniat membaca karya Feby Indirani lainnya. (Qanita, Indonesia)

dicintai jo10. Dicintai Jo/ Alberthiene Endah. Nah, ini juga menjadi salah satu buku yang paling saya nikmati membacanya di tahun 2012. Tema metro-pop dengan sangat berhasil digarap dan disajikan oleh Alberthiene Endah dengan cara yang begitu natural sekaligus tidak klise. Penulis selalu menyajikan situasi dalam dua sisi, dan membiarkan pembaca melihat kedua sisi tersebut. Penulis tidak menyodorkan pilihannya kepada pembaca. Hal inilah yang saya sukai dari tulisan Alberthiene Endah, dan menurut saya merupakan kekuatan dari karya-karya beliau. Walaupun banyak memakai pembahasaan populer seperti lo, gue, tetap terasa rapi karena bahasa populer tersebut hanya ada dalam percakapan atau pemikiran tokohnya, saat narasi, penulis kembali ke bahasa Indonesia yang rapi. Secara pribadi buku ini juga berkesan buat saya karena membawa saya kembali ke jaman saat saya mulai bekerja di Jakarta, lingkungan kantor dan teman-teman, termasuk tempat-tempat ‘melarikan diri’ yang kok sama dengan pengalaman saya!🙂  (Gramedia, Indonesia)

memoirs of sherlock holmes11. The Memoirs of Sherlock Holmes/ Sir Arthur Conan Doyle. Buku kumpulan cerita dari Sir Arthur Conan Doyle yang pertama kali saya baca. Ya, memang saya terlambat sekali mengenal pasangan sosok Sherlock Holmes yang nyentrik dan Dr. Watson yang sangat rasional ini. Buku ini berisi kumpulan cerita paling memorable yang diceritakan dari sudut pandang Dr. Watson. Karena membaca buku ini, saya jadi ingin membaca cerita Sherlock Holmes lainnya, bahkan mengoleksi seluruh cerita Sherlock Holmes! :) (Gramedia, Indonesia)

siddhartha12. Siddhartha/ Hermann Hesse. Buku klasik karya penulis Jerman ini mengingatkan saya untuk melihat dunia/ kehidupan secara utuh, tidak satu sisi. Melihat hal yang bertentangan tidak melulu sebagai sesuatu yang pasti berlawanan. Juga dalam membedakan antara wisdom dan knowledge. Buku ini berkisah tentang seorang pemuda bernama Siddhartha yang melakukan perjalanan untuk mencari makna hidup (walaupun memakai nama sama, buku ini bukan tentang Sidharta Gautama, sang Buddha), dan bahwa penemuan wisdom itu harus dialami sendiri, bukan dengan sekedar mengikuti cara orang lain atau jalan yang dilalui sang guru sekalipun. (Bantam Books, English)

dr jeckyll13. Dr. Jekyll & Mr. Hyde/ Robert Louis Stevenson. Di buku ini Stevenson ingin menyajikan fakta bahwa dalam diri setiap manusia ada unsur baik dan unsur buruk, sifat mulia dan juga karakter buas kebinatangan, yang kesemuanya harus diatur dan dikendalikan (baca: bukan dihilangkan atau dianggap tidak ada, karena pasti akan tetap muncul dalam bentuknya yang lain). Membaca buku ini ingatan saya tidak bisa lepas dari teori psikoanalisa Freud, dimana manusia terdiri atas id, ego dan superego dengan segala dinamikanya, dan dalam hidup sang ego tak berkesudahan mengendalikan kekuatan dari baik id dan superego. Walau kisah dalam buku ini ada sedikit elemen fantasi, cerita dan tokohnya terasa sangat riil dan relevan dalam kehidupan nyata. (Gramedia, Indonesia)

dracula - bram stoker - constable edition14. Dracula/ Bram Stoker. Membaca buku ini karena ingin mengetahui kisah asli dari Dracula, sesuai yang dikarang penulisnya pada akhir abad ke-19. Soalnya, banyak sekali kisah-kisah Dracula yang beredar, yang semuanya saya rasa terlalu penuh dengan fantasi atau romance. Ternyata bukunya sedikit beda, sukses membuat saya ketakutan karena atmosfir gelap dan teror mental dari si sosok Dracula!🙂

arok dedes15. Arok Dedes/ Pramoedya A. Toer. Buku ini merupakan fiksi sejarah yang membawa kita mundur ke jaman kerajaan-kerajaan di Jawa di era Nusantara pada abad ke 13, cikal bakal manusia Indonesia. Kental dengan unsur politis, Pram dengan piawai memintal kisah yang penuh dengan intrik politik dan kekuasaan, sambil menebarkan fakta-fakta sejarah di sana sini. Buku ini ditulis Pram saat ia masih dalam tahanan di Pulau Buru, dan saya jadi demikian kagum akan ingatan detil sejarah Pram yang mampu menulis karya sedetil dan sefaktual ini dalam tempat dan kondisi yang demikian minim (di Pulau Buru kan tidak ada perpustakaan!). Buku ini juga bisa dibilang sarat dengan metaforik kritik Pram atas pemerintahan dan tokoh-tokoh Orde Baru. (Lentera Dipantara, Indonesia)

lalita16. Lalita/ Ayu Utami. Lalita mengisahkan sosok perempuan bernama Lalita yang mempunyai kesejarahan dengan candi Borobudur. Masih berkisar tiga sekawan Parang Jati – Marja – Yuda, seperti yang ada di buku-buku sebelumnya, Bilangan Fu serta Manjali dan Cakrabirawa, buku ini mengupas suatu kisah sejarah dengan diselingi kisah perkawanan dan percintaan dari ketiga tokoh utama tersebut, dan ‘ajakan’ untuk menerima kehadiran ‘bayang-bayang’ sebagai sisi gelap atau sisi lain dari diri kita. Tanpa kita mampu menyeberang dan menerima sisi yang lain tersebut, kita tidak akan sampai pada sesuatu yang lebih tinggi. (KPG, Indonesia)

adventures of huckleberry finn17. Adventures of Huckleberry Finn/ Mark Twain. Saat SMP dulu, saya sempat membaca Petualangan Tom Sawyer (bahasa Indonesia, edisi unabridged) hingga dua kali karena suka dengan gaya bercerita Twain. Baru belakangan ini saya sempat membaca bukunya yang lain, Petualangan Huckleberry Finn dan ternyata saya sangat menyukainya. Saya pikir buku Huckleberry Finn ini lebih seru, lebih ironis, dan lebih menyajikan pergulatan moral, terutama dalam hal memilih antara melakukan hal yang benar tapi jelas-jelas akan menyulitkan, atau melakukan yang salah tapi sudah pasti selamat. Suatu pertanyaan moral yang selalu ada, dimana pun, di usia hidup berapa pun, membuatnya selalu relevan. Membaca karya Twain saat SMP dan sekarang saat saya sudah ‘berumur’ tentu membawa perbedaan, terutama dalam hal interpretasi, namun pastinya tetap merupakan pengalaman membaca yang mengasyikkan. Benar-benar sebuah buku yang layak dibaca dan dibaca ulang suatu saat nanti. (Elex Media Komputindo, Indonesia)

life of pi18. The Life of Pi/ Yann Martell. Walau sudah memiliki buku ini sejak 2010 lalu, bahkan dengan tanda tangan penulisnya (saya menghadiri summer reading di toko buku Shakespeare and Co, Paris, dimana beliau saat itu hadir menjadi pembicara untuk bukunya yang terbit di tahun itu, Beatrice and Virgil), saya baru benar-benar mood membacanya bulan Desember lalu, saat adaptasi filmnya hadir di cinema. Beruntung saya sempat membacanya sebelum saya menonton filmnya. Menurut saya, buku ini adalah buku yang sangat kaya, mau diinterpretasi secara ringan dan sekedar adventure, ataukah dimaknai secara dalam dan filosofis, semuanya dimungkinkan. Cara Yann Martell bercerita juga sangat brilian, hal abstrak seperti Tuhan bisa digambarkan dengan sangat mudah dimengerti. Saya menikmati setiap paragraf dan menutup buku ini dengan perasaan kehilangan. Life of Pi adalah buku kontemporer yang menurut saya mempunyai peluang besar untuk dianggap klasik pada waktunya nanti. (Canongate, English)

nawilla19. NaWilla/ Reda Gaudiamo. Merupakan kumpulan cerita atas kejadian sehari-hari dari sudut pandang NaWilla, seorang anak perempuan berusia 5 tahun yang tinggal di suatu sudut kota Surabaya. Dengan setting di era ketika TVRI masih menjadi satu-satunya saluran TV yang bisa ditonton, dan anak-anak masih bermain bersama di pekarangan atau di gang depan rumah dalam permainan seperti kelereng, masak-masakan dan sejenisnya, buku ini memberi nuansa kenangan tersendiri. Ya, buku ini memang digolongkan oleh Reda penulisnya sebagai Serial Catatan Kemarin, yang mengambil ide dari cerita-cerita Le Petit Nicolas. Buat saya, cerita-cerita sederhana yang terangkum di buku ini terasa manis dan penuh kenangan, namun mungkin belum tentu bagi pembaca ‘generasi sekarang’ dimana mereka sejak lahir pun sudah berada di jaman digital, mungkin sulit bagi mereka menikmati situasi yang diceritakan. Saya mengenal nama Reda pertama kali saat beliau menyanyikan musikalisasi puisi dari Sapardi Djoko Damono. (Aikon, Indonesia)

4 thoughts on “Name-in-A-Book Challenge 2012 dan Mini-Reviews

    1. mademelani

      iya ternyata jd banyak.. ayo bikin challenge dong bang Helvry…🙂
      kl aku sih udah hopeless mau ngabisin timbunan.. iya mmg krn challenge ini jd lmyn mengikis timbunan, tp di sisi lain brp byk panambahan timbunan, apakah lbh sedikit ato malah lbh byk dr pengikisan timbunan itu, gak tau juga.. tepatnya, tak berani ngitungin haha🙂

  1. jadi mba mei pernah bertemu Yann Martell? how lucky you are *iri setengah mati* hehe….aku jatuh cinta pada ‘Life of Pi’ sejak pertama kali membaca buku tersebut, tapi sayangnya untuk ‘Beatrice & Virgil’ aku tidak sanggup menyelesaikannya, susah untuk dinikmati:(

    1. mademelani

      hihi iya mba Riana, kebetulan aja sedang tinggal di sana dan mmg hobiku jalan ke toko buku legendaris itu, dan sedang ada summer reading.

      iya, buku Beatrice and Virgil mmg mnrt byk org beda bgt dgn life of pi. waktu dia bicara ttg bukunya itu, aku jg gak terlalu ngerti menceritakan apa, ada konteks holocaust lalu apa lagi gitu. mmg agak aneh. tapi ya, aku juga sukaaa dan jatuh cinta ama karyanya life of pi ini🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s