Untuk Indonesia yang Kuat

Untuk Indonesia yang Kuat: 100 Langkah untuk tidak Miskin/ Ligwina Hananto/ Literati/ 2010/ Non Fiction – Finance/ Bahasa Indonesia/ 240 hlm.

Buku ini telah saya baca beberapa bulan yang lalu. Pertama kali tahu buku ini dari buku Rene Suhardono, “Your Job is not Your Career”, dimana Ligwina Hananto menjadi salah satu tokoh Rock Star di sana. Satu hal paling saya kagumi dari Ligwina adalah ia memiliki misi yang jelas sebagai individu, apa yang mau ia capai dalam hidupnya, suatu mimpi yang cukup tinggi tapi tetap realistik dan bukan tidak mungkin untuk dicapai. Misinya yaitu menciptakan masyarakat kelas menengah Indonesia yang kuat. Buku ini pun banyak menyampaikan inspirasi dan ajakan untuk bersama-sama bergabung dalam misi tersebut.

Siapakah manusia kelas menengah itu? Mereka kira-kira adalah yang telah memiliki penghasilan, tidak perlu fantastis tapi cukup untuk hidup, masih bisa menikmati liburan sesekali, masih mampu rutin membeli hal-hal yang menjadi hobinya atau menikmati hiburan sekali seminggu, tidak selalu hidup mewah tapi masih bisa menggaji pembantu, atau punya tabungan. Ligwina mambuka mata kita bahwa mereka ini adalah golongan yang kuat karena sudah mampu mandiri (secara finansial), bahkan mampu membantu golongan ekonomi di bawahnya.  Dan bagusnya mereka adalah golongan yang aktif berproduksi dan merupakan porsi yang besar dalam keseluruhan penduduk. Namun, sering kali, karena ketidakpahaman atau ketidakpedulian akan pengelolaan keuangan, golongan ini kembali jatuh ke level ‘miskin’ dibawahnya, tidak memiliki tabungan atau malah berhutang.

Ligwina di sini tidak bicara tentang teori ekonomi, tapi lebih pada peran kita, manusia kelas menengah Indonesia, baik sebagai individu atau keluarga, dalam mengelola keuangan pribadi. Tabungan, investasi, dana pendidikan, dana pensiun, dana darurat, dana liburan, semua dibahas dengan cukup simple, komunikatif dan mengena pada faktanya. Intinya membantu kita menjadi kuat dan lebih kuat secara finansial, yang pada gilirannya dalam skala yang luas akan memperkuat perekonomian negara.

Saya pribadi merasa ‘tertampar’ dan belajar banyak dari buku kecil ini. Ligwina banyak merentangkan fakta-fakta sampai tahun-tahun kedepan yang membuat kita melihat situasi masa depan sebagai realitas, dan karenanya perlu diperhitungkan sebagai kenyataan mulai saat ini. Saya belajar terutama untuk hal-hal berikut:

  • Persiapan dana pensiun bukan sekedar tersedianya dana pada saat kita pensiun, tapi harus dihitung pula biaya hidup yang diperlukan untuk hidup dengan kualitas/ lifestyle yang kira-kira sama dengan sekarang, untuk kurun waktu sekitar 30 tahun! (pensiun usia 55 dan perkiraan kita hidup sampai usia 85, maka ada 30 tahun masa pensiun yang harus dipikirkan biaya hidupnya). Dengan inflasi, meningkatnya kebutuhan khusus di masa pensiun dan situasi kita yang tidak bekerja, dan kualitas hidup yang kita inginkan, berapa dana yang harus kita siapkan? Dan bagaimana mencapai dana tersebut? (*pingsan dulu ah*)
  • Pengelolaan hasil dari aset aktif, jika memang sudah berproduksi, kemana hasil/ profit dari aset itu? Jangan-jangan habis lagi sia-sia untuk hal-hal yang lebih bersifat konsumtif! (*makanya perlu pencatatan pengeluaran, non!*)
  • Berani berinvestasi (*dan sedikit lebih berani mengambil resiko, ok?*).
  • Last but not least, kembali saya diingatkan untuk ubah cara pikir dari yang selalu bertanya, “berapa penghasilanku sekarang?”, menjadi ,”berapa pengeluaranku bulan ini?”. Ligwina banyak memberikan ilustrasi bahwa kekuatan finansial pribadi ternyata tidak terlalu ditentukan oleh besarnya penghasilan, tapi seringkali dari besarnya pengeluaran. Yang berpenghasilan 5 juta per bulan bisa jadi lebih baik kondisi finansial pribadinya daripada yang berpenghasilan 30 juta per bulan, jika ia menyisihkan penghasilan untuk investasi terlebih dahulu baru untuk pengeluaran, dan mempunyai perencanaan keuangan yang baik. Yang berpenghasilan 30 juta per bulan, dengan perilaku konsumtif yang buruk dan tanpa melakukan perencanaan, bisa jadi tabungan dengan jumlah standar saja belum punya, atau masih tergantung pada orang tua untuk beberapa kebutuhan hidupnya. Di samping itu, dengan penghasilan tinggi, maka gaya hidup akan berubah tinggi juga, dan kecepatan peningkatan gaya hidup ini sering bahkan melebihi kecepatan meningkatnya penghasilan. Jika kita terseret dalam kondisi ini terus menerus, apakah kita malah terjebak pada ‘proses pemiskinan’ diri sendiri?

Walau ‘menampar’, buku ini juga memberi semangat untuk fokus dan konstruktif mengelola keuangan pribadi, dan bahwa mencapai keamanan finansial bahkan financial freedom, walau tampak jauh, bukanlah hal yang tidak mungkin. Dan, ternyata dengan pengelolaan yang baik, serta being smart dalam pemilihan kegiatan, tidak menutup kesempatan kita kok untuk tetap berlibur, beli buku, dan menjalankan hobi kita, apapun itu! 🙂

Ligwina Hananto adalah pendiri dan CEO dari QMFinancial dan percaya bahwa finance should be practical.

Mei

Books v. Cigarettes

Books v. Cigarettes/ George Orwell/ Penguin (Great Ideas series)/ 2008 (1946)/ Essays/ English/126 pages.

Seri Great Ideas dari Penguin termasuk jarang aku lihat ada di toko buku (kecuali yang on-line), maka aku senang sekali saat menemukannya di toko buku Shakespeare & Co sewaktu masih tinggal di Paris, dijual sebagai buku bekas dengan kondisi yang masih sangat baik. Berisi kumpulan esai dari penulis George Orwell, buku kecil ini menjadi salah satu bacaan esai terbaik sekaligus mengasikkan yang pernah aku baca.

“Books v. Cigarettes” merupakan salah satu judul esai dari tujuh esai yang dirangkum di sini. Dalam esai ini, Orwell mengupas pertanyaan sederhana, apakah orang memilih menghabiskan lebih banyak uang untuk membeli buku atau rokok, dan kenapa? Pada esai yang lain (“Bookshop Memories”), ia mengeksplorasi pengalamannya ketika menjadi staf di sebuah toko buku bekas, dimana berada selalu di antara tumpukan buku justru mematikan niat bacanya. Pada “Confessions of a Book Reviewer” ia ingin pembaca memahami beratnya ‘tekanan mental’ menjadi seorang kritikus buku. Di esainya yang lain, Orwel juga menyentuh tema-tema lain yang berkaitan dengan buku atau sesuatu yang lebih luas, seperti kebebasan pers, patriotisme, kesejahteraan sosial, ataupun pendidikan. Setiap esai disajikan dengan gaya bertutur yang demikian lugas, to-the-point, renyah, namun sering juga tiba-tiba lembut dan menyentuh rasa yang sulit dijelaskan. Esainya “How the Poor Die”, yang menceritakan pengalamannya saat sakit dan dirawat di sebuah rumah sakit di Paris, dan “Such, Such Were the Joys”, yang membawa pembaca ke kehidupan masa kecilnya di sebuah sekolah elit berasrama di London, pada banyak sisi menghadirkan perasaan-perasaan subtil penulis yang diungkapkan dengan demikian apa adanya, sangat humanis dan menyentuh rasa keadilan, yang akhirnya mengharukan, namun dengan cara yang tidak ‘cengeng’ sama sekali. Tema-tema keadilan sosial dan politik memang sering membungkus karya-karya Orwell, namun didalam semua itu ada rasa humanis yang tidak bisa diacuhkan, yang begitu membekas.

http://www.georgeorwellnovels.com

Ini adalah kumpulan esai Orwell pertama yang aku baca, yang membuatku ingin membaca kumpulan-kumpulan esainya yang lain. George Orwell (bernama asli Eric Arthur Blair), dilahirkan di India pada tahun 1903. Ia bersekolah di Eton, Inggris, lalu bertugas sebagai polisi di Burma, bekerja sebagai pengajar privat, guru sekolah, staf toko buku dan jurnalis. Orwell sempat ikut berperang di perang sipil Spanyol pada tahun 1936, dimana ia terluka dan lalu dirawat di sanatorium, dan sejak itu tidak pernah kembali benar-benar sehat. George Orwell meninggal di London pada usia 47 tahun. Sebagian besar buku-buku Orwell mencerminkan pengalaman dari perjalanan hidupnya.

http://www.penguin.ca

Sedikit mengenai Penguin Great Ideas, seri ini benar-benar membuatku jatuh hati. Penguin membuat seri ini dengan niatan mengumpulkan dan menerbitkan buah pikiran dari para penulis, great thinkers, pionir, radikal, maupun mereka yang visioner, yang ide-idenya sedikit banyak telah mepengaruhi sejarah peradaban dan membantu kita menjadi diri kita saat ini. Tema yang sejatinya ‘berat’, disajikan dengan ringkas, padat, dan dalam bentuk buku yang secara fisik memang ringan, dengan desain cover yang brilian. Dan oh, Penguin Great Ideas box-set langsung jadi impianku…! Lihat juga contoh-contoh covernya yang cantik seperti di foto di bawah ini.

http://www.wemadethis.typepad.com

Mei, Balikpapan 9 Maret 2011

Bali’s Early Days

This time I’m going to talk about one of the books I purchased at the UWRF (Ubud Writers and Readers Festival) taking place on 6 – 10 October 2010 at Ubud, Bali. I was there to volunteer for the festival, with my role then was as a Writer Liaison for a group of writers, helping them settle well during the festival and their stay at Ubud. Of course during the five festival days, I had also ample of time attending the programs – panels, discussions, book launches, or other cultural events – and for sure time to buy some books! Many interesting books of the writers participating the festival were sold there at the festival bookstore, and all seemed to be so interesting, specially after having attended and listened to their thoughts in their programs. I bought (only) six books (why did I buy that few? I should have bought more!), and here is a ‘review’ on one of those.

Bali’s Early Days: Widow Sacrifice, Slavery & OpiumA.A. Gde Putra Agung/ Saritaksu Editions, 2010/ Essays (historical, anthropological)/ English/ 81 p.

Written by A. A. Gde Putra Agung, a Professor Emeritus of Universitas Udayana, and also the son of the last Raja of Karangasem, this historial and anthropological essays on early period in Bali, where widow sacrifice, slavery and opium trade were still taking place in some parts of Bali, was a brief research result of the Professor, based on notes and manuscripts best kept in the Puri Karangasem (the royal palace), as well as other resources, such as historical books and journalist reportages specially those made during Dutch colonial period. The publication of this book is very intriguing for Bali is widely known as a paradise island with the flaw image of ‘only beautiful things happen in Bali’, but it indeed has a bleak history in its past. On the other hand, knowing one’s past is very important to understand oneself and identify with one’s root, so that one can head forwards to the future more confidently. Basically it is the reason why this book is published and it was what was highlighted on the Book Launch taking place in cafe Nomad in Jalan Raya Ubud, and all of us, the festival attendees, celebrated its launching.

The book is divided into three parts concerning widow sacrifice, slavery, and opium trade that happened in Bali circa 1723 – 1904, a period where kingdoms in Bali were still struggling (and battling) to win the power and where the Dutch was still trying to put its feet in Bali. Every part of this book is ended with a brief multi-dimensional analyses, permitting the readers to look at the situations in different angles and relate them to the intertwined values that lived in the epoch.

Widow sacrifice, or mesatja as it was called in Bali, is the rite of life sacrificing done by the wife (also could include concubines) of the Raja (King) following the death of the Raja. The act took place at the cremation, where the wife (and concubines) would walk voluntarily and fall themselves into the cremation fire. Other form of mesatja was done by stabbing the body with a dragger (keris). It was seen as the ‘the act of faithfulness’ and the tradition was linked to the texts about being faithful (satya; setia) (which actually do not tell anything about killing oneself, rather, merely on being honest in thought and behavior, on keeping promises and keeping one’s words, and all those have far wider meaning), and also linked to the dynamic of the accumulated power on the king at the time.

Agreement between Raja Tabanan and Dutch government on the abolition of Mesatja

It’s very hard for me to imagine that this really took place some time in the past and to imagine that one could actually commit to this ‘brave’ and horrible act. In this book, there are some descriptions and eye-witness reportage, based on manuscripts, on how they did it, the minute-by minute scenes that took place, that made me chilled when reading it. Fortunately, this rite was abolished, starting by the agreement made between the Raja of Tabanan and the Dutch government (who forced the agreement as they saw the rite as ‘shockingly inhumane’), then spread to other parts of Bali. All parties were then willing to bring back the original meaning of ‘being faithful’ or satya, and the fact that killing oneself is actually one of the ‘biggest sins’ according to Hindu religion.

As for slavery and opium trade, both had strong relation with the Dutch policies at that time, although local interests also played a role here. As what was needed by the colonial period, Dutch needed supplies of men to support their wars in Java and in other parts of the world where Dutch colony existed. Balinese slaves were regarded as ‘favorite’; the men were reputed to be very loyal and willing to learn new things and they made fierce soldiers, whereas the women were known for their affection and being valued for their good knowledge in health care (p. 29). They were highly priced, and they were transported as far as Mauritius. The Balinese kingdoms took some role in providing the slaves and took benefit with some agreement with the Dutch. Within the kingdoms as well, there were some practice of slavery where people from lower social status would ‘dedicate’ their lives to the needs of the royal family. Multi-dimensional approach on social-economic, social-culture and social-politic, including the impact of the war between Dutch and England that took place far away in Europe, on the practice of slavery is elaborated here. One ‘anomaly’ reality was the fact that the situation of slaves in Bali during those times was actually ‘not so bad’. It is recorded that when the kingdom in south Bali fell apart in 1906, around the same time as the end of slavery in Bali, although the slaves were all set free, most of them chose not to leave their masters (p. 51).

Opium smoking in Java

The opium in Bali was closely related to the colonial Dutch policy in gaining as much profit as possible by establishing a market monopoly. The opium was listed in the VOC trading as early as 1603, as one of its profitable commodities in the East Indies (p.56). Starting 17th century, Dutch was trying to establish the opium trade between Bali, Batavia, Singapore and Europe, and in doing so, they had to win the commerce from previously other players in the commodity, which were the Chinese, Bugis and Javanese traders. Balinese kings were firstly involved in the trade, then they received privileges in opium consumption. They were actually the biggest consumers (p. 57). There were tales that told that in some royal palaces, the opium smoke was so dense that the geckos fell from the walls (p.55). Then the demand to get it was so high that it forced the traditionally inward-looking Balinese to develop export commodities (that would benefit the Dutch) to pay for their addiction and so began to open the island to more trade. They even helped the trade through the rural areas, where the kings usually played role as middlemen.

Those Balinese kings were naive, not realizing that the Dutch colonial’s ‘generosity’ was actually a double-edged sword. From social, cultural and psychological perspectives, as what happened in other areas of colonization, the Dutch handicapped the Balinese with the additive pleasure, leading them unsuspectingly into bondage, far beyond the comprehension of the Balinese people (p. 77). But when, at a later part, the Dutch used their politics to get agreement from the Balinese kings to wipe out some traditional rights concerning the royals’ pride and identity, it finally burst local resistance, which then led to the famously long and fierceful war against the Dutch in the island.

The book launch at Cafe Nomad, Ubud, Bali, Oct 2010

This book openly presents a ‘dark’ history of the so-called ‘paradise island’. A glimpse on the past of Bali that would enrich our understanding of the island and its people.

There is always something we can (or I should say, must) learn from history, for that history not to repeat in the future.

Mei, Balikpapan, 24 November 2010

Lagi, tentang Voltaire, L’Ingénu

 

 

Lagi, tentang Voltaire, kali ini mengenai salah satu bukunya yang paling saya suka, L’Ingenu. Tulisan ini saya buat sebagai bagian dari tugas “kuliah” di Universitas Pau, dimana masing-masing dari kami harus mempresentasikan sesuatu (apa saja), dan saya pilih mempresentasikan sesuatu yang menjadi favorit saya, yaitu buku Voltaire ini. Sekaligus bagi saya berlatih membaca bukunya dalam edisi aslinya, bahasa perancis. Membaca Voltaire dalam edisi perancis sudah tentu terasa lebih sulit, terutama karena penggunaan passe simple yang memang hanya dipakai dalam bahasa tulisan (terutama tulisan yang lama/ kuno), namun kekuatan buku ini tetap terasa. Pembacaan kali ini juga lebih dilengkapi dengan sumber-sumber lain yang membantu saya lebih memahami kenapa Voltaire menulis/ menyampaikan pesan-pesannya sedemikian rupa, seperti konteks sejarah, dan pendapatnya mengenai fanatisme dan toleransi. Voila, silahkan membaca, dan bila ada kesalahan grammaire disana sini (yang sudah pasti ada), yah mohon dimaafkan..voltaire-lingenu-francais.jpg

(L’Ingenu, Voltaire, fabel, Hatier Paris, 2004, Bhs Perancis, 90 hlm)

 

L’Ingénu

 

Une fable philosophique française

 

L’Oeuvre de Voltaire (1767)

 

L’Ingénu = qui a une sincérité innocente et naïve.

 

Fable = récit de fiction exprimant une vérité générale; petit récit en vers ou en prose, destiné à illustrer un précepte. (Dictionnaire Le Robert de poche, 2007).

La fable s’agit d’un jeune homme Huron (Huron est Indien du Canada, vivant entre le lac Huron et le lac Ontario) qui arrive en France dans la région Bas-Bretons, et là il rencontre le prieur de Notre-Dame de la Montagne (l’abbé de Karkabon) et sa sœur (mademoiselle de Karkabon). Grâce à la belle attitude du jeune homme, il est invité par les deux à rester chez eux. Le jeune homme est nommé l’Ingénu parce que il a l’air simple et naturel, il dit toujours naïvement ce qu’il pense, comme il fait tout ce qu’il veut. Son apparence extérieure est d’un bon sauvage : nu-tête, nu-jambes, les pieds chaussés de petites sandales, long cheveux, un petit pourpoint.  Il parle français fort intelligiblement et il est très poli qui étonnent l’abbé de Karkabon et sa sœur et aussi les autres. À partir d’ici commence l’histoire…, comment il est perçu à être converti en catholique, comment il apprend la bible encourageant, et applique ce qui est vraiment là, mais à cause de ça, produit une confusion dans la prêtre et les autres…. ; comment il tombe amoureux de mademoiselle Saint-Yves et comment puis il est confondu par l’implication de tout le monde en décidant à son sentiment à son amant…. ; comment il pousse les Anglais hors de la France et puis fait un voyage à Versailles pour voir le roi, mais il est surpris par le mauvais comportement de personnes principaux autour du roi… ; et puis comment il est embastillé et rencontre Gordon, un janséniste, avec qui il partage la chambre dans la Bastille et les deux font beaucoup de discussions sur l’humanité, la tolérance, les sciences, surtout dans la science de l’homme, et à cause de son ingénuité, il n’a pas appris les préjugés, il voit les choses comme elles sont… ; et finalement comment la belle Saint-Yves va à Versailles et délivre son amant et un janséniste.

 

 

J’ai lu L’Ingénu la dernière année en indonésien édition, et puis maintenant je viens de lire celui en français, et cette œuvre m’a impressionnée beaucoup. Comme une petite fable, l’histoire est brève, la structure est simple et linéaire, donc on la comprend facilement. Mais, la signification est forte et souvent elle touche l’humanité principale. Pour la bien comprendre, on doit ouvrir nos esprits et voir en nous-mêmes. Sans que cela, elle sera perçue juste comme une légende populaire.

 

 

Voltaire est connu par ses contes philosophiques, qui sont les histoires fictives et sont produits par l’auteur dans le but de peindre une critique de la société. Comme le jeune homme Huron, l’Ingénu dit : ”On m’a toujours appelé Ingénu, …. parce que je dis toujours naïvement ce que je pense, comme je fais ce que je veux” (p 10-11). Ce texte me semble que Voltaire veuille utiliser le caractère l’Ingénu comme media pour proposer ses critiques de la société.

 

 

Pourquoi Voltaire avait besoin de proposer les critiques sociaux? A mon avis, le texte ne devrait pas être interprété comme il est, mais on devrait regarder les contextes où l’histoire se passe et l’époque ou le temps où l’écrivain écrivait cette œuvre.Le récit était publié en 1767, mais l’histoire se déroulait en l’année 1689.

 

vLa France en l’année 1689 :

La situation extérieure : (1) Les possessions coloniales françaises : En 1608, Samuel Champlain fonde Québec et crée, avec l’autorisation d’Henri IV, la Nouvelle-France. (2) Les attaques des côtes françaises : En Angleterre, à la fin du XVII siècle, la situation politique est très instable, et des navires anglais abordent sur les côtes françaises. (3) Un nouveau régime politique séduisant : En 1690, la situation anglaise se stabilise grâce au des bills of rights et à l’installation d’une monarchie constitutionnelle qui favorise l’équilibre des trois pouvoirs, exécutif, législatif et judicaire, et donc la liberté individuelle.

 

La situation intérieure : (1) L’utilisation de modèles historiques réels et sa signification : Au moment où il rédige L’Ingénu, Voltaire est en train de préparer une nouvelle édition de son ouvrage consacré au Siècle de Louis XIV (1752). La plupart des noms propres, excepté ceux des héros principaux, sont tous des personnages qui ont réellement existé. (2) La mise en place du pouvoir absolu : En France, en 1689, Louis XIV règne en monarque absolu. (3) La révocation de l’édit de Nantes (1685). (4) La querelle du jansénisme

 

vLa France en l’année 1767 :

La situation extérieure : Bien qu’à l’époque des Lumières la langue et la culture françaises soient prédominantes dans les milieux cultivés d’Europe, l’Angleterre encore donne effet dans l’opinion européenne.

La situation intérieure : (1) L’aristocratie et le pouvoir absolu après Louis XIV. (2) La persistance des conflits religieux. (3) Les mouvement des Lumières : Les Lumières, c’est un mouvement intellectuel qui s’épanouit en Europe au XVIII siècle. Ce mouvement s’oppose surtout au despotisme politique, à l’intolérance religieuse, à la superstition et aux dogmes religieux. Il affirme l’importance de l’éducation, de la science, de la raison, de la liberté, et du progrès. (4) Importance de la figure du philosophe : le personnage de l’Ingénu évoque également la figure du philosophe des Lumière. Le philosophe doit non seulement être en savant qui utilise son jugement et sa raison, mais il doit aussi être un honnête homme.

Ceux qui se sont passés en 1689 et 1767 reflètent les situations importantes dans ces siècles, et Voltaire les utilisait pour exprimer son jugement et ses critiques. Par exemple: le personnage de Huron du Canada, l’arrivée des Anglais sur les côtes françaises et les sentiments de Français vers Anglais, l’utilisation des personnages réels (les noms des ministres, du roi), le conflit avec l’huguenots et janséniste, la passion sur de la science de l’homme et de l’humanité, l’aspiration au personnage qui est raisonnable, modeste et honnête.

 

 

 

Vers la pratique du pouvoir absolu, et l’intolérance, il écrit, ”Il n’y donc point de lois dans ce pays ? On condamne les hommes sans les entendre ! ” (comme dit par l’Ingénu; p 63). Vers le fanatisme (dans ce cas là – chauvinisme) de Français dans ce temps, il exprime dans la conversation entre l’Ingénu et l’abbé de Saint-Yves et mademoiselle de Karkabon quand l’Ingénu était demandé laquelle des trois langues lui plaisait davantage: la huronne, l’anglaise, ou la française ; ”La huronne, sans contredit” répondit l’Ingénu ; ”Est-il possible ?” s’écrié mademoiselle de Karkabon, ”J’avais toujours cru que le français était la plus belle de toutes langues après le bas-breton.” (p 11-12). Et plus, ”… sans l’aventure de la tour de Babel, toute la terre aurait parlé français.” (p 12).

Toute l’œuvre de Voltaire est un combat surtout contre le fanatisme et l’intolérance. D’après moi, il propose ses critiques efficacement, parce que sur un mode ludique et léger, on peut comprendre ses pensées facilement et réfléchir en nous-mêmes sans blessant.

Sur le fanatisme :

  • ”On entend aujourd’hui par fanatisme une folie religieuse, sombre et cruelle. C’est une maladie qui se gagne comme la petite vérole” (”Fanatisme”, Dictionnaire Philosophique, 1764). (vérole = une maladie epidemic, infectieuse)

Sur la tolérance :

  • ”Je ne suis pas d’accord avec ce que vous dites, mais je me battrai jusqu’à la mort pour que vous ayez le droit de le dire”.
  • ”Monsieur l’abbé, je déteste ce que vous écrivez, mais je donnerai ma vie pour que vous puissiez continuer à écrire” (sur une lettre de Voltaire à un abbé Le Riche, du février 1770).
  • ”Qu’est-ce que la tolérance ? C’est l’apanage de l’humanité. Nous sommes tous pétoire de faiblesses et d’erreurs; pardonnons-nous réciproquement nos sottises, c’est la première loi de la nature”. (”Tolérance”, Dictionnaire Philosophique, 1764). (l’apanage = privilège; pétoire = mauvais fusil; faiblesse = défaut/ manque de qualité;  sottise = bêtise, stupidité)

Voltaire écrivait cette œuvre trois siècle avant, mais je pense que ses pensées universelles soient très pertinentes jusqu’à maintenant. Selon moi, L’Ingénu est une petite histoire qui parle grands messages…

Voltaire, qui est-ce ?

§Né le 21 novembre 1694. Mort le 30 mai 1778.

§Nom original est François-Marie Arouet, et il l’a changé à Voltaire en 1718 quand il était exilé à la Bastille.

§Un fils d’un notaire et aîné d’une famille de trois enfants. Sa mère meurt très tôt, en 1701. Dès son enfance, il recevait son éducation chez les jésuites qui lui apportait une fondation sur l’humanisme classique; il conservait le goût de la clarité des idées, de la simplicité de l’expression, et la maîtrise d’aller à l’essentiel.

§Ensuite, comme la tradition familiale, il commençait des études de droit et puis, pour un peu de temps, il devenait clerc de procureur (”attorney”). Mais, l’introduit dans la bonne société et les salons littéraires, il se lançait alors dans la littérature. Il choisissait la carrière des Lettres contre la volonté de son père, qui disait qu’il ne pourrait pas vivre de sa plume (stylo). En réel, Voltaire était à la fois un écrivain renommé et un homme riche.

§Au XVIII siècle, à une époque où la culture française dominait en Europe, Voltaire dominait la culture française. Son œuvre est tous les genres littéraires, 56 pièces de théâtre, des dialogues, des ouvrages historiques, des romans et des contes, des vers et de la poésie épique, des essais, des articles scientifiques et culturels, des pamphlets, de la critique littéraire et plus de 20 000 lettres.

§À cause de son attitude protestaire et franche, il se retrouvait exilé à Sully-sur-Loire en 1716, et puis embastillé en 1717. Exilé aussi en Angleterre où il découvrait un système politique à ses yeux idéal: la monarchie constitutionnelle.

§Reconnu par sa parole : ”Il faut cultiver notre jardin!”, que il le prouvait en développant un petit village à Ferney, qu’il transformait peu à peu en plus vivant et active économiquement par l’utilisation des techniques plus modernes en agriculture.

Source :

1.Voltaire, ”L’Ingénu”, Hatier, Paris 2004

2.Voltaire, ”Si Lugu”, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta 2003

3.Jean-Joseph Julaud, ”Les Grands Ecrivains”, First Edition, Paris 2007

4.www.wikipedia.com

5.www.mademelani.wordpress.com

Pau, 24 Octobre, 2007

Voltaire – Dongeng Filsafat Prancis

voltaire1.jpg

Voltaire – Dongeng Filsafat Prancis

Esai

Pengarang: Ida Sundari Husen

Penerbit: Indonesiatera

Tahun terbit: 2003

Bahasa: Indonesia

Halaman: 170

Senang sekali rasanya menemukan buku ini di suatu sudut rak buku pada sebuah toko buku yang baru saya kunjungi. Sebagai pengagum Voltaire, dan Ida Sundari Husen, seorang ahli kesusastraan Perancis dari Universitas Indonesia, saya menemukan sekaligus dua hal favorit dalam buku ini. Si penulis, dan buku-buku dari penulis yang ditulisnya. Tulisan Husen telah sering memuaskan kehausan saya akan kesusastraan Perancis, dan Voltaire, tentu saja telah memukau saya dengan tulisan-tulisannya yang tajam sekaligus universal.

Buku Voltaire – Dongeng Filsafat Perancis merupakan bagian dari disertasi Husen yang mengulas dan membandingkan tiga tulisan Voltaire yang paling terkenal, yaitu Candide, Zadig dan Si Lugu. (Tulisan Si Lugu telah pula diulas dalam blog ini). Secara spesifik, disertasi beliau membahas ironi dalam ketiga dongeng Voltaire tersebut. Sebenarnya Voltaire banyak pula menulis karya-karya lain, seperti puisi, drama, esai, sejarah, namun ia justru terkenal oleh dongeng-dongengnya yang semula dianggap sebagai karya sampingan penghibur hati, atau alat tersamar manakala ia tidak dapat mengkritik keadaan secara terbuka. Dongeng-dongeng Voltaire banyak dikenal orang karena sifatnya yang mengena atas kritikan sosial saat itu dan isinya yang tetap aktual sampai sekarang karena menyangkut masalah manusia yang universal.

Seperti umumnya tulisan Husen yang sistematis dalam hal konteks, buku ini dibuka dengan pendahuluan mengenai keadaan Perancis abad ke-18, yaitu periode saat Voltaire hidup dan berkarya. Meninjau keadaan politik dan perubahan-perubahan di Eropa pada saat itu, serta perkembangan pemikiran di Perancis, kita seakan diajak mengunjungi milieu dan konteks sejarah saat Voltaire hidup. Dilanjutkan dengan ulasan mengenai riwayat hidup Voltaire, yang mengajak kita mengenal Voltaire secara lebih biografis.

Kemudian untuk memudahkan pembaca yang mungkin belum mengenal Voltaire, secara singkat diulas empat dongeng filsafat Voltaire, mulai dari proses penyusunan, latar belakang dan inti pesan yang hendak disampaikan. Selain Zadig, Candide dan Si Lugu, ada satu dongeng lagi, yaitu Micromegas, yang turut diulas disini. Dongeng-dongeng filosofis Voltaire memang ditulis pada usianya yang telah matang, ketika Voltaire telah merasakan asam garam kehidupan. Reaksi terhadap apa yang terjadi di masyarakat, kegiatan politik atau sastra, bergema dalam dongneng-dongengnya, dan ditulis dalam gaya yang kocak, ringan, namun penuh dengan ironi. Menghibur sekaligus mengkritik. Dengan dongeng-dongengnya itu secara tersirat ia mengajak pembaca untuk bersikap toleran, adil dan giat bekerja.

Intisari pemikiran Voltaire, yang dipetik dari karya dongeng-dongeng filsafatnya, dibahas Husen dalam tema-tema sebagai berikut:

§ Hubungan antar manusia

§ Rohaniwan dan lembaga agama

§ Kaum bangsawan dan tokoh politik

§ Tokoh perempuan

§ Teks-teks satire tentang individu dan masyarakat

§ Kekhasan gejala budaya zaman Voltaire

§ Filsafat hidup dan diskusi metafisika

Menelusuri setiap tema di atas serasa merasakan kembali suara Voltaire yang selalu menggaungkan nilai kemanusiaan yang universal dan yang inti. Terhadap bangsawan yang menghinanya karena ‘tak bernama’, Voltaire melontarkan jawabannya yang terkenal, “Aku tidak seperti mereka yang mencemarkan nama yang mereka warisi. Aku akan mengabadikan nama yang kubuat sendiri!” (hal 13). Dalam hal rohaniwan dan lembaga agama, Voltaire mengungkapkan dalam Zadig, “… matahari, bulan dan bintang adalah benda seperti yang lain-lainnya, yang tidak perlu harus lebih dihormati daripada pohon dan cadas….” (hal 68), ketika melerai diskusi yang hampir menjadi pertikaian antara orang Perancis, Mesir, Khaldea, India dan Cina. Maksudnya adalah pemujaan agama yang berbeda memang tampak berbeda, namun intinya semua memuja Sang Pencipta dibalik hal-hal itu semua, dan karenanya, “… tidak ada alasan untuk bertengkar….” (hal 69; dan Bab 12 dalam Zadig). Persepsi Voltaire tentang agama sangat mendasar: hendaknya agama itu hanya mengajarkan kesederhanaan, perikemanusiaan dan amal (hal 69). Menurutnya, seringkali pertentangan antar umat beragama terjadi karena hal sepele, misalnya, seperti yang diungkapkan dalam Bab7 dalam Zadig, orang bertengkar gara-gara tidak sepakat dengan kaki sebelah mana mereka harus masuk kuil, ke arah mana mereka harus menghadap ketika sembahyang, dan menurutnya kefanatikan seringkali merupakan sumber malapetaka di dunia ini (hal 70).

Dalam hal perang, Voltaire menyiratkan dalam Si Lugu, pendapat ironisnya mengenai prajurit yang berada di medan pertempuran dan menjadi mangsa pertama senjata maut, yang sesungguhnya tidak mempunyai urusan apa-apa dengan masalah yang dipertengkarkan. Semakin ironis dengan kenyataan bahwa peperangan yang banyak memakan korban itu seringkali dikendalikan oleh para pemimpin sambil duduk di belakang meja tulis. Jika kita perhatikan, keadaan dunia di abad 21 ini tidaklah jauh berbeda dengan yang dialami Candide dan tokoh-tokohnya di medan perang, misalnya. Sehingga, Andre Gide, seorang pengarang Perancis abad ke-20 yang tidak menyukai Voltaire, menulis dalam Journal-nya: “… untuk memperlihatkan bahwa manusia itu bukan main menderitanya di muka bumi ini, sama sekali tidak diperlukan nalar yang tinggi. Agama pun mengajarkannya kepada kita. Voltaire pun mengetahuinya… Seandainya ia kembali berada di antara kita sekarang, betapa ia akan kecewanya, karena dalam banyak hal ia tidak berhasil….” (hal 155). Voltaire memang menyadari hal-hal buruk yang ada di dunia, namun ia juga percaya pada usaha manusia untuk memperbaikinya, dan mengusulkan suatu jalan keluar yang praktis dan membumi, seperti ungkapannya dalam Candide yang terkenal tentang kerja, “Pekerjaan menjauhkan kita dari tiga hal: rasa bosan, dosa dan kemiskinan.

Ada banyak lagi ulasan dongeng filsafat Voltaire yang dihadirkan oleh Husen dalam buku ini, yang tentu saja tidak mungkin untuk diulas di sini semuanya. Pada bagian penutup, Husen kembali menggemakan ajakan terkenal Voltaire, yaitu, “Kita harus menggarap kebun kita”, yang merupakan suatu usaha manusia dalam rangka membatasi keburukan di dunia ini semaksimal mungkin. Menurut Husen, gagasan Voltaire dapat dipandang sebagai pesimisme yang dinamis, yang sama sekali tidak mengecilkan hati, melainkan memberikan kepercayaan atas kemampuan manusia untuk maju dan memperbaiki nasibnya, seperti yang diungkapkan dalam salah satu sajak Voltaire:

Suatu hari nanti segalanya menjadi baik,

itulah harapan.

Segalanya baik sekarang,

itu hanyalah khayalan.

(hal 157).

Cirendeu, 13 June 2007, 17.57.