All That Is Gone – Pramoedya Ananta Toer

All That is Gone, Pramoedya A. Toer, Penguin Books, 2005, English, Terj. Willem Samuels, 255 hlm.
All That is Gone, Pramoedya A. Toer, Penguin Books, 2005, English, Terj. Willem Samuels, 255 hlm.

Saya merasa sangat beruntung berkesempatan membaca karya Pram yang satu ini, All That is Gone. Buku yang versi aslinya sudah tidak terbit lagi di Indonesia ini berisi tulisan cerita karya Pram yang begitu tajam memotret manusia dengan kondisi emosi dan sosialnya di sekitar masa akhir penjajahan. All That is Gone (terbitan Penguin Books tahun 2005) adalah kumpulan cerita pendek karya Pramoedya Ananta Toer, yang diterjemahkan dari dua buku kumpulan cerita pendeknya, Cerita dari Blora (terbit 1952, dilarang beredar pada tahun 1976), dan Subuh, (1951).

Walau pelarangan beredarnya buku-buku Pram sudah dicabut, namun buku-buku Pram masih sulit dicari, dan bahkan untuk beberapa karya terdahulunya sudah hilang dari peredaran. Saya pun jadi harus mencarinya melalui penerbit luar negeri. Meski Pram sudah dibebaskan sejak tahun 1979, stigma yang melekat pada dirinya (dan karyanya) masih kental. Orang membicarakan Pram lebih karena kesejarahan personalnya sebagai bekas tahanan politik, dan bukan karya-karyanya. Bahkan, suatu fakta yang menyedihkan, hingga kini nama Pram tidak masuk dalam nama-nama sastrawan Indonesia yang dipelajari di pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah. Sepertinya, label “tahanan politik atau tapol” masih membawa ketakutan tertentu, dan kita masih lebih melihat ‘orang’, daripada ‘karya’.

Pengalaman saya membaca karya-karya Pram, saya justru menemukan bahwa karya-karya itu memiliki sedemikian kedalaman makna maupun kualitas literasi, yang memicu pembaca untuk berpikir lebih kritis atas situasi di sekelilingnya, yang menumbuhkan kecintaan pada akar diri sendiri – kecintaan yang bernalar dan tidak membabi buta juga, menelaah kebaikan dan keburukan yang seringkali ada bersamaan, membuat kita melihat sisi kemanusiaan yang lebih sejati, yang tidak sekedar dibungkus oleh suatu kebangsaan atau teriakan nasionalisme tertentu.

Suatu ironi bahwa karya Pram dihargai justru oleh dunia luar, diterjemahkan ke lebih dari tiga puluh bahasa asing, diterbitkan oleh penerbit-penerbit kualitas dunia (Penguin Books dan penerbit universitas-universitas utama di Amerika adalah beberapa contohnya), dan diakui dalam beberapa penghargaan sastra tingkat internasional. Pram, hingga kini, adalah satu-satunya sastrawan Indonesia yang masuk dalam nominasi Nobel untuk literatur. Karya Pram merupakan bacaan di sekolah-sekolah internasional di dalam dan luar negeri, pun di universitas-universitas negara tetangga, dan karya lengkapnya menjadi bagian dari koleksi perpustakaan di negara lain. Namun di negerinya sendiri, karya-karya Pram sulit dicari, dan begitu sedikit dibaca. Bagi Pram, mungkin ia tidak membutuhkan segala penghargaan internasional itu, karena ia menulis lebih ditujukan untuk bangsa dan rakyat Indonesia, seperti yang tersirat dalam pengakuannya dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (The Mute’s Soliloquy, Penguin Books, 1999). Yang Pram butuhkan adalah kita, bangsa Indonesia, membaca karyanya, mengkritisi apa yang ditulisnya, dan akhirnya menumbuhkan sikap yang mandiri dan penuh harga diri atas kemanusiaan.

Kembali pada All That is Gone, buku kumpulan cerita ini terdiri atas 8 cerita pendek, dimana 7 diantaranya diambil dari Cerita dari Blora, dan 1 dari Subuh. All That is Gone dipandang mengandung cerita-cerita yang bersifat semi-autobiografis (Blora adalah kota kelahiran dan masa kecil Pram). Si tokoh tidak selalu berupa individu yang sama, personifikasinya dimulai dari si tokoh yang masih kecil dan hidup dalam lingkungan keluarga terdekatnya, hingga beranjak ke tokoh yang lebih dewasa di cerita-cerita berikutnya. Latar belakang adalah kota kecil Blora dengan penggambaran alam, kondisi sosial dan kejadian-kejadian, dalam konteks akhir masa kolonial, bergerak ke masa pendudukan Jepang, dan masa sesudahnya. Nuansa emosi yang dihadirkan pun ikut berubah sejalan dengan perpindahan cerita dan perubahan si tokoh, dari dunia masa kecil yang hangat dalam dekapan ibu dan bapak, berangsur menjadi kelam sejalan dengan nalar si anak yang sudah mulai bisa memahami realitas (dan ironi) yang terjadi di sekitarnya. Semakin ke belakang, tone cerita menjadi semakin getir, gelap, penuh ironi kemanusiaan. Kita dibuat lupa bahwa kita sedang membaca sebuah kumpulan cerita, dan bukan sebuah novel panjang.

Setelah membaca semua cerita itu, saya seakan melihat suatu panorama emosional, sosial-budaya dan politis dari sudut pandang kehidupan sehari-hari di sekitar akhir jaman kolonial dan masa-masa awal kemerdekaan. Panorama itu lebih berwarna kelam, sendu oleh ironi, dan hal ini dengan sangat baik tergambar pada covernya (seekor angsa yang tampak megap-megap seperti mempertahankan hidup, menitikkan air mata). Untuk semua cerita itu, Pram memang membuktikan sebagai pencerita yang ulung, sangat realistis sekaligus menyentuh. Realistis, karena penggambarannya yang tidak berlebihan dan “hidup” serta sangat kental dengan kejadian-kejadian sejarah. Menyentuh, karena Pram memotretnya secara ‘mikroskopik’, melalui kehidupan sehari-hari tokoh-tokohnya yang merupakan orang-orang sederhana yang menghadapi kejadian-kejadian itu, membawa kita masuk ke alam pikiran dan perasaan mereka yang mengalaminya. Dari sini kita jadi belajar sejarah, dalam arti melihat sejarah dari sisi yang berbeda dari yang sering kita temukan dalam buku teks sejarah yang mengutamakan fakta kronologis, namun juga belajar dari sejarah, melalui perenungan dan refleksi kemanusiaan yang dihadirkan melalui cerita-cerita itu.

Berikut kedelapan cerita dalam buku ini:

Pada cerita All That is Gone, kenangan masa-masa awal hidup sang tokoh menjadi tema utama, saat kehidupan masih sangat sederhana dalam dunia kecil yang terdiri atas ibu, bapak dan lingkungan rumah. Sejalan dengan waktu, melalui mata kanaknya, sang tokoh mulai melihat realitas yang menguak di hadapannya. Air mata ibu, kebohongan bapak, kesedihan, pertanyaan-pertanyaan, pemahaman, dan akhirnya penerimaan.

“You can do whatever you want with the things you justly earn, even your own life and your own body. Everything.” my father once told me, everything you justly earn.”

How long does it take to speak a sentence? The sound of his voice was but for a few moments. A momentary tremble of sound waves, and then it was gone, not to be repeated. Yet, like the Lusi that constantly skirts the city of Blora, like the waters of that river, the remembered sound of that voice, coursing through memory, will continue to flow – forever, toward its estuary and the boundless sea. And not one person knows when the sea will be dry and lose its tide.

But all that is gone, gone from the grasp of the senses. – hlm. 30

Cerita Inem mengisahkan tokoh Inem kecil sebagai pembantu dan teman bermain si tokoh utama yang juga masih kecil. Pola pandang budaya yang masih demikian sempit menjadikan nasib Inem begitu tragis. Ironisnya, figur yang bisa membantunya justru memilih untuk tidak melakukan apa-apa, semua demi menjaga ‘kelayakan’ dan nama baik keluarga. What a shame!

Pada In Twilight Born, sang tokoh sudah beranjak remaja. Diceritakan dalam lingkungan rumahnya ada beberapa anak angkat yang tinggal bersama dan bersekolah. Salah satunya bersikap sangat vokal dalam menyuarakan pendapatnya, terutama mengenai idealisme politik dan sosial. Sang Bapak juga aktif di luar rumah dalam organisasi sosial. Sang tokoh sangat kagum pada mereka berdua, dan sering mengimitasikan apa yang dikatakan mereka walau tidak memahami benar apa maksudnya. Suatu ketika situasi sosial politik berubah, yang berakibat keluarga sang tokoh mengalami kesulitan ekonomi. Dalam kondisi sulit seperti ini, kakak yang diidolakan dan Bapak justru sering pergi meninggalkan rumah dengan dalih menenangkan diri, pergi ke kota lain atau bermain judi untuk menghilangkan tekanan pikiran. Tinggal sang Ibu yang berjuang dari hari ke hari menyambung hidup rumah tangga. Hingga pada suatu senja, sang Ibu, dengan ditemani seorang bidan, berjuang sendiri melahirkan anak kesekian, dengan sang tokoh yang menunggu ketakutan di balik pintu.

Circumcision menceritakan tentang harapan sederhana seorang bocah yang harus pupus oleh kesadaran bahwa untuk mencapainya ternyata diperlukan biaya atau kekayaan yang besar, dimana kondisi itu jauh dari kenyataan hidupnya. Ironisnya, harapan di kepala sang bocah itu sebenarnya pun tidak ‘tepat’, karena lebih merupakan harapan sosial yang memperkarakan status religiositas individu lain. Tema ini diangkat melalui mata bocah sang tokoh.

Pada Revenge, sang tokoh yang sudah mulai dewasa di masa-masa awal kemerdekaan berpikir bahwa menjadi tentara ada cita-citanya, seperti semua pemuda di lingkungannya pada masa itu. Namun serangkaian kejadian yang dialaminya saat ia pertama kali terjun dalam perjalanan tugasnya, saat kelompok tentara itu menangkap seseorang yang dianggap sebagai mata-mata, membuatnya sadar bahwa menjadi tentara bukanlah panggilan hidupnya.

The pilgrim’s body kept being dragged on and on, but by now he was no longer human, much less a citizen of a free and democratic nation. Absolutely not! For the crowd that night, he was a wonderful plaything, no difference from a rubber ball for a cat or promises for this country’s former colonial masters.

In large office buildings far beyond the demarcation line, this act would be called facist behavior, a Nazi terror technique, or the legacy of the Japanese. In fact, it was pure stupidity, for which everyone present was to blame: the pilgrim, his judges, his executioners, and I myself. But maybe the worst thing about what happened is the pleasure that people took in playing judge. There is nothing more disastrous in life than a stupid judge. – hlm. 111

Cerita Independence Day mengisahkan tentang mantan tentara pejuang kemerdekaan bernama Kirno yang kembali ke rumah dalam kondisi cacad fisik, yaitu buta dan tanpa kaki. Duduk statis di kursi rodanya dan selalu berada dalam kegelapan, Kirno banyak melakukan refleksi atas apa yang dialaminya dan menemukan bahwa hidup membawa sejumlah paradoks, yang harus diterima. Dan, apa sebenarnya makna ‘kemerdekaan’?

Acceptance adalah cerita yang buat saya paling menyentuh dan paling membukakan mata. Pram membawa kita mengikuti kehidupan sebuah keluarga sederhana di masa kedatangan Jepang dan perang revolusi di awal kemerdekaan. Nasib keluarga ini seakan ikut terseret naik turunnya berbagai ideologi yang bergantian berkuasa di sepanjang masa itu, apakah itu nasionalis atau sosialis. Keberuntungan dan kemalangan bergantian menghampiri keluarga itu. Pertolongan dan malapetaka bisa datang dari pihak yang sama, pihak yang kita anggap baik maupun buruk. Semua begitu relatif. Lagi-lagi, semua hanyalah masalah kekuasaan dan menguasai orang lain. (Saya jadi teringat akan fabel Animal Farm dari George Orwell, yang dalam cerita ini menemukan bentuk konkretnya). Dan, nasib keluarga ini begitu tragis hingga Sri, dari sudut mana narator bercerita, menumbuhkan sikap ‘acceptance‘ lebih supaya bisa bertahan hidup dari keabsurdan yang dialaminya.

On this occasion, as had happened so many times before, Sri told herself to accept what had happened, that with acceptance everything would again be all right. – hlm. 210

The Rewards of Marriage adalah cerita tentang harapan dan kenyataan. Apa yang tadinya kita impikan ternyata begitu tercapai mengimplikasikan hal-hal yang kita ingin hindari.

Membaca cerita-cerita Pram kita dipaparkan akan begitu banyak paradoks dan ironi, bukan dari hal-hal yang besar, tapi justru dari serpihan kehidupan sehari-hari. Pada cerita-cerita itu, sangat terasa bahwa Pram tidak menggurui, apalagi menentukan pembaca harus bagaimana. Ia hanya menyajikan, memaparkan. Tinggal kita yang melihat, meresapi, dan berefleksi atasnya. Pikiran dan perasaan tokoh-tokoh itu adalah bagian dari pikiran dan perasaan kita juga, sebagai manusia. Buku ini pada akhirnya adalah tentang manusia. Konteks jaman kolonial dan kemerdekaan hanyalah sebuah latar belakang. Manusia, dari status apapun, dari jaman kapanpun dan di belahan bumi manapun, merasa bahagia oleh sebab yang sama, dan merasa sedih atau terluka oleh hal yang sama. Itulah inti sederhana dari humanity.

A literary gem.

*Membaca buku ini adalah bagian dari Membaca Sastra Indonesia 2013 – Klasik, dan Baca Bareng BBI bulan Februari dengan tema Buku Pram (memperingati ulang tahun beliau di bulan Februari ini).

Membaca Sastra Indonesia 2013

BBI_asli logo

A Child’s Garden of Verses – Robert Louis Stevenson

a child's garden of versesA Child’s Garden of Verses adalah buku puisi yang awalnya ditulis penulis Skotlandia, Robert Louis Stevenson, untuk anak-anaknya. Buku kumpulan sajak untuk anak ini pertama kali terbit pada tahun 1885, dan sejak itu menjadi buku anak klasik yang demikian dicintai karena siapapun yang membacanya akan merasa masuk ke dunia kanak yang begitu penuh imajinasi dan rasa takjub akan hal-hal sederhana. Apalagi, buku ini juga tampil dengan serangkaian goresan ilustrasi yang begitu indah.

Sajak-sajak yang ada dalam buku ini sangat sederhana karena ditujukan untuk anak-anak mulai usia 3 tahun, dimana umumnya sajak-sajak ini akan dibacakan oleh orang dewasa yang mengasuh si anak. Layaknya garden of verses, sebuah ‘taman kata-kata’, sajak-sajak itu hadir dalam bahasa yang indah dan selalu mempertahankan rima. Tema yang disajikan beragam, tentang alam, kebun, persahabatan, buku cerita, ajakan untuk berperilaku baik, dan lainnya, yang kesemuanya membersitkan rasa cinta dan pesan bahwa hidup ini begitu positif dan indah.

Berikut beberapa dari sajak-sajak favorit saya:

happy thought

Bed in Summer

In winter I get up at night
And dress by yellow candlelight.
In summer, quite the other way,
I have to go bed by day
 
I have to go bed and see
The birds still hopping on the tree,
Or hear the grown-up people’s feet
Still going past me in the street.
 
And does it not seem hard to you,
When all the sky is clear and blue,
And I should like so much to play,
To have to go to bed by day?

Picture Books in Winter

Summer fading, winter comes –
Frosty morning, tingling thumbs,
Window robins, winter rooks,
And the picture story-books.
 
Water now is turned to stone
Nurse and I can walk upon;
Still we find the flowing brooks
In the picture story-books.
 
All the pretty things put by,
Wait upon the children’s eye,
Sheep and shepherds, trees and crooks,
In the picture story-books.
 
We may see how all things are,
Seas and cities, near and far,
And the flying fairies’ looks,
In the picture story-books.
 
How am I to sing your praise,
Happy chimney-corner days,
Sitting safe in nursery nooks,
Reading picture story-books.

Whole Duty of Children

A child should always say what’s true
And speak when he is spoken to,
And behave mannerly at table – 
At least as far as he is able.
 
 

Happy Thought

The world is so full of a number of things,
I’m sure we should all be as happy as kings.
 

picture books in winter1Robert Louis Stevenson adalah juga penulis buku The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde, Treasure Island, Kidnapped, dan beberapa buku travel.

*membaca buku ini adalah bagian dari Fun Year Event With Children Literature, untuk Fun Month Jan/ Feb, kategori Classics.

Children Lit FYE-button

Books on France 2013 Reading Challenge

books-on-franceThis year I’d like to be participating in Books on France 2013 Reading Challenge, hosted by words and peace. I love french literature, or books with setting in France, and this year I’d like to dwell into considerable amount of time reading more books of this kind of literature.

There are levels to choose in terms of how many books you want to read for this challenge, and I would take for Level 2, “beaucoup”, which means reading 6 books on France. Here is the list (a bit more than 6 books, as I have read 2 from my January reading):

  1. One of Emile Zola‘s books (I’ll decide later which to read)
  2. Les Misérables by Victor Hugo (I failed to finish reading the e-book last year, will restart and continue this year with the conventional paper book)
  3. The Last Day of A Condemned Man, also by Victor Hugo
  4. Sentimental Education by Gustave Flaubert
  5. La Gloire de Mon Père by Marcel Pagnol, a souvenir d’enfance, a genre that I love much. (Read)
  6. L’Amant by Marguerite Duras (Read)
  7. Printemps et Autres Saisons by J. M. G. Le Clézio
  8. Perhaps, Memoirs of A Dutiful Daughter by Simone de Beauvoir (I’ve long wanted to read her memoirs, but I also know that it needs a certain mood to read this kind of book, so I’ll see). Or, Travels with a Donkey in the Cévennes, by Robert Louis Stevenson, a travel memoir.

 

Fun Year Event with Children Literature 2013

Children Lit FYE-buttonDi tahun 2013 ini saya mengikuti Fun Year Event with Children Literature 2013, yang dikelola oleh Bacaan B.Zee untuk Fun-Months, dan Hobby Buku untuk Read-Along-nya.

Walau Read-Along-nya sangat menarik dengan buku-buku Laura Ingals Wilder (favorit saya) dan lainnya, saya akhirnya memutuskan hanya mengikuti Fun Months-nya karena memungkinkan pilihan baca yang lebih luas dan lebih sesuai dengan reading plan saya. Dalam setahun, ada 5 Fun-Months dengan tema yang berbeda-beda. Ini pilihan buku-bukunya:

Fun Months 1 → Januari – Februari
Tema – Classic / Bildungsroman / Awards’ Winner
Harry Potter 1-2 – J. K. Rowling (Awards’ Winner), A Child’s Garden of Verses – Robert Louis Stevenson (Classics), dan Great Expectations dan Hard Times dari Dickens (Classics).

Fun Months 2 → Maret – April
Tema – Short Stories / Fairy Tales
Tales from The Arabian Nights – ed. Andrew Lang (Fairy Tales & Short Stories)

Fun Months 3 → Mei – Agustus
Tema – Series / Trilogy / Fantasy / Adventure
Trilogy Lord of The Rings – J. R. R. Tolkien, atau seri Anne of the Green Gables 3-5 – L. M. Montgomery, atau fantasi/ trilogi City of The Beast – Kerajaan Naga Emas – Hutan Para Pigmi dari Isabel Allende, dan juga meneruskan seri Harry Potter 5-7.

Fun Months 4 → September – Oktober
Tema – Mystery / Classic / Bildungsroman
Twenty Thousands Leagues under The Sea dan/atau 80 Hari Keliling Dunia – Jules Verne (Classics), dan The Railway Children – Edith Nesbit (Classics), dan Call of the Wild – Jack London (Classcis)

Fun Months 5 → November – Desember
Tema – Realistic Fiction / Awards’ Winner
Buku-buku pemenang Newbery Medal (Awards’ Winner & Realistic Fiction)

Dan oh, saya suka surat dari Opa C. S. Lewis di bawah ini:

letter C S Lewis

[Hotter Potter] Harry Potter and The Sorcerer’s Stone

hotter-potter-logoPertama, thanks to Melisa yang sudah mengadakan event yang menyenangkan ini. Ini adalah membaca seri Harry Potter yang pertama kali buat saya. Well, tidak sepenuhnya yang pertama kali, karena buku pertama ini saya sempat membacanya di tahun 2000, tapi saya tidak merasa ‘konek’ dengan tokoh dan ceritanya, dan lalu berhenti tanpa selesai. Padahal saya sempat memiliki buku Harry Potter ke-1 dan ke-2 sekaligus, waktu itu masih bahasa Inggris. Tokoh Harry dan lainnya saat itu saya temukan terlalu ajaib, dan dengan segala keajaiban sihir yang mampu mereka ciptakan, kenapa pula harus resah dengan semua masalah yang mereka hadapi itu, pasti semua akan beres? Yah, mungkin saya sedang tidak mood saja dengan cerita jenis itu. Heboh Harry Potter pada tahun itu, pun tahun-tahun setelahnya, juga belum membuat saya tergerak untuk membaca seri ini lagi. Walau demikian, saya tidak pernah berhenti di situ dan menganggap tidak akan membaca buku Harry Potter. Suatu saat, saya akan mengunjunginya lagi. Bila menemukan buku yang ‘tidak pas’, saya cenderung berpikir hal itu lebih disebabkan karena mood saya yang belum cocok, atau waktunya belum tepat. Seringkali, saat saya mengunjungi kembali buku itu dan mencoba membacanya lagi, bertahun-tahun kemudian, saya memiliki impresi yang sama sekali berbeda.

Nah, begitu juga dengan buku Harry Potter ini. Di akhir tahun 2012 lalu, tiba-tiba mood saya untuk membaca genre fantasi dan petualangan muncul kembali, bahkan sempat searching sana-sini untuk mencari beberapa koleksi yang saya inginkan (maklum, penimbun buku kronis). Dan, tepat saat itu Melisa dari Surgabukuku mengumumkan tentang event Hotter Potter ini, maka dengan senang hati saya bergabung.

harry-potter-7-buku-setMaka, saya membeli edisi lengkap boxset hardcover yang berbahasa Indonesia. Siap mengunyah buku-buku ini. Dengan mood yang mendukung, plus penerjemahan yang tiada cacad dan begitu ‘engaging’ (terima kasih Ibu Listiana Srisanti, karya penerjamahan ini kiranya menjadi salah satu legacy beliau), saya menyelesaikan dan menikmati benar buku Harry Potter and the Sorcerer’s Stone ini, bahkan menyelesaikannya dengan terlalu cepat, karena buku ke-2 yang harusnya untuk bulan depan pun sudah langsung selesai saya lahap. 🙂

harry potter 1Begitulah. Untuk isi bukunya, dimana penulis lebih menguraikan tentang latar belakang tokoh Harry Potter dan lainnya, dan berlanjut dengan tahun pertamanya di Hogwarts yang penuh hal baru dan kejutan, sepertinya sebagian besar pembaca buku sudah begitu memahaminya. Satu hal yang saya kagumi dari penulisan J. K. Rowling adalah cara beliau memulai kisah. Diambilnya suatu adegan sehari-hari secara mikroskopik, dan dari sana penceritaan menjalar ke dunia yang lebih luas. Membuat kita seakan ikut berada dalam kisah itu. Plotnya juga cukup seru (dan buku ke-2 saya temukan jauh lebih seru!). Mendekati bagian akhir, kita seperti diingatkan oleh penulis untuk tidak memandang sesuatu atau seseorang seperti sebagaimana mereka tampak secara kasat mata, karena dibalik itu, seringkali kita menemukan hal-hal lain yang berlawanan, baik hal baik maupun buruk. Sesuatu itu tidak melulu seperti bagaimana ia tampak atau bagaimana ia dipandang oleh sebagian besar orang. Dan hal ini berlaku juga dalam pertemanan. Lihat saja bagaimana proses Harry, Ron dan Hermione sebelum mereka akhirnya menjadi kawan-kawan sejati.

Satu hal yang saya pikir agak aneh adalah penggunaan sapu dengan kapasitas kecepatan yang berbeda-beda pada permainan quidditch. Di pertandingan itu, setiap pemain boleh menggunakan jenis sapu yang berbeda-beda, ada yang canggih dengan kemampuan terbang sangat cepat, ada yang biasa atau lemah. Memang di sini kemampuan pemain tetap merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan, namun kecanggihan sapu untuk melesat cepat tanpa usaha dari si pemain juga jadi sangat menentukan kemenangan. Bukankah ini aneh dan jadi tampak tidak fair? Apalagi permainan quidditch disini dianggap sebagai semacam ‘pertandingan olahraga’, yang biasanya menyungsung nilai-nilai fairness (semua tim memiliki kesempatan yang sama) dan sportivitas. Mungkin Rowling ingin menunjukkan bahwa toh dengan materi pendukung yang canggih suatu kelompok belum tentu menang walau kesempatan jadi jauh lebih besar, karena ada faktor lain yang lebih menentukan, seperti ketekunan berlatih misalnya. Yang saya anggap aneh adalah Hogwarts sebagai sekolah membuat peraturan itu dan menganggap normal saja. Buat saya quidditch jadi kurang seru sebagai pertandingan karena menjadi seakan pertandingan antar sapu tercanggih, atau tentang keberuntungan, bukan tentang pemainnya.

Buku ke-3 sudah mulai memanggil-manggil untuk saya baca, tapi sepertinya harus saya tahan dulu untuk membacanya pada waktunya. Kalau tidak, bisa jadi sebulan dua bulan ini bacaan saya hanya Harry Potter buku 1-7! 🙂

Saya suka quote ini:

” Lagi pula, bagi pikiran yang terorganisir dengan baik, kematian hanyalah petualangan besar berikutnya” –hlm. 367.

Posting ini sekaligus sebagai posting buku anak untuk Fun Year Event with Children Literature untuk Fun Month 1 kategori awards winner, dimana buku Harry Potter and the Sorcerer’s Stone ini memenangkan sejumlah awards seperti tertera di bawah ini. Buku Harry Potter ini kiranya bisa dibaca mulai usia 9 tahun.

  1. Nestlé Smarties Book Prize 1997 Gold Medal 9-11 years
  2. FCBG Children’s Book Award 1997 Overall winner and Longer Novel Category Birmingham
  3. Cable Children’s Book Award 1997
  4. Young Telegraph Paperback of the Year 1998 Carnegie Medal 1998 (Shortlist)
  5. British Book Awards 1997 Children’s Book of the Year
  6. Sheffield Children’s Book Award 1998
  7. Whitaker’s Platinum Book Award 2001

Children Lit FYE-button

Membaca Sastra Indonesia 2013 – Klasik dan Kontemporer (target baca)

Membaca Sastra Indonesia 2013Untuk Membaca Sastra Indonesia 2013 – Klasik dan Kontemporer, saya berencana membaca paling tidak 12 buku sastra Indonesia, yang terdiri atas 8 klasik dan 4 kontemporer.

Klasik: (tepatnya modern classics)

  1. All That is Gone – Pramoedya A. Toer (saya hanya punya edisi bahasa Inggris keluaran Penguin Books. Buku kumpulan cerita ini adalah terjemahan dari Cerita dari Blora yang terbit tahun 1952).
  2. The Mute Soliloquy – Pramoedya A. Toer (atau Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, merupakan memoar Pram saat beliau ditahan di Pulau Buru. Ditulis antara tahun 1965 – 1979, namun edisi bahasa Inggris yang saya punya, juga keluaran Penguin Books, terbit tahun 1995).
  3. Ziarah – Iwan Simatupang (Iwan Simatupang adalah penulis Indonesia yang sempat tinggal di Paris dan belajar filsafat di Universitas Sorbonne, dan karya-karyanya dianggap banyak menyiratkan eksistensialisme yang marak di Perancis. Saya belum pernah membaca karya beliau dan karenanya ingin mencobanya. Ziarah terbit tahun 1969).
  4. Senja di Jakarta – Mochtar Lubis
  5. Jalan Tak Ada Ujung – Mochtar Lubis
  6. Manusia Indonesia – Mochtar Lubis (3 buku Mochtar Lubis yang ingin saya baca tahun ini. Senja di Jakarta, terbit pertama kali justru dalam bahasa Inggris pada tahun 1963, menyusul bahasa Indonesia tahun 1970, dan Jalan Tak Ada Ujung, terbit 1952, sarat dengan potret sejarah walau mengangkat cerita sehari-hari dari tokoh-tokoh yang ada di jaman itu. Manusia Indonesia merupakan pidato kebudayaan yang dibawakan Mochtar Lubis di tahun 1977 di Taman Ismail Marzuki, yang isinya dipandang banyak orang masih sangat relevan dengan situasi saat ini).
  7. Di Bawah Langit Tak Berbintang – Utuy Tatang Sontani (Kenapa buku ini? Utuy Tatang Sontani adalah salah satu penulis ternama angkatan 45, yang banyak membuat karya lakon. Pada 1 Oktober 1965, bersama sejumlah penulis dan wartawan Indonesia, ia menghadiri suatu perayaan di Beijing atas undangan pemerintah Tiongkok. Peristiwa G30S membuatnya tidak bisa kembali ke Indonesia dan terlunta-lunta, hingga pecahnya revolusi kebudayaan di Beijing setahun kemudian membuatnya bermigrasi ke Eropa Barat melalui Trans Siberia, namun Utuy Tatang Sontani akhirnya berdiam di Moskwa, hingga akhir hayatnya. Di Bawah Langit Tak Berbintang adalah memoar beliau atas perjalanannya dalam pengasingan hidup di negeri orang, yaitu di Tiongkok dan Rusia. Di Rusia, beliau masih menghasilkan sejumlah karya, bahkan berkiprah mengembangkan Sastra Indonesia di Universitas Negara Moskwa. Sebagai penghormatan kepada beliau, pemerintah Rusia menempatkan nisannya sebagai nisan pertama di pemakaman muslim yang dibuat di kota itu. Kisah hidup ini membuat saya terharu, dan karenanya ingin membaca memoar beliau ini. Selama masa pengasingan, Utuy Tatang Sontani tidak sakalipun berkesempatan pulang ke Indonesia, walau ia sangat merindukannya. Nama Utuy Tatang Sontani hadir di benak saya saat namanya disebut dalam salah satu diskusi di Ubud Writers and Readers Festival 2012 lalu).
  8. Hujan, Panas dan Kabut Musim – A. A. Navis (setelah membaca Robohnya Surau Kami dan sangat terkesan, saya ingin membaca karya A. A. Navis lainnya).

Kontemporer:

  1. Pulang – Leila S. Chudori
  2. Amba – Laksmi Pamuntjak
  3. Sebuah sastra populer dari Alberthiene Endah
  4. ….. (novel Clara Ng, tulisan perjalanan Agustinus Wibowo, atau lainnya).

Name-in-A-Book Challenge 2012 dan Mini-Reviews

Posting ini merupakan wrap-up untuk Name-In-A-Book Challenge dari blog Fanda. Syarat reading challenge ini adalah membaca karya fiksi yg memiliki unsur nama atau personifikasi pada judulnya. Minimal membaca 6 buku selama tahun 2012. Ternyata saya membaca 19 buku! Untuk challenge ini, saya sekaligus ingin mengikis tumpukan TBR di rak buku saya, walau ada juga beberapa buku yang baru dibeli tahun 2012 ini, dan kebetulan memang buku-buku itu mengandung unsur nama pada judulnya. Jadi, tanpa direncanakan ternyata saya membaca cukup banyak buku untuk challenge ini.

Berikut ke-19 buku tersebut beserta mini-review-nya.

henry sugar1. The Wonderful Story of Henry Sugar and Six More – Roald Dahl. Ini adalah buku kumpulan cerita dari pencerita kawakan, Roald Dahl, yang ia tujukan bagi pembaca remaja. Semua cerita mengandung unsur kocak sekaligus wittiness ala Dahl. Cerita yang paling berkesan buat saya adalah The Wonderful Story of Henry Sugar, yang membuat kita berpikir tentang arti kekayaan materi dan makna bahagia. Tema yang sebenarnya cukup dalam untuk cerita remaja, namun Dahl berhasil mengemasnya menjadi kisah yang demikian menarik dan membekas. (Puffin books, English)

Hector_cover_FINAL2. Hector and the Search for Happiness – Francois Lelord. Beli buku ini di Ubud Writers and Readers Festival 2011 lalu. Bercerita tentang psikiater Hector yang melakukan perjalanan ke berbagai negara demi mencari definisi ‘bahagia’. Ada sejumlah definisi yang ia temukan, salah satunya adalah: “making comparisons can spoil your happiness“. Bener banget! Terlepas dari definisi-definisi bahagia yang sangat membukakan mata, secara keseluruhan saya kurang menikmati membaca buku ini, mungkin karena kekakuan kalimat atau gaya penyampaian yang agak repetitif. (Penguin books, English)

les-papillons-de-victor3. Les Papillons de Victor/ Virginie Kasse &  Melissa Sunjaya. Buku kecil yang saya beli lebih karena goresan ilustrasinya daripada ceritanya. Ilustrasi-ilustrasinya dengan seketika menumbuhkan rasa riang dan optimisme. Pencinta ilustrasi sepertinya akan menikmati buku ini. Kekurangannya hanya satu, buku ini terlalu tipis, berakhir terlalu cepat saat kita masih ingin menikmati goresan-goresan ilustrasinya lagi dan lagi. (Tulisan, French)

fatima4. Fatima’s Good Fortune/ Joanne & Gerry Dryansky. Buku ini menurut saya patut dibaca secara luas karena ceritanya yang humanis dan pesan moral sederhana yang diusungnya. Be good, do good, the rest is in God’s hand. Dikarang oleh sepasang suami istri yang tinggal di Paris yang hobi menulis bersama sambil duduk di cafe, buku ini menyajikan cerita yang hangat dengan penceritaan yang hidup dan penokohan yang demikian riil. Kita seakan ikut berada di sudut-sudut kota Paris, bukan yang turistik, namun yang biasa dilalui kaum parisiens, berjalan di trotoarnya, atau mencium sekelebatan aroma kopi dari cafe-cafe pinggir jalan. Bukan sesuatu yang klise juga, karena penulis memotret dinamika sosial yang berlangsung di bawah atap-atap apartemen Paris, sesuatu yang menjadikan buku ini berbeda. (M-Pop/ Matahati, Indonesia)

gambar adalah versi asli hard cover

5. The Invention of Hugo Cabret/ Brian Selznick. Buku collectible item karena unsur cerita yang unik dan ilustrasi yang brilian. Melihat ilustrasi karya Selznik ini, dan membuka lembaran-lembaran halamannya, saya seakan melihat gambar hidup terpampang di depan mata. Ceritanya juga mengandung unsur sejarah yang kental. Historical fiction yang dikemas dengan sedikit fantasi, dan ditujukan bagi pembaca young adult. Brilian, kan? (Mizan, Indonesia)

le petit nicolas a des ennuis6. Le Petit Nicolas a des Ennuis/ Goscinny & Sempe. Membaca ulang buku ini, masih saja saya tersenyum-senyum membayangkan si petit Nicolas yang polos dan gerombolan teman-temannya yang selalu jumpalitan bikin kekacauan. Bukan melulu maksud mereka membuat kekacauan, tapi dunia yang diciptakan orang dewasa ini memang kadang sulit dimengerti. (Folio, French)

therese raquin7. Thérèse Raquin/ Emile Zola. Buku Zola pertama yang saya baca, dan merupakan salah satu buku terbaik yang saya baca di tahun 2012. Walau tidak ada karakter yang akan kita suka di buku ini, ceritanya pun jauh dari hangat, Zola memotret watak tokoh-tokohnya dengan tajam dan begitu konsisten, sehingga terasa nyata, logis, dan wajar saja jika kejadian dramatis yang diceritakan itu bisa terjadi. Seperti diakui oleh Zola, buku ini memang tentang watak para karakternya. Zola sedang ingin bereksperimen dengan hipotesisnya mengenai beberapa watak manusia dan bagaimana watak yang berbeda-beda itu bereaksi terhadap suatu situasi. (Gramedia, Indonesia) 

jane eyre8. Jane Eyre/ Charlotte Bronte. Juga merupakan salah satu buku terbaik yang saya baca di tahun 2012. Karakter Jane yang kuat sejak awal buku, dan sikapnya yang berani, membuat saya tidak sependapat dengan beberapa pembaca lain yang menilai buku ini begitu membosankan. Bagian yang menurut saya agak membosankan saya temukan hanya ada di bagian penceritaan Mr. Rochester dan pergaulannya dengan kalangan bangsawan, kehidupan yang dangkal dan penuh klise. Charlotte Bronte menciptakan karakter Jane Eyre yang menurut saya banyak menyiratkan pandangan feminisme, yang pada saat buku ini ditulis tentu masih merupakan hal yang baru dan berani untuk diungkapkan. Adaptasi film, yang saya sempat tonton dalam dua versi yang berbeda, dalam pendapat saya masih tidak mampu menghadirkan karakter Jane Eyre dan ceritanya, setidaknya seperti yang saya bayangkan saat membaca buku ini. (Penguin, English)

Clara's Medal9. Clara’s Medal/ Feby Indirani. Saat melihat covernya, saya berpikir ini buku teen-lit biasa. Dari review di suatu blog saya baru tahu bahwa ini tentang kisah sekelompok remaja yang sedang berada dalam karantina persiapan Olimpiade Fisika. Tema yang menarik, maka saya coba baca. Tentu sebagai bacaan remaja, tetap ada unsur remajanya dengan segala masalah dan tantangan yang mereka hadapi. Saya menemukan karya Feby Indirani ini sebagai yang layak dibaca, ya dari sudut isi maupun bahasanya. Mungkin karena saat membacanya, saya sudah meng-klik otak saya untuk suatu bacaan remaja, saya menikmati membaca buku ini, walau termasuk sangat jarang membaca buku yang ditujukan untuk remaja. Saya berniat membaca karya Feby Indirani lainnya. (Qanita, Indonesia)

dicintai jo10. Dicintai Jo/ Alberthiene Endah. Nah, ini juga menjadi salah satu buku yang paling saya nikmati membacanya di tahun 2012. Tema metro-pop dengan sangat berhasil digarap dan disajikan oleh Alberthiene Endah dengan cara yang begitu natural sekaligus tidak klise. Penulis selalu menyajikan situasi dalam dua sisi, dan membiarkan pembaca melihat kedua sisi tersebut. Penulis tidak menyodorkan pilihannya kepada pembaca. Hal inilah yang saya sukai dari tulisan Alberthiene Endah, dan menurut saya merupakan kekuatan dari karya-karya beliau. Walaupun banyak memakai pembahasaan populer seperti lo, gue, tetap terasa rapi karena bahasa populer tersebut hanya ada dalam percakapan atau pemikiran tokohnya, saat narasi, penulis kembali ke bahasa Indonesia yang rapi. Secara pribadi buku ini juga berkesan buat saya karena membawa saya kembali ke jaman saat saya mulai bekerja di Jakarta, lingkungan kantor dan teman-teman, termasuk tempat-tempat ‘melarikan diri’ yang kok sama dengan pengalaman saya! 🙂  (Gramedia, Indonesia)

memoirs of sherlock holmes11. The Memoirs of Sherlock Holmes/ Sir Arthur Conan Doyle. Buku kumpulan cerita dari Sir Arthur Conan Doyle yang pertama kali saya baca. Ya, memang saya terlambat sekali mengenal pasangan sosok Sherlock Holmes yang nyentrik dan Dr. Watson yang sangat rasional ini. Buku ini berisi kumpulan cerita paling memorable yang diceritakan dari sudut pandang Dr. Watson. Karena membaca buku ini, saya jadi ingin membaca cerita Sherlock Holmes lainnya, bahkan mengoleksi seluruh cerita Sherlock Holmes! 🙂 (Gramedia, Indonesia)

siddhartha12. Siddhartha/ Hermann Hesse. Buku klasik karya penulis Jerman ini mengingatkan saya untuk melihat dunia/ kehidupan secara utuh, tidak satu sisi. Melihat hal yang bertentangan tidak melulu sebagai sesuatu yang pasti berlawanan. Juga dalam membedakan antara wisdom dan knowledge. Buku ini berkisah tentang seorang pemuda bernama Siddhartha yang melakukan perjalanan untuk mencari makna hidup (walaupun memakai nama sama, buku ini bukan tentang Sidharta Gautama, sang Buddha), dan bahwa penemuan wisdom itu harus dialami sendiri, bukan dengan sekedar mengikuti cara orang lain atau jalan yang dilalui sang guru sekalipun. (Bantam Books, English)

dr jeckyll13. Dr. Jekyll & Mr. Hyde/ Robert Louis Stevenson. Di buku ini Stevenson ingin menyajikan fakta bahwa dalam diri setiap manusia ada unsur baik dan unsur buruk, sifat mulia dan juga karakter buas kebinatangan, yang kesemuanya harus diatur dan dikendalikan (baca: bukan dihilangkan atau dianggap tidak ada, karena pasti akan tetap muncul dalam bentuknya yang lain). Membaca buku ini ingatan saya tidak bisa lepas dari teori psikoanalisa Freud, dimana manusia terdiri atas id, ego dan superego dengan segala dinamikanya, dan dalam hidup sang ego tak berkesudahan mengendalikan kekuatan dari baik id dan superego. Walau kisah dalam buku ini ada sedikit elemen fantasi, cerita dan tokohnya terasa sangat riil dan relevan dalam kehidupan nyata. (Gramedia, Indonesia)

dracula - bram stoker - constable edition14. Dracula/ Bram Stoker. Membaca buku ini karena ingin mengetahui kisah asli dari Dracula, sesuai yang dikarang penulisnya pada akhir abad ke-19. Soalnya, banyak sekali kisah-kisah Dracula yang beredar, yang semuanya saya rasa terlalu penuh dengan fantasi atau romance. Ternyata bukunya sedikit beda, sukses membuat saya ketakutan karena atmosfir gelap dan teror mental dari si sosok Dracula! 🙂

arok dedes15. Arok Dedes/ Pramoedya A. Toer. Buku ini merupakan fiksi sejarah yang membawa kita mundur ke jaman kerajaan-kerajaan di Jawa di era Nusantara pada abad ke 13, cikal bakal manusia Indonesia. Kental dengan unsur politis, Pram dengan piawai memintal kisah yang penuh dengan intrik politik dan kekuasaan, sambil menebarkan fakta-fakta sejarah di sana sini. Buku ini ditulis Pram saat ia masih dalam tahanan di Pulau Buru, dan saya jadi demikian kagum akan ingatan detil sejarah Pram yang mampu menulis karya sedetil dan sefaktual ini dalam tempat dan kondisi yang demikian minim (di Pulau Buru kan tidak ada perpustakaan!). Buku ini juga bisa dibilang sarat dengan metaforik kritik Pram atas pemerintahan dan tokoh-tokoh Orde Baru. (Lentera Dipantara, Indonesia)

lalita16. Lalita/ Ayu Utami. Lalita mengisahkan sosok perempuan bernama Lalita yang mempunyai kesejarahan dengan candi Borobudur. Masih berkisar tiga sekawan Parang Jati – Marja – Yuda, seperti yang ada di buku-buku sebelumnya, Bilangan Fu serta Manjali dan Cakrabirawa, buku ini mengupas suatu kisah sejarah dengan diselingi kisah perkawanan dan percintaan dari ketiga tokoh utama tersebut, dan ‘ajakan’ untuk menerima kehadiran ‘bayang-bayang’ sebagai sisi gelap atau sisi lain dari diri kita. Tanpa kita mampu menyeberang dan menerima sisi yang lain tersebut, kita tidak akan sampai pada sesuatu yang lebih tinggi. (KPG, Indonesia)

adventures of huckleberry finn17. Adventures of Huckleberry Finn/ Mark Twain. Saat SMP dulu, saya sempat membaca Petualangan Tom Sawyer (bahasa Indonesia, edisi unabridged) hingga dua kali karena suka dengan gaya bercerita Twain. Baru belakangan ini saya sempat membaca bukunya yang lain, Petualangan Huckleberry Finn dan ternyata saya sangat menyukainya. Saya pikir buku Huckleberry Finn ini lebih seru, lebih ironis, dan lebih menyajikan pergulatan moral, terutama dalam hal memilih antara melakukan hal yang benar tapi jelas-jelas akan menyulitkan, atau melakukan yang salah tapi sudah pasti selamat. Suatu pertanyaan moral yang selalu ada, dimana pun, di usia hidup berapa pun, membuatnya selalu relevan. Membaca karya Twain saat SMP dan sekarang saat saya sudah ‘berumur’ tentu membawa perbedaan, terutama dalam hal interpretasi, namun pastinya tetap merupakan pengalaman membaca yang mengasyikkan. Benar-benar sebuah buku yang layak dibaca dan dibaca ulang suatu saat nanti. (Elex Media Komputindo, Indonesia)

life of pi18. The Life of Pi/ Yann Martell. Walau sudah memiliki buku ini sejak 2010 lalu, bahkan dengan tanda tangan penulisnya (saya menghadiri summer reading di toko buku Shakespeare and Co, Paris, dimana beliau saat itu hadir menjadi pembicara untuk bukunya yang terbit di tahun itu, Beatrice and Virgil), saya baru benar-benar mood membacanya bulan Desember lalu, saat adaptasi filmnya hadir di cinema. Beruntung saya sempat membacanya sebelum saya menonton filmnya. Menurut saya, buku ini adalah buku yang sangat kaya, mau diinterpretasi secara ringan dan sekedar adventure, ataukah dimaknai secara dalam dan filosofis, semuanya dimungkinkan. Cara Yann Martell bercerita juga sangat brilian, hal abstrak seperti Tuhan bisa digambarkan dengan sangat mudah dimengerti. Saya menikmati setiap paragraf dan menutup buku ini dengan perasaan kehilangan. Life of Pi adalah buku kontemporer yang menurut saya mempunyai peluang besar untuk dianggap klasik pada waktunya nanti. (Canongate, English)

nawilla19. NaWilla/ Reda Gaudiamo. Merupakan kumpulan cerita atas kejadian sehari-hari dari sudut pandang NaWilla, seorang anak perempuan berusia 5 tahun yang tinggal di suatu sudut kota Surabaya. Dengan setting di era ketika TVRI masih menjadi satu-satunya saluran TV yang bisa ditonton, dan anak-anak masih bermain bersama di pekarangan atau di gang depan rumah dalam permainan seperti kelereng, masak-masakan dan sejenisnya, buku ini memberi nuansa kenangan tersendiri. Ya, buku ini memang digolongkan oleh Reda penulisnya sebagai Serial Catatan Kemarin, yang mengambil ide dari cerita-cerita Le Petit Nicolas. Buat saya, cerita-cerita sederhana yang terangkum di buku ini terasa manis dan penuh kenangan, namun mungkin belum tentu bagi pembaca ‘generasi sekarang’ dimana mereka sejak lahir pun sudah berada di jaman digital, mungkin sulit bagi mereka menikmati situasi yang diceritakan. Saya mengenal nama Reda pertama kali saat beliau menyanyikan musikalisasi puisi dari Sapardi Djoko Damono. (Aikon, Indonesia)