Best Books 2013

Haloo..

Setelah sekian lama absen dari blogging dan blog ini ‘nganggur’ berbulan-bulan, kini saya kembali lagi.. Saya awali dengan membagi cerita tentang buku terbaik yang saya baca di tahun 2013.

cat in the window - karya Jean-Jacques Sempé
cat in the window – karya Jean-Jacques Sempé

Kegiatan membaca sebenarnya tetap berjalan seperti biasa, malah saya sempat ‘mencicipi’ genre yang saya jarang sentuh dan membaca beberapa buku dari pengarang yang kali itu karyanya pertama kali saya baca. Melepaskan diri dari beberapa ‘rencana baca’ dan membiarkan diri mengalir mengikut ‘mood baca’ (dalam arti membaca apa dan kapan), ternyata membawa saya pada penemuan-penemuan menarik. Ibarat melakukan sebuah perjalanan, melakukan pengembaraan atau flâner membuat kita mengobservasi dan menyerap lebih banyak hal sepanjang perjalanan itu, dibanding melakukan perjalanan yang berfokus pada destinasi. Rencana baca semula memang jadi agak porak poranda, namun kenikmatan membaca ternyata lebih saya rasakan. Karena tidak memperdulikan target baca, saya jadi lebih ‘bebas’, menemukan banyak hal kecil yang biasanya saya lewatkan, dan banyak bagian  buku saya temukan begitu ‘memorable’. Saya juga membaca lebih tanpa ekspektasi tertentu, saya ingin menemukan buku itu apa adanya, dan berkenalan dengan apa yang sebenarnya penulis ingin sampaikan melalui karyanya itu. Sejumlah buku-buku itu akhirnya menjadi buku yang saya golongkan sebagai buku terbaik 2013. Berikut ulasan singkatnya.

la gloire de mon pere1. La Gloire de Mon Père – Marcel Pagnol. The Glory of my Father. Sebuah novel autobiografis dari penulis, playwright dan cinematographer Perancis. Tentang kehidupan masa kanak-kanak penulis, saat papa, maman dan keluarga terdekat adalah dunia terintim si tokoh. Di musim panas, seperti biasa, mereka pergi berlibur ke pedesaan Provence, menginap di sebuah villa tua. Marcel kecil sangat ingin ikut pergi berburu burung bersama papa dan pamannya, namun tentu saja tidak diperbolehkan. Dengan suatu cara akhirnya ia berhasil mengikuti kedua orang dewasa itu pergi ke hutan, yang akhirnya membuatnya mengalami petualangan mendebarkan, pengenalan pada alam dan dirinya sendiri. Ditulis dengan bahasa yang sophisticated, menghadirkan alam Provence Perancis yang khas saat musim panas, kehangatan keluarga ‘jaman dulu’ yang begitu sederhana. Menyentuh sekaligus komikal. Terbit pertama kali tahun 1957. Ilustrasi keren oleh Sempé .

lAmant2. L’Amant – Marguerite Duras. The Lover. Tentang kenangan kehidupan seorang gadis remaja Perancis di Saigon, di masa sisa-sisa pendudukan Perancis di Vietnam. Si tokoh lalu memiliki seorang ‘kekasih’, seorang pria Vietnam, yang dengannya hubungan mereka berjalan dengan tidak banyak kata-kata, mengalir begitu saja, tanpa bentuk, namun sangat membekas bagi keduanya. Tema cerita lebih pada perasaan keterasingan. Ditulis dalam bahasa yang sederhana, membacanya seperti sedang mendengarkan kisah kenangan yang disampaikan penulis, tidak terlalu berstruktur, maju-mundur di masa sekarang dan masa lalu, tidak melulu berada dalam plot tertentu, tapi lebih pada eksplorasi pikiran dan perasaan si tokoh. Saya membaca kisah ini tanpa terlalu memperdulikan ada atau tidak plot, saya ikuti saja kemana pengisahan itu berjalan, menikmatinya, dan membuat saya jadi merasa demikian intim dengan pikiran dan perasaan sang tokoh. Akhir kisah sangat membekas. Beautiful and profound. L’Amant memenangkan le prix Goncourt tahun 1984.

Anna Karenina, Leo Tolstoy, Penguin Classics, 2003, translated by Richard Pevear and Larissa Volokhonsky

3. Anna Karenina – Leo Tolstoy. Membaca versi lengkapnya membuat saya mengerti mengapa buku ini begitu banyak dibicarakan dan bahkan dianggap sebagai the best novel ever written oleh sebagian kalangan. Anna Karenina ternyata berbeda dari anggapan saya sebelumnya tentang buku karya Tolstoy ini. Anna sendiri, walau dijadikan judul, tidak menjadi tokoh paling utama di kisah ini, bahkan tidak menjadi tokoh protagonis. Ia bukan heroine, malah mewakili suatu tokoh yang penuh kegagalan dan self-destruction, walaupun dalam banyak sisi hidupnya dilimpahi kemudahan dan keberuntungan. Tokoh ‘sampingan’ yang justru menjadi focal point dari buku ini, dimana banyak kritik mengatakan bahwa tokoh ini merupakan self-portrait dari Tolstoy sendiri, adalah tokoh Levin, yang berasal dari latar belakang yang begitu berbeda dari Anna dan sepanjang tahap hidupnya berjuang mencari makna hidup. Buku ini, buat saya, secara sederhana menyodorkan pertanyaan: “What does it take to be truly happy?”. Saya rekomendasikan untuk membaca versi lengkapnya, supaya kita tidak hanya berkutat pada kisah ‘romance’ Anna, tetapi juga tokoh-tokoh lain dan pendalaman situasi sekitar yang begitu kaya digambarkan. Buku terbitan Penguin Classics ini diterjemahkan dari bahasa Rusia ke bahasa Inggris dengan sangat baik oleh Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky, dua penerjemah yang memenangkan award khusus untuk penerjemahan sastra Rusia ke Bahasa Inggris.

dog stories4. Dog Stories – James Herriot. Saya sangat mudah jatuh hati pada kisah-kisah yang berhubungan dengan anjing. Dan disini, James Herriot kembali menunjukkan kepekaannya dalam mengobservasi kejadian dan perasaan dan menuangkannya dalam tulisan, sehingga kisah-kisah ini menjadi kisah yang begitu membekas. Buku ini berisi berbagai kisah pengalaman sang dokter hewan dari daerah pedesaan Yorkshire yang permai ini, berkaitan dengan penanganan anjing yang menjadi pasiennya, maupun pasien jenis lain dimana seekor anjing menyertai perjalanan pasien itu. Dalam tulisan Herriot, anjing-anjing ini jadi begitu ‘manusiawi’.

all that is gone5.  All That is Gone – Pramoedya Ananta Toer. Adalah buku kumpulan cerita pendek, yang diambil dari dua buku kumpulan cerita pendek Cerita dari Blora (terbit 1952) dan Subuh (1951). Pram disini menghadirkan cerita-cerita semi-autobiografis dengan muatan emosi yang kuat, twist yang kadang tidak terduga, dan elemen kenangan yang kental. Beberapa dari cerita itu begitu membuka mata saya akan situasi pasca kemerdekaan, terutama pada kehidupan ‘orang-orang biasa’ yang kehidupannya terpengaruh oleh masa revolusi itu. Pram disini membuktikan kepiawaiannya dalam menghadirkan cerita dengan karakter yang kuat dan plot yang penuh dalam ruang sempit bernama cerita pendek. Lebih jauh tentang All That is Gone bisa dibaca di sini.

rahasia selma6. Rahasia Selma – Linda Christanty. Buku ini adalah pengalaman pertama saya membaca karya Linda Christanty. Cerita-cerita Linda berlatar cukup sederhana dan sehari-hari, namun di akhir cerita selalu menghadirkan sesuatu yang begitu tak terduga yang kadang memporak-porandakan pemahaman awal kita tentang cerita itu, yang ternyata bisa bermakna dalam dan historis. Sama seperti Pram, saya begitu kagum pada keahlian Linda dalam menghadirkan karakter yang kuat dan cerita yang begitu membekas dalam ruang pendek bernama cerpen. Buku tipis ini membuat saya ingin membaca karya-karya Linda lainnya.

ring of fire7. Ring of Fire, an Indonesian Odyssey – Lawrence Blair dan Lorne Blair. Buku ini adalah memoar dan catatan perjalanan dari kakak beradik Blair yang mengarungi lautan dan menjelajah beberapa pulau di Indonesia dalam rangka membuat film dokumenter, di awal tahun 70-an. Sarat dengan komentar dan analisis mengenai kondisi lingkungan, biologis, maupun elemen antropologis, buku ini menjadi begitu kaya dan mengasyikkan dibaca. Belum lagi tempat-tempat yang dijelajahi Blair adalah laut dan pedalaman pulau yang jauh dan ‘terasing’, yang oleh kebanyakan orang Indonesia saat ini pun masih belum banyak terjelajahi, seperti kepulauan rempah Maluku, pedalaman Papua, perairan Komodo, laut Aru, dan beberapa tempat lainnya. Blair menulisnya dengan bahasa yang demikian mengalir, serius dan penuh analisa di beberapa aspek, namun selalu penuh humor khas orang Inggris. Buku ini saya beli tahun 2012 silam saat Lawrence Blair hadir di acara Ubud Writers & Readers Festival, dimana ia memutarkan dan mengulas salah satu film dokumenternya tentang pelayarannya menjelajah laut Aru. Indonesia is definitely dangerously beautiful!

hunger8. Hunger – Knut Hamsun. Ya, buku ini mengisahkan tentang lapar, dan bagaimana kondisi fisik berupa perasaan lapar (dan kelaparan) itu begitu mempengaruhi kondisi mental seseorang. Knut menuliskan novel ini sebagai bentuk reaksi atas ‘kekecewaannya’ pada sebagian besar novel kontemporer pada jamannya yang menurutnya terlalu stereotip dalam plot dan miskin dalam karakter. Maka hadirlah ‘Hunger’, yang memang tidak terlalu mengandalkan plot, namun lebih pada eksplorasi ‘interior landscape’ – perasaan, pikiran, harapan, kekecewaan, dunia batin, si tokoh. Si tokoh adalah seorang penulis yang sedang berjuang meraih sukses dengan mengandalkan karyanya, yang imaginasinya menjadi demikian tergerus oleh kondisi lapar berkepanjangan yang ia alami. Novel ini cukup depresif, namun juga membawa hal-hal tak terduga di beberapa bagian akhirnya, dan di penghujung cerita menyajikan suatu ironi yang divisualisasikan dengan ‘indah’. Beautifully tragic. Buku ini membuat saya ingin membaca karya Knut Hamsun lainnya, yaitu Growth of the Soil.

nawung9. Nawung – Galuh Larasati. Ini mungkin termasuk buku “underrated”, dimana tidak banyak orang tahu mengenai keberadaan buku ini, tenggelam dalam hiruk pikuk buku-buku lain, bahkan keberadaannya di toko-toko buku saya lihat sering terpinggirkan. Padahal, buku ini menurut saya menyajikan kualitas penulisan yang prima dengan bahasa yang sangat rapi namun mengalir, dan isi yang sangat baik. Melalui buku Nawung ini,  seorang sastrawati baru saja lahir. Ya, buku ini adalah buku pertama Galuh Larasati, mengisahkan tentang seorang anak perempuan bernama Nawung dan perjalanan hidupnya hingga dewasa yang penuh dengan lika-liku kebahagiaan, kesedihan, kebangkitan dan keterpurukan, serta harapan. Yang membuatnya berbeda adalah buku ini sarat dengan nilai-nilai luhur tradisional (tanah Jawa) yang demikian dalam dan universal, yang sering kita lupakan atau remehkan. Setiap paragrafnya menghadirkan potret dan renungan yang sederhana namun membekas. Salah satu ‘wejangan’ yang saya dapat dan yang paling berkesan buat saya adalah tentang memohon sesuatu yang sederhana dan secukupnya dari Tuhan, dan ketika berkah itu telah benar-benar dihadirkan di depan kita, hendaknya kita memeliharanya dengan baik.

the jungle school10.  The Jungle School – Butet Manurung. Sokola Rimba. Buku ini adalah sebuah diari, atau jurnal, dari seorang Butet Manurung, yang bekerja sebagai pendidik di pedalaman hutan Jambi. Dimulai dari masa-masa awal penugasannya sebagai education facilitator bersama organisasi WARSI, hingga didirikannya Sokola Rimba, sekolah khusus untuk anak-anak suku asli di hutan Jambi. Tulisannya sederhana, namun tajam dalam observasi dan reflektif dalam analisanya. Banyak insight yang saya dapat dari membaca diari ini, bukan melulu mengenai kehidupan suku terasing, tapi lebih pada sikap Butet yang penuh pikiran terbuka dan rendah hati dalam menghadapi orang yang ditemui. Ia tidak mengasumsikan bahwa cara modern adalah pasti lebih baik dan lalu membuat misi menerapkan cara baru itu pada mereka yang dicap sebagai ‘terbelakang’ ini, namun semua diawali dari upaya mengenali kelompok masyarakat itu lebih dalam, dan siapa bilang cara kita sudah pasti lebih baik untuk mereka? Menghargai perbedaan dan kemajemukan. Merambah pola pikir yang berbeda. Pada akhirnya sebenarnya tidaklah terlalu jelas siapa belajar dari siapa. Inspiratif dan sangat membuka wawasan. Butet Manurung hadir dalam Ubud Writers & readers Festival 2012, dan memperkenalkan buku The Jungle School ini ke kalangan nasional dan internasional yang hadir. Versi Bahasa Indonesia hadir setahun kemudian dengan judul Sokola Rimba, terbitan Penerbit Buku Kompas.

100 tahun kesunyian11. One Hundred Years of Solitude – Gabriel Garcia Marquez. Seratus Tahun Kesunyian. Bersama buku ini saya menelusuri kehidupan Jose Arcadio Buendia, yang bersama kelompok kecilnya membangun sebuah desa di tengah hutan di Columbia. Cerita  bergulir dengan banyak tokoh dalam beberapa generasi, dalam banyak kejadian, dalam bentuk sejarah yang berulang. Banyak yang mengatakan bahwa novel ini mencerminkan perjalanan sejarah Columbia sendiri, tapi jika pun kita tidak ingin mengaitkannya atau memperdulikannya dengan unsur politik, kisah ini bisa sangat mewakili perjalanan kehidupan manusia secara mikro maupun makro, dengan segala kejatuhan dan kejayaannya, yang ujung-ujungnya mengembalikan semuanya ke ‘titik nol’. Unsur magical realisme-nya menurut saya tidak terlalu kental dan pas saja (saya pribadi merasa jauh lebih sulit memahami kisah fantasi), dan perpaduan unsur realis dan surealis itu, ditambah tokoh dan kejadian yang begitu kaya, membius saya masuk ke alam fisik dan pikiran keluarga Buendia, sehingga saat menutup buku ini di akhir cerita, saya seakan membutuhkan waktu untuk ‘kembali ke realitas’.

mencari emas12. Mencari Emas – Jean-Marie Gustave Le Clézio. Buku ini menarik perhatian saya karena nama Jean-Marie Gustave Le Clézio. Salah satu karya lainnya, L’Africain, sempat saya baca walau tidak selesai, dan saya sangat menyukai gaya penulisannya yang liris dan penuh nuansa kenangan. Buku ini menceritakan tentang Alexis dan keluarganya yang tinggal di Pulau Mauritius. Saat ayahnya mengalami kebangkrutan, Alexis mempunyai mimpi untuk menemukan emas yang ia percaya dikuburkan seorang bajak laut di suatu pulau lain, dan dimulailah perjalanan itu. Seorang pembaca mengatakan bahwa buku ini layaknya sebuah surat cinta Clézio pada laut, dimana penggambaran mengenai laut dibuat demikian hidup dan indah. Saya pun saat membacanya seakan ikut mendengar desir angin laut, melihat warna biru gelap laut terpampang di depan mata, merasakan pasir yang menempel di kulit yang basah, dan meresapi kesunyian yang dihadirkan malam di atas laut. Mungkin gaya penulisannya yang liris turut membawa kita hanyut ke alam cerita. Kisah ini seluruhnya merupakan narasi dari Alexis, dengan sedikit dialog. Bagian kisah dimana Alexis mulai berteman dengan Ouma, seorang gadis suku Manaf, penduduk asli di sana, merupakan bagian indah favorit saya. JMG Le Clézio adalah pemenang nobel kesusastraan pada tahun 2008.

Demikianlah, 12 buku terbaik dari sekian buku yang saya baca sepanjang tahun 2013. Tahun 2014, saya harap saya juga akan menemukan banyak buku bagus yang saya nikmati proses membacanya.

Mei

Twopence to Cross the Mersey

Liverpool, 1930s. Helen and her family had been living a very good life in southern England, but when the depression hit the country and father went bankrupt, they all moved to Liverpool, the childhood town of the father, in hoping that there would be more jobs to find there. But life was not easier in that central part of England, harder even. Soon they were thrown into filthy and very small room to live, too small for the size of family of seven children. Coal to heat the room was luxury, bug bites were everyday thing, hungry was their daily struggle. They were pulled from the comfortable middle-up class life to utmost poverty in the industrial town Liverpool, a life they had never imagined to be their own.

Helen was the oldest child in the family, aged 12. As father were busy searching for jobs, and mother ‘needed to be outside’ in effort to prevent her from mental breakdown because of the situation, Helen was then forced to stay at home, taking care of her six siblings from morning to night, running the household. For this, she was told to give up school for the time being, despite her aspiration to go to school and to continue her normal life. Although she found it as unfair, she did what was expected to her thinking that it would only be temporary. She was then pulling herself to being practical, managing the daily needs of her brothers and sisters (including the youngest brother at 5 months old). I could not imagine myself doing what she did, at a delicate age of 12! So everyday Helen would come out of their room with the baby brother in the chariot, walking around the block to buy food, if they had money that day, or just sitting in the park. The other children were going to school.

But the temporary seemed to become forever. When the mother was finally successful in earning some money, she decided to continue her work, and spend considerable amount of her slim wage into clothes and shoes to make her more representable to continue the work. Her being outside for work meant that Helen should continue being at home, for an indefinite time. Father agreed to this idea, fearing that if mother was staying at home for too long she would fall into mental breakdown. And this continued on and on, despite the fact mother had gained better health, physically and mentally. Here I was furious with their selfish attitude! Whatever the case, parents should be the ones to take care of their children. As an oldest child, and a daughter for more, Helen was assumed to be taking role at home, sacrificing her life for the wellbeing of others, and she was assumed to obey what is told.

Before their life in Liverpool, Helen’s sweetest childhood memory had been her visits to her grandmother’s house, just across the Mersey river, the river that runs through Liverpool. At first Helen did not understand why they could not just go to grandmother’s home for shelter as it was already so near. But then she found out that her parents were in feud with the grandmother (her father’s mother) and so they did not even tell the grandmother that they were living in struggling in the same town. Helen was missing her grandmother badly, sometimes she wanted to run away from home to just come to her. But to cross the river it cost twopence to take a ferry (hence the title), and Helen did not have any. If they had had twopence, they would have used it to buy food or other basic needs.

http://www.edmontonjournal.com

This book is a touching memoir of Helen’s life in the beginning of depression years and specifically her personal struggle in pursuing her right to go to school and to learn as any other children did. Despite the severe condition she was facing, this memoir was composed with dignity and lack of self-pity. The phrases are beautifully written, specially when she was expressing her thoughts and feelings. I almost came to tears when reading her disappointment, anger, hopes, gratefulness, or simply her compassion towards her family. The life was also presented in a not-black-and-white picture. Like everywhere, there are good people and bad people, and in her surrounding in Liverpool, beside some judgmental neighbors or bad boys, she also met some incredibly kind people.

And here are some phrases that I loved most:

An advice from an old gentleman sitting on the park bench:

“Then read! Read everything you can. Read the great historians, the philosophers, especially the German ones, read autobiographies, read novels. One day, you will have the opportunity to make use of the knowledge you will accumulate, and you will be surprised to find that you know much more than those who have had a more formal education.” (p.143)

He pointed out that, in studying by myself, I was following in the footsteps of many great Lancastrians, who though doomed to poverty… found means to study and outshine their better-educated contemporaries. He cited the example of John Butterworth, the mathematician from Haggate, who never earned more than fifteen shillings a week and learned to read and write at the age of twenty. Such was his love of learning that he became of the finest geometricians of his day; and James Crowther and Richard Buxton, the Manchester botanists, both self-taught, both always poor, both famous. (p.213-214)

About her sorrow and anger and her conviction:

Nobody asked me what I would like to do. My role in life had been silently decided for me. It was obvious that my parents had no intention of allowing me to be anything but an unpaid, unrespected housekeeper. With all the passion of a fifteen-year-old, I decided that such life was not worth living. (p. 263)

And when she was laughed at by other more fortunate children:

I fought back my tears. I was made of better stuff than the children before me. (p. 271)  

Helen continued to write. Beside this book, Helen Forrester also wrote three other autobiographical volumes that picture her perseverance as well as her continued personal struggle, and a number of equally successful novels, with Liverpool as the city prominently appeared in her works. In 1988, she was awarded an honorary Doctoral in Literature by the University of Liverpool in recognition of her achievements as an author. Knowing this fact, I am so glad that finally Helen could make it through and even become a distinguished honorable person. Helen Forrester was a pen name. Her real name was June Huband. After she got married, she moved to Alberta, Canada. She died on 24 November 2011 at the age of 92.

This book is dedicated to the Liverpool City Police, whose one of its personnel had helped Helen in a very kind and supporting way while she was a struggling child in the city’s slum. This memoir has also been made into some theatrical plays.

Heartbreaking yet heartwarming.

Twopence to Cross the Mersey/ Helen Forrester/ Harper Collins/ 1993 (1974)/ Memoir/ English/ 281 p.

Seandainya Mereka Bisa Bicara

Saya sudah lama tahu mengenai James Herriot, seorang dokter hewan yang bertugas di pedalaman pedesaan Yorkshire, Inggris, yang juga menulis sekian seri tulisan mengenai pengalamannya, namun baru berkesempatan membaca satu bukunya baru-baru ini. Buku ini merupakan salah satu treasure yang saya dapatkan saat berkunjung ke garage sale di rumah orang tua teman di bilangan Tebet, Jakarta, bulan Januari lalu. Terbitan 1978 dari penerbit Gramedia, dengan bentuk fisik buku dan irama terjemahan yang langsung mengingatkan saya pada buku-buku cerita anak terjemahan yang banyak saya baca sekitar tahun-tahun itu, buku ini makin terasa tuanya, pun jadi begitu berharga.

Beruntung juga saya membaca buku ini sebagai buku pertama dari James Herriot yang saya baca, karena di sini ternyata diceritakan awal mula James berkarir di pedesaan Yorkshire. Setting adalah tahun 1930-an. Sebagai dokter hewan (beberapa kesempatan lain disebutkan sebagai dokter spesialis bedah hewan) yang baru lulus, ia menerima pekerjaan magang di desa di Yorkshire. Awalnya ia menyangsikan apa yang akan ia dapat perbuat di desa terpencil itu, apakah ia akan merasa bosan mengingat sepinya daerah itu, namun disisi lain ia juga merasa beruntung karena jaman itu banyak koleganya sesama dokter hewan yang harus menerima pekerjaan apa saja atau bersedia tidak dibayar karena kurangnya lapangan pekerjaan. Setidaknya ia bekerja sesuai pendidikan profesinya dan memperoleh gaji. Ia diterima bekerja magang oleh seorang dokter hewan senior satu-satunya di wilayah itu, Siegried Farnon, seorang tua yang cukup nyentrik namun sangat baik hati, di rumahnya yang bernama Skeldale. Segera James terlibat dalam panggilan-panggilan darurat mengunjungi rumah petani jauh di pelosok baik untuk menolong lembu yang melahirkan atau sakit perut, kuda yang keracunan, anjing yang kesakitan, atau babi yang sekarat.

Rumah Skeldale, bangunan sebelah kanan, tempat tinggal James yang kini menjadi Museum James Herriot

Tidak jarang James harus bergumul di lantai kandang yang lembab dan becek dengan kotoran hewan atau cairan yang keluar dari perut hewan yang sedang ia tangani, bajunya yang jadi basah dan belepotan, atau tangannya yang kerap kali harus masuk ke tubuh si hewan. Setengah geli saya saat membaca bagaimana James membandingkan antara apa yang disajikan di kuliah dengan praktek nyata di lapangan, dimana saat kuliah selalu disajikan image dokter hewan dengan jas putihnya yang tampaknya selalu bersih dan mulus, dengan sang dokter yang tersenyum seakan-akan apa yang akan dihadapi di depannya adalah sesuatu yang paling indah di dunia, dan si lembu yang selalu duduk manis menunggu untuk ditolong melahirkan. Kenyataannya hampir selalu situasi bersifat darurat, kotor, minim fasilitas, bahkan kadang emosional. James juga harus menghadapi sikap petani yang pada awalnya menyangsikan kemampuan profesionalnya, dan selalu membandingkannya dengan Siegried. Namun James tetap menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati, dan pada akhirnya, di mata James, para petani itu adalah orang-orang terbaik dan paling tulus yang ia pernah temui, karena di sisi lain mereka juga sangat penolong dan bersahabat. Yah, segalanya memang butuh waktu, bukan? James pun banyak belajar dari para petani itu, seperti:

Aku mulai mengenal dan menyukai kehidupan petani. Mereka adalah orang-orang yang tabah dan mempunyai filsafat yang baru bagiku. Jika ada bencana, yang bisa membuat orang kota putus asa dan membenturkan kepalanya pada tembok, mereka hanya mengangkat bahu sambil berkata, “Ya, itu biasa. Memang harus terjadi begitu.” (hlm. 80)

Di saat-saat James merasa kelelahan menanggulangi kondisi hewan yang berat, hal yang mengembalikan semangat dan tenaganya ternyata hal-hal yang begitu sederhana, seperti suguhan minum teh di rumah petani sehabis menjalankan tugas, atau berhenti sebentar saat perjalanan pulang untuk duduk sendiri di padang pedesaan Yorkshire, memandangi rumput yang mengalun oleh hembusan angin, dengan awan-awan yang beriring di atasnya. Duduk hanya merasakan angin dan memandangi padang, di sini James banyak merenung dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ada di kepalanya. Secara keseluruhan, semua pengalaman itu menjadi pengalaman yang begitu berkesan, yang tidak hanya mengajarkan James menjadi dokter hewan yang andal, namun juga banyak pelajaran tentang mencintai makhluk hidup, manusia ataupun makhluk ciptaan Tuhan lainnya, dan mencintai hidup itu sendiri.

James Herriot menuliskan karya semi-autobiografinya ini dengan bahasa yang lugas, terus terang, dan penuh humor. Beberapa kali saya tersenyum sendiri membayangkan situasi yang diceritakan mirip seperti adegan film kartun. Di kesempatan lain juga banyak tersirat renungan, yang tergolong sangat baik untuk pembentukan karakter. Pesan terkuatnya menurut saya adalah betapa pentingnya kita mencintai apa yang kita lakukan, dan itu tidak bisa dipaksakan. Dalam buku ini juga ada tokoh bernama Tristan, adik dari Siegried, yang juga seorang dokter hewan, namun jelaslah bahwa kecintaannya bukan pada hewan. Apapun yang ia lakukan, atau disuruh lakukan, karena tidak didasari oleh kecintaan, menjadi salah, manipulatif, dan menimbulkan kerugian baik bagi pasien yang dihadapi maupun dirinya sendiri. Semua pihak menjadi merana. Maka carilah apa yang kau suka, tekuni dengan sepenuh hati dan bertanggung jawab, maka kebahagiaan akan datang dengan sendirinya, kebahagiaan yang datang bukan dari uang, namun dari rasa hangat yang menyeruak di hati…

Rasanya saya ingin membaca buku-bukunya yang lain, yang semuanya ditulis dengan judul yang terdengar manis, seperti All Creatures Great and Small, All Things Bright and Beautiful, All Things Wise and Wonderful, The Lord God Made Them All, Dog Stories, dan beberapa lainnya. James Herriot memang fenomenal. Bernama asli James Alfred Wight, tempat aslinya di Yorkshire juga sudah menjadi tujuan wisata bagi mereka penggemar karyanya. Sebut saja The World of James Herriot (museum James Herriot), mengambil tempat di rumah Skeldale di desa Thirsk, Yorkshire Utara, yang bisa dilanjutkan dengan walking tour napak tilas jejak kehidupan James di desa itu. Dari seri buku-bukunya juga sudah lahir beberapa program televisi. If Only They Could Talk (Seandainya Mereka Bisa Bicara) juga dikatakan mengilhami Andrea Hirata untuk menjadikan Edensor, suatu nama desa di selatan Yorkshire, sebagai salah satu judul bukunya (walau di buku ini nama Edensor tidak disebut (?)). Di sini, karyanya yang lain yang juga sudah diterjemahkan adalah Dog Stories (Kisah-kisah Anjing) dari penerbit Gramedia.

Suatu treasure yang kocak dan manis yang saya temukan di awal tahun.

Seandainya Mereka Bisa Bicara/ James Herriot/ Memoar/ 1978 (1970)/ Gramedia/ Bahasa Indonesia/ 312 hlm.

Down and Out in Paris and London

Down and Out in Paris and London/ George Orwell/ Harcourt/ (1933)/ Literature/ English/ 213 p.

Down and Out, jika dicari di kamus, mengandung arti antara lain: having little or no money, beggarly, penniless, impoverished, needy. Down and Out in Paris and London menceritakan tentang pengalaman Orwell saat ia hidup di dua kota itu dalam keadaan hampir ‘tanpa uang sepeser pun’. Buku ini merupakan karya panjang (novel) pertama Orwell, terbit pertama kali pada tahun 1933. Walaupun ia mengatakan sebagai karya fiksi, namun buku ini diklaim memiliki muatan autobiografis yang sangat kental.

Buku ini terbagi menjadi dua bagian, satu tentang pengalamannya saat tinggal di Paris, dan satu saat di London. Saat di Paris, Orwell tinggal di sebuah hotel kumuh dan bekerja sebagai ‘pekerja kasar’ di dapur restaurant. Perjalanan nasib yang tidak mulus sebagai penulis lepas di akhir tahun 20-an, Orwell akhirnya harus menyambung hidup dengan bekerja serabutan. Berteman dengan seorang Rusia yang juga tinggal di suatu kamar yang tidak kalah kumuh, mereka berdua berkeliling mencari pekerjaan, saling memberi informasi, berbagi sisa peser uang yang ada, bersuka cita bersama saat ada berita bagus, atau kecewa bersama saat mengetahui bahwa harapan mereka ternyata terlampau tinggi. Kadang mereka sama sekali tidak makan selama beberapa hari, atau hanya mampu membeli sepotong roti setengah basi dan secangkir teh untuk pengganjal lapar seharian, yang mana sangat sulit kubayangkan untuk bertahan dalam kondisi itu di kota Paris atau di mana pun, apalagi saat udara masih dingin dan kenyataan bahwa mereka harus berjalan kaki berkilo meter untuk mencapai suatu tempat, sengaja tidak naik metro demi menghemat uang. Di bagian ini kita juga disajikan realitas kondisi dapur yang demikian jorok, berbeda dengan kesan chic yang dilihat pelanggan di mana makanan disajikan, dan Orwell meyakini demikianlah kondisi umumnya dapur-dapur restaurant di kota Paris, termasuk restaurant yang tergolong mewah sekalipun. Penggambaran Orwell mengenai hirarki kerja dan dinamika ‘kelas sosial’ di suatu dunia kecil tempatnya bekerja juga sangat jelas dan nyata, membuktikan pengamatannya yang detil atas segala sesuatu, yang kasat mata maupun tidak.

Undoubtedly the most workmanlike class, and the least servile, are the cooks. They do not earn quite so much as waiters, but their prestige is higher and their employment steadier. The cook does not look upon himself as servant, but a skilled workman; he is generally called “un ouvrier”, which a waiter never is. He knows his power – knows that he alone makes or mars a restaurant, and that if he is five minutes late, everything is out of gear. He despises the whole non-cooking staff, and makes it a point of honour to insult everyone below the head waiter. And he takes a genuine artistic pride in his work, which demands very great skill. It is not the cooking that is so difficult, but the doing everything to time. …… He was an insufferable bully, but he was also an artist. It is for their punctuality, and not for any superiority in technique, that men cooks are preferred to women. (p. 76)

The plongeurs, again, have a different outlook. Theirs is a job that offers no prospects, is intensely exhausting, and at the same time has not a trace of skill or interest;…. All that is required of them is to be constantly on the run, and to put up with long hours and a stuffy atmosphere. They have no way of escaping from this life, for they cannot save a penny from their wages, … And yet the plongeurs, low as they are, also have a kind of pride. It is the pride of drudge – the man who is equal to no matter what quantity of work. At that level, the mere power to go on working like an ox is about the only virtue attainable. (p. 78)

Di bagian London, cerita Orwell lebih menyerupai travelogue dari ‘penggelandangan’-nya menyusuri trotoar kota itu dengan beberapa gelandang lainnya. Pengalaman berada pada titik terendah dari suatu kondisi bernama ‘miskin’, membuatnya melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, sekaligus secara tak terduga bertemu dengan beberapa karakter istimewa. Salah satunya adalah Bozo, penggelandang yang juga seorang artis- pelukis trotoar, yang mengajarinya melihat banyak hal secara berbeda,

“The stars are a free show; it don’t cost anything to use your eyes.” (p. 164)

Pada kesempatan lain, Orwell menggambarkan Bozo sebagai berikut,

Clearly the phrases was not the doctor’s but Bozo’s own. He had a gift for phrases. He had managed to keep his brain intact and alert, and so nothing could make him succumb to poverty. He might be ragged and cold, or even starving, but so long as he could read, think and watch for meteors, he was, as he said, free in his own mind. (p. 167)

He had not eaten since morning, had walked several miles with a twisted leg, his clothes were drenched, and he had a halfpenny between himself and starvation. With all this, he could laugh over the loss of his razor. One could not help admiring him. (p. 186)

Setiap bagian, baik Paris maupun London, diakhiri dengan ‘refleksi’ atau pemikiran dan pendapat pribadi Orwell mengenai apa yang dilihat dan dialaminya. Beberapa pendapatnya memang terasa mendasar dan mencerminkan pengamatan Orwell yang tajam atas aspek hubungan antar manusia yang terjadi. Di sepanjang tulisannya pun Orwell sering menggambarkan segala sesuatu yang diamati, apakah itu kondisi fisik, perasaannya, ataupun mekanisme sosial yang ada, dan semua itu digambarkan dengan begitu realistik, namun sama sekali tidak sentimentil. Pembaca seperti melihat suatu ‘foto’ tentang situasi tersebut, dan ‘foto’ itu ajaibnya juga secara berlapis-lapis menggambarkan kondisi yang lebih detil lagi di dalamnya. Satu hal yang bisa ditarik dari sini, penindasan itu, menurut Orwell, ada dalam berbagai bentuk dan rupa, dan sering kali untuk alasan yang sebenarnya sama sekali tidak penting.

Rue du Pot de Fer di Quartier Latin (photo credit: http://www.orwell.ru)

Tahun lalu aku sempat menyusuri rute Paris Literary Walk dari buku Lonely Planet – Paris, dimana melalui buku LP itu kita dituntun untuk mengunjungi tempat-tempat ‘sakral’ beberapa sastrawan dunia yang pernah hidup dan berkarya di Paris, seperti Ernest Hemingway, Oscar Wilde, George Orwell, dan beberapa lainnya. Dalam rute berjalan kaki belasan kilometer itu, kita diajak mendatangi bekas tempat tinggal, hotel, café, atau tempat-tempat lain yang sering mereka kunjungi, yang kebetulan semuanya ada di wilayah Left bank – Quartier Latin. Hotel George Orwell masih ada pada tempatnya, di Rue du Pot de Fer, yang di buku ini Orwell sebut sebagai Rue du Coq d’Or, di jalan kecil di pedalaman Quartier Latin, tidak begitu jauh dari area intelek Sorbonne dan Pantheon. Hotelnya sendiri kalau tidak salah sudah berubah fungsi menjadi dormitori, sesuai plat yang ada disana. Sederetan café dan bistro (restaurant kecil) masih ada di sepanjang jalannya, dengan suasana cenderung santai, vintage, jauh dari kesan mewah – nuansa kota lama Paris. Saat menyusuri jalan itu, aku belum membaca buku ini, namun sudah pernah mendengar bahwa Orwell pernah menjadi pencuci piring di sebuah restaurant di Paris. Kalau aku saat itu sudah membaca buku ini, tentu kesan yang didapat akan jauh lebih kuat.

Yang pasti, setelah membaca buku ini, aku lebih mensyukuri dan melihat makanan (berlimpah) yang hadir begitu saja di depanku secara berbeda, lebih berpikir sebelum menghabiskan uang untuk alasan yang tidak jelas, dan lebih menghargai perjuangan mereka yang harus hidup di jalan-jalan.

Down and Out in Paris and London, dan juga karya-karya Orwell lainnya juga dapat dibaca free online di www.george-orwell.org.

Mei, Balikpapan, 24 Maret 2011.

 

Eat Pray Love

Eat Pray Love

Elizabeth Gilbert

Penguin Books, 2010

Memoir, English, 352 pages.

Baca buku ini sudah sekitar 2 bulan yang lalu. Buku yang banyak dibicarakan orang ini, ternyata (entahlah) ‘fell rather flat on me’ saja; ceritanya memang bagus, apalagi jika melihat bahwa ini adalah suatu kisah nyata, tapi ternyata bukan suatu pengalaman membaca yang ‘memorable’ buatku.

Italia – eat: Pada bagian pertama ini, setelah mengalami proses perceraian yang panjang dan berat, serta putus hubungan dengan pacarnya, Liz bermaksud menghabiskan beberapa waktu di Italia, negeri yang terkenal dengan kenikmatan hidup berupa good (and delicious) food, dan ya, benar-benar kenikmatan hidup yang bernama “la dolce far niente” – the sweetness of doing nothing – yang dalam kultur amerika terasa sangat asing. Namun, mengingat tema utama bagian ini adalah eat/food, aku kok tidak merasa bacaan ini ‘so yummy’, malah agak sedikit melelahkan dengan segala keluhannya tentang hubungannya yang telah lewat. Puncaknya adalah saat ia (masih) berharap pacar terakhinya mau berubah sehingga hubungan itu bisa berlanjut kembali (dan kenapa bukan Liz yang berubah demi hubungan tersebut?). Aku sempat beberapa kali harus mengingatkan diriku bahwa buku ini bukan chick-lit, tapi memoar dari seseorang yang berumur di pertengahan 30-an. Sedikit tulisan di bagian ini yang (akhirnya) menurutku memberikan rasa yummy adalah saat Liz sekali waktu berbelanja di pasar tradisional, dan di bagian akhir saat ia berkunjung ke Sisilia dan menikmati makanan a la Sicilian tersebut, sambil mengagumi betapa para italiano di daerah itu menikmati hidup mereka begitu saja. Benar-benar dolce vita!

India – pray: Diantara ketiga bagian dari buku ini, aku paling suka bagian ini, saat Liz benar-benar ‘menemukan dirinya’. Aku pikir tidak mudah menuliskan apa yang terjadi, apa yang dialami, dan beberapa pencerahan yang ia dapat di sana, namun Gilbert (sangat) berhasil menuliskan sesuatu yang bermakna dalam tersebut dengan demikian gamblang, dengan bahasa sederhana sehingga sesuatu yang dalam tersebut demikian mudah dimengerti. Beberapa bagian aku temukan sangat inspiring, menyentuh dan reflektif. Aku benar-benar menikmati bagian ini. Di sini Liz masih sesekali ingat dengan hubungannya yang telah lewat, namun ia berhasil melakukan ‘acceptance’ dan ‘letting go’ atas semua itu.

Bali – love: Di sini Liz ingin menyeimbangkan yang namanya spiritualisme dan kenikmatan hidup, fokusnya adalah pada balance, mencari keseimbangan. Tulisannya mengenai Bali, fakta dari sudut sejarah dan budaya, menarik dan lugas. Namun di sini kembali aku tidak bisa benar-benar menyelami apa yang Liz alami atau hayati. Misalnya, aku tidak melihat sosok Ketut Liyer sebagai suatu figur yang demikian ‘agung’ sehingga Liz menghabiskan tiap hari waktu bersamanya. Memang ia seorang penyembuh dengan filosofinya yang mengajak kita melihat hidup dengan sederhana, namun yang agak ‘mengganggu’ adalah keluhannya mengenai ‘bank accountnya yang hampir kosong’. Juga saat Liz tiba-tiba berteman dengan seorang wanita bernama Wayan, yang sejak awal aku merasa pertemanan itu ‘kurang genuine’ dari sudut Wayan. Juga Wayan terkesan agak membesar-besarkan perannya sebagai pengobat tradisional, terutama saat ia menceritakan usahanya membantu pasangan yang sulit memperoleh anak. Aku bahkan sempat merasa ‘ini fiksi atau cerita nyata ya?’. Yang agak janggal juga saat Liz menganalisa fenomena ‘jam karet’ yang sering terjadi di sini, yang menghubungkannya dengan dinamika penghayatan emosional spiritual orang Bali atas waktu, bahwa yang namanya 24 jam di belahan dunia Barat belum tentu sama dengan yang terjadi di Bali. Padahal, istilah ‘jam karet’ adalah sekedar kritik terhadap kedisiplinan kita sendiri terhadap waktu. Mungkin juga dari sudut pandang Liz sebagai orang ‘barat’, segala sesuatu yang mengandung sifat mistis terasa menarik, eksotis, dan sayangnya di sini aku mendapat kesan ia menelannya bulat-bulat saja. Selebihnya cerita bergulir menuju ‘happily ever after’, dimana Liz akhirnya menemukan ‘love’ yang menjadi tema di bagian ketiga ini.

Jadi, secara umum memang aku menemukan bagian-bagian yang menarik (bahkan inspiring) dari buku ini, tapi aku tidak bisa sepenuhnya menghayati apa yang Liz rasakan, sehingga buku ini terasa ‘agak datar’ saja. Namun yang aku kagumi benar lebih pada cara penulis menjelaskan atau menggambarkan sesuatu. Banyak dari isi buku ini yang membicarakan hal yang sebenarnya sulit untuk dideskripsikan, namun Gilbert mampu dan berhasil menjelaskan hal yang sulit dijelaskan itu dengan gamblang dan mengena. Misalnya mengenai penemuan dirinya saat berada di India, apa itu bahagia, juga saat ia ber-refleksi mengenai ‘cinta’ saat berlibur di Gili Lombok.

Kini filmnya sudah diputar di mana-mana. Sampai saat ini aku belum terlalu niat untuk menontonnya, mungkin karena sudah membaca bukunya (film cenderung dibuat lebih dangkal daripada buku). Juga, karena peran Felipe di film tiba-tiba berubah menjadi pria muda dan tampak agak ‘gondrong’, sementara di buku digambarkan sosok Felipe sudah agak tua dengan bentuk kepala picassoesque (seperti Picasso).

Mei

Balikpapan, 5 November 2010

La Vie Parisienne

La Vie Parisienne: Looking for Love and the Perfect Lingerie

Janelle McCulloch

Pier, 2008

Memoir, English, 240 pages.

Pertama lihat buku ini yang terbersit di pikiran adalah ‘aduh, pasti ini salah satu buku cliché tentang Paris’. Tapi di saat waktu kepulangan semakin dekat, ketika melihat kembali buku ini di toko buku, tiba-tiba ingin juga membaca sesuatu yang klise, sekedar ber-romantika dengan kota yang akan aku tinggalkan itu. Dan lagi, setelah membolak-balik halaman bukunya, ternyata penuh dengan ilustrasi yang sedemikian cantik dan disajikan dengan ‘chic’, sehingga aku pikir buku ini bisa sekaligus menjadi semacam ‘souvenir’ dari Paris, souvenir yang bukan berupa pajangan, tapi buku yang bisa dibaca lagi dan lagi, yang sepertinya mampu membawa kita kembali pada suasana Paris. Warnanya yang hijau muda dan beberapa ilustrasinya langsung mengingatkanku pada sebuah dekorasi café La Durée di Paris yang sangat terkenal dan memang sering diidentikkan dengan kota Paris itu sendiri. Jadi dengan kesadaran akan membaca sesuatu yang klise itulah aku mulai membaca buku ini.

Buku ini mengisahkan kenangan atau memoar penulis saat tinggal di Paris selama beberapa lama dan serangkaian kunjungan tugasnya di Paris selaku jurnalis mode dan ‘gaya hidup’ dari suatu majalah di Australia. Tugasnya bervariasi, mulai dari menghadiri peragaan busana, membuat ‘riset’ mengenai wine dan café-café di Paris, yang semuanya memungkinkannya mengenal kehidupan Paris yang bukan dari sudut turis dan berteman dengan beberapa ‘parisien’. Tujuan sampingannya adalah berharap menemukan ‘cinta’ di kota ini (‘looking for love’), kota yang menurutnya sangat penuh dengan kemungkian tersebut (‘duh, klise banget ya?)

Buku ini ya, memang akhirnya membawa hal-hal yang sangat klise tentang Paris dan parisien (orang yang tinggal di Paris). Penulis sangat memuja sesuatu yang berbau Perancis dan Paris khususnya, apa yang dianggap penting oleh orang Paris, bagaimana mereka bertingkah laku di situasi tertentu, bagaimana mereka berpakaian, memilih café, apa yang mereka suka dan tidak suka, mengapa urusan memilih lingerie menjadi begitu penting. Parisien begini, non-parisien begitu, dengan banyak generalisasi. Intinya, cara parisien inilah yang paling ‘oke’; logis atau tidak, non-parisien harus bisa memahaminya. Semua untuk alasan yang simple saja, bahwa apa pun mengenai mereka memang yang paling baik, paling cantik; apa yang mereka kenakan akan tampak paling pas dan chic; dan karenanya mereka memang berhak untuk ‘sombong’. (Aku cuma membayangkan jika orang Paris sendiri membaca buku ini, pasti makin terangkat dagunya.. J).

Beberapa kejadian lucu saat penulis ‘didoktrinasi’ oleh teman parisien-nya untuk bisa juga berpolah seperti parisien, yang memang banyak benarnya juga, dan secara praktis bisa sangat berguna dalam menghadapi parisien. Misalnya, jika berbicara jangan banyak tersenyum, tapi harus sedikit ketus dan lurus saja, sama seperti para parisien itu, maka dijamin mereka justru akan lebih menunjukkan respeknya kepada kita. Jika disarankan sesuatu, jangan langsung menerima, paling tidak harus ada penolakan dulu atau bahkan keluhan sana-sini, maka mereka tiba-tiba menjadi fleksibel. Juga, tentu saja, ada cerita mengenai betapa romantisnya pria-pria perancis, bagaimana mereka memperlakukan penulis sebagai wanita, yang menurut penulis sangat jarang ia temukan di tempat asalnya atau di belahan dunia lain.

Penulis juga banyak bereksplorasi mengenai tempat-tempat favoritnya di Paris. Dari 20 arrondissement (distrik) yang ada, yang paling ia suka dan menurutnya paling menggambarkan Paris yang ‘chic’ adalah daerah Left Bank atau 6th arrondissement. Daerah ini meliputi Quartier Latin, Sorbonne, St. Germain-des-Pres, jardin de Luxembourg dan sekitarnya. Area ini kebetulan juga menjadi favoritku, dan membaca buku ini aku jadi ikut ‘berjalan-jalan’ di lorong-lorongnya, mengenal tempat-tempat yang menurut penulis ‘wajib dikunjungi’ (dan akhirnya benar-benar aku kunjungi). Daerah ini memang terkenal dengan nuansa intelek sekaligus chic, perpaduan yang sangat unik. Banyak butik designer terkenal, namun tidak se-turistik Champs-Elysee misalnya; banyak penulis dan filsuf dunia memiliki riwayat panjang di sini (seperti Hemingway, Oscar Wilde, Sartre, Simone de Beauvoir, dan banyak lagi); dan juga toko-toko buku dan café chic yang bertebaran di sekitar kampus-kampus yang tergolong tertua di Eropa. Penulis juga bercerita banyak tentang tempat-tempat lain di Paris, terutama yang berkaitan dengan sesuatu yang sedang sangat ‘hit’, seperti restaurant termewah dan terunik, design tercanggih dari seorang designer interior terkemuka, yang mungkin hal ini akan terlewatkan jika tidak mengenal Paris ‘dari dalam’.

Di bagian akhir buku ini, saat penulis akan meinggalkan Paris, cukup mengundang empati. Paris ternyata selalu mampu membuat rindu bagi mereka yang pernah menginjakkan kaki dan hidup di sana. Suatu bacaan yang penuh klise memang, namun mampu menghadirkan sebuah souvenir tentang Paris.

Mei

Balikpapan, 24 Oktober 2010


On Rue Tatin

On Rue Tatin

Susan Loomis

Harper Collins, 2002

Memoir, english, 296 pages.

Susan Loomis takes readers to the enchanted journey of her life in a small french town. Her love in cooking brought her, already a chef and a food writer, to take a decision to have a year’s experience as a stagiaire, or apprentice, at a cooking school for English-speaking students in Paris. For her, it was like a dream — working all day at the school, taking cooking class at night with French chefs, and living in Paris on top of it. That’s how her adventure begins. But this book is not about her life and experience in Paris, rather it is about the time when she had moved to a small town, Louviers, in Normandy region, just about an hour train from Paris to the north-west. A summer short work at a house of a family near Louviers introduced her to village french life, and to its cooking, its traditional recipes and stories. A relationship with the family, which was at first seemed distant and formal, had become so memorable and long lasting. After having gone back home to US for several years, Susan went back again to France with her own little family for a new writing job on french food and cooking.

photo from http://www.onruetatin.com

A house on rue Tatin in Louviers became their home — an old typical french house in the center of the town, just beside the church Notre-dame. The picture on the cover of this book is the real home. Just seeing that picture made me suddenly miss my small town french living… (before living in Paris, I was living in a small town in the south west of France, and until now small town french living has always a special place in my heart, whatever people say about the grandiose of Paris..). Now, as residents of this small town, they encountered enchanted discovery of day-to-day rural french life — walk through the markets, talk to the butcher and the baker, get used to the french systems, or play diplomacy (or straightforwardness) with their neighbors.

Photo from http://www.onruetatin.com

Living in a small town means living well with good ingredients on day-to-day basis, the “l’art de vivre“, knowing how to live well. I liked best the chapter “Morning in Louviers” which describe her routine morning walks, from her toddler son’s nursery, to the boulangerie (the baker), and her walking around back home with short visits to a small boutique or a perfumerie. I also loved much her writing on french saturday markets, with all the description of farmer’s fresh produces and the unique characters of the sellers. Just to make this book more delicious, each chapter is ended by two delicious recipes, that made me instantly taste the soft creamy normandy butter and cheese, or the sweetness of caramelized apple tart…

I agree with the endorsement by Adam Gopnik for this book that says that “where many writers merely love France, Susan Loomis knows it…“. Yes, this book is not that kind of cliche book about France, because Susan Loomis knows exactly its smells, people and manners. And the ending of this book is just so naturally sweet… She has written several books on cooking and continues sharing her passions on food and cooking in a french way by opening her cooking classes, in Paris and also at her home on rue Tatin. Check out her web www.onruetatin.com to enter into her passionate universe.

A splendid and delicious reading.

Mei

Paris, 2 August 2010