Best Books 2013

Haloo..

Setelah sekian lama absen dari blogging dan blog ini ‘nganggur’ berbulan-bulan, kini saya kembali lagi.. Saya awali dengan membagi cerita tentang buku terbaik yang saya baca di tahun 2013.

cat in the window - karya Jean-Jacques Sempé
cat in the window – karya Jean-Jacques Sempé

Kegiatan membaca sebenarnya tetap berjalan seperti biasa, malah saya sempat ‘mencicipi’ genre yang saya jarang sentuh dan membaca beberapa buku dari pengarang yang kali itu karyanya pertama kali saya baca. Melepaskan diri dari beberapa ‘rencana baca’ dan membiarkan diri mengalir mengikut ‘mood baca’ (dalam arti membaca apa dan kapan), ternyata membawa saya pada penemuan-penemuan menarik. Ibarat melakukan sebuah perjalanan, melakukan pengembaraan atau flâner membuat kita mengobservasi dan menyerap lebih banyak hal sepanjang perjalanan itu, dibanding melakukan perjalanan yang berfokus pada destinasi. Rencana baca semula memang jadi agak porak poranda, namun kenikmatan membaca ternyata lebih saya rasakan. Karena tidak memperdulikan target baca, saya jadi lebih ‘bebas’, menemukan banyak hal kecil yang biasanya saya lewatkan, dan banyak bagian  buku saya temukan begitu ‘memorable’. Saya juga membaca lebih tanpa ekspektasi tertentu, saya ingin menemukan buku itu apa adanya, dan berkenalan dengan apa yang sebenarnya penulis ingin sampaikan melalui karyanya itu. Sejumlah buku-buku itu akhirnya menjadi buku yang saya golongkan sebagai buku terbaik 2013. Berikut ulasan singkatnya.

la gloire de mon pere1. La Gloire de Mon Père – Marcel Pagnol. The Glory of my Father. Sebuah novel autobiografis dari penulis, playwright dan cinematographer Perancis. Tentang kehidupan masa kanak-kanak penulis, saat papa, maman dan keluarga terdekat adalah dunia terintim si tokoh. Di musim panas, seperti biasa, mereka pergi berlibur ke pedesaan Provence, menginap di sebuah villa tua. Marcel kecil sangat ingin ikut pergi berburu burung bersama papa dan pamannya, namun tentu saja tidak diperbolehkan. Dengan suatu cara akhirnya ia berhasil mengikuti kedua orang dewasa itu pergi ke hutan, yang akhirnya membuatnya mengalami petualangan mendebarkan, pengenalan pada alam dan dirinya sendiri. Ditulis dengan bahasa yang sophisticated, menghadirkan alam Provence Perancis yang khas saat musim panas, kehangatan keluarga ‘jaman dulu’ yang begitu sederhana. Menyentuh sekaligus komikal. Terbit pertama kali tahun 1957. Ilustrasi keren oleh Sempé .

lAmant2. L’Amant – Marguerite Duras. The Lover. Tentang kenangan kehidupan seorang gadis remaja Perancis di Saigon, di masa sisa-sisa pendudukan Perancis di Vietnam. Si tokoh lalu memiliki seorang ‘kekasih’, seorang pria Vietnam, yang dengannya hubungan mereka berjalan dengan tidak banyak kata-kata, mengalir begitu saja, tanpa bentuk, namun sangat membekas bagi keduanya. Tema cerita lebih pada perasaan keterasingan. Ditulis dalam bahasa yang sederhana, membacanya seperti sedang mendengarkan kisah kenangan yang disampaikan penulis, tidak terlalu berstruktur, maju-mundur di masa sekarang dan masa lalu, tidak melulu berada dalam plot tertentu, tapi lebih pada eksplorasi pikiran dan perasaan si tokoh. Saya membaca kisah ini tanpa terlalu memperdulikan ada atau tidak plot, saya ikuti saja kemana pengisahan itu berjalan, menikmatinya, dan membuat saya jadi merasa demikian intim dengan pikiran dan perasaan sang tokoh. Akhir kisah sangat membekas. Beautiful and profound. L’Amant memenangkan le prix Goncourt tahun 1984.

Anna Karenina, Leo Tolstoy, Penguin Classics, 2003, translated by Richard Pevear and Larissa Volokhonsky

3. Anna Karenina – Leo Tolstoy. Membaca versi lengkapnya membuat saya mengerti mengapa buku ini begitu banyak dibicarakan dan bahkan dianggap sebagai the best novel ever written oleh sebagian kalangan. Anna Karenina ternyata berbeda dari anggapan saya sebelumnya tentang buku karya Tolstoy ini. Anna sendiri, walau dijadikan judul, tidak menjadi tokoh paling utama di kisah ini, bahkan tidak menjadi tokoh protagonis. Ia bukan heroine, malah mewakili suatu tokoh yang penuh kegagalan dan self-destruction, walaupun dalam banyak sisi hidupnya dilimpahi kemudahan dan keberuntungan. Tokoh ‘sampingan’ yang justru menjadi focal point dari buku ini, dimana banyak kritik mengatakan bahwa tokoh ini merupakan self-portrait dari Tolstoy sendiri, adalah tokoh Levin, yang berasal dari latar belakang yang begitu berbeda dari Anna dan sepanjang tahap hidupnya berjuang mencari makna hidup. Buku ini, buat saya, secara sederhana menyodorkan pertanyaan: “What does it take to be truly happy?”. Saya rekomendasikan untuk membaca versi lengkapnya, supaya kita tidak hanya berkutat pada kisah ‘romance’ Anna, tetapi juga tokoh-tokoh lain dan pendalaman situasi sekitar yang begitu kaya digambarkan. Buku terbitan Penguin Classics ini diterjemahkan dari bahasa Rusia ke bahasa Inggris dengan sangat baik oleh Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky, dua penerjemah yang memenangkan award khusus untuk penerjemahan sastra Rusia ke Bahasa Inggris.

dog stories4. Dog Stories – James Herriot. Saya sangat mudah jatuh hati pada kisah-kisah yang berhubungan dengan anjing. Dan disini, James Herriot kembali menunjukkan kepekaannya dalam mengobservasi kejadian dan perasaan dan menuangkannya dalam tulisan, sehingga kisah-kisah ini menjadi kisah yang begitu membekas. Buku ini berisi berbagai kisah pengalaman sang dokter hewan dari daerah pedesaan Yorkshire yang permai ini, berkaitan dengan penanganan anjing yang menjadi pasiennya, maupun pasien jenis lain dimana seekor anjing menyertai perjalanan pasien itu. Dalam tulisan Herriot, anjing-anjing ini jadi begitu ‘manusiawi’.

all that is gone5.  All That is Gone – Pramoedya Ananta Toer. Adalah buku kumpulan cerita pendek, yang diambil dari dua buku kumpulan cerita pendek Cerita dari Blora (terbit 1952) dan Subuh (1951). Pram disini menghadirkan cerita-cerita semi-autobiografis dengan muatan emosi yang kuat, twist yang kadang tidak terduga, dan elemen kenangan yang kental. Beberapa dari cerita itu begitu membuka mata saya akan situasi pasca kemerdekaan, terutama pada kehidupan ‘orang-orang biasa’ yang kehidupannya terpengaruh oleh masa revolusi itu. Pram disini membuktikan kepiawaiannya dalam menghadirkan cerita dengan karakter yang kuat dan plot yang penuh dalam ruang sempit bernama cerita pendek. Lebih jauh tentang All That is Gone bisa dibaca di sini.

rahasia selma6. Rahasia Selma – Linda Christanty. Buku ini adalah pengalaman pertama saya membaca karya Linda Christanty. Cerita-cerita Linda berlatar cukup sederhana dan sehari-hari, namun di akhir cerita selalu menghadirkan sesuatu yang begitu tak terduga yang kadang memporak-porandakan pemahaman awal kita tentang cerita itu, yang ternyata bisa bermakna dalam dan historis. Sama seperti Pram, saya begitu kagum pada keahlian Linda dalam menghadirkan karakter yang kuat dan cerita yang begitu membekas dalam ruang pendek bernama cerpen. Buku tipis ini membuat saya ingin membaca karya-karya Linda lainnya.

ring of fire7. Ring of Fire, an Indonesian Odyssey – Lawrence Blair dan Lorne Blair. Buku ini adalah memoar dan catatan perjalanan dari kakak beradik Blair yang mengarungi lautan dan menjelajah beberapa pulau di Indonesia dalam rangka membuat film dokumenter, di awal tahun 70-an. Sarat dengan komentar dan analisis mengenai kondisi lingkungan, biologis, maupun elemen antropologis, buku ini menjadi begitu kaya dan mengasyikkan dibaca. Belum lagi tempat-tempat yang dijelajahi Blair adalah laut dan pedalaman pulau yang jauh dan ‘terasing’, yang oleh kebanyakan orang Indonesia saat ini pun masih belum banyak terjelajahi, seperti kepulauan rempah Maluku, pedalaman Papua, perairan Komodo, laut Aru, dan beberapa tempat lainnya. Blair menulisnya dengan bahasa yang demikian mengalir, serius dan penuh analisa di beberapa aspek, namun selalu penuh humor khas orang Inggris. Buku ini saya beli tahun 2012 silam saat Lawrence Blair hadir di acara Ubud Writers & Readers Festival, dimana ia memutarkan dan mengulas salah satu film dokumenternya tentang pelayarannya menjelajah laut Aru. Indonesia is definitely dangerously beautiful!

hunger8. Hunger – Knut Hamsun. Ya, buku ini mengisahkan tentang lapar, dan bagaimana kondisi fisik berupa perasaan lapar (dan kelaparan) itu begitu mempengaruhi kondisi mental seseorang. Knut menuliskan novel ini sebagai bentuk reaksi atas ‘kekecewaannya’ pada sebagian besar novel kontemporer pada jamannya yang menurutnya terlalu stereotip dalam plot dan miskin dalam karakter. Maka hadirlah ‘Hunger’, yang memang tidak terlalu mengandalkan plot, namun lebih pada eksplorasi ‘interior landscape’ – perasaan, pikiran, harapan, kekecewaan, dunia batin, si tokoh. Si tokoh adalah seorang penulis yang sedang berjuang meraih sukses dengan mengandalkan karyanya, yang imaginasinya menjadi demikian tergerus oleh kondisi lapar berkepanjangan yang ia alami. Novel ini cukup depresif, namun juga membawa hal-hal tak terduga di beberapa bagian akhirnya, dan di penghujung cerita menyajikan suatu ironi yang divisualisasikan dengan ‘indah’. Beautifully tragic. Buku ini membuat saya ingin membaca karya Knut Hamsun lainnya, yaitu Growth of the Soil.

nawung9. Nawung – Galuh Larasati. Ini mungkin termasuk buku “underrated”, dimana tidak banyak orang tahu mengenai keberadaan buku ini, tenggelam dalam hiruk pikuk buku-buku lain, bahkan keberadaannya di toko-toko buku saya lihat sering terpinggirkan. Padahal, buku ini menurut saya menyajikan kualitas penulisan yang prima dengan bahasa yang sangat rapi namun mengalir, dan isi yang sangat baik. Melalui buku Nawung ini,  seorang sastrawati baru saja lahir. Ya, buku ini adalah buku pertama Galuh Larasati, mengisahkan tentang seorang anak perempuan bernama Nawung dan perjalanan hidupnya hingga dewasa yang penuh dengan lika-liku kebahagiaan, kesedihan, kebangkitan dan keterpurukan, serta harapan. Yang membuatnya berbeda adalah buku ini sarat dengan nilai-nilai luhur tradisional (tanah Jawa) yang demikian dalam dan universal, yang sering kita lupakan atau remehkan. Setiap paragrafnya menghadirkan potret dan renungan yang sederhana namun membekas. Salah satu ‘wejangan’ yang saya dapat dan yang paling berkesan buat saya adalah tentang memohon sesuatu yang sederhana dan secukupnya dari Tuhan, dan ketika berkah itu telah benar-benar dihadirkan di depan kita, hendaknya kita memeliharanya dengan baik.

the jungle school10.  The Jungle School – Butet Manurung. Sokola Rimba. Buku ini adalah sebuah diari, atau jurnal, dari seorang Butet Manurung, yang bekerja sebagai pendidik di pedalaman hutan Jambi. Dimulai dari masa-masa awal penugasannya sebagai education facilitator bersama organisasi WARSI, hingga didirikannya Sokola Rimba, sekolah khusus untuk anak-anak suku asli di hutan Jambi. Tulisannya sederhana, namun tajam dalam observasi dan reflektif dalam analisanya. Banyak insight yang saya dapat dari membaca diari ini, bukan melulu mengenai kehidupan suku terasing, tapi lebih pada sikap Butet yang penuh pikiran terbuka dan rendah hati dalam menghadapi orang yang ditemui. Ia tidak mengasumsikan bahwa cara modern adalah pasti lebih baik dan lalu membuat misi menerapkan cara baru itu pada mereka yang dicap sebagai ‘terbelakang’ ini, namun semua diawali dari upaya mengenali kelompok masyarakat itu lebih dalam, dan siapa bilang cara kita sudah pasti lebih baik untuk mereka? Menghargai perbedaan dan kemajemukan. Merambah pola pikir yang berbeda. Pada akhirnya sebenarnya tidaklah terlalu jelas siapa belajar dari siapa. Inspiratif dan sangat membuka wawasan. Butet Manurung hadir dalam Ubud Writers & readers Festival 2012, dan memperkenalkan buku The Jungle School ini ke kalangan nasional dan internasional yang hadir. Versi Bahasa Indonesia hadir setahun kemudian dengan judul Sokola Rimba, terbitan Penerbit Buku Kompas.

100 tahun kesunyian11. One Hundred Years of Solitude – Gabriel Garcia Marquez. Seratus Tahun Kesunyian. Bersama buku ini saya menelusuri kehidupan Jose Arcadio Buendia, yang bersama kelompok kecilnya membangun sebuah desa di tengah hutan di Columbia. Cerita  bergulir dengan banyak tokoh dalam beberapa generasi, dalam banyak kejadian, dalam bentuk sejarah yang berulang. Banyak yang mengatakan bahwa novel ini mencerminkan perjalanan sejarah Columbia sendiri, tapi jika pun kita tidak ingin mengaitkannya atau memperdulikannya dengan unsur politik, kisah ini bisa sangat mewakili perjalanan kehidupan manusia secara mikro maupun makro, dengan segala kejatuhan dan kejayaannya, yang ujung-ujungnya mengembalikan semuanya ke ‘titik nol’. Unsur magical realisme-nya menurut saya tidak terlalu kental dan pas saja (saya pribadi merasa jauh lebih sulit memahami kisah fantasi), dan perpaduan unsur realis dan surealis itu, ditambah tokoh dan kejadian yang begitu kaya, membius saya masuk ke alam fisik dan pikiran keluarga Buendia, sehingga saat menutup buku ini di akhir cerita, saya seakan membutuhkan waktu untuk ‘kembali ke realitas’.

mencari emas12. Mencari Emas – Jean-Marie Gustave Le Clézio. Buku ini menarik perhatian saya karena nama Jean-Marie Gustave Le Clézio. Salah satu karya lainnya, L’Africain, sempat saya baca walau tidak selesai, dan saya sangat menyukai gaya penulisannya yang liris dan penuh nuansa kenangan. Buku ini menceritakan tentang Alexis dan keluarganya yang tinggal di Pulau Mauritius. Saat ayahnya mengalami kebangkrutan, Alexis mempunyai mimpi untuk menemukan emas yang ia percaya dikuburkan seorang bajak laut di suatu pulau lain, dan dimulailah perjalanan itu. Seorang pembaca mengatakan bahwa buku ini layaknya sebuah surat cinta Clézio pada laut, dimana penggambaran mengenai laut dibuat demikian hidup dan indah. Saya pun saat membacanya seakan ikut mendengar desir angin laut, melihat warna biru gelap laut terpampang di depan mata, merasakan pasir yang menempel di kulit yang basah, dan meresapi kesunyian yang dihadirkan malam di atas laut. Mungkin gaya penulisannya yang liris turut membawa kita hanyut ke alam cerita. Kisah ini seluruhnya merupakan narasi dari Alexis, dengan sedikit dialog. Bagian kisah dimana Alexis mulai berteman dengan Ouma, seorang gadis suku Manaf, penduduk asli di sana, merupakan bagian indah favorit saya. JMG Le Clézio adalah pemenang nobel kesusastraan pada tahun 2008.

Demikianlah, 12 buku terbaik dari sekian buku yang saya baca sepanjang tahun 2013. Tahun 2014, saya harap saya juga akan menemukan banyak buku bagus yang saya nikmati proses membacanya.

Mei

All That Is Gone – Pramoedya Ananta Toer

All That is Gone, Pramoedya A. Toer, Penguin Books, 2005, English, Terj. Willem Samuels, 255 hlm.
All That is Gone, Pramoedya A. Toer, Penguin Books, 2005, English, Terj. Willem Samuels, 255 hlm.

Saya merasa sangat beruntung berkesempatan membaca karya Pram yang satu ini, All That is Gone. Buku yang versi aslinya sudah tidak terbit lagi di Indonesia ini berisi tulisan cerita karya Pram yang begitu tajam memotret manusia dengan kondisi emosi dan sosialnya di sekitar masa akhir penjajahan. All That is Gone (terbitan Penguin Books tahun 2005) adalah kumpulan cerita pendek karya Pramoedya Ananta Toer, yang diterjemahkan dari dua buku kumpulan cerita pendeknya, Cerita dari Blora (terbit 1952, dilarang beredar pada tahun 1976), dan Subuh, (1951).

Walau pelarangan beredarnya buku-buku Pram sudah dicabut, namun buku-buku Pram masih sulit dicari, dan bahkan untuk beberapa karya terdahulunya sudah hilang dari peredaran. Saya pun jadi harus mencarinya melalui penerbit luar negeri. Meski Pram sudah dibebaskan sejak tahun 1979, stigma yang melekat pada dirinya (dan karyanya) masih kental. Orang membicarakan Pram lebih karena kesejarahan personalnya sebagai bekas tahanan politik, dan bukan karya-karyanya. Bahkan, suatu fakta yang menyedihkan, hingga kini nama Pram tidak masuk dalam nama-nama sastrawan Indonesia yang dipelajari di pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah. Sepertinya, label “tahanan politik atau tapol” masih membawa ketakutan tertentu, dan kita masih lebih melihat ‘orang’, daripada ‘karya’.

Pengalaman saya membaca karya-karya Pram, saya justru menemukan bahwa karya-karya itu memiliki sedemikian kedalaman makna maupun kualitas literasi, yang memicu pembaca untuk berpikir lebih kritis atas situasi di sekelilingnya, yang menumbuhkan kecintaan pada akar diri sendiri – kecintaan yang bernalar dan tidak membabi buta juga, menelaah kebaikan dan keburukan yang seringkali ada bersamaan, membuat kita melihat sisi kemanusiaan yang lebih sejati, yang tidak sekedar dibungkus oleh suatu kebangsaan atau teriakan nasionalisme tertentu.

Suatu ironi bahwa karya Pram dihargai justru oleh dunia luar, diterjemahkan ke lebih dari tiga puluh bahasa asing, diterbitkan oleh penerbit-penerbit kualitas dunia (Penguin Books dan penerbit universitas-universitas utama di Amerika adalah beberapa contohnya), dan diakui dalam beberapa penghargaan sastra tingkat internasional. Pram, hingga kini, adalah satu-satunya sastrawan Indonesia yang masuk dalam nominasi Nobel untuk literatur. Karya Pram merupakan bacaan di sekolah-sekolah internasional di dalam dan luar negeri, pun di universitas-universitas negara tetangga, dan karya lengkapnya menjadi bagian dari koleksi perpustakaan di negara lain. Namun di negerinya sendiri, karya-karya Pram sulit dicari, dan begitu sedikit dibaca. Bagi Pram, mungkin ia tidak membutuhkan segala penghargaan internasional itu, karena ia menulis lebih ditujukan untuk bangsa dan rakyat Indonesia, seperti yang tersirat dalam pengakuannya dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (The Mute’s Soliloquy, Penguin Books, 1999). Yang Pram butuhkan adalah kita, bangsa Indonesia, membaca karyanya, mengkritisi apa yang ditulisnya, dan akhirnya menumbuhkan sikap yang mandiri dan penuh harga diri atas kemanusiaan.

Kembali pada All That is Gone, buku kumpulan cerita ini terdiri atas 8 cerita pendek, dimana 7 diantaranya diambil dari Cerita dari Blora, dan 1 dari Subuh. All That is Gone dipandang mengandung cerita-cerita yang bersifat semi-autobiografis (Blora adalah kota kelahiran dan masa kecil Pram). Si tokoh tidak selalu berupa individu yang sama, personifikasinya dimulai dari si tokoh yang masih kecil dan hidup dalam lingkungan keluarga terdekatnya, hingga beranjak ke tokoh yang lebih dewasa di cerita-cerita berikutnya. Latar belakang adalah kota kecil Blora dengan penggambaran alam, kondisi sosial dan kejadian-kejadian, dalam konteks akhir masa kolonial, bergerak ke masa pendudukan Jepang, dan masa sesudahnya. Nuansa emosi yang dihadirkan pun ikut berubah sejalan dengan perpindahan cerita dan perubahan si tokoh, dari dunia masa kecil yang hangat dalam dekapan ibu dan bapak, berangsur menjadi kelam sejalan dengan nalar si anak yang sudah mulai bisa memahami realitas (dan ironi) yang terjadi di sekitarnya. Semakin ke belakang, tone cerita menjadi semakin getir, gelap, penuh ironi kemanusiaan. Kita dibuat lupa bahwa kita sedang membaca sebuah kumpulan cerita, dan bukan sebuah novel panjang.

Setelah membaca semua cerita itu, saya seakan melihat suatu panorama emosional, sosial-budaya dan politis dari sudut pandang kehidupan sehari-hari di sekitar akhir jaman kolonial dan masa-masa awal kemerdekaan. Panorama itu lebih berwarna kelam, sendu oleh ironi, dan hal ini dengan sangat baik tergambar pada covernya (seekor angsa yang tampak megap-megap seperti mempertahankan hidup, menitikkan air mata). Untuk semua cerita itu, Pram memang membuktikan sebagai pencerita yang ulung, sangat realistis sekaligus menyentuh. Realistis, karena penggambarannya yang tidak berlebihan dan “hidup” serta sangat kental dengan kejadian-kejadian sejarah. Menyentuh, karena Pram memotretnya secara ‘mikroskopik’, melalui kehidupan sehari-hari tokoh-tokohnya yang merupakan orang-orang sederhana yang menghadapi kejadian-kejadian itu, membawa kita masuk ke alam pikiran dan perasaan mereka yang mengalaminya. Dari sini kita jadi belajar sejarah, dalam arti melihat sejarah dari sisi yang berbeda dari yang sering kita temukan dalam buku teks sejarah yang mengutamakan fakta kronologis, namun juga belajar dari sejarah, melalui perenungan dan refleksi kemanusiaan yang dihadirkan melalui cerita-cerita itu.

Berikut kedelapan cerita dalam buku ini:

Pada cerita All That is Gone, kenangan masa-masa awal hidup sang tokoh menjadi tema utama, saat kehidupan masih sangat sederhana dalam dunia kecil yang terdiri atas ibu, bapak dan lingkungan rumah. Sejalan dengan waktu, melalui mata kanaknya, sang tokoh mulai melihat realitas yang menguak di hadapannya. Air mata ibu, kebohongan bapak, kesedihan, pertanyaan-pertanyaan, pemahaman, dan akhirnya penerimaan.

“You can do whatever you want with the things you justly earn, even your own life and your own body. Everything.” my father once told me, everything you justly earn.”

How long does it take to speak a sentence? The sound of his voice was but for a few moments. A momentary tremble of sound waves, and then it was gone, not to be repeated. Yet, like the Lusi that constantly skirts the city of Blora, like the waters of that river, the remembered sound of that voice, coursing through memory, will continue to flow – forever, toward its estuary and the boundless sea. And not one person knows when the sea will be dry and lose its tide.

But all that is gone, gone from the grasp of the senses. – hlm. 30

Cerita Inem mengisahkan tokoh Inem kecil sebagai pembantu dan teman bermain si tokoh utama yang juga masih kecil. Pola pandang budaya yang masih demikian sempit menjadikan nasib Inem begitu tragis. Ironisnya, figur yang bisa membantunya justru memilih untuk tidak melakukan apa-apa, semua demi menjaga ‘kelayakan’ dan nama baik keluarga. What a shame!

Pada In Twilight Born, sang tokoh sudah beranjak remaja. Diceritakan dalam lingkungan rumahnya ada beberapa anak angkat yang tinggal bersama dan bersekolah. Salah satunya bersikap sangat vokal dalam menyuarakan pendapatnya, terutama mengenai idealisme politik dan sosial. Sang Bapak juga aktif di luar rumah dalam organisasi sosial. Sang tokoh sangat kagum pada mereka berdua, dan sering mengimitasikan apa yang dikatakan mereka walau tidak memahami benar apa maksudnya. Suatu ketika situasi sosial politik berubah, yang berakibat keluarga sang tokoh mengalami kesulitan ekonomi. Dalam kondisi sulit seperti ini, kakak yang diidolakan dan Bapak justru sering pergi meninggalkan rumah dengan dalih menenangkan diri, pergi ke kota lain atau bermain judi untuk menghilangkan tekanan pikiran. Tinggal sang Ibu yang berjuang dari hari ke hari menyambung hidup rumah tangga. Hingga pada suatu senja, sang Ibu, dengan ditemani seorang bidan, berjuang sendiri melahirkan anak kesekian, dengan sang tokoh yang menunggu ketakutan di balik pintu.

Circumcision menceritakan tentang harapan sederhana seorang bocah yang harus pupus oleh kesadaran bahwa untuk mencapainya ternyata diperlukan biaya atau kekayaan yang besar, dimana kondisi itu jauh dari kenyataan hidupnya. Ironisnya, harapan di kepala sang bocah itu sebenarnya pun tidak ‘tepat’, karena lebih merupakan harapan sosial yang memperkarakan status religiositas individu lain. Tema ini diangkat melalui mata bocah sang tokoh.

Pada Revenge, sang tokoh yang sudah mulai dewasa di masa-masa awal kemerdekaan berpikir bahwa menjadi tentara ada cita-citanya, seperti semua pemuda di lingkungannya pada masa itu. Namun serangkaian kejadian yang dialaminya saat ia pertama kali terjun dalam perjalanan tugasnya, saat kelompok tentara itu menangkap seseorang yang dianggap sebagai mata-mata, membuatnya sadar bahwa menjadi tentara bukanlah panggilan hidupnya.

The pilgrim’s body kept being dragged on and on, but by now he was no longer human, much less a citizen of a free and democratic nation. Absolutely not! For the crowd that night, he was a wonderful plaything, no difference from a rubber ball for a cat or promises for this country’s former colonial masters.

In large office buildings far beyond the demarcation line, this act would be called facist behavior, a Nazi terror technique, or the legacy of the Japanese. In fact, it was pure stupidity, for which everyone present was to blame: the pilgrim, his judges, his executioners, and I myself. But maybe the worst thing about what happened is the pleasure that people took in playing judge. There is nothing more disastrous in life than a stupid judge. – hlm. 111

Cerita Independence Day mengisahkan tentang mantan tentara pejuang kemerdekaan bernama Kirno yang kembali ke rumah dalam kondisi cacad fisik, yaitu buta dan tanpa kaki. Duduk statis di kursi rodanya dan selalu berada dalam kegelapan, Kirno banyak melakukan refleksi atas apa yang dialaminya dan menemukan bahwa hidup membawa sejumlah paradoks, yang harus diterima. Dan, apa sebenarnya makna ‘kemerdekaan’?

Acceptance adalah cerita yang buat saya paling menyentuh dan paling membukakan mata. Pram membawa kita mengikuti kehidupan sebuah keluarga sederhana di masa kedatangan Jepang dan perang revolusi di awal kemerdekaan. Nasib keluarga ini seakan ikut terseret naik turunnya berbagai ideologi yang bergantian berkuasa di sepanjang masa itu, apakah itu nasionalis atau sosialis. Keberuntungan dan kemalangan bergantian menghampiri keluarga itu. Pertolongan dan malapetaka bisa datang dari pihak yang sama, pihak yang kita anggap baik maupun buruk. Semua begitu relatif. Lagi-lagi, semua hanyalah masalah kekuasaan dan menguasai orang lain. (Saya jadi teringat akan fabel Animal Farm dari George Orwell, yang dalam cerita ini menemukan bentuk konkretnya). Dan, nasib keluarga ini begitu tragis hingga Sri, dari sudut mana narator bercerita, menumbuhkan sikap ‘acceptance‘ lebih supaya bisa bertahan hidup dari keabsurdan yang dialaminya.

On this occasion, as had happened so many times before, Sri told herself to accept what had happened, that with acceptance everything would again be all right. – hlm. 210

The Rewards of Marriage adalah cerita tentang harapan dan kenyataan. Apa yang tadinya kita impikan ternyata begitu tercapai mengimplikasikan hal-hal yang kita ingin hindari.

Membaca cerita-cerita Pram kita dipaparkan akan begitu banyak paradoks dan ironi, bukan dari hal-hal yang besar, tapi justru dari serpihan kehidupan sehari-hari. Pada cerita-cerita itu, sangat terasa bahwa Pram tidak menggurui, apalagi menentukan pembaca harus bagaimana. Ia hanya menyajikan, memaparkan. Tinggal kita yang melihat, meresapi, dan berefleksi atasnya. Pikiran dan perasaan tokoh-tokoh itu adalah bagian dari pikiran dan perasaan kita juga, sebagai manusia. Buku ini pada akhirnya adalah tentang manusia. Konteks jaman kolonial dan kemerdekaan hanyalah sebuah latar belakang. Manusia, dari status apapun, dari jaman kapanpun dan di belahan bumi manapun, merasa bahagia oleh sebab yang sama, dan merasa sedih atau terluka oleh hal yang sama. Itulah inti sederhana dari humanity.

A literary gem.

*Membaca buku ini adalah bagian dari Membaca Sastra Indonesia 2013 – Klasik, dan Baca Bareng BBI bulan Februari dengan tema Buku Pram (memperingati ulang tahun beliau di bulan Februari ini).

Membaca Sastra Indonesia 2013

BBI_asli logo

A Child’s Garden of Verses – Robert Louis Stevenson

a child's garden of versesA Child’s Garden of Verses adalah buku puisi yang awalnya ditulis penulis Skotlandia, Robert Louis Stevenson, untuk anak-anaknya. Buku kumpulan sajak untuk anak ini pertama kali terbit pada tahun 1885, dan sejak itu menjadi buku anak klasik yang demikian dicintai karena siapapun yang membacanya akan merasa masuk ke dunia kanak yang begitu penuh imajinasi dan rasa takjub akan hal-hal sederhana. Apalagi, buku ini juga tampil dengan serangkaian goresan ilustrasi yang begitu indah.

Sajak-sajak yang ada dalam buku ini sangat sederhana karena ditujukan untuk anak-anak mulai usia 3 tahun, dimana umumnya sajak-sajak ini akan dibacakan oleh orang dewasa yang mengasuh si anak. Layaknya garden of verses, sebuah ‘taman kata-kata’, sajak-sajak itu hadir dalam bahasa yang indah dan selalu mempertahankan rima. Tema yang disajikan beragam, tentang alam, kebun, persahabatan, buku cerita, ajakan untuk berperilaku baik, dan lainnya, yang kesemuanya membersitkan rasa cinta dan pesan bahwa hidup ini begitu positif dan indah.

Berikut beberapa dari sajak-sajak favorit saya:

happy thought

Bed in Summer

In winter I get up at night
And dress by yellow candlelight.
In summer, quite the other way,
I have to go bed by day
 
I have to go bed and see
The birds still hopping on the tree,
Or hear the grown-up people’s feet
Still going past me in the street.
 
And does it not seem hard to you,
When all the sky is clear and blue,
And I should like so much to play,
To have to go to bed by day?

Picture Books in Winter

Summer fading, winter comes –
Frosty morning, tingling thumbs,
Window robins, winter rooks,
And the picture story-books.
 
Water now is turned to stone
Nurse and I can walk upon;
Still we find the flowing brooks
In the picture story-books.
 
All the pretty things put by,
Wait upon the children’s eye,
Sheep and shepherds, trees and crooks,
In the picture story-books.
 
We may see how all things are,
Seas and cities, near and far,
And the flying fairies’ looks,
In the picture story-books.
 
How am I to sing your praise,
Happy chimney-corner days,
Sitting safe in nursery nooks,
Reading picture story-books.

Whole Duty of Children

A child should always say what’s true
And speak when he is spoken to,
And behave mannerly at table – 
At least as far as he is able.
 
 

Happy Thought

The world is so full of a number of things,
I’m sure we should all be as happy as kings.
 

picture books in winter1Robert Louis Stevenson adalah juga penulis buku The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde, Treasure Island, Kidnapped, dan beberapa buku travel.

*membaca buku ini adalah bagian dari Fun Year Event With Children Literature, untuk Fun Month Jan/ Feb, kategori Classics.

Children Lit FYE-button

[Classics Club August Meme] My Favorite Classics

Participating this meme on the last day of the month ;). The question is, what is your favorite classics book, and why? I’ve got in my mind a number of classics books that I adore, but if I have to choose one, the one that just comes out prominently is.. Les Misérables.

I read it some years back and I remember my reading experience was a very memorable one. I found the book was so rich, be it the emotions, characters, plots, history, struggles and conflicts, even some nuances of the atmosphere. The themes of love, and forgiveness, moral quests and humanity are bound beautifully. All in all, I would say it is a great book about compassions. It was an intense and enjoyable reading, and when I reached the last page and closed the book, I felt as if I had just lost a good friend… That is, to me, is a sign of a very good book. You want more, and do not want it to end.

I’ve just realized that I started this blog by writing my thoughts on Les Misérables that I had just finished reading apparently. See review here (in Indonesian). Back then I read the abridged version, though it was rather long of nearly 700 pages. Now, part of my Classics Club Project, I plan to read and savor the complete version. Initially I wanted to read it sometime early next year, but when I knew that Tien from Tien’s Blurp was organizing a read along, I was so tempted to join in..

So, I’m joining Tien’s Les Misérables Read Along:

I am sure it’ll be an inspiring and even more enjoyable read revisiting this grand story :).

Thanks to Tien who is hosting this read along!

Just wanted to share a bit more about my other favorite classics books, those that come quickly into my mind are: Voltaire’s L’Ingénu, Emily Brontë’s Wuthering Heights, and all books in Little House on The Prairie series. 🙂

[Shorty July] The Birthday of the Infanta – Oscar Wilde

Mengikuti event membaca cerita pendek klasik dari Baca Klasik, kali ini saya ingin membahas salah satu cerita pendek yang belum lama ini saya baca, The Birthday of the Infanta dari kumpulan cerita pendek karangan Oscar Wilde, The House of Pomegranates (1888). Saya baca dari buku keluaran Penguin Popular Classics yang berjudul The Happy Prince and Other Stories, yang di dalamnya ternyata  terdapat dua kumpulan cerita, yaitu The Happy Prince (5 cerita pendek) dan The House of Pomegranates (4 cerita pendek).

[Ulasan di bawah ini mengandung SPOILER]

Semua cerita dalam buku ini mengesankan buat saya, namun The Birthday of the Infanta termasuk salah satu yang membekas lama. Cerita ini tentang seorang putri raja Spanyol yang merayakan hari ulang tahunnya yang ke-12. Tentu saja karena ia seorang putri raja, maka hari ulang tahunnya dirayakan oleh segenap negeri. Tidak hanya warga istana dan rakyat, bahkan bunga-bunga, tanaman dan pohon di taman istana pun ikut mengeluarkan warna-warna mereka yang paling cerah. Wilde di sini sangat piawai, dengan indah menyajikan deskripsi alam dari segenap tanaman yang ada di taman istana, dimana semua seakan hidup dan memiliki karakter masing-masing. Pesta digelar di taman istana dan seorang anak kerdil (yang buruk rupa) dipanggil untuk menyajikan sebuah pertunjukan. Anak tersebut melakukan gerakan dan tarian, yang disambut dengan teriakan yang riuh, dan sang putri tampak senang dan memintanya untuk menari lagi dan lagi. Di akhir pertunjukan, sang putri melemparkan setangkai mawar putih ke anak tersebut, yang dimaknai oleh anak itu sebagai ungkapan cinta, bahwa sang putri menyukai dirinya.

Anak kerdil tersebut kembali ke hutan, dengan setangkai mawar putih di tangannya. Melihat pemandangan itu, dan merasa sebagai makhluk yang cantik, bunga-bunga lain yang tumbuh di hutan merasa jijik dan tercoreng kecantikannya karena disandingkan dengan si anak kerdil yang buruk rupa. Namun burung-burung dan kadal liar bisa melihat keindahan hati anak itu dan tetap riang bermain bersamanya. Tidak ada yang pernah memberitahukan anak itu bahwa ia buruk rupa, atau memiliki tubuh yang aneh, dan ia pun tidak pernah melihat bayangannya sendiri di hutan.

Sampai suatu saat, anak kerdil buruk rupa tersebut kembali ke istana karena ingin menyenangkan hati sang putri kembali, teman barunya itu. Di istana ada bagian bangunan yang memantulkan bayangan, dan di sanalah ia melihat bayangannya sendiri. Awalnya ia pun kaget, mengira ada sesosok monster yang mendekatinya. Anehnya monster itu juga lari saat ia lari menghindar, dan juga mendekat saat ia mendekat. Pada akhirnya ia menyadari bahwa monster itu adalah bayangan dirinya sendiri. Ia lalu merasa terpukul, dan pelan-pelan menyadari bahwa semua teriakan saat pesta itu bukan karena orang-orang itu mengagumi dirinya, tapi karena menertawakannya. It was all a joke. Kaget oleh kenyataan itu, ia pun jatuh terlentang, jantungnya berhenti, dan ia pun tersengal-sengal sebelum mati. Sang putri yang kebetulan sedang melintas bermain bersama teman-temannya, menghampiri si anak kerdil yang terbaring, menyuruhnya menari lagi. Kesal karena anak itu tidak mau bangun dan menuruti perintahnya, Infanta lalu memanggil pamannya untuk membangunkan si anak kerdil tersebut. Pamannya lalu memeriksa anak itu, dan mengatakan bahwa ia tidak bisa menari lagi karena “his heart is broken”. Dengan kesal dan sambil berlalu pergi, sang putri mengatakan, “For the future let those who come to play with me have no hearts,”…

Tulisan Oscar Wilde dikenal sederhana sekaligus tajam. Indah dengan penggambaran dunia setengah imajinatif dimana bunga-bunga dan binatang-binatang saling berbicara satu sama lain, humoris, namun pada saat yang sama sangat ironis, penuh satir dan sentilan moral. Melalui cerita ini, di depan kita seakan dihadirkan sebuah dunia kita sendiri dimana kita sering menentukan mana yang dianggap indah dan mana yang buruk hanya dari tampilan luarnya saja. Dan yang dianugrahi dengan segala kesempurnaan fisik seringkali justru tidak mampu untuk melihat lebih dalam kedalam jiwa manusia, dan malah berputar-putar pada usaha mencari kesenangan atau hiburan sendiri. Bunga-bunga di hutan dan sang putri adalah perwakilan dari sesuatu yang tercipta dengan sangat indah, namun mereka toh tidak mampu melihat lebih jauh dari apa yang bisa dilihat oleh mata mereka. Kehangatan hati dan kesederhanaan jiwa si anak kerdil ini seakan tertutup oleh tampilan fisiknya yang buruk. Standar atas yang indah dan buruk ini kadang demikian mengakar dan menghakimi, membuat si anak kerdil buruk rupa itu di saat-saat terakhir hidupnya menyesali mengapa ia tercipta demikian buruk, bahkan bertanya mengapa ayahnya tidak membunuhnya saja saat mengetahui betapa buruknya ia…

Suatu fairy tale tentang outer dan inner beauty yang tidak hanya baik dibaca oleh anak-anak, namun juga sangat layak bagi orang dewasa.

[A Victorian Celebration] Sherlock Holmes – A Study in Scarlet

I feel lucky to have read this novel, A Study in Scarlet, at the early part of my experience with Sherlock Holmes reading. I have not had long experience with the series actually; my first and only encounter with Sir Arthur Conan Doyle’s works before A Study in Scarlet had been with the book Memoirs of Sherlock Holmes, which I read also just recently. Memoirs of Sherlock Holmes contains some selected stories told by Dr. Watson, those that were seen special by him. Although the stories are all good, intriguing and enjoyable to read, I found some confusions in connecting places and names or events. That just seems normal as the book is a memoir, a collected souvenirs of Dr. Watson’s unforgettable experiences with the detective figure, without it having to explain all the background. Now, having read this novel, A Study in Scarlet, I found some lighting as it happens to be the first novel in the series, and being the first, here Doyle explains who, what and how Sherlock Holmes is, how Dr. Watson met Sherlock Holmes for the first time and under what circumstances, how they ended up in staying together in the so-often-mentioned Baker Street apartment, and how they incidentally got into a detective case together. Ah, all is much clear now!

Original illustration of Holmes with magnifying glass, by D. H. Friston (source: wiki)

Written in 1886 and published a year after, this work has become one of the masterpieces in the detective story writing. A glimpse into the detective world in the Victorian era. The story begins with the background events that led Dr. Watson meeting the eccentric figure, Sherlock Holmes. The methodically logical Watson was then fascinated by Holmes’ quick-and-sharp conclusion plainly based on his observant eyes, and by Holmes’ eclectic yet profound knowledge, be it chemistry or literature. It is amusing to read all those Watson’s wondering and his trying to analyze any facts concerning Holmes’ status and behaviors, only to find that his analyses is going nowhere nearer to the real Holmes!

The case in this book is about a murder of a man happened in an empty house. The identity of the murder’s victim is easily revealed, but how and why he was murdered is still a mystery. There are two personnel from Scotland Yard who are trying to overcome the case as well, and having met a deadlock, they are asking Holmes to help them. They approach the case in a different way from Holmes, and tend to follow a common way of thinking. Holmes instead takes serious attention to details, including those which seem not so important, believes in the power of imagination, and tends to distrust any report from the police, preferring going to the site himself and looking with his own eyes. All those are typical of Holmes, as we can find also in the other stories in the series. The first part of the story takes place in London, and the second one we are transferred to the west country of America with its pioneers and struggles. When I read the second part, I was wondering where the story was going as it seemed to have little connection with the first part. But then at the end, the connection is revealed. It also sends an intriguing meaning about what just is. Overall, it has been an enjoyable read, and it surely is enjoyable to read the explanations made by Holmes once he has succeeded in unraveling a mystery or a case.

Another thing that I found amusing is the science elements that Doyle infused here and there in his writing. Most are through the words of Holmes, like this one:

“Do you remember what Darwin says about music? He claims that the power of producing and appreciating it existed among the human race long before the power of speech was arrived at. Perhaps that is why we are so subtly influenced by it. There are vague memories in our souls of those misty centuries when the world was in its childhood.” (p. 39)

Along the way, Dr. Watson takes note in his journal on what happens and all the facts, and is meaning to publicize them so people will know. (That is why for all other Sherlock Holmes stories next, they are narrated by Watson). But before that, Holmes is suggested to be contented with this Roman quote:

“Populus me sibilat, at mihi plaudo

Ipse domi simul ac nummos contemplar in arca.”

(The people hiss at me, but I applaud myself at home, when I contemplate the coins in my strong-box) (p. 120)

I read this book as part of Victorian Celebration reading.

Book details:

Sherlock Holmes, The Complete Novels and Stories, Vol. 1/ Sir Arthur Conan Doyle/ Bantam Classics/ 2003 (1887)/ English/ Classics – fiction/ 120 pages for A Study in Scarlet.

Book contents: two novels (A Study in Scarlet, The Sign of Four), and three collections of stories (Adventures of Sherlock Holmes, Memoirs of Sherlock Holmes, and The Return of Sherlock Holmes), each of which has a number of short stories.

[BBI Gothic Reading] Dracula – Bram Stoker

Bulan Juni ini saya ikut baca bareng BBI dengan tema gothic, dan saya pilih baca buku Dracula dari Bram Stoker, terbit pertama kali pada tahun 1897. Saya curious sekali akan versi asli dari cerita drakula, seperti apa sih kisah yang dibuat pada abad ke-19 ini dan yang karakternya begitu mengilhami pembuatan banyak film atau cerita-cerita sejenis berikutnya? Bahkan, setting Transylvania dan kastil “sang Dracula” juga sudah menjadi objek wisata, semua karena sebuah kisah yang ditulis oleh penulis Irlandia di era Victoria ini, Bram Stoker.

Kesan

Dan memang, buku ini jauh dari sekedar menyampaikan kesan seram yang dibuat-buat seperti yang saya pernah lihat sepotong-sepotong di film dengan karakter drakula. Bukan sekedar jreng… dan si Dracula dengan muka yang penuh make-up bermaksud tampil seram muncul mengambil mangsanya. Bukan. Rasa seram dan ngeri yang timbul dari membaca buku ini saya rasakan demikian hidup dan hadir di depan mata, sampai-sampai saya lebih memilihnya membacanya di siang hari. Saya pikir hal itu dimungkinkan justru karena dalam buku ini hampir tidak ada adegan seram atau kejam yang diceritakan secara harafiah, tapi hal itu ditimbulkan lebih karena kesimpulan yang dibuat pembaca setelah membaca penggalan-penggalan informasi yang disampaikan Stoker. A horrid insight in our mind. Jadi, adegan itu sendiri seperti hidup dalam benak pembaca, bukan tertulis secara literal dalam buku. Stoker membebaskan pembaca menyimpulkan dan menghidupkan dalam pikirannya adegan itu dengan segala detilnya, dan membuat kengerian itu jadi begitu nyata. Untuk hal ini, Stoker memang jenius. Juga, kisah ini kerap menyampaikan atmosfer atau suasana yang gelap, suram, perasaan terancam atau menyadari adanya bahaya tapi tidak terlalu jelas bentuknya, atau perasaan menyadari kehadiran seseorang atau sesuatu di dekat kita yang serba samar. Bagaimana melalui tulisan tercipta atmosfer yang begitu hidup, sepertinya hal ini merupakan kekuatan Stoker lainnya. Atmosfer seperti itu makin membawa aura gothic, tepatnya gothic horror, dalam buku ini. Tema horor sebenarnya bukan tema favorit saya, tapi buku ini berhasil membuat saya menelusuri halaman-halamannya karena rasa ingin tahu tadi, dan juga karena Stoker menuliskannya dengan bahasa yang hidup dan enak dibaca.

Bentuk penyampaian

Cerita ini ditulis dalam bentuk epistolary, yaitu berupa kumpulan jurnal, surat, telegram, catatan-catatan, atau potongan berita surat kabar, yang dibuat atau dibaca oleh sejumlah tokoh protagonis dalam buku ini. Jadi, bisa dibilang cerita ini disampaikan melalui sudut pandang berbagai tokohnya. Memang kadang kita yang membaca jadi harus berpindah-pindah sudut pandang, tidak sempat mengidentifikasikan diri dengan satu tokoh saja. Tapi di sisi lain, kita jadi tahu pandangan dan perasaan semua tokohnya (kecuali sang Dracula), dan kesimpulan mengenai hubungan mereka atau mengenai hal-hal yang terjadi semua berlangsung di benak kita.

Jalan cerita 

Adalah Jonathan Harker, seorang notaris dari Exeter, Inggris, yang melakukan perjalanan jauh ke pedalaman Transylvania untuk menemui kliennya, Count Dracula, yang tinggal di sebuah kastil terpencil. Kedatangan Jonathan ke sana adalah untuk menyelesaikan transaksi pembelian lahan di Inggris dengan Count Dracula, namun kemudian ia menemukan dirinya terjebak, terkunci dalam kastil sang Count Dracula dengan segala kemuraman, keganjilan dan kengerian yang terjadi di sana. Bagian awal ini, saat Jonathan baru menyadari situasinya terjebak di kastil Count dan apa yang ia alami di sana, buat saya merupakan bagian yang paling mengerikan dari buku ini…

Sementara itu di Inggris, ada tokoh Mina Murray – tunangan Jonathan Harker, dan temannya Lucy Westenra. Lucy yang lemah dan labil kemudian mengalami episode sadar dan tidak sadar yang aneh dan beruntun. Pada kira-kira saat yang bersamaan, ada berita terdamparnya sebuah kapal ekspedisi pengangkut barang di sebuah pelabuhan di Inggris Utara. Anehnya kapal itu merapat dalam kondisi kosong, semua awak kapalnya hilang dan sang kapten ditemukan teronggok meninggal di kemudinya. Kapal itu membawa sejumlah peti cargo dari wilayah Timur Tengah, melewati Eropa Timur dan sampai ke Inggris. Satu-satunya sumber informasi atas apa yang dialami kapal tersebut adalah logbook atau catatan perjalanan sang kapten, yang mengindikasikan adanya kengerian yang tidak terjelaskan yang sempat terjadi di atas kapal. Sementara itu, Lucy yang sakit lalu diteliti oleh teman mereka seorang dokter ahli jiwa, Dr. John Seward, dan koleganya dari Amsterdam, Profesor Abraham Van Helsing. Juga ada tokoh-tokoh lain seperti Arthur Holmwood – tunangan Lucy, dan Quincey Morris – teman mereka.

Di tempat lain, Jonathan ternyata berhasil melarikan diri dari kastil Count Dracula, walau dalam keadaan trauma hebat. Setelah dirawat beberapa lama di sebuah rumah sakit di kota kecil, dan didampingi Mina yang menjemputnya, mereka pun kembali ke Inggris. Teror yang melekat dalam benak Jonathan sejak pertemuannya dengan Count Dracula ternyata belum berakhir, karena di negerinya kini, ia kembali melihat sosok Count Dracula, yang telah berhasil menyeberang ke Inggris! Bahkan, sang Dracula mulai mengincar Mina sebagai sasaran berikutnya. Juga ada berita hilangnya beberapa anak kecil secara beruntun dan kasus kaburnya srigala dari kebun binatang secara aneh. Berhasilkah mereka mengalahkan jiwa jahat sang Dracula dan menghentikan segala kehancuran yang disebabkannya? Dr. Seward, Profesor Van Helsing, Arthur Homwood, Quincey Morris, dan Jonathan Harker lalu menjadi sekawanan yang kompak dalam memerangi kengerian yang dibawa tokoh Dracula ini.

Tokoh-tokohnya

Di cerita ini para tokoh membawa karakternya masing-masing. Jonathan lebih sebagai ahli hukum atau pekerja dengan pemikiran yang praktis, Mina yang cerdas dan dikagumi beberapa tokoh pria lainnya, Lucy yang cantik tapi cenderng lemah dan labil, Dr. Seward yang berjiwa peneliti, Profesor Van Helsing yang jenius sekaligus ‘bijaksana’ dalam arti ia sangat paham akan pengetahun di bidangnya (kedokteran dan jiwa), namun juga membuka diri pada hal-hal yang berbau supranatural yang belum bisa dijelaskan oleh pikiran manusia. Juga, ada Arthur dan Quincey yang bersedia melakukan apa saja demi pujaan hati mereka, Lucy.

Lalu bagaimana dengan tokoh Dracula sendiri? Dalam epistolary ini tidak ada catatan yang dibuat oleh sang Dracula (tentu saja). Tapi, kita merasakan kehadirannya melalui pengalaman dan reaksi tokoh-tokoh lain. Pengalaman Jonathan saat berhadapan dengan kliennya ini (saat itu ia belum tahu mengenai sifat-sifat Dracula) adalah sebagai figur yang misterius dan ‘tajam’, baik dalam pandangan matanya yang seperti menembus ke dalam jiwa orang yang dilihatnya, ataupun kekuatannya dalam mempengaruhi orang yang ada di dekatnya. Dingin dan terasa mengancam. Simak saja catatan Jonathan akan sosok Count Dracula ini:

His face was strong – a very strong – aquiline, with high bridge of the thin nose and peculiarly arched nostrils; with lofty domed forehead, and hair growing scantily round the temples, but profusely elsewhere. His eyebrows were very massive, almost meeting over the nose, and with bushy hair that seemed to curl in its own profusion. The mouth, so far as I could see it under the heavy moustache, was fixed and rather cruel-looking, with peculiarly sharp white teeth; these protruded over the lips, whose remarkable ruddiness showed astonishing vitality of his years. … (hlm. 18)

Hitherto I noticed the backs of his hands as they lay on his knees int he firelight, and they had seemed rather white and fine; but seeing them now close to me, I could not but notice that they were rather coarse – broad, with squat fingers. Strange to say, they were hairs in the centre of the palm. The nails were long and fine, and cut to a sharp point. As the Count leaned over me and his hands touched me, I could not repress a shudder. It may have been that his breath was rank, but a horrible feeling of nausea came over me, which, do what I would, I could not conceal. (hlm. 18-19)

Fakta atau fiksi? 

Cerita dan tokoh Dracula dengan segala sifatnya yang digambarkan dalam buku ini adalah ciptaan belaka, sebuah fantasi dari Bram Stoker. Bram Stoker sendiri tidak pernah menginjakkan kakinya di Transylvania, tapi selama bertahun-tahun sebelum ia menulis Dracula, ia memang mempelajari kisah-kisah vampir dan cerita rakyat dari Eropa dan memiliki ketertarikan khusus pada area Transylvania. Dracula pun bukan karakter vampir yang pertama ada. Sebelumnya ada beberapa karakter dengan sifat sejenis, seperti yang sering disebut adalah karya Sheridan Le Fanu yang menciptakan tokoh vampir lesbian dalam “Carmilla”, yang memangsa perempuan muda yang kesepian.

Vlad III Dracula of Wallachia

Awalnya, Stoker ingin memberi judul karyanya ini “Count Wampyr”, tapi lalu ia tertarik pada tokoh nyata dalam sejarah Transylvania yang bernama Vlad III Dracula of Wallachia. Dalam masa kekuasaan Vlad III Dracula ini (1456–1462), konon ia membunuh hingga 10o ribu warga sipil Eropa, semua yang ia anggap musuhnya secara politik dan yang dianggapnya tidak berguna. Julukannya adalah Vlad the Impaler, atau Vlad sang pembunuh. Namun tokoh ini juga dianggap pahlawan oleh rakyat Transylvania karena ia juga berhasil mengusir bangsa Turki (Ottoman) yang saat itu sedang menginvasi Eropa (Timur). Dengan terinspirasi sosok Vlad III Dracula atau Vlad the Impaler ini, Stoker menamai bukunya “Dracula”.

Bran Castle

Lalu bagaimana dengan kastil yang sering dikaitkan dengan kastil Dracula dalam buku Stoker ini dan sampai dikunjungi turis itu? Kastil tersebut bernama Kastil Bran (Bran Castle), dan terletak di dekat kota Bran dan kini kastil itu sudah menjadi monumen nasional Rumania. Bentengnya berada di perbatasan Wallachia dan Transylvania. Orang menghubungkan kastil ini dengan tokoh Dracula dalam buku Stoker lebih karena penggambarannya yang mirip dengan penggambaran kastil sang Count Dracula di buku Dracula, serta posisinya yang mendekati deskripsi Stoker (walau untuk hal ini masih sangat dipertanyakan, mengingat Stoker belum pernah mendatangi Transylvania). Sisanya, saya pikir sekedar tourist trap, sesuatu yang dijual demi menarik turis dan toh para turis senang saja berimajinasi mengunjungi kastil tokoh fiksi fenomenal itu. Di Rumania sendiri masih ada beberapa kastil lain yang disebut-sebut sebagai “kastil Dracula” :).

Di luar hal fakta ataupun fiktif mengenai si tokoh maupun tempat, satu hal yang saya jadi lebih paham adalah tradisi menaruh bawang putih sebagai alat pengusir roh jahat. Di rumah-rumah tua Eropa sering ditemui untaian bawang yang katanya sebagai ‘pengusir roh jahat’. Hal itu tentu sudah tidak mereka percayai lagi saat ini, hanya sekedar menghidupkan tradisi. Mungkin mitos itu memang pernah hidup di beberapa generasi di tanah Eropa, seperti yang tercermin di buku ini, dimana sang Dracula akan ‘terusir’ dengan untaian bawang putih.

Dan, diluar segala efek seram yang dengan sukses sudah dihadirkan Stoker, apa yang bisa saya petik dari kisah sepanjang 390 halaman ini? Yang paling mudah mungkin tentang perlawanan kita terhadap roh jahat, yang baik melawan yang jahat. Tapi itu tidak terlalu mengena juga di saya karena di sini sang roh jahat digambarkan sebagai sesuatu yang “di luar diri kita”, yang bisa kita perangi sebagai objek di luar diri, padahal tidak demikian. Membaca kisah ini entah kenapa saya justru jadi teringat salah satu twit teman yang berbunyi:

“Banyak orang melakukan kebaikan. Tapi seribu kebaikan yang tidak terorganisir dan terkoneksi sepertinya akan kalah oleh kejahatan yang terorganisir.”

Dracula yang sistematis melancarkan aksinya hanya bisa dikalahkan oleh kekompakan Profesor Van Helsing dan kawan-kawan yang (akhirnya) secara terorganisir saling menyumbangkan keahliannya masing-masing untuk menghancurkan sang Dracula.

Detail buku

Dracula, Bram Stoker, edisi pertama

Buku di atas adalah keluaran penerbit Constable, penerbit yang juga menerbitkan buku Dracula ini pertama kali tahun 1897. Constable sendiri sudah berdiri sejak tahun 1795. Edisi yang dicetak kembali ini dibuat sangat menyerupai edisi pertamanya, baik cover maupun bentuk tulisannya. Pengantar dari Colm Tóibín tentang hal-hal yang mempengaruhi Bram Stoker dan pergerakan literatur di jamannya yang ada dalam buku ini juga layak dibaca.

Dracula/ Bram Stoker/ Constable, 2012 (1897)/ Fiction – Classics/ English/390 halaman.