Best Books 2013

Haloo..

Setelah sekian lama absen dari blogging dan blog ini ‘nganggur’ berbulan-bulan, kini saya kembali lagi.. Saya awali dengan membagi cerita tentang buku terbaik yang saya baca di tahun 2013.

cat in the window - karya Jean-Jacques Sempé
cat in the window – karya Jean-Jacques Sempé

Kegiatan membaca sebenarnya tetap berjalan seperti biasa, malah saya sempat ‘mencicipi’ genre yang saya jarang sentuh dan membaca beberapa buku dari pengarang yang kali itu karyanya pertama kali saya baca. Melepaskan diri dari beberapa ‘rencana baca’ dan membiarkan diri mengalir mengikut ‘mood baca’ (dalam arti membaca apa dan kapan), ternyata membawa saya pada penemuan-penemuan menarik. Ibarat melakukan sebuah perjalanan, melakukan pengembaraan atau flâner membuat kita mengobservasi dan menyerap lebih banyak hal sepanjang perjalanan itu, dibanding melakukan perjalanan yang berfokus pada destinasi. Rencana baca semula memang jadi agak porak poranda, namun kenikmatan membaca ternyata lebih saya rasakan. Karena tidak memperdulikan target baca, saya jadi lebih ‘bebas’, menemukan banyak hal kecil yang biasanya saya lewatkan, dan banyak bagian  buku saya temukan begitu ‘memorable’. Saya juga membaca lebih tanpa ekspektasi tertentu, saya ingin menemukan buku itu apa adanya, dan berkenalan dengan apa yang sebenarnya penulis ingin sampaikan melalui karyanya itu. Sejumlah buku-buku itu akhirnya menjadi buku yang saya golongkan sebagai buku terbaik 2013. Berikut ulasan singkatnya.

la gloire de mon pere1. La Gloire de Mon Père – Marcel Pagnol. The Glory of my Father. Sebuah novel autobiografis dari penulis, playwright dan cinematographer Perancis. Tentang kehidupan masa kanak-kanak penulis, saat papa, maman dan keluarga terdekat adalah dunia terintim si tokoh. Di musim panas, seperti biasa, mereka pergi berlibur ke pedesaan Provence, menginap di sebuah villa tua. Marcel kecil sangat ingin ikut pergi berburu burung bersama papa dan pamannya, namun tentu saja tidak diperbolehkan. Dengan suatu cara akhirnya ia berhasil mengikuti kedua orang dewasa itu pergi ke hutan, yang akhirnya membuatnya mengalami petualangan mendebarkan, pengenalan pada alam dan dirinya sendiri. Ditulis dengan bahasa yang sophisticated, menghadirkan alam Provence Perancis yang khas saat musim panas, kehangatan keluarga ‘jaman dulu’ yang begitu sederhana. Menyentuh sekaligus komikal. Terbit pertama kali tahun 1957. Ilustrasi keren oleh Sempé .

lAmant2. L’Amant – Marguerite Duras. The Lover. Tentang kenangan kehidupan seorang gadis remaja Perancis di Saigon, di masa sisa-sisa pendudukan Perancis di Vietnam. Si tokoh lalu memiliki seorang ‘kekasih’, seorang pria Vietnam, yang dengannya hubungan mereka berjalan dengan tidak banyak kata-kata, mengalir begitu saja, tanpa bentuk, namun sangat membekas bagi keduanya. Tema cerita lebih pada perasaan keterasingan. Ditulis dalam bahasa yang sederhana, membacanya seperti sedang mendengarkan kisah kenangan yang disampaikan penulis, tidak terlalu berstruktur, maju-mundur di masa sekarang dan masa lalu, tidak melulu berada dalam plot tertentu, tapi lebih pada eksplorasi pikiran dan perasaan si tokoh. Saya membaca kisah ini tanpa terlalu memperdulikan ada atau tidak plot, saya ikuti saja kemana pengisahan itu berjalan, menikmatinya, dan membuat saya jadi merasa demikian intim dengan pikiran dan perasaan sang tokoh. Akhir kisah sangat membekas. Beautiful and profound. L’Amant memenangkan le prix Goncourt tahun 1984.

Anna Karenina, Leo Tolstoy, Penguin Classics, 2003, translated by Richard Pevear and Larissa Volokhonsky

3. Anna Karenina – Leo Tolstoy. Membaca versi lengkapnya membuat saya mengerti mengapa buku ini begitu banyak dibicarakan dan bahkan dianggap sebagai the best novel ever written oleh sebagian kalangan. Anna Karenina ternyata berbeda dari anggapan saya sebelumnya tentang buku karya Tolstoy ini. Anna sendiri, walau dijadikan judul, tidak menjadi tokoh paling utama di kisah ini, bahkan tidak menjadi tokoh protagonis. Ia bukan heroine, malah mewakili suatu tokoh yang penuh kegagalan dan self-destruction, walaupun dalam banyak sisi hidupnya dilimpahi kemudahan dan keberuntungan. Tokoh ‘sampingan’ yang justru menjadi focal point dari buku ini, dimana banyak kritik mengatakan bahwa tokoh ini merupakan self-portrait dari Tolstoy sendiri, adalah tokoh Levin, yang berasal dari latar belakang yang begitu berbeda dari Anna dan sepanjang tahap hidupnya berjuang mencari makna hidup. Buku ini, buat saya, secara sederhana menyodorkan pertanyaan: “What does it take to be truly happy?”. Saya rekomendasikan untuk membaca versi lengkapnya, supaya kita tidak hanya berkutat pada kisah ‘romance’ Anna, tetapi juga tokoh-tokoh lain dan pendalaman situasi sekitar yang begitu kaya digambarkan. Buku terbitan Penguin Classics ini diterjemahkan dari bahasa Rusia ke bahasa Inggris dengan sangat baik oleh Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky, dua penerjemah yang memenangkan award khusus untuk penerjemahan sastra Rusia ke Bahasa Inggris.

dog stories4. Dog Stories – James Herriot. Saya sangat mudah jatuh hati pada kisah-kisah yang berhubungan dengan anjing. Dan disini, James Herriot kembali menunjukkan kepekaannya dalam mengobservasi kejadian dan perasaan dan menuangkannya dalam tulisan, sehingga kisah-kisah ini menjadi kisah yang begitu membekas. Buku ini berisi berbagai kisah pengalaman sang dokter hewan dari daerah pedesaan Yorkshire yang permai ini, berkaitan dengan penanganan anjing yang menjadi pasiennya, maupun pasien jenis lain dimana seekor anjing menyertai perjalanan pasien itu. Dalam tulisan Herriot, anjing-anjing ini jadi begitu ‘manusiawi’.

all that is gone5.  All That is Gone – Pramoedya Ananta Toer. Adalah buku kumpulan cerita pendek, yang diambil dari dua buku kumpulan cerita pendek Cerita dari Blora (terbit 1952) dan Subuh (1951). Pram disini menghadirkan cerita-cerita semi-autobiografis dengan muatan emosi yang kuat, twist yang kadang tidak terduga, dan elemen kenangan yang kental. Beberapa dari cerita itu begitu membuka mata saya akan situasi pasca kemerdekaan, terutama pada kehidupan ‘orang-orang biasa’ yang kehidupannya terpengaruh oleh masa revolusi itu. Pram disini membuktikan kepiawaiannya dalam menghadirkan cerita dengan karakter yang kuat dan plot yang penuh dalam ruang sempit bernama cerita pendek. Lebih jauh tentang All That is Gone bisa dibaca di sini.

rahasia selma6. Rahasia Selma – Linda Christanty. Buku ini adalah pengalaman pertama saya membaca karya Linda Christanty. Cerita-cerita Linda berlatar cukup sederhana dan sehari-hari, namun di akhir cerita selalu menghadirkan sesuatu yang begitu tak terduga yang kadang memporak-porandakan pemahaman awal kita tentang cerita itu, yang ternyata bisa bermakna dalam dan historis. Sama seperti Pram, saya begitu kagum pada keahlian Linda dalam menghadirkan karakter yang kuat dan cerita yang begitu membekas dalam ruang pendek bernama cerpen. Buku tipis ini membuat saya ingin membaca karya-karya Linda lainnya.

ring of fire7. Ring of Fire, an Indonesian Odyssey – Lawrence Blair dan Lorne Blair. Buku ini adalah memoar dan catatan perjalanan dari kakak beradik Blair yang mengarungi lautan dan menjelajah beberapa pulau di Indonesia dalam rangka membuat film dokumenter, di awal tahun 70-an. Sarat dengan komentar dan analisis mengenai kondisi lingkungan, biologis, maupun elemen antropologis, buku ini menjadi begitu kaya dan mengasyikkan dibaca. Belum lagi tempat-tempat yang dijelajahi Blair adalah laut dan pedalaman pulau yang jauh dan ‘terasing’, yang oleh kebanyakan orang Indonesia saat ini pun masih belum banyak terjelajahi, seperti kepulauan rempah Maluku, pedalaman Papua, perairan Komodo, laut Aru, dan beberapa tempat lainnya. Blair menulisnya dengan bahasa yang demikian mengalir, serius dan penuh analisa di beberapa aspek, namun selalu penuh humor khas orang Inggris. Buku ini saya beli tahun 2012 silam saat Lawrence Blair hadir di acara Ubud Writers & Readers Festival, dimana ia memutarkan dan mengulas salah satu film dokumenternya tentang pelayarannya menjelajah laut Aru. Indonesia is definitely dangerously beautiful!

hunger8. Hunger – Knut Hamsun. Ya, buku ini mengisahkan tentang lapar, dan bagaimana kondisi fisik berupa perasaan lapar (dan kelaparan) itu begitu mempengaruhi kondisi mental seseorang. Knut menuliskan novel ini sebagai bentuk reaksi atas ‘kekecewaannya’ pada sebagian besar novel kontemporer pada jamannya yang menurutnya terlalu stereotip dalam plot dan miskin dalam karakter. Maka hadirlah ‘Hunger’, yang memang tidak terlalu mengandalkan plot, namun lebih pada eksplorasi ‘interior landscape’ – perasaan, pikiran, harapan, kekecewaan, dunia batin, si tokoh. Si tokoh adalah seorang penulis yang sedang berjuang meraih sukses dengan mengandalkan karyanya, yang imaginasinya menjadi demikian tergerus oleh kondisi lapar berkepanjangan yang ia alami. Novel ini cukup depresif, namun juga membawa hal-hal tak terduga di beberapa bagian akhirnya, dan di penghujung cerita menyajikan suatu ironi yang divisualisasikan dengan ‘indah’. Beautifully tragic. Buku ini membuat saya ingin membaca karya Knut Hamsun lainnya, yaitu Growth of the Soil.

nawung9. Nawung – Galuh Larasati. Ini mungkin termasuk buku “underrated”, dimana tidak banyak orang tahu mengenai keberadaan buku ini, tenggelam dalam hiruk pikuk buku-buku lain, bahkan keberadaannya di toko-toko buku saya lihat sering terpinggirkan. Padahal, buku ini menurut saya menyajikan kualitas penulisan yang prima dengan bahasa yang sangat rapi namun mengalir, dan isi yang sangat baik. Melalui buku Nawung ini,  seorang sastrawati baru saja lahir. Ya, buku ini adalah buku pertama Galuh Larasati, mengisahkan tentang seorang anak perempuan bernama Nawung dan perjalanan hidupnya hingga dewasa yang penuh dengan lika-liku kebahagiaan, kesedihan, kebangkitan dan keterpurukan, serta harapan. Yang membuatnya berbeda adalah buku ini sarat dengan nilai-nilai luhur tradisional (tanah Jawa) yang demikian dalam dan universal, yang sering kita lupakan atau remehkan. Setiap paragrafnya menghadirkan potret dan renungan yang sederhana namun membekas. Salah satu ‘wejangan’ yang saya dapat dan yang paling berkesan buat saya adalah tentang memohon sesuatu yang sederhana dan secukupnya dari Tuhan, dan ketika berkah itu telah benar-benar dihadirkan di depan kita, hendaknya kita memeliharanya dengan baik.

the jungle school10.  The Jungle School – Butet Manurung. Sokola Rimba. Buku ini adalah sebuah diari, atau jurnal, dari seorang Butet Manurung, yang bekerja sebagai pendidik di pedalaman hutan Jambi. Dimulai dari masa-masa awal penugasannya sebagai education facilitator bersama organisasi WARSI, hingga didirikannya Sokola Rimba, sekolah khusus untuk anak-anak suku asli di hutan Jambi. Tulisannya sederhana, namun tajam dalam observasi dan reflektif dalam analisanya. Banyak insight yang saya dapat dari membaca diari ini, bukan melulu mengenai kehidupan suku terasing, tapi lebih pada sikap Butet yang penuh pikiran terbuka dan rendah hati dalam menghadapi orang yang ditemui. Ia tidak mengasumsikan bahwa cara modern adalah pasti lebih baik dan lalu membuat misi menerapkan cara baru itu pada mereka yang dicap sebagai ‘terbelakang’ ini, namun semua diawali dari upaya mengenali kelompok masyarakat itu lebih dalam, dan siapa bilang cara kita sudah pasti lebih baik untuk mereka? Menghargai perbedaan dan kemajemukan. Merambah pola pikir yang berbeda. Pada akhirnya sebenarnya tidaklah terlalu jelas siapa belajar dari siapa. Inspiratif dan sangat membuka wawasan. Butet Manurung hadir dalam Ubud Writers & readers Festival 2012, dan memperkenalkan buku The Jungle School ini ke kalangan nasional dan internasional yang hadir. Versi Bahasa Indonesia hadir setahun kemudian dengan judul Sokola Rimba, terbitan Penerbit Buku Kompas.

100 tahun kesunyian11. One Hundred Years of Solitude – Gabriel Garcia Marquez. Seratus Tahun Kesunyian. Bersama buku ini saya menelusuri kehidupan Jose Arcadio Buendia, yang bersama kelompok kecilnya membangun sebuah desa di tengah hutan di Columbia. Cerita  bergulir dengan banyak tokoh dalam beberapa generasi, dalam banyak kejadian, dalam bentuk sejarah yang berulang. Banyak yang mengatakan bahwa novel ini mencerminkan perjalanan sejarah Columbia sendiri, tapi jika pun kita tidak ingin mengaitkannya atau memperdulikannya dengan unsur politik, kisah ini bisa sangat mewakili perjalanan kehidupan manusia secara mikro maupun makro, dengan segala kejatuhan dan kejayaannya, yang ujung-ujungnya mengembalikan semuanya ke ‘titik nol’. Unsur magical realisme-nya menurut saya tidak terlalu kental dan pas saja (saya pribadi merasa jauh lebih sulit memahami kisah fantasi), dan perpaduan unsur realis dan surealis itu, ditambah tokoh dan kejadian yang begitu kaya, membius saya masuk ke alam fisik dan pikiran keluarga Buendia, sehingga saat menutup buku ini di akhir cerita, saya seakan membutuhkan waktu untuk ‘kembali ke realitas’.

mencari emas12. Mencari Emas – Jean-Marie Gustave Le Clézio. Buku ini menarik perhatian saya karena nama Jean-Marie Gustave Le Clézio. Salah satu karya lainnya, L’Africain, sempat saya baca walau tidak selesai, dan saya sangat menyukai gaya penulisannya yang liris dan penuh nuansa kenangan. Buku ini menceritakan tentang Alexis dan keluarganya yang tinggal di Pulau Mauritius. Saat ayahnya mengalami kebangkrutan, Alexis mempunyai mimpi untuk menemukan emas yang ia percaya dikuburkan seorang bajak laut di suatu pulau lain, dan dimulailah perjalanan itu. Seorang pembaca mengatakan bahwa buku ini layaknya sebuah surat cinta Clézio pada laut, dimana penggambaran mengenai laut dibuat demikian hidup dan indah. Saya pun saat membacanya seakan ikut mendengar desir angin laut, melihat warna biru gelap laut terpampang di depan mata, merasakan pasir yang menempel di kulit yang basah, dan meresapi kesunyian yang dihadirkan malam di atas laut. Mungkin gaya penulisannya yang liris turut membawa kita hanyut ke alam cerita. Kisah ini seluruhnya merupakan narasi dari Alexis, dengan sedikit dialog. Bagian kisah dimana Alexis mulai berteman dengan Ouma, seorang gadis suku Manaf, penduduk asli di sana, merupakan bagian indah favorit saya. JMG Le Clézio adalah pemenang nobel kesusastraan pada tahun 2008.

Demikianlah, 12 buku terbaik dari sekian buku yang saya baca sepanjang tahun 2013. Tahun 2014, saya harap saya juga akan menemukan banyak buku bagus yang saya nikmati proses membacanya.

Mei

Advertisements

Down and Out in Paris and London

Down and Out in Paris and London/ George Orwell/ Harcourt/ (1933)/ Literature/ English/ 213 p.

Down and Out, jika dicari di kamus, mengandung arti antara lain: having little or no money, beggarly, penniless, impoverished, needy. Down and Out in Paris and London menceritakan tentang pengalaman Orwell saat ia hidup di dua kota itu dalam keadaan hampir ‘tanpa uang sepeser pun’. Buku ini merupakan karya panjang (novel) pertama Orwell, terbit pertama kali pada tahun 1933. Walaupun ia mengatakan sebagai karya fiksi, namun buku ini diklaim memiliki muatan autobiografis yang sangat kental.

Buku ini terbagi menjadi dua bagian, satu tentang pengalamannya saat tinggal di Paris, dan satu saat di London. Saat di Paris, Orwell tinggal di sebuah hotel kumuh dan bekerja sebagai ‘pekerja kasar’ di dapur restaurant. Perjalanan nasib yang tidak mulus sebagai penulis lepas di akhir tahun 20-an, Orwell akhirnya harus menyambung hidup dengan bekerja serabutan. Berteman dengan seorang Rusia yang juga tinggal di suatu kamar yang tidak kalah kumuh, mereka berdua berkeliling mencari pekerjaan, saling memberi informasi, berbagi sisa peser uang yang ada, bersuka cita bersama saat ada berita bagus, atau kecewa bersama saat mengetahui bahwa harapan mereka ternyata terlampau tinggi. Kadang mereka sama sekali tidak makan selama beberapa hari, atau hanya mampu membeli sepotong roti setengah basi dan secangkir teh untuk pengganjal lapar seharian, yang mana sangat sulit kubayangkan untuk bertahan dalam kondisi itu di kota Paris atau di mana pun, apalagi saat udara masih dingin dan kenyataan bahwa mereka harus berjalan kaki berkilo meter untuk mencapai suatu tempat, sengaja tidak naik metro demi menghemat uang. Di bagian ini kita juga disajikan realitas kondisi dapur yang demikian jorok, berbeda dengan kesan chic yang dilihat pelanggan di mana makanan disajikan, dan Orwell meyakini demikianlah kondisi umumnya dapur-dapur restaurant di kota Paris, termasuk restaurant yang tergolong mewah sekalipun. Penggambaran Orwell mengenai hirarki kerja dan dinamika ‘kelas sosial’ di suatu dunia kecil tempatnya bekerja juga sangat jelas dan nyata, membuktikan pengamatannya yang detil atas segala sesuatu, yang kasat mata maupun tidak.

Undoubtedly the most workmanlike class, and the least servile, are the cooks. They do not earn quite so much as waiters, but their prestige is higher and their employment steadier. The cook does not look upon himself as servant, but a skilled workman; he is generally called “un ouvrier”, which a waiter never is. He knows his power – knows that he alone makes or mars a restaurant, and that if he is five minutes late, everything is out of gear. He despises the whole non-cooking staff, and makes it a point of honour to insult everyone below the head waiter. And he takes a genuine artistic pride in his work, which demands very great skill. It is not the cooking that is so difficult, but the doing everything to time. …… He was an insufferable bully, but he was also an artist. It is for their punctuality, and not for any superiority in technique, that men cooks are preferred to women. (p. 76)

The plongeurs, again, have a different outlook. Theirs is a job that offers no prospects, is intensely exhausting, and at the same time has not a trace of skill or interest;…. All that is required of them is to be constantly on the run, and to put up with long hours and a stuffy atmosphere. They have no way of escaping from this life, for they cannot save a penny from their wages, … And yet the plongeurs, low as they are, also have a kind of pride. It is the pride of drudge – the man who is equal to no matter what quantity of work. At that level, the mere power to go on working like an ox is about the only virtue attainable. (p. 78)

Di bagian London, cerita Orwell lebih menyerupai travelogue dari ‘penggelandangan’-nya menyusuri trotoar kota itu dengan beberapa gelandang lainnya. Pengalaman berada pada titik terendah dari suatu kondisi bernama ‘miskin’, membuatnya melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, sekaligus secara tak terduga bertemu dengan beberapa karakter istimewa. Salah satunya adalah Bozo, penggelandang yang juga seorang artis- pelukis trotoar, yang mengajarinya melihat banyak hal secara berbeda,

“The stars are a free show; it don’t cost anything to use your eyes.” (p. 164)

Pada kesempatan lain, Orwell menggambarkan Bozo sebagai berikut,

Clearly the phrases was not the doctor’s but Bozo’s own. He had a gift for phrases. He had managed to keep his brain intact and alert, and so nothing could make him succumb to poverty. He might be ragged and cold, or even starving, but so long as he could read, think and watch for meteors, he was, as he said, free in his own mind. (p. 167)

He had not eaten since morning, had walked several miles with a twisted leg, his clothes were drenched, and he had a halfpenny between himself and starvation. With all this, he could laugh over the loss of his razor. One could not help admiring him. (p. 186)

Setiap bagian, baik Paris maupun London, diakhiri dengan ‘refleksi’ atau pemikiran dan pendapat pribadi Orwell mengenai apa yang dilihat dan dialaminya. Beberapa pendapatnya memang terasa mendasar dan mencerminkan pengamatan Orwell yang tajam atas aspek hubungan antar manusia yang terjadi. Di sepanjang tulisannya pun Orwell sering menggambarkan segala sesuatu yang diamati, apakah itu kondisi fisik, perasaannya, ataupun mekanisme sosial yang ada, dan semua itu digambarkan dengan begitu realistik, namun sama sekali tidak sentimentil. Pembaca seperti melihat suatu ‘foto’ tentang situasi tersebut, dan ‘foto’ itu ajaibnya juga secara berlapis-lapis menggambarkan kondisi yang lebih detil lagi di dalamnya. Satu hal yang bisa ditarik dari sini, penindasan itu, menurut Orwell, ada dalam berbagai bentuk dan rupa, dan sering kali untuk alasan yang sebenarnya sama sekali tidak penting.

Rue du Pot de Fer di Quartier Latin (photo credit: http://www.orwell.ru)

Tahun lalu aku sempat menyusuri rute Paris Literary Walk dari buku Lonely Planet – Paris, dimana melalui buku LP itu kita dituntun untuk mengunjungi tempat-tempat ‘sakral’ beberapa sastrawan dunia yang pernah hidup dan berkarya di Paris, seperti Ernest Hemingway, Oscar Wilde, George Orwell, dan beberapa lainnya. Dalam rute berjalan kaki belasan kilometer itu, kita diajak mendatangi bekas tempat tinggal, hotel, café, atau tempat-tempat lain yang sering mereka kunjungi, yang kebetulan semuanya ada di wilayah Left bank – Quartier Latin. Hotel George Orwell masih ada pada tempatnya, di Rue du Pot de Fer, yang di buku ini Orwell sebut sebagai Rue du Coq d’Or, di jalan kecil di pedalaman Quartier Latin, tidak begitu jauh dari area intelek Sorbonne dan Pantheon. Hotelnya sendiri kalau tidak salah sudah berubah fungsi menjadi dormitori, sesuai plat yang ada disana. Sederetan café dan bistro (restaurant kecil) masih ada di sepanjang jalannya, dengan suasana cenderung santai, vintage, jauh dari kesan mewah – nuansa kota lama Paris. Saat menyusuri jalan itu, aku belum membaca buku ini, namun sudah pernah mendengar bahwa Orwell pernah menjadi pencuci piring di sebuah restaurant di Paris. Kalau aku saat itu sudah membaca buku ini, tentu kesan yang didapat akan jauh lebih kuat.

Yang pasti, setelah membaca buku ini, aku lebih mensyukuri dan melihat makanan (berlimpah) yang hadir begitu saja di depanku secara berbeda, lebih berpikir sebelum menghabiskan uang untuk alasan yang tidak jelas, dan lebih menghargai perjuangan mereka yang harus hidup di jalan-jalan.

Down and Out in Paris and London, dan juga karya-karya Orwell lainnya juga dapat dibaca free online di www.george-orwell.org.

Mei, Balikpapan, 24 Maret 2011.

 

East, West

East, West/ Salman Rushdie/ Vintage Books/ 1995/ Short Stories/ English/ 211 pages.

East, West adalah antologi cerita pendek dari Rushdie yang terbit pertama kali pada tahun 1994. Terdiri atas tiga bagian: “East”, yang cerita-ceritanya memiliki setting di dunia timur, dalam hal ini India; “West”, dari dunia barat, dan “East, West” yang mengandung percampuran nuansa keduanya, timur dan barat, apakah dalam bentuk tokoh-tokohnya, lokasi, tradisi, ataupun kejadian dalam sejarah. Keseluruhannya ada 9 cerita pendek yang terangkum di buku ini.

Membaca Rushdi buatku tidak selalu mudah; ada kalanya cerita pendek yang kubaca mengalir begitu saja, dengan mudah aku masuk ke karakternya, berempati dengan mereka, menikmati setiap kata dan kalimat dari Rushdie; tapi ada juga yang kutemukan begitu sulit, bahkan hanya untuk menangkap konteks cerita tersebut. Cerita seperti “Christopher Columbus and Queen Isabella of Spain” (di bagian West) termasuk dalam kategori tersebut. Cerita “At the Auction of the Ruby Slippers” (West) juga tidak sepenuhnya aku pahami. Betapa aku ingin memahami jokes dan alegori yang ada agar dapat lebih menikmati nuansa satire-nya yang kental di cerita itu.

Ada beberapa cerita yang berkesan buatku di sini; yang paling aku suka adalah “The Free Radio” (di bagian East), cerita sederhana mengenai suatu potret kehidupan di ‘masyarakat bawah’ di India, antara usaha dan harapan dan bagaimana sang tokoh memeluk harapannya sedemikian rupa, walaupun kenyataan sudah berkata lain. Strikingly ironic, menurutku, dan di sinilah aku pikir kekuatan Rushdie, saat cerita bergulir ada elemen kelucuan di sana, namun toh perasaan terakhir yang tertinggal ternyata adalah kesedihan, ironis.

Setiap cerita menurutku bisa diinterpretasikan dari banyak sudut pandang, menurut mata pembaca. Buatku, benang merah di cerita-cerita di bagian East adalah para tokohnya yang sedemikian teguh berpegang pada apa yang diyakininya, layaknya faith, yang seringkali tampak irasional, namun toh dengan sepenuh hati mereka jalankan meskipun hidup dalam situasi material yang minim, dan walaupun ironis, sang tokoh tampak bisa tertawa dan berbahagia. Dalam bagian West, cerita-ceritanya banyak berkisah tentang ambisi materialisme, yang juga sebenarnya di suatu sisi bisa tampak irasional (hal ini tampaknya yang hendak disindir Rushdie dalam “At the Auction of the Ruby Slippers“), juga tentang konflik diri, seperti kekosongan hidup. Dalam bagian East, West, keduanya berbaur, bisa dalam bentuk jiwa timur yang terjebak dalam mekanisme barat, atau sebaliknya, seorang tokoh yang sudah sedemikian barat menjadi asing dalam tradisi timur.

Dari karya-karyanya, Rushdie telah membuktikan sebagai salah satu pencerita ulung dunia. Tema-tema tentang migrasi antara dunia timur dan barat memang sering kali mewarnai tulisannya. Rushdie sendiri lahir di Bombay, India, pada tahun 1947, dari keluarga moslem kelas menengah, dan pada usia sekolah sempat bermigrasi ke Inggris, lalu pindah ke Pakistan, sebelum akhirnya kembali menetap di Inggris.

Mei, Balikpapan, 15 Maret 2011

Books v. Cigarettes

Books v. Cigarettes/ George Orwell/ Penguin (Great Ideas series)/ 2008 (1946)/ Essays/ English/126 pages.

Seri Great Ideas dari Penguin termasuk jarang aku lihat ada di toko buku (kecuali yang on-line), maka aku senang sekali saat menemukannya di toko buku Shakespeare & Co sewaktu masih tinggal di Paris, dijual sebagai buku bekas dengan kondisi yang masih sangat baik. Berisi kumpulan esai dari penulis George Orwell, buku kecil ini menjadi salah satu bacaan esai terbaik sekaligus mengasikkan yang pernah aku baca.

“Books v. Cigarettes” merupakan salah satu judul esai dari tujuh esai yang dirangkum di sini. Dalam esai ini, Orwell mengupas pertanyaan sederhana, apakah orang memilih menghabiskan lebih banyak uang untuk membeli buku atau rokok, dan kenapa? Pada esai yang lain (“Bookshop Memories”), ia mengeksplorasi pengalamannya ketika menjadi staf di sebuah toko buku bekas, dimana berada selalu di antara tumpukan buku justru mematikan niat bacanya. Pada “Confessions of a Book Reviewer” ia ingin pembaca memahami beratnya ‘tekanan mental’ menjadi seorang kritikus buku. Di esainya yang lain, Orwel juga menyentuh tema-tema lain yang berkaitan dengan buku atau sesuatu yang lebih luas, seperti kebebasan pers, patriotisme, kesejahteraan sosial, ataupun pendidikan. Setiap esai disajikan dengan gaya bertutur yang demikian lugas, to-the-point, renyah, namun sering juga tiba-tiba lembut dan menyentuh rasa yang sulit dijelaskan. Esainya “How the Poor Die”, yang menceritakan pengalamannya saat sakit dan dirawat di sebuah rumah sakit di Paris, dan “Such, Such Were the Joys”, yang membawa pembaca ke kehidupan masa kecilnya di sebuah sekolah elit berasrama di London, pada banyak sisi menghadirkan perasaan-perasaan subtil penulis yang diungkapkan dengan demikian apa adanya, sangat humanis dan menyentuh rasa keadilan, yang akhirnya mengharukan, namun dengan cara yang tidak ‘cengeng’ sama sekali. Tema-tema keadilan sosial dan politik memang sering membungkus karya-karya Orwell, namun didalam semua itu ada rasa humanis yang tidak bisa diacuhkan, yang begitu membekas.

http://www.georgeorwellnovels.com

Ini adalah kumpulan esai Orwell pertama yang aku baca, yang membuatku ingin membaca kumpulan-kumpulan esainya yang lain. George Orwell (bernama asli Eric Arthur Blair), dilahirkan di India pada tahun 1903. Ia bersekolah di Eton, Inggris, lalu bertugas sebagai polisi di Burma, bekerja sebagai pengajar privat, guru sekolah, staf toko buku dan jurnalis. Orwell sempat ikut berperang di perang sipil Spanyol pada tahun 1936, dimana ia terluka dan lalu dirawat di sanatorium, dan sejak itu tidak pernah kembali benar-benar sehat. George Orwell meninggal di London pada usia 47 tahun. Sebagian besar buku-buku Orwell mencerminkan pengalaman dari perjalanan hidupnya.

http://www.penguin.ca

Sedikit mengenai Penguin Great Ideas, seri ini benar-benar membuatku jatuh hati. Penguin membuat seri ini dengan niatan mengumpulkan dan menerbitkan buah pikiran dari para penulis, great thinkers, pionir, radikal, maupun mereka yang visioner, yang ide-idenya sedikit banyak telah mepengaruhi sejarah peradaban dan membantu kita menjadi diri kita saat ini. Tema yang sejatinya ‘berat’, disajikan dengan ringkas, padat, dan dalam bentuk buku yang secara fisik memang ringan, dengan desain cover yang brilian. Dan oh, Penguin Great Ideas box-set langsung jadi impianku…! Lihat juga contoh-contoh covernya yang cantik seperti di foto di bawah ini.

http://www.wemadethis.typepad.com

Mei, Balikpapan 9 Maret 2011

The Lover

the-lover_marguerite-duras.jpg

The Lover

Novel

Pengarang: Marguerite Duras

Penerbit: Jalasutra

Tahun terbit: 2004

Bahasa: Indonesia

Penerjemah: Septina Ferniati

Halaman: 152

Diterbitkan pertama kali pada tahun 1984 dengan judul asli L’Amant, atau The Lover, novel ini adalah novel terbaik dari pengarang Perancis Marguerite Duras. Buku lainnya yang juga cukup terkenal dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (oleh Yayasan Obor Indonesia) adalah Monderato Cantabile, yang terbit pada tahun 1958.

The Lover merupakan kisah cinta yang ganjil antara seorang gadis Perancis remaja dengan seorang pria Cina dewasa di Saigon, Indo-Cina (kini Vietnam). Percintaan dimulai ketika sang gadis sedang naik kapal ferry menyeberangi sungai dan bertemu dengan sang pria yang saat itu sedang berada dalam mobil limosinnya. Nama sang pria sampai akhir kisah tidak disebutkan, sementara penutur berganti-ganti antara sang gadis sebagai orang pertama, kadang tanpa ‘pemberitahuan’ berganti menjadi orang ketiga, apakah itu sang pria atau orang lain. Konteks waktunya pun berpindah-pindah, kadang berada di masa lalu ketika sang gadis masih anak-anak, kadang tiba-tiba maju ke masa depan ketika ia sudah tua dan berada di Perancis. Sama sekali tidak linear. Hal ini membuat membaca novel ini terasa dinamis dan kadang penuh kejutan. Namun tidak juga membingungkan. Pada saat akhir membaca novel ini, pembaca tetap bisa menyusun mozaik-mozaik kehidupan sang tokoh yang diceritakan secara berserak itu. Novel ini juga minim dialog, kisah dituturkan melalui penggambaran sudut pandang penutur, yang membuat pembaca seakan sedang membedah pikiran sang tokoh. Kisah percintaan ini merupakan kisah cinta pertama bagi sang gadis. Walau demikian, kisah ini bukanlah kisah cinta pertama tipikal remaja. Ada kedalaman makna, tidak bersifat ideal seperti umumnya cinta remaja. Sesuatu yang membekas sampai tua, dan unik dengan keganjilannya.

Novel ini dapat dikatakan bersifat autobiografis mengingat Duras sendiri dilahirkan dan dibesarkan di Gia-Dinh, Indo-Cina. Seperti diketahui kawasan Indo-Cina dahulu merupakan jajahan Perancis, dan Duras merupakan warga Perancis yang tinggal di sana. Ayahnya adalah seorang guru matematika, yang meninggal dunia ketika Duras masih berusia 4 tahun. Sang ibu digambarkan Duras sebagai sosok yang lemah dan penuh dengan keputusasaan. Menghidupi 3 orang anak, ketakberdayaan sang ibu dalam hal ekonomi menjadikan kehidupan masa kecil Duras cukup carut marut. Ketika usianya belum genap 15 tahun, Duras bertemu dengan seorang Cina yang bermukin di Vietnam dan menjalin asmara dengannya. Hubungan mereka terjalin ’karena adanya ikatan-ikatan’ dan ’kejadian-kejadian’, dan bukan karena ’cinta’. Hubungan misterius yang tak direstui oleh kedua pihak keluarga itu pun harus kandas ketika Duras pada akhirnya memilih untuk kembali ke Perancis pada usia 17 tahun untuk melanjutkan sekolahnya. Hidup Duras sejak kecil selalu dipenuhi dengan harapan akan kebebasan dari kesendirian serta kehangatan keluarga yang tak pernah ia rasakan. Novel The Lover ini pun banyak menggambarkan perasaan keterasingan dan hubungan keluarga yang dingin, terutama antara sang gadis dengan ibunya dan dengan kakak laki-lakinya.

Membaca The Lover seakan membaca masa muda sang penulis. Walau demikian, Duras menolak anggapan bahwa karyanya ini merupakan autobiografinya. Baginya, hasrat yang dirasakan oleh sang gadis, tokoh utama novel ini, telah bercampur dengan hal-hal yang bersifat fiksi. Mungkin hidup Duras pun dirasakan antara nyata dan tidak nyata. Seperti ungkapan Duras, “Kisah hidupku tidak nyata. Tidak nyata. Tak pernah ada pusatnya. Tak ada jejak, tak ada jalan. Ada ruang-ruang besar dimana kau pernah pura-pura melihat seseorang di sana, tetapi itu tidak benar, tak ada siapapun.” (hal 12).

Pola penggambaran kisah seperti mozaik yang terserak mungkin dapat dijelaskan dengan historis penulisan novel ini. Pada awalnya Duras menyiapkan sebuah buku fotografi yang berisikan jepretan-jepretan foto masa kecilnya dengan tambahan tulisan sebagai komentar. Namun, setelah buku tersebut selesai disusun, penerbit di Perancis menolaknya karena menganggapnya terlalu aneh. Sampai akhirnya Jerome Lindon, seorang editor dari penerbit de Minuit, mengusulkan kepada Duras untuk membuat buku tersebut dalam bentuk uraian kisah dan tanpa foto. Terbukti di tangan penulisnya, kata-kata mampu bercerita lebih dari ratusan foto. Dalam sebuah wawancara khusus dengan Duras tentang bukunya The Lover, Duras mengatakan, ”Sebaiknya Anda tidak bertanya terlalu banyak akan buku ini, biarkan ia bicara. Apabila apa yang dikatakannya tidak Anda pahami secara langsung dengan jelas, bersabarlah. Perlahan-lahan kata-kata yang Anda baca akan terasa semakin jelas, terlalu jelas, bahkan.” (hal 14). Duras mengisahkan kisahnya sedemikian rupa hingga pada akhir kisah masih mampu mengusik kepekaan pembaca akan kerinduan akan hubungan hangat di masa lalu.

The Lover berhasil meraih penghargaan bergengsi Prix Goncourt di Perancis, dan penerbitnya de Minuit, merupakan penerbit yang terkenal sangat menjunjung tinggi idealisme kesusastraan Perancis.

Cirendeu, 13 June 2007, 15.33.