Best Books 2013

Haloo..

Setelah sekian lama absen dari blogging dan blog ini ‘nganggur’ berbulan-bulan, kini saya kembali lagi.. Saya awali dengan membagi cerita tentang buku terbaik yang saya baca di tahun 2013.

cat in the window - karya Jean-Jacques Sempé
cat in the window – karya Jean-Jacques Sempé

Kegiatan membaca sebenarnya tetap berjalan seperti biasa, malah saya sempat ‘mencicipi’ genre yang saya jarang sentuh dan membaca beberapa buku dari pengarang yang kali itu karyanya pertama kali saya baca. Melepaskan diri dari beberapa ‘rencana baca’ dan membiarkan diri mengalir mengikut ‘mood baca’ (dalam arti membaca apa dan kapan), ternyata membawa saya pada penemuan-penemuan menarik. Ibarat melakukan sebuah perjalanan, melakukan pengembaraan atau flâner membuat kita mengobservasi dan menyerap lebih banyak hal sepanjang perjalanan itu, dibanding melakukan perjalanan yang berfokus pada destinasi. Rencana baca semula memang jadi agak porak poranda, namun kenikmatan membaca ternyata lebih saya rasakan. Karena tidak memperdulikan target baca, saya jadi lebih ‘bebas’, menemukan banyak hal kecil yang biasanya saya lewatkan, dan banyak bagian  buku saya temukan begitu ‘memorable’. Saya juga membaca lebih tanpa ekspektasi tertentu, saya ingin menemukan buku itu apa adanya, dan berkenalan dengan apa yang sebenarnya penulis ingin sampaikan melalui karyanya itu. Sejumlah buku-buku itu akhirnya menjadi buku yang saya golongkan sebagai buku terbaik 2013. Berikut ulasan singkatnya.

la gloire de mon pere1. La Gloire de Mon Père – Marcel Pagnol. The Glory of my Father. Sebuah novel autobiografis dari penulis, playwright dan cinematographer Perancis. Tentang kehidupan masa kanak-kanak penulis, saat papa, maman dan keluarga terdekat adalah dunia terintim si tokoh. Di musim panas, seperti biasa, mereka pergi berlibur ke pedesaan Provence, menginap di sebuah villa tua. Marcel kecil sangat ingin ikut pergi berburu burung bersama papa dan pamannya, namun tentu saja tidak diperbolehkan. Dengan suatu cara akhirnya ia berhasil mengikuti kedua orang dewasa itu pergi ke hutan, yang akhirnya membuatnya mengalami petualangan mendebarkan, pengenalan pada alam dan dirinya sendiri. Ditulis dengan bahasa yang sophisticated, menghadirkan alam Provence Perancis yang khas saat musim panas, kehangatan keluarga ‘jaman dulu’ yang begitu sederhana. Menyentuh sekaligus komikal. Terbit pertama kali tahun 1957. Ilustrasi keren oleh Sempé .

lAmant2. L’Amant – Marguerite Duras. The Lover. Tentang kenangan kehidupan seorang gadis remaja Perancis di Saigon, di masa sisa-sisa pendudukan Perancis di Vietnam. Si tokoh lalu memiliki seorang ‘kekasih’, seorang pria Vietnam, yang dengannya hubungan mereka berjalan dengan tidak banyak kata-kata, mengalir begitu saja, tanpa bentuk, namun sangat membekas bagi keduanya. Tema cerita lebih pada perasaan keterasingan. Ditulis dalam bahasa yang sederhana, membacanya seperti sedang mendengarkan kisah kenangan yang disampaikan penulis, tidak terlalu berstruktur, maju-mundur di masa sekarang dan masa lalu, tidak melulu berada dalam plot tertentu, tapi lebih pada eksplorasi pikiran dan perasaan si tokoh. Saya membaca kisah ini tanpa terlalu memperdulikan ada atau tidak plot, saya ikuti saja kemana pengisahan itu berjalan, menikmatinya, dan membuat saya jadi merasa demikian intim dengan pikiran dan perasaan sang tokoh. Akhir kisah sangat membekas. Beautiful and profound. L’Amant memenangkan le prix Goncourt tahun 1984.

Anna Karenina, Leo Tolstoy, Penguin Classics, 2003, translated by Richard Pevear and Larissa Volokhonsky

3. Anna Karenina – Leo Tolstoy. Membaca versi lengkapnya membuat saya mengerti mengapa buku ini begitu banyak dibicarakan dan bahkan dianggap sebagai the best novel ever written oleh sebagian kalangan. Anna Karenina ternyata berbeda dari anggapan saya sebelumnya tentang buku karya Tolstoy ini. Anna sendiri, walau dijadikan judul, tidak menjadi tokoh paling utama di kisah ini, bahkan tidak menjadi tokoh protagonis. Ia bukan heroine, malah mewakili suatu tokoh yang penuh kegagalan dan self-destruction, walaupun dalam banyak sisi hidupnya dilimpahi kemudahan dan keberuntungan. Tokoh ‘sampingan’ yang justru menjadi focal point dari buku ini, dimana banyak kritik mengatakan bahwa tokoh ini merupakan self-portrait dari Tolstoy sendiri, adalah tokoh Levin, yang berasal dari latar belakang yang begitu berbeda dari Anna dan sepanjang tahap hidupnya berjuang mencari makna hidup. Buku ini, buat saya, secara sederhana menyodorkan pertanyaan: “What does it take to be truly happy?”. Saya rekomendasikan untuk membaca versi lengkapnya, supaya kita tidak hanya berkutat pada kisah ‘romance’ Anna, tetapi juga tokoh-tokoh lain dan pendalaman situasi sekitar yang begitu kaya digambarkan. Buku terbitan Penguin Classics ini diterjemahkan dari bahasa Rusia ke bahasa Inggris dengan sangat baik oleh Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky, dua penerjemah yang memenangkan award khusus untuk penerjemahan sastra Rusia ke Bahasa Inggris.

dog stories4. Dog Stories – James Herriot. Saya sangat mudah jatuh hati pada kisah-kisah yang berhubungan dengan anjing. Dan disini, James Herriot kembali menunjukkan kepekaannya dalam mengobservasi kejadian dan perasaan dan menuangkannya dalam tulisan, sehingga kisah-kisah ini menjadi kisah yang begitu membekas. Buku ini berisi berbagai kisah pengalaman sang dokter hewan dari daerah pedesaan Yorkshire yang permai ini, berkaitan dengan penanganan anjing yang menjadi pasiennya, maupun pasien jenis lain dimana seekor anjing menyertai perjalanan pasien itu. Dalam tulisan Herriot, anjing-anjing ini jadi begitu ‘manusiawi’.

all that is gone5.  All That is Gone – Pramoedya Ananta Toer. Adalah buku kumpulan cerita pendek, yang diambil dari dua buku kumpulan cerita pendek Cerita dari Blora (terbit 1952) dan Subuh (1951). Pram disini menghadirkan cerita-cerita semi-autobiografis dengan muatan emosi yang kuat, twist yang kadang tidak terduga, dan elemen kenangan yang kental. Beberapa dari cerita itu begitu membuka mata saya akan situasi pasca kemerdekaan, terutama pada kehidupan ‘orang-orang biasa’ yang kehidupannya terpengaruh oleh masa revolusi itu. Pram disini membuktikan kepiawaiannya dalam menghadirkan cerita dengan karakter yang kuat dan plot yang penuh dalam ruang sempit bernama cerita pendek. Lebih jauh tentang All That is Gone bisa dibaca di sini.

rahasia selma6. Rahasia Selma – Linda Christanty. Buku ini adalah pengalaman pertama saya membaca karya Linda Christanty. Cerita-cerita Linda berlatar cukup sederhana dan sehari-hari, namun di akhir cerita selalu menghadirkan sesuatu yang begitu tak terduga yang kadang memporak-porandakan pemahaman awal kita tentang cerita itu, yang ternyata bisa bermakna dalam dan historis. Sama seperti Pram, saya begitu kagum pada keahlian Linda dalam menghadirkan karakter yang kuat dan cerita yang begitu membekas dalam ruang pendek bernama cerpen. Buku tipis ini membuat saya ingin membaca karya-karya Linda lainnya.

ring of fire7. Ring of Fire, an Indonesian Odyssey – Lawrence Blair dan Lorne Blair. Buku ini adalah memoar dan catatan perjalanan dari kakak beradik Blair yang mengarungi lautan dan menjelajah beberapa pulau di Indonesia dalam rangka membuat film dokumenter, di awal tahun 70-an. Sarat dengan komentar dan analisis mengenai kondisi lingkungan, biologis, maupun elemen antropologis, buku ini menjadi begitu kaya dan mengasyikkan dibaca. Belum lagi tempat-tempat yang dijelajahi Blair adalah laut dan pedalaman pulau yang jauh dan ‘terasing’, yang oleh kebanyakan orang Indonesia saat ini pun masih belum banyak terjelajahi, seperti kepulauan rempah Maluku, pedalaman Papua, perairan Komodo, laut Aru, dan beberapa tempat lainnya. Blair menulisnya dengan bahasa yang demikian mengalir, serius dan penuh analisa di beberapa aspek, namun selalu penuh humor khas orang Inggris. Buku ini saya beli tahun 2012 silam saat Lawrence Blair hadir di acara Ubud Writers & Readers Festival, dimana ia memutarkan dan mengulas salah satu film dokumenternya tentang pelayarannya menjelajah laut Aru. Indonesia is definitely dangerously beautiful!

hunger8. Hunger – Knut Hamsun. Ya, buku ini mengisahkan tentang lapar, dan bagaimana kondisi fisik berupa perasaan lapar (dan kelaparan) itu begitu mempengaruhi kondisi mental seseorang. Knut menuliskan novel ini sebagai bentuk reaksi atas ‘kekecewaannya’ pada sebagian besar novel kontemporer pada jamannya yang menurutnya terlalu stereotip dalam plot dan miskin dalam karakter. Maka hadirlah ‘Hunger’, yang memang tidak terlalu mengandalkan plot, namun lebih pada eksplorasi ‘interior landscape’ – perasaan, pikiran, harapan, kekecewaan, dunia batin, si tokoh. Si tokoh adalah seorang penulis yang sedang berjuang meraih sukses dengan mengandalkan karyanya, yang imaginasinya menjadi demikian tergerus oleh kondisi lapar berkepanjangan yang ia alami. Novel ini cukup depresif, namun juga membawa hal-hal tak terduga di beberapa bagian akhirnya, dan di penghujung cerita menyajikan suatu ironi yang divisualisasikan dengan ‘indah’. Beautifully tragic. Buku ini membuat saya ingin membaca karya Knut Hamsun lainnya, yaitu Growth of the Soil.

nawung9. Nawung – Galuh Larasati. Ini mungkin termasuk buku “underrated”, dimana tidak banyak orang tahu mengenai keberadaan buku ini, tenggelam dalam hiruk pikuk buku-buku lain, bahkan keberadaannya di toko-toko buku saya lihat sering terpinggirkan. Padahal, buku ini menurut saya menyajikan kualitas penulisan yang prima dengan bahasa yang sangat rapi namun mengalir, dan isi yang sangat baik. Melalui buku Nawung ini,  seorang sastrawati baru saja lahir. Ya, buku ini adalah buku pertama Galuh Larasati, mengisahkan tentang seorang anak perempuan bernama Nawung dan perjalanan hidupnya hingga dewasa yang penuh dengan lika-liku kebahagiaan, kesedihan, kebangkitan dan keterpurukan, serta harapan. Yang membuatnya berbeda adalah buku ini sarat dengan nilai-nilai luhur tradisional (tanah Jawa) yang demikian dalam dan universal, yang sering kita lupakan atau remehkan. Setiap paragrafnya menghadirkan potret dan renungan yang sederhana namun membekas. Salah satu ‘wejangan’ yang saya dapat dan yang paling berkesan buat saya adalah tentang memohon sesuatu yang sederhana dan secukupnya dari Tuhan, dan ketika berkah itu telah benar-benar dihadirkan di depan kita, hendaknya kita memeliharanya dengan baik.

the jungle school10.  The Jungle School – Butet Manurung. Sokola Rimba. Buku ini adalah sebuah diari, atau jurnal, dari seorang Butet Manurung, yang bekerja sebagai pendidik di pedalaman hutan Jambi. Dimulai dari masa-masa awal penugasannya sebagai education facilitator bersama organisasi WARSI, hingga didirikannya Sokola Rimba, sekolah khusus untuk anak-anak suku asli di hutan Jambi. Tulisannya sederhana, namun tajam dalam observasi dan reflektif dalam analisanya. Banyak insight yang saya dapat dari membaca diari ini, bukan melulu mengenai kehidupan suku terasing, tapi lebih pada sikap Butet yang penuh pikiran terbuka dan rendah hati dalam menghadapi orang yang ditemui. Ia tidak mengasumsikan bahwa cara modern adalah pasti lebih baik dan lalu membuat misi menerapkan cara baru itu pada mereka yang dicap sebagai ‘terbelakang’ ini, namun semua diawali dari upaya mengenali kelompok masyarakat itu lebih dalam, dan siapa bilang cara kita sudah pasti lebih baik untuk mereka? Menghargai perbedaan dan kemajemukan. Merambah pola pikir yang berbeda. Pada akhirnya sebenarnya tidaklah terlalu jelas siapa belajar dari siapa. Inspiratif dan sangat membuka wawasan. Butet Manurung hadir dalam Ubud Writers & readers Festival 2012, dan memperkenalkan buku The Jungle School ini ke kalangan nasional dan internasional yang hadir. Versi Bahasa Indonesia hadir setahun kemudian dengan judul Sokola Rimba, terbitan Penerbit Buku Kompas.

100 tahun kesunyian11. One Hundred Years of Solitude – Gabriel Garcia Marquez. Seratus Tahun Kesunyian. Bersama buku ini saya menelusuri kehidupan Jose Arcadio Buendia, yang bersama kelompok kecilnya membangun sebuah desa di tengah hutan di Columbia. Cerita  bergulir dengan banyak tokoh dalam beberapa generasi, dalam banyak kejadian, dalam bentuk sejarah yang berulang. Banyak yang mengatakan bahwa novel ini mencerminkan perjalanan sejarah Columbia sendiri, tapi jika pun kita tidak ingin mengaitkannya atau memperdulikannya dengan unsur politik, kisah ini bisa sangat mewakili perjalanan kehidupan manusia secara mikro maupun makro, dengan segala kejatuhan dan kejayaannya, yang ujung-ujungnya mengembalikan semuanya ke ‘titik nol’. Unsur magical realisme-nya menurut saya tidak terlalu kental dan pas saja (saya pribadi merasa jauh lebih sulit memahami kisah fantasi), dan perpaduan unsur realis dan surealis itu, ditambah tokoh dan kejadian yang begitu kaya, membius saya masuk ke alam fisik dan pikiran keluarga Buendia, sehingga saat menutup buku ini di akhir cerita, saya seakan membutuhkan waktu untuk ‘kembali ke realitas’.

mencari emas12. Mencari Emas – Jean-Marie Gustave Le Clézio. Buku ini menarik perhatian saya karena nama Jean-Marie Gustave Le Clézio. Salah satu karya lainnya, L’Africain, sempat saya baca walau tidak selesai, dan saya sangat menyukai gaya penulisannya yang liris dan penuh nuansa kenangan. Buku ini menceritakan tentang Alexis dan keluarganya yang tinggal di Pulau Mauritius. Saat ayahnya mengalami kebangkrutan, Alexis mempunyai mimpi untuk menemukan emas yang ia percaya dikuburkan seorang bajak laut di suatu pulau lain, dan dimulailah perjalanan itu. Seorang pembaca mengatakan bahwa buku ini layaknya sebuah surat cinta Clézio pada laut, dimana penggambaran mengenai laut dibuat demikian hidup dan indah. Saya pun saat membacanya seakan ikut mendengar desir angin laut, melihat warna biru gelap laut terpampang di depan mata, merasakan pasir yang menempel di kulit yang basah, dan meresapi kesunyian yang dihadirkan malam di atas laut. Mungkin gaya penulisannya yang liris turut membawa kita hanyut ke alam cerita. Kisah ini seluruhnya merupakan narasi dari Alexis, dengan sedikit dialog. Bagian kisah dimana Alexis mulai berteman dengan Ouma, seorang gadis suku Manaf, penduduk asli di sana, merupakan bagian indah favorit saya. JMG Le Clézio adalah pemenang nobel kesusastraan pada tahun 2008.

Demikianlah, 12 buku terbaik dari sekian buku yang saya baca sepanjang tahun 2013. Tahun 2014, saya harap saya juga akan menemukan banyak buku bagus yang saya nikmati proses membacanya.

Mei

[Hotter Potter] Harry Potter and The Sorcerer’s Stone

hotter-potter-logoPertama, thanks to Melisa yang sudah mengadakan event yang menyenangkan ini. Ini adalah membaca seri Harry Potter yang pertama kali buat saya. Well, tidak sepenuhnya yang pertama kali, karena buku pertama ini saya sempat membacanya di tahun 2000, tapi saya tidak merasa ‘konek’ dengan tokoh dan ceritanya, dan lalu berhenti tanpa selesai. Padahal saya sempat memiliki buku Harry Potter ke-1 dan ke-2 sekaligus, waktu itu masih bahasa Inggris. Tokoh Harry dan lainnya saat itu saya temukan terlalu ajaib, dan dengan segala keajaiban sihir yang mampu mereka ciptakan, kenapa pula harus resah dengan semua masalah yang mereka hadapi itu, pasti semua akan beres? Yah, mungkin saya sedang tidak mood saja dengan cerita jenis itu. Heboh Harry Potter pada tahun itu, pun tahun-tahun setelahnya, juga belum membuat saya tergerak untuk membaca seri ini lagi. Walau demikian, saya tidak pernah berhenti di situ dan menganggap tidak akan membaca buku Harry Potter. Suatu saat, saya akan mengunjunginya lagi. Bila menemukan buku yang ‘tidak pas’, saya cenderung berpikir hal itu lebih disebabkan karena mood saya yang belum cocok, atau waktunya belum tepat. Seringkali, saat saya mengunjungi kembali buku itu dan mencoba membacanya lagi, bertahun-tahun kemudian, saya memiliki impresi yang sama sekali berbeda.

Nah, begitu juga dengan buku Harry Potter ini. Di akhir tahun 2012 lalu, tiba-tiba mood saya untuk membaca genre fantasi dan petualangan muncul kembali, bahkan sempat searching sana-sini untuk mencari beberapa koleksi yang saya inginkan (maklum, penimbun buku kronis). Dan, tepat saat itu Melisa dari Surgabukuku mengumumkan tentang event Hotter Potter ini, maka dengan senang hati saya bergabung.

harry-potter-7-buku-setMaka, saya membeli edisi lengkap boxset hardcover yang berbahasa Indonesia. Siap mengunyah buku-buku ini. Dengan mood yang mendukung, plus penerjemahan yang tiada cacad dan begitu ‘engaging’ (terima kasih Ibu Listiana Srisanti, karya penerjamahan ini kiranya menjadi salah satu legacy beliau), saya menyelesaikan dan menikmati benar buku Harry Potter and the Sorcerer’s Stone ini, bahkan menyelesaikannya dengan terlalu cepat, karena buku ke-2 yang harusnya untuk bulan depan pun sudah langsung selesai saya lahap. 🙂

harry potter 1Begitulah. Untuk isi bukunya, dimana penulis lebih menguraikan tentang latar belakang tokoh Harry Potter dan lainnya, dan berlanjut dengan tahun pertamanya di Hogwarts yang penuh hal baru dan kejutan, sepertinya sebagian besar pembaca buku sudah begitu memahaminya. Satu hal yang saya kagumi dari penulisan J. K. Rowling adalah cara beliau memulai kisah. Diambilnya suatu adegan sehari-hari secara mikroskopik, dan dari sana penceritaan menjalar ke dunia yang lebih luas. Membuat kita seakan ikut berada dalam kisah itu. Plotnya juga cukup seru (dan buku ke-2 saya temukan jauh lebih seru!). Mendekati bagian akhir, kita seperti diingatkan oleh penulis untuk tidak memandang sesuatu atau seseorang seperti sebagaimana mereka tampak secara kasat mata, karena dibalik itu, seringkali kita menemukan hal-hal lain yang berlawanan, baik hal baik maupun buruk. Sesuatu itu tidak melulu seperti bagaimana ia tampak atau bagaimana ia dipandang oleh sebagian besar orang. Dan hal ini berlaku juga dalam pertemanan. Lihat saja bagaimana proses Harry, Ron dan Hermione sebelum mereka akhirnya menjadi kawan-kawan sejati.

Satu hal yang saya pikir agak aneh adalah penggunaan sapu dengan kapasitas kecepatan yang berbeda-beda pada permainan quidditch. Di pertandingan itu, setiap pemain boleh menggunakan jenis sapu yang berbeda-beda, ada yang canggih dengan kemampuan terbang sangat cepat, ada yang biasa atau lemah. Memang di sini kemampuan pemain tetap merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan, namun kecanggihan sapu untuk melesat cepat tanpa usaha dari si pemain juga jadi sangat menentukan kemenangan. Bukankah ini aneh dan jadi tampak tidak fair? Apalagi permainan quidditch disini dianggap sebagai semacam ‘pertandingan olahraga’, yang biasanya menyungsung nilai-nilai fairness (semua tim memiliki kesempatan yang sama) dan sportivitas. Mungkin Rowling ingin menunjukkan bahwa toh dengan materi pendukung yang canggih suatu kelompok belum tentu menang walau kesempatan jadi jauh lebih besar, karena ada faktor lain yang lebih menentukan, seperti ketekunan berlatih misalnya. Yang saya anggap aneh adalah Hogwarts sebagai sekolah membuat peraturan itu dan menganggap normal saja. Buat saya quidditch jadi kurang seru sebagai pertandingan karena menjadi seakan pertandingan antar sapu tercanggih, atau tentang keberuntungan, bukan tentang pemainnya.

Buku ke-3 sudah mulai memanggil-manggil untuk saya baca, tapi sepertinya harus saya tahan dulu untuk membacanya pada waktunya. Kalau tidak, bisa jadi sebulan dua bulan ini bacaan saya hanya Harry Potter buku 1-7! 🙂

Saya suka quote ini:

” Lagi pula, bagi pikiran yang terorganisir dengan baik, kematian hanyalah petualangan besar berikutnya” –hlm. 367.

Posting ini sekaligus sebagai posting buku anak untuk Fun Year Event with Children Literature untuk Fun Month 1 kategori awards winner, dimana buku Harry Potter and the Sorcerer’s Stone ini memenangkan sejumlah awards seperti tertera di bawah ini. Buku Harry Potter ini kiranya bisa dibaca mulai usia 9 tahun.

  1. Nestlé Smarties Book Prize 1997 Gold Medal 9-11 years
  2. FCBG Children’s Book Award 1997 Overall winner and Longer Novel Category Birmingham
  3. Cable Children’s Book Award 1997
  4. Young Telegraph Paperback of the Year 1998 Carnegie Medal 1998 (Shortlist)
  5. British Book Awards 1997 Children’s Book of the Year
  6. Sheffield Children’s Book Award 1998
  7. Whitaker’s Platinum Book Award 2001

Children Lit FYE-button

Hector and the Search for Happiness, dan oleh-oleh dari UWRF 2011

Hector and the Search for Happiness adalah sebuah cerita karangan seorang psikiater asal Perancis, François Lelord, mengenai Hector, seorang psikiater muda yang tinggal di Paris. Jadi psikiater yang menulis cerita tentang psikiater. Dalam pekerjaannya, Hector banyak menemui orang-orang yang tidak bahagia, padahal situasi hidup mereka tampak begitu sempurna. Ia sendiri pun, walau menyukai pekerjaannya, tidak merasa puas atau bahagia dengan hidupnya. Lalu  ia memutuskan untuk pergi ‘keliling dunia’, mengunjungi beberapa negara, dan melakukan pengamatan atas orang-orang di sana untuk mencari tahu apa yang membuat mereka bahagia atau tidak bahagia.

Maka mulailah ia pergi ke beberapa negara di beberapa benua yang berbeda. Sepanjang tempat-tempat itu Hector banyak menemui situasi yang begitu berbeda dari situasi yang ada di negaranya. Ia juga menemukan beberapa paradoks, seperti ia melihat orang-orang yang hidupnya begitu miskin dan sangat sulit namun mereka sering tersenyum dan bahkan masih mampu bersikap ramah pada orang lain.  Semua hal itu memberinya insight mengenai apa yang membuat orang bahagia atau tidak bahagia, dan Hector mencatat beberapa kesimpulan dalam buku catatan kecilnya.

Buku ini menurut saya so-so saja, isinya cukup bagus tapi kalimat-kalimatnya yang agak kaku membuat pengalaman membaca buku ini bukan sesuatu yang memorable. Tapi kenangan saya sehubungan dengan buku inilah yang membekas. Saya kenal buku ini lebih dalam dari suatu sesi di Ubud Writers and Readers Festival 2011 lalu. Sesi itu berjudul “Happiness in Human Nature”, dibahas oleh beberapa penulis, yaitu François Lelord sendiri sebagai penulis buku Hector ini, Ketut Yuliarsa, seorang penulis, budayawan Bali dan pemiliki toko buku di Ubud, Rodaan al Galidi, seorang poet dari Irak yang menetap dan berkarya di Belanda, dan Eiji Han Shimizu, seorang produser media dari Jepang dan kreator japanese manga. Suatu panel yang sangat multikultur, dan semua pembicara mempunyai karya yang berhubungan dengan happiness. Fokus sesi itu sebenarnya adalah, “Is happiness something that can be learned, or is it inherent in human nature?”, walau akhirnya lebih banyak membahas mengenai “what is happiness?”. Berikut saya sarikan pendapat-pendapat mereka berdasarkan sedikit catatan yang saya buat di sela-sela keasikan mendengarkan sesi mereka. (foto saya ambil dari festival program book)

Menurut Ketut Yuliarsa, “For balinese people, there are collective happiness and individual happiness. One can have the individual happiness once he has achieved the collective happiness.” Konsep ini sebenarnya pengungkapan dengan cara yang berbeda dari “the joy of giving”, bahwa kita merasa bahagia karena memberikan sesuatu (untuk kebaikan sesama), bahwa kita menjadi ‘kaya’ justru dengan memberi. Hal ini juga wujud dari konsep Tri Hita Karana yang ada di Bali, bahwa bahagia itu adalah harmoni dan seimbang dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan alam sekitar. Lebih jauh Ketut juga mengungkapkan bahwa kita sering takut untuk merasa sedih, karenanya happiness lalu menjadi topik yang selalu hangat dibicarakan, menjadi semacam ‘big business’ dimana-mana. Padahal, “we should be sad sometimes, otherwise, how can we know happiness?”. Selanjutnya ia tegaskan pula, “If we are happy all the time, would we still be happy then? There should be some unhappiness to make us happy. Happiness cannot be separated from unhappiness, and we have to be able to ‘enjoy’ both.” Suatu pandangan yang sangat Zen, sangat dekat dengan filsafat timur. Saya jadi ingat nasihat yang diberikan oleh teman saya, dulu sekali saat saya ingin lepas dari pekerjaan saya saat itu yang saya rasakan begitu ‘menyebalkan’. Ia bilang, “Bahagia itu melakukan apa yang disukai dan yang tidak disukai, Mel…”. Kalau dipikir lagi, memang tidak ada sesuatu yang benar-benar bebas dari hal yang tidak kita suka, kuncinya kita harus bisa menikmati keduanya, suka dan tidak suka. Dan saat kita bisa melakukan itu, rasanya kita lebih bahagia.

François Lelord mencoba merumuskan happiness dengan cara yang ‘lebih sistematis’. Menurutnya ada dua jenis happiness, yang bersifat hedonistik, dan yang bersifat altruistik. Keduanya merupakan bentuk dari happiness. Yang hedonistik berarti kita merasa bahagia karena kesenangan yang kita dapatkan dalam hidup, seperti kenyamanan hidup, kekayaan, posisi atau kekuasaan. Yang altruistik artinya kita merasa bahagia karena melakukan sesuatu dan merasa berguna bagi orang lain. Ketika ada pertanyaan, “Can you be selfish and happy?” Menurut François, hal itu mungkin saja, tapi hanya untuk kebahagiaan yang bersifat hedonistik, yang lebih bersifat sementara dan tidak permanen, karena bergantung pada hal-hal diluar diri. Sementara yang altruistik, justru semakin kita memberikan sesuatu atau berguna bagi orang lain, semakin bahagia kita, terlepas dari apakah kita memiliki hal-hal yang bersifat hedonistik tadi, sesuatu yang lebih bersifat internal. Konsepnya sistematis, khas a la pemikiran barat.

Sementara pembicara lain banyak berusaha ‘merumuskan’ happiness, Rodaan al Galidi memilih untuk berpuisi sebagai jalan untuk mengungkapkannya. Hanya puisi yang mampu melampaui keterbatasan dari suatu definisi. Ia lalu membacakan salah satu puisinya, yang menurut saya sangat bagus, yang ia terjemahkan kedalam bahasa Inggris. Puisinya sederhana, tentang orang-orang yang ia lihat di suatu pantai di Netherland di suatu Sabtu yang cerah, suatu keluarga dan anjing mereka. Saat ia mengamati keluarga itu, ia tidak merasa bahagia, karena setiap dari mereka mengeluhkan atau mengkhawatirkan sesuatu, entah menyesali masa lalu, menakutkan masa depan, atau berharap ada di tempat lain. Namun saat ia mengamati si anjing, ia merasa bahagia. Kenapa? Karena anjing itu sekedar melompat riang, mengejar ombak, asik bermain pasir, menyalak, berlarian ke sana kemari. Rodaan yakin si anjing lah yang paling merasa bahagia diantara semuanya. Puisinya hilarious sekaligus ironik, dan juga sangat insightful tanpa perlu menjelaskan maknanya dengan panjang lebar. Dalam banyak sesi lain Rodaan juga sering menjelaskan dengan berpuisi, dia benar-benar seorang poet ya! Ia lalu menutup sesi dengan frasa yang sangat saya suka, “Big things make you powerful, but little things make you happy!” 

Eiji Han Shimizu mengaku pernah mencoba membuat sebuah film tentang happiness, namun akhirnya film itu menurutnya berujung menceritakan tentang compassion. Menurut Eiji, ada sesuatu yang lebih dalam dan besar daripada happiness, yaitu contentment, suatu perasaan dimana kita merasa bahagia atas apapun yang kita miliki atau yang terjadi dalam hidup kita, no matter what. Satu lagi pandangan yang sangat zen.

Happiness memang subjek yang susah-susah gampang untuk dijelaskan. Di satu sisi happiness adalah suatu hal yang tampaknya sangat sehari-hari, tapi di sisi lain jika kita coba menjawab pertanyaan, “what is happiness?”, maka mungkin sebagian besar dari kita akan sulit untuk menemukan kata-kata atau kalimat untuk menjelaskannya. Kalaupun kita berhasil merumuskannya dalam suatu kalimat, detik berikutnya kita akan ingin merevisinya lagi, dan lagi. Layaknya warna, sulit dijelaskan dengan suatu rumusan tertentu, seperti “what is red?, what is blue?”.

Kembali tentang buku ini, ceritanya sederhana, dan ditulis dengan kalimat-kalimat yang juga sederhana sehingga memberi kesan buku ini lebih seperti buku anak-anak walau dikemas dalam bentuk novel. Sebagai psikiater, tokoh Hector menurut saya juga agak terlalu naif dalam beberapa hal, terutama dalam memaknai perbedaan antara apa yang ia temui dalam perjalanannya dengan yang ia biasa temukan di negaranya. Misalnya saat ia baru sadar mengenai suatu bentuk globalisasi yang ia temukan di China, yang mana harusnya sudah ia pahami sebagai seorang terdidik yang berasal dari suatu negara maju di Eropa, dan buku ini pertama kali terbit tahun 2002 dimana isu globalisasi sudah demikian meluas. Juga tentang pekerjaan Ying Li, gadis yang ditemuinya di bar. Mungkin juga, sikap naif yang ditampilkan Hector memang disengaja penulis dalam rangka menyajikan cerita dengan sederhana, yang ingin ia jelaskan dengan pemahaman yang bertahap. Hal ini juga terasa pada catatan kecil yang dibuat Hector sebagai kesimpulan sementara mengenai happiness, seperti sebuah usaha untuk menyederhanakan dan mengkonkretkan suatu konsep yang abstrak tersebut. Di sisi lain, tokoh Hector juga sangat lembut hati, open-minded, dan layaknya seorang researcher, ia menyerap apapun yang ia temui tanpa asumsi. Sangat sering saya membayangkan sosok François sendiri sebagai Hector, karena saat berdiskusi ia juga selalu tampil dengan soft-spoken dan bersikap sangat terbuka.

Jadi, apakah happiness menurutmu? Saya setuju dengan semua pembahasan yang diajukan oleh keempat penulis di atas, semuanya sebenarnya sepaham hanya dalam pengungkapan yang berbeda. Secara pribadi konsep timur lebih masuk ke pemaknaan saya daripada konsep barat yang cenderung mengangkat semuanya ke kesadaran dan beranalisa dengannya, khususnya untuk subjek seperti happiness ini. Jika harus merumuskan dengan pendek, buat saya happiness adalah berada disini-dan-sekarang, being here-and-now. Benar-benar berada dan menikmati momen saat ini, tanpa terlalu mengkhawatirkan sesuatu di depan, atau menyesalkan sesuatu di masa lalu. Agak abstrak ya. Tapi beberapa kesimpulan dari catatan kecil Hector sang psikiater yang melanglang buana ini juga sangat saya suka, dan membantu menyodorkan happiness dalam bentuknya yang konkret:

Lesson no. 1: Making comparisons can spoil your happiness.

Lesson no. 3: Many people see happiness only in their future. 

Lesson no. 4: Many people think that happiness comes from having more power or more money. (Rodaan: “Big things make you powerful, little things make you happy)

Lesson no. 6: Happiness is a long walk in beautiful unfamiliar mountains.

Lesson no. 10: Happiness is doing a job you love.

Lesson no. 11: Happiness is having a home and a garden of your own.

Lesson no. 13: Happiness is feeling useful to others. 

Lesson no. 14: Happiness is to be loved for exactly who you are.

François Lelord adalah psikiater di Perancis, negeri asalnya, dan juga di USA, tempat beliau mengambil gelar post-doctoralnya. Selain menulis buku ini, ia juga penulis sejumlah buku self-help dan membuat program manajemen stres bagi perusahaan. Ia mengaku karakter Hector muncul di suatu perjalanan bisnisnya ke Hongkong, saat ia sendiri mempertanyakan kehidupan personal dan profesionalnya. Belum jelas saat itu buku seperti apa yang akan ditulisnya dengan karakter Hector tersebut. Ketika buku ini akhirnya terwujud dan sukses, François makin sering menulis dan bepergian dalam rangka pekerjaannya, dan suatu ketika ia sampai di Vietnam saat wabah SARS melanda di sana. Akhirnya ia menerjunkan diri pada suatu lembaga non profit Perancis yang memberikan pelayanan kesehatan bagi warga miskin, dan di sinilah ia bertemu dengan calon istrinya, Phuong. Saat ini mereka tinggal di Thailand. Sudah ada 3 sekuel buku Hector ini, tapi buat saya, cukuplah untuk saat ini mengikuti perjalanan Hector mengenai happiness ini. Mungkin nanti jika mood saya memanggil, saya akan teruskan.

“For Melani, with Hector’s best wishes for happiness”. François.” Terima kasih banyak, François! 🙂

(dengan Rodaan al Galidi dan Danny Yatim)

foto: http://www.wisata.kompasiana.com

Suasana di halaman Museum Neka, selepas sesi. Rodaan selalu jadi pusat perhatian karena sikapnya yang ramah dan membumi 🙂

foto: http://www.wisata.kompasiana.com

Edel Rodriguez, Arif Budiman, dan Eiji Han Shimizu di salah satu venue UWRF 2011

foto:www.adgi.or.id

Eiji Han Shimizu dan beberapa karyanya, grafik-biografi tokoh-tokoh terkenal di dunia, termasuk tokoh spiritual.

Ganesha Bookstore, di Jalan Raya Ubud, Ubud, Bali, sebuah toko buku yang dimiliki oleh budayawan Ketut Yuliarsa. Juga ada cabangnya di Krobokan, Seminyak.

Buku kumpulan puisi Ketut Yuliarsa, hadir dalam edisi bi-lingual, dengan salah satu puisinya:

a dry leaf falls
a breath of wind
holding its sway
ever so slightly

wait and listen
but do not stumble
into the depths
of serenity

Semoga semua makhluk berbahagia…

The No. 1 Ladies’ Detective Agency dan Tears of the Giraffe

Dua buku dari seri The No. 1 Ladies’ Detective Agency yang langsung membuat saya jatuh cinta pada Mma Ramotswe!

Precious Ramotswe adalah seorang wanita teguh dan mandiri namun berhati hangat yang tinggal di Bostwana. Ia membuka usaha agen detektif pribadi, yang merupakan satu-satunya dan pertama kali pernah ada di seluruh Bostwana. Dalam bukunya yang pertama, The No. 1 Ladies’ Detective Agency, kita banyak dikenalkan dengan perjalanan hidup detektif wanita bertubuh gemuk yang gemar menghabiskan waktu luang di beranda rumahnya dengan secangkir teh seduh ini. Ditemani sekretarisnya, Mma Makutsi, ia menerima kasus-kasusnya. Kasus-kasus yang datang cukup sederhana namun unik, dan sering berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, namun tetap saja butuh kecerdasan dan ketajaman intuisi dalam menemukan pemecahannya, dan Mma Ramotswe memiliki itu semua. Sangat mengasikkan menelusuri langkah-langkah yang diambil Mma Ramotswe dalam menjebak calon tersangka dalam rangka mencari bukti terpenting dari kasusnya. Juga ada Mr. J. L. B. Matekoni, sahabat Mma Ramotswe, pemiliki bengkel Tlokweng Road Speedy Motors, yang selalu siap menolong, namun menjadi demikian pemalu jika berhadapan dengan perasaannya terhadap Mma Ramotswe.

Dalam Tears of the Giraffe, intuisi dan kecerdasan Mma Ramotswe kembali diuji, terutama dalam menghadapi kasus yang tampaknya buntu, yaitu mencari keberadaan seorang anak bekas expat Amerika yang hilang di gurun Kalahari sepuluh tahun yang lalu. Di samping itu, ada beberapa urusan rumah yang tiba-tiba perlu perhatian, seperti Mma Makutsi, sekretarisnya, yang berhasrat meningkatkan karir menjadi detektif, sampai hadirnya anggota keluarga baru secara tiba-tiba dan tak terduga. Bagaimana kelanjutan cerita Mr. J. L. B. Matekoni dengan Mma Ramotswe? Lalu kenapa juga judulnya Tears of the Giraffe?

Cerita detektif atau misteri di kedua buku ini menurut saya lebih merupakan sampingan, walau tetap membuat penasaran, daripada hal utama yang ingin disajikan. Kasus-kasusnya bukanlah jenis kasus yang super misterius seperti yang biasa terdapat di buku-buku detektif lainnya. Kehidupan Mma Ramotswe lah yang lebih mendominasi dan membawa kita terus mengikuti apa yang terjadi berikutnya. Mma Ramotswe adalah karakter yang membuat kita betah ada bersamanya, tidak kompleks dan selalu bisa merasa bahagia dalam situasi yang sederhana, namun saat menghadapi situasi yang dianggapnya salah secara moral atau etik, ia bisa dan akan bersikap sangat tegas. Secara keseluruhan, kedua buku ini menyajikan karakter yang memorable, dengan cerita yang hangat dan kadang jenaka di sana-sini.

Alexander McCall Smith sendiri menurut saya merupakan figur yang sangat menarik. Selain penulis, ia juga seorang profesor di bidang Medical Law di Universitas Edinburgh, dan banyak berkiprah di pembahasan mengenai bioethics di badan nasional maupun internasional. Tidak heran unsur etik sering muncul dalam bahasan atau pemikiran tokoh-tokohnya, terutama tokohnya di seri Sunday Philosophical Club, Isabel Dalhousie, seorang editor di majalah jurnal applied ethics. Pada Mma Ramotswe pun kadang pertimbangan ini muncul, seperti apakah kita menolong orang lain karena tugas, keharusan, ataukah lebih karena afeksi, dan dari motivasi inilah seharusnya kita menilai seseorang, bukan dari sekedar apa yang dilakukannya. Ternyata pembawaan asli McCall Smith juga jenaka, atau mungkin jahil lebih tepatnya, seperti yang saya rasakan saat menghadiri sesinya dalam Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) bulan Oktober tahun lalu. Kami, para audience, puas cekikikan sepanjang 1 jam sesinya mendengar jawaban-jawaban beliau atas pertanyaan-pertanyaan tangkas yang diajukan sang moderator. Sesi itu merupakan salah satu sesi terbaik yang saya alami di UWRF 2011 lalu.

Seri No. 1 Ladies’ Detective Agency ini telah difilmkan dalam bentuk TV series oleh BBC, dan seorang rekan volunteer saya di UWRF 2011 lalu menceritakan bahwa salah satu kekuatan film itu adalah alam Bostwana yang digambarkan dengan begitu indah, selain penokohan dan ceritanya yang sangat sesuai dengan isi bukunya. Wah, benar-benar ingin nonton jadinya…

Alexander McCall Smith with Jill Scott who plays Mma Ramotswe in the film

Sosok Mma Ramotswe dalam film memang cocok seperti yang ada dalam benak saya saat membaca buku ini, gemuk dan warna-warni dari atas sampai bawah 🙂 (photo: http://www.dailymail.co.uk)

Alexander McCall Smith dalam salah satu sesi di UWRF 2011. (photo: UWRF 2011 facebook page)

Seusai sesi dengan beliau (di Museum Neka, Ubud), kami menyerbu dan mengantri untuk meminta tanda tangan, dan beliau melayani satu per satu dengan penuh senyum 🙂 (photo: pribadi)

Giliran saya 🙂 (photo: pribadi)

Ramah, dengan mata jenakanya yang selalu tersenyum. Terima kasih yaa.. 🙂 (photo: pribadi)

Wishlist saya berikutnya adalah beberapa buku lanjutan dalam seri No. 1 Ladies’ Detective Agency, dan seri Professor Dr von Igelfeld, seorang akademisi yang begitu khawatir dengan reputasinya hingga melakukan sepak terjang yang justru membuat suasana kacau dan merugikan dirinya 🙂

The No. 1 Ladies’ Detective Agency/ Alexander McCall Smith/ Fiction/ Abacus/ 2011 (1998)/ English/ 250 hlm.

Tears of the Giraffe/ Alexander McCall Smith/ Fiction/ Abacus/ 2011 (2000)/ English/ 233 hlm.

Mirah dari Banda

Saya menemukan buku kecil ini, Mirah dari Banda, seperti menemukan suatu harta karun yang sekian lama terbengkalai, forgotten, waiting to be found. Buku kecil ini memang tampak kurang menarik diantara sejumlah buku keluaran baru yang terpampang di rak toko buku. Satu hal yang menarik perhatian saya adalah setting cerita yang bertempat di kepulauan Banda, Maluku. Seberapa sering kita temukan cerita dengan setting Maluku? Belum lagi kisah tentang pohon cengkeh, pala dan rempah-rempah lainnya yang buat saya begitu spesial, menarik. Dan ternyata, buku sederhana ini memang memberikan pengalaman membaca yang sangat menggugah, menggugah rasa kebangsaan, bahkan jati diri sebagai manusia yang lebih universal.

Pekerja di kebun pala, buah pala, biji pala, dan fuli (kulit biji pala). Pohon pala bagi Banda, suatu anugrah ataukah bencana?

Kisah bergerak dari masa kini dengan banyak flash back  ke masa lalu, terutama ke jaman kolonial saat tuan-tuan tanah perkebunan pala dan cengkeh masih berkuasa di Banda. Dimulai dengan Wendy Higgins, seorang expatriat yang sedang tinggal di Indonesia, pergi berlibur ke kepulauan Banda ke rumah teman indonesianya yang berasal dari sana. Sejak awal, novel ini sudah memikat saya dengan penggambaran keindahan alam yang begitu natural, laut yang biru hijau, kadang biru kelam, pulau gunung berapi yang menjadi pemandangan sehari-hari dari depan rumah, suasana pesta santai di teras rumah yang menghadap laut, serta riwayat pohon pala yang demikian indah dideskripsikan. Di tempat itu, entah kenapa Wendy sangat tertarik pada sosok Mirah, seorang koki di dapur yang juga bekas buruh kebun pala pada jaman kolonial, yang kemudian menjadi nyai tuan besar saat itu.  Dalam riwayatnya, Mirah lalu melahirkan anak perempuan, Lili. Pada jaman Jepang, Lili dirampas tentara Jepang, menghilang selamanya dari kehidupan Mirah. Lili sendiri lalu meninggal dunia saat melahirkan anaknya di suatu kapal penyelamat Australia, dan sang bayi lalu diadopsi oleh sepasang suami istri Australia, dan diberi nama Wendy Higgins. Ya, Wendy yang sedang datang ke rumah itu adalah anak dari anaknya, Lili, yang tidak pernah ditemuinya lagi sejak tentara Jepang mengambilnya. Tapi tentu saja baik Mirah dan Wendy tidak menyadari hal itu, hanya saja keduanya memiliki ketertarikan khusus satu sama lain yang tidak bisa mereka jelaskan. Karena, keduanya memang saling mencari; Mirah, sampai kapan pun, selalu berharap akan bertemu kembali dengan Lili anaknya, dan Wendy selalu dalam pencarian mengenai orang tua biologisnya yang ia ketahui berdarah Indonesia. Apakah akhirnya mereka ‘bertemu’, menyadari sebagai keluarga sedarah? Tentu penulis mengakhiri kisah ini dengan sesuatu yang jauh dari klise, namun justru terasa sangat riil, menyentuh, dan masih terasa indah saat kita menutup halaman terakhir.

Saya sangat menikmati perjalanan yang disajikan penulis kembali ke masa-masa kolonial dan perjuangan indonesia, juga mengenai sejarah perbudakan maupun sejarah penanaman rempah. Memang banyak kisah-kisah yang menyayat hati, mengusik rasa kemanusiaan kita, namun semuanya disajikan dengan realisme yang begitu hidup sehingga membuat kita terus membacanya. Juga dalam hal penggambaran karakternya, kita dibawa masuk menyelami jiwa mereka, misalnya karakter Mirah, apa yang ia rasakan dan pikirkan saat ia kecil, menjelang dewasa, ataupun tua. Hanna Rambe, sang penulis, memang tampak sangat menyelami dunia bathin tokoh-tokoh yang terlibat, juga detil sejarah kolonial dan pasca kolonial, perbudakan, dan tidak kalah pentingnya siklus hidup pohon rempah dan alam Maluku. Konon ia menghabiskan waktu cukup lama untuk tinggal di Banda demi mengadakan riset mengenai tempat dan budayanya. Banyak percakapan juga terjadi dalam dialek bahasa lokal, yang ternyata sangat mudah dimengerti, tinggal lafalkan saja dalam benak kita dalam logat maluku yang kental, dan semua jadi terasa hidup.

Siapakah Hanna Rambe? Saya sendiri baru menemukan satu novelnya ini. Ia dikenal sebagai seorang penulis yang melakukan riset mengenai subjek atau karakter dalam tulisannya secara detil dan mendalam sebelum mulai menulis. Hasilnya memang sangat mudah terasa dalam buku Mirah dari Banda ini. Seorang penulis dan jurnalis, tulisannya juga tersebar di beberapa media nasional. Saat ini Hanna Rambe telah pensiun dari dunia jurnalistik, dan menghabiskan waktunya dengan menulis dan mengajar bahasa Inggris. Novelnya yang lain adalah Pertarungan, sebuah novel ekologi terbitan IndonesiaTera (2002).

Penerbit Obor masih harus bekerja keras memperbaiki banyaknya salah ketik dalam buku ini. Sangat disayangkan buku yang isinya demikian bermutu ini hadir dalam kualitas fisik yang kurang baik. Jika saja semua kesalahan ketik itu diperbaiki, juga hadir dalam kualitas kertas yang lebih baik, tentu buku ini akan lebih memikat, benar-benar suatu collectable item dalam khazanah sastra sejarah/ perjuangan Indonesia. Di sisi lain, pemilihan cover menurut saya sangat tepat, diambil dari lukisan karya pelukis Indonesia dengan tema yang sangat pas, sangat erat dengan isi buku, dan terkesan ‘kuno’-nya.  Kembali ke buku ini, saya menemukan bahwa buku ini bukan sekedar novel sejarah, tapi suatu karya penulisan sejarah yang mengungkap sebentuk sejarah kemanusiaan yang penah ada di muka bumi ini. Buku ini juga dijual luas dalam edisi Inggrisnya di amazon berbagai negara dan menjadi koleksi perpustakaan di universitas-universitas dunia, juga sering saya lihat di Periplus. Sangat layak untuk dibaca, dan apakah juga dibaca luas di Indonesia? Suatu review mengenai buku ini, yang ditulis dengan sangat baik, bisa ditemukan di sini.

Mirah dari Banda/ Hanna Rambe/ Yayasan Obor Indonesia/ 2010 (2003)/ Bahasa Indonesia/ 392 hlm.

Dua Kisah Romance a la Murakami

Kali ini saya ingin membahas tentang dua buku Haruki Murakami yang saya baca beberapa bulan yang lalu, keduanya berlatar tema romance yang cukup kental.

Buku pertama adalah Sputnik Sweetheart, terbit pertama kali dalam edisi bahasa Jepang (Sputoniku no koibito) pada tahun 1999. Sumire adalah gadis usia awal dua puluhan yang ‘tidak populer’, selalu berpakaian agak serampangan dengan sweater dan jaket yang serba kedodoran, yang dia yakini sangat mirip dengan tokoh di novel Keruoac, penulis favoritnya. Sumire sendiri adalah seorang aspiring writer, yang masih berjuang menemukan bentuknya. Sementara itu ada Miu, seorang wanita setengah baya yang sukses dan glamor, selalu ‘chic’ dalam berpakaian, dan juga populer. Dua individu yang rasanya sulit untuk akhirnya bisa berteman, yang satu tenar, yang lainnya serba kikuk, sampai pada suatu kesempatan ketika mereka bertemu dalam suatu pesta dan terjadi dialog yang sebenarnya berawal dari kesalahpahaman (antara ‘sputnik’, satelit Rusia, dan ‘beatnik, aliran sastra dalam novel Keruoac). Sumire mendapati dirinya mendambakan Miu, dan didorong kegundahan menemukan dirinya ternyata seorang lesbian, Sumire menceritakan segala kegalauannya kepada teman setianya, K (seorang pria, guru sekolah, yang sampai akhir cerita tidak disebutkan namanya), tentang apa itu hasrat seksual, haruskah ia menceritakan perasaannya kepada Miu, dan segala hal lainnya sampai ke masalah arti hidup. K selalu mendengarkan dengan perhatian yang tulus, karena ia pun sebenarnya mencintai Sumire, namun tidak pernah ia ungkapkan. Frustrasi karena perasaannya sendiri, K lalu menjalin affair dengan wanita lain, seorang ibu dari salah satu muridnya. Sampai pada suatu momen, saat Miu yang kebingungan menelpon K karena sesuatu yang sangat aneh sedang terjadi pada Sumire.

Novel ini saya katakan berlatar romance, namun yang sangat jelas diungkapkan menurut saya adalah tema kesepian. Berlembar-lembar halaman buku ini seperti merintihkan kesepian, bagaimana berada di suatu tempat yang kosong, menggapai tapi selalu tak tercapai. Tokoh-tokoh dalam cerita ini pun tampak saling berhubungan, sekaligus saling terasing satu sama lain. Lihat saja Sumire dan Miu, juga K dengan Sumire, dan si wanita dengan siapa K menjalin affair. Judul Sputnik Sweetheart pun menurut saya menunjukkan kejeniusan sang penulis dalam menggambarkan tema buku ini dalam dua patah kata, yang sangat pas dengan isi buku sekaligus mengusik keingintahuan. Kenapa Sputnik? Sputnik I adalah nama satelit buatan Rusia (kala itu Uni Soviet), suatu satelit pertama yang pernah dibuat oleh manusia, pada tahun 1957. Sputnik I berhasil mengorbit bumi dalam rentang waktu tertentu dan kembali ke bumi. Sebulan kemudian di tahun yang sama, Sputnik II diluncurkan dengan Laika, seekor anjing, di dalamnya, yang sekaligus menjadikan satelit ini satelit bermuatan makhluk hidup pertama yang pernah diluncurkan. Sayangnya, satelit Sputnik II, beserta Laika di dalamnya, tidak pernah kembali ke bumi, ia melayang, menghilang di keluasan dan ‘kekosongan’ jagat raya yang gelap tak bertepi… Membaca fakta sejarah ini saja sudah menyiratkan rasa sepi dan kosong, dan sepertinya memang itulah yang ingin disampaikan buku Sputnik Sweetheart ini.

Buku kedua adalah South of the Border, West of the Sun (Kokkyo no minami, taiyo no nishi, 1992). Kali ini tema romance-nya lebih kental, walau tetap ada unsur ‘keterasingan’ dalam bentuk yang berbeda. Hajime adalah anak tunggal dari suatu keluarga menengah di kota kecil di Jepang. Saat itu, masa post-war Jepang, menjadi anak tunggal termasuk langka, jika tidak dipandang aneh. Orang-orang dewasa dan mungkin juga teman-temannya akan memasang muka aneh , kadang prihatin, jika Hajime mengatakan bahwa ia tidak punya kakak ataupun adik. Semua temannya pasti punya kakak atau adik. Sepertinya ada anggapan yang ‘kurang’ dalam diri seorang anak tunggal. Hajime sering menyendiri dalam kesehariannya dan tidak merasa masalah dengan hal itu. Teman satu-satunya saat masa sekolah itu adalah Shimamoto, seorang anak perempuan yang juga merupakan anak tunggal di keluarganya. Shimamoto bukanlah tergolong cantik, bahkan ia memiliki suatu kecacatan fisik yang begitu kelihatan, namun tanpa harus banyak menjelaskan, Hajime merasa mereka mengerti satu sama lain. Kenangan terindah masa itu adalah saat berjalan pulang bersama, dan menghabiskan waktu yang tenang di rumah Shimamoto, mendengarkan koleksi musik ayahnya, musik klasik atau jazz jaman itu. Pretend dari Nat King Cole atau South of the Border dari Frank Sinatra, sangat membekas di benak Hajime. Bertahun-tahun kemudian, setiap mendengar alunan musik itu, Hajime terbawa langsung ke ruang duduk di rumah Shimamoto di siang yang tenang dan segala kenangan tentang gadis itu.

Kehidupan berjalan, mereka pindah kota dan berpisah, dan memasuki masa remaja yang riuh dengan dunianya masing-masing, namun tidak pernah Hajime menemukan sosok teman yang intim seperti Shimamoto. Kini Hajime telah dewasa, sukses sebagai pemilik bar jazz yang happening di Tokyo, menikah dengan seorang wanita cantik putri keluarga kaya, dan memiliki dua anak perempuan yang manis. Kehidupan yang lurus-lurus saja. Lalu tiba-tiba Shimamoto muncul kembali dalam kehidupan Hajime. Ia tampak jauh berubah, menawan sekaligus penuh misteri. Bagaimana kehidupan Shimamoto sejak mereka berpisah di masa sekolah dulu? Hajime terserap kembali ke masa lalu, segala perasaannya hidup kembali, dan begitu kuat. Akankah ia mempertaruhkan kehidupannya yang tenang sekarang untuk menggapai yang dulu hilang? Apakah ia akan terus berpura-pura bahagia sementara hatinya terasa hampa? “Pretend you’re happy when you’re blue, it isn’t very hard to do” (Pretend, dari Nat King Cole). Apakah mungkin ia menggapai yang dulu hilang? Apakah masih ada? Saat matahari terbenam di barat, adakah sesuatu di baliknya? “…what is there, west of the sun?” (hlm. 156).

Tema romance yang cukup biasa, pergolakan yang dialami Hajime pun bukan sesuatu yang tidak umum. Memang Murakami menyajikannya dengan cara yang agak berbeda, terutama di bagian awal cerita, tapi selanjutnya, saya hanya menemukan sekedar cerita romance, dengan karakter yang khas Murakami.

Tapi, saya suka dengan seri cover buku Murakami dari Vintage ini!

koleksi Murakami-ku yang keluaran Vintage

Sputnik Sweetheart/ Haruki Murakami/ Vintage/ 2002 (1999)/ English/ 229 hlm.

South of the Border, West of the Sun/ Haruki Murakami/ Vintage/ 2003 (1992)/ English/ 187 hlm.

Tirai Menurun

Tirai Menurun/ Nh. Dini/ Gramedia Pustaka Utama/ 2010 (1993)/ Literatur/ bahasa Indonesia/ 464 hlm.

Sudah lama rasanya saya tidak membaca karya Nh. Dini dimana ia berkisah tentang suatu cerita yang bukan kehidupannya sendiri. Di buku ini Dini bercerita, dari sudut pandang narator, tentang sekelompok pekerja seni, lika-liku dan jatuh bangun kehidupan mereka dalam suatu kelompok wayang wong (wayang orang), yang di masa lalu begitu akrab dan tenar sebagai bentuk hiburan kesenian di daerah Jawa Tengah. Cerita ber-setting di tahun-tahun saat Republik Indonesia Serikat baru saja berganti kembali menjadi Negara Kesatuan, saat revolusi baru mereda dan kehidupan pedesaan kembali mengambil bentuknya.

Adalah empat insan utama dalam cerita ini, Kedasih, Kintel, Sumirat dan Wardoyo, yang diceritakan riwayatnya sejak mereka kecil bersama keluarga tempat mereka tumbuh beserta tokoh-tokoh lain, sampai perjalanan hidup mereka mencapai dewasa. Masing-masing berasal dari desa-desa kecil di sekitar Semarang. Lingkungan pedesaan dengan segala kebiasaannya diceritakan dengan lugas, termasuk jerih payah dan harapan-harapan para tokohnya yang, dalam ukuran sekarang, tampak begitu sederhana. Nasib lalu mempertemukan mereka dalam suatu paguyuban wayang wong, Kridopangarso, dimana mereka lalu bersama-sama tumbuh sebagai anak-anak wayang, lalu berkarya sekaligus mencari hidup dalam dunia itu.

Di atas panggung, mereka melakonkan berbagai cerita, cerita kepahlawanan maupun cerita romantis antara pangeran dan putri, melalui peran raja agung berkharisma, putri rupawan, maupun raksasa antagonis, dalam cerita yang berakhir bahagia ataupun sedih. Panggung dan segala lakonnya adalah suatu cerita. Sang dalang bolehlah mengatur segala lakon dan peristiwa di atas panggung pertunjukan, namun tidak demikian halnya dengan ‘panggung kehidupan’ nyata. Selepas dari panggung, mereka masuk ke dalam kehidupan mereka sendiri yang sejatinya merupakan panggung mereka yang sebenarnya. Semua hal bisa terjadi, harapan yang dipelihara sekian lama bisa pupus, pasangan menawan di atas panggung bisa saling menyakiti. Namun kehidupan harus terus berjalan, setiap individu berusaha bertahan, dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai luhur yang kerap disampaikan melalui lakon mereka di atas panggung, atau dengan melabrak itu semua.

Perubahan jaman dan pesatnya perkembangan urban pada jaman itu akhirnya mau tidak mau mempengaruhi hidup paguyuban wayang wong ini. Mampukah Kridopangarso, dengan segala talenta dan nilai-nilai yang diusungnya, bertahan ditengah arus perubahan itu, ditambah anggota-anggotanya yang berganti sejalan dengan perjalanan nasib mereka?

Nh. Dini kembali membuktikan dirinya sebagai pencerita ulung, salah satu yang terbaik yang dimiliki negeri ini, menurut saya. Bagaikan didongengi, kita mengikuti perkembangan kehidupan para tokohnya. Karakternya kuat digambarkan dan begitu nyata, setting-nya tampak hidup, dan ceritanya sangat realistik. Kentara bahwa penulis sangat memahami seluk-beluk dunia pertunjukan wayang wong dan kehidupan anak-anak wayang didalamnya. Bahasa yang dipakai pun sederhana, dengan style yang agak berbeda dari buku-buku memoarnya, lebih mirip dengan gaya bercerita di buku-buku sastra lama. Kadang bercampur dengan istilah atau ungkapan yang sangat jawa, tapi tidak mengganggu karena selalu ada keterangan terjemahannya, malah segala ungkapan itu makin memperkaya dan menghidupkan situasi ‘jawa’nya. Diselingi pandangan filosofi tradisional yang sering mengingatkan kita akan pentingnya menerima perbedaan serta sikap mengasihi sesama, membaca buku ini semakin menyadarkan kita bahwa nilai-nilai tersebut sebenarnya ada di antara kita, di akar budaya kita sendiri, namun kini telah banyak dilupakan.

Buku ini, walau kental dengan dunia panggung dan pekerja seninya, toh pada hakekatnya tidak hanya bercerita tentang panggung itu. Ada ‘panggung’ yang lebih nyata, yaitu kehidupan itu sendiri, dan melalui mata orang ketiga, kita diajak Dini menelusuri perjalanan ‘nasib’ para pelakunya. Ada bahagia, ada sedih, ada harapan dan kecewa, sampai tiba waktunya ‘tirai panggung harus diturunkan’, penanda berakhirnya satu ‘panggung kehidupan’.

Terbit pertama kali pada tahun 1993, buku ini dipersembahkan Nh. Dini bagi kawan-kawan pelaku seni sejamannya, salah satunya Bagong Kusudiardjo.

Mei

Denpasar, Agustus 2011