Onze Minutes

Onze Minutes

Paulo Coelho

Editions Anne Carrière pour Le Livre de Poche, Paris, 2003

Novel, Bahasa Perancis, 311 hlm

Onze Minutes, atau Eleven Minutes, atau Sebelas Menit, adalah novel Coelho kesekian yang saya baca. Tetap mengusung tema eksistensi, kali ini Coelho membahasnya melalui figur seorang perempuan muda bernama Maria yang berasal dari suatu desa kecil di Brasil. Terdorong oleh hasratnya untuk mengenal dunia, mencari nasib yang lebih baik dan keluar dari kehidupan desanya yang muram, Maria akhirnya berhasil mengumpulkan uang untuk pergi berlibur ke Rio de Janeiro. Di sanalah seorang lelaki Swiss menghampirinya, dan setelah serangkaian makan malam yang mewah, menawarkan kepada Maria suatu pekerjaan sebagai penari di Geneva, Swiss. Terdorong oleh keinginannya untuk melihat dunia luar yang lebih jauh serta terbuai oleh perasaan bagai berada dalam mimpi, Maria menerima tawaran tersebut, dan mulailah ia berjalan sendiri menentukan nasibnya, jauh dari keluarga dan kampung halamannya di pedalaman Brasil.

Namun, tentu saja, kenyataan tidaklah seindah mimpi yang terbangun dalam benaknya. Singkat cerita, Maria akhirnya menjadi seorang prostitusi. Namun tidak seperti cerita klise tentang nasib seorang perempuan yang akhinya masuk ke dunia prostitusi, Maria dengan sadar memilih pekerjaan itu, setelah mencoba hidup di Geneva. Bagaimana perasaannya, apa yang ia ingin dapatkan dari pekerjaan itu, bagaimana lingkungannya, serta bagaimana ia harus bersikap, semua dipikirkan matang dan “diputuskan”. Berpegang teguh pada tujuan bekerja yang telah ia tetapkan itu, Maria melatih dirinya untuk “tidak terlibat” pada apa yang terjadi pada tubuhnya, jiwa yang terpisah dari badannya, dan karenanya ia secara keras melarang dirinya untuk jatuh cinta pada kliennya. “Je ne suis pas un corps qui abrite une âme, je suis une âme qui a une partie visible appelée ‘corps’ (dalam jurnal Maria, hlm 94).

Maria selalu menulis jurnal atau buku harian sebagai media ia berdialog dengan dirinya, dengan jiwanya. Ia berkelut dengan jurnalnya dalam usahanya untuk “tidak kehilangan jiwanya”. Selain itu, pekerjaan prostitusi digambarkan sebagai suatu profesi yang memiliki segenap aturan yang harus dipatuhi layaknya profesi-profesi lainnya, jadwal maupun hari libur. Pada saat hari libur itulah Maria merasa “bebas”, dalam arti jiwa dan badannya “bersatu” dan ia menjadi dirinya sendiri.  Namun pada akhirnya, untuk menemukan sakralnya suatu seksualitas, Maria harus melakukan rekonsiliasi, menyatukan badan dan jiwanya, dan mengenai hal tarik menarik atas rekonsiliasi inilah cerita bergulir.

Dalam buku ini Coelho banyak mengulas mengenai seksualitas, maupun prostitusi dan sejarahnya. Penggambaran “adegan” seks maupun perasaan subtil yang sedang berlangsung menyertainya diberikan secara detil, sehingga banyak pendapat yang mengatakan bahwa buku Coelho ini berbeda dengan buku-bukunya yang lain, bahkan ada yang berpendapat bahwa buku ini adalah tentang seks. Namun menurut saya, buku ini tetap “Coelho banget”, karena setiap alurnya mengembalikan kita pada konsep eksistensialime Coelho. Penceritaan dibuat tidak vulgar, bahkan tetap membuat kita “berpikir” mengenai eksistensi semua itu. Mengapa “Sebelas Menit”? Karena waktu sebelas menit itulah yang diperlukan untuk menyelesaikan “tugas itu”, walau buku ini berbicara jauh lebih dalam daripada sekedar kegiatan sebelas menit tersebut.

Coelho menulis buku ini dalam bab-bab yang isinya berselang-seling antara narasi atas Maria dan jurnal atau buku harian yang ditulis oleh Maria sendiri. Dalam jurnal ini, sudut pandangnya adalah orang pertama, yaitu Maria. Dari seluruh bab yang ada, jurnal-jurnal Maria inilah yang menurut saya paling menarik dan mengasikkan, karena paling menggambarkan apa yang Coelho ingin sampaikan.

Akhir cerita ini cukup “menutup”, yang justru menurut saya tidak biasa ditemukan dalam buku-buku Coelho lainnya. Biasanya akhir dari buku-buku Coelho lebih bersifat terbuka, tidak terlalu jelas, mengambang, yang mungkin dimaksudkan supaya pembaca masih berpikir melanjutkan cerita tersebut dalam benak mereka. Dalam buku ini, akhirnya mirip sebuah novel drama atau romance dan cenderung melegakan pembacanya.

Satu lagi sebuah perjalanan yang mengasikkan bersama Coelho.

Pau September 2008, dilanjutkan di Paris Januari 2010.

Mei

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s