A Child’s Garden of Verses – Robert Louis Stevenson

a child's garden of versesA Child’s Garden of Verses adalah buku puisi yang awalnya ditulis penulis Skotlandia, Robert Louis Stevenson, untuk anak-anaknya. Buku kumpulan sajak untuk anak ini pertama kali terbit pada tahun 1885, dan sejak itu menjadi buku anak klasik yang demikian dicintai karena siapapun yang membacanya akan merasa masuk ke dunia kanak yang begitu penuh imajinasi dan rasa takjub akan hal-hal sederhana. Apalagi, buku ini juga tampil dengan serangkaian goresan ilustrasi yang begitu indah.

Sajak-sajak yang ada dalam buku ini sangat sederhana karena ditujukan untuk anak-anak mulai usia 3 tahun, dimana umumnya sajak-sajak ini akan dibacakan oleh orang dewasa yang mengasuh si anak. Layaknya garden of verses, sebuah ‘taman kata-kata’, sajak-sajak itu hadir dalam bahasa yang indah dan selalu mempertahankan rima. Tema yang disajikan beragam, tentang alam, kebun, persahabatan, buku cerita, ajakan untuk berperilaku baik, dan lainnya, yang kesemuanya membersitkan rasa cinta dan pesan bahwa hidup ini begitu positif dan indah.

Berikut beberapa dari sajak-sajak favorit saya:

happy thought

Bed in Summer

In winter I get up at night
And dress by yellow candlelight.
In summer, quite the other way,
I have to go bed by day
 
I have to go bed and see
The birds still hopping on the tree,
Or hear the grown-up people’s feet
Still going past me in the street.
 
And does it not seem hard to you,
When all the sky is clear and blue,
And I should like so much to play,
To have to go to bed by day?

Picture Books in Winter

Summer fading, winter comes –
Frosty morning, tingling thumbs,
Window robins, winter rooks,
And the picture story-books.
 
Water now is turned to stone
Nurse and I can walk upon;
Still we find the flowing brooks
In the picture story-books.
 
All the pretty things put by,
Wait upon the children’s eye,
Sheep and shepherds, trees and crooks,
In the picture story-books.
 
We may see how all things are,
Seas and cities, near and far,
And the flying fairies’ looks,
In the picture story-books.
 
How am I to sing your praise,
Happy chimney-corner days,
Sitting safe in nursery nooks,
Reading picture story-books.

Whole Duty of Children

A child should always say what’s true
And speak when he is spoken to,
And behave mannerly at table – 
At least as far as he is able.
 
 

Happy Thought

The world is so full of a number of things,
I’m sure we should all be as happy as kings.
 

picture books in winter1Robert Louis Stevenson adalah juga penulis buku The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde, Treasure Island, Kidnapped, dan beberapa buku travel.

*membaca buku ini adalah bagian dari Fun Year Event With Children Literature, untuk Fun Month Jan/ Feb, kategori Classics.

Children Lit FYE-button

The Wonderful Story of Henry Sugar and Six More

Ini adalah buku kumpulan cerita dari penulis ulung favorit saya, Roald Dahl. Buku ini ditujukan bagi pembaca remaja, tepatnya bagi mereka yang, “…who are going through that long and difficult metamorphosis when they are no longer children and have not yet become adults.”, seperti yang ditulis Dahl di halaman pembuka buku ini. Karenanya, ceritanya tidak sesederhana buku-buku anak karangannya yang lain, pun tidak se’dewasa’ atau se-realistik cerita-cerita lain yang ditulisnya khusus bagi pembaca dewasa. Masih ada unsur fantasi di dalamnya, namun fakta atau hal riil, bahkan yang bersifat autobiografis dari si penulis, juga banyak bertebaran.

Ada 7 cerita dalam buku ini, yang terpanjang memang cerita tentang Henry Sugar itu, dan merupakan cerita yang paling berkesan buat saya. (sayangnya di dalam buku ini tidak ada goresan ilustrasi Quentin Blake; karya Blake hanya ada di cover-nya, tetap terasa hidup dan ‘heboh’).

Henry Sugar (dalam The Wonderful Story of Henry Sugar) adalah seorang pria berusia 40-an, kaya, dikarenakan ayahnya memang seorang yang kaya raya. Henry hidup dengan mewah, ia juga gemar liburan ke tempat-tempat eksotis, bersama teman-temannya yang juga kaya raya. Semuanya memperoleh segala kekayaannya itu dari warisan orang tua, bukan dari kerja mereka sendiri. Henry memiliki tipe atau kesamaan dengan teman-temannya sesama orang kaya tersebut, yaitu tidak pernah merasa cukup kaya. Selalu ada hal yang membuat mereka merasa kurang, terlepas dari uang berjuta-juta yang telah mereka miliki. Selalu ada dorongan untuk memperoleh uang lebih banyak dan lebih banyak lagi. Hal itu disebabkan oleh satu ketakutan atau teror di benak mereka bahwa suatu hari mereka akan bangun pagi dan mendapati seluruh kekayaan mereka lenyap. Tapi Henry juga enggan bekerja keras. Motonya adalah memperoleh keuntungan sebanyak mungkin, kalau bisa tanpa usaha. Suatu hari Henry mendapat cerita tentang seorang India yang bisa melihat walau kedua matanya ditutup rapat. Henry segera berpikir untuk belajar dari si orang India itu kemampuan tersebut, agar bila ia bermain kartu dengan taruhan, ia bisa melihat kartu-kartu lawannya dan karenanya memenangkan permainan dan taruhan tersebut. Maka dimulaikan perjalanan Henry ke India. Dari sini Dahl menciptakan cerita yang panjang dan cukup berliku, hingga mencapai akhir yang diluar prediksi, dan dari cerita yang awalnya tampak ringan ternyata berakhir dengan pesan yang cukup dalam.

Di buku ini yang menarik juga adalah adanya cerita tentang riwayat Dahl menjadi penulis (Lucky Break: How I Became a Writer), dan kisah ini satu-satunya kisah yang bukan fiksi (autobiografis). Kisah hidupnya ini ternyata sangat unik dan sedikit kocak, seunik dan sekocak cerita-cerita karangannya yang sering kita baca. Kalau mau tahu mengenai tulisan cerita yang pertama kali dibuatnya, pada tahun 1942, bisa dibaca di A Piece of Cake. Melalui cerita-cerita pendek lainnya yang disampaikan dengan sederhana dan lugas, tanpa terlalu disadari kita telah digiring Dahl pada hal-hal penting dalam hidup, seperti sifat belas kasihan pada makhluk lain (pada The Boy Who Talked with Animals), kejujuran walau tidak ada yang melihat (pada The Mildenhall Treasure), atau apa itu kebahagiaan (pada The Wonderful Story of Henry Sugar).

Ternyata sudah ada Roald Dahl Museum sekaligus mencakup Story Centre. Letaknya di kediaman Roald Dahl di Great Missenden, Buckinghamshire, tempat ia selama 36 tahun dalam hidupnya menulis. Ada galeri biografi beliau, dan Story Centre tempat pengunjung, anak-anak atau dewasa, berimajinasi membuat cerita sendiri, dan dengan bantuan kostum dan peralatan lain menjadi tokoh-tokoh dari cerita yang diciptakan. Cafe-nya pun bernama Cafe Twit 🙂

Baru-baru ini saya menemukan buku-buku Roald Dahl keluaran Penguin dengan cover yang artistik dan cakep banget! Makin salut dengan Penguin Books!

The Wonderful Story of Henry Sugar and Six More/ Roald Dahl/ Young Adult Literature/ Puffin Books/ 2010 (1977)/ English/ 225 hlm.

Rahasia Kuda Tanpa Kepala

Setelah posting di sini, kembali tentang buku ini, kali ini ulasannya, sekaligus posting baca bareng BBI untuk buku anak. Buku karangan penulis Perancis, Paul Berna, ini terbit pertama kali tahun 1955, dan penerbit BPK Gunung Mulia menerbitkan edisi bahasa Indonesianya pada tahun 1982. Setelah melakukan sedikit search, ternyata Paul Berna adalah seorang penulis terkenal di jamannya, dan buku cerita anaknya pun cukup banyak.

Rahasia Kuda Tanpa Kepala (Le Cheval sans Têtemenceritakan tentang petualangan sekelompok anak yang gemar bermain kuda kayu luncur di turunan jalan di desa kecil mereka, Louvigny. Kuda kayu itu sudah reot benar, belinya pun di toko loak, dan kepalanya sudah tidak ada sejak awal. Jadilah nama mainan mereka, kuda tanpa kepala. Walau usang, benda itu menjadi kesayangan seluruh anggota geng. Setiap siang menjelang sore, sepulang sekolah jika cuaca cerah, mereka akan berkumpul di ujung jalan Petit-Pauvres dan meluncur dengan kuda kayu mereka yang beroda di bagian bawahnya, melesat menuruni jalan tersebut hingga kecepatannya berkurang karena tanjakan jalan di depannya. Anggota geng itu ada 10 anak, laki-laki dan perempuan, yang tertua berusia 12 tahun, dan terkecil sekitar 5 tahun. Beberapa dari mereka akan bertugas berjaga di ujung jalan untuk memberi aba-aba saat yang aman untuk teman mereka yang akan meluncur di kuda mereka. Begitulah kegembiraan anak-anak di desa kecil itu. Sederhana, namun penuh keriangan. Hingga suatu saat, kuda itu dicuri orang. Hal yang aneh adalah, kenapa ada orang yang menginginkan benda usang setengah rusak tersebut, bahkan sampai menawar dengan harga tinggi untuk membelinya? Ada apa gerangan dengan kuda tanpa kepala mainan rongsok mereka itu? Namun bagi anak-anak ini, kehilangan benda kesayangan milik bersamalah yang menjadikan mereka demikian sedih yang lalu membuat mereka bertekad menemukan pencurinya, dan hal ini menggiring mereka ke beberapa petualangan dan penemuan tak terduga.

Cerita yang berjalan lambat di awal ternyata menyuguhkan akhir yang seru dan tak terduga. Di samping itu, sulit untuk tidak menyayangi anak-anak ini, karena mereka begitu polos dalam jiwa kanak-kanaknya, yang tidak mempunyai maksud lain apapun kecuali melakukan segalanya dengan senang hati. Ya, salah satu pesan moral yang paling terasa saat menutup buku ini adalah betapa pentingnya bagi kita untuk melakukan kebaikan dengan senang hati. Jadi, bukan sekedar melakukan kebaikan itu dan segala tujuannya, tapi poin yang penting adalah melakukannya dengan gembira 🙂

“Bagaimanapun, kalau kalian berpikir lebih jauh, kesenangan yang kalian rasakan beberapa hari terakhir ini jauh lebih berharga daripada uang satu dua juta franc. Dan pada umur kalian, pengalaman serupa itu merupakan hal yang paling penting.” (hlm. 235)

Paul Berna, bernama asli Jean-Marie-Edmond Sabran (1908 – 1994), bekerja di surat kabar daerah sebelum menekuni profesi sebagai full-time writer. Paul Berna adalah nama pena yang ia gunakan sebagai penulis buku anak. Buku Rahasia Kuda Tanpa Kepala ini merupakan bukunya yang dianggap paling terkenal, dalam edisi Inggris diberi judul A Hundred Million Francs. Selain cerita anak, beliau juga menulis buku science-fiction dan cerita detektif. Untuk buku-buku dewasa, ia menggunakan nama pena Bernard Deleuze dan Paul Gerrard, dan untuk buku detektif, Joel Audrenn. Jadi, kalau menemukan buku-buku dengan nama-nama ini sebagai pengarangnya, ternyata semua dari orang yang sama.

Buat pembaca anak-anak, rasanya buku ini dengan mudah akan menerbangkan pembacanya ke desa mereka, berpetualangan seru bersama anak-anak geng ini. Bagi kita pembaca dewasa, sepotong masa kanak yang disodorkan Paul Berna ini seperti mengingatkan kita untuk tetap menghidupkan jiwa kanak-kanak (bukan kekanak-kanakan) dalam diri kita, berapapun usia kita. Karena, melalui jiwa kanak-kanak itu, rasanya akan lebih banyak keindahan dan kegembiraan yang kita lihat dalam hidup ini.

Rahasia Kuda Tanpa Kepala/ Paul Berna/ BPK Gunung Mulia/ 1982 (1955)/ Cerita Anak/ Bahasa Indonesia (penerjemah Dictus Sutadi)/ 249 hlm.

Satu Cerita di Le Petit Nicolas a des Ennuis

Suatu saat di bulan lalu saya membaca kembali salah satu buku dalam seri Le Petit Nicolas karangan  René Goscinny dan diilustrasi oleh  Jean-Jacques Sempé ini. Le Petit Nicolas a des Ennuis, atau Kesulitan-kesulitan Nicolas Kecil, terbit pertama kali tahun 1964, adalah kumpulan cerita dari keseharian si Nicolas ini. Kali ini saya tidak ingin membuat suatu review mengenai buku ini, tapi saya ingin mem-posting salah satu ceritanya saja, yang saya terjemahkan (secara bebas). Silahkan menikmati.

(catatan: Charlemagne = salah satu raja Perancis abad pertengahan yang sangat terkenal; maman = mama; perilaku memeluk orang lain atau keluarga adalah sangat wajar ditemui dalam budaya sehari-hari perancis; mata uang franc = mata uang Perancis jaman dulu sebelum berlaku euro, 1 franc = 100 sen; la boulangerie = toko roti artisanal yang biasa juga menjual cake dan coklat)

Nilai Sebuah Uang

Aku meraih tempat keempat dalam pelajaran menulis kisah; saat itu kami sedang membahas tentang Charlemagne dan aku kan hafal semua tentang itu, terutama tentang serangan Roland dengan pedangnya yang seru itu.

Papa dan maman sedang senang karena aku mendapatkan peringkat keempat tersebut, papa lalu mengeluarkan dompetnya dan ia memberiku… tebak apa? Selembar uang sepuluh franc!

“Ini, ambillah, anak pintar.” kata papaku, “besok, kamu boleh membeli apa saja yang kau mau.”

“Tapi… tapi, sayang,” ujar maman, “tidakkah kamu pikir uang segitu terlalu banyak untuk si kecil Nicolas?”

“Sama sekali tidak,” jawab papa, “ini saatnya dia belajar nilai sebuah uang. Saya yakin ia akan menghabiskan uang sepuluh franc ini dengan bijaksana. Bukankah begitu, anak baik?”

Aku tentu saja mengatakan ya, lalu aku bangkit memeluk papa dan maman; mereka memang keren ya! Aku taruh uang itu di dalam saku bajuku, yang lalu membuatku terpaksa menyelesaikan makan malam hanya dengan satu tangan, karena tanganku yang satu lagi sibuk memegang-megang saku itu, memastikan bahwa uang itu tetap ada di sana.

Ya, benar, memang aku tidak pernah memegang uang yang banyak. Oh ya, tentu saja beberapa kali maman pernah memberiku uang cukup banyak untuk membantunya berbelanja di toko kelontong M. Compani, di ujung jalan, tapi uang itu kan bukan milikku dan maman dengan jelas memberitahu berapa jumlah uang yang harus diberikan kepada M. Compani. Jadi, itu berbeda.

Saat aku tidur, aku taruh uang itu di bawah telingaku, tapi aku jadi sulit tidur. Lalu aku bermimpi hal-hal lucu, tampak wajah tokoh yang ada di lembaran uang sepuluh franc itu melihat ke arahku, menyamping dengan ekor matanya, lalu ia meringis-ringis dengan berbagai rupa, juga rumah besar yang ada di belakang bapak itu, berubah menjadi toko kelontong M. Compani…

Ketika aku tiba di sekolah pagi keesokan harinya, sesaat sebelum memasuki kelas, aku memamerkan lembaran uang itu pada teman-temanku. “Wah…,” kata Clotaire, “jadi apa yang mau kamu lakukan dengan uang itu?” “Aku tidak tahu,” jawabku. “Papa memberiku uang katanya supaya aku tahu nilai sebuah uang, dan aku harus membelanjakan dengan bijaksana. Dan yang aku ingin lakukan adalah… membeli sebuah pesawat! Maksudku pesawat betulan.”

“Tidak bisa itu,” sambung Joachim, “pesawat betulan, itu kan harganya paling tidak seribu franc.” “Seribu franc?” kata Geoffroy, “kamu becanda! Kata papaku, itu bisa seharga paling tidak tiga puluh ribu franc, dan itu pun baru pesawat kecil loh.” Kita semua lalu hanya tertawa, karena Geoffroy itu, apapun yang ia katakan, lebih banyak bohongnya.

“Kenapa kamu tidak beli saja sebuah atlas?” tanya Agnan, yang selalu menduduki rangking satu di kelas dan juga anak kesayangan Bu Guru. “Ada peta-peta yang bagus dan foto-foto yang menerangkan banyak hal, sangat berguna.” sambungnya.

“Sekalian saja kamu bilang supaya aku menggunakan uangku ini untuk beli buku?” tukasku. “kalau buku, tanteku sudah selalu membelikanku buku, saat aku ulang tahun atau waktu aku sakit. Yang dia berikan waktu aku sakit gondong saja belum habis aku baca.”

Agnan hanya memandangku, lalu ia beranjak pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi dan mulai membereskan buku-buku gramatikalnya. Dia memang sinting ya, Agnan itu!

“Kamu bisa membeli bola kaki, jadi kita semua bisa main bersama,” usul Rufus. “Kamu becanda,” kataku lagi. “Uang ini kan milikku, jadi tidak akan kubelikan sesuatu untuk dipakai yang lain. Pertama, kamu harus meraih posisi keempat dulu, seperti saya, baru kamu bisa main bola kaki itu,” sambungku.

“Kamu pelit,” tuduh Rufus, “asal kamu tahu ya, kalau kamu dapat posisi nomor empat, itu kan karena kamu anak kesayangan Bu Guru, seperti Agnan itu.” Sayang aku tidak sempat membalas tudingan Rufus karena tiba-tiba bel berbunyi dan kami semua harus berbaris menuju kelas. Selalu saja seperti ini, saat kami baru mau bersenang-senang dan situasi mulai seru, tiba-tiba “teng-teng”… bel berbunyi dan kami harus masuk ke kelas. Saat kami berada dalam barisan, Alceste datang sambil berlari.

“Kau terlambat,” tegas le Bouillon, sang pengawas kelas.

“Ini bukan salahku…” jawab Alceste, “soalnya, ada tambahan croissant di sarapan tadi.”

Le Bouillon hanya menghela nafas berat dan menyuruh Alceste segera masuk ke barisan dan memintanya menghapus mentega yang masih menempel di dagunya.

Di dalam kelas, aku bilang pada Alceste, yang duduk di sebelahku, “Kamu lihat apa yang aku punya?”, lalu aku menunjukkan lembaran uang itu.

Tiba-tiba Bu Guru berteriak,”Nicolas! Kertas apa itu? Bawa ke sini segera, Ibu tahan di sini.”

Aku mulai mau menangis dan aku bawa kertas uang itu ke Ibu Guru yang matanya tampak terbuka lebar-lebar. Ia bertanya, “Apa yang akan kamu lakukan dengan ini?” Aku menjawab, “Aku belum tahu. Papa yang memberikan uang itu untuk serangan Charlemagne.”

Aku lihat ekspresi bu guru yang berusaha untuk tetap serius dan menahan diri untuk tidak tertawa; sudah beberapa kali aku lihat bu guru seperti ini, dan menurutku ia tampak cantik kalau sedang seperti itu. Ia lalu mengembalikan uang itu, dan menyuruhku memasukkannya ke dalam saku, mengatakan bahwa aku tidak boleh bermain-main lagi dengan uang itu, dan bahwa aku jangan menghabiskannya untuk hal-hal bodoh. Kemudian bu guru menanyai Clotaire, tapi aku tidak percaya kalau papanya Clotaire akan memberinya uang untuk nilai-nilainya selama ini.

Waktu istirahat, saat semua sedang bermain, Alceste menarik lenganku dan bertanya apa yang akan aku lakukan dengan uangku itu. Aku jawab bahwa aku tidak tahu; lalu ia bilang bahwa dengan sepuluh franc aku bisa beli berbatang-batang coklat. “Kamu bisa beli lima puluh! Lima puluh batang, kamu tahu?” kata Alceste, “artinya dua puluh lima batang seorang!”

“Dan kenapa aku musti memberimu dua puluh lima batang?” tanyaku, “uang itu kan milikku!”

“Biarkan dia,” sambar Rufus, berkata kepada Alceste, “dia memang pelit!”

Dan mereka pun pergi bermain, tapi aku, aku marah! Tapi benar bukan, apa hak mereka kesal padaku dengan uangku itu?

Tapi, ide Alceste sebenarnya bagus juga, tentang batang-batang coklat itu. Pertama, aku memang suka sekali coklat. Kedua, aku belum pernah punya lima puluh batang coklat sekaligus, bahkan saat di rumah nenek, yang selalu memberiku apapun yang aku minta. Karenanya, seusai sekolah, aku berlari ke sebuah boulangerie, dan saat si ibu boulangerie bertanya apa yang aku mau, aku berikan lembaran uang sepuluh franc itu dan berkata, “Semua untuk batang-batang coklat, Anda bisa memberiku lima puluh batang, seperti yang dibilang Alceste.”

Ibu boulangerie memandang uang itu, lalu melihat ke arahku, dan berkata,”Dimana kamu temukan itu, anak kecil?”

“Aku tidak menemukannya, aku dikasih,” ujarku.

“Jadi ada yang memberimu uang segitu untuk membeli lima puluh batang coklat?” tanya ibu boulangerie itu lagi.

“Ehm… ya,” jawabku.

“Saya tidak suka pada anak kecil yang berbohong,” lanjut ibu itu, “kamu lebih baik mengembalikan uang itu di tempat kamu menemukannya.”

Karena ia terus memelototiku, aku keluar menyelamatkan diri dan menangis terus sampai tiba di rumah.

Di rumah aku ceritakan semua pada maman, lalu ia memelukku dan ia bilang ia akan atur dengan papa. Maman lalu mengambil uang itu dan menemui papa yang sedang duduk di ruang duduk, dan kembali dengan sekeping uang dua puluh sen.”Kamu bisa beli sebatang coklat dengan dua puluh sen ini,” kata maman.

Dan, aku merasa senang, karena akhirnya bisa membeli coklat batangan itu, bahkan aku bagi coklat itu dengan Alceste, karena Alceste itu temanku, dan dengan teman kita selalu berbagi.

Le Petit Nicolas a des Ennuis/ Goscinny & Sempé/ Gallimard Jeunesse/ 2007 (1964)/ Children fiction/ french/ 153 hlm.

Cover lain:

Les Papillons de Victor

Les Papillons de Victor (The Butterflies of Victor, atau Kupu-kupu Victor) adalah buku cerita kecil yang ditulis oleh seorang Perancis, Virginie Kasse, dan diilustrasikan oleh seorang Indonesia, Melissa Sunjaya. Victor adalah seorang anak laki-laki biasa, seperti anak-anak lain, namun ia memiliki kemampuan untuk merasa bahagia, yang semuanya berasal dari sesuatu yang ada dalam hatinya. Ya cerita yang sangat sederhana dan manis, yang bisa dibaca oleh segala umur, karena kita orang dewasa pun kadang butuh diingatkan untuk bisa merasa bahagia karena sesuatu yang sudah ada di hati kita.

Kalimat-kalimat dalam buku kecil ini terjalin indah. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa ilustrasi yang dibuat oleh Melissa Sunjaya merupakan kekuatan utama dari cerita yang hendak disampaikan. Buat saya ilustrasinya ‘lebih berbicara’ daripada kata-katanya.

Ecoute, ceci n’est pas un conte, c’est l’histoire de Victor. Un petit garcon qui a le pouvoir de rendre heureux.

(Dengar, ini bukanlah dongeng, ini adalah suatu kisah tentang Victor. Seorang anak laki-laki yang memiliki kemampuan untuk merasa bahagia.)

Alors, si tu vis un jour sans couleur et si tu as la chance de rencontrer Victor, …

(Maka, jika kamu menghadapi hari yang kelabu dan kamu bertemu dengan Victor, …)

Observe bien au fond de ton coeur, blottis dans les coins… tu decouvriras cachés et endormis, tes papillons…

(Lihat baik-baik kedalam hatimu, di sana, teringkuk di sudut-sudutnya… kamu akan menemukan mereka, kupu-kupumu yang tersembunyi dan tertidur…)

Melissa Sunjaya adalah seorang ilustrator dan product designer dari logo bernama Tulisan. Hal yang unik dari Tulisan adalah semua desainnya memiliki suatu cerita tertentu, ada sebuah kisah dibaliknya, yang mengusung suatu tema emosi tertentu. Dan tema emosi inilah yang ingin disampaikan melalui sejumlah seri dari desain produk-produknya.

Karya yang saya kerjakan bersama dengan tim di Tulisan adalah sebuah usaha untuk merekam dan menyampaikan emosi. Setiap tahap adalah kreasi tangan yang penuh detail. (Melissa Sunjaya, www.mytulisan.com)

And oh I love all the products! I feel happy just by looking at the cheerful designs! (foto: http://www.mytulisan.com)

Diluncurkan pertama kali Desember 2011, Les Papillons de Victor terbit dalam 3 edisi, Perancis, Indonesia dan Inggris, dan dapat dibeli di butik Tulisan di Dharmawangsa Square, Jakarta, atau dipesan online di websitenya.

A heartwarming little book.

Les Papillons de Victor/ Virginie Kasse & Melissa Sunjaya/ Tulisan/ 2011/ Bahasa Perancis/ 17 hlm.

The Invention of Hugo Cabret

gambar adalah versi asli hard cover

Paris, 1931. Hugo Cabret adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal di suatu kamar di stasiun kota. Tugasnya adalah menyetel jam-jam mekanik yang ada di dinding stasiun. Sebenarnya ini adalah tugas pamannya, namun sejak pamannya pergi dan menghilang beberapa bulan lalu, Hugo menggantikannya melakukan tugas tersebut. Keberadaan Hugo bagaikan hantu, ia menyelinap dari satu bilik jam ke bilik lainnya, menyetel serangkaian gir dan gigi dari jam-jam mekanik yang tersebar di stasiun itu. Ia menyembunyikan keberadaannya supaya kepala stasiun tetap menganggap pamannya masih ada dan masih menjalankan tugasnya, agar ia tetap bisa tinggal di kamar kecil pamannya di stasiun itu. Hugo tinggal sendiri, dan untuk makan kadang ia harus mencuri.

Namun tidak hanya jam yang ada di pikiran Hugo. Di benaknya ada sebuah rahasia, yang merupakan warisan dari mendiang ayahnya. Ayahnya dulu bekerja di sebuah museum, memperbaiki segala yang rusak. Suatu hari ia menemukan sebuah patung kayu mekanik, atau yang disebut automaton, yang jika diputar, akan memunculkan suatu gerakan menulis sesuatu. Sayangnya patung itu saat ditemukan sudah rusak, dan sang ayah berniat memperbaikinya. Hugo sempat melihat patung itu bersama ayahnya di gudang museum. Suatu kecelakaan yang terjadi di museum menewaskan ayahnya, dan Hugo pun menjadi yatim piatu. Namun sebuah catatan yang dibuat ayahnya mengenai cara memperbaiki patung tersebut menjadi benda berharga peninggalan sang ayah, dan Hugo berniat meneruskan memperbaiki patung tersebut. Entah mengapa, Hugo merasa patung itu akan menyampaikan sesuatu, dan akan menghubungkannya dengan masa depannya.

Di stasiun itu ada sebuah toko mainan kayu mekanik (jaman itu mainan terbuat secara mekanik dari kayu, seperti kotak musik yang bisa diputar dan mengeluarkan bunyi, atau mobil-mobilan atau binatang yang jika diputar akan bergerak), yang dijaga oleh seorang bapak tua yang selalu berwajah muram. Hugo sering mengintai dari balik jam dan mencuri beberapa komponen dari toko itu untuk mengganti beberapa bagian yang hilang dari patung yang sedang diperbaikinya. Dari sinilah petualangan Hugo dimulai, sejak bapak tua itu menangkap basah Hugo, mengambil buku catatannya, perkenalan Hugo dengan anak perempuan bernama Isabelle, juga Etienne, teman Isabelle. Akankah Hugo mendapatkan kembali buku catatannya yang berharga itu? Apakah patung tersebut berhasil diperbaiki, dan jika ya, tulisan apa yang akan keluar dari ujung penanya ketika mesin patung itu diputar?

Suatu cerita anak yang dikombinasikan dengan fiksi sejarah menjadikan buku ini bacaan yang buat saya sangat memikat, suatu pilihan cross-genre yang menarik. Ilustrasi hasil goresan tangan Brian Selznick yang brilian, begitu hidup, merupakan bagian integral dari cerita. Ya, gambar-gambar itu sangat bercerita, banyak penggalan cerita disampaikan melalui serangkaian halaman gambar ilustrasi yang tak perlu kata-kata untuk menjelaskannya. Bergantian, beberapa halaman cerita dalam kalimat disusul oleh berlembar-lembar cerita dalam ilustrasi. Kekuatan Selznick sepertinya lebih pada ilustrasinya, karena sepertinya melalui gambar-gambarnya, the story speaks louder. Lihat saja tatapan mata yang digambarnya misalnya, tampak hidup, mengandung emosi atau sinar mata tertentu. Ajaib! Gambar-gambar itu juga terasa bergerak. Membaca buku ini jadi layaknya sedang menonton film.

Melalui kisah ini, Selznick ingin mengantar kita pada seorang figur penting dalam sejarah perfilman Perancis, Georges Méliès (1861-1938), yang kisah hidupnya juga telah mengilhami Selznick untuk menulis buku ini. Bernama asli Marie-Georges-Jean Méliès, Méliès adalah pesulap dan pembuat film di masa-masa awal perfilman perancis di pergantian abad ke-20. Ia juga seorang inovator yang sangat produktif, khususnya dalam menciptakan special effects untuk film-filmnya, dan hal inilah yang menjadikan film-filmnya berbeda. Mungkin karena juga seorang pesulap, Méliès kerap memasukkan unsur magic atau surreal pada film-filmnya, sehingga kadang julukan “cinemagician” ditujukan kepadanya. Selain itu, ia juga pelopor dalam pembuatan film-film horor. Filmnya yang terkenal diantaranya adalah Le Voyage dans La Lune/ A Trip to the Moon (1902) dan Le Voyage Impossible/ The Impossible Voyage (1904). Dikatakan melalui karya-karyanya, Méliès banyak menginspirasi tokoh-tokoh besar lain dalam sejarah, antara lain Thomas Edison, Jean Cocteau dan Walt Disney.

Di masa hidupnya, Méliès memiliki koleksi automaton, karena seorang pesulap masa itu sering memakai automaton sebagai alat triknya, namun banyak yang sudah hancur atau hilang. Di akhir hidupnya, Méliès jatuh bangkrut, dan dalam kemarahannya ia membakar semua film negatifnya beserta sejumlah kostum dan setting yang ada di studionya. Karenanya, hampir semua karyanya musnah dan tidak ada lagi saat ini, kecuali beberapa yang sempat diproduksi di Amerika. Kecintaannya pada film didorong hasratnya untuk menciptakan dan menghadirkan mimpi  bagi pemirsanya. “Laugh, my friends. Laugh with me, laugh for me, because I dream your dreams.“, adalah secuplik ungkapan hasratnya yang mendasari karya-karyanya. Banyak plot dalam buku ini mengambil persis kisah hidup sang cinemagician ini.

Tidak heran Perancis menghargai Méliès sebagai salah satu figur paling honorable di negerinya. Nama Méliès dijadikan nama rantai bioskop lokal di Perancis. Setelah baca buku ini saya baru tahu latar belakang nama bioskop yang tersebar di seluruh Perancis itu, di kota besar sampai ke kota-kota di pelosoknya. Berbeda dengan bioskop besar yang banyak memutar film box-office internasional, bioskop Méliès lebih memusatkan diri pada film-film perancis dan film internasional yang memenangkan award tertentu atau yang dianggap bernilai seni, dan jarang sekedar jenis film hollywood yang sedang hangat misalnya. Saya mengakui memang sering menemukan film bermutu yang bukan sekedar hiburan di bioskop Méliès yang ada di kota kecil saya waktu itu.

Dari Le Voyage dans La Lune (1902). Walaupun secara teknik film pasti sudah tergolong kuno, tidakkah idenya masih terasa sangat original bahkan pada saat ini?

Adegan the sun swallows the spaceship, dari Le Voyage Impossible (1904).

Kembali ke buku The Invention of Hugo Cabret ini, ada bagian percakapan yang saya sangat suka:

“Apakah kau perhatikan bahwa setiap mesin dibuat untuk alasan tertentu?” tanya Hugo pada Isabelle. “Ada yang dibuat untuk membuatmu tertawa, seperti tikus ini, atau untuk menunjukkan waktu, seperti jam, atau membuatmu keheranan, seperti automaton itu. Mungkin itu sebabnya mesin yang rusak selalu membuatku sedih karena ia tidak dapat melakukan yang seharusnya.”

“Mungkin orang juga begitu,” Hugo melanjutkan. “Jika kau kehilangan tujuanmu… rasanya seperti mesin rusak.” (hlm. 384)

“Kadang-kadang aku datang ke sini pada malam hari, bahkan ketika aku tidak sedang memperbaiki jam, hanya untuk melihat-lihat kota. Kamu tahu, tidak pernah ada bagian yang berlebih pada sebuah mesin. Jumlah dan jenis setiap bagiannya tepat seperti yang mereka butuhkan. Jadi kupikir, jika seluruh dunia ini adalah sebuah mesin yang besar, aku pasti berada di sini untuk tujuan tertentu. Dan itu berarti, kamu berada di sini juga untuk tujuan tertentu.” (hlm 388)

Brian Selznick adalah ilustrator (dan penulis) berbagai buku dan novel dan pernah meraih penghargaan sebagai ilustrator terbaik versi New York Times. Ia juga aktif sebagai penjual buku dan desainer. Buku-bukunya yang lain juga melibatkan gambar-gambar goresan tangannya dan tampaknya selalu membawa pembaca pada perjalanan yang magical. Bravo untuk Mizan Fantasi yang telah menerbitkan salah satu karyanya, dan tetap mempertahankan cover aslinya. Bahkan, back cover dan spine-nya pun tampak amazing!

The Invention of Hugo Cabret/ Brian Selznick/ Young Adult Literature/ Mizan Fantasi/ 2012 (2007)/ Bahasa Indonesia/ 543 hlm.

Seandainya Mereka Bisa Bicara

Saya sudah lama tahu mengenai James Herriot, seorang dokter hewan yang bertugas di pedalaman pedesaan Yorkshire, Inggris, yang juga menulis sekian seri tulisan mengenai pengalamannya, namun baru berkesempatan membaca satu bukunya baru-baru ini. Buku ini merupakan salah satu treasure yang saya dapatkan saat berkunjung ke garage sale di rumah orang tua teman di bilangan Tebet, Jakarta, bulan Januari lalu. Terbitan 1978 dari penerbit Gramedia, dengan bentuk fisik buku dan irama terjemahan yang langsung mengingatkan saya pada buku-buku cerita anak terjemahan yang banyak saya baca sekitar tahun-tahun itu, buku ini makin terasa tuanya, pun jadi begitu berharga.

Beruntung juga saya membaca buku ini sebagai buku pertama dari James Herriot yang saya baca, karena di sini ternyata diceritakan awal mula James berkarir di pedesaan Yorkshire. Setting adalah tahun 1930-an. Sebagai dokter hewan (beberapa kesempatan lain disebutkan sebagai dokter spesialis bedah hewan) yang baru lulus, ia menerima pekerjaan magang di desa di Yorkshire. Awalnya ia menyangsikan apa yang akan ia dapat perbuat di desa terpencil itu, apakah ia akan merasa bosan mengingat sepinya daerah itu, namun disisi lain ia juga merasa beruntung karena jaman itu banyak koleganya sesama dokter hewan yang harus menerima pekerjaan apa saja atau bersedia tidak dibayar karena kurangnya lapangan pekerjaan. Setidaknya ia bekerja sesuai pendidikan profesinya dan memperoleh gaji. Ia diterima bekerja magang oleh seorang dokter hewan senior satu-satunya di wilayah itu, Siegried Farnon, seorang tua yang cukup nyentrik namun sangat baik hati, di rumahnya yang bernama Skeldale. Segera James terlibat dalam panggilan-panggilan darurat mengunjungi rumah petani jauh di pelosok baik untuk menolong lembu yang melahirkan atau sakit perut, kuda yang keracunan, anjing yang kesakitan, atau babi yang sekarat.

Rumah Skeldale, bangunan sebelah kanan, tempat tinggal James yang kini menjadi Museum James Herriot

Tidak jarang James harus bergumul di lantai kandang yang lembab dan becek dengan kotoran hewan atau cairan yang keluar dari perut hewan yang sedang ia tangani, bajunya yang jadi basah dan belepotan, atau tangannya yang kerap kali harus masuk ke tubuh si hewan. Setengah geli saya saat membaca bagaimana James membandingkan antara apa yang disajikan di kuliah dengan praktek nyata di lapangan, dimana saat kuliah selalu disajikan image dokter hewan dengan jas putihnya yang tampaknya selalu bersih dan mulus, dengan sang dokter yang tersenyum seakan-akan apa yang akan dihadapi di depannya adalah sesuatu yang paling indah di dunia, dan si lembu yang selalu duduk manis menunggu untuk ditolong melahirkan. Kenyataannya hampir selalu situasi bersifat darurat, kotor, minim fasilitas, bahkan kadang emosional. James juga harus menghadapi sikap petani yang pada awalnya menyangsikan kemampuan profesionalnya, dan selalu membandingkannya dengan Siegried. Namun James tetap menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati, dan pada akhirnya, di mata James, para petani itu adalah orang-orang terbaik dan paling tulus yang ia pernah temui, karena di sisi lain mereka juga sangat penolong dan bersahabat. Yah, segalanya memang butuh waktu, bukan? James pun banyak belajar dari para petani itu, seperti:

Aku mulai mengenal dan menyukai kehidupan petani. Mereka adalah orang-orang yang tabah dan mempunyai filsafat yang baru bagiku. Jika ada bencana, yang bisa membuat orang kota putus asa dan membenturkan kepalanya pada tembok, mereka hanya mengangkat bahu sambil berkata, “Ya, itu biasa. Memang harus terjadi begitu.” (hlm. 80)

Di saat-saat James merasa kelelahan menanggulangi kondisi hewan yang berat, hal yang mengembalikan semangat dan tenaganya ternyata hal-hal yang begitu sederhana, seperti suguhan minum teh di rumah petani sehabis menjalankan tugas, atau berhenti sebentar saat perjalanan pulang untuk duduk sendiri di padang pedesaan Yorkshire, memandangi rumput yang mengalun oleh hembusan angin, dengan awan-awan yang beriring di atasnya. Duduk hanya merasakan angin dan memandangi padang, di sini James banyak merenung dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalanya. Secara keseluruhan, semua pengalaman itu menjadi pengalaman yang begitu berkesan, yang tidak hanya mengajarkan James menjadi dokter hewan yang andal, namun juga banyak pelajaran tentang mencintai makhluk hidup, manusia ataupun makhluk ciptaan Tuhan lainnya, dan mencintai hidup itu sendiri.

James Herriot menuliskan karya semi-autobiografinya ini dengan bahasa yang lugas, terus terang, dan penuh humor. Beberapa kali saya tersenyum sendiri membayangkan situasi yang diceritakan mirip seperti adegan film kartun. Di kesempatan lain juga banyak tersirat renungan, yang tergolong sangat baik untuk pembentukan karakter. Pesan terkuatnya menurut saya adalah betapa pentingnya kita mencintai apa yang kita lakukan, dan itu tidak bisa dipaksakan. Dalam buku ini juga ada tokoh bernama Tristan, adik dari Siegried, yang juga seorang dokter hewan, namun jelaslah bahwa kecintaannya bukan pada hewan. Apapun yang ia lakukan, atau disuruh lakukan, karena tidak didasari oleh kecintaan, menjadi salah, manipulatif, dan menimbulkan kerugian baik bagi pasien yang dihadapi maupun dirinya sendiri. Semua pihak menjadi merana. Maka carilah apa yang kau suka, tekuni dengan sepenuh hati dan bertanggung jawab, maka kebahagiaan akan datang dengan sendirinya, kebahagiaan yang datang bukan dari uang, namun dari rasa hangat yang menyeruak di hati…

Rasanya saya ingin membaca buku-bukunya yang lain, yang semuanya ditulis dengan judul yang terdengar manis, seperti All Creatures Great and Small, All Things Bright and Beautiful, All Things Wise and Wonderful, The Lord God Made Them All, Dog Stories, dan beberapa lainnya. James Herriot memang fenomenal. Bernama asli James Alfred Wight, tempat aslinya di Yorkshire juga sudah menjadi tujuan wisata bagi mereka penggemar karyanya. Sebut saja The World of James Herriot (museum James Herriot), mengambil tempat di rumah Skeldale di desa Thirsk, Yorkshire Utara, yang bisa dilanjutkan dengan walking tour napak tilas jejak kehidupan James di desa itu. Dari seri buku-bukunya juga sudah lahir beberapa program televisi. If Only They Could Talk (Seandainya Mereka Bisa Bicara) juga dikatakan mengilhami Andrea Hirata untuk menjadikan Edensor, suatu nama desa di selatan Yorkshire, sebagai salah satu judul bukunya (walau di buku ini nama Edensor tidak disebut (?)). Di sini, karyanya yang lain yang juga sudah diterjemahkan adalah Dog Stories (Kisah-kisah Anjing) dari penerbit Gramedia.

Suatu treasure yang kocak dan manis yang saya temukan di awal tahun.

Seandainya Mereka Bisa Bicara/ James Herriot/ Memoar/ 1978 (1970)/ Gramedia/ Bahasa Indonesia/ 312 hlm.

Greyfriars Bobby

Greyfriars Bobby/ Eleanor Atkinson/ Gramedia Pustaka Utama/ 2010 (1940)/ Literatur/ Bahasa Indonesia/ 277 hlm.

Greyfriars Bobby adalah suatu karya yang dianggap ‘klasik’, karangan seorang penulis Amerika, Eleanor Atkinson (1863-1942). Terbit pertama kali pada tahun 1940, cerita ini ditulis Atkinson berdasarkan kisah nyata terkenal yang terjadi di Edinburgh, Skotlandia, pada sekitar akhir abad ke-19.

Bobby adalah anjing kecil periang berbulu kusut yang dimiliki seorang pekerja kasar, kadang gelandangan, bernama Auld Jock. Ia mengikuti kemana saja tuannya pergi, menunggunya bekerja di ladang, ke kedai makan, juga saat harus bermalam di jalanan. Suatu saat Auld Jock jatuh sakit dan meninggal di pagi hari. Karena Auld Jock sempat mengumpulkan uang yang cukup, maka saat meninggal ia layak diperlakukan seperti orang terhormat dan dimakamkan di pekuburan untuk orang-orang terhormat, pekuburan Greyfriars.

Bobby yang sangat sedih dari hari ke hari selalu menunggui makam tuannya, tidur di atasnya, walau ada aturan anjing tidak boleh masuk ke pekarangan gereja yang sekaligus menjadi area pekuburan tersebut. Di sinilah dimulai petualangan-petuangan Bobby berusaha tetap mendatangi tuannya walau hanya untuk duduk di atas makamnya. Juga keterlibatan orang-orang di sekitar Greyfriars, termasuk Mr. Brown sang penjaga pekuburan yang awalnya tidak suka dengan kehadiran Bobby, yang tersentuh oleh kesetiaan Bobby dan akhirnya bekerja sama menyelundupkan Bobby agar ia bisa selalu bermalam di atas makam tuannya itu. Perhatian akan adanya seekor anjing terrier kecil yang demikian setia, dan perjuangan orang-orang yang membela Bobby, akhirnya meluas ke komunitas yang lebih besar. Bahkan dewan kota pun akhirnya terlibat untuk membela hak Bobby, dan orang-orang pun mulai menyebut anjing ini Greyfriars Bobby.

Kesetiaan Bobby menunggui makam tuannya berlangsung hingga 14 tahun. Ia akhirnya meninggal karena tua, dan sebuah patung lalu didirikan di samping pekuburan itu untuk mengenang kesetiaan seekor anjing kepada tuannya.

http://www.scotland-welcomes-you.com

Walau tetap ada unsur fiksi, buku ini banyak mengungkap nama-nama, tempat-tempat dan serangkaian peristiwa yang memang terjadi sehubungan dengan kisah nyata si anjing skye terrier kecil ini. Nama asli Auld Jock disebutkan di buku ini adalah John Gray, yang mana memang merupakan tuan yang sebenarnya dari Bobby si anjing dari Edinburgh ini. Hanya saja John Gray asli disebutkan bekerja sebagai polisi dan penjaga malam di kota Edinburgh. Patung Bobby sendiri memang benar ada, juga pekuburan Greyfriars, dengan patung Bobby dan kisah dibaliknya, telah menjadi objek wisata. Bar “Greyfriars Bobby” pun ada di sisi jalan dimana patung berada. Bobby sendiri dikuburkan tidak jauh dari makam John Gray.

Biasanya, aku cukup mudah terharu atau ‘jatuh hati’ jika membaca buku tentang anjing. Sayangnya, buku ini, walau banyak mengangkat kedekatan anjing dan tuannya, menurutku tidak terlalu berhasil membangkitkan rasa haru atau relasi emosinal dengan tokoh-tokohnya, termasuk dengan Bobby. Bahasa dan kalimat-kalimat di buku ini, mungkin karena faktor terjemahan, atau memang bahasa aslinya yang demikian, aku rasakan cukup kaku, dan seringkali mengacu pada nama-nama tempat yang bagi kita pembaca yang tidak mengenal seluk beluk kota Edinburgh jadi sulit untuk serta merta memahami maksud suatu kalimat atau paragraf. Kekakuan kalimat ini aku rasakan cukup mengganggu hingga agak sulit rasanya buatku untuk benar-benar ‘berada pada setting cerita’. Ceritanya sendiri sebenarnya cukup bagus.

Kisah tentang kesetiaan seekor anjing kepada tuannya yang demikian fenomenal dan mengharukan tidak hanya terjadi di Skotlandia. Kisah serupa juga ada di Jepang, tepatnya di stasiun Shibuya, Tokyo, pada tahun 1920-30an. Hachi, seekor anjing milik seorang profesor yang bekerja di Universitas Tokyo, setiap pagi mengantar tuannya berangkat kerja berjalan ke stasiun Shibuya, dan sore hari biasanya ia menunggui tuannya di stasiun tersebut dan lalu mereka berjalan pulang bersama. Suatu hari, setelah pertemuan di kampus, profesor tersebut terkena serangan jantung dan meninggal dunia. Hachi sang anjing seperti biasa datang ke stasiun untuk menjemput tuannya. Karena tidak mengerti bahwa sang tuan telah meninggal dunia, Hachi selama berhari-hari tetap menunggu kedatangan tuannya di stasiun. Demikianlah, walaupun tuannya tak kunjung muncul dari pintu stasiun, Hachi tetap datang ke stasiun Shibuya pada jam-jam kepulangan tuannya, berharap bertemu kembali dengan tuannya itu, selama kurang lebih 10 tahun.

http://www.ihup.edu

Kisah Hachi menunggu majikan di stasiun mengundang perhatian Hirokichi Saitō dari Asosiasi Pelestarian Anjing Jepang. Prihatin atas perlakuan kasar yang sering dialami Hachi di stasiun, Saitō menulis kisah tentang anjing bernama Hachi ini dan mengirimkannya ke media. Perhatian pada anjing yang setia ini pun lalu bermunculan; pengguna stasiun, pedagang, pejalan kaki, mulai terbiasa melihatnya dan menyayanginya. Akhiran “ko”, yang berarti “sayang” pun ditambahkan di belakang nama Hachi, menjadi Hachiko. Suatu pagi Hachiko ditemukan sudah tidak bernyawa di sisi lain stasiun Shibuya. Ia meninggal dunia pada usia 13 tahun. Seorang pematung kemudian mendirikan patung Hachiko di stasiun Shibuya pada tahun 1935, dan kemudian patung yang sama juga didirikan di kota Odate, tempat kelahiran Hachiko. Kisah anjing setia Hachiko ini bahkan dijadikan bahan bacaan wajib di sekolah rakyat Jepang untuk murid kelas 2 sebagai bacaan pelajaran moral, dengan tema “Balas Budi Jangan Dilupakan”.

http://www.straitstimes.com

Patung Hachiko di stasiun Shibuya telah menjadi bagian dari lanskap stasiun itu dan sering menjadi meeting point bagi orang-orang  di sana. Ia pun tak luput pula menjadi salah satu objek wisata unik di Tokyo. Kisah Hachiko pun sempat difilmkan, salah satunya adalah Hachiko: A Dog’s Story, yang merupakan remake dari film Jepang yang sudah ada sebelumnya, dengan Richard Gere sebagai pemeran utama.

Kisah-kisah patung anjing juga ada di beberapa tempat lainnya di belahan dunia, beberapa di antaranya dapat dibaca dengan menarik di blog ini.

Greyfriars Bobby versi Penguin Books

Kembali pada buku Greyfriars Bobby ini, sang penulis Eleanor Atkinson, sebenarnya tidak pernah berada di Edinburgh sebagai setting sebenarnya dari kisah Bobby ini. Ia membangun ceritanya dari kisah Greyfriars Bobby yang dikenalnya dan dari sana membangun imajinasinya. Walaupun demikian, penceritaan lokasi geografis tempat-tempat yang ada di buku ini tergolong detil, walau kadang juga membingungkan. Mungkin ini juga yang menjadi alasan pembaca merasakan sedikit ‘kekakuan’ kalimat dan kebingungan atas nama-nama tempat di Edinburgh yang berseliweran di buku ini. Sebagai orang Amerika dan tidak berada di setting cerita, Atkinson toh mampu menghadirkan aksen scottish yang kentara disana-sini dalam buku ini. Diduga ia mengenal cerita ini dan mempelajari aksen scottish tersebut dari seorang imigram Skotlandia yang ada di dekat tempat tinggalnya. Selain Greyfriars Bobby, Atkinson, yang selain penulis juga seorang jurnalis dan guru, juga menerbitkan beberapa buku novel dan non fiksi pendidikan. Buku Greyfriars Bobby juga mengilhami beberapa film, seperti Challenge to Lassie (MGM, 1949), dan Greyfriars Bobby: The True Story of A Dog (Disney, 1961).

Balikpapan, 18 Juli 2011

Mei

Catherine Certitude

Catherine Certitude

Patrick Modiano (author) & Sempé (illustrator)

Gallimard, 2009 (1988)

Literature – young adult, french, 99 hlm.

This petit book from a french writer, Patrick Modiano, tells a story about a french ballet dancer living in New York, Catherine Certitude, when she was remembering, in a nostalgic manner, her childhood life in Paris with her dad. Her life was among rue d’Hauteville in the tenth arrondissement, and the school, the dancing classes, his father’s office, and ultimately the affectionate conversations with her dad. Dad was always there in the time while her mom, also a ballet dancer, had gone back to America, to her home country. After 3 years of separation and ‘having mom only in the form of letters’, Catherine and her father rejoined the mother in New York.

In the times of difficult situations, Catherine, who was wearing glasses, would put down her glasses and the world would become blur. She would then enter into a dreamy world, beautiful and rather unreal. This is a simple story told in a light and ludic way about a piece of childhood, where being in a dream is still perfectly fine, and about the warmth of dad’s companion.

The german translation edition, Catherine, die kleine Tänzerin (Diogenes, 1991) (Wikipedia)

The theme of father in Modiano’s works is said to be recognizable as one of his central themes. Having not known very well his father himself, as he was almost always away from his life, Modiano developed continuously the theme of searching identity (of self and others) and of the paternal love. This book also quite much reflects the story of Modiano’s family, where his mother is also an artist.

Illustrated by the formidable sketches and water color works of Sempé, this little book has become an enjoyable reading and art in hand. Jean-Jacques Sempé is a famous french illustrator whose works are well recognized, among other things, in the series of Le Petit Nicolas (together with René Goscinny).

Modiano was born in Boulogne-Billancourt in 1945 of an italian jews father and a flamande (Belgium) mother, and has written many novels (contemporary literature) and scenarios.

Paris, 7 juin 2010

Mei

My Family and Other Animals

My Family and Other Animals

Gerald Durrell

Puffin Books, 2006 (1956)

Autobiography, english, 387 pages

My Family and Other Animals is an autobiographical work of a naturalist, animal lover, zoo founder, conservationist, and author, Gerald Durrell, telling a part of his childhood years spent in Corfu island, Greece, between 1935 – 1939. Durrell had originally intended to write a natural history of the island as a “mildly nostalgic account“, but “I made a grave mistake by introducing my family into the book in the first few pages…“, and so how it became, a memoir book about his family and other animals during his years in Corfu.

Being tired and always ill because of the damp and depressing weather of England, the whole family had finally decided to move to Corfu island in search for the sun; Larry (Lawrence Durrell, now famous novelist) – 23, Leslie – 19, Margo – 18, and Gerry (Gerald) being the youngest – 10, and their mother. Writer Larry brought with him trunks of books; hunting passionate Leslie his hunting things; Margo being in her sensitive year of self-consciousness on beauty, whatever she thought was necessary; mother her collection of cookbooks; and Gerry his dog, Roger, and some books and journals on natural history. With the miraculous help of a local character, Spiro, the eccentric family slowly and eventually settled down into the life of picturesque Corfu.

Corfu became a natural paradise for Gerry. The hills, the vineyard, the olive groves, the ponds and streams, the untouched beach and the sea, as well as other small islands in the archipelago. With morning walking with his dog as his routines, he explored the island, observed the animals, and found a marvelous world of life in the ponds, streams, beach, and was being friends with some local peasants. He also adopted some animals, partly for he found them so adorable, partly for helping them find a home. Owl, scorpions, turtles, birds, some more dogs, fish, water snakes, to name just a few. Soon their villa had also become home for these variation of animals, which often set dramatic (and hilarious) scenes within the family life, as not all of them shared the same passion with Gerry. Mother, in this case, was always accommodating and understanding. Exploration on animal behaviors were described by Gerry in so much detailed yet humorous way, as if you were reading an analyses from an animal psychologist. Description on tortoise’s mating behaviors, a bird who at some point ‘decided to stop being a bird’, dogs with their ‘understanding of the world’, for example, have been very interesting and entertaining, at least to me.

Gerry’s encounter with Theodore Stephanides (Theo), Greek doctor, scientist, poet and philosopher, marked an important point in Gerry’s childhood life. With him, Gerry found a soul-mate to share his passion on natural life and animals. Being tutor as well as friend, Theo walked with him into the woods and accompanied him in observing animal phenomenas. He also treated Gerry as an equal expert in animals regardless his young age. It is said that it was by this encounter that Gerald Durrell later found the inspiration to continue his life as naturalist, founded a zoo and a conservation center.

Durrell in his final years, with 'cottontop tamarins' (photo Wikipedia)

Animals to Durrell are the great voteless and voiceless majority, who can only survive with our help. His messages are reflected through this book in humorous and poetic ways, making the reading both entertaining and educating.

Born in India in 1925 of parents with english and irish origins, Durrell reported that his first visit to a zoo in India attributed to his life-long love of animals. He dedicated all his life to animal world: working in the zoo, going in to some animal expeditions around the world, founding a zoo and then a conservation center. He died in 1995 and has been a highly respectful figure in England. To this date, his zoo and conservation center (www.durrell.org) continue making efforts in saving and conserving the endangered animals of this planet. The world is as delicate and as complicated as a spider’s web, you send shudders running through all the other threads. We are not just touching the web, we are tearing great holes in it, became the reason for his conservation acts.

My Family and Other Animals
Birds, Beasts and Relatives
The Garden of the Gods

My Family and Other Animals has equally autobiographical sequels: Birds, Beasts and Relatives (1969), and The Garden of the Gods (1978).

He dedicated this book to his mother.

Paris, 7 June, 2010

Mei