Best Books 2013

Haloo..

Setelah sekian lama absen dari blogging dan blog ini ‘nganggur’ berbulan-bulan, kini saya kembali lagi.. Saya awali dengan membagi cerita tentang buku terbaik yang saya baca di tahun 2013.

cat in the window - karya Jean-Jacques Sempé
cat in the window – karya Jean-Jacques Sempé

Kegiatan membaca sebenarnya tetap berjalan seperti biasa, malah saya sempat ‘mencicipi’ genre yang saya jarang sentuh dan membaca beberapa buku dari pengarang yang kali itu karyanya pertama kali saya baca. Melepaskan diri dari beberapa ‘rencana baca’ dan membiarkan diri mengalir mengikut ‘mood baca’ (dalam arti membaca apa dan kapan), ternyata membawa saya pada penemuan-penemuan menarik. Ibarat melakukan sebuah perjalanan, melakukan pengembaraan atau flâner membuat kita mengobservasi dan menyerap lebih banyak hal sepanjang perjalanan itu, dibanding melakukan perjalanan yang berfokus pada destinasi. Rencana baca semula memang jadi agak porak poranda, namun kenikmatan membaca ternyata lebih saya rasakan. Karena tidak memperdulikan target baca, saya jadi lebih ‘bebas’, menemukan banyak hal kecil yang biasanya saya lewatkan, dan banyak bagian  buku saya temukan begitu ‘memorable’. Saya juga membaca lebih tanpa ekspektasi tertentu, saya ingin menemukan buku itu apa adanya, dan berkenalan dengan apa yang sebenarnya penulis ingin sampaikan melalui karyanya itu. Sejumlah buku-buku itu akhirnya menjadi buku yang saya golongkan sebagai buku terbaik 2013. Berikut ulasan singkatnya.

la gloire de mon pere1. La Gloire de Mon Père – Marcel Pagnol. The Glory of my Father. Sebuah novel autobiografis dari penulis, playwright dan cinematographer Perancis. Tentang kehidupan masa kanak-kanak penulis, saat papa, maman dan keluarga terdekat adalah dunia terintim si tokoh. Di musim panas, seperti biasa, mereka pergi berlibur ke pedesaan Provence, menginap di sebuah villa tua. Marcel kecil sangat ingin ikut pergi berburu burung bersama papa dan pamannya, namun tentu saja tidak diperbolehkan. Dengan suatu cara akhirnya ia berhasil mengikuti kedua orang dewasa itu pergi ke hutan, yang akhirnya membuatnya mengalami petualangan mendebarkan, pengenalan pada alam dan dirinya sendiri. Ditulis dengan bahasa yang sophisticated, menghadirkan alam Provence Perancis yang khas saat musim panas, kehangatan keluarga ‘jaman dulu’ yang begitu sederhana. Menyentuh sekaligus komikal. Terbit pertama kali tahun 1957. Ilustrasi keren oleh Sempé .

lAmant2. L’Amant – Marguerite Duras. The Lover. Tentang kenangan kehidupan seorang gadis remaja Perancis di Saigon, di masa sisa-sisa pendudukan Perancis di Vietnam. Si tokoh lalu memiliki seorang ‘kekasih’, seorang pria Vietnam, yang dengannya hubungan mereka berjalan dengan tidak banyak kata-kata, mengalir begitu saja, tanpa bentuk, namun sangat membekas bagi keduanya. Tema cerita lebih pada perasaan keterasingan. Ditulis dalam bahasa yang sederhana, membacanya seperti sedang mendengarkan kisah kenangan yang disampaikan penulis, tidak terlalu berstruktur, maju-mundur di masa sekarang dan masa lalu, tidak melulu berada dalam plot tertentu, tapi lebih pada eksplorasi pikiran dan perasaan si tokoh. Saya membaca kisah ini tanpa terlalu memperdulikan ada atau tidak plot, saya ikuti saja kemana pengisahan itu berjalan, menikmatinya, dan membuat saya jadi merasa demikian intim dengan pikiran dan perasaan sang tokoh. Akhir kisah sangat membekas. Beautiful and profound. L’Amant memenangkan le prix Goncourt tahun 1984.

Anna Karenina, Leo Tolstoy, Penguin Classics, 2003, translated by Richard Pevear and Larissa Volokhonsky

3. Anna Karenina – Leo Tolstoy. Membaca versi lengkapnya membuat saya mengerti mengapa buku ini begitu banyak dibicarakan dan bahkan dianggap sebagai the best novel ever written oleh sebagian kalangan. Anna Karenina ternyata berbeda dari anggapan saya sebelumnya tentang buku karya Tolstoy ini. Anna sendiri, walau dijadikan judul, tidak menjadi tokoh paling utama di kisah ini, bahkan tidak menjadi tokoh protagonis. Ia bukan heroine, malah mewakili suatu tokoh yang penuh kegagalan dan self-destruction, walaupun dalam banyak sisi hidupnya dilimpahi kemudahan dan keberuntungan. Tokoh ‘sampingan’ yang justru menjadi focal point dari buku ini, dimana banyak kritik mengatakan bahwa tokoh ini merupakan self-portrait dari Tolstoy sendiri, adalah tokoh Levin, yang berasal dari latar belakang yang begitu berbeda dari Anna dan sepanjang tahap hidupnya berjuang mencari makna hidup. Buku ini, buat saya, secara sederhana menyodorkan pertanyaan: “What does it take to be truly happy?”. Saya rekomendasikan untuk membaca versi lengkapnya, supaya kita tidak hanya berkutat pada kisah ‘romance’ Anna, tetapi juga tokoh-tokoh lain dan pendalaman situasi sekitar yang begitu kaya digambarkan. Buku terbitan Penguin Classics ini diterjemahkan dari bahasa Rusia ke bahasa Inggris dengan sangat baik oleh Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky, dua penerjemah yang memenangkan award khusus untuk penerjemahan sastra Rusia ke Bahasa Inggris.

dog stories4. Dog Stories – James Herriot. Saya sangat mudah jatuh hati pada kisah-kisah yang berhubungan dengan anjing. Dan disini, James Herriot kembali menunjukkan kepekaannya dalam mengobservasi kejadian dan perasaan dan menuangkannya dalam tulisan, sehingga kisah-kisah ini menjadi kisah yang begitu membekas. Buku ini berisi berbagai kisah pengalaman sang dokter hewan dari daerah pedesaan Yorkshire yang permai ini, berkaitan dengan penanganan anjing yang menjadi pasiennya, maupun pasien jenis lain dimana seekor anjing menyertai perjalanan pasien itu. Dalam tulisan Herriot, anjing-anjing ini jadi begitu ‘manusiawi’.

all that is gone5.  All That is Gone – Pramoedya Ananta Toer. Adalah buku kumpulan cerita pendek, yang diambil dari dua buku kumpulan cerita pendek Cerita dari Blora (terbit 1952) dan Subuh (1951). Pram disini menghadirkan cerita-cerita semi-autobiografis dengan muatan emosi yang kuat, twist yang kadang tidak terduga, dan elemen kenangan yang kental. Beberapa dari cerita itu begitu membuka mata saya akan situasi pasca kemerdekaan, terutama pada kehidupan ‘orang-orang biasa’ yang kehidupannya terpengaruh oleh masa revolusi itu. Pram disini membuktikan kepiawaiannya dalam menghadirkan cerita dengan karakter yang kuat dan plot yang penuh dalam ruang sempit bernama cerita pendek. Lebih jauh tentang All That is Gone bisa dibaca di sini.

rahasia selma6. Rahasia Selma – Linda Christanty. Buku ini adalah pengalaman pertama saya membaca karya Linda Christanty. Cerita-cerita Linda berlatar cukup sederhana dan sehari-hari, namun di akhir cerita selalu menghadirkan sesuatu yang begitu tak terduga yang kadang memporak-porandakan pemahaman awal kita tentang cerita itu, yang ternyata bisa bermakna dalam dan historis. Sama seperti Pram, saya begitu kagum pada keahlian Linda dalam menghadirkan karakter yang kuat dan cerita yang begitu membekas dalam ruang pendek bernama cerpen. Buku tipis ini membuat saya ingin membaca karya-karya Linda lainnya.

ring of fire7. Ring of Fire, an Indonesian Odyssey – Lawrence Blair dan Lorne Blair. Buku ini adalah memoar dan catatan perjalanan dari kakak beradik Blair yang mengarungi lautan dan menjelajah beberapa pulau di Indonesia dalam rangka membuat film dokumenter, di awal tahun 70-an. Sarat dengan komentar dan analisis mengenai kondisi lingkungan, biologis, maupun elemen antropologis, buku ini menjadi begitu kaya dan mengasyikkan dibaca. Belum lagi tempat-tempat yang dijelajahi Blair adalah laut dan pedalaman pulau yang jauh dan ‘terasing’, yang oleh kebanyakan orang Indonesia saat ini pun masih belum banyak terjelajahi, seperti kepulauan rempah Maluku, pedalaman Papua, perairan Komodo, laut Aru, dan beberapa tempat lainnya. Blair menulisnya dengan bahasa yang demikian mengalir, serius dan penuh analisa di beberapa aspek, namun selalu penuh humor khas orang Inggris. Buku ini saya beli tahun 2012 silam saat Lawrence Blair hadir di acara Ubud Writers & Readers Festival, dimana ia memutarkan dan mengulas salah satu film dokumenternya tentang pelayarannya menjelajah laut Aru. Indonesia is definitely dangerously beautiful!

hunger8. Hunger – Knut Hamsun. Ya, buku ini mengisahkan tentang lapar, dan bagaimana kondisi fisik berupa perasaan lapar (dan kelaparan) itu begitu mempengaruhi kondisi mental seseorang. Knut menuliskan novel ini sebagai bentuk reaksi atas ‘kekecewaannya’ pada sebagian besar novel kontemporer pada jamannya yang menurutnya terlalu stereotip dalam plot dan miskin dalam karakter. Maka hadirlah ‘Hunger’, yang memang tidak terlalu mengandalkan plot, namun lebih pada eksplorasi ‘interior landscape’ – perasaan, pikiran, harapan, kekecewaan, dunia batin, si tokoh. Si tokoh adalah seorang penulis yang sedang berjuang meraih sukses dengan mengandalkan karyanya, yang imaginasinya menjadi demikian tergerus oleh kondisi lapar berkepanjangan yang ia alami. Novel ini cukup depresif, namun juga membawa hal-hal tak terduga di beberapa bagian akhirnya, dan di penghujung cerita menyajikan suatu ironi yang divisualisasikan dengan ‘indah’. Beautifully tragic. Buku ini membuat saya ingin membaca karya Knut Hamsun lainnya, yaitu Growth of the Soil.

nawung9. Nawung – Galuh Larasati. Ini mungkin termasuk buku “underrated”, dimana tidak banyak orang tahu mengenai keberadaan buku ini, tenggelam dalam hiruk pikuk buku-buku lain, bahkan keberadaannya di toko-toko buku saya lihat sering terpinggirkan. Padahal, buku ini menurut saya menyajikan kualitas penulisan yang prima dengan bahasa yang sangat rapi namun mengalir, dan isi yang sangat baik. Melalui buku Nawung ini,  seorang sastrawati baru saja lahir. Ya, buku ini adalah buku pertama Galuh Larasati, mengisahkan tentang seorang anak perempuan bernama Nawung dan perjalanan hidupnya hingga dewasa yang penuh dengan lika-liku kebahagiaan, kesedihan, kebangkitan dan keterpurukan, serta harapan. Yang membuatnya berbeda adalah buku ini sarat dengan nilai-nilai luhur tradisional (tanah Jawa) yang demikian dalam dan universal, yang sering kita lupakan atau remehkan. Setiap paragrafnya menghadirkan potret dan renungan yang sederhana namun membekas. Salah satu ‘wejangan’ yang saya dapat dan yang paling berkesan buat saya adalah tentang memohon sesuatu yang sederhana dan secukupnya dari Tuhan, dan ketika berkah itu telah benar-benar dihadirkan di depan kita, hendaknya kita memeliharanya dengan baik.

the jungle school10.  The Jungle School – Butet Manurung. Sokola Rimba. Buku ini adalah sebuah diari, atau jurnal, dari seorang Butet Manurung, yang bekerja sebagai pendidik di pedalaman hutan Jambi. Dimulai dari masa-masa awal penugasannya sebagai education facilitator bersama organisasi WARSI, hingga didirikannya Sokola Rimba, sekolah khusus untuk anak-anak suku asli di hutan Jambi. Tulisannya sederhana, namun tajam dalam observasi dan reflektif dalam analisanya. Banyak insight yang saya dapat dari membaca diari ini, bukan melulu mengenai kehidupan suku terasing, tapi lebih pada sikap Butet yang penuh pikiran terbuka dan rendah hati dalam menghadapi orang yang ditemui. Ia tidak mengasumsikan bahwa cara modern adalah pasti lebih baik dan lalu membuat misi menerapkan cara baru itu pada mereka yang dicap sebagai ‘terbelakang’ ini, namun semua diawali dari upaya mengenali kelompok masyarakat itu lebih dalam, dan siapa bilang cara kita sudah pasti lebih baik untuk mereka? Menghargai perbedaan dan kemajemukan. Merambah pola pikir yang berbeda. Pada akhirnya sebenarnya tidaklah terlalu jelas siapa belajar dari siapa. Inspiratif dan sangat membuka wawasan. Butet Manurung hadir dalam Ubud Writers & readers Festival 2012, dan memperkenalkan buku The Jungle School ini ke kalangan nasional dan internasional yang hadir. Versi Bahasa Indonesia hadir setahun kemudian dengan judul Sokola Rimba, terbitan Penerbit Buku Kompas.

100 tahun kesunyian11. One Hundred Years of Solitude – Gabriel Garcia Marquez. Seratus Tahun Kesunyian. Bersama buku ini saya menelusuri kehidupan Jose Arcadio Buendia, yang bersama kelompok kecilnya membangun sebuah desa di tengah hutan di Columbia. Cerita  bergulir dengan banyak tokoh dalam beberapa generasi, dalam banyak kejadian, dalam bentuk sejarah yang berulang. Banyak yang mengatakan bahwa novel ini mencerminkan perjalanan sejarah Columbia sendiri, tapi jika pun kita tidak ingin mengaitkannya atau memperdulikannya dengan unsur politik, kisah ini bisa sangat mewakili perjalanan kehidupan manusia secara mikro maupun makro, dengan segala kejatuhan dan kejayaannya, yang ujung-ujungnya mengembalikan semuanya ke ‘titik nol’. Unsur magical realisme-nya menurut saya tidak terlalu kental dan pas saja (saya pribadi merasa jauh lebih sulit memahami kisah fantasi), dan perpaduan unsur realis dan surealis itu, ditambah tokoh dan kejadian yang begitu kaya, membius saya masuk ke alam fisik dan pikiran keluarga Buendia, sehingga saat menutup buku ini di akhir cerita, saya seakan membutuhkan waktu untuk ‘kembali ke realitas’.

mencari emas12. Mencari Emas – Jean-Marie Gustave Le Clézio. Buku ini menarik perhatian saya karena nama Jean-Marie Gustave Le Clézio. Salah satu karya lainnya, L’Africain, sempat saya baca walau tidak selesai, dan saya sangat menyukai gaya penulisannya yang liris dan penuh nuansa kenangan. Buku ini menceritakan tentang Alexis dan keluarganya yang tinggal di Pulau Mauritius. Saat ayahnya mengalami kebangkrutan, Alexis mempunyai mimpi untuk menemukan emas yang ia percaya dikuburkan seorang bajak laut di suatu pulau lain, dan dimulailah perjalanan itu. Seorang pembaca mengatakan bahwa buku ini layaknya sebuah surat cinta Clézio pada laut, dimana penggambaran mengenai laut dibuat demikian hidup dan indah. Saya pun saat membacanya seakan ikut mendengar desir angin laut, melihat warna biru gelap laut terpampang di depan mata, merasakan pasir yang menempel di kulit yang basah, dan meresapi kesunyian yang dihadirkan malam di atas laut. Mungkin gaya penulisannya yang liris turut membawa kita hanyut ke alam cerita. Kisah ini seluruhnya merupakan narasi dari Alexis, dengan sedikit dialog. Bagian kisah dimana Alexis mulai berteman dengan Ouma, seorang gadis suku Manaf, penduduk asli di sana, merupakan bagian indah favorit saya. JMG Le Clézio adalah pemenang nobel kesusastraan pada tahun 2008.

Demikianlah, 12 buku terbaik dari sekian buku yang saya baca sepanjang tahun 2013. Tahun 2014, saya harap saya juga akan menemukan banyak buku bagus yang saya nikmati proses membacanya.

Mei

Rahasia Kuda Tanpa Kepala

Setelah posting di sini, kembali tentang buku ini, kali ini ulasannya, sekaligus posting baca bareng BBI untuk buku anak. Buku karangan penulis Perancis, Paul Berna, ini terbit pertama kali tahun 1955, dan penerbit BPK Gunung Mulia menerbitkan edisi bahasa Indonesianya pada tahun 1982. Setelah melakukan sedikit search, ternyata Paul Berna adalah seorang penulis terkenal di jamannya, dan buku cerita anaknya pun cukup banyak.

Rahasia Kuda Tanpa Kepala (Le Cheval sans Têtemenceritakan tentang petualangan sekelompok anak yang gemar bermain kuda kayu luncur di turunan jalan di desa kecil mereka, Louvigny. Kuda kayu itu sudah reot benar, belinya pun di toko loak, dan kepalanya sudah tidak ada sejak awal. Jadilah nama mainan mereka, kuda tanpa kepala. Walau usang, benda itu menjadi kesayangan seluruh anggota geng. Setiap siang menjelang sore, sepulang sekolah jika cuaca cerah, mereka akan berkumpul di ujung jalan Petit-Pauvres dan meluncur dengan kuda kayu mereka yang beroda di bagian bawahnya, melesat menuruni jalan tersebut hingga kecepatannya berkurang karena tanjakan jalan di depannya. Anggota geng itu ada 10 anak, laki-laki dan perempuan, yang tertua berusia 12 tahun, dan terkecil sekitar 5 tahun. Beberapa dari mereka akan bertugas berjaga di ujung jalan untuk memberi aba-aba saat yang aman untuk teman mereka yang akan meluncur di kuda mereka. Begitulah kegembiraan anak-anak di desa kecil itu. Sederhana, namun penuh keriangan. Hingga suatu saat, kuda itu dicuri orang. Hal yang aneh adalah, kenapa ada orang yang menginginkan benda usang setengah rusak tersebut, bahkan sampai menawar dengan harga tinggi untuk membelinya? Ada apa gerangan dengan kuda tanpa kepala mainan rongsok mereka itu? Namun bagi anak-anak ini, kehilangan benda kesayangan milik bersamalah yang menjadikan mereka demikian sedih yang lalu membuat mereka bertekad menemukan pencurinya, dan hal ini menggiring mereka ke beberapa petualangan dan penemuan tak terduga.

Cerita yang berjalan lambat di awal ternyata menyuguhkan akhir yang seru dan tak terduga. Di samping itu, sulit untuk tidak menyayangi anak-anak ini, karena mereka begitu polos dalam jiwa kanak-kanaknya, yang tidak mempunyai maksud lain apapun kecuali melakukan segalanya dengan senang hati. Ya, salah satu pesan moral yang paling terasa saat menutup buku ini adalah betapa pentingnya bagi kita untuk melakukan kebaikan dengan senang hati. Jadi, bukan sekedar melakukan kebaikan itu dan segala tujuannya, tapi poin yang penting adalah melakukannya dengan gembira 🙂

“Bagaimanapun, kalau kalian berpikir lebih jauh, kesenangan yang kalian rasakan beberapa hari terakhir ini jauh lebih berharga daripada uang satu dua juta franc. Dan pada umur kalian, pengalaman serupa itu merupakan hal yang paling penting.” (hlm. 235)

Paul Berna, bernama asli Jean-Marie-Edmond Sabran (1908 – 1994), bekerja di surat kabar daerah sebelum menekuni profesi sebagai full-time writer. Paul Berna adalah nama pena yang ia gunakan sebagai penulis buku anak. Buku Rahasia Kuda Tanpa Kepala ini merupakan bukunya yang dianggap paling terkenal, dalam edisi Inggris diberi judul A Hundred Million Francs. Selain cerita anak, beliau juga menulis buku science-fiction dan cerita detektif. Untuk buku-buku dewasa, ia menggunakan nama pena Bernard Deleuze dan Paul Gerrard, dan untuk buku detektif, Joel Audrenn. Jadi, kalau menemukan buku-buku dengan nama-nama ini sebagai pengarangnya, ternyata semua dari orang yang sama.

Buat pembaca anak-anak, rasanya buku ini dengan mudah akan menerbangkan pembacanya ke desa mereka, berpetualangan seru bersama anak-anak geng ini. Bagi kita pembaca dewasa, sepotong masa kanak yang disodorkan Paul Berna ini seperti mengingatkan kita untuk tetap menghidupkan jiwa kanak-kanak (bukan kekanak-kanakan) dalam diri kita, berapapun usia kita. Karena, melalui jiwa kanak-kanak itu, rasanya akan lebih banyak keindahan dan kegembiraan yang kita lihat dalam hidup ini.

Rahasia Kuda Tanpa Kepala/ Paul Berna/ BPK Gunung Mulia/ 1982 (1955)/ Cerita Anak/ Bahasa Indonesia (penerjemah Dictus Sutadi)/ 249 hlm.

Satu Cerita di Le Petit Nicolas a des Ennuis

Suatu saat di bulan lalu saya membaca kembali salah satu buku dalam seri Le Petit Nicolas karangan  René Goscinny dan diilustrasi oleh  Jean-Jacques Sempé ini. Le Petit Nicolas a des Ennuis, atau Kesulitan-kesulitan Nicolas Kecil, terbit pertama kali tahun 1964, adalah kumpulan cerita dari keseharian si Nicolas ini. Kali ini saya tidak ingin membuat suatu review mengenai buku ini, tapi saya ingin mem-posting salah satu ceritanya saja, yang saya terjemahkan (secara bebas). Silahkan menikmati.

(catatan: Charlemagne = salah satu raja Perancis abad pertengahan yang sangat terkenal; maman = mama; perilaku memeluk orang lain atau keluarga adalah sangat wajar ditemui dalam budaya sehari-hari perancis; mata uang franc = mata uang Perancis jaman dulu sebelum berlaku euro, 1 franc = 100 sen; la boulangerie = toko roti artisanal yang biasa juga menjual cake dan coklat)

Nilai Sebuah Uang

Aku meraih tempat keempat dalam pelajaran menulis kisah; saat itu kami sedang membahas tentang Charlemagne dan aku kan hafal semua tentang itu, terutama tentang serangan Roland dengan pedangnya yang seru itu.

Papa dan maman sedang senang karena aku mendapatkan peringkat keempat tersebut, papa lalu mengeluarkan dompetnya dan ia memberiku… tebak apa? Selembar uang sepuluh franc!

“Ini, ambillah, anak pintar.” kata papaku, “besok, kamu boleh membeli apa saja yang kau mau.”

“Tapi… tapi, sayang,” ujar maman, “tidakkah kamu pikir uang segitu terlalu banyak untuk si kecil Nicolas?”

“Sama sekali tidak,” jawab papa, “ini saatnya dia belajar nilai sebuah uang. Saya yakin ia akan menghabiskan uang sepuluh franc ini dengan bijaksana. Bukankah begitu, anak baik?”

Aku tentu saja mengatakan ya, lalu aku bangkit memeluk papa dan maman; mereka memang keren ya! Aku taruh uang itu di dalam saku bajuku, yang lalu membuatku terpaksa menyelesaikan makan malam hanya dengan satu tangan, karena tanganku yang satu lagi sibuk memegang-megang saku itu, memastikan bahwa uang itu tetap ada di sana.

Ya, benar, memang aku tidak pernah memegang uang yang banyak. Oh ya, tentu saja beberapa kali maman pernah memberiku uang cukup banyak untuk membantunya berbelanja di toko kelontong M. Compani, di ujung jalan, tapi uang itu kan bukan milikku dan maman dengan jelas memberitahu berapa jumlah uang yang harus diberikan kepada M. Compani. Jadi, itu berbeda.

Saat aku tidur, aku taruh uang itu di bawah telingaku, tapi aku jadi sulit tidur. Lalu aku bermimpi hal-hal lucu, tampak wajah tokoh yang ada di lembaran uang sepuluh franc itu melihat ke arahku, menyamping dengan ekor matanya, lalu ia meringis-ringis dengan berbagai rupa, juga rumah besar yang ada di belakang bapak itu, berubah menjadi toko kelontong M. Compani…

Ketika aku tiba di sekolah pagi keesokan harinya, sesaat sebelum memasuki kelas, aku memamerkan lembaran uang itu pada teman-temanku. “Wah…,” kata Clotaire, “jadi apa yang mau kamu lakukan dengan uang itu?” “Aku tidak tahu,” jawabku. “Papa memberiku uang katanya supaya aku tahu nilai sebuah uang, dan aku harus membelanjakan dengan bijaksana. Dan yang aku ingin lakukan adalah… membeli sebuah pesawat! Maksudku pesawat betulan.”

“Tidak bisa itu,” sambung Joachim, “pesawat betulan, itu kan harganya paling tidak seribu franc.” “Seribu franc?” kata Geoffroy, “kamu becanda! Kata papaku, itu bisa seharga paling tidak tiga puluh ribu franc, dan itu pun baru pesawat kecil loh.” Kita semua lalu hanya tertawa, karena Geoffroy itu, apapun yang ia katakan, lebih banyak bohongnya.

“Kenapa kamu tidak beli saja sebuah atlas?” tanya Agnan, yang selalu menduduki rangking satu di kelas dan juga anak kesayangan Bu Guru. “Ada peta-peta yang bagus dan foto-foto yang menerangkan banyak hal, sangat berguna.” sambungnya.

“Sekalian saja kamu bilang supaya aku menggunakan uangku ini untuk beli buku?” tukasku. “kalau buku, tanteku sudah selalu membelikanku buku, saat aku ulang tahun atau waktu aku sakit. Yang dia berikan waktu aku sakit gondong saja belum habis aku baca.”

Agnan hanya memandangku, lalu ia beranjak pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi dan mulai membereskan buku-buku gramatikalnya. Dia memang sinting ya, Agnan itu!

“Kamu bisa membeli bola kaki, jadi kita semua bisa main bersama,” usul Rufus. “Kamu becanda,” kataku lagi. “Uang ini kan milikku, jadi tidak akan kubelikan sesuatu untuk dipakai yang lain. Pertama, kamu harus meraih posisi keempat dulu, seperti saya, baru kamu bisa main bola kaki itu,” sambungku.

“Kamu pelit,” tuduh Rufus, “asal kamu tahu ya, kalau kamu dapat posisi nomor empat, itu kan karena kamu anak kesayangan Bu Guru, seperti Agnan itu.” Sayang aku tidak sempat membalas tudingan Rufus karena tiba-tiba bel berbunyi dan kami semua harus berbaris menuju kelas. Selalu saja seperti ini, saat kami baru mau bersenang-senang dan situasi mulai seru, tiba-tiba “teng-teng”… bel berbunyi dan kami harus masuk ke kelas. Saat kami berada dalam barisan, Alceste datang sambil berlari.

“Kau terlambat,” tegas le Bouillon, sang pengawas kelas.

“Ini bukan salahku…” jawab Alceste, “soalnya, ada tambahan croissant di sarapan tadi.”

Le Bouillon hanya menghela nafas berat dan menyuruh Alceste segera masuk ke barisan dan memintanya menghapus mentega yang masih menempel di dagunya.

Di dalam kelas, aku bilang pada Alceste, yang duduk di sebelahku, “Kamu lihat apa yang aku punya?”, lalu aku menunjukkan lembaran uang itu.

Tiba-tiba Bu Guru berteriak,”Nicolas! Kertas apa itu? Bawa ke sini segera, Ibu tahan di sini.”

Aku mulai mau menangis dan aku bawa kertas uang itu ke Ibu Guru yang matanya tampak terbuka lebar-lebar. Ia bertanya, “Apa yang akan kamu lakukan dengan ini?” Aku menjawab, “Aku belum tahu. Papa yang memberikan uang itu untuk serangan Charlemagne.”

Aku lihat ekspresi bu guru yang berusaha untuk tetap serius dan menahan diri untuk tidak tertawa; sudah beberapa kali aku lihat bu guru seperti ini, dan menurutku ia tampak cantik kalau sedang seperti itu. Ia lalu mengembalikan uang itu, dan menyuruhku memasukkannya ke dalam saku, mengatakan bahwa aku tidak boleh bermain-main lagi dengan uang itu, dan bahwa aku jangan menghabiskannya untuk hal-hal bodoh. Kemudian bu guru menanyai Clotaire, tapi aku tidak percaya kalau papanya Clotaire akan memberinya uang untuk nilai-nilainya selama ini.

Waktu istirahat, saat semua sedang bermain, Alceste menarik lenganku dan bertanya apa yang akan aku lakukan dengan uangku itu. Aku jawab bahwa aku tidak tahu; lalu ia bilang bahwa dengan sepuluh franc aku bisa beli berbatang-batang coklat. “Kamu bisa beli lima puluh! Lima puluh batang, kamu tahu?” kata Alceste, “artinya dua puluh lima batang seorang!”

“Dan kenapa aku musti memberimu dua puluh lima batang?” tanyaku, “uang itu kan milikku!”

“Biarkan dia,” sambar Rufus, berkata kepada Alceste, “dia memang pelit!”

Dan mereka pun pergi bermain, tapi aku, aku marah! Tapi benar bukan, apa hak mereka kesal padaku dengan uangku itu?

Tapi, ide Alceste sebenarnya bagus juga, tentang batang-batang coklat itu. Pertama, aku memang suka sekali coklat. Kedua, aku belum pernah punya lima puluh batang coklat sekaligus, bahkan saat di rumah nenek, yang selalu memberiku apapun yang aku minta. Karenanya, seusai sekolah, aku berlari ke sebuah boulangerie, dan saat si ibu boulangerie bertanya apa yang aku mau, aku berikan lembaran uang sepuluh franc itu dan berkata, “Semua untuk batang-batang coklat, Anda bisa memberiku lima puluh batang, seperti yang dibilang Alceste.”

Ibu boulangerie memandang uang itu, lalu melihat ke arahku, dan berkata,”Dimana kamu temukan itu, anak kecil?”

“Aku tidak menemukannya, aku dikasih,” ujarku.

“Jadi ada yang memberimu uang segitu untuk membeli lima puluh batang coklat?” tanya ibu boulangerie itu lagi.

“Ehm… ya,” jawabku.

“Saya tidak suka pada anak kecil yang berbohong,” lanjut ibu itu, “kamu lebih baik mengembalikan uang itu di tempat kamu menemukannya.”

Karena ia terus memelototiku, aku keluar menyelamatkan diri dan menangis terus sampai tiba di rumah.

Di rumah aku ceritakan semua pada maman, lalu ia memelukku dan ia bilang ia akan atur dengan papa. Maman lalu mengambil uang itu dan menemui papa yang sedang duduk di ruang duduk, dan kembali dengan sekeping uang dua puluh sen.”Kamu bisa beli sebatang coklat dengan dua puluh sen ini,” kata maman.

Dan, aku merasa senang, karena akhirnya bisa membeli coklat batangan itu, bahkan aku bagi coklat itu dengan Alceste, karena Alceste itu temanku, dan dengan teman kita selalu berbagi.

Le Petit Nicolas a des Ennuis/ Goscinny & Sempé/ Gallimard Jeunesse/ 2007 (1964)/ Children fiction/ french/ 153 hlm.

Cover lain:

Hector and the Search for Happiness, dan oleh-oleh dari UWRF 2011

Hector and the Search for Happiness adalah sebuah cerita karangan seorang psikiater asal Perancis, François Lelord, mengenai Hector, seorang psikiater muda yang tinggal di Paris. Jadi psikiater yang menulis cerita tentang psikiater. Dalam pekerjaannya, Hector banyak menemui orang-orang yang tidak bahagia, padahal situasi hidup mereka tampak begitu sempurna. Ia sendiri pun, walau menyukai pekerjaannya, tidak merasa puas atau bahagia dengan hidupnya. Lalu  ia memutuskan untuk pergi ‘keliling dunia’, mengunjungi beberapa negara, dan melakukan pengamatan atas orang-orang di sana untuk mencari tahu apa yang membuat mereka bahagia atau tidak bahagia.

Maka mulailah ia pergi ke beberapa negara di beberapa benua yang berbeda. Sepanjang tempat-tempat itu Hector banyak menemui situasi yang begitu berbeda dari situasi yang ada di negaranya. Ia juga menemukan beberapa paradoks, seperti ia melihat orang-orang yang hidupnya begitu miskin dan sangat sulit namun mereka sering tersenyum dan bahkan masih mampu bersikap ramah pada orang lain.  Semua hal itu memberinya insight mengenai apa yang membuat orang bahagia atau tidak bahagia, dan Hector mencatat beberapa kesimpulan dalam buku catatan kecilnya.

Buku ini menurut saya so-so saja, isinya cukup bagus tapi kalimat-kalimatnya yang agak kaku membuat pengalaman membaca buku ini bukan sesuatu yang memorable. Tapi kenangan saya sehubungan dengan buku inilah yang membekas. Saya kenal buku ini lebih dalam dari suatu sesi di Ubud Writers and Readers Festival 2011 lalu. Sesi itu berjudul “Happiness in Human Nature”, dibahas oleh beberapa penulis, yaitu François Lelord sendiri sebagai penulis buku Hector ini, Ketut Yuliarsa, seorang penulis, budayawan Bali dan pemiliki toko buku di Ubud, Rodaan al Galidi, seorang poet dari Irak yang menetap dan berkarya di Belanda, dan Eiji Han Shimizu, seorang produser media dari Jepang dan kreator japanese manga. Suatu panel yang sangat multikultur, dan semua pembicara mempunyai karya yang berhubungan dengan happiness. Fokus sesi itu sebenarnya adalah, “Is happiness something that can be learned, or is it inherent in human nature?”, walau akhirnya lebih banyak membahas mengenai “what is happiness?”. Berikut saya sarikan pendapat-pendapat mereka berdasarkan sedikit catatan yang saya buat di sela-sela keasikan mendengarkan sesi mereka. (foto saya ambil dari festival program book)

Menurut Ketut Yuliarsa, “For balinese people, there are collective happiness and individual happiness. One can have the individual happiness once he has achieved the collective happiness.” Konsep ini sebenarnya pengungkapan dengan cara yang berbeda dari “the joy of giving”, bahwa kita merasa bahagia karena memberikan sesuatu (untuk kebaikan sesama), bahwa kita menjadi ‘kaya’ justru dengan memberi. Hal ini juga wujud dari konsep Tri Hita Karana yang ada di Bali, bahwa bahagia itu adalah harmoni dan seimbang dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan alam sekitar. Lebih jauh Ketut juga mengungkapkan bahwa kita sering takut untuk merasa sedih, karenanya happiness lalu menjadi topik yang selalu hangat dibicarakan, menjadi semacam ‘big business’ dimana-mana. Padahal, “we should be sad sometimes, otherwise, how can we know happiness?”. Selanjutnya ia tegaskan pula, “If we are happy all the time, would we still be happy then? There should be some unhappiness to make us happy. Happiness cannot be separated from unhappiness, and we have to be able to ‘enjoy’ both.” Suatu pandangan yang sangat Zen, sangat dekat dengan filsafat timur. Saya jadi ingat nasihat yang diberikan oleh teman saya, dulu sekali saat saya ingin lepas dari pekerjaan saya saat itu yang saya rasakan begitu ‘menyebalkan’. Ia bilang, “Bahagia itu melakukan apa yang disukai dan yang tidak disukai, Mel…”. Kalau dipikir lagi, memang tidak ada sesuatu yang benar-benar bebas dari hal yang tidak kita suka, kuncinya kita harus bisa menikmati keduanya, suka dan tidak suka. Dan saat kita bisa melakukan itu, rasanya kita lebih bahagia.

François Lelord mencoba merumuskan happiness dengan cara yang ‘lebih sistematis’. Menurutnya ada dua jenis happiness, yang bersifat hedonistik, dan yang bersifat altruistik. Keduanya merupakan bentuk dari happiness. Yang hedonistik berarti kita merasa bahagia karena kesenangan yang kita dapatkan dalam hidup, seperti kenyamanan hidup, kekayaan, posisi atau kekuasaan. Yang altruistik artinya kita merasa bahagia karena melakukan sesuatu dan merasa berguna bagi orang lain. Ketika ada pertanyaan, “Can you be selfish and happy?” Menurut François, hal itu mungkin saja, tapi hanya untuk kebahagiaan yang bersifat hedonistik, yang lebih bersifat sementara dan tidak permanen, karena bergantung pada hal-hal diluar diri. Sementara yang altruistik, justru semakin kita memberikan sesuatu atau berguna bagi orang lain, semakin bahagia kita, terlepas dari apakah kita memiliki hal-hal yang bersifat hedonistik tadi, sesuatu yang lebih bersifat internal. Konsepnya sistematis, khas a la pemikiran barat.

Sementara pembicara lain banyak berusaha ‘merumuskan’ happiness, Rodaan al Galidi memilih untuk berpuisi sebagai jalan untuk mengungkapkannya. Hanya puisi yang mampu melampaui keterbatasan dari suatu definisi. Ia lalu membacakan salah satu puisinya, yang menurut saya sangat bagus, yang ia terjemahkan kedalam bahasa Inggris. Puisinya sederhana, tentang orang-orang yang ia lihat di suatu pantai di Netherland di suatu Sabtu yang cerah, suatu keluarga dan anjing mereka. Saat ia mengamati keluarga itu, ia tidak merasa bahagia, karena setiap dari mereka mengeluhkan atau mengkhawatirkan sesuatu, entah menyesali masa lalu, menakutkan masa depan, atau berharap ada di tempat lain. Namun saat ia mengamati si anjing, ia merasa bahagia. Kenapa? Karena anjing itu sekedar melompat riang, mengejar ombak, asik bermain pasir, menyalak, berlarian ke sana kemari. Rodaan yakin si anjing lah yang paling merasa bahagia diantara semuanya. Puisinya hilarious sekaligus ironik, dan juga sangat insightful tanpa perlu menjelaskan maknanya dengan panjang lebar. Dalam banyak sesi lain Rodaan juga sering menjelaskan dengan berpuisi, dia benar-benar seorang poet ya! Ia lalu menutup sesi dengan frasa yang sangat saya suka, “Big things make you powerful, but little things make you happy!” 

Eiji Han Shimizu mengaku pernah mencoba membuat sebuah film tentang happiness, namun akhirnya film itu menurutnya berujung menceritakan tentang compassion. Menurut Eiji, ada sesuatu yang lebih dalam dan besar daripada happiness, yaitu contentment, suatu perasaan dimana kita merasa bahagia atas apapun yang kita miliki atau yang terjadi dalam hidup kita, no matter what. Satu lagi pandangan yang sangat zen.

Happiness memang subjek yang susah-susah gampang untuk dijelaskan. Di satu sisi happiness adalah suatu hal yang tampaknya sangat sehari-hari, tapi di sisi lain jika kita coba menjawab pertanyaan, “what is happiness?”, maka mungkin sebagian besar dari kita akan sulit untuk menemukan kata-kata atau kalimat untuk menjelaskannya. Kalaupun kita berhasil merumuskannya dalam suatu kalimat, detik berikutnya kita akan ingin merevisinya lagi, dan lagi. Layaknya warna, sulit dijelaskan dengan suatu rumusan tertentu, seperti “what is red?, what is blue?”.

Kembali tentang buku ini, ceritanya sederhana, dan ditulis dengan kalimat-kalimat yang juga sederhana sehingga memberi kesan buku ini lebih seperti buku anak-anak walau dikemas dalam bentuk novel. Sebagai psikiater, tokoh Hector menurut saya juga agak terlalu naif dalam beberapa hal, terutama dalam memaknai perbedaan antara apa yang ia temui dalam perjalanannya dengan yang ia biasa temukan di negaranya. Misalnya saat ia baru sadar mengenai suatu bentuk globalisasi yang ia temukan di China, yang mana harusnya sudah ia pahami sebagai seorang terdidik yang berasal dari suatu negara maju di Eropa, dan buku ini pertama kali terbit tahun 2002 dimana isu globalisasi sudah demikian meluas. Juga tentang pekerjaan Ying Li, gadis yang ditemuinya di bar. Mungkin juga, sikap naif yang ditampilkan Hector memang disengaja penulis dalam rangka menyajikan cerita dengan sederhana, yang ingin ia jelaskan dengan pemahaman yang bertahap. Hal ini juga terasa pada catatan kecil yang dibuat Hector sebagai kesimpulan sementara mengenai happiness, seperti sebuah usaha untuk menyederhanakan dan mengkonkretkan suatu konsep yang abstrak tersebut. Di sisi lain, tokoh Hector juga sangat lembut hati, open-minded, dan layaknya seorang researcher, ia menyerap apapun yang ia temui tanpa asumsi. Sangat sering saya membayangkan sosok François sendiri sebagai Hector, karena saat berdiskusi ia juga selalu tampil dengan soft-spoken dan bersikap sangat terbuka.

Jadi, apakah happiness menurutmu? Saya setuju dengan semua pembahasan yang diajukan oleh keempat penulis di atas, semuanya sebenarnya sepaham hanya dalam pengungkapan yang berbeda. Secara pribadi konsep timur lebih masuk ke pemaknaan saya daripada konsep barat yang cenderung mengangkat semuanya ke kesadaran dan beranalisa dengannya, khususnya untuk subjek seperti happiness ini. Jika harus merumuskan dengan pendek, buat saya happiness adalah berada disini-dan-sekarang, being here-and-now. Benar-benar berada dan menikmati momen saat ini, tanpa terlalu mengkhawatirkan sesuatu di depan, atau menyesalkan sesuatu di masa lalu. Agak abstrak ya. Tapi beberapa kesimpulan dari catatan kecil Hector sang psikiater yang melanglang buana ini juga sangat saya suka, dan membantu menyodorkan happiness dalam bentuknya yang konkret:

Lesson no. 1: Making comparisons can spoil your happiness.

Lesson no. 3: Many people see happiness only in their future. 

Lesson no. 4: Many people think that happiness comes from having more power or more money. (Rodaan: “Big things make you powerful, little things make you happy)

Lesson no. 6: Happiness is a long walk in beautiful unfamiliar mountains.

Lesson no. 10: Happiness is doing a job you love.

Lesson no. 11: Happiness is having a home and a garden of your own.

Lesson no. 13: Happiness is feeling useful to others. 

Lesson no. 14: Happiness is to be loved for exactly who you are.

François Lelord adalah psikiater di Perancis, negeri asalnya, dan juga di USA, tempat beliau mengambil gelar post-doctoralnya. Selain menulis buku ini, ia juga penulis sejumlah buku self-help dan membuat program manajemen stres bagi perusahaan. Ia mengaku karakter Hector muncul di suatu perjalanan bisnisnya ke Hongkong, saat ia sendiri mempertanyakan kehidupan personal dan profesionalnya. Belum jelas saat itu buku seperti apa yang akan ditulisnya dengan karakter Hector tersebut. Ketika buku ini akhirnya terwujud dan sukses, François makin sering menulis dan bepergian dalam rangka pekerjaannya, dan suatu ketika ia sampai di Vietnam saat wabah SARS melanda di sana. Akhirnya ia menerjunkan diri pada suatu lembaga non profit Perancis yang memberikan pelayanan kesehatan bagi warga miskin, dan di sinilah ia bertemu dengan calon istrinya, Phuong. Saat ini mereka tinggal di Thailand. Sudah ada 3 sekuel buku Hector ini, tapi buat saya, cukuplah untuk saat ini mengikuti perjalanan Hector mengenai happiness ini. Mungkin nanti jika mood saya memanggil, saya akan teruskan.

“For Melani, with Hector’s best wishes for happiness”. François.” Terima kasih banyak, François! 🙂

(dengan Rodaan al Galidi dan Danny Yatim)

foto: http://www.wisata.kompasiana.com

Suasana di halaman Museum Neka, selepas sesi. Rodaan selalu jadi pusat perhatian karena sikapnya yang ramah dan membumi 🙂

foto: http://www.wisata.kompasiana.com

Edel Rodriguez, Arif Budiman, dan Eiji Han Shimizu di salah satu venue UWRF 2011

foto:www.adgi.or.id

Eiji Han Shimizu dan beberapa karyanya, grafik-biografi tokoh-tokoh terkenal di dunia, termasuk tokoh spiritual.

Ganesha Bookstore, di Jalan Raya Ubud, Ubud, Bali, sebuah toko buku yang dimiliki oleh budayawan Ketut Yuliarsa. Juga ada cabangnya di Krobokan, Seminyak.

Buku kumpulan puisi Ketut Yuliarsa, hadir dalam edisi bi-lingual, dengan salah satu puisinya:

a dry leaf falls
a breath of wind
holding its sway
ever so slightly

wait and listen
but do not stumble
into the depths
of serenity

Semoga semua makhluk berbahagia…

Les Papillons de Victor

Les Papillons de Victor (The Butterflies of Victor, atau Kupu-kupu Victor) adalah buku cerita kecil yang ditulis oleh seorang Perancis, Virginie Kasse, dan diilustrasikan oleh seorang Indonesia, Melissa Sunjaya. Victor adalah seorang anak laki-laki biasa, seperti anak-anak lain, namun ia memiliki kemampuan untuk merasa bahagia, yang semuanya berasal dari sesuatu yang ada dalam hatinya. Ya cerita yang sangat sederhana dan manis, yang bisa dibaca oleh segala umur, karena kita orang dewasa pun kadang butuh diingatkan untuk bisa merasa bahagia karena sesuatu yang sudah ada di hati kita.

Kalimat-kalimat dalam buku kecil ini terjalin indah. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa ilustrasi yang dibuat oleh Melissa Sunjaya merupakan kekuatan utama dari cerita yang hendak disampaikan. Buat saya ilustrasinya ‘lebih berbicara’ daripada kata-katanya.

Ecoute, ceci n’est pas un conte, c’est l’histoire de Victor. Un petit garcon qui a le pouvoir de rendre heureux.

(Dengar, ini bukanlah dongeng, ini adalah suatu kisah tentang Victor. Seorang anak laki-laki yang memiliki kemampuan untuk merasa bahagia.)

Alors, si tu vis un jour sans couleur et si tu as la chance de rencontrer Victor, …

(Maka, jika kamu menghadapi hari yang kelabu dan kamu bertemu dengan Victor, …)

Observe bien au fond de ton coeur, blottis dans les coins… tu decouvriras cachés et endormis, tes papillons…

(Lihat baik-baik kedalam hatimu, di sana, teringkuk di sudut-sudutnya… kamu akan menemukan mereka, kupu-kupumu yang tersembunyi dan tertidur…)

Melissa Sunjaya adalah seorang ilustrator dan product designer dari logo bernama Tulisan. Hal yang unik dari Tulisan adalah semua desainnya memiliki suatu cerita tertentu, ada sebuah kisah dibaliknya, yang mengusung suatu tema emosi tertentu. Dan tema emosi inilah yang ingin disampaikan melalui sejumlah seri dari desain produk-produknya.

Karya yang saya kerjakan bersama dengan tim di Tulisan adalah sebuah usaha untuk merekam dan menyampaikan emosi. Setiap tahap adalah kreasi tangan yang penuh detail. (Melissa Sunjaya, www.mytulisan.com)

And oh I love all the products! I feel happy just by looking at the cheerful designs! (foto: http://www.mytulisan.com)

Diluncurkan pertama kali Desember 2011, Les Papillons de Victor terbit dalam 3 edisi, Perancis, Indonesia dan Inggris, dan dapat dibeli di butik Tulisan di Dharmawangsa Square, Jakarta, atau dipesan online di websitenya.

A heartwarming little book.

Les Papillons de Victor/ Virginie Kasse & Melissa Sunjaya/ Tulisan/ 2011/ Bahasa Perancis/ 17 hlm.

Catherine Certitude

Catherine Certitude

Patrick Modiano (author) & Sempé (illustrator)

Gallimard, 2009 (1988)

Literature – young adult, french, 99 hlm.

This petit book from a french writer, Patrick Modiano, tells a story about a french ballet dancer living in New York, Catherine Certitude, when she was remembering, in a nostalgic manner, her childhood life in Paris with her dad. Her life was among rue d’Hauteville in the tenth arrondissement, and the school, the dancing classes, his father’s office, and ultimately the affectionate conversations with her dad. Dad was always there in the time while her mom, also a ballet dancer, had gone back to America, to her home country. After 3 years of separation and ‘having mom only in the form of letters’, Catherine and her father rejoined the mother in New York.

In the times of difficult situations, Catherine, who was wearing glasses, would put down her glasses and the world would become blur. She would then enter into a dreamy world, beautiful and rather unreal. This is a simple story told in a light and ludic way about a piece of childhood, where being in a dream is still perfectly fine, and about the warmth of dad’s companion.

The german translation edition, Catherine, die kleine Tänzerin (Diogenes, 1991) (Wikipedia)

The theme of father in Modiano’s works is said to be recognizable as one of his central themes. Having not known very well his father himself, as he was almost always away from his life, Modiano developed continuously the theme of searching identity (of self and others) and of the paternal love. This book also quite much reflects the story of Modiano’s family, where his mother is also an artist.

Illustrated by the formidable sketches and water color works of Sempé, this little book has become an enjoyable reading and art in hand. Jean-Jacques Sempé is a famous french illustrator whose works are well recognized, among other things, in the series of Le Petit Nicolas (together with René Goscinny).

Modiano was born in Boulogne-Billancourt in 1945 of an italian jews father and a flamande (Belgium) mother, and has written many novels (contemporary literature) and scenarios.

Paris, 7 juin 2010

Mei

Le Fils de l’Homme Invisible

Le Fils de l’Homme Invisible

François Berléand

Stock, 2006

Memoir, bahasa perancis, 215 hlm.

Suatu perkataan dari orang dewasa ternyata bisa begitu melekat dan mempengaruhi pikiran seorang anak. Atau dengan kata lain, si anak mengartikan secara berbeda lalu mempercayainya begitu saja. Demikianlah yang terjadi pada François Berléand. Suatu malam di musim dingin, saat sedang santai di rumah, ayah François, yang memang sedang mabuk oleh vodka, tiba-tiba mengatakan, “De toute façon, toi, tu es le fils de l’homme invisible.” (“Anyway, you, you are the son of the invisible man“). François, 11 tahun, yang saat itu entah sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, mendengar kalimat tersebut tanpa tahu dalam konteks apa perkataan sang ayah saat itu, menyerap begitu saja, dan mempercayainya! Sejak saat itu François selalu membayangkan dirinya adalah memang anak dari The Invisible Man, tokoh komik yang sedang sangat populer pada jaman itu (awal tahun 60-an).  Pikiran itu begitu melekat sampai ia benar-benar percaya bahwa ia adalah anak dari The Invisible Man (Le Fils de l’Homme Invisible).

Maka dimulailah serangkaian tingkah laku aneh (dan lucu!) dari François, semata-mata karena ia percaya bahwa ia invisible – orang lain tidak bisa melihat dirinya namun ia bisa melihat mereka. Dari sudut pandang François logis saja semua yang ia lakukan itu karena berprinsip ia tak terlihat, namun tentu saja semua ini menimbulkan serangkaian masalah, di rumah, di sekolah, di jalan, dan di tempat-tempat lain dimana François berpikir bahwa ia ‘mempraktekkan’ ke-takterlihat-annya itu. Belum lagi saat ia ditanya oleh guru, kepala sekolah atau ibunya mengenai kenapa ia melakukan apa yang ia lakukan itu, masing-masing pihak berpegang pada logikanya masing-masing, dan toh perdebatan itu bisa berjalan dengan logis! Pada akhirnya François tetap mempercayai bahwa ia adalah anak dari The Invisible Man yang terkenal itu, dan lingkungan sekitar makin menganggap François bermasalah.

Banyak kejadian lucu diceritakan pada bagian awal ini, yang sering membuat tersenyum atau bahkan tertawa saat membacanya. Begitu François menginjak remaja, tuntutan lingkungan, termasuk orang tua, terhadap dirinya juga lebih serius, sehingga sedikit tanda-tanda perilaku aneh akan membawanya pada sejumlah ahli terapis atau psikolog. Cara terapis itu memperlakukan François juga sering membuat gemas, karena tergolong sangat rigid, yang mungkin memang dipandang sesuai pada jamannya saat itu. Pada bagian ini mulai terasa hidup François suram, dan bahkan ada bagian-bagian tertentu yang menurut saya begitu tragis. François yang riang pada masa kecil, pada usia remaja ini berubah menjadi tertutup dan cenderung suram memandang dunia. Sampai kapan semua ini berlangsung, dan akankah ia melewati masa remajanya dengan baik?

François Berléand pada Festival Cannes 2004 (foto Wikipedia)

Kisah yang sekiranya lucu pada bagian awal, menjadi terasa begitu lembut dan menyentuh di bagian akhir, tentang perjalanan seorang anak melewati masa kecil dan remaja untuk menuju dewasa dan menjadi dirinya sendiri. Ditulis dengan bahasa yang begitu mengalir, penuh humor sekaligus emosional. Sekali mulai membaca, sulit untuk dihentikan sehingga buku 200-an halaman ini selesai ‘terlalu’ cepat.

François Berléand adalah seorang aktor perancis dengan riwayat karir yang panjang dalam dunia perfilman (cinema maupun film pendek), televisi dan teater. Lahir pada tahun 1952 dari seorang ayah rusia dan ibu perancis. Le Fils de l’Homme Invisible (The Son of the Invisible Man) adalah satu-satunya buku yang pernah ia tulis. Ia menulis buku ini setelah menceritakan kisah masa kecilnya ini kepada rekannya Nadine Trintignant, yang lalu meyakinkannya bahwa kisah ini harus ditulis. Le Fils de l’Homme Invisible memperoleh penghargaan Prix des Lecteurs pada tahun 2008, suatu penghargaan dalam bidang literatur di Perancis yang mendasarkan penilaian pada masukan pembaca.

Paris, 31 mai 2010

Mei