La Vie Parisienne

La Vie Parisienne: Looking for Love and the Perfect Lingerie

Janelle McCulloch

Pier, 2008

Memoir, English, 240 pages.

Pertama lihat buku ini yang terbersit di pikiran adalah ‘aduh, pasti ini salah satu buku cliché tentang Paris’. Tapi di saat waktu kepulangan semakin dekat, ketika melihat kembali buku ini di toko buku, tiba-tiba ingin juga membaca sesuatu yang klise, sekedar ber-romantika dengan kota yang akan aku tinggalkan itu. Dan lagi, setelah membolak-balik halaman bukunya, ternyata penuh dengan ilustrasi yang sedemikian cantik dan disajikan dengan ‘chic’, sehingga aku pikir buku ini bisa sekaligus menjadi semacam ‘souvenir’ dari Paris, souvenir yang bukan berupa pajangan, tapi buku yang bisa dibaca lagi dan lagi, yang sepertinya mampu membawa kita kembali pada suasana Paris. Warnanya yang hijau muda dan beberapa ilustrasinya langsung mengingatkanku pada sebuah dekorasi café La Durée di Paris yang sangat terkenal dan memang sering diidentikkan dengan kota Paris itu sendiri. Jadi dengan kesadaran akan membaca sesuatu yang klise itulah aku mulai membaca buku ini.

Buku ini mengisahkan kenangan atau memoar penulis saat tinggal di Paris selama beberapa lama dan serangkaian kunjungan tugasnya di Paris selaku jurnalis mode dan ‘gaya hidup’ dari suatu majalah di Australia. Tugasnya bervariasi, mulai dari menghadiri peragaan busana, membuat ‘riset’ mengenai wine dan café-café di Paris, yang semuanya memungkinkannya mengenal kehidupan Paris yang bukan dari sudut turis dan berteman dengan beberapa ‘parisien’. Tujuan sampingannya adalah berharap menemukan ‘cinta’ di kota ini (‘looking for love’), kota yang menurutnya sangat penuh dengan kemungkian tersebut (‘duh, klise banget ya?)

Buku ini ya, memang akhirnya membawa hal-hal yang sangat klise tentang Paris dan parisien (orang yang tinggal di Paris). Penulis sangat memuja sesuatu yang berbau Perancis dan Paris khususnya, apa yang dianggap penting oleh orang Paris, bagaimana mereka bertingkah laku di situasi tertentu, bagaimana mereka berpakaian, memilih café, apa yang mereka suka dan tidak suka, mengapa urusan memilih lingerie menjadi begitu penting. Parisien begini, non-parisien begitu, dengan banyak generalisasi. Intinya, cara parisien inilah yang paling ‘oke’; logis atau tidak, non-parisien harus bisa memahaminya. Semua untuk alasan yang simple saja, bahwa apa pun mengenai mereka memang yang paling baik, paling cantik; apa yang mereka kenakan akan tampak paling pas dan chic; dan karenanya mereka memang berhak untuk ‘sombong’. (Aku cuma membayangkan jika orang Paris sendiri membaca buku ini, pasti makin terangkat dagunya.. J).

Beberapa kejadian lucu saat penulis ‘didoktrinasi’ oleh teman parisien-nya untuk bisa juga berpolah seperti parisien, yang memang banyak benarnya juga, dan secara praktis bisa sangat berguna dalam menghadapi parisien. Misalnya, jika berbicara jangan banyak tersenyum, tapi harus sedikit ketus dan lurus saja, sama seperti para parisien itu, maka dijamin mereka justru akan lebih menunjukkan respeknya kepada kita. Jika disarankan sesuatu, jangan langsung menerima, paling tidak harus ada penolakan dulu atau bahkan keluhan sana-sini, maka mereka tiba-tiba menjadi fleksibel. Juga, tentu saja, ada cerita mengenai betapa romantisnya pria-pria perancis, bagaimana mereka memperlakukan penulis sebagai wanita, yang menurut penulis sangat jarang ia temukan di tempat asalnya atau di belahan dunia lain.

Penulis juga banyak bereksplorasi mengenai tempat-tempat favoritnya di Paris. Dari 20 arrondissement (distrik) yang ada, yang paling ia suka dan menurutnya paling menggambarkan Paris yang ‘chic’ adalah daerah Left Bank atau 6th arrondissement. Daerah ini meliputi Quartier Latin, Sorbonne, St. Germain-des-Pres, jardin de Luxembourg dan sekitarnya. Area ini kebetulan juga menjadi favoritku, dan membaca buku ini aku jadi ikut ‘berjalan-jalan’ di lorong-lorongnya, mengenal tempat-tempat yang menurut penulis ‘wajib dikunjungi’ (dan akhirnya benar-benar aku kunjungi). Daerah ini memang terkenal dengan nuansa intelek sekaligus chic, perpaduan yang sangat unik. Banyak butik designer terkenal, namun tidak se-turistik Champs-Elysee misalnya; banyak penulis dan filsuf dunia memiliki riwayat panjang di sini (seperti Hemingway, Oscar Wilde, Sartre, Simone de Beauvoir, dan banyak lagi); dan juga toko-toko buku dan café chic yang bertebaran di sekitar kampus-kampus yang tergolong tertua di Eropa. Penulis juga bercerita banyak tentang tempat-tempat lain di Paris, terutama yang berkaitan dengan sesuatu yang sedang sangat ‘hit’, seperti restaurant termewah dan terunik, design tercanggih dari seorang designer interior terkemuka, yang mungkin hal ini akan terlewatkan jika tidak mengenal Paris ‘dari dalam’.

Di bagian akhir buku ini, saat penulis akan meinggalkan Paris, cukup mengundang empati. Paris ternyata selalu mampu membuat rindu bagi mereka yang pernah menginjakkan kaki dan hidup di sana. Suatu bacaan yang penuh klise memang, namun mampu menghadirkan sebuah souvenir tentang Paris.

Mei

Balikpapan, 24 Oktober 2010


4 thoughts on “La Vie Parisienne

  1. Aku ngebayangin ilustrasi di buku ini pasti cantik bgt deh! Dg garis hitam yg tegas tp tetap luwes dan warna2 pastel gitu *sok tau*
    Aku pingin bgt bs gambar yg ‘chic’2 gituuu.. susah bgt, mungkin bukan gayanya kali ya..🙂

    Baca review ini jd pingin tinggal di Paris. Ah, tp kayaknya aku ga cocok deh sama parisien itu, mba.. Belum ngomong aja aku udah senyum2 duluan!😀

  2. mademelani

    ilustrasi di buku ini lebih ke print grafis kyknya (sok tau gue ya..), cuma ada foto hitam putih dalam background hijau polkadot misalnya, plus bbrp garis geometri atau ukiran a la baroque. emg terkesan chic, tapi punyamu lbh pure goresan tangan, lebih personal, jauh lbh oke lah!🙂.

    emg tuh saat2 awal gue jg suka salah strategi, buntutnya suka bikin bad mood. tapi nothing personal, it’s all about cultural differences🙂.

  3. astridfelicialim

    Ngeliat covernya aja sukaaa bangeeet =) pasti bikin kangen Paris ya Mei? hihi…mudah”an someday bisa menginjakkan kaki lagi di sana ya…gimana balikpapan? udah mulai betah? =)

  4. mademelani

    waa TQ, Tid. ya covernya bagus tp isinya biasa aja. Bpn is ok, betah aja kok, hidup jauh lbh simple dan nyaman, cuma gue kangen jalan di toko buku aja… bener2 gak ada! cuma ada gramed yg super chaotic…
    untung Periplus udah mau buka di sini..🙂, dan online bookstore tetap jadi andalan…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s