Best Books 2013

Haloo..

Setelah sekian lama absen dari blogging dan blog ini ‘nganggur’ berbulan-bulan, kini saya kembali lagi.. Saya awali dengan membagi cerita tentang buku terbaik yang saya baca di tahun 2013.

cat in the window - karya Jean-Jacques Sempé
cat in the window – karya Jean-Jacques Sempé

Kegiatan membaca sebenarnya tetap berjalan seperti biasa, malah saya sempat ‘mencicipi’ genre yang saya jarang sentuh dan membaca beberapa buku dari pengarang yang kali itu karyanya pertama kali saya baca. Melepaskan diri dari beberapa ‘rencana baca’ dan membiarkan diri mengalir mengikut ‘mood baca’ (dalam arti membaca apa dan kapan), ternyata membawa saya pada penemuan-penemuan menarik. Ibarat melakukan sebuah perjalanan, melakukan pengembaraan atau flâner membuat kita mengobservasi dan menyerap lebih banyak hal sepanjang perjalanan itu, dibanding melakukan perjalanan yang berfokus pada destinasi. Rencana baca semula memang jadi agak porak poranda, namun kenikmatan membaca ternyata lebih saya rasakan. Karena tidak memperdulikan target baca, saya jadi lebih ‘bebas’, menemukan banyak hal kecil yang biasanya saya lewatkan, dan banyak bagian  buku saya temukan begitu ‘memorable’. Saya juga membaca lebih tanpa ekspektasi tertentu, saya ingin menemukan buku itu apa adanya, dan berkenalan dengan apa yang sebenarnya penulis ingin sampaikan melalui karyanya itu. Sejumlah buku-buku itu akhirnya menjadi buku yang saya golongkan sebagai buku terbaik 2013. Berikut ulasan singkatnya.

la gloire de mon pere1. La Gloire de Mon Père – Marcel Pagnol. The Glory of my Father. Sebuah novel autobiografis dari penulis, playwright dan cinematographer Perancis. Tentang kehidupan masa kanak-kanak penulis, saat papa, maman dan keluarga terdekat adalah dunia terintim si tokoh. Di musim panas, seperti biasa, mereka pergi berlibur ke pedesaan Provence, menginap di sebuah villa tua. Marcel kecil sangat ingin ikut pergi berburu burung bersama papa dan pamannya, namun tentu saja tidak diperbolehkan. Dengan suatu cara akhirnya ia berhasil mengikuti kedua orang dewasa itu pergi ke hutan, yang akhirnya membuatnya mengalami petualangan mendebarkan, pengenalan pada alam dan dirinya sendiri. Ditulis dengan bahasa yang sophisticated, menghadirkan alam Provence Perancis yang khas saat musim panas, kehangatan keluarga ‘jaman dulu’ yang begitu sederhana. Menyentuh sekaligus komikal. Terbit pertama kali tahun 1957. Ilustrasi keren oleh Sempé .

lAmant2. L’Amant – Marguerite Duras. The Lover. Tentang kenangan kehidupan seorang gadis remaja Perancis di Saigon, di masa sisa-sisa pendudukan Perancis di Vietnam. Si tokoh lalu memiliki seorang ‘kekasih’, seorang pria Vietnam, yang dengannya hubungan mereka berjalan dengan tidak banyak kata-kata, mengalir begitu saja, tanpa bentuk, namun sangat membekas bagi keduanya. Tema cerita lebih pada perasaan keterasingan. Ditulis dalam bahasa yang sederhana, membacanya seperti sedang mendengarkan kisah kenangan yang disampaikan penulis, tidak terlalu berstruktur, maju-mundur di masa sekarang dan masa lalu, tidak melulu berada dalam plot tertentu, tapi lebih pada eksplorasi pikiran dan perasaan si tokoh. Saya membaca kisah ini tanpa terlalu memperdulikan ada atau tidak plot, saya ikuti saja kemana pengisahan itu berjalan, menikmatinya, dan membuat saya jadi merasa demikian intim dengan pikiran dan perasaan sang tokoh. Akhir kisah sangat membekas. Beautiful and profound. L’Amant memenangkan le prix Goncourt tahun 1984.

Anna Karenina, Leo Tolstoy, Penguin Classics, 2003, translated by Richard Pevear and Larissa Volokhonsky

3. Anna Karenina – Leo Tolstoy. Membaca versi lengkapnya membuat saya mengerti mengapa buku ini begitu banyak dibicarakan dan bahkan dianggap sebagai the best novel ever written oleh sebagian kalangan. Anna Karenina ternyata berbeda dari anggapan saya sebelumnya tentang buku karya Tolstoy ini. Anna sendiri, walau dijadikan judul, tidak menjadi tokoh paling utama di kisah ini, bahkan tidak menjadi tokoh protagonis. Ia bukan heroine, malah mewakili suatu tokoh yang penuh kegagalan dan self-destruction, walaupun dalam banyak sisi hidupnya dilimpahi kemudahan dan keberuntungan. Tokoh ‘sampingan’ yang justru menjadi focal point dari buku ini, dimana banyak kritik mengatakan bahwa tokoh ini merupakan self-portrait dari Tolstoy sendiri, adalah tokoh Levin, yang berasal dari latar belakang yang begitu berbeda dari Anna dan sepanjang tahap hidupnya berjuang mencari makna hidup. Buku ini, buat saya, secara sederhana menyodorkan pertanyaan: “What does it take to be truly happy?”. Saya rekomendasikan untuk membaca versi lengkapnya, supaya kita tidak hanya berkutat pada kisah ‘romance’ Anna, tetapi juga tokoh-tokoh lain dan pendalaman situasi sekitar yang begitu kaya digambarkan. Buku terbitan Penguin Classics ini diterjemahkan dari bahasa Rusia ke bahasa Inggris dengan sangat baik oleh Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky, dua penerjemah yang memenangkan award khusus untuk penerjemahan sastra Rusia ke Bahasa Inggris.

dog stories4. Dog Stories – James Herriot. Saya sangat mudah jatuh hati pada kisah-kisah yang berhubungan dengan anjing. Dan disini, James Herriot kembali menunjukkan kepekaannya dalam mengobservasi kejadian dan perasaan dan menuangkannya dalam tulisan, sehingga kisah-kisah ini menjadi kisah yang begitu membekas. Buku ini berisi berbagai kisah pengalaman sang dokter hewan dari daerah pedesaan Yorkshire yang permai ini, berkaitan dengan penanganan anjing yang menjadi pasiennya, maupun pasien jenis lain dimana seekor anjing menyertai perjalanan pasien itu. Dalam tulisan Herriot, anjing-anjing ini jadi begitu ‘manusiawi’.

all that is gone5.  All That is Gone – Pramoedya Ananta Toer. Adalah buku kumpulan cerita pendek, yang diambil dari dua buku kumpulan cerita pendek Cerita dari Blora (terbit 1952) dan Subuh (1951). Pram disini menghadirkan cerita-cerita semi-autobiografis dengan muatan emosi yang kuat, twist yang kadang tidak terduga, dan elemen kenangan yang kental. Beberapa dari cerita itu begitu membuka mata saya akan situasi pasca kemerdekaan, terutama pada kehidupan ‘orang-orang biasa’ yang kehidupannya terpengaruh oleh masa revolusi itu. Pram disini membuktikan kepiawaiannya dalam menghadirkan cerita dengan karakter yang kuat dan plot yang penuh dalam ruang sempit bernama cerita pendek. Lebih jauh tentang All That is Gone bisa dibaca di sini.

rahasia selma6. Rahasia Selma – Linda Christanty. Buku ini adalah pengalaman pertama saya membaca karya Linda Christanty. Cerita-cerita Linda berlatar cukup sederhana dan sehari-hari, namun di akhir cerita selalu menghadirkan sesuatu yang begitu tak terduga yang kadang memporak-porandakan pemahaman awal kita tentang cerita itu, yang ternyata bisa bermakna dalam dan historis. Sama seperti Pram, saya begitu kagum pada keahlian Linda dalam menghadirkan karakter yang kuat dan cerita yang begitu membekas dalam ruang pendek bernama cerpen. Buku tipis ini membuat saya ingin membaca karya-karya Linda lainnya.

ring of fire7. Ring of Fire, an Indonesian Odyssey – Lawrence Blair dan Lorne Blair. Buku ini adalah memoar dan catatan perjalanan dari kakak beradik Blair yang mengarungi lautan dan menjelajah beberapa pulau di Indonesia dalam rangka membuat film dokumenter, di awal tahun 70-an. Sarat dengan komentar dan analisis mengenai kondisi lingkungan, biologis, maupun elemen antropologis, buku ini menjadi begitu kaya dan mengasyikkan dibaca. Belum lagi tempat-tempat yang dijelajahi Blair adalah laut dan pedalaman pulau yang jauh dan ‘terasing’, yang oleh kebanyakan orang Indonesia saat ini pun masih belum banyak terjelajahi, seperti kepulauan rempah Maluku, pedalaman Papua, perairan Komodo, laut Aru, dan beberapa tempat lainnya. Blair menulisnya dengan bahasa yang demikian mengalir, serius dan penuh analisa di beberapa aspek, namun selalu penuh humor khas orang Inggris. Buku ini saya beli tahun 2012 silam saat Lawrence Blair hadir di acara Ubud Writers & Readers Festival, dimana ia memutarkan dan mengulas salah satu film dokumenternya tentang pelayarannya menjelajah laut Aru. Indonesia is definitely dangerously beautiful!

hunger8. Hunger – Knut Hamsun. Ya, buku ini mengisahkan tentang lapar, dan bagaimana kondisi fisik berupa perasaan lapar (dan kelaparan) itu begitu mempengaruhi kondisi mental seseorang. Knut menuliskan novel ini sebagai bentuk reaksi atas ‘kekecewaannya’ pada sebagian besar novel kontemporer pada jamannya yang menurutnya terlalu stereotip dalam plot dan miskin dalam karakter. Maka hadirlah ‘Hunger’, yang memang tidak terlalu mengandalkan plot, namun lebih pada eksplorasi ‘interior landscape’ – perasaan, pikiran, harapan, kekecewaan, dunia batin, si tokoh. Si tokoh adalah seorang penulis yang sedang berjuang meraih sukses dengan mengandalkan karyanya, yang imaginasinya menjadi demikian tergerus oleh kondisi lapar berkepanjangan yang ia alami. Novel ini cukup depresif, namun juga membawa hal-hal tak terduga di beberapa bagian akhirnya, dan di penghujung cerita menyajikan suatu ironi yang divisualisasikan dengan ‘indah’. Beautifully tragic. Buku ini membuat saya ingin membaca karya Knut Hamsun lainnya, yaitu Growth of the Soil.

nawung9. Nawung – Galuh Larasati. Ini mungkin termasuk buku “underrated”, dimana tidak banyak orang tahu mengenai keberadaan buku ini, tenggelam dalam hiruk pikuk buku-buku lain, bahkan keberadaannya di toko-toko buku saya lihat sering terpinggirkan. Padahal, buku ini menurut saya menyajikan kualitas penulisan yang prima dengan bahasa yang sangat rapi namun mengalir, dan isi yang sangat baik. Melalui buku Nawung ini,  seorang sastrawati baru saja lahir. Ya, buku ini adalah buku pertama Galuh Larasati, mengisahkan tentang seorang anak perempuan bernama Nawung dan perjalanan hidupnya hingga dewasa yang penuh dengan lika-liku kebahagiaan, kesedihan, kebangkitan dan keterpurukan, serta harapan. Yang membuatnya berbeda adalah buku ini sarat dengan nilai-nilai luhur tradisional (tanah Jawa) yang demikian dalam dan universal, yang sering kita lupakan atau remehkan. Setiap paragrafnya menghadirkan potret dan renungan yang sederhana namun membekas. Salah satu ‘wejangan’ yang saya dapat dan yang paling berkesan buat saya adalah tentang memohon sesuatu yang sederhana dan secukupnya dari Tuhan, dan ketika berkah itu telah benar-benar dihadirkan di depan kita, hendaknya kita memeliharanya dengan baik.

the jungle school10.  The Jungle School – Butet Manurung. Sokola Rimba. Buku ini adalah sebuah diari, atau jurnal, dari seorang Butet Manurung, yang bekerja sebagai pendidik di pedalaman hutan Jambi. Dimulai dari masa-masa awal penugasannya sebagai education facilitator bersama organisasi WARSI, hingga didirikannya Sokola Rimba, sekolah khusus untuk anak-anak suku asli di hutan Jambi. Tulisannya sederhana, namun tajam dalam observasi dan reflektif dalam analisanya. Banyak insight yang saya dapat dari membaca diari ini, bukan melulu mengenai kehidupan suku terasing, tapi lebih pada sikap Butet yang penuh pikiran terbuka dan rendah hati dalam menghadapi orang yang ditemui. Ia tidak mengasumsikan bahwa cara modern adalah pasti lebih baik dan lalu membuat misi menerapkan cara baru itu pada mereka yang dicap sebagai ‘terbelakang’ ini, namun semua diawali dari upaya mengenali kelompok masyarakat itu lebih dalam, dan siapa bilang cara kita sudah pasti lebih baik untuk mereka? Menghargai perbedaan dan kemajemukan. Merambah pola pikir yang berbeda. Pada akhirnya sebenarnya tidaklah terlalu jelas siapa belajar dari siapa. Inspiratif dan sangat membuka wawasan. Butet Manurung hadir dalam Ubud Writers & readers Festival 2012, dan memperkenalkan buku The Jungle School ini ke kalangan nasional dan internasional yang hadir. Versi Bahasa Indonesia hadir setahun kemudian dengan judul Sokola Rimba, terbitan Penerbit Buku Kompas.

100 tahun kesunyian11. One Hundred Years of Solitude – Gabriel Garcia Marquez. Seratus Tahun Kesunyian. Bersama buku ini saya menelusuri kehidupan Jose Arcadio Buendia, yang bersama kelompok kecilnya membangun sebuah desa di tengah hutan di Columbia. Cerita  bergulir dengan banyak tokoh dalam beberapa generasi, dalam banyak kejadian, dalam bentuk sejarah yang berulang. Banyak yang mengatakan bahwa novel ini mencerminkan perjalanan sejarah Columbia sendiri, tapi jika pun kita tidak ingin mengaitkannya atau memperdulikannya dengan unsur politik, kisah ini bisa sangat mewakili perjalanan kehidupan manusia secara mikro maupun makro, dengan segala kejatuhan dan kejayaannya, yang ujung-ujungnya mengembalikan semuanya ke ‘titik nol’. Unsur magical realisme-nya menurut saya tidak terlalu kental dan pas saja (saya pribadi merasa jauh lebih sulit memahami kisah fantasi), dan perpaduan unsur realis dan surealis itu, ditambah tokoh dan kejadian yang begitu kaya, membius saya masuk ke alam fisik dan pikiran keluarga Buendia, sehingga saat menutup buku ini di akhir cerita, saya seakan membutuhkan waktu untuk ‘kembali ke realitas’.

mencari emas12. Mencari Emas – Jean-Marie Gustave Le Clézio. Buku ini menarik perhatian saya karena nama Jean-Marie Gustave Le Clézio. Salah satu karya lainnya, L’Africain, sempat saya baca walau tidak selesai, dan saya sangat menyukai gaya penulisannya yang liris dan penuh nuansa kenangan. Buku ini menceritakan tentang Alexis dan keluarganya yang tinggal di Pulau Mauritius. Saat ayahnya mengalami kebangkrutan, Alexis mempunyai mimpi untuk menemukan emas yang ia percaya dikuburkan seorang bajak laut di suatu pulau lain, dan dimulailah perjalanan itu. Seorang pembaca mengatakan bahwa buku ini layaknya sebuah surat cinta Clézio pada laut, dimana penggambaran mengenai laut dibuat demikian hidup dan indah. Saya pun saat membacanya seakan ikut mendengar desir angin laut, melihat warna biru gelap laut terpampang di depan mata, merasakan pasir yang menempel di kulit yang basah, dan meresapi kesunyian yang dihadirkan malam di atas laut. Mungkin gaya penulisannya yang liris turut membawa kita hanyut ke alam cerita. Kisah ini seluruhnya merupakan narasi dari Alexis, dengan sedikit dialog. Bagian kisah dimana Alexis mulai berteman dengan Ouma, seorang gadis suku Manaf, penduduk asli di sana, merupakan bagian indah favorit saya. JMG Le Clézio adalah pemenang nobel kesusastraan pada tahun 2008.

Demikianlah, 12 buku terbaik dari sekian buku yang saya baca sepanjang tahun 2013. Tahun 2014, saya harap saya juga akan menemukan banyak buku bagus yang saya nikmati proses membacanya.

Mei

Advertisements

All That Is Gone – Pramoedya Ananta Toer

All That is Gone, Pramoedya A. Toer, Penguin Books, 2005, English, Terj. Willem Samuels, 255 hlm.
All That is Gone, Pramoedya A. Toer, Penguin Books, 2005, English, Terj. Willem Samuels, 255 hlm.

Saya merasa sangat beruntung berkesempatan membaca karya Pram yang satu ini, All That is Gone. Buku yang versi aslinya sudah tidak terbit lagi di Indonesia ini berisi tulisan cerita karya Pram yang begitu tajam memotret manusia dengan kondisi emosi dan sosialnya di sekitar masa akhir penjajahan. All That is Gone (terbitan Penguin Books tahun 2005) adalah kumpulan cerita pendek karya Pramoedya Ananta Toer, yang diterjemahkan dari dua buku kumpulan cerita pendeknya, Cerita dari Blora (terbit 1952, dilarang beredar pada tahun 1976), dan Subuh, (1951).

Walau pelarangan beredarnya buku-buku Pram sudah dicabut, namun buku-buku Pram masih sulit dicari, dan bahkan untuk beberapa karya terdahulunya sudah hilang dari peredaran. Saya pun jadi harus mencarinya melalui penerbit luar negeri. Meski Pram sudah dibebaskan sejak tahun 1979, stigma yang melekat pada dirinya (dan karyanya) masih kental. Orang membicarakan Pram lebih karena kesejarahan personalnya sebagai bekas tahanan politik, dan bukan karya-karyanya. Bahkan, suatu fakta yang menyedihkan, hingga kini nama Pram tidak masuk dalam nama-nama sastrawan Indonesia yang dipelajari di pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah. Sepertinya, label “tahanan politik atau tapol” masih membawa ketakutan tertentu, dan kita masih lebih melihat ‘orang’, daripada ‘karya’.

Pengalaman saya membaca karya-karya Pram, saya justru menemukan bahwa karya-karya itu memiliki sedemikian kedalaman makna maupun kualitas literasi, yang memicu pembaca untuk berpikir lebih kritis atas situasi di sekelilingnya, yang menumbuhkan kecintaan pada akar diri sendiri – kecintaan yang bernalar dan tidak membabi buta juga, menelaah kebaikan dan keburukan yang seringkali ada bersamaan, membuat kita melihat sisi kemanusiaan yang lebih sejati, yang tidak sekedar dibungkus oleh suatu kebangsaan atau teriakan nasionalisme tertentu.

Suatu ironi bahwa karya Pram dihargai justru oleh dunia luar, diterjemahkan ke lebih dari tiga puluh bahasa asing, diterbitkan oleh penerbit-penerbit kualitas dunia (Penguin Books dan penerbit universitas-universitas utama di Amerika adalah beberapa contohnya), dan diakui dalam beberapa penghargaan sastra tingkat internasional. Pram, hingga kini, adalah satu-satunya sastrawan Indonesia yang masuk dalam nominasi Nobel untuk literatur. Karya Pram merupakan bacaan di sekolah-sekolah internasional di dalam dan luar negeri, pun di universitas-universitas negara tetangga, dan karya lengkapnya menjadi bagian dari koleksi perpustakaan di negara lain. Namun di negerinya sendiri, karya-karya Pram sulit dicari, dan begitu sedikit dibaca. Bagi Pram, mungkin ia tidak membutuhkan segala penghargaan internasional itu, karena ia menulis lebih ditujukan untuk bangsa dan rakyat Indonesia, seperti yang tersirat dalam pengakuannya dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (The Mute’s Soliloquy, Penguin Books, 1999). Yang Pram butuhkan adalah kita, bangsa Indonesia, membaca karyanya, mengkritisi apa yang ditulisnya, dan akhirnya menumbuhkan sikap yang mandiri dan penuh harga diri atas kemanusiaan.

Kembali pada All That is Gone, buku kumpulan cerita ini terdiri atas 8 cerita pendek, dimana 7 diantaranya diambil dari Cerita dari Blora, dan 1 dari Subuh. All That is Gone dipandang mengandung cerita-cerita yang bersifat semi-autobiografis (Blora adalah kota kelahiran dan masa kecil Pram). Si tokoh tidak selalu berupa individu yang sama, personifikasinya dimulai dari si tokoh yang masih kecil dan hidup dalam lingkungan keluarga terdekatnya, hingga beranjak ke tokoh yang lebih dewasa di cerita-cerita berikutnya. Latar belakang adalah kota kecil Blora dengan penggambaran alam, kondisi sosial dan kejadian-kejadian, dalam konteks akhir masa kolonial, bergerak ke masa pendudukan Jepang, dan masa sesudahnya. Nuansa emosi yang dihadirkan pun ikut berubah sejalan dengan perpindahan cerita dan perubahan si tokoh, dari dunia masa kecil yang hangat dalam dekapan ibu dan bapak, berangsur menjadi kelam sejalan dengan nalar si anak yang sudah mulai bisa memahami realitas (dan ironi) yang terjadi di sekitarnya. Semakin ke belakang, tone cerita menjadi semakin getir, gelap, penuh ironi kemanusiaan. Kita dibuat lupa bahwa kita sedang membaca sebuah kumpulan cerita, dan bukan sebuah novel panjang.

Setelah membaca semua cerita itu, saya seakan melihat suatu panorama emosional, sosial-budaya dan politis dari sudut pandang kehidupan sehari-hari di sekitar akhir jaman kolonial dan masa-masa awal kemerdekaan. Panorama itu lebih berwarna kelam, sendu oleh ironi, dan hal ini dengan sangat baik tergambar pada covernya (seekor angsa yang tampak megap-megap seperti mempertahankan hidup, menitikkan air mata). Untuk semua cerita itu, Pram memang membuktikan sebagai pencerita yang ulung, sangat realistis sekaligus menyentuh. Realistis, karena penggambarannya yang tidak berlebihan dan “hidup” serta sangat kental dengan kejadian-kejadian sejarah. Menyentuh, karena Pram memotretnya secara ‘mikroskopik’, melalui kehidupan sehari-hari tokoh-tokohnya yang merupakan orang-orang sederhana yang menghadapi kejadian-kejadian itu, membawa kita masuk ke alam pikiran dan perasaan mereka yang mengalaminya. Dari sini kita jadi belajar sejarah, dalam arti melihat sejarah dari sisi yang berbeda dari yang sering kita temukan dalam buku teks sejarah yang mengutamakan fakta kronologis, namun juga belajar dari sejarah, melalui perenungan dan refleksi kemanusiaan yang dihadirkan melalui cerita-cerita itu.

Berikut kedelapan cerita dalam buku ini:

Pada cerita All That is Gone, kenangan masa-masa awal hidup sang tokoh menjadi tema utama, saat kehidupan masih sangat sederhana dalam dunia kecil yang terdiri atas ibu, bapak dan lingkungan rumah. Sejalan dengan waktu, melalui mata kanaknya, sang tokoh mulai melihat realitas yang menguak di hadapannya. Air mata ibu, kebohongan bapak, kesedihan, pertanyaan-pertanyaan, pemahaman, dan akhirnya penerimaan.

“You can do whatever you want with the things you justly earn, even your own life and your own body. Everything.” my father once told me, everything you justly earn.”

How long does it take to speak a sentence? The sound of his voice was but for a few moments. A momentary tremble of sound waves, and then it was gone, not to be repeated. Yet, like the Lusi that constantly skirts the city of Blora, like the waters of that river, the remembered sound of that voice, coursing through memory, will continue to flow – forever, toward its estuary and the boundless sea. And not one person knows when the sea will be dry and lose its tide.

But all that is gone, gone from the grasp of the senses. – hlm. 30

Cerita Inem mengisahkan tokoh Inem kecil sebagai pembantu dan teman bermain si tokoh utama yang juga masih kecil. Pola pandang budaya yang masih demikian sempit menjadikan nasib Inem begitu tragis. Ironisnya, figur yang bisa membantunya justru memilih untuk tidak melakukan apa-apa, semua demi menjaga ‘kelayakan’ dan nama baik keluarga. What a shame!

Pada In Twilight Born, sang tokoh sudah beranjak remaja. Diceritakan dalam lingkungan rumahnya ada beberapa anak angkat yang tinggal bersama dan bersekolah. Salah satunya bersikap sangat vokal dalam menyuarakan pendapatnya, terutama mengenai idealisme politik dan sosial. Sang Bapak juga aktif di luar rumah dalam organisasi sosial. Sang tokoh sangat kagum pada mereka berdua, dan sering mengimitasikan apa yang dikatakan mereka walau tidak memahami benar apa maksudnya. Suatu ketika situasi sosial politik berubah, yang berakibat keluarga sang tokoh mengalami kesulitan ekonomi. Dalam kondisi sulit seperti ini, kakak yang diidolakan dan Bapak justru sering pergi meninggalkan rumah dengan dalih menenangkan diri, pergi ke kota lain atau bermain judi untuk menghilangkan tekanan pikiran. Tinggal sang Ibu yang berjuang dari hari ke hari menyambung hidup rumah tangga. Hingga pada suatu senja, sang Ibu, dengan ditemani seorang bidan, berjuang sendiri melahirkan anak kesekian, dengan sang tokoh yang menunggu ketakutan di balik pintu.

Circumcision menceritakan tentang harapan sederhana seorang bocah yang harus pupus oleh kesadaran bahwa untuk mencapainya ternyata diperlukan biaya atau kekayaan yang besar, dimana kondisi itu jauh dari kenyataan hidupnya. Ironisnya, harapan di kepala sang bocah itu sebenarnya pun tidak ‘tepat’, karena lebih merupakan harapan sosial yang memperkarakan status religiositas individu lain. Tema ini diangkat melalui mata bocah sang tokoh.

Pada Revenge, sang tokoh yang sudah mulai dewasa di masa-masa awal kemerdekaan berpikir bahwa menjadi tentara ada cita-citanya, seperti semua pemuda di lingkungannya pada masa itu. Namun serangkaian kejadian yang dialaminya saat ia pertama kali terjun dalam perjalanan tugasnya, saat kelompok tentara itu menangkap seseorang yang dianggap sebagai mata-mata, membuatnya sadar bahwa menjadi tentara bukanlah panggilan hidupnya.

The pilgrim’s body kept being dragged on and on, but by now he was no longer human, much less a citizen of a free and democratic nation. Absolutely not! For the crowd that night, he was a wonderful plaything, no difference from a rubber ball for a cat or promises for this country’s former colonial masters.

In large office buildings far beyond the demarcation line, this act would be called facist behavior, a Nazi terror technique, or the legacy of the Japanese. In fact, it was pure stupidity, for which everyone present was to blame: the pilgrim, his judges, his executioners, and I myself. But maybe the worst thing about what happened is the pleasure that people took in playing judge. There is nothing more disastrous in life than a stupid judge. – hlm. 111

Cerita Independence Day mengisahkan tentang mantan tentara pejuang kemerdekaan bernama Kirno yang kembali ke rumah dalam kondisi cacad fisik, yaitu buta dan tanpa kaki. Duduk statis di kursi rodanya dan selalu berada dalam kegelapan, Kirno banyak melakukan refleksi atas apa yang dialaminya dan menemukan bahwa hidup membawa sejumlah paradoks, yang harus diterima. Dan, apa sebenarnya makna ‘kemerdekaan’?

Acceptance adalah cerita yang buat saya paling menyentuh dan paling membukakan mata. Pram membawa kita mengikuti kehidupan sebuah keluarga sederhana di masa kedatangan Jepang dan perang revolusi di awal kemerdekaan. Nasib keluarga ini seakan ikut terseret naik turunnya berbagai ideologi yang bergantian berkuasa di sepanjang masa itu, apakah itu nasionalis atau sosialis. Keberuntungan dan kemalangan bergantian menghampiri keluarga itu. Pertolongan dan malapetaka bisa datang dari pihak yang sama, pihak yang kita anggap baik maupun buruk. Semua begitu relatif. Lagi-lagi, semua hanyalah masalah kekuasaan dan menguasai orang lain. (Saya jadi teringat akan fabel Animal Farm dari George Orwell, yang dalam cerita ini menemukan bentuk konkretnya). Dan, nasib keluarga ini begitu tragis hingga Sri, dari sudut mana narator bercerita, menumbuhkan sikap ‘acceptance‘ lebih supaya bisa bertahan hidup dari keabsurdan yang dialaminya.

On this occasion, as had happened so many times before, Sri told herself to accept what had happened, that with acceptance everything would again be all right. – hlm. 210

The Rewards of Marriage adalah cerita tentang harapan dan kenyataan. Apa yang tadinya kita impikan ternyata begitu tercapai mengimplikasikan hal-hal yang kita ingin hindari.

Membaca cerita-cerita Pram kita dipaparkan akan begitu banyak paradoks dan ironi, bukan dari hal-hal yang besar, tapi justru dari serpihan kehidupan sehari-hari. Pada cerita-cerita itu, sangat terasa bahwa Pram tidak menggurui, apalagi menentukan pembaca harus bagaimana. Ia hanya menyajikan, memaparkan. Tinggal kita yang melihat, meresapi, dan berefleksi atasnya. Pikiran dan perasaan tokoh-tokoh itu adalah bagian dari pikiran dan perasaan kita juga, sebagai manusia. Buku ini pada akhirnya adalah tentang manusia. Konteks jaman kolonial dan kemerdekaan hanyalah sebuah latar belakang. Manusia, dari status apapun, dari jaman kapanpun dan di belahan bumi manapun, merasa bahagia oleh sebab yang sama, dan merasa sedih atau terluka oleh hal yang sama. Itulah inti sederhana dari humanity.

A literary gem.

*Membaca buku ini adalah bagian dari Membaca Sastra Indonesia 2013 – Klasik, dan Baca Bareng BBI bulan Februari dengan tema Buku Pram (memperingati ulang tahun beliau di bulan Februari ini).

Membaca Sastra Indonesia 2013

BBI_asli logo

[Launching] Membaca Sastra Indonesia 2013 – Klasik dan Kontemporer

Setelah separuh tahun lalu saya menggelar Sastra Indonesia Reading Challenge 2012, yang menghasilkan kumpulan review teman-teman atas buku sastra Indonesia yang dibaca, yang menurut saya sangat apresiatif dan memberi inspirasi, maka tahun ini saya menggelar lagi Membaca Sastra Indonesia 2013, Klasik dan Kontemporer. Saya tidak menyebutnya sebagai challenge karena di sini tujuan saya adalah lebih untuk masuk mendalami, membaca dan berpendapat mengenai karya-karya sastra Indonesia, dan di sini saya mengajak teman-teman untuk juga bergabung. 🙂

Membaca Sastra Indonesia 2013
gambar diambil dari lukisan Srihadi Soedarsono, Fan Dancers, 1974

Keinginan mengapresiasi suatu karya, baik dalam hal genre ataupun jumlah buku, menurut saya bisa sangat personal sifatnya, tergantung pada kebutuhan ybs pada saat tertentu. Karena itu saya mengajukan aturan sebagai berikut:

  1. Kamu bisa memilih mau membaca sastra Indonesia klasik, atau kontemporer, atau keduanya (klasik dan kontemporer)
  2. Tentukan sendiri target jumlah buku yang mau kamu baca untuk kategori yang kamu pilih, atau untuk masing-masing kategori (kalau kamu pilih keduanya). Berapa pun jumlah buku, tak masalah. Yang penting adalah pengalaman membaca dan mengapreasi (baca: mengkritisi), serta berpendapat atas hal yang kamu baca. 🙂
  3. Periode membaca adalah dari Januari 1 sampai Desember 31, 2013.
  4. Genre buku yang dibaca boleh apa saja, fiksi maupun non-fiksi (disarankan yang bersifat humaniora), asal merupakan karya penulis Indonesia. Buku yang kamu baca boleh digabungkan ke reading challenge (yang lain) yang kamu ikuti.
  5. Tuangkan pendapat kamu atas buku yang kamu baca dalam posting di blog kamu (tidak harus punya blog khusus buku). ‘Review’ tidak melulu harus panjang dan formal, kamu bebas mengungkapkan pendapat kamu dalam bentuk posting yang kamu sukai.
  6. Pasang button “Membaca Sastra Indonesia 2013 – Klasik & Kontemporer” di side bar blog kamu, supaya kita juga langsung tahu mengenai keikutsertaan blog kamu di inisiatif ini.

>> Jika ingin berpartisipasi, daftarkan blog kamu di bagian komen posting ini, dengan informasi mau membaca klasik dan atau kontemporer, dan berapa jumlah target buku. Bisa juga kamu sertakan URL posting kamu yang menyatakan keikutsertaan kamu untuk inisiatif ini.

>>Taruh posting review kamu di page ini: [Master Post Link] Membaca Sastra Indonesia 2013 – Klasik dan Kontemporer.

“Membaca sastra Indonesia adalah upaya melawan lupa atas kesejarahan diri kita sendiri”. (Max Lane, di Ubud Writers and Readers Festival, 2012)

=====

Catatan:

*Klasik: Ungkapan “sastra Indonesia klasik” jarang terdengar, menurut saya karena kemunculan Indonesia pun baru ada pada jaman yang dianggap ‘modern’ dalam kerangka literatur dunia. Karya-karya sastra klasik (Nusantara) sebelum abad 20 sebenarnya cukup banyak, namun sering masih dalam bahasa daerah, seperti Serat Centhini yang ditulis dalam bahasa jawa kuno, atau karya lainnya, yang membuatnya sulit dibaca oleh generasi sekarang. Untuk itu kategori “klasik” dalam Membaca Sastra Indonesia 2013 ini saya perluas hingga ke area “modern classics”, yaitu karya-karya yang ditulis di permulaan abad 20 hingga tahun 70-an (tentu untuk karya yang secara kualitas memang layak disebut “klasik”). Buku-buku seperti Puisi Lama hingga karya-karya Pramoedya, contohnya, bisa masuk di sini.

*Kontemporer: semua karya yang bersifat kontemporer, memiliki unsur kebaruan/ masa kini, ditulis di masa 80-an hingga sekarang. Termasuk di sini adalah sastra populer (chicklit, metropop, dan sejenisnya).

Kolam – Sapardi Djoko Damono

Sastra Indonesia Reading Challenge 2012 pictMembaca Kolam karya Sapardi Djoko Damono ini memang serasa masuk ke dunia yang sejuk, teduh, sederhana dan indah sekaligus. Sapardi Djoko Damono memang pencipta keindahan dari hal-hal dan kata-kata yang begitu sederhana. Tak perlu sibuk mengulik estetika kata demi menghasilkan kalimat yang rumit, sajak-sajak ini dengan sederhana menghadirkan keteduhan dan ketenangan. Dari misalnya, cerita tentang sebuah kolam dan ikan-ikan yang berterima kasih di dalamnya, atau dari sebatang pohon belimbing yang tumbuh di pekarangan, atau dari burung-burung yang tidak pernah meninggalkan jejak di langit, atau personifikasi dari sebentuk kabut yang merayapi bukit, kita bertemu dengan sejumlah refleksi tentang hubungan kita dengan sesama makhluk lain penghuni alam ini, pun dengan Sang Pencipta.

Sajak-sajak dalam Kolam ini menggiring kita untuk bermesraan kembali dengan alam. Alam, yang sebenarnya hadir begitu dekat dalam keseharian kita, pada saat yang sama sering terasa begitu jauh karena semata kesibukan yang ada di benak kita. Sambil bercengkrama dengan alam yang bertingkah polah dalam sajak-sajaknya, Sapardi kerap menyiratkan kerinduan, cinta, kebersyukuran pada yang Hakiki, juga tidak jarang candaan yang menggelitik. Paling tidak itu yang saya rasakan.

Membaca Kolam membuat saya serasa menggenggam sebentuk oase. Berhenti sejenak. Untuk berada pada saat dan momen ini.

Kolam - sapardi djoko damono

Beberapa penggalan dari “Kolam di Pekarangan”:

Daun yang membusuk di dasar kolam itu masih juga tengadah ke ranting pohon jeruk yang dulu melahirkannya. Ia ingin sekali bisa merindukannya. Tak akan dilupakannya hari itu menjelang subuh hujan terbawa angin memutarya perlahan, melepasnya dari ranting yang dibebani begitu banyak daun yang terus –menerus berusaha untuk tidak bergoyang. Ia tak sempat lagi menyaksikan matahari yang senantiasa hilang-tampak di sela-sela rimbunan yang kalau siang diharapkan lumut yang membungkus batu-batu dan menempel di dinding kolam itu. Ada sesuatu yang dirasakannya hilang di hari pertama ia terbaring di kolam itu, ada lembahangin yang tidak akan bsia dirasakannya lagi di dalam kepungan air yang berjanji akan membusukkannya segera setelah zat yang dikandungnya meresap ke pori-porinya. Ada gigil matahari yang tidak akan bisa dihayatinya lagi yang berkas-berkas sinarnya suka menyentuh-nyentuhkan hangatnya pada ranting yang hanya berbisik jika angin lewat tanpa mengatakan apa-apa. Zat itu bukan angin. Zat itu bukan cahaya matahari. Zat itu yang menyebabkannya menyerah saja pada air yang tak pernah bisa berhenti bergerak karena ikan-ikan yang di kolam itu diperingatkan entah oleh Siapa dulu ketika waktu masih sangat purba untuk tidak pernah tidur.

….

Ikan tidak pernah merasa terganggu setiap kali ada daun jatuh ke kolam, ia memahami bahwa air kolam tidak berhak mengeluh tentang apa saja yang jatuh di dalamnya. Air kolam, dunianya itu. Ia merasa bahagia ada sebatang pohon jeruk yang tumbuh di pinggir kolam itu yang rimbunannya selalu ditafsirkannya sebagai anugerah karena melindunginya dari matahari yang wataknya sulit ditebak.

Dari “Pohon belimbing”:

Sore ini kita berpapasan dengan pohon belimbing wuluh yang kita tanam di halaman rumah kita beberapa tahun yang lalu, ia sedang berjalan-jalan sendirian di trotoar. Jangan kausapa, nanti ia bangun dari tidurnya.

Kau pernah bilang ia tidak begitu nyaman sebenarnya di pekarangan kita yang tak terurus dengan baik, juga karena konon ia tidak disukai rumput di sekitarnya yang bosan menerima buahnya berjatuhan dan membusuk karena kau jarang memetiknya. Kau, kan, yang tak suka sayur asem?

Aku paham, cinta kita telah kausayur selama ini tanpa belumbing wuluh; Demi kamu, tau! Yang tak bisa kupahami adalah kenapa kau melarangku menyapa pohon itu ketika ia berpapasan dengan kita di jalan. Yang tak akan mungkin bisa kupahami adalah kenapa kau tega membiarkan pohon belimbing wuluh itu berjalan dalam tidur?

Kau, kan, yang pernah bilang bahwa pohon itu akan jadi tua juga akhirnya?

Dari “Pintu”:

Pagi karuniai begitu banyak pintu dan kita disilakan masuk melewatinya kapan saja. 

Malam diberkahi begitu banyak gerbang dan kita digoda untuk membukanya dan keluar agar bisa ke Sana. 

Tidak diperlukan ketukan.

Tidak diperlukan kunci.

:

Sungguh, tidak diperlukan selamat datang atau selamat tinggal.

Dari “Seperti Kabut”:

aku akan menyayanginmu seperti kabut yang raib di cahaya matahari

:

aku akan menjelma awan hati-hati mendaki bukit agar bisa menghujanimu

:

pada suatu hari baik nanti

Kolam diterbitkan dengan bantuan sepenuhnya dari Jeihan Institute. Sang pelukis, Jeihan, juga menyumbangkan beberapa goresan ilustrasi dalam buku puisi ini.

Terima kasih untuk temanku Nina dan Mas Agust, yang telah berbaik hati meminjamkan buku ini 🙂

Canting – Arswendo Atmowiloto

“Canting, carat tembaga untuk membatik, bagi buruh-buruh batik menjadi nyawa. Setiap saat terbaik dalam hidupnya, canting ditiup dengan nafas dan perasaan. Tapi batik yang dibuat dengan canting kini terbanting, karena munculnya jenis printing – cetak. Kalau proses pembatikan lewat canting memerlukan waktu berbulan-bulan, jenis batik cetak ini cukup beberapa kejap saja.”

Membaca Canting karya Arswendo Atmowiloto ini kita disajikan suatu cerita dengan berlapis pemaknaan, terserah pada kita, mau mengambil makna apa. Boleh jika dibilang bahwa Canting bercerita tentang kehidupan Bapak Raden Ngabehi Sestrokusuma, atau Pak Bei, dengan segala buruh batiknya. Boleh juga jika dibilang cerita ini tentang dinamika kehidupan perempuan Jawa, yang diwakili dengan sangat kental oleh sosok Bu Bei yang tampak kontradiktif sekaligus sangat selaras dengan kehidupan. Atau cerita tentang jalan hidup suatu rumah batik di Solo. Atau tentang budaya Jawa dengan segala kode unggah-ungguh-nya yang rumit. Atau juga tentang drama keluarga Pak Bei, antara anak, menantu, orang tua, dalam lingkup priyayi Jawa. Kesemuanya ada dan disajikan dengan kepiawaian bercerita yang menurut saya sangat tangkas dari si penulis – kaya, detil, realistis, dan hidup. Di akhir membaca buku ini, akhirnya saya memutuskan bahwa Canting adalah tentang mendefinisikan kembali arti suatu budaya, dalam hal ini menjadi ‘Jawa’ atau ‘tidak Jawa’, dan itu adalah suatu pilihan.

Pak Bei di awal tergambar ‘sangat Jawa’, dengan segala tindak dan kebiasaan khas pria Jawa, yang priyayi pula. Lalu sejalan kita mengenal tokoh Pak Bei ini, dan tindakannya di masa lalu, maka kita akan mengerti bahwa Pak Bei telah memutuskan untuk ‘tidak Jawa’ dengan caranya sendiri, melanggar beberapa aturan pakem priyayi, yang semuanya hanya berdasarkan pertimbangan akal sehatnya. Lalu ada Bu Bei, istri Pak Bei yang bekas buruh batik, yang pengabdiannya pada Pak Bei tak tercela, pribadi yang tampak lemah namun sebenarnya sangat kuat, terutama dalam menyatukan seluruh rasa hati agar selalu selaras dengan kehidupan. Sama sekali tidak mudah, bagi perempuan kini kebanyakan, tapi itu adalah lakon yang dipilih untuk dijalaninya dengan segenap filosofi kerelaan dan pengabdian, sehingga tampak wajar dan mengalir saja bagi perempuan seperti Bu Bei. Kemudian ada Ni, anak bungsu keluarga itu, yang lahir dengan latar belakang yang sedikit berbeda dengan kakak-kakaknya yang lain, yang memberinya watak yang lebih lugas, langsung dan tidak berjarak dengan orang lain. Ni adalah generasi kedua, setelah ayahnya, yang ‘berani untuk tidak Jawa’.

Canting untuk membatik

Canting adalah simbol budaya yang kalah, tersisih, dan melelahkan. Dalam budaya, ada hal-hal yang mungkin sudah ‘tidak cocok’ lagi, dimana perubahan jaman menuntut cara berpikir dan bertindak yang berbeda. Tidak perlu mencela atau tidak menghargai, hanya perlu menempatkannya pada porsinya yang baru, untuk bertahan. Sama seperti canting, perannya perlu diredefinisikan, diberi arti baru. Sama seperti Pak Bei, yang berani meredefinisikan arti priyayi. Atau Ni yang berani untuk menjadi ‘aeng’, menjadi berbeda, aneh, tapi diperlukan untuk bertahan. Canting dan industri batik dengan segenap jajarannya yang merupakan bagian dari warisan budaya, akhirnya diselamatkan, tidak oleh orang-orang yang bersikukuh pada pakem tradisi itu sendiri, tapi justru oleh mereka yang berani keluar dan berbeda.

Aeng itu tidak apa-apa. Tidak mengurangi nilai. Kesalahan kita, atau generasi saya, ialah menganggap segalanya telah sempurna dan komplet serta selesai. Jadi tidak ada tempat yang aeng.

Buku yang sarat makna dan pemenungan, sekaligus lincah dalam plot dan kuat dalam karakter. Budaya Jawa terpotret dengan sangat apik dan hidup, layaknya menyaksikan panggung teater. Highly recommended!

Buku ini dibaca sebagai bagian dari Sastra Indonesia Reading Challenge 2012.

Detil buku: Canting/ Arswendo Atmowiloto/ Gramedia Pustaka Utama/ 2007 (1986)/ Novel/ 406 hlm.

Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang – Nh. Dini

Ini adalah buku Nh. Dini kesekian yang saya baca. Kali ini sekaligus merupakan salah satu buku yang saya sertakan dalam Sastra Indonesia Reading Challenge 2012.

Seperti hampir semua buku-buku Dini, buku ini adalah sebuah memoar atau cerita kenangan dari sepenggal hidup Dini, dan merupakan kelanjutan dari Argenteuil. Di buku ini, Dini sedang berada di akhir masa hidupnya di Perancis, dalam proses perceraian dengan suaminya seorang konsulat asal Perancis. Dari jalan Saint Simon di bagian elit Paris, Dini pindah ke rumah bibinya di jalan Lembang di daerah Menteng, Jakarta, sementara menunggu kemapanannya untuk kembali ke rumahnya di kampung Sekayu, di Semarang.

Dini ingin tetap menekuni bidangnya, yaitu kepengarangan dan menjadi penulis. Seorang sahabatnya berkebangsaan Perancis pernah berkata kepadanya, jika ia menulis dalam bahasa Perancis, Indonesia akan kehilangan seorang pengarangnya. Sudah banyak wanita pengarang Perancis. Tapi pengarang Indonesia hanya sedikit, apalagi pengarang wanita. Untuk itulah Dini ingin kembali ke pangkuan ibu pertiwi, selain karena kondisi kesehatan dan merasa bahwa hidupnya di tanah air adopsinya itu sudah saatnya berakhir.

Kembali dengan bahasa yang sangat apik, Dini menuturkan perjalanan hidupnya. Berbeda dengan buku-buku Dini sebelumnya, di sini saya menemukan lebih banyak kegetiran dan kecemasan perasaan. Kegetiran, karena Dini sedang dalam proses akhir berpisah dengan keluarganya dan kadang beberapa peristiwa masih mengharuskannya berkomunikasi dengan suami, yang selalu membuat suasana hati kembali pahit. Kecemasan, karena di sini Dini menghadapi masa depannya yang masih belum menentu, harus kembali membangun pijakan yang kokoh hanya sekedar untuk hidup. Bisa dibayangkan, setelah sekian puluh tahun hidup di negeri lain, tiba-tiba harus kembali hidup di negeri sendiri, dengan tidak mempunyai siapapun untuk menopang hidup selain diri sendiri. Buku ini adalah buku Nh. Dini yang paling datar dan paling “bernuansa emosi negatif” yang saya baca selama ini, sarat dengan ‘kepahitan perasaan’ dan ‘keluhan’ mengenai situasi negeri yang dipandangnya tidak seharusnya demikian. Walau saya pun setuju dengan ‘keluhan’ beliau, yang sampai tahun-tahun sekarang pun masih sangat relevan, tidak bisa dipungkiri bahwa saya pun jadi agak lelah membacanya. Fase ini memang bukan fase paling cemerlang atau optimis dari Dini, hantaman masalah personal, dan kesehatan dengan penyakit berat yang harus dihadapi, sudah pasti menyerap energi setiap orang yang mengalaminya.

Namun, di sinilah justru Dini menunjukkan kekuatan pribadinya, untuk tetap tegar dan tegak berdiri diatas kakinya sendiri, tidak meminta belas kasihan orang lain. Ia tetap giat beraktivitas untuk berkarya walau kondisi kesehatan sempat menurun, menyisihkan tabungan demi mimpinya membangun pondok baca di kampungnya, Sekayu, dan secara total menerjunkan diri dalam kegiatan pelestarian lingkungan hidup yang juga menjadi kecintaannya. Ya, diantara segala kemuraman dan kesusahan yang terjadi, Dini tetap menjadi cahaya bagi sekelilingnya, dengan bersikap mandiri dan membuka mata masyarakat atas masalah-masalah sosial maupun lingkungan hidup yang menjadi perhatiannya.

Barangkali menuruti suratan takdir, di tahun-tahun awal masa menetap kembali di tanah Air, aku dihubungkan erat dengan urusan lingkungan alam. Seolah-olah untuk ‘mengurangi’ kejengkelan-kejngkelan terhadap noda atau cacat para pemerintah serta penguasa melaksanakan tugas mereka,  Tuhan menunjukkan kepadaku betapa beragamnya aneka hayati negeriku. Sungguh kusyukuri hal ini. Yang Maha Kuasa membukakan hatiku: inilah suasana lingkungan tanah airmu; inilah ‘kekayaan’ negerimu!

Sungguh aku tidak menyesal kembali ke dalam rengkuhan Ibu Pertiwi.

Detil buku: Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang/ Nh. Dini/ Gramedia Pustaka Utama/ 2012/ Memoar/ 214 hlm.

Bercermin melalui Kumpulan Cerpen: Robohnya Surau Kami

Berdialoglah Tuhan dengan Haji Saleh, seorang warga negara Indonesia yang selama hidupnya hanya beribadah dan beribadah…

“… kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain yang mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal disamping beribadat. Bagaimana engkau bisa beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk disembah saja, hingga kerjamu lain tidak memuji-muji dan menyembahku saja. Tidak…..” (cerpen Robohnya Surau Kami)

Robohnya Surau Kami adalah salah satu cerpen paling terkenal dari sastrawan A. A. Navis. Terbit pertama kali pada tahun 1956, karya ini merupakan wujud kegetiran Navis akan masyarakat Indonesia yang dilihatnya pada jamannya, yang penuh dengan kekolotan dan kesempitan cara berpikir. Sarat dengan kalimat satir yang mengkritik kondisi masyarakat saat itu, cerpen ini secara kuat membawa kita bercermin dengan rendah hati dan membuat kita menundukkan kepala, berintrospeksi diri. Kritik dalam cerpen ini tentu berlaku bagi semua pemeluk agama, dan hal yang demikian dirisaukan Navis pada jamannya ternyata juga masih sering kita temukan sekarang, bahkan dalam kondisi yang makin parah. Tulisannya masih sangat relevan hingga saat ini, dan itulah salah satu kekuatan cerpen ini.

Cerpen Robohnya Surau Kami ini hadir bersama 9 cerpen A. A. Navis lainnya yang tergabung dalam buku kumpulan cerpen berjudul sama. Cerpen lainnya yang juga masih begitu terngiang di benak saya adalah yang berjudul “Penolong”, tentang penyesalan mendalam sang tokoh karena tidak melakukan apapun untuk memperbaiki situasi yang genting, padahal dia ada di sana dan dapat melakukan sesuatu. Hanya perlu kepekaan dan kesigapan bergerak, maka mungkin kondisi bisa sangat berbeda. Di akhir membaca cerpen itu saya menjadi terdiam, sekaligus ingin berteriak, ikut merasakan penyesalan sang tokoh. Ah sedemikian kuat pengaruh dari membaca suatu cerita pendek.

Keseluruhan cerpen yang tergabung dalam buku ini memiliki ketajamannya masing-masing, menyentuh sekaligus ironis. Namun jauh dari kesan ‘cengeng’, malah cenderung keras. Selalu menyentuh suatu aspek humanis dalam diri manusia, apakah itu rasa bersalah, harapan yang tampak konyol, kebanggaan yang berlebihan, penyesalan. Akhir dari cerpen-cerpennya selalu mengandung unsur yang tak terduga, yang membuat saya berpikir betapa piawainya penulis dalam merangkai plot cerita. Semuanya pun disampaikan dengan bahasa yang sangat apik, lugas sehingga tidak membosankan. Kita juga belajar beberapa kata-kata lama yang sudah sangat jarang kita temukan lagi dalam teks saat ini, salah satunya adalah kata “renyai hujan”. Juga kita mengecap suasana ‘tempo dulu’ di jaman cerpen-cerpen ini dibuat, dimana hidup masih berjalan dengan sederhana dan teknologi belum serumit sekarang.

Ali Akbar Navis lahir pada tahun 1924 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Selain bergerak di bidang pendidikan, ia juga berkiprah di jawatan kesenian dan kebudayaan Propinsi Sumatera Tengah di Bukittinggi. Beberapa karya-karyanya yang lain antara lain: Hujan Panas (1964), Kemarau (1967), Alam Terkembang Jadi guru (1984), dan Bertanya Kerbau pada Pedati (2002). A. A. Navis meninggal dunia pada tahun 2003 di usia 78 tahun.

Terima kasih kepada Gramedia yang telah menerbitkan kembali kumpulan cerpen warisan literasi ini dalam bentuk yang sangat nyaman dibaca dan sangat terjangkau.

Detail buku: Robohnya Surau Kami/ A. A. Navis/ Kumpulan Cerpen/ Gramedia Pustaka Utama/ 2010/ Bahasa Indonesia/ 138 hlm.