[Hotter Potter] Harry Potter and The Sorcerer’s Stone

hotter-potter-logoPertama, thanks to Melisa yang sudah mengadakan event yang menyenangkan ini. Ini adalah membaca seri Harry Potter yang pertama kali buat saya. Well, tidak sepenuhnya yang pertama kali, karena buku pertama ini saya sempat membacanya di tahun 2000, tapi saya tidak merasa ‘konek’ dengan tokoh dan ceritanya, dan lalu berhenti tanpa selesai. Padahal saya sempat memiliki buku Harry Potter ke-1 dan ke-2 sekaligus, waktu itu masih bahasa Inggris. Tokoh Harry dan lainnya saat itu saya temukan terlalu ajaib, dan dengan segala keajaiban sihir yang mampu mereka ciptakan, kenapa pula harus resah dengan semua masalah yang mereka hadapi itu, pasti semua akan beres? Yah, mungkin saya sedang tidak mood saja dengan cerita jenis itu. Heboh Harry Potter pada tahun itu, pun tahun-tahun setelahnya, juga belum membuat saya tergerak untuk membaca seri ini lagi. Walau demikian, saya tidak pernah berhenti di situ dan menganggap tidak akan membaca buku Harry Potter. Suatu saat, saya akan mengunjunginya lagi. Bila menemukan buku yang ‘tidak pas’, saya cenderung berpikir hal itu lebih disebabkan karena mood saya yang belum cocok, atau waktunya belum tepat. Seringkali, saat saya mengunjungi kembali buku itu dan mencoba membacanya lagi, bertahun-tahun kemudian, saya memiliki impresi yang sama sekali berbeda.

Nah, begitu juga dengan buku Harry Potter ini. Di akhir tahun 2012 lalu, tiba-tiba mood saya untuk membaca genre fantasi dan petualangan muncul kembali, bahkan sempat searching sana-sini untuk mencari beberapa koleksi yang saya inginkan (maklum, penimbun buku kronis). Dan, tepat saat itu Melisa dari Surgabukuku mengumumkan tentang event Hotter Potter ini, maka dengan senang hati saya bergabung.

harry-potter-7-buku-setMaka, saya membeli edisi lengkap boxset hardcover yang berbahasa Indonesia. Siap mengunyah buku-buku ini. Dengan mood yang mendukung, plus penerjemahan yang tiada cacad dan begitu ‘engaging’ (terima kasih Ibu Listiana Srisanti, karya penerjamahan ini kiranya menjadi salah satu legacy beliau), saya menyelesaikan dan menikmati benar buku Harry Potter and the Sorcerer’s Stone ini, bahkan menyelesaikannya dengan terlalu cepat, karena buku ke-2 yang harusnya untuk bulan depan pun sudah langsung selesai saya lahap.🙂

harry potter 1Begitulah. Untuk isi bukunya, dimana penulis lebih menguraikan tentang latar belakang tokoh Harry Potter dan lainnya, dan berlanjut dengan tahun pertamanya di Hogwarts yang penuh hal baru dan kejutan, sepertinya sebagian besar pembaca buku sudah begitu memahaminya. Satu hal yang saya kagumi dari penulisan J. K. Rowling adalah cara beliau memulai kisah. Diambilnya suatu adegan sehari-hari secara mikroskopik, dan dari sana penceritaan menjalar ke dunia yang lebih luas. Membuat kita seakan ikut berada dalam kisah itu. Plotnya juga cukup seru (dan buku ke-2 saya temukan jauh lebih seru!). Mendekati bagian akhir, kita seperti diingatkan oleh penulis untuk tidak memandang sesuatu atau seseorang seperti sebagaimana mereka tampak secara kasat mata, karena dibalik itu, seringkali kita menemukan hal-hal lain yang berlawanan, baik hal baik maupun buruk. Sesuatu itu tidak melulu seperti bagaimana ia tampak atau bagaimana ia dipandang oleh sebagian besar orang. Dan hal ini berlaku juga dalam pertemanan. Lihat saja bagaimana proses Harry, Ron dan Hermione sebelum mereka akhirnya menjadi kawan-kawan sejati.

Satu hal yang saya pikir agak aneh adalah penggunaan sapu dengan kapasitas kecepatan yang berbeda-beda pada permainan quidditch. Di pertandingan itu, setiap pemain boleh menggunakan jenis sapu yang berbeda-beda, ada yang canggih dengan kemampuan terbang sangat cepat, ada yang biasa atau lemah. Memang di sini kemampuan pemain tetap merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan, namun kecanggihan sapu untuk melesat cepat tanpa usaha dari si pemain juga jadi sangat menentukan kemenangan. Bukankah ini aneh dan jadi tampak tidak fair? Apalagi permainan quidditch disini dianggap sebagai semacam ‘pertandingan olahraga’, yang biasanya menyungsung nilai-nilai fairness (semua tim memiliki kesempatan yang sama) dan sportivitas. Mungkin Rowling ingin menunjukkan bahwa toh dengan materi pendukung yang canggih suatu kelompok belum tentu menang walau kesempatan jadi jauh lebih besar, karena ada faktor lain yang lebih menentukan, seperti ketekunan berlatih misalnya. Yang saya anggap aneh adalah Hogwarts sebagai sekolah membuat peraturan itu dan menganggap normal saja. Buat saya quidditch jadi kurang seru sebagai pertandingan karena menjadi seakan pertandingan antar sapu tercanggih, atau tentang keberuntungan, bukan tentang pemainnya.

Buku ke-3 sudah mulai memanggil-manggil untuk saya baca, tapi sepertinya harus saya tahan dulu untuk membacanya pada waktunya. Kalau tidak, bisa jadi sebulan dua bulan ini bacaan saya hanya Harry Potter buku 1-7!🙂

Saya suka quote ini:

” Lagi pula, bagi pikiran yang terorganisir dengan baik, kematian hanyalah petualangan besar berikutnya” –hlm. 367.

Posting ini sekaligus sebagai posting buku anak untuk Fun Year Event with Children Literature untuk Fun Month 1 kategori awards winner, dimana buku Harry Potter and the Sorcerer’s Stone ini memenangkan sejumlah awards seperti tertera di bawah ini. Buku Harry Potter ini kiranya bisa dibaca mulai usia 9 tahun.

  1. Nestlé Smarties Book Prize 1997 Gold Medal 9-11 years
  2. FCBG Children’s Book Award 1997 Overall winner and Longer Novel Category Birmingham
  3. Cable Children’s Book Award 1997
  4. Young Telegraph Paperback of the Year 1998 Carnegie Medal 1998 (Shortlist)
  5. British Book Awards 1997 Children’s Book of the Year
  6. Sheffield Children’s Book Award 1998
  7. Whitaker’s Platinum Book Award 2001

Children Lit FYE-button

2 thoughts on “[Hotter Potter] Harry Potter and The Sorcerer’s Stone

  1. astrid.lim

    mei…itu quote favoritku juga~ dumbledore memang top ya =) btw, bener juga masalah sapu, mungkin mirip dengan prinsip balapan motor/mobil kali ya, kecanggihan penting tapi taktik dan strategi juga harus diperhatikan =) welcome to potter’s world!

    1. mademelani

      ya. tp di pertandingan balap mobil pun ada kelas2nya kan, dan aturan yg ketat shg power output yg dimiliki setiap mobil dijaga ada pada level yg sama. sisanya tinggal seberapa reliable mobil keluaran honda atau mitsubishi atau lainnya, dan yg plg utama seberapa tangkas dan strategis si pengemudi. kalo di quidditch kan, sebelum bicara ttg ketangkasan pemain, power dan kecepatan sapu beda2 banget kapasitasnya. itu cuma yg terbersit di pikiranku sih. bukan hal yg terlalu mengganggu juga. aku tetap sangat menikmati buku harry potter kok dan ceritanya mmg genial!

      yup dumbledore mmg plg top, full of consolation dan selalu wise. i’m glad i’ve finally dove into potter’s world!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s