Madre

Madre/ Dee (Dewi Lestari)/ Bentang/ 2011/ Literatur/ 160 hlm.

Buku terbaru dari penulis Dee ini sudah pasti ditunggu banyak pembaca dan biasanya situasi ini menimbulkan high expectation atas buku tersebut. Seperti koin dengan dua sisi, satu hal situasi ini ‘menguntungkan’ bagi buku itu, tapi disisi lain, dengan tingginya harapan pembaca atas buku tersebut, seringkali mereka justru kecewa dan buku ini lalu dinilai biasa-biasa saja. Kepuasan atau kekecewaan atas suatu buku, dan saya pikir juga untuk hal-hal lain dalam hidup, memang seringkali tergantung pada bagaimana ekspektasi kita di awal atas hal itu. Beberapa review yang sudah saya baca atas Madre mengatakan bahwa buku ini begitu biasa, beda dengan tulisan Dee yang dulu.  Jadi, saat buku ini tiba-tiba ada di tangan saya, karena seorang teman spontan meminjamkan, saya mulai membacanya dengan no expectation, karena saya tidak ingin mengikis kepuasan membaca buku ini hanya karena menempatkan harapan yang tinggi di awal, dan bisa jadi pendapat saya berbeda dengan pembaca yang lain.

Ternyata I ended up liking this book. Saya merasa Dee di buku kumpulan ceritanya ini sedang ingin menjadi dirinya yang ‘dewasa’, setidaknya dengan disajikannya tema-tema hidup yang lebih dalam, dan disampaikan lebih banyak dengan cara yang lebih serius, yang berbeda dengan atmosfir spontan dan kocak yang sering dirasa saat membaca bukunya yang lain, misalnya seri Supernova atau Perahu Kertas. Begitu membaca cerita pertama, yaitu yang berjudul ‘Madre’, saya merasakan perbedaan ini, dan karenanya saya switch otak dan mood saya untuk juga jadi lebih ‘serius’.

Tema-tema dalam cerita ini memang bukan lagi kebanyakan tentang pencarian pasangan hidup (walau ada, dengan tokoh yang lebih dewasa), tapi juga merambah ke makna menjadi ibu, arti cinta dan tuhan, arti diri dan hidup ini dalam keabadian dan kefanaan, juga makna-makna kosmik kehidupan yang berkaitan dengan filsafat timur, dan tentu saja, tentang cinta. Setidaknya itu yang saya temukan dari beberapa cerita, puisi dan tulisan pendek dalam buku ini.

Cerita yang paling saya suka adalah Rimba Amniotik, Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan, dan Menunggu Layang-Layang. Dalam Rimba Amniotik, Dee dengan indah mengungkapkan perasaannya saat menanti kehadiran anak perempuannya, melihat ibu justru sebagai ‘embrio’ dan anak sebagai ‘sang pemilih’, yang memang benar adanya dan membuat saya berhenti sejenak untuk memikirkan hal itu. Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan menunjukkan kemahiran Dee menyampaikan makna yang sangat mengena hanya dengan tulisan yang begitu pendek dan melalui cerita yang tampaknya tidak terlalu serius. Dalam Menunggu Layang-Layang, saya menemukan kembali spontanitas dan ‘kekocakan’ khas Dee dalam tema kerinduan pasangan hidup, dengan karakter urbannya yang khas dan dialog yang segar. Cerita Madre saya temukan justru agak terlalu datar, walau unik secara jalan cerita dan berhasil membuat saya kangen roti hangat buatan tangan artisan. Sedangkan puisi yang paling saya suka adalah Perempuan dan Rahasia, juga Barangkali Cinta.

Tulisan Dee banyak mengusung tema ‘romantisme’, maksudnya di sini bukan romance atau percintaan, tapi dimana kata hati dan harapan bisa jadi begitu penting dan menentukan. Ia tidak pragmatis, dan mungkin tidak perlu melulu pragmatis. Membaca tulisan Dee membuat saya sejenak menikmati romantisme itu.

Mei

6 thoughts on “Madre

  1. Aahh.. td mlm baru baca Madre. Pas baca Madre tiba2 inget toko roti tan ek tjoan di cikini, dulu jaman kuliah suka beli roti di situ, pdhl di sebelahnya ada holland bakery :))
    Samaaa! Aku jg suka ‘menunggu layang-layang’ ama ‘have you ever?’, kalo puisi aku suka ’33’, sptnya di puisi ini suaminya Dee penyuka tahu ya..😀

    1. mademelani

      ‘menunggu layang-layang’ khas tulisan dee ya. sptnya byk org menemukan dee ‘g mrk kenal’ di tulisan itu.
      iya, roti tan ek yjoan ato yg tradisional, aku plg suka bagian gosongnya🙂

  2. astridfelicialim

    huhu…aku kok gak suka buku ini ya mei? =( mungkin bener, karna ekspektasi yang terlalu tinggi atau justru terlanjur jatuh cinta sama gaya supernova, jadi merasa gak pas kalau baca buku Dee dengan gaya yang lain =D anyway, kangen udah lama ga mampir ke siniiiiii

    1. mademelani

      ya beda-beda tid, dan mmg gak harus sama🙂 di buku ini juga gak semua aku suka bgt, bhkan ada bbrp yg gak terlalu ngerti, tapi ada bbrp yg aku temukan unexpectedly beautiful, termasuk tulisan pendeknya.

      emg ekspektasi sering bikin bias akhirnya. aku cenderung menunda baca buku yg sdg digaung2i semua org, setelah reda baru aku baca, biasanya lbh enak dan tidak terpengaruh🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s