Wishful Wednesday [16] dan Rekap

wishful-wednesday1Pertama-tama, happy birthday ya buat Wishful Wednesday, blog meme seru dari blog Astrid. Kedua, terima kasih juga tentunya untuk kesempatan giveaway yang diadakan dalam rangka ulang tahun ini. Astrid, kamu memang baik banget! 🙂

Selama setahun ini, ternyata saya ‘hanya’ sempat mengikuti 15 Wishful Wednesday, dan inilah rekapnya:

  1. Gadis Kretek — purchased; sudah dibaca sebagian, lalu berhenti karena kurang suka, mungkin akan membaca ulang di lain waktu
  2. The Belly of Paris — purchased
  3. Indonesia Timoer Tempo Doeloe — purchased; antologi yang sudah dibaca sebagian
  4. One Hundred Years of Solitude — purchased (beli bekas dari Melmarian)
  5. The Doll People — wishlist
  6. Extremely Loud and Incredibly Close — purchased, sudah dibaca separuh
  7. Bali Tempo Doeloe — purchased; sudah dibaca sebagian.
  8. Travels with a Donkey in the Cévennes and the Amateur Emigrant — purchased (dalam judul Travels of Robert Louis Stevenson yang memuat 2 cerita di atas, plus beberapa lagi)
  9. Shadow of a Bull — wishlist
  10. Three Men in a Boat, Three Men on a Bummel — purchased (menemukan 2 judul itu dalam 1 buku)
  11. A Tramp Abroad — purchased
  12. Arus Balik — wishlist
  13. Cloud Atlas — purchased
  14. Le Château de Ma Mère, Le Temps des Secrets, Le Temps des Amours — wishlist
  15. War and Peace, La’s Orchestra Saves the World, Reading Picture — wishlist

Dan, seumpama saya menang giveaway edisi anniversary ini, maka buku yang saya pilih, sesuai dengan kriterianya, adalah:

shadow of a bullShadow of a Bull ($5.69, The Book Depository)

Thanks again, Astrid, untuk blog meme yang menyenangkan ini! Now, let’s eat the birthday cake! 🙂

cake from www.cakecentral.com
cake from http://www.cakecentral.com

Wishful Wednesday [15]

wishful-wednesday1Setelah 3 minggu tidak ber-Wishful Wednesday, hari Rabu ini saya ingin ber-wishful ria sekaligus 3 buku! (boleh kan, Astrid? 🙂 )

war and peaceWar and Peace – Leo Nikolayevich Tolstoy

Setelah membaca Anna Karenina (unabridged) dan sangat menikmatinya, saya ingin membaca karya Tolstoy yang lain, yaitu War and Peace. Ada banyak edisi utk karya ini, tapi yang saya idamkan adalah buku di atas, yang diterjemahkan oleh pasangan penerjemah terkenal pemenang translation award khusus untuk penerjemahan Rusia-Inggris, yaitu Larissa Volokhonsky dan Richard Pevear. War and Peace adalah karya masif dengan 1000 lebih halaman, dan bahwa penerjemahan yang baik dari bahasa Rusia ke bahasa Inggris akan sangat mempengaruhi keasikan membacanya (walau penerjemah lainnya mungkin bagus juga). Buku Anna Karenina yang saya baca sebelumnya juga hasil karya mereka dan terbukti memang hadir dalam terjemahan yang sangat mengalir sekaligus tetap mempertahankan keindahan bahasa. Buku War and Peace ini mengisahkan tentang invasi Napoleon di Rusia pada tahun 1812, yang diceritakan melalui kehidupan 3 karakter utamanya, seorang rakyat sipil biasa, seorang serdadu, dan seorang perempuan bangsawan. Tolstoy mengajak pembaca mengikuti kehidupan tiga karakter utama tersebut dalam menghadapi masalah-masalah mereka seiring dengan masuknya tentara Napoleon ke kota mereka, dan bersama sejarah, karakter-karakter ini berkembang dan berubah menjadi tokoh-tokoh yang sedemikian sulit dilupakan. Dikatakan juga bahwa Tolstoy banyak memasukkan unsur sejarah dan pandangan pribadinya dalam bukunya ini, sehingga ia sendiri pun tidak sepenuhnya menanggap karyanya ini sebuah novel.

la's orchestra saves the worldLa’s Orchestra Saves the World – Alexander McCall Smith

La’s Orchestra Saves the World adalah stand-alone novel dari penulis No. 1 Ladies’ Detective Agency, Alexander McCall Smith. Kisah berlatar belakang Inggris saat Jerman sedang marak mengebom kota London, dan tentang tokoh utamanya yang mencoba bertahan hidup dalam situasi sulit tersebut. Apa yang ia lakukan ternyata justru sekaligus memberi arti bagi kehidupan orang-orang di sekitarnya. When Lavender, La to her friends, moves to the Suffolk countryside, it’s not just to escape the London Blitz but also to flee the wreckage of a disastrous marriage. But as she starts to become a part of the community, she detects a sense of isolation. Her deep love of music and her desire to bring people together inspire her to start an orchestra. Little did she know that through this orchestra she would not only give hope and courage to the people of the community, but also that she would meet a man, Feliks, a shy upright Pole, who would change her life forever. Kisah yang unik, dan heart-warming sepertinya. 🙂

reading picturesReading Picture – Alberto Manguel

Buku ini sebuah buku non-fiksi karya penulis terkenal yang banyak mengulas tentang fenomen membaca (Reading). Kali ini ia membahas tentang Reading Pictures – what we think about when we look at art. Menarik banget, kan? Saat kita melihat suatu lukisan atau karya seni visual lainnya, dalam benak kita sebenarnya terjalin kalimat-kalimat atau cerita sebagai proses pemaknaan dari melihat lukisan atau karya seni visual tersebut. Tentu dalam bahasa yang akrab dengan benak kita, bukan bahasa yang biasa digunakan oleh para kritikus seni. Are there ways in which we can “read” the stories within paintings, monuments, buildings and sculptures? We say “every picture tells a story” – but does it? Taking a handful of extraordinary images – photographed, painted, built, sculpted – Alberto Manguel explores how each one attempts to tell a story that we, the viewer, must decipher or invent. Saya pribadi menganggap bahwa painting is a silent poetry, jadi dengan membaca buku ini sepertinya saya akan ‘berdiskusi’ lebih jauh mengenai hal itu bersama Alberto Manguel. 🙂

Semoga wishlist saya yang berjibun ini bisa terpenuhi… 🙂

Wishful Wednesday [14]

wishful-wednesday1Wishful Wednesday adalah book meme dari blog Astrid. Ada 3 buku yang sedang jadi buku impian saya kali ini. Sedikit cerita dulu ya. Saya baru saja menyelesaikan membaca La Gloire de Mon Père karya Marcel Pagnol, sebuah souvenirs d’enfance, atau tulisan kenangan masa kecil dari si penulis (review menyusul). Ditulis dalam bentuk cerita layaknya novel, buku ini begitu membekas, membawa saya ke dunia kanak sang penulis dan keluarganya yang hangat, serta kehidupan mereka di kota kecil dan perbukitan di daerah Provence, Perancis Selatan. Nostalgik, lucu, haru, sekaligus seru dengan petualangan. Buku ini sebenarnya sudah saya beli beberapa tahun yang lalu, sebagai kenang-kenangan saat akan kembali ke tanah air, dan ternyata begitu sukses membawa saya kembali mengenang tanah Monsieur Pagnol itu!

Nah, jadi ketagihan. Marcel Pagnol membuat sebuah serial untuk tulisan kenangan masa kecilnya itu. Keseluruhannya ada 4 buku, dan kini saya mengidamkan 3 buku lanjutannya:

le chateau de ma mereLe Château de Ma Mère [The Castle of My Mother] (1958): Jika dalam buku pertama penulis lebih menceritakan masa-masa awal kehidupannya bersama keluarga sebagai orang-orang terdekat, di buku kedua ini Marcel mengenal persahabatan. Saat berlibur di pedesaan, Marcel kecil berkenalan dengan seorang anak petani, Lili des Bellons, yang kemudian menjadi sahabat karibnya, dan merupakan tokoh yang cukup sentral dari buku ini. Setelah kehangatan keluarga, kini Marcel menemukan indahnya pertemanan masa kanak.

le temps des secretsLe Temps des Secrets [The time of Secrets] (1960): Marcel kembali menjalani liburan di pedesaan bersama keluarganya, namun kali ini ada yang berbeda. Lili, teman Marcel, harus bekerja di ladang membantu ayahnya, dan Marcel lalu bertemu dengan Isabelle, seorang anak perempuan dari keluarga penulis yang eksentrik. Di sini Marcel muda melakukan sesuatu yang ‘mengkhianati’ persahabatannya dengan Lili, demi sebuah ilusi romantis yang baru ia temukan. Sedikit mengandung unsur ‘gelap’, namun tetap ‘komikal’.

le temps des amoursLe Temps des Amours [The Time of Loves] (1977): Marcel yang sudah agak besar mengalami kejadian-kejadian dengan orang-orang sekitarnya, termasuk kejadian lain di lingkungannya yang lebih luas, seperti wabah pes yang melanda Marseille, kotanya. Tokoh-tokoh dalam pertemanan maupun keluarga Marcel masih muncul. Di sini Marcel tumbuh lebih ‘dewasa’, dan keluarganya, keluarga tersayangnya, kini bukan lagi pusat dari eksistensinya.

Oh rasanya ingin melahap semua karya souvenirs d’enfance Pagnol ini. Dari buku pertama, saya melihat Pagnol menulisnya dalam bahasa yang sophisticated. Ilustrasi semua cover-nya pun hasil goresan tangan Sempé, ilustrator favorit saya. Maka, buku-buku ini wajib saya koleksi! 🙂

Apa Wishful Wednesday-mu? 😉

Wishful Wednesday [13]

Aduh, lamanya saya tidak meng-update blog… Pemanasan dengan Wishful Wednesday dulu deh, blog meme seri dari Astrid! 🙂

WW-ku kali ini adalah buku David Mitchell, yang filmnya sepertinya juga menjadi wajib-tonton, Cloud Atlas.

Cloud Atlas, David Mitchell, can be easily purchased at www.periplus.com (duh!) IDR135k
Cloud Atlas, David Mitchell, can be easily purchased at http://www.periplus.com (duh!)

Sudah lama tertarik banget baca buku ini karena sepertinya suatu karya yang merombak pakem penulisan yang biasa, orisinil. Terdiri atas beberapa cerita yang tampaknya berdiri sendiri-sendiri yang membawa kita ke tempat dan jaman yang saling terentang jauh, namun pada ujungnya sebenarnya saling terkait. Kontemporer sekaligus filosofis! Karya brilian yang bikin ngiler… 🙂

A postmodern visionary who is also a master of styles of genres, David Mitchell combines flat-out adventure, a Nabokovian lore of puzzles, a keen eye for character, and a taste for mind-bending philosophical and scientific speculation in the tradition of Umberto Eco and Philip K. Dick. The result is brilliantly original fiction that reveals how disparate people connect, how their fates intertwine, and how their souls drift across time like clouds across the sky.

In his captivating third novel, Mitchell erases the boundaries of language, genre, and time to offer a meditation on humanity’s dangerous will to power, and where it may lead.

Now a major motion picture starring Tom Hanks, Halle Berry, Susan Sarandon, and Hugh Grant, and directed by Lana and Andy Wachowski and Tom Tykwer!

Apa Wishful Wednesday-mu? 🙂

wishful-wednesday1

 

 

Wishful Wednesday [12]

Wishful Wednesday saya kali ini adalah sebuah buku langka, yang saya harapkan sekali bisa diterbitkan kembali oleh penerbitnya. Buku ini sudah hilang dari peredaran, bahkan di toko-toko buku bekas, baik online maupun bukan, sudah terjual. Kalaupun saya coba memesan di toko-toko buku bekas itu, saya masuk dalam daftar waiting list, karena peminatnya (baca: pemburunya) memang banyak…

Arus Balik, karangan Pramoedya A. Toer: Sebuah epos pasca kejayaan Nusantara di awal abad 16.

Kenapa buku ini? Saya belum lama ini baru menyelesaikan membaca Arok Dedes, sebuah novel sejarah karangan Pramedya A. Toer juga, yang dari sana saya mengetahui bahwa ternyata ada Tetralogi lain selain Tetralogi Buru yang terdiri dari Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca itu. Di pengasingan pulau Buru, Pram ternyata juga menulis tetralogi lainnya. Jika Tetralogi Buru mengisahkan tentang perjalanan manusia modern Indonesa menjelang era kebangsaan, tetralogi lainnya ini berfokus pada sejarah manusia Indonesia di masa yang jauh ke belakang, ke jaman kerajaan-kerajaan di pulau Jawa, hingga pasca runtuhnya Majapahit. Tetralogi ini terdiri dari dari Arok Dedes, Mata Pusaran, Arus Balik, dan Mangir. (Speechless saya atas kejeniusan dan ketekunan Pram dalam menghasilkan karya-karya ini, dalam kondisi pengasingan…) Nah, Arok Dedes saya sudah baca. Mata Pusaran kabarnya naskahnya hilang dan baru ditemukan sebagian. Sekarang saya sedang ingin melanjutkan membaca Arus Balik. Mangir sudah saya dapatkan.

[Diambil dari Hastamitra.org] Arus Balik mung­kin merupakan novel pertama dalam khazanah sastra Indonesia mo­dern yang mengisahkan Nusantara dalam segala kemegahannya sebagai kesatuan maritim. Arus Balik adalah suatu epos pasca kejayaan Majapahit pada saat arus zaman membalik, pada saat segalanya berubah – kekuasaan di laut menjadi kekuatan darat yang mengkerut di pedalaman, ke­mulia­an menukik ke dalam keme­rosotan, kejayaan berubah ke kekalahan, kecemerlangan cendikia menjadi kedungu­­an dalam penalaran, kesatuan dan persatuan berubah menjadi perpecahan yang memandulkan segala kegiatan. Pramoedya bukan menangisi kebesaran masa lalu, tidak merindukan kejayaan purbakala, tetapi dia bernostalgi dengan masa depan yang cerah. Baginya sejarah merupakan cermin paling jernih, refe­rensi terpercaya untuk suatu perubahan guna membangun masa depan yang lebih baik. Itulah isi paling substansial Pramoedya bila ia meng­orek-orek sejarah.

Jadi… kalau teman-teman mempunyai kabar mengenai keberadaan buku ini, dimana saya bisa mendapatkannya, atau mungkin malah mempunyai buku ini, entah terbengkalai tak terbaca di sudut rumah, dan ingin menjualnya, kasih tahu saya ya… (seriously) 😉

Yuk, ikut Wishful Wednesday juga dari blog Astrid 🙂