Best Books 2013

Haloo..

Setelah sekian lama absen dari blogging dan blog ini ‘nganggur’ berbulan-bulan, kini saya kembali lagi.. Saya awali dengan membagi cerita tentang buku terbaik yang saya baca di tahun 2013.

cat in the window - karya Jean-Jacques Sempé
cat in the window – karya Jean-Jacques Sempé

Kegiatan membaca sebenarnya tetap berjalan seperti biasa, malah saya sempat ‘mencicipi’ genre yang saya jarang sentuh dan membaca beberapa buku dari pengarang yang kali itu karyanya pertama kali saya baca. Melepaskan diri dari beberapa ‘rencana baca’ dan membiarkan diri mengalir mengikut ‘mood baca’ (dalam arti membaca apa dan kapan), ternyata membawa saya pada penemuan-penemuan menarik. Ibarat melakukan sebuah perjalanan, melakukan pengembaraan atau flâner membuat kita mengobservasi dan menyerap lebih banyak hal sepanjang perjalanan itu, dibanding melakukan perjalanan yang berfokus pada destinasi. Rencana baca semula memang jadi agak porak poranda, namun kenikmatan membaca ternyata lebih saya rasakan. Karena tidak memperdulikan target baca, saya jadi lebih ‘bebas’, menemukan banyak hal kecil yang biasanya saya lewatkan, dan banyak bagian  buku saya temukan begitu ‘memorable’. Saya juga membaca lebih tanpa ekspektasi tertentu, saya ingin menemukan buku itu apa adanya, dan berkenalan dengan apa yang sebenarnya penulis ingin sampaikan melalui karyanya itu. Sejumlah buku-buku itu akhirnya menjadi buku yang saya golongkan sebagai buku terbaik 2013. Berikut ulasan singkatnya.

la gloire de mon pere1. La Gloire de Mon Père – Marcel Pagnol. The Glory of my Father. Sebuah novel autobiografis dari penulis, playwright dan cinematographer Perancis. Tentang kehidupan masa kanak-kanak penulis, saat papa, maman dan keluarga terdekat adalah dunia terintim si tokoh. Di musim panas, seperti biasa, mereka pergi berlibur ke pedesaan Provence, menginap di sebuah villa tua. Marcel kecil sangat ingin ikut pergi berburu burung bersama papa dan pamannya, namun tentu saja tidak diperbolehkan. Dengan suatu cara akhirnya ia berhasil mengikuti kedua orang dewasa itu pergi ke hutan, yang akhirnya membuatnya mengalami petualangan mendebarkan, pengenalan pada alam dan dirinya sendiri. Ditulis dengan bahasa yang sophisticated, menghadirkan alam Provence Perancis yang khas saat musim panas, kehangatan keluarga ‘jaman dulu’ yang begitu sederhana. Menyentuh sekaligus komikal. Terbit pertama kali tahun 1957. Ilustrasi keren oleh Sempé .

lAmant2. L’Amant – Marguerite Duras. The Lover. Tentang kenangan kehidupan seorang gadis remaja Perancis di Saigon, di masa sisa-sisa pendudukan Perancis di Vietnam. Si tokoh lalu memiliki seorang ‘kekasih’, seorang pria Vietnam, yang dengannya hubungan mereka berjalan dengan tidak banyak kata-kata, mengalir begitu saja, tanpa bentuk, namun sangat membekas bagi keduanya. Tema cerita lebih pada perasaan keterasingan. Ditulis dalam bahasa yang sederhana, membacanya seperti sedang mendengarkan kisah kenangan yang disampaikan penulis, tidak terlalu berstruktur, maju-mundur di masa sekarang dan masa lalu, tidak melulu berada dalam plot tertentu, tapi lebih pada eksplorasi pikiran dan perasaan si tokoh. Saya membaca kisah ini tanpa terlalu memperdulikan ada atau tidak plot, saya ikuti saja kemana pengisahan itu berjalan, menikmatinya, dan membuat saya jadi merasa demikian intim dengan pikiran dan perasaan sang tokoh. Akhir kisah sangat membekas. Beautiful and profound. L’Amant memenangkan le prix Goncourt tahun 1984.

Anna Karenina, Leo Tolstoy, Penguin Classics, 2003, translated by Richard Pevear and Larissa Volokhonsky

3. Anna Karenina – Leo Tolstoy. Membaca versi lengkapnya membuat saya mengerti mengapa buku ini begitu banyak dibicarakan dan bahkan dianggap sebagai the best novel ever written oleh sebagian kalangan. Anna Karenina ternyata berbeda dari anggapan saya sebelumnya tentang buku karya Tolstoy ini. Anna sendiri, walau dijadikan judul, tidak menjadi tokoh paling utama di kisah ini, bahkan tidak menjadi tokoh protagonis. Ia bukan heroine, malah mewakili suatu tokoh yang penuh kegagalan dan self-destruction, walaupun dalam banyak sisi hidupnya dilimpahi kemudahan dan keberuntungan. Tokoh ‘sampingan’ yang justru menjadi focal point dari buku ini, dimana banyak kritik mengatakan bahwa tokoh ini merupakan self-portrait dari Tolstoy sendiri, adalah tokoh Levin, yang berasal dari latar belakang yang begitu berbeda dari Anna dan sepanjang tahap hidupnya berjuang mencari makna hidup. Buku ini, buat saya, secara sederhana menyodorkan pertanyaan: “What does it take to be truly happy?”. Saya rekomendasikan untuk membaca versi lengkapnya, supaya kita tidak hanya berkutat pada kisah ‘romance’ Anna, tetapi juga tokoh-tokoh lain dan pendalaman situasi sekitar yang begitu kaya digambarkan. Buku terbitan Penguin Classics ini diterjemahkan dari bahasa Rusia ke bahasa Inggris dengan sangat baik oleh Richard Pevear dan Larissa Volokhonsky, dua penerjemah yang memenangkan award khusus untuk penerjemahan sastra Rusia ke Bahasa Inggris.

dog stories4. Dog Stories – James Herriot. Saya sangat mudah jatuh hati pada kisah-kisah yang berhubungan dengan anjing. Dan disini, James Herriot kembali menunjukkan kepekaannya dalam mengobservasi kejadian dan perasaan dan menuangkannya dalam tulisan, sehingga kisah-kisah ini menjadi kisah yang begitu membekas. Buku ini berisi berbagai kisah pengalaman sang dokter hewan dari daerah pedesaan Yorkshire yang permai ini, berkaitan dengan penanganan anjing yang menjadi pasiennya, maupun pasien jenis lain dimana seekor anjing menyertai perjalanan pasien itu. Dalam tulisan Herriot, anjing-anjing ini jadi begitu ‘manusiawi’.

all that is gone5.  All That is Gone – Pramoedya Ananta Toer. Adalah buku kumpulan cerita pendek, yang diambil dari dua buku kumpulan cerita pendek Cerita dari Blora (terbit 1952) dan Subuh (1951). Pram disini menghadirkan cerita-cerita semi-autobiografis dengan muatan emosi yang kuat, twist yang kadang tidak terduga, dan elemen kenangan yang kental. Beberapa dari cerita itu begitu membuka mata saya akan situasi pasca kemerdekaan, terutama pada kehidupan ‘orang-orang biasa’ yang kehidupannya terpengaruh oleh masa revolusi itu. Pram disini membuktikan kepiawaiannya dalam menghadirkan cerita dengan karakter yang kuat dan plot yang penuh dalam ruang sempit bernama cerita pendek. Lebih jauh tentang All That is Gone bisa dibaca di sini.

rahasia selma6. Rahasia Selma – Linda Christanty. Buku ini adalah pengalaman pertama saya membaca karya Linda Christanty. Cerita-cerita Linda berlatar cukup sederhana dan sehari-hari, namun di akhir cerita selalu menghadirkan sesuatu yang begitu tak terduga yang kadang memporak-porandakan pemahaman awal kita tentang cerita itu, yang ternyata bisa bermakna dalam dan historis. Sama seperti Pram, saya begitu kagum pada keahlian Linda dalam menghadirkan karakter yang kuat dan cerita yang begitu membekas dalam ruang pendek bernama cerpen. Buku tipis ini membuat saya ingin membaca karya-karya Linda lainnya.

ring of fire7. Ring of Fire, an Indonesian Odyssey – Lawrence Blair dan Lorne Blair. Buku ini adalah memoar dan catatan perjalanan dari kakak beradik Blair yang mengarungi lautan dan menjelajah beberapa pulau di Indonesia dalam rangka membuat film dokumenter, di awal tahun 70-an. Sarat dengan komentar dan analisis mengenai kondisi lingkungan, biologis, maupun elemen antropologis, buku ini menjadi begitu kaya dan mengasyikkan dibaca. Belum lagi tempat-tempat yang dijelajahi Blair adalah laut dan pedalaman pulau yang jauh dan ‘terasing’, yang oleh kebanyakan orang Indonesia saat ini pun masih belum banyak terjelajahi, seperti kepulauan rempah Maluku, pedalaman Papua, perairan Komodo, laut Aru, dan beberapa tempat lainnya. Blair menulisnya dengan bahasa yang demikian mengalir, serius dan penuh analisa di beberapa aspek, namun selalu penuh humor khas orang Inggris. Buku ini saya beli tahun 2012 silam saat Lawrence Blair hadir di acara Ubud Writers & Readers Festival, dimana ia memutarkan dan mengulas salah satu film dokumenternya tentang pelayarannya menjelajah laut Aru. Indonesia is definitely dangerously beautiful!

hunger8. Hunger – Knut Hamsun. Ya, buku ini mengisahkan tentang lapar, dan bagaimana kondisi fisik berupa perasaan lapar (dan kelaparan) itu begitu mempengaruhi kondisi mental seseorang. Knut menuliskan novel ini sebagai bentuk reaksi atas ‘kekecewaannya’ pada sebagian besar novel kontemporer pada jamannya yang menurutnya terlalu stereotip dalam plot dan miskin dalam karakter. Maka hadirlah ‘Hunger’, yang memang tidak terlalu mengandalkan plot, namun lebih pada eksplorasi ‘interior landscape’ – perasaan, pikiran, harapan, kekecewaan, dunia batin, si tokoh. Si tokoh adalah seorang penulis yang sedang berjuang meraih sukses dengan mengandalkan karyanya, yang imaginasinya menjadi demikian tergerus oleh kondisi lapar berkepanjangan yang ia alami. Novel ini cukup depresif, namun juga membawa hal-hal tak terduga di beberapa bagian akhirnya, dan di penghujung cerita menyajikan suatu ironi yang divisualisasikan dengan ‘indah’. Beautifully tragic. Buku ini membuat saya ingin membaca karya Knut Hamsun lainnya, yaitu Growth of the Soil.

nawung9. Nawung – Galuh Larasati. Ini mungkin termasuk buku “underrated”, dimana tidak banyak orang tahu mengenai keberadaan buku ini, tenggelam dalam hiruk pikuk buku-buku lain, bahkan keberadaannya di toko-toko buku saya lihat sering terpinggirkan. Padahal, buku ini menurut saya menyajikan kualitas penulisan yang prima dengan bahasa yang sangat rapi namun mengalir, dan isi yang sangat baik. Melalui buku Nawung ini,  seorang sastrawati baru saja lahir. Ya, buku ini adalah buku pertama Galuh Larasati, mengisahkan tentang seorang anak perempuan bernama Nawung dan perjalanan hidupnya hingga dewasa yang penuh dengan lika-liku kebahagiaan, kesedihan, kebangkitan dan keterpurukan, serta harapan. Yang membuatnya berbeda adalah buku ini sarat dengan nilai-nilai luhur tradisional (tanah Jawa) yang demikian dalam dan universal, yang sering kita lupakan atau remehkan. Setiap paragrafnya menghadirkan potret dan renungan yang sederhana namun membekas. Salah satu ‘wejangan’ yang saya dapat dan yang paling berkesan buat saya adalah tentang memohon sesuatu yang sederhana dan secukupnya dari Tuhan, dan ketika berkah itu telah benar-benar dihadirkan di depan kita, hendaknya kita memeliharanya dengan baik.

the jungle school10.  The Jungle School – Butet Manurung. Sokola Rimba. Buku ini adalah sebuah diari, atau jurnal, dari seorang Butet Manurung, yang bekerja sebagai pendidik di pedalaman hutan Jambi. Dimulai dari masa-masa awal penugasannya sebagai education facilitator bersama organisasi WARSI, hingga didirikannya Sokola Rimba, sekolah khusus untuk anak-anak suku asli di hutan Jambi. Tulisannya sederhana, namun tajam dalam observasi dan reflektif dalam analisanya. Banyak insight yang saya dapat dari membaca diari ini, bukan melulu mengenai kehidupan suku terasing, tapi lebih pada sikap Butet yang penuh pikiran terbuka dan rendah hati dalam menghadapi orang yang ditemui. Ia tidak mengasumsikan bahwa cara modern adalah pasti lebih baik dan lalu membuat misi menerapkan cara baru itu pada mereka yang dicap sebagai ‘terbelakang’ ini, namun semua diawali dari upaya mengenali kelompok masyarakat itu lebih dalam, dan siapa bilang cara kita sudah pasti lebih baik untuk mereka? Menghargai perbedaan dan kemajemukan. Merambah pola pikir yang berbeda. Pada akhirnya sebenarnya tidaklah terlalu jelas siapa belajar dari siapa. Inspiratif dan sangat membuka wawasan. Butet Manurung hadir dalam Ubud Writers & readers Festival 2012, dan memperkenalkan buku The Jungle School ini ke kalangan nasional dan internasional yang hadir. Versi Bahasa Indonesia hadir setahun kemudian dengan judul Sokola Rimba, terbitan Penerbit Buku Kompas.

100 tahun kesunyian11. One Hundred Years of Solitude – Gabriel Garcia Marquez. Seratus Tahun Kesunyian. Bersama buku ini saya menelusuri kehidupan Jose Arcadio Buendia, yang bersama kelompok kecilnya membangun sebuah desa di tengah hutan di Columbia. Cerita  bergulir dengan banyak tokoh dalam beberapa generasi, dalam banyak kejadian, dalam bentuk sejarah yang berulang. Banyak yang mengatakan bahwa novel ini mencerminkan perjalanan sejarah Columbia sendiri, tapi jika pun kita tidak ingin mengaitkannya atau memperdulikannya dengan unsur politik, kisah ini bisa sangat mewakili perjalanan kehidupan manusia secara mikro maupun makro, dengan segala kejatuhan dan kejayaannya, yang ujung-ujungnya mengembalikan semuanya ke ‘titik nol’. Unsur magical realisme-nya menurut saya tidak terlalu kental dan pas saja (saya pribadi merasa jauh lebih sulit memahami kisah fantasi), dan perpaduan unsur realis dan surealis itu, ditambah tokoh dan kejadian yang begitu kaya, membius saya masuk ke alam fisik dan pikiran keluarga Buendia, sehingga saat menutup buku ini di akhir cerita, saya seakan membutuhkan waktu untuk ‘kembali ke realitas’.

mencari emas12. Mencari Emas – Jean-Marie Gustave Le Clézio. Buku ini menarik perhatian saya karena nama Jean-Marie Gustave Le Clézio. Salah satu karya lainnya, L’Africain, sempat saya baca walau tidak selesai, dan saya sangat menyukai gaya penulisannya yang liris dan penuh nuansa kenangan. Buku ini menceritakan tentang Alexis dan keluarganya yang tinggal di Pulau Mauritius. Saat ayahnya mengalami kebangkrutan, Alexis mempunyai mimpi untuk menemukan emas yang ia percaya dikuburkan seorang bajak laut di suatu pulau lain, dan dimulailah perjalanan itu. Seorang pembaca mengatakan bahwa buku ini layaknya sebuah surat cinta Clézio pada laut, dimana penggambaran mengenai laut dibuat demikian hidup dan indah. Saya pun saat membacanya seakan ikut mendengar desir angin laut, melihat warna biru gelap laut terpampang di depan mata, merasakan pasir yang menempel di kulit yang basah, dan meresapi kesunyian yang dihadirkan malam di atas laut. Mungkin gaya penulisannya yang liris turut membawa kita hanyut ke alam cerita. Kisah ini seluruhnya merupakan narasi dari Alexis, dengan sedikit dialog. Bagian kisah dimana Alexis mulai berteman dengan Ouma, seorang gadis suku Manaf, penduduk asli di sana, merupakan bagian indah favorit saya. JMG Le Clézio adalah pemenang nobel kesusastraan pada tahun 2008.

Demikianlah, 12 buku terbaik dari sekian buku yang saya baca sepanjang tahun 2013. Tahun 2014, saya harap saya juga akan menemukan banyak buku bagus yang saya nikmati proses membacanya.

Mei

Advertisements

Norman Edwin – Catatan Sahabat Sang Alam

Norman Edwin – Catatan Sahabat Sang Alam/ Rudy Badil (editor)/ KPG/2010/ Travel Writing/ Bahasa Indonesia/ 423 hlm.

Di sekitar tahun 1976 – 1992, nama Norman Edwin identik dengan pendakian gunung, pengembaraan di alam liar yang bersifat ilmiah, dan penulis kisah perjalanan di majalah-majalah alam kala itu. Saya sendiri ‘lahir terlambat’ untuk bisa benar-benar mengenal sosok dan tulisannya saat beliau aktif menulis; pada tahun-tahun itu saya masih terlalu kecil untuk merambah bacaan sampai ke majalah petualangan alam yang berisi artikel perjalanan alam yang riil dan ilmiah, walau sempat mengingat hangatnya berita kepergian beliau di awal tahun 90-an. Dipelopori oleh ‘teman-teman seperjalanan’ Norman untuk mengumpulkan kembali tulisan-tulisan beliau, buku ini memuat sekitar 70 tulisan Norman Edwin yang tersebar di majalah “Mutiara”, “Suara Alam” maupun harian Kompas. Sang istri, Karina Arifin, PhD yang juga teman Norman menjelajah alam sejak jaman kuliah, ternyata masih menyimpan sebagian besar majalah, tulisan dan foto beliau dalam kegiatannya. Ditambah koleksi dokumentasi dari teman perjalanan lainnya, maka hadirlah buku ini. Sosok yang tadinya agak asing jadi terasa dekat melalui tulisan-tulisannya, dan memang, setelah membaca buku ini, saya jadi bisa memahami mengapa beliau demikian berkharisma di kalangan pendaki gunung atau kegiatan alam lainnya, bahkan tersirat memiliki kelompok ‘fans’ tersendiri yang mengagumi dan mengikuti sikap dan idealisme beliau terhadap alam.

Norman Edwin lahir di Sungai Gerong, Sumatera Selatan, pada tanggal 16 Januari 1955, kuliah di jurusan Sejarah Universitas Padjdjaran, Bandung, dan jurusan Arkeologi Universitas Indonesia. Beliau aktif di kegiatan Mapala UI sehingga namanya sepertinya tidak bisa lepas dari organisasi tersebut. Norman memiliki kebiasaan selalu mendokumentasikan dan mencatat perjalanan kegiatannya, yang merupakan ciri penulis tangguh, yang segera dapat dilihat dari tulisannya yang sangat detil, logis, akurat, tapi juga cukup populer dan bebas. Kegiatan kepenulisannya berkaitan dengan pekerjaannya sebagai wartawan, ekspedisi/ peneliti ilmiah, maupun misi search and rescue (SAR). Saya membayangkan ia tetap membuat catatan-catatan kecil tak peduli dimanapun ia sedang berada, di gunung, saat di dalam gua, atau di atas kapal yang senantiasa bergoyang dengan angin laut.

Buku ini terbagi dalam beberapa bagian berdasarkan tema dan setiap bagian ada beberapa tulisan yang masing-masing tidak terlalu panjang, memuat tulisan-tulisan perjalanannya yang berkaitan dengan pendakian gunung-gunung yang termasuk dalam The Seven Summits (Tujuh Puncak Dunia) – Puncak Jayakesuma di Papua, Kilimanjaro di Afrika, McKinley di Amerika Utara, Denali di Alaska, dan Elbrus di Eropa, melintasi arung jeram dan menjelajahi sungai-sungai yang menembus hutan dan peradaban Dayak di Kalimantan, penelusuran gua-gua besar dan dalam di Jawa, seperti Luweng Ombo dan penemuan spesies ikan kanibal tak bermata di dasar gua, panjat tebing di Yosemite yang dikenal sebagai “mekah”nya pemanjatan tebing curam, sampai mengarungi samudra melewati beberapa lautan dan negara di atas kapal tradisional Pinisi, dari Australia ke Maluku, dan dari Bali ke Madagaskar. Juga artikel-artikelnya mengenai sikap ‘pecinta alam’ yang sering salah kaprah, relasi alam dengan keberadaban dan perilaku manusia, seperti bukti mahakarya megalitik di lembah Lore di Sulawesi, gunung suci Penanggungan yang demikian tidak dihargai, maupun reaksi masyarakat kita atas ‘perilaku alam’ seperti gempa atau gunung meletus. Tulisan Norman penuh dengan informasi yang membuka cakrawala, sekaligus seru dengan petualangan. Namun petualangan di sini bukan sesuatu yang sekedar ‘fun’, tapi juga penuh perhitungan ilmiah, dan memang demikianlah seharusnya berpetualang dengan alam. Norman seakan ingin mengatakan untuk jangan menyalahkan alam untuk segala ‘kecelakaan’ yang terjadi karena alam hanya menjalankan ‘tugasnya pada waktunya’, seperti kapan ia harus menghembuskan badai atau udara dingin, kapan suatu gunung harus meletus, dan sebagainya, namun manusialah yang memasuki wilayah-wilayah itu yang harus membekali diri, dengan peralatan yang memadai dan sesuai, juga dengan pengetahuan. Terlalu sering kecelakaan ‘sepele’ namun berakibat fatal terjadi lebih karena sikap ‘ignorant’ manusia. Mengasikkan buat saya untuk menjelajah tempat-tempat sepi dan terpencil di pelosok negeri Indonesia maupun dunia yang terekam di buku ini. Tampaknya semakin sepi dan terpencil suatu tempat, semakin menarik bagi Norman Edwin. Ia memang bukan individu yang sekedar mengikuti arus ‘mainstream’; semakin jauh dan sunyi suatu tempat, semakin jelas terdengar suara alam; semakin susah suatu tempat dijelajahi, semakin berkisah ia.

Tulisan Norman juga detil dengan data-data kesejarahan yang luas yang berasal dari sumber-sumber dunia, dan mengingat tulisan-tulisannya banyak dibuat di tahun-tahun akhir 70-an sampai awal 90-an dimana sebagian besar masa itu internet belum ada, saya makin mengagumi kedalaman informasi yang disampaikan. Tentu membutuhkan usaha yang tidak sedikit untuk mendapatkan dan merangkum sejumlah informasi unik dan relevan tersebut hingga menjadi tulisan yang begitu membuka cakrawala. Selain itu, bagi pembaca masa itu, membaca tulisan tentang suatu tempat terpencil di Alaska misalnya, tentu sangat membuka wawasan, mengingat jaman itu dunia belum sedemikian ‘borderless’ seperti sekarang, Alaska masih seperti tempat yang sangat jauh dan asing di dunia lain. Buku ini juga dilengkapi dengan foto-foto pengembaraan alam beliau, yang walau tidak berwarna, tetap terasa ‘spesial’.

Norman Edwin ditemukan tewas, bersama rekannya Didiek Samsu, di bawah timbunan salju saat sedang memanjat gunung Aconcagua (6700 m), tanah tertinggi Amerika Latin di Argentina, pada tahun 1992. Menurut kabar, tangannya masih menggenggam kapak es dan ia berada di posisi 200 meter dari puncak. Akhirnya, ia pun tunduk dan rela dalam dekapan sang alam. Evakuasi jenazah keduanya dibantu oleh tim Tentara Nasional Argentina, dan saat tiba di tanah air diterima oleh Prof Dr Fuad Hassan selaku Mendikbud saat itu dan ribuan pelayat lainnya. “The eagle flies alone”, garuda terbang sendiri, tidak seperti bebek yang selalu mengekor, Norman dan Didiek telah berani menempuh jalannya sendiri. Idealisme Norman akan selalu hidup, salah satunya melalui buku ini.

Ditengah arus maraknya tulisan perjalanan yang mengandalkan ‘fun’ dan bersifat ‘jalan-jalan’, buku ini dapat menjadi alternatif bagi mereka yang mencari tulisan travel writing yang ‘tidak biasa’, kental dengan unsur alam, dan ilmiah, yang membawa kita “mengunjungi tempat-tempat sunyi di ujung terluar wilayah jangkauan manusia”. Rudy Badil melakukan editing buku ini dengan sangat baik, dan tulisan beliau di beberapa bab akhir dalam Lampiran turut memberi isi dan makna pada pengalaman membaca buku ini. Selain Norman Edwin – Catatan Sahabat Sang Alam ini, Rudy Badil juga mengedit beberapa buku lainnya seperti Soe Hok-Gie Sekali lagi: Buku, Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya, serta Warkop: Main-main jadi Bukan Main.

Balikpapan, 26 Juli 2011

Mei

The Naked Traveler 2

The Naked Traveler 2

Trinity

B first, 2010

Travel Writing, Bahasa Indonesia, 348 hlm.

Pergi ke tempat-tempat wisata saat traveling memang wajib dilakukan, tapi saya, toh, lebih tertarik memperhatikan hal-hal di luar tempat wisata itu sendiri, seperti orang-orangnya, budayanya, toiletnya, sampai tayangan TV lokalnya. (hlm. 25)

Itulah salah satu sebab, menurutku, mengapa catatan perjalanan Trinity ini jadi demikian menarik. Dengan gaya bahasa santai, ekspresif, dan benar-benar apa adanya (naked), sesuatu yang remeh-temeh dan ‘gak penting’ bisa dibahas jadi sesuatu yang sangat menarik! Yang ‘gak penting’ memang seringkali justru menjadi hal yang akhinrya ‘penting’ dan berkesan; banyak hal lokal terserap justru saat kita sedang ‘leyeh-leyeh’ saat traveling. Tanpa disadari kita telah membaca suatu tulisan perjalanan yang mengulas budaya, perilaku maupun selera orang-orang di tempat yang dikunjungi. Dan kita pembacanya, jadi serasa ikut berjalan menjelajah tempat-tempat dan budaya lain yang berbeda (dan menarik) itu.

Banyak (atau kebanyakan?) dari tulisan di buku ini sudah pernah muncul di blognya, namun menurutku tetap enak membacanya dalam bentuk buku, apalagi dengan tambahan sketsa yang komikal di setiap awal bab. Cerita sederhana seperti “Nonton TV di Hanoi”, atau “Sisi Lain Polisi”, salah sedikitnya telah berhasil dengan sukses membuatku cekakak-cekikik sendirian saat membacanya. Juga pengalamannya makan cabai sampai ‘budeg’ di Flores, serta segudang petualangannya saat sekolah (dan tentu saja, traveling) di Filipina. Perjalanannya ke tempat-tempat yang terpencil di Indonesia sangat inspiratif, membuatku makin ingin pergi ke tempat-tempat tersebut, terutama Flores dan Sulawesi (dan secara manjur membuatku langsung membuka-buka buku Lonely Planet Indonesia-ku :)). Berdasarkan yang ada di buku, Trinity telah mulai diving sejak tahun 1992, saat olahraga penuh resiko itu belum sepopuler sekarang. Trinity memang seorang adrenaline junkie; semakin seram dan berbahaya, semakin tertantang ia untuk menjalaninya. Bungy jumping dari gedung tertinggi di Macau, atau diving di area laut yang penuh hiu atau ikan pari raksasa, semua membuatku ‘ter-ngeri-ngeri-kagum’. Cuma aku ingin bilang sedikit ke Trinity untuk lebih ‘serius’ memperhatikan ramalan/ peringatan cuaca yang ada, terutama saat akan melakukan kegiatan alam, dalam hal ini diving, sehingga pengalaman nyaris menjadi korban taufan yang terkenal di Filipina itu tidak perlu terjadi (untung tidak sampai terjadi, kalau terjadi, tentu akhir cerita bisa lain sama sekali).

Di buku ini kita juga belajar mengenai melakukan perjalanan yang hemat, travel lightly saja (tidak usah membawa barang yang banyak berkoper-koper), dan nikmatnya tinggal di hostel (mungkin saat ini baru untuk kasus di luar Indonesia). Satu hal yang juga ditonjolkan di sini adalah bahwa, dalam traveling, tidak selamanya kita menemukan hal-hal yang menyenangkan. Karenanya, jangan lupa juga ‘membawa’ good sense of humour, sehingga bisa menertawakan saja segala hal tak terduga yang terjadi, dan bukan merusak kegembiraan travel dengan serentetan keluh kesah.

Hillarious, tapi juga membuka cakrawala dan inspiratif. Tiba-tiba aku jadi ‘kangen’ ransel dan sepatu trekking-ku, dan ingin segera packing untuk perjalanan berikut… 🙂

Mei

Balikpapan, 10 November 2010

Neither Here Nor There

Neither Here Nor There: Travels in Europe

Bill Bryson

Black Swan, 1998 (1991)

Travel Writing, English, 304 pages.

This is the first Bryson’s book I read. It’s a travelogue of his backpacking across Europe, alone, following the same route he had travelled with his friend, Katz, twenty years back while they were students. He traveled to some countries and places in continental Europe, precisely from uppermost town Hammerfest in Norway, then going south to some (major) cities, before ending in Istanbul. The trip itself was done around 1990 (as I concluded from some information in the book). Bryson was born in Iowa, US, so far has been living in the US and England. So imagine with this american and anglo-saxon backdrop of mind he traveled to the small and compact continental Europe. Having grown up in vast America, “where you can go or fly miles away but still be in the same country“, as Bryson saw it, Europe (continental) had drawn some fascination for him, as how he captured below:

One of the small marvel of my first trip to Europe was the discovery that the world could be so full of variety, that there were so many different ways of doing essentially identical things, like eating and drinking and buying cinema tickets. It fascinated me that Europeans could at once be so alike — that they could be universally bookish and cerebral, and drive small cars, and live in little houses in ancient towns, and love soccer, and be relatively unmaterialistic, and law abiding, and have chilly hotel rooms and cosy and inviting places to eat and drink — and yet be so endlessly, unpredictably different from each other as well. I loved the idea that you could never be sure in Europe. (p. 40)

Full of humor and (sharp) opinions on what he saw along the way, specially on local customs, which he often found ‘amazingly weird‘ as they are very different from what he knew in America. For instance, he found that, unlike most great cities, Copenhagen is free from any delusions of self-importance; no monuments or statues of generals of a country that once ruled Scandanavia — only a little statue of mermaid. In Stockholm, despite his complains on its weather and people, he was respectfully amazed of its social security system where richness and socialism just go hand-in-hand, whilst in America, capitalism rules even decisions to public health. In terms of funny comments, he put them almost everywhere.

At first, it was an enjoyable read to see those contrasting facts wrapped in humorous remarks, but further along my reading, I began to ‘not really like it’. Funny remarks become sarcastic, even disrespectful to local’s way of doing. It seems for Bryson everything should be in or should start with ‘american way’; eg. while he saw a soldier in Sweden with kind face wearing white hat, he laughed pointing that it was ridiculous for a soldier to look like Donald Duck and compared it to american soldiers. And I started not to buy it in at all when I found that the ‘humor’ included a racial element in it; here is some bits:

It is of course hypocritical to rail against tourists when you are one yourself, but none the less you can’t escape the fact that mass tourism is ruining the very thing it wants to celebrate. And it can only get worse as the Japanese and other rich Asians become bolder travelers. When you add in the tens of millions of eastern Europeans who are free at last to go where they want, we could be looking back on the last thirty years as a golden age of travel, God help us all. (p. 199)

while, on the other hand, when he was recalling here and there the trip he was doing with Katz years back and how they disregarded the local cultures or rules, he just found it all fine and funny.

I saw that the tendency to throw snark comments goes along with the time curve of his travel. At the beginning, when he was obviously still fresh (and happy), things appeared better to him. However dull and damp the weather in the uppermost city of Hammerfest, he could still find joy in spending the day in such a gloomy and deserted environment, and so the comments just look funny, without snark remarks. But nearing the middle of his travel, when he was probably getting (much) more tired, things just looked wrong in every way. Personal faults are projected into nation-wide’s faults (like got drunk the night before, and could not get up early enough the next morning to catch the train, troubles along the way, then he complained the whole system). On contrary, when he found something so unexpectedly good, he would say sort of that it was the best thing ever happened in his life and so on, which I found too hyperbolic. Exception was when he was in Yugoslavia and Sofia. With the condition of the country so profoundly backwards, he just could not complain any further, but, he switched his attitude into analyzing the situation and I should say that his opinions here are (back to being) sharp and even a bit reflective. In Sofia, when he felt so sorry for the situation and wanted to help the people by spending his money buying their things:

I began to get obsessed with trying to spend some money, but there was nothing to spend it on, nothing. One of the parks… was full of artists selling their own work and I thought, Great! I’ll buy a picture. But they were all terrible. Most of them are technically accomplished, but the subjects were just so awful… surreal… It was as if they were so far out of touch with the world that they didn’t know what to paint. (p.296)

All in all, not a kind of travel book that I would be savoring, though it does have some enjoyable aspects in it. Maybe when I’d be in the mood of snarking everything, I would enjoy more this book.

Mei

Paris, 13 August 2010

Tales from the Road: Mencicipi Keunikan Budaya dari Yogyakarta hingga Nepal

Tales from the Road: Mencicipi Keunikan Budaya dari Yogyakarta hingga Nepal

Matatita

B-first, 2009

Travel Writing, Bahasa Indonesia, 232 hlm.

Figur Matatita sangat menarik perhatian saya ketika berita mengenai bukunya, Tales from the Road, mulai merebak di dunia maya sebagai bagian dari proses peluncurannya. Penulis sendiri memiliki blog yang menarik untuk dibaca, dengan banyak foto unik dari tempat-tempat eksotis, di Indonesia maupun di negri-negri lain. Tulisan pendek biasanya menyertai foto-foto tersebut sebagai keterangan atau cerita singkatnya. Hal yang menurut saya sangat spesial dari Penulis adalah konsep jalan-jalannya yang bersifat “native traveller”, artinya, ketika berjalan-jalan, ia cenderung ingin “nyemplung” masuk ke budaya asli tempat yang ia kunjungi. Motonya untuk travelling adalah “travelling is experiencing different cultures”. Saya sendiri berpendapat “travelling is about opening the mind”, karenanya saya sangat sepaham dengan motonya tersebut.

Buku ini diangkat dari tulisan-tulisan beliau di blognya. Penulis adalah seorang “traveller” yang kerap melakukan perjalanan ke pedalaman Indonesia, dan ini menurut saya sangat patut dihargai mengingat tidak banyak orang Indonesia yang sudah melakukannya, apalagi membagi pengalamannya dalam bentuk tulisan. Membaca judul dan sub judul buku ini, saya jadi berharap menemukan suatu ulasan tentang budaya dan pengalaman penulis bersentuhan dengan budaya-budaya tersebut. Namun setelah membaca buku ini, saya agak kecewa karena ternyata isinya lebih berupa saran-saran atau rekomendasi tentang melakukan suatu perjalanan, yang murah, aman, bagaimana harus bertindak dalam suatu situasi tertentu, pengalaman-pengalaman lucu maupun tidak mengenakkan dalam perjalanan, dan sejenisnya. Memang ada cerita mengenai pengalamannya tinggal dengan suku-suku pedalaman, atau mengikuti prosesi budaya tertentu, atau pergi ke tempat-tempat yang sebenarnya sangat kaya budaya untuk diulas, tapi akhirnya tulisan itu seperti tiba-tiba beralih ke pengalaman praktis, seperti repotnya mengembalikan mobil sewaan, mengejar jadwal pesawat, mencari taksi yang aman, kehilangan kontak dengan teman perjalanan, dan lainnya. Porsi untuk tulisan yang bersifat praktis ini cukup besar dibanding ulasan mengenai budaya itu sendiri. Tadinya saya pikir, alur tulisan akan kembali mengulas tentang budaya, mungkin tulisan yang bersifat praktis itu hanya berupa selingan, namun di hampir semua tulisannya hal itu tidak terjadi. Pada akhirnya buku ini lebih menyerupai “how-to book”, daripada tentang catatan perjalanan, apalagi suatu memoir perjalanan.

Dalam salah satu tulisannya di blognya, saya ingat pernah membaca sedikit tentang proses penulisan buku ini. Penulis memang hanya memiliki waktu yang, menurut saya, terlalu singkat untuk penyusunan suatu buku. Memang sebagian besar isi sudah ada dalam blog, namun proses penyusunan ide, keajegan konsep (apa yang mau ditonjolkan dalam buku ini?), benang merah antara judul, isi, sampul depan maupun belakang, dan segala proses “finishing touch” biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menghasilkan sesuatu yang matang. Dengan sub judul “Mencicipi Keunikan Budaya dari Yogyakarta hingga Nepal”, pembaca tergiring untuk berharap mengenal berbagai budaya lebih dalam, apalagi Yogyakarta dan Nepal bukan tempat-tempat yang minim keunikan budaya. Memang ada juga sub judul yang lebih kecil lagi mengenai tip-tip melakukan perjalanan yang juga terdapat dalam buku ini, tapi ini dikesankan hanya sebagai tambahan atas ulasan tentang perjalanan budaya tersebut. Yang saya temukan setelah membaca buku ini justru kebalikannya, buku ini lebih berupa ulasan tip-tip perjalanan, dan ulasan budaya hanya tambahan yang sangat sedikit. Pada sampul belakang, juga terdapat tulisan bahwa buku ini “membawa kita berpetualang dan menghargai keragaman budaya”, sehingga lebih meyakinkan pembaca akan adanya ulasan budaya yang cukup luas. Mungkin saya saja yang salah berharap. Di sisi lain, sebagai “how-to book” buku ini sangat berguna, karena memberikan banyak wawasan, dan masukan-masukannya sangat berharga karena datang dari pengalaman pribadi penulis sendiri sebagai “traveller”. Namun sudut budaya yang diulas memang tidak mendalam, bahkan terkesan sepintas saja (mungkin ini arti kata “mencicip”?). Hal ini sebenarnya sangat disayangkan, karena saya yakin penulis mempunyai banyak pengalaman budaya yang patut dibagi dari perjalanan-perjalanannya (bahkan beliau sering menamai tulisannya sebagai tulisan etnografi – tentang budaya), yang saya pikir tidak tercermin atau tidak tertuang di buku ini. Mungkin proses penyusunan buku ini yang terkesan terburu-buru memegang peranan di sini. Sedikit elaborasi lebih dalam atau tambahan dari berbagai referensi bisa jadi sangat mengubah kedalaman buku ini, sehingga tidak terkesan sebagai sekedar buku “guide”.

Saya berharap Matatita terus melakukan perjalanan dan mengeluarkan buku berikut, dengan benar-benar membagi pengalaman-pengalaman dari perjalanan budayanya yang saya yakin sangat patut dibaca oleh khalayak yang rindu akan indahnya keragaman budaya.

Paris, Januari 2010

Mei

A Year in the World: Journeys of a Passionate Traveller

A Year in the World: Journeys of a Passionate Traveller

Frances Mayes

Bantam Books, 2007

Travel Writing, Bahasa Inggris, 462 hlm.

An exquisite travel writing book! I bought this book way back in 2007, but just had a mood to read it in the end of last year. What a beautiful travel writing book it is! I was so glad that I had found it and so far this piece has been my best travel book ever read.

Frances Mayes, with her husband Ed, took a year off travelling to some exotic places in some parts of the world. They travelled to Andalucia, Portugal, Naples, Taormina, Italy, Fez, Burgundy, The British Isles, Islands of Greece, Crete and Mani, Scotland, Turkey’s Lycian Coast, Capri, and Mantona. One chapter for each destination. Each is told in graceful details, either they are about the place, the people, the history, the architecture, the arts, the poems and poets of that place, the books and litterature, or the cuisines. When it’s about the cuisines, it’s just so Mayes!  I felt like I was travelling with her all the way, not just like common tourists who visit and see the places, but more as a half resident, who stays there at the place and be in touch with the very root culture and traditions.

In Spain, Mayes brings us to Andalucia’s history and its beautiful mosaic patterns. In Portugal, she stayed for a month, enjoyed the famous lisbonian pattiserie and visited some tranquil distant villages. In France, she got in touch with the wine and food region of Burgundy. In England, she explored some lush english gardens. In Greece, she attended a traditional greek wedding and learnt a traditional proverb saying that the best thing a man can do for his children is to love their mother. Quite agreed with that! In Turkey, she sailed to some distant coasts and hiked to some long lost archeological sites.  Those are among other things.

At first, seeing the titles of the chapters, I was thinking that I might not find some of the places so interesting, some even I did not know where they were in precise. But I ended up liking all the places so much, as Mayes is so capable in revealing the beauties of a place, whether in the form of history, people, cuisine, colors etc, however dusty or poor the place might seem at first. The type of travelling that Mayes did was more of a lay-back one, stay for quite long time in one place and explore from that base, and not move around hecticly like most travellers might do. For instance, rather than moving around some famous cities in Maroco, she prefered staying for quite some time in Fez, and made it as a base, while doing short trips to other cities. By doing that, she could capture the culture and “experience” the day-to-day living of the Marocan life.

This book is more of a memoir. If you look for some pragmatic information on doing travel, you will get disappointed. This one is far from that. Woven together between her personal perceptions and commentary on art, architecture, history, landscape, social and culinary traditions, this book has become a beautifully written travel memoir.

Frances Mayes lives in Cortona, Italy, and in North Carolina. She is the author of four books about Tuscany: Under the Tuscan Sun, Bella Tuscany, In Tuscany, and Bringing Home Tuscany (the last two are illustrated books). She is also the author of the novel Swan, six books of poetry and the book The Discovery of Poetry.

Paris, Januari 2010

Mei