The No. 1 Ladies’ Detective Agency dan Tears of the Giraffe

Dua buku dari seri The No. 1 Ladies’ Detective Agency yang langsung membuat saya jatuh cinta pada Mma Ramotswe!

Precious Ramotswe adalah seorang wanita teguh dan mandiri namun berhati hangat yang tinggal di Bostwana. Ia membuka usaha agen detektif pribadi, yang merupakan satu-satunya dan pertama kali pernah ada di seluruh Bostwana. Dalam bukunya yang pertama, The No. 1 Ladies’ Detective Agency, kita banyak dikenalkan dengan perjalanan hidup detektif wanita bertubuh gemuk yang gemar menghabiskan waktu luang di beranda rumahnya dengan secangkir teh seduh ini. Ditemani sekretarisnya, Mma Makutsi, ia menerima kasus-kasusnya. Kasus-kasus yang datang cukup sederhana namun unik, dan sering berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, namun tetap saja butuh kecerdasan dan ketajaman intuisi dalam menemukan pemecahannya, dan Mma Ramotswe memiliki itu semua. Sangat mengasikkan menelusuri langkah-langkah yang diambil Mma Ramotswe dalam menjebak calon tersangka dalam rangka mencari bukti terpenting dari kasusnya. Juga ada Mr. J. L. B. Matekoni, sahabat Mma Ramotswe, pemiliki bengkel Tlokweng Road Speedy Motors, yang selalu siap menolong, namun menjadi demikian pemalu jika berhadapan dengan perasaannya terhadap Mma Ramotswe.

Dalam Tears of the Giraffe, intuisi dan kecerdasan Mma Ramotswe kembali diuji, terutama dalam menghadapi kasus yang tampaknya buntu, yaitu mencari keberadaan seorang anak bekas expat Amerika yang hilang di gurun Kalahari sepuluh tahun yang lalu. Di samping itu, ada beberapa urusan rumah yang tiba-tiba perlu perhatian, seperti Mma Makutsi, sekretarisnya, yang berhasrat meningkatkan karir menjadi detektif, sampai hadirnya anggota keluarga baru secara tiba-tiba dan tak terduga. Bagaimana kelanjutan cerita Mr. J. L. B. Matekoni dengan Mma Ramotswe? Lalu kenapa juga judulnya Tears of the Giraffe?

Cerita detektif atau misteri di kedua buku ini menurut saya lebih merupakan sampingan, walau tetap membuat penasaran, daripada hal utama yang ingin disajikan. Kasus-kasusnya bukanlah jenis kasus yang super misterius seperti yang biasa terdapat di buku-buku detektif lainnya. Kehidupan Mma Ramotswe lah yang lebih mendominasi dan membawa kita terus mengikuti apa yang terjadi berikutnya. Mma Ramotswe adalah karakter yang membuat kita betah ada bersamanya, tidak kompleks dan selalu bisa merasa bahagia dalam situasi yang sederhana, namun saat menghadapi situasi yang dianggapnya salah secara moral atau etik, ia bisa dan akan bersikap sangat tegas. Secara keseluruhan, kedua buku ini menyajikan karakter yang memorable, dengan cerita yang hangat dan kadang jenaka di sana-sini.

Alexander McCall Smith sendiri menurut saya merupakan figur yang sangat menarik. Selain penulis, ia juga seorang profesor di bidang Medical Law di Universitas Edinburgh, dan banyak berkiprah di pembahasan mengenai bioethics di badan nasional maupun internasional. Tidak heran unsur etik sering muncul dalam bahasan atau pemikiran tokoh-tokohnya, terutama tokohnya di seri Sunday Philosophical Club, Isabel Dalhousie, seorang editor di majalah jurnal applied ethics. Pada Mma Ramotswe pun kadang pertimbangan ini muncul, seperti apakah kita menolong orang lain karena tugas, keharusan, ataukah lebih karena afeksi, dan dari motivasi inilah seharusnya kita menilai seseorang, bukan dari sekedar apa yang dilakukannya. Ternyata pembawaan asli McCall Smith juga jenaka, atau mungkin jahil lebih tepatnya, seperti yang saya rasakan saat menghadiri sesinya dalam Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) bulan Oktober tahun lalu. Kami, para audience, puas cekikikan sepanjang 1 jam sesinya mendengar jawaban-jawaban beliau atas pertanyaan-pertanyaan tangkas yang diajukan sang moderator. Sesi itu merupakan salah satu sesi terbaik yang saya alami di UWRF 2011 lalu.

Seri No. 1 Ladies’ Detective Agency ini telah difilmkan dalam bentuk TV series oleh BBC, dan seorang rekan volunteer saya di UWRF 2011 lalu menceritakan bahwa salah satu kekuatan film itu adalah alam Bostwana yang digambarkan dengan begitu indah, selain penokohan dan ceritanya yang sangat sesuai dengan isi bukunya. Wah, benar-benar ingin nonton jadinya…

Alexander McCall Smith with Jill Scott who plays Mma Ramotswe in the film

Sosok Mma Ramotswe dalam film memang cocok seperti yang ada dalam benak saya saat membaca buku ini, gemuk dan warna-warni dari atas sampai bawah🙂 (photo: http://www.dailymail.co.uk)

Alexander McCall Smith dalam salah satu sesi di UWRF 2011. (photo: UWRF 2011 facebook page)

Seusai sesi dengan beliau (di Museum Neka, Ubud), kami menyerbu dan mengantri untuk meminta tanda tangan, dan beliau melayani satu per satu dengan penuh senyum🙂 (photo: pribadi)

Giliran saya🙂 (photo: pribadi)

Ramah, dengan mata jenakanya yang selalu tersenyum. Terima kasih yaa..🙂 (photo: pribadi)

Wishlist saya berikutnya adalah beberapa buku lanjutan dalam seri No. 1 Ladies’ Detective Agency, dan seri Professor Dr von Igelfeld, seorang akademisi yang begitu khawatir dengan reputasinya hingga melakukan sepak terjang yang justru membuat suasana kacau dan merugikan dirinya🙂

The No. 1 Ladies’ Detective Agency/ Alexander McCall Smith/ Fiction/ Abacus/ 2011 (1998)/ English/ 250 hlm.

Tears of the Giraffe/ Alexander McCall Smith/ Fiction/ Abacus/ 2011 (2000)/ English/ 233 hlm.

8 thoughts on “The No. 1 Ladies’ Detective Agency dan Tears of the Giraffe

  1. aduh..senangnya bisa ketemu langsung.

    The No. 1 Ladies’ Detective Agency ini juga salah satu serial favorit-ku, meskipun baru sampe nomer 3 sih bacanya. so far, aku suka🙂

  2. Saya baca semua buku-buku dalam no. 1 Ladies Detective Agency siri dan turut baca buku terbaru setiap tahun. Tapi saya hanya tulis review untuk 3 buku-buku yang terbaru semenjak saya mulakan blog. Saya gembira anda turut suka siri ini.🙂

    1. hi JoV, yes I’m a bit late in reading this series. I first knew him from his book Sunday Philosophy Club which I read years back (a good one also), but my meeting with him in the festival session really ‘intrigued’ me to find and read this most loved series. And I was so falling for the character, Mma Ramotswe.. Oh you’ve read all the books in the series! It seems new books come out so often, and other series are all so interesting with different themes and characters. He’s such a prolific writer!

  3. astridfelicialim

    Mei aku iriiiiii =D aku juga rada telat nih baca ttg si Mma Ramotswe…baru baca buku kesatu doang =D duh aku follow twitternya McCall Smith, orgnya emang kayanya asik banget ya, dengan twit2 penulis yang mellow hihihi…jd pengen lanjut lagi nih sama Mma Ramotswe! oiya, serial lainnya juga kayanya keren ya!

    1. orang kocak abis, Tid. ngomongnya sih serius, tp content-nya suka tiba2 lucu, yg bikin kita yg lg dengerin serius jg jd tiba2 ketawa ngikik… akhirnya menjadi sesi yg riuh… emg jahil tuh si papa alex..🙂
      yup seri yg lain emg karen2 jg. selain ini, aku baru baca 2 buku di seri isabel dalhousie (sunday philosophy club). ritmenya beda bgt ama ladies’ detective dgn setting lingkunan mapan di edinburgh, tp tetep beautiful..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s