La Petite Fille de Monsieur Linh

la-petite-fille-de-monsieur-linh.jpgLa Petite Fille de Monsieur Linh

Philippe Claudel

Novel, STOCK, 2005

184 hlm, Bahasa Perancis

Philippe Claudel termasuk penulis kontemporer dalam dunia literatur perancis. Lahir pada tahun 1962, ia sempat mengajar bahasa perancis di sekolah menengah dan  sekolah khusus anak dengan keterbatasan motorik, serta sempat pula mengajar antropologi budaya dan sastra di Universitas Nancy II. Beberapa pengalamannya, termasuk pengalamannya mengajarnya di sebuah penjara, menjadi ispirasinya dalam menulis novel.

philippe-claudel-foto.jpg

Novel La Petite Fille de Monsieur Linh termasuk novelnya yang lumayan pendek. Buku-bukunya yang lain saya lihat cenderung lebih tebal. Terbit pada tahun 2005, buku ini mengisahkan tentang seorang tua bernama Monsieur Linh yang pergi meninggalkan negrinya dengan sebuah kapal menuju negri lain, bersama dengan seorang bayi perempuan dalam pangkuannya. Claudel memilih untuk tidak menjelaskan secara rinci di awal cerita kenapa Monsieur Linh harus pergi meninggalkan negrinya, apa yang terjadi atau kemana ia pergi. Claudel lebih memilih untuk mengelaborasi secara detil perasaan yang dialami Monsieur Linh, ingatannya akan negrinya, sensasi-sensasi indranya, seperti ingatan akan penciuman atau bau tertentu yang mengingatkan akan kampung halaman, atau ingatan akan imaji pemandangan di sekitar kampung halaman. Namun melalui elaborasi ini, pembaca lalu menyimpulkan latar belakang cerita dan apa yang terjadi.

Monsieur Linh adalah seorang tua yang harus pergi meninggalkan negrinya karena perang. Keluarga dan rumah serta teman-temannya telah menjadi korban perang dan tinggallah ia dan cucu perempuanya, sang Petite Fille, anak dari anak laki-lakinya yang juga mati oleh perang. Mereka berdua selamat dan karenanya lalu mengungsi. Cerita berlanjut dengan sampainya ia di tanah seberang, di sebuah kamp pengungisan, yang diurus dengan cukup rapi oleh suatu organisasi yang mengurus kaum pengungsi. Di sinilah, Monsieur Linh merasa sangat sendiri, ia tidak berbicara pada siapa pun, ia rindu pada masa lalu, pada wajah-wajah dan segala bau yang ia kenal, dan ikatannya pada masa depan adalah hanya pada si bayi perempuan, cucunya itu, yang membuatnya merasa harus tetap hidup dari hari ke hari.

Setiap pagi Monsieur Linh berjalan-jalan di sekitar tempat pengungsian, menuju kota, duduk di taman, bersama sang Petite Fille. Sampai pada akhirnya ia bertemu dengan seorang laki-laki setengah baya yang juga sering duduk di bangku taman tersebut. Monsieur Bark, nama laki-laki itu, selalu mengajak omong Monsieur Linh, yang awalnya tetap diam karena keterbatasan bahasa diantara mereka. Walau demikian, Monsieur Linh selalu mendengarkan apa yang dibiacarakan oleh temannya itu, dan pada akhirnya, momen pertemuan dua teman di bangku taman itu menjadi momen yang selalu dirindukan Monsieur Linh setiap hari.

Di sini Claudel tidak begitu jelas menjelaskan dari mana asal Monsieur Linh dan dimana dia sekarang berada. Dugaan saya adalah Monsieur Linh berasal dari Vietnam, suatu negri yang sempat terporak-porandakan oleh suatu perang dengan Perancis, dan kini Monsieur Linh diungsikan ke Perancis, dan bertemu dengan Monsieur Bark. Kepada Monsieur Bark, Monsieur Linh menyebutkan namanya sebagai Tao-Lai. Beberapa adegan dan cerita-cerita Tao-Lai tentang pemandangan negrinya menguatkan dugaan saya tersebut. Juga suatu kata yang baru dipelajari Monsieur Linh di negri barunya ini, yaitu “bonjour”. Cerita mengalir dengan agak berkelok, tentang beberapa perubahan hidup yang harus dialami Monsieur Linh sebagai pengungsi, yang membuatnya tidak dapat lagi setiap pagi menunggu temannya di bangku taman, dan membuatnya sangat merindukan temannya itu.

philippe-claudel_foto2.jpgBuku ini, menurut saya, mengisahkan suatu pertemanan yang sejati, yang saling merindukan, yang tak terbatas pada batasan negara maupun sejarah dari keduanya. Pertemanan yang membuat kita tahu bahwa sang teman akan menunggu kita, akan tetap ada di sana, yang memahami kita walau tiada kata yang dipahami keduanya, kecuali satu kata “bonjour” tersebut.  Juga tentang keterasingan di suatu tempat yang serba baru, yang membuat indra kita tiba-tiba menjadi tumpul, tidak mencium bau apa pun, tidak mengenai warna apa pun, semua sama dan menjadi tidak bermakna. Perasaan yang tidak menjejak bumi, yang mengawang. Juga tentang harapan dan perjuangan dari seorang tua akan hidup cucunya, generasi berikutnya, satu-satunya hal yang mengikatnya ke masa depan. Demikianlah, Claudel tidak banyak bercerita tentang struktur ceritanya, lebih pada perasaan-perasaan. Di sisi lain, saya juga menemukan keunikan dari kisah ini, yaitu sebuah persahabatan yang erat tanpa banyak kata-kata dari dua orang laki-laki tua. Sangat jarang diungkap, menurut saya.

Untuk beberapa bukunya, Claudel telah memenangkan beberapa penghargaan di bidang literatur Perancis, di antaranya adalah Le Prix Marcel Pagnol dan Le Prix France Télévisions untuk novelnya Quelques-uns des Cents Regrets pada tahun 2000, Le Prix Goncourt de la Nouvelle untuk Le Petites Mécaniques dan Le Prix Renaudot untuk novelnya Les Âmes Grises pada tahun 2003, dan pada tahun 2007 ia memenangkan Le Prix Goncourt des Lycéens untuk novelnya Le Rapport de Brodeck. Beberapa dari novelnya juga akan difilmkan. Untuk novelnya La Petite Filles de Monsieur Linh ini saat ini juga sedang dalam proses adaptasi sinematografinya.

Mei, Pau France, 3 February 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s